1. INT: RUMAH CINDY.PAGI
PIERE, ERIN, CINDY, IAN, DANI, PEREMPUAN A(PSK), FIGURAN
Semua memandang Piere menuntut penjelasan atas tindakannya.
Piere dengan kesal berkacak pinggang menghela napas. Seperti akan bicara tapi tak jadi.
ERIN
Anything to say??
Piere menghela napas lagi dan memandang Cindy yang sedih menatapnya dan Piere merasa menyesal.
PIERE
I’m so sorry Honey (mengelus pipi Cindy dengan tatapan sesal)
Cindy menepis tangan Piere dan menggeleng sedih, dan menjawab dengan suara serak.
CINDY
Oh God?! Daddy? Really you?? (tak percaya)
PIERE
I did this for you Sweet Heart… (lirih)
ERIN
Apa maksudnya demi Cindy?
Piere menatap gusar ke Ian.
PIERE
Apa kalian ngga sadar? Sebenarnyakan Cindy dan Ian itu sudah lama bertunangan. Tapi sampai sekarang… mana?? (diam sejenak)
Jangankan menikah, mengumumkan pertunangan mereka pun Ian tidak mau (menyorongkan tangan ke Ian dengan kesal)
Sama sekali Ian tidak peduli dengan perasaan Cindy. Terus saja mempermainkan wanita kesana kesini…
Piere memandang Ian dan mencibir padanya.
PIERE
Bukan ngga mungkin kan, kalau yah.. (mengangkat bahu) mungkin saja semua yang ada di foto itu sebenernya … pernah terjadi… (memandang berkeliling cuek), saya hanya memberikan contoh saja…
Ian menggeram hendak memukul tapi ditahan oleh Dani.
IAN
Apa maksud kamu?!!
ERIN
Sudah.. sudah… (memandang Cindy sekilas lalu menatap Ian)
Urusan pernikahan kalian, seperti yang sudah Aunty bilang sama kamu, adalah urusan pribadi kalian berdua (memandang Cindy yang terpekur, Erin terkesiap melihat wajah sedih Cindy, lalu menghela napas)
I’m so sorry Ian… Aunty jamin hal ini tidak akan terjadi lagi.. (diam sejenak) tapi sebaiknya kamu pertimbangkan masalah ini sebagai pelajaran buat kamu untuk lebih berhati-hati dalam bergaul (melirik PSK) … lain kali…
Ian mendengus dan berbalik keluar tanpa pamit. Dani dan Cindy terkejut hendak mengejar.
Erin dan Piere hanya menggelengkan kepala, no further comment.
DANI
Maaf ya Tante… saya… (menunjuk Ian tergesa)
Erin mengangguk dan memberi isyarat dengan kibasan tangannya untuk segera mengejar Ian yang masih tampak sangat marah. Cindy juga bergegas mengejarnya. Foto-foto masih di peluk di dadanya.
PSK berdiri kebingungan, lalu berjalan pelan mundur menjauh.
Piere berdiri dengan kesal sambil bertolak pinggang menahan geram.
CUT TO
2. EXT: HALAMAN RUMAH CINDY.PAGI
IAN, CINDY, DANI
Ian berlari keluar disusul oleh Cindy dan Dani.
DANI
Yan…. Tunggu Yan….
Ian berhenti dan berbalik marah lalu menuding Cindy yang juga di belakangnya.
IAN
Ini semua gara-gara elo!!!
Cindy terkesiap. Dani juga terkejut dan memandang Cindy dan Ian bergantian bingung.
IAN
Sudah berapa kali sih gua bilang… (menahan geram) gua tu ngga suka sama elo..(kasar, lalu tegas dieja dengan nada marah) gua.. ngga pernah.. suka.. sama.. elo… (sambil menuding wajah Cindy)
Cindy tampak sangat terpukul hanya diam menunduk dan menangis.
DANI
Heh.. lu kok jadi salahin dia… Cindy kan ngga tahu apa-apa…
IAN
Ah… (mengibaskan tangannya kesal)
Ian berbalik dan bergegas pergi.
DANI
Heh… lo mau kemana?? (teriak)
IAN
Bukan urusan lo!! (teriak balik sambil menoleh dan melempar tatapan tajam ke Cindy)
Dani memandang Ian dengan kesal lalu memandangi Cindy yang tersedu dengan tatapan bingung.
CUT TO
3. EXT: TAMAN.SIANG
CINDY, DANI, FIGURAN
Cindy dan Dani duduk bersisian di taman. Cindy terus menangis. Dan Dani tampak bingung di sebelahnya.
DANI
Udahlah Cin… jangan didengerin omongannya Ian.. kamu kaya ngga tahu aja kalau Ian marah emang begitu kan… omongannya suka ngaco…
Cindy menggeleng dan menyeka air matanya.
CINDY
Enggak Dan… (terisak) ini beda..(sedih)
Kali ini dia bener-bener marah…
Dani mengerutkan kening bingung mesti menghibur dengan cara apalagi.
CINDY
Aku ngga percaya Daddy tega ngelakuin semua itu…
Bagaimana mungkin… (terisak)
DANI
Ya udahlah Cin.. emang Papa kamu salah… tapi sebenernya dia lakuin ini semua kan buat kebaikan kamu juga.. Cuma caranya aja yang..
CINDY
Kamu kan tahu sendiri Dan… bagaimana selama ini aku berusaha mendekati Ian…
(terisak) Setelah usahaku bertahun-tahun (diam sejenak)
Setelah selama ini, akhir-akhir ini… (terisak) aku lihat Ian mulai merhatiin aku, mulai care ama aku… malahan Daddy.. (terisak lagi)
DANI
Sabar ya Cin… (mengelus rambut Cindy) ini kan bukan salah kamu.. nanti aku coba bicarakan sama Ian. Kalau suasana hatinya udah baikan.. pasti dia nyesel deh sudah kasar sama kamu…
Sekarang kamu sabar ya… udah dong jangan nangis lagi, mata kamu sampe bengkak tuh (menyibakkan rambut Cindy), udah ya… jangan nangis lagi…
(diam sejenak berpikir) Gimana kalo kita makan siang aja.. tadii pagi kamu ngga jadi sarapan kan?
CINDY
Aku ngga laper…
DANI
Ngga boleh gitu dong.. nanti kamu sakit. Sekarang kita makan.. dan sesudah itu.. (diam sejenak) kita makan es krim kesukaan kamu gimana? (tersenyum membujuk)
Cindy tampak berpikir diam.
LS Punggung Cindy dan Dani yang tampak berbicara di taman semakin menjauh.
CUT TO
Commercial Break
4. INT: KANTOR VINARA.SIANG
VINARA, ARYA, OPIE, FIGURAN REKAN KERJA
Vinara tampak dikerubuti oleh beberapa orang rekannya dan mereka memberi salam selamat kepada Vina. Vina sambil tersenyum manis berterimakasih dan berjalan menuju mejanya lalu duduk dan segera menelepon Arya.
VINARA
Hai Yak?? Ngapain?
Intercut
Arya di kantor, duduk menghadap ke komputernya.
ARYA
Biasa.. bikin proposal.. So? Gimana? Jadi kerjasama kamu sama perusahaannn ehm apa itu..(lupa)
Vinara tertawa senang.
VINARA
Interkirana…
Iya jadi dong… (senang) duh kamu ngga tahu.. nilai kontraknya gedhe banget…
ARYA
Wah komisinya juga gedhe dong… (tertawa menggoda)
VINARA
Bereess… (tertawa bersama)
ARYA
Trus kamu mau ngapain habis ini?
VINARA
Ya aku mau ketemu dia nanti (memandang arloji ditangannya) habis makan siang.
ARYA
Terus..??
VINARA
Ehm.. kamu ada acara nggak?
ARYA
Proposal acaraku sih belum selesai. Kenapa emangnya?
VINARA
Ehm.. tadinya kupikir aku pengen ajak kamu makan siang bareng, soalnya kantornya Interkirana kan searah sama F2(baca f-two). (diam sejenak)
Oya udah, kalo ngga aku mampir aja ke sana. Aku bawain makan ya? Ada Mas Bas dan Kak Nai? Aku bawain sekalian ya..
ARYA
Nai lagi pergi makan siang, kalo Bas ada tuh… boleh, bawa aja ke sini.. aku tunggu ya bye..
VINARA
Bye…
Vinara menutup telepon dan merapikan meja.
Opie mengintip dan tersenyum.
OPIE
Gimana? Mau bareng?
VINARA
Aku mau mampir ke kantor Arya dulu… nanti kita ketemu di sana aja ya..
OPIE
Oke kalo gitu aku jalan duluan ya.. aku juga mau makan siang dulu kok..
Opie melambai dan berlalu.
Ketika Vina bangkit berdiri mendadak pening seperti hendak pingsan dan Vina segera duduk lagi menenangkan diri.
VINARA
Duh.. apa darah rendah ya? Kata orang kalo dari duduk langsung berdiri suka pusing..
Vina mengurut kepalanya sejenak lalu berdiri pelan dan membawa map dipelukannya berjalan keluar ruangan.
CUT TO
5. INT: KANTOR ARYA.SIANG
VINARA, ARYA, BASKORO, FIGURAN
Arya menyuap makanan dalam bungkusan yang dibawa Vina. Baskoro juga duduk dekat Arya dan Vina dan makan bersama.
VINARA
Gimana prospeknya kemarin? Deal?
Vina menatap Arya dan Baskoro. Baskoro dan Arya tampak terkejut berpandangan sejenak bingung.
BASKORO
Ya.. masih dibicarakan Vin.. masalah kaya gitu kan ngga bisa Cuma satu dua kali ketemu langsung oke…
Arya hanya mengangguk-angguk saja.
VINARA
Emangnya kalian ini lagi ada prospek apa sih sekarang?
BASKORO
Ya macem-macem.. kan mereka pengusaha besar, ada yang punya tambak, importir dan showroom mobil mewah, pabrik biji plastik.. macem-macem deh…
VINARA
Terus apa hubungannya dong sama F2?
Arya dan Baskoro berpandangan sejenak bingung.
BASKORO
Ya memang ngga ada hubungannya. Tapi kalau kita kenal deket sama mereka, prospeknya kita mau kerjasama apa lah.. ya dibidang yang lain gitu (sama sekali tak gugup) ngga ada salahnya kan kalau kita mencoba melebarkan sayap, usaha itu kan sebaiknya jangan Cuma di satu bidang saja… kalau bisa multi usaha… (mantap)
Vina mengangguk membenarkan. Arya menatap Vina yang menyuap makanannya.
ARYA
Enak juga ya.. kamu beli dimana? (mengalihkan perhatian)
VINARA
Ehm itu deket kantor, yang diujung jalan itu…
Vina merapikan bekas makanannya hendak berdiri. Lalu tiba-tiba tubuhnya oleng lagi dan Vina kembali duduk.
ARYA
Kenapa? Pusing?
VINARA
Iya nih beberapa hari ini aku ngga enak badan.. mungkin terlalu banyak lembur kemarin ngurusin Interkirana..
ARYA
Makanya jaga diri dong…
VINARA
Ah kaya kamunya ngga aja… (tertawa kecil dan berdiri dengan segar) kamu kan lebih-lebih lagi ngurus deal sampai pulang pagi…
Aku duluan ya buru-buru.. ngga enak, takut telat…
Vina memandang makanan Arya dan Baskoro yang belum selesai.
VINARA
Nanti beresin sendiri ngga apa ya?
BASKORO
Ehm.. (sambil mengunyah) ngga apa, kan ada O’B…
Vina tersenyum dan membereskan sampah makannya dan membuangnya ke tong sampah dekat keja Arya.
VINARA
Oke deh kalo gitu aku jalan dulu ya …
Vinara berjalan keluar membawa Mapnya. Arya tersenyum melihatnya pergi.
CUT TO
6. EXT: HALAMAN KANTOR INTERKIRANA.SIANG
VINARA, OPIE, SOPIR TAKSI, FIGURAN
Taksi berhenti dekat halaman Interkirana.
VINARA
Terimakasih ya Pak
Vinara menyodorkan uang. Sopir taksi menerimanya.
SOPIR TAKSI
Sama-sama Non..
Vinara bergegas turun dan setengah berlari menuju halaman Interkirana. Tiba-tiba kembali dia disergap rasa pusing. Vina berusaha bertahan dan berjalan tertatih.
Opie teman sekantor Vina sudah menunggu di teras kantor. Dia mengamati dari kejauhan.
LS Vina terhuyung
Opie memandang khawatir.
OPIE
Vina??
LS Vina ambruk perlahan
OPIE
Aduuh.. Vinaa!!
Opie berlari menghampiri.
Orang mulai berkerumun.
CUT TO
Commercial Break
7. INT: RUMAH ARYA.MALAM
VINARA, ARYA
Vinara tampak tegang dan gelisah, tapi sesekali tersenyum sendiri menahan perasaan senang. Ruang tengah sudah diatur dan ditata rapi, dengan lilin di meja sofa dan meja makan, masakan yang terhidang rapi dan beberapa bunga segar di tata. Sesekali Vinara merapikan sana sini dan memandangi ruangan dengan gelisah.
VINARA
Duh kok Arya belum pulang juga ya…
Vina menatap jam dinding dan merengut kesal. Sudah hampir jam setengah sepuluh malam.
VINARA
Tadi katanya sudah jalan pulang, masa dari F2 ke rumah hampir dua jam ngga sampai sih? (menggerutu sendiri)
Vina berjalan bolak balik kesal. Tiba-tiba dering bunyi sms di ponselnya mengejutkan. Bergegas Vina meraih ponsel di meja dan membukanya.
CU Layar ponsel dengan tulisan sms dari Arya
Sorry aku hrs ketemu Mr. Wong, bsk dia sudah pulang ke Sing, kamu makan aja dulu, kalo capek tidur aja dulu, aku sdh bawa kunci
CU Wajah Vina kesal
VINARA
Gimana sih.. tadi kan udah janji… (lirih menggumam)
Vinara segera menekan tombol telepon dan menghubungi Arya. Vina menunggu dengan kesal. Sampai lama nada tunggu terdengar, tapi tak juga diangkat sampai masuk ke mailbox. Vinara dengan kesal menghubungi Arya lagi dan lagi dan lagi.
Dengan gelisah dan kesal Vina mematikan ponsel dan berjalan hilir mudik kesal. Sebentar kemudian ponselnya berdering.
CU Layar ponsel – nama Arya memanggil
VINARA
Hallo? Arya?
Intercut
Arya di salah satu sudut ruangan yang sepi tak terlihat di ruang apa.
ARYA
Ada apa sih?(kesal)
VINARA
Kok dari tadi ngga diangkat-angkat?
ARYA
Aku kan udah bilang baru ketemu orang.. (menahan geram) kamu malah telpon-telpon terus… apa ngga bisa sms aja.. kan ngga enak sama orangnya
VINARA
Tadi kan kamu udah janji mau makan bareng aku, katanya sudah ‘on the way’ … mau pulang… kok tau-tau sekarang lagi ketemu orang..
ARYA
Ya emang mendadak kok… tadi di jalan orangnya telepon dan minta ketemu malam ini… masa aku tolak sih…
Vinara berjalan ke arah sofa dan duduk.
VINARA
Apa ngga bisa di tunda atau..
ARYA(memotong)
Mr. Wong besok sudah harus balik ke singapore, tadi kan aku udah bilang (kesal) mana bisa di tunda sih..
VINARA
Iya.. (terbata) tapi.. (memandang sekeliling yang sudah rapi dengan tatapan sedih)
Minggu ini kamu udah tiap hari pulang pagi ketemu orang terus, kalau ditotal bakal lebih banyak dari bulan lalu… (Vina meraih kalender meja yang penuh dengan silangan di tanggalnya dan kode coret-coretan di sekitarnya)
Bulan lalu, kamu udah 21 hari pulang pagi, Cuma 9 hari aja ngga keluar malem (membolak balik kalender), bulan ini udah hampir tiap hari… (lirih)
ARYA
Kamu ini lho, di kasi tahu susah banget sih… aku kan kerja! Ngga macem-macem.. kamu telpon-telpon terus, aku pikir ada masalah penting apa, ternyata Cuma mau ngitungin tanggal (nada marah) kalau ngga percaya ya sudah lah terserah kamu…
Arya menutup telepon dengan kesal.
Vina menurunkan ponsel dari telinganya pelan, air mata mengalir deras. Vina terisak dan menangis sangat sedih. Sebentar kemudian Vina berdiri dan menuju meja makan, dia duduk sambil memandangi masakan di meja.
CU Amplop putih di meja dengan logo sebuah laboratorium
Vina meraih amplop itu dan membukanya. Vina membaca lembaran kertas hasil tes laboratoriumnya.
VINARA
Aku kan Cuma mau kasi kamu kejutan Yak… (pelan dan menangis tersedu)
Apa kehamilanku ngga penting buat kamu?
CU tanda positif hamil atas nama Vinara
LS Vina menangis tertelungkup di meja makan
CUT TO
8. INT: KAMAR ARYA.MALAM
VINARA, ARYA
Vinara berbaring di tempat tidur. Suasana remang.
Terdengar suara pintu kamar terbuka pelan. Arya mengendap masuk dengan pakaian masih rapi. Pelan Arya duduk di sudut ranjang dan membuka sepatu dan kaos kakinya.
Vinara berbalik memandang ke bayangan Arya, lalu Vina menyalakan lampu di samping tempat tidurnya.
VINARA
Baru pulang?
Vina mengusap matanya menahan kantuk sambil melirik jam dinding, pukul 4 pagi.
Arya menggumam pelan tak jelas dan berdiri menuju lemari pakaian dan mengganti kemejanya dengan kaos.
Vina duduk di ranjang dan memandang Arya yang berganti baju. Tangannya meraih amplop dari balik bantal dan menggenggamnya erat.
Arya menuju ke ranjang dan berbaring.
VINARA
Kamu ngga mandi?
ARYA
Capek (nada kesal)
Vinara beringsut mendekati.
VINARA
Aku … boleh ngomong nggak?
ARYA
Apa?
Arya tetap berbaring sambil memejamkan mata dan kedua tangannya dilipat di bawah kepalanya. Vina duduk di dekatnya dan mengulurkan amplop.
VINARA
Sebenernya.. tadi aku .. pengen kasi ini…
Arya memincingkan mata melirik Vina dan memandang amplop
ARYA
Apaan?
VINARA
Baca aja… (tegang senang dan sedih) Makanya aku pengen banget kamu pulang cepet tadi soalnya.. aku udah ngga sabar pengen kasi tahu..
ARYA
Apa sih?
Arya meraih amplop membuka dan melihat isinya, tanpa ekspresi.
ARYA
Apaan nih?
Vina merengut kesal meraih kertas di tangan Arya dan menunjuk ke beberapa bagian dalam kertas itu.
VINARA
Masa kamu ngga tahu sih.. ini nih… (menunjuk)
Arya mendorong kertas dengan kesal.
ARYA
Apa sih Vin.. aku ngga ngerti…
Vina memandang Arya ragu.
VINARA(dalam hati)
Ngomong ngga ya? Kok kayanya bukan saat yang tepat deh… tapi aku udah ngga sabar banget pengen cerita…
Arya menatap kesal.
VINARA
Aku hamil (gumam kesal)
Arya mengernyitkan kening.
ARYA
Apa?
VINARA
Aku hamil (lebih jelas)
Arya menguap sambil menegakkan diri dan duduk.
ARYA
Tahu dari mana kamu hamil? (heran)
Vina menatap tak percaya dengan reaksi Arya.
VINARA
Ya dari sini lah… (menyorongkan kertas tadi ke Arya)
Arya membaca sekilas.
ARYA
O… terus… (mengantuk)
Vina menatap Arya kesal.
VINARA(dalam hati)
Aku pikir kamu akan seneng mau punya anak.. seperti di film-film.. memeluk dan teriak seneng.. ini apa.. kok kaya gini sih…
ARYA
Jadi (nada mengantuk) … kita mesti ngapain… habis ini… (bingung, cuek dan ngga nyambung)
VINARA
Ya … (diam sejenak bingung hendak menjawab apa) mungkin mesti cari dokter kandungan… atau rumah sakit yang nanti … tempat buat ngelahirin atau..
ARYA
Oo…
Arya memandang Vina yang duduk di sampingnya. Tersenyum kecil dan mencium keningnya. Sebentar kemudian merenggangkan kedua tangannya lelah dan menguap lagi.
ARYA
Kalo gitu kamu mesti banyak istirahat… (suara melemah) jaga diri… (membaringkan diri pelan-pelan) biar ngga sakit… (memejamkan mata dan menarik guling)
Vinara merengut kesal, gemas, meraih bantal dan memukulkan ke Arya. Arya yang sangat mengantuk tidak bereaksi tetap tidur. Pelan Vina memandang Arya.
CU Arya tidur nyenyak, polos
Vina menatap Arya dan tersenyum.
CUT TO
Commercial Break
9. EXT: LOKASI SHOOTING.SORE
IAN, DANI, CINDY, FIGURAN & KRU
Kru dan pemain sibuk menyelesaikan shooting. Ian sedang berakting di depan kamera dengan beberapa figuran.
Dani memandangi Ian dan sesekali berbisik dengan sutradara. Dari kejauhan datang Cindy mengintip ke lokasi dengan ragu-ragu. Dani melihat kedatangan Cindy dan melambaikan tangan.
CU Cindy tersenyum
Cindy menghampiri Dani dan berdiri di dekatnya. Tanpa bicara mereka dengan isyarat bercakap.
Sebentar kemudian take selesai.
SUTRADARA
Cut… okay…
Sutradara melambai. Ian dan figuran bubar.
Dani dan Cindy mendekat ke beberapa kru dan sutradara yang melihat tayangan ulang take tadi.
SUTRADARA
Gimana Okay?
Ian mendekat sambil mengusap peluh. Sutradara melambai memanggil Ian. Cindy memandang Ian dan tersenyum, tapi Ian membuang muka dengan kesal.
CU Cindy kecewa
Ian mendekat ke sutradara dan melihat hasil take.
SUTRADARA
Sudah bagus… mungkin bagian sini yang … ya.. tapi it’s okay…(menunjuk-nunjuk)
Ian mengangguk-angguk.
SUTRADARA
Saya rasa cukup untuk hari ini, besok kita sudah pindah lokasi, on time ya…
IAN
Beres Bos… (tersenyum dan menepuk bahu sutradara)
Ian dan kru bubar.
Dani memandang Cindy yang terus menatap Ian dengan tatapan penuh harap kalau-kalau Ian akan memandangnya.
Dani memandang Ian dan Ian dengan cuek berlalu tak memandang Cindy sama sekali.
Cincy berjalan pelan dan takut-takut mengikuti Ian berjalan menjauhi keramaian. Dani memandangi mereka dari jauh.
Ian membereskan beberapa barang dalam tas nya. Cindy mendekat dan berdiri ragu sambil meremas tali tas tangannya.
Ian tak menoleh sama sekali dan tetap berwajah masam.
Selesai memasukkan barang ke tas nya Ian segera berlalu menuju ke mobil. Cindy tampak kecewa karena tak dianggap tapi kembali mengikuti Ian.
Ian berhenti kesal karena merasa di ikuti, tapi tetap berdiri membelakangi Cindy.
Cindy dengan takut berhenti di belakangnya. Ian kembali berjalan kesal. Dan Cindy kembali mengikuti. Ian berhenti lagi dan berbalik dengan wajah garang.
IAN
Mau apa sih lo? (bertolak pinggang)
Sudah berapa kali gua bilang jangan ikutin gua (bentak kesal)
Cindy menunduk takut. Ian menoleh memandang Dani yang melihat dari kejauhan lalu berbalik dan masuk ke mobilnya dan segera pergi.
Cindy memandang dengan wajah sedih.
LS Dani menggelengkan kepala dengan prihatin
CUT TO
10. INT: KANTOR ARYA.SIANG
ARYA, YANTI, BASKORO
Arya duduk berhadapan dengan Yanti salah satu pegawai administrasi F2. Mereka sedang memeriksa berkas pembukuan dan beberapa bon dan slip transaksi bank.
Wajah Arya tampak kesal memeriksanya. Dan Yanti juga tampak mendukungnya.
ARYA
Bulan ini sepertinya lebih banyak lagi? (geram)
YANTI
Iya Pak..
Yanti meraih buku di dekatnya dan membuka menunjukkan beberapa tulisan perhitungan.
YANTI
Bulan lalu… (menunjuk) ini Pak, totalnya tiga puluh dua juta lebih…
CU Tulisan perincian di buku
YANTI
Yang bulan ini (membalik halaman buku)… lima puluh juta Pak..
Arya menggeleng gemas.
YANTI
Apa ngga sebaiknya Bapak bicarakan langsung sama Pak Bas? Atau Ibu Naia?
Arya menyandarkan punggungnya dan keningnya berkerut.
ARYA
Lalu saya harus bilang apa sama dia Yan?
Flash back
Arya dan Baskoro duduk berhadapan.
BASKORO
Kamu sendiri kan tahu, uang itu untuk menjamu klien-klien kita. Kamu juga kadang ikut kan kalau kita pergi sama-sama… semestinya kamu juga tahu sendiri, kalau biayanya juga ngga sedikit.
CUT BACK TO
YANTI
Tapi kalau terus-terusan seperti ini, keuntungan perusahaan dan pengeluaran Pak Baskoro sepertinya…
Arya menegakkan duduknya lagi.
ARYA
Kamu sudah total kan pengeluaran dari bukti dan bon – bon yang ada?
YANTI
Sudah Pak, dan jumlahnya tidak sampai sepertiga dari total pengeluaran Pak Baskoro
ARYA
Lalu, kamu sudah tanyakan sama Pak Bas untuk apa dia pakai uang itu? Kamu kan bisa bilang, kalau semua pengeluaran uang perusahaan mesti ada bukti pemakaiannya, dan akan di audit...
YANTI
Sudah Pak… tapi Pak Baskoro bilang minta di masukkan dalam catatan pengeluaran gaji pegawai saja. Makanya saya sampaikan hal ini ke Pak Arya, saya kan yang pegang pembukuan di kantor ini, kalau sampai ada pengeluaran dalam jumlah besar yang tidak jelas kemana, nanti bisa-bisa saya yang dituduh korupsi Pak…
Apalagi, ini sudah terjadi sejak Pak Baskoro masuk ke kantor kita, berarti sudah hampir satu tahun Pak.
ARYA
Ya udah, coba saya pikirkan dulu masalah ini. Kalau sampai Naia menanyakan masalah pengeluaran itu, ceritakan saja terus terang, tapi kalau dia tidak bertanya, lebih baik sementara ini… kita pending saja masalah ini…
YANTI
Baik Pak.. kalau gitu saya permisi dulu…
Arya mengangguk.
Yanti membereskan berkas dan pergi.
Arya kembali menyandarkan punggungnya dan menerawang.
ARYA(dalam hati)
Bagaimana ini? Kalau aku bilang sama Nai tentang penyelewengan Baskoro, sama saja aku buka kebusukan Baskoro… dan itu artinya aku juga membuka aib ku sendiri…
Flash back
CU Sebuah plastik kecil berisi beberapa butir pil di sodorkan
Arya menerima pil itu dari Baskoro dan cepat-cepat mengantonginya.
Arya dan Bas sedang duduk-duduk di sebuah Bar.
BASKORO
Biar seger… (tersenyum)
Arya hanya tersenyum dan menegak minumannya.
BASKORO
Bagaimana yang kemarin?
ARYA
Kayanya… yang ijo lebih enak deh… langsung terang…
Baskoro dan Arya tertawa.
CUT BACK TO
Arya mengusap wajahnya dan kelihatan bingung dan tegang.
ARYA(dalam hati)
Pasti dia pakai uang itu buat beli barang-barangnya… tapi… aku aja ngga pernah pakai uang perusahaan untuk kepentingan ku, semua yang aku beli ya dari tabungan dan gaji ku.. masa Baskoro perlu sampai sebanyak itu…
Arya menelungkupkan wajahnya di meja. Kedua tangannya menekan kepalanya yang pening.
CUT TO
Commercial Break
11. INT: KANTOR IAN.SIANG
IAN, DANI
Pintu terbuka.
Ian mendongak dan melihat Dani masuk dengan wajah marah. Ian dengan cuek kembali memeriksa berkas-berkas di atas meja. Dani menutup pintu dan menghampiri meja Ian.
Dani meletakkan kedua tangannya di atas meja.
DANI
Sebenernya apa sih mau lo?
Ian diam saja tak menjawab tak bereaksi, tetap berkutat dengan pekerjaannya.
DANI
Sampai berapa lama kamu terus memperlakukan Cindy seperti itu?! (bentak)
Ian mendongak memandang Dani, lalu membanting berkas di tangannya dan menegakkan duduknya.
IAN
Ooh.. jadi lo kesini Cuma mau ngebahas soal itu?
DANI
Cindy itu kan ngga salah apa-apa? Kenapa lo perlakukan dia seperti itu..
IAN
Heh…(tertawa kecil mengejek) seperti apa…
DANI
Yan… selama ini gua ngga pernah ikut campur urusan pribadi lo, apa pun itu. Lo mau pacaran ama siapa, mau musuhan ama siapa, mau ngerjain siapa atau apa pun yang lo lakuin sama cewek-cewek lo yang lain…
Tapi Cindy tu lain Yan… lo sadar dong…
IAN
Emang apa bedanya Cindy sama yang lain (berdiri, diam sejenak)
Oo ya.. (mengangguk seperti teringat sesuatu) emang beda ya… kalau sama yang lain, setidaknya gua pernah suka atau yahh.. sedikit tertarik secara fisik sama mereka.. tapi.. kalau sama cewek lo itu… (menuding) gua ngga pernah napsu sama sekali…
Dani mengepalkan tangannya dan meninju wajah Ian. Ian mengusap ujung bibirnya yang berdarah dan tersenyum mengejek.
DANI
Sadar Yan… Cindy itu tunangan elo.. tega banget lo ngomong kaya gitu tentang dia.
IAN
Kalo lo segitu sukanya sama dia, kenapa ngga lo jadiin aja dia… ambil deh, ambil (mengibaskan tangannya) gua rela … rela banget kok…
Kenapa sih malah lo paksa gua suka sama dia. Padahal jelas-jelas lo udah tahu sejak semula kalau (eja tegas) gua, nggak pernah, suka , sama , dia ….
Dani menggeleng kesal.
DANI
Cindy tu suka banget sama elo, dia cinta banget sama lo… masa lo ga tahu si… Lagian lo itu resmi tunangan nya… masa lo mau siksa dia terus kaya gini sih…
IAN
Resmi apa? Itu kan Cuma omongan antar Aunty aja… bisa-bisanya si tua Piere itu untuk ngerjain gua…
DANI
Jahat banget sih lo! Salah apa si Cindy ama lo, hutang apa dia, sampai lo begitu benci sama dia?
IAN
Lalu salah gua apa? Apa dosa gua sehingga gua harus ngorbanin semua perasaan gua dan menerima dia sebagai tunangan gua.
Dani terkejut dan diam.
IAN
Cindy memang cantik.. baik… tapi gua ngga cinta sama dia, gua udah anggap dia kaya adek gua sendiri… gua ngga mungkin suka sama dia.. ngga mungkin Dan (emosi) bagaimana mungkin gua menikah dan ngebahagia-in dia…
Dani diam saja melipat tangannya di dada.
IAN
Apalagi semakin dia ngejar-ngejar ngedeketin gua, jadi semakin benci gua sama dia… (Ian memandang Dani)
Apa karena orang tua sudah ngga ada dan Aunty yang berjasa mengurus semua keperluan gua dan kantor ini.. jadi gua mesti menerima Cindy begitu aja?
Begitu maksud lo….
Ian dan Dani berpandangan dengan menahan kesal.
CUT TO
12. INT: KANTOR ARYA.SIANG
ARYA, NAIA, VINARA, BU PRODJO, FIGURAN
Arya dan Naia duduk di kursi. Wajah Naia terlihat masam. Bu Prodjo dan Vina berdiri bersiap hendak pergi. Kandungan Vina sudah mulai terlihat.
ARYA
Bener Bu ngga perlu Arya anterin ke bandara?
BU PRODJO
Ngga usah lah sayang, kamu dan Naia kan masih banyak kerjaan. Lagian sudah ada Vina yang nemenin Ibu. Sekalian nanti kami mau mampir beli perlengkapan bayi sebelumnya. Jadi sepulang dari toko Ibu langsung ke Bandara.
Naia melengos dengan wajah sebal tak bicara.
ARYA
Ya udah kalau gitu, untung hari sabtu Vina libur jadi bisa nemenin Ibu. Ibu kenapa harus pulang hari ini, kan bisa besok atau lusa, buru-buru amat sih.
Arya berdiri dan mengiring Ibunya dan Vina mendekati pintu. Naia berdiri ogah-ogahan.
BU PRODJO
Ibu kan kesini khusus nganterin undangannya si Lia, kalian harus datang lho, ngga enak kalau sampai ngga datang. Waktu Ibu mantu dulu, Lik mu juga repot bantuin Ibu. (Bu Prodjo tersenyum dan berbalik memandangi Vina)
Vina dan Arya tersenyum. Naia masih saja cemberut.
BU PRODJO
Sekalian, Ibu juga pengen belanja buat cucu Ibu… (tertawa kecil dan mengelus perut Vina yang mulai membuncit)
Naia kembali melengos kesal.
Vina dan Arya tertawa tak sadar Naia kesal.
BU PRODJO
Ya udah, nanti Ibu kesorean… (menggapai Arya dan mencium pipinya)
Jaga diri, jaga kesehatan… (membalik memanda Naia)
Kamu juga, jangan capek-capek, jangan lupa minum vitamin (mencium Naia)
NAIA
Iya Bu… hati-hati ya… nanti kalau sampai jangan lupa telepon Nai…
Bu Prodjo dan Vina keluar ruangan. Pintu tertutup. Naia dan Arya berbalik kembali ke ruangan kerja. Tiba-tiba Naia berbalik dengan wajah garang.
NAIA
Ngapain sih suruh-suruh Ibu ke Jakarta? Apa ngga bisa istrimu itu belanja sendiri kebutuhan bayinya. Pake nyusahin Ibu mesti ke sini nemenin dia.
ARYA
Heh.. siapa yang suruh Ibu ke Jakarta. Maunya Ibu sendiri kok..lagian kamu kan denger sendiri kalau Ibu mau nganterin undangannya Pak Lik
NAIA
Undangan kan bisa di pos, ada paket… paling juga kerjaan nya istrimu aja.. dari dulu bisanya Cuma ngerepoti orang.
Beberapa karyawan yang ada disekitar mulai beringsut menjauh.
ARYA
Apa sih maksudmua Nai? Kok jadi kamu nyalahin Vina…
NAIA
Emang istrimu itu pembawa sial!!! Sejak ada dia.. lihat.. ada aja masalah… dasar perempuan sial… (emosi)
ARYA
Eh Nai, kalo ngomong yang bener ya…
NAIA
Kenapa? Lo ngga terima? Heh.. belain aja istrimu itu terus.. emang jelas-jelas dia pembawa sial di keluarga kita.. hubungan kita jadi kacau, kamu jadi kurang ajar sama aku.. dan perusahaan juga jadi seret rejekinya.. tahu… Liat dong Mas Bas, dia aja bisa bantuin F2 sampai semaju ini… ngga kaya istrimu itu yang bisanya Cuma begini (menengadahkan telapak tangan seperti peminta-minta)
ARYA
Apa ngga salah lo Nai… (bertolak pinggang marah)
Ngga kebagusan juga laki lo!!! Korupsi duit perusahaannya sendiri!!!
CU Wajah Naia terkejut menoleh memandang Arya
CU Arya terkejut dan menutup mulutnya karena merasa keceplosan
CU Wajah Naia dengan kening berkerut heran
CUT TO
END EPS.11
Credit Title
THEME SONG 4