Tuesday, November 29, 2011

Benang Merah - skenario eps.7


Eps.7

1. INT: RUMAH NAIA.MALAM
NAIA, HILMAN

Naia menatap Hilman dengan tatapan tak percaya. Hilman berdiri sambil bertolak pinggang.
Wajah Hilman sama sekali tak menunjukkan penyesalan atau bersalah sama sekali.
Naia melihat undangan pernikahan itu dan membukanya.

CU       Tulisan –tulisan dalam undangan pernikahan
           
            Hilman Suryaatmadja
            Putra pertama Keluarga Herdian Suryaatmadja
            Dan
            Catherine Santosa
            Putri tunggal Keluarga Eddy Santosa

CU       Wajah Naia pias, menatap Hilman yang sesekali memandang Naia dengan tatapan cuek dan sesekali membuang muka ke sekeliling ruang, sambil menunggu reaksi Naia

Naia membaca halaman selanjutnya.

CU       Besar harapan kami akan kehadiran Saudara sekalian dalam resepsi pernikahan yang akan di laksanakan pada …

CU       Naia menatap Hilman dengan terpukul

Airmata Naia deras mengalir.

NAIA
            Apa ini?! (serak)

Hilman mendengus.

NAIA
            Kamu ngga serius kan?

Hilman menatap Naia dalam-dalam.

HILMAN
            Sorry Nai… (berhenti sejenak, merbah posisi berdirinya dan mengahadap Naia)
            Aku sudah lama berusaha mencari waktu yang tepat, tapi…

Naia menggeleng-gelenggkan kepalanya tak percaya.

NAIA
            Tapi kenapa? Kenapa.. (tercekat)

Hilman menyela.

HILMAN
            Kita sudah lama ngga ada kecocokan Nai… Kita..

Naia terisak. Nadanya meninggi.

NAIA
            Apa maksudmu begitu lama ngga ada kecocokan?
            Sebelumnya kamu ngga pernah ngomong apa-apa?

HILMAN
            Itu karena kamu sama sekali ngga pernah ngasi aku kesempatan untuk ngomong.
            (nada kesal)

Naia terdiam sejenak menahan tangis.

NAIA
            Lalu kenapa sekarang? (terdiam)

Naia menjatuhkan diri duduk di sofa di belakangnya.
Hilman menyibakkan rambut lalu berdiri menghadap ke arah lain sambil bertolak pinggang tak sanggup bicara.


NAIA
Kenapa sekarang? (berusaha menstabilkan napasnya karena isak tangis yang belum reda)

HILMAN
Sorry Nai.. aku..

Hilman merubah posisinya berdiri menghadap Naia.
Naia meremas undangan di genggamannya dengan emosi, berdiri dan melemparkan undangan itu ke wajah Hilman. Hilman terkejut.

NAIA
Pantesan selama ini.. setiap kali aku menanyakan segala macam urusan pernikahan kamu selalu menghindar. Setiap kali kamu selalu beralasan sibuk ini lah itu lah…
Ternyata kamu sibuk mempersiapkan pernikahan kamu sendiri??

Hilman diam saja hanya menghela napas.

NAIA
            Kamu jahat… kamu jahat… kamuu jahaaatttt!!!! (teriak semakin histeris)

CU       Wajah Naia berteriak histeris

CUT TO

2. INT: KANTOR VINARA.SORE
VINARA, IBU PRODJO, FIGURAN

Vinara merapikan berkas-berkas kerja di meja kantornya. Bahu kanannya menjepit telepon genggam yang menyala, karena kedua tangannya sibuk bekerja. Sesekali ia memindah posisi teleponnya.

VINARA
            Iya Bu… saya juga tahu…

Intercut
Ibu Prodjo sedang berdiri di teras depan rumahnya sambil menelepon Vina.
IBU PRODJO
            Ibu bener-bener ngga nyangka.. (nada terluka)
            Selama ini Nak Hilman itu sangat baiikkk sama Naia dan juga sama keluarga kita.
            (Diam sebentar menghela napas dan mengurut dada)
            Dia anak yang sopan dan soleh… kok tega-teganya dia berselingkuh…

Vina menerawang sejenak, sedih.

CUT TO (membayangkan)
Naia dengan wajah sedih dan basah oleh airmata duduk merenung di teras belakang rumahnya.
CUT BACK TO
Vina memegang telepon yang semula ia jepit di bahu dengan tangan kanannya. Berkas yang semula berantakan di meja sudah rapi tertumpuk di sudut meja.

IBU PRODJO
Minggu lalu, orangtua Hilman, paman dan beberapa kerabatnya datang ke rumah, ya.. untuk mengembalikan cincin pertunangan dan meminta maaf …
Ibu bener-bener ngga ngerti.. jaman sekarang.. kok bisa-bisanya ada kejadian kaya gini…
Kalau memang ngga cocok atau ada calon yang lain, mestinya kan bisa dibicarakan jauh-jauh hari. Mereka mau nikah kan ngga mungkin ngga ada rencana. Masa merencanakan pernikahan kok langsung sama dua orang? (berdecak heran)

Naia memandang jam dinding dalam ruangan kantor. Pukul 17.20WIB.
Naia mematikan komputer yang masih menyala di depannya.

NAIA
            Ibu sabar ya. (menghibur)
Setidaknya… Kak Nai kan sudah mengetahui perselingkuhan ini sebelum pernikahan, coba kalau sudah terlanjur menikah dan mereka memang bener-bener ngga cocok gimana?

Ibu Prodjo menghela napas lagi.


IBU PRODJO
Iya betul. Ibu juga bilang begitu sama Naia. Dia cantik, masih muda, pinter dan juga sudah punya usaha sendiri. Nggak perlu takut kalau ngga dapat jodoh!

Vinara bersandar di kursinya.

            VINARA
            Iya Bu…

IBU PRODJO
            Tapi … gimana sekarang keadaanya? Apa dia baik-baik saja Vin?
Sebenernya Ibu khawatir sekali dengan keadaan Naia. Tapi Ibu nggak mungkin bisa di Jakarta terlalu lama, jadi setelah urusan kemarin selesai, Ibu harus segera kembali ke perkebunan. (diam sejenak)
Kamu tahu kan urusan di sini ngga bisa ditinggal terlalu lama. Apalagi Nai juga sepertinya tertekan sekali kalo deket-deket Ibu. Setiap kali ibu mau bicara sama dia, selalu aja menghindar.

VINARA
Mungkin Kak Nai hanya perlu waktu untk sendiri Bu… ya bagaimana pun hubungannya dengan Mas Hil kan sudah 11 tahun. Mungkin ngga mudah juga bagi dia untuk ngelupain gitu aja.
Tapi Vina yakin, Kak Nai pasti baik-baik aja..

Ibu Prodjo menghela napas sedih.

IBU PRODJO
            Ya Ibu harap juga begitu, Sayang. (terdiam sejenak)
Kamu dan Arya coba… kalau ada teman atau saudara yang bisa kalian kenalkan sama Naia…

VINARA
            Maksud Ibu?

IBU PRODJO
            Ya .. bantu carikan teman laki-laki untuk Naia..
Vinara mengernyitkan kening heran.

VINARA
            Teman laki-laki untuk Kak Nai?
            Apa ngga terlalu cepat Bu? Masalah ini kan..??

IBU PRODJO
            Iya Ibu tahu sepertinya terlalu cepat..
Tapi Hilman sendiri kan juga sudah mau menikah minggu depan. Dan Naia juga sudah cukup berumur. Apalagi yang mesti di tunggu?
Kita carikan kenalan saja.. ngga berarti dia juga harus langsung menikah kan, tapi Ibu rasa ngga ada salahnya kok… maksud Ibu supaya Naia ngga terlalu sedih lagi..

VINARA
Ya betul juga sih…

IBU PRODJO
            Kamu masih di kantor?

VINARA
            Iya Bu..

IBU PRODJO
            Kok belum pulang?

VINARA
            Iya Bu, ini juga sudah mau pulang. Masih nunggu Arya jemput.

Vina berdiri dan berjalan menjauhi mejanya, menuju keluar ruangan.
Vina tiba di ruang tamu kantornya dan duduk di sofa ruang tunggu.

IBU PRODJO
            Ya udah kamu hati-hati… Titip salam Ibu untuk Arya ya..

VINARA
            Iya Bu..

`           IBU PRODJO
Sekalian coba kalian bicarakan lagi masalah yang tadi Ibu sampaikan sama kamu. (diam sebentar)
Soal pesta pernikahan kalian. Kan harusnya ngga sampai 2 bulan lagi…
Aduuhh (pusing) gara-gara si Hilman itu… jadi kacau semua..
Memang undangan belum disebar, tapi kan semua udah di pesan.

Vina juga tampak bingung.

IBU PRODJO
Apa kalian masih mau menikah sama-sama dengan Nai? Itu berarti kalian mesti menunggu lagi sampai Naia dapat penggantinya Hilman. Dan itu juga nggak tahu sampai kapan kan… (mendesah)
Kalau menurut Ibu sih… lebih baik kalian tetap menikah tahun ini, perhitungan tahun ini sudah sangat bagus dan cocok sekali buat kalian. Tapi Ibu tidak sampai hati untuk bilang sama Naia…
Coba lah… kalian atur saja bagaimana baiknya..

Vina mengangguk-angguk dengan bingung.

IBU PRODJO
            Kalian jaga diri baik-baik ya? Kalau ada apa-apa jangan lupa telepon Ibu.

VINARA
            Baik Bu… ya… daahh..

Vina menutup telepon dengan gundah.

CUT TO
Commercial Break

3. INT: KAFE ‘F2’.MALAM
ARYA, BASKORO, NAIA, FIGURAN : PENGUNJUNG KAFE, PEGAWAI KAFE

Suasana kafe yang meriah.
Lampu remang-remang, musik memenuhi ruangan. (Img. Theme song 9 : You To Me Are Everything)
Pengunjung dengan suasana gembira. Ada serombongan yang sedang merayakan pesta ulang tahun di sudut ruang. Kue tar di meja yang penuh minuman dan pita2 tiup. Rombongan pesta bertepuk tangan dan tertawa gembira.
Sebagian pengunjung yang lain menikmati makan malam dan mendengarkan iringan musik hidup yang membawakan lagu-lagu pop dan disco.
Pegawai berseliweran melayani kafe yang sedang penuh dengan pengunjung.

Arya turun dari ruang kantornya dan memandangi ruang kafe yang penuh sambil mengamati suasana. Sesekali menganggukkan kepala mengikuti musik.
Setelah beberapa saat pandangan Arya tertumbuk pada seorang pria yang duduk minum sendirian sambil memandangi panggung live music.
Kening Arya berkerut seperti mengingat-ingat sesuatu. Lalu Arya menghampiri orang itu.

ARYA
            Baskoro? (nada menebak)

Pria itu menoleh memandang Arya dan tersenyum lebar.

BASKORO
            Arya? (terkejut)

Arya dan Baskoro tertawa dan bersalaman hangat.

ARYA
            Hei apakabar? Lama juga ngga ketemu? 6? 7 tahun?

Baskoro meletakkan gelas minumannya. Arya duduk di kursi bar di sebelah Baskoro.

BASKORO
            Kabarku baik.
Yah.. lama juga ngga ada kabarnya, sejak kamu lulus SMA dan pindah ke Jakarta lah..
            Tujuh tahun lebih ya…??

ARYA
Waduh angin apa nih sampai ke sini? Aku dengar kamu melanjutkan kuliah ke Yogya? Sudah selesai ya kuliah mu?
BASKORO
Tahun lalu… setelah itu aku sempat juga pindah kerja ke Surabaya.

ARYA
Terus? Ngerjain apa sekarang? Lagi kebeneran di Jakarta?

Baskoro membalikkan badan menghadap bar dan meneguk minumannya.

BASKORO
            Belum nih… (berhenti sejenak) Aku sedang cari kerja di sini.

Arya mengangguk-angguk.

BASKORO
            Kamu sendiri ngapain di sini? Masih ‘s-orangan’ aja?

Arya tertawa kecil.

ARYA
Iya nih, rencana akhir bulan depan.

Arya tersenyum, mengangkat 1 jari ke bartender dan bartender mengambilkan segelas minuman. Baskoro tersenyum lebar dan menepuk pundak Arya.

BASKORO
            Wah selamat dong…

ARYA
            Kamu? Masih sama .. siapa tuh… anak kos bunga???Lanny?

Baskoro dan Arya tertawa bersama. Bartender menyodorkan minuman ke depan Arya.

BASKORO
            Ngga lah.. masih ngejomblo nih.. belum laku.. (tertawa)
            Kamu kerja di mana sekarang?

Arya menunjuk kafenya.
Baskoro mengernyit tak mengerti.

BASKORO
            Ini semua punya kamu? (heran-memandang sekeliling)
            Wah hebat dong…

Arya meneguk minumannya.

ARYA
            Ngga juga. Aku kerja bareng sama kakak ku, Naia. Inget kan?

Baskoro mengangguk sambil berpikir.

BASKORO
            Wah kakak kamu yang cantik itu ya.. (tertawa) Mana mungkin aku lupa..

CUT TO

Naia berjalan menuruni tangga ke ruang kafe. Memandang suasana kafe dan mengangguk tampak puas.
Arya melihat kedatangan Naia lalu melambai memanggilnya.

ARYA
            Tuh dia orangnya… (melambai)
            Nai..!!! (memanggil)

Naia mengangkat wajah melihat Arya dan Baskoro. Tersenyum dan datang menghampiri mereka.

NAIA
            Hai… (menyapa Arya dan memandang Baskoro)

ARYA
Ini Baskoro, adik kelasku waktu SMA dulu. Dia pernah beberapa kali mampir ke rumah dulu. Inget ngga, Nai?

Baskoro mengulurkan tangan menyalami Naia.

BASKORO
            Baskoro… (memperkenalkan diri dan menatap Nai dalam-dalam)

Naia tampak berpikir.

NAIA
            Aduh.. yang mana ya (menyalami Bas sambil sesekali memandang Arya tak ingat)
            Sorry aku udah pikun nih (tertawa kecil)
           
Telepon genggam Arya bergetar. Arya memandang ponselnya, ada telepon masuk. Vinara.
Naia dan Baskoro memandang Arya.
Arya menepuk dahinya seperti teringat akan sesuatu.

ARYA
            Aduh lupa aku ada janji sama Vina. Sorry ya… aku mesti pergi sekarang.

Arya menatap Baskoro dan Naia.

ARYA
            Bagi nomor telepon mu Bas. Nanti aku ‘contact’ kamu lagi…

Baskoro memberikan nomor teleponnya dan Arya mencatat nomor telepon Bas di ponselnya.

ARYA
            Oke deh.. aku jalan dulu ya..
            Nai jangan lupa kasi discount khusus buat dia.. (tersenyum memandang Naia)

Arya berjalan pergi menjauh.
Naia duduk di tempat bekas Arya duduk dan bersama Bas menatap Arya yang menjauh.

LS        Baskoro dan Naia terlibat pembicaraan akrab

CUT TO

Arya berjalan tergesa keluar ruang kafe.
Di depan lobby suara musik melemah. Bunyi ponsel Arya. Arya mengangkatnya tergesa.

ARYA
            Sorry sorry sorry… Tunggu bentar ya Vin…

Arya bergegas menuju mobilnya yang terparkir dekat pintu keluar.

ARYA
Tadi mendadak aku ketemu bekas adik kelasku waktu SMA dulu di kafe, jadi ke asyikan ngobrol deh.

Arya memasuki mobilnya.

ARYA
            Iya.. aku langsung ke sana. Nanti ceritanya lanjutin di sana aja ya.. yuk daah..

Arya menutup ponsel dan menyalakan mesin mobilnya.

LS        Mobil Arya melaju menjauh

CUT TO

4. INT: RESTO.MALAM
IAN, CINDY, DANI, FIGURAN: PENGUNJUNG RESTO, PEGAWAI RESTO

LS        Dari jendela, tampak suasana romantis sebuah resto dengan candle light dinner

Cindy tampak senang duduk di depan Ian. Mereka tampak sedang memesan menu.
Seorang pelayan berseragam menunggu dengan sopan di sebelah meja mereka.

IAN
            Lo mau pesen apa?

Ian mengangkat pandangannya dari buku menu dan memandang Cindy.
Cindy menutup buku dan mengedikkan bahu.

CINDY
            Terserah kamu deh… apa aja yang enak..

Ian membalik-balik halaman menu dan  menunjuk ke salah satu menu di buku. Pelayan mencatat pesanan mereka.

IAN
            One Barbeque Beef Ribs… with mash potatoes…ehm.. (berpikir)

Ian menatap Cindy lagi.

IAN
            Kamu sama?

Cindy tampak berpikir.

CINDY
            Pepper steak please…. Semi well done.. ( menunjuk 1 jari ke pelayan)
            Oh.. and .. one fruit punch..

Ian menutup buku menunya.

IAN
            Make it two…

Pelayan mencatat dan menegakkan berdirinya.

PELAYAN
            Saya ulang ordernya ya..
Satu Barbeque Beef Ribs, Satu Pepper steak (memandang Cindy) semi well done, dan dua fruit punch..

Ian dan Cindy mengangguk, lalu pelayan pergi.
Ian menyandarkan punggungnya di kursi lalu memandang sekeliling seperti menunggu sesuatu.

CINDY
            Thanks ya.. ternyata kamu masih sempet juga nemenin aku makan…

Cindy tampak sangat senang. Cindy memandang suasana romantis di resto. Suara lagu romantis mendekat. Beberapa pria dengan iringan biola mendekat ke meja Ian dan Cindy dan membawakan sebuah love song.

CINDY(dalam hati)
            Ternyata Ian bisa romantis juga, ngajak aku dinner ke tempat yang se indah ini…

CUT TO

Di pintu masuk resto, Dani memasuki ruangan dan tampak bingung memandang sekeliling.

DANI(dalam hati)
            Ngapain Ian suruh gua ke sini?(menggaruk kepala)
Kalau mau minta maaf karena masalah kemarin pun, ngga perlu sampe ngajakin malam berdua ke tempat beginian kan?(bingung)

Ian yang sedari tadi kikuk menghadapi pandangan mesra dari Cindy dengan salah tingkah, segera melihat kedatangan Dani.
Wajah Ian langsung sumringah dan sangat gembira melambai memanggil Dani mendekat.
Cindy tampak terkejut dengan kedatangan Dani.

CINDY(dalam hati)
            Ngapain orang itu ke sini.. ganggu kesenengan orang aja…

Dani juga tampak terkejut melihat Cindy.

DANI(dalam hati)
Hah? Ngapain tuh kunyuk juga bawa-bawa calon bininya? Masa gua mau dijadiin obat nyamuk selama mereka romantis-romantisan, sialan… (menggerutu)

Dani menghampiri meja Cindy dan Ian.


IAN
            Akhirnya datang juga elo, Dan… kemana ajaaa.. lama bener?

Ian menggeser duduknya dan mempersilakan Dani duduk di sebelahnya.
Dani seperti merasa tak enak hati melihat Cindy yang tampak kurang suka dengan kehadirannya.
Ian memandang Dani dan Cindy bergantian.

IAN
            Kalian ini kenapa? Kok kaya orang bingung gitu? (sok akrab)
Kita bertiga kan udah lama ngga jalan dan makan bareng…  ngga ada salahnya kan ngumpul gini… ya sekalian reuni…

Cindy dan Dani tersenyum kaku.

IAN
            Kayanya mesti sering-sering deh kita …

Pembicaraan Ian terputus oleh suara dering ponsel Ian.

IAN
            Sorry, sebentar ya…

Ian mengangkat teleponnya dengan cuek.

IAN
            Hallo? (diam sebentar seperti mendengarkan)
            Sekarang? (melirik Dani dan Cindy yang memandang Ian ingin tahu)
            Oh.. oke-oke… bisa bisa… ya ??
Tempat biasa kan? Oke bye..

Ian menutup telepon dan menghela napas.

DANI
            Siapa?


IAN
            Anu… eh.. (mencari alasan)
            Sorry banget ya… gua lupa kalo hari ini ada janji penting..

Ian berdiri. Cindy memandang bingung. Dani mengernyikan kening.

DANI
            Janji ama siapa? (heran)

Ian menepuk bahu Dani sambil melempar senyum manis ke Cindy dan Dani.

IAN
            Gua cabut dulu ya… lain kali kita ngobrol-ngobrol lagi…

DANI
            Ngobrol apa-an? Gua juga baru dateng? (menggerutu pelan)

Cindy membuang muka kesal.

IAN
            Apa Dan? (mendengar sekilas gerutuan Dani)

Dani kebingungan mau menjawab apa.

IAN
            (berbisik dekat Dani) Eh..gua juga udah orderin kesukaan elo.. selamat makan ya..

DANI
            Hah? Apa?? (terkejut)

Ian tertawa dan sambil mundur menjauhi meja lalu melambai dan pergi.
Cindy menatap heran dan kesal pada Ian.
Cindy mengalihkan pandangan pada Dani.

 CINDY
            Emangnya ada acara penting apa sih? (pandangan menuntut)

Dani jadi salah tingkah.

DANI
            He? Apa… (pura-pura tak dengar)

Cindy menatap Dani tajam sambil melipat tangannya di atas meja.

CINDY
Kamu kan manager sekaligus asisten pribadinya Ian, masa kamu ngga tau kalau Ian ada janji penting.

Dani hanya ternganga bingung tak tahu harus menjawab apa.

LS        Cindy dan Dani duduk berhadapan dalam suasana romantis dengan wajah canggung

CUT TO
Commercial Break

5. INT: KANTOR NAIA.SIANG
NAIA, BASKORO, VINARA, ARYA

CU Telepon genggam di meja

Dering telepon genggam berbunyi. Naia yang sedang sibuk memeriksa data-data di komputer memandang ponselnya sejenak lalu mengangkatnya.

NAIA
Hallo?

Intercut

Baskoro tersenyum, dia berdiri di sebuah taman dekat kantor Naia sambil memandang ke arah kafe F2.

BASKORO
            Siang Cantik…

Semula Naia mengernyitkan kening. Tapi lalu berubah tersenyum manis setelah mengenali suara Baskoro.

NAIA
            Ah kamu Bas…

BASKORO
            Lagi ngapain?

NAIA
            Biasa… ada beberapa pekerjaan yang mesti diperiksa..

Baskoro memandang arloji di pergelangan tangannya.

BASKORO
            Bukannya sekarang waktunya istirahat? Kamu udah makan siang?

NAIA
            Belum sempet nih… (memandang jam dinding)

BASKORO
            Jangan gitu dong Nai.. nanti kamu sakit lho kalo keseringan telat makan.

Naia tersenyum jengah merasa diperhatikan.

BASKORO
Gimana kalo kita keluar makan siang ini? Kebetulan aku ada dekat kantor kamu. Aku jemput ya…

Naia terdiam bingung tampak berpikir sejenak. Sebentar kemudian tak sengaja mata Naia tertumbuk pada undangan pernikahan Hilman yang ada di sudut mejanya.

NAIA
            Tiap hari jadi ngerepotin kamu nih Bas…


BASKORO
            Ga papa.. Ayolah… kita makan dekat-dekat sini aja.. gimana?

Naia menghela napas. Memandang lagi ke undangan pernikahan di genggamannya.

NAIA
            Oke.. sebentar lagi aku turun, kamu tunggu di bawah aja ya…
            Oke… bye..

Naia menutup telepon dan memandang undangan Hilman lagi. Naia mengambil undangan yang sudah lecek terlipat-lipat itu dan membuangnya ke tong sampah di bawah meja, lalu berjalan keluar ruangan.

CUT TO

CU       Pintu ruangan kantor Naia tertutup
CU      Pintu ruangan kantor Naia terbuka

Vina dan Arya muncul membawa bungkusan makanan.

VINARA
Kak Nai!!!

Vina melongok ke dalam dan menemukan ruangan kantor kosong.
Pintu didorong dan terbuka lebar.

VINARA
            Kemana orangnya? (memandang Arya)
            Katamu dia ngga kemana-mana, ada di kantor.

Arya memandang bingung.

ARYA
            Wah ngga tahu juga ya… tadi sih ada…

Vina menutup ruang Naia dan duduk di meja kerja Arya. Arya duduk dihadapannya.
Vina membuka bungkusan makanan yang di bawanya.

VINARA
            Ya udah, kita makan duluan aja. Aku mesti balik ke kantor lagi habis ini.

Arya mengangguk dan ikut makan bersama Vina.

VINARA
            Aku lihat Kak Nai akhir-akhir ini agak berubah ya?

ARYA
            Maksudmu? (sambil menyuap makanannya)

VINARA
            Kelihatannya… sudah ngga terlalu sedih-sedih lagi kaya kemaren-kemaren.

Arya mengangguk-angguk sambil tetap makan.

VINARA
            Bagus juga kalo Kak Nai bisa cepat melupakan Mas Hil.
            Tadinya aku udah khawatiiirrr.. banget, kan sepertinya Kak Nai stres banget waktu itu.
            Ibu juga tiap hari telepon nanyain keadaanya kak Nai.

Vina menyuap makanannnya.

ARYA
Ah.. Ibu.
Masa katanya aku disuruh mencarikan jodoh buat dikenalin ke Nai.
Aneh-aneh aja Ibu itu. Bisa-bisa Nai ngomel berat sama aku.
Orang baru aja di tinggal tunangannya belum ada 2 minggu kok sudah mau dijodohin ama orang lain…

Vina mengangguk-angguk sambil menelan makannya.




VINARA
            He eh.. Ibu juga bilang gitu sama aku… Aku sempet nanya apa ngga terlalu cepat.
            Aku tahu maksud Ibu baik, tapi perasaan Kak Nai kan belum stabil.

Arya menghela napas.

ARYA
Yang aku seselin… kalau nantinya ternyata aku dan Nai ngga jadi menikah di hari yang sama. (diam sejenak)

Vinara menatap Arya yang menerawang seperti berpikir.

ARYA
Nai sudah bilang sama aku, (menatap Vina) sebaiknya rencana pernikahan kita tetap dilanjutkan. Jangan karena masalahnya dengan Hil, pernikahan kita jadi ikut batal.
Dia ngga keberatan kalo kita menikah lebih dulu tahun ini.

VINARA
Sebenernya aku ngga keberatan kok Yak, kalo emang pernikahan kita mesti di tunda..

ARYA
Tapi Ibu dan Bapak keberatan, soalnya semua kerabat sudah dikasi tahu, dan semua persiapan sudah dipesan dan dibayar.
(Arya memandang Vina dengan perasaan sayang)
Dan aku… juga udah ngga sabar pengen jadi suami kamu… (tersenyum nakal)

Vina tertawa kecil.

VINARA
Ah kamu.. orang lagi ngomong serius kok…

Vina dan Arya tertawa.

CUT TO


6. INT: KANTOR IAN.SIANG
IAN, CINDY, DANI

Ian berdiri hendak meninggalkan mejanya ketika pintu ruangannya terbuka. Cindy masuk. Ian memandang Cindy terkejut.

IAN
Eh Cindy?

Cindy masuk dan menutup pintu sambil mencoba tersenyum manis.

CINDY
Kamu mau pergi?

IAN
Iya… ada apa Cin?

Cindy memegang tali tas tangannya.

CINDY
Mau kemana? (lirih)           
Padalah aku mau ajakin kamu makan siang bareng.

Ian memandang Cindy tak enak hati. Ian berjalan mendekati Cindy yang masih berdiri dekat pintu.

IAN
Aduhh sorry banget ya.. gua ngga bisa Cin..

Cindy tampak kecewa.

IAN
Eh ya.. gimana makan malamnya waktu itu? (berusaha mengalihkan pembicaraan)

Cindy memandang Ian kesal.

CINDY
Kamu ini kenapa sih Yan? Kok kesannya, sejak aku pulang, kamu selalu menghindari aku terus..

Ian menggaruk kepalanya bingung. Tiba-tiba suara ketukan pintu dan Dani muncul.
Save by the bel.

DANI
Yan kamu… (terhenti karena melihat Cindy)

Ian nampak lega dan dengan gembira merangkul Dani masuk.

IAN
Hai Dan…

Cindy memandang ke arah lain dengan wajah kesal.

CINDY
Kenapa orang ini selalu muncul di saat yang ngga tepat. (menggerutu)

DANI
Eh Cin… kamu disini..

Cindy tak menjawab hanya tersenyum menahan perasaan jengkel.
Ian menepuk Dani senang.

IAN
Nah!! (semangat) Kebetulan banget elo disini Dan… elo juga belum makan siang kan. Gua ada janji siang ini, jadi tolong ya temenin Cindy makan siang… (mengatupkan dua telapak tanganya memohon)

Cindy menatap Ian kesal. Dani mendelik kesal, malu tapi mau.

IAN
Kasihan kan Cindy kalo mesti pergi sendirian. Gua janji deh, begitu urusan gua selesai nanti gua akan telepon lu berdua… okey…

Ian nyengir sambil melambai dan beranjak keluar ruangan.

DANI
Eh.. Yan tunggu…

Ian tetap pergi. Dani memandang Cindy salah tingkah. Cindy mendengus kesal dan berjalan keluar ruangan. Dani mengikuti.

CUT TO

7. EXT: TEPI PANTAI.SIANG
NAIA, BASKORO, FIGURAN

Naia dan Baskoro duduk di tepi pantai sambil memandangi ombak dan suasana pantai yang sepi. Beberapa pengunjung pantai berjalan di sekitar, tak banyak orang.
Naia dan Baskoro tampak bercakap-cakap dengan akrab dan santai. Baskoro menggulung celana panjangnya sampai selutut. Naia duduk di sampingnya sambil memandangi Bas.

BASKORO
Selama kuliah ya aku memang deket banget sama dia.
Setelah lulus, aku mendapat tawaran kerjaan di Surabaya. Semula dia memang keberatan aku pindah ke sana, karena itu artinya akuidan Nita mesti berjauhan. Tapi, aku pikir, sekalian menunggu Nita lulus, aku bisa kerja di Surabaya sekalian menabung untuk masa depan kami. Dan sepertinya waktu itu dia bisa ngerti.. tapi ternyata (terdiam sejenak)
Belum sampai setahun aku pindah, dia sudah memutuskan hubungan kami. (menghela napas)
Menurut temanku yang masih di Yogya, dia mempunyai kekasih baru, teman kuliahnya, (menoleh menatap Naia) adik kelasku juga.

Baskoro menatap Naia yang memperhatikannya dengan serius. Angin pantai berhembus. Naia sesekali merapikan rambutnya yang tergerai.

BASKORO
Waktu itu aku sempet sakit hati… tapi kalo belum jodoh gimana.. (tersenyum kecil sambil mengedikkan bahu)

Naia memandang ke laut dan menghela napas.

NAIA
Kamu masih beruntung Bas. Setidaknya hubungan kalian kan belum terlalu jauh.
(menerawang) Kalau aku dan Hilman, sudah 11tahun… s e b e l a  s   tahun… (mengeja dengan nada ditekankan) coba bayangkan..
Sejak SMA aku selalu setia sama dia. Bahkan sebelum peristiwa itu.. (tampak sedih) kami sudah mempersiapkan pernikahan. (diam sejenak, menahan tangis)
Bulan depan. Tinggal bulan depan Bas… (tercekat)

Baskoro menatap Naia sedih dan mengelus rambutnya. Air mata Naia mengalir.

NAIA
Gedung pesta, undangan, bunga-bunga… (terisak)
Aku bahkan sudah mencoba menu masakan dan mengepas gaun pengantinnya…

Naia mengusap air matanya. Baskoro mengubah posisi duduknya menghadap Naia. Baskoro mengangkat wajah Naia dan mengusap air mata Naia yang mengalir.
Bas menatap wajah Nai lekat-lekat.

BASKORO
Jangan menangis Cantik…
Air mata kamu terlalu berharga untuk orang seperti dia.

Naia memandang Bas jengah.
Bas menatap Naia mesra.

BASKORO
Kamu adalan perempuan paling cantik yang pernah ku kenal…
(tangan Bas mengelus wajah Nai mesra, Nai terpaku)
Kamu sangat cantik… pintar… (terdiam sejenak)
Hilman adalah orang yang paling bodoh di dunia, bagaimana mungkin dia melepaskan permata seperti kamu…

Naia tertegun, hanyut oleh rayuan Baskoro.

NAIA
Bas… kamu.. (mencoba bicara)

Jari Baskoro menutup bibir Naia dan tetap memandang Nai mesra.

BASKORO
Setidaknya ada yang perlu kamu syukuri dari peristiwa itu… kamu jadi bisa mengerti betapa berharga nya kamu.. karena orang seperti Hilman yang ngga bisa menghargai kamu, sama sekali ngga pantas untuk jadi pendamping kamu…

Naia memandang Bas, tersihir oleh kata-katanya, menatap Bas dalam-dalam. Baskoro memegang kedua tangan Naia.

BASKORO
Sejak pertama kali melihat kamu, aku tahu bahwa kamu adalah orang yang sangat spesial (diam sejenak) Dengan segala kejadian yang menimpaku, dan menimpa kamu, juga pertemuan kita kembali secara kebetulan.. (menatap Naia, menarik napas seperti mengumpulkan keberanian)
Dan kalau kamu bersedia memberi aku kesempatan… aku akan coba buktikan ketulusanku.

CU       Wajah Baskoro menatap Naia serius, mesra
CU       Wajah Naia tegang

BASKORO
Aku ingin membahagiakan kamu.. aku pasti bisa membahagiakan kamu…

Baskoro mencium tangan Naia yang ada dalam genggamannya.
Sejenak Naia terdiam lalu lekas melepas genggaman Baskoro dan memandang ke laut.
Baskoro  mendekatkan duduknya dan terus memandang Naia yang tampak bingung.

NAIA
Apa kamu sadar dengan ucapan kamu barusan?(tetap memandang laut)

Baskoro terus memandang Naia.
BASKORO
Tentu saja!
Seratus persen!! (nada bercanda)

Naia melirik Bas dan tertawa kecil, lalu menggeleng pelan.

NAIA
Rasanya ngga mungkin Bas.. terlalu banyak perbedaan di antara kita.. dan sepertinya terlalu cepat buatku…

Baskoro memegang bahu Naia dan menghadapkan badan Naia sehingga mereka berhadapan.
Baskoro menatap Naia dalam, berusaha meyakinkan.

BASKORO
Perbedaan apa? Dan apa yang terlalu cepat?
Menurutku, aku justru terlambat.. kenapa sekarang aku baru berani menyatakan perasaanku sama kamu…

Naia menatap bingung dan jengah.

NAIA
Apa kamu ngga lihat? (Nai menunduk)
Aku sudah hampir kepala tiga… aku enam tahun lebih tua dari kamu dan..

BASKORO(memotong)
Aduh Sayang… masa kamu ngomong gitu sih.. aku ngga peduli.. jangankan Cuma enam tahun seandainya kamu sudah jadi nenek-nenek pun nantinya, aku akan tetap sayang sama kamu… (mencoba meyakinkan)

Naia menatap Baskoro terharu. Belum pernah ada yang semesra itu padanya.

BASKORO
Banyak kan pasangan lain yang beda umurnya lebih jauh dari kita.. apalah artinya enam tahun, yang penting aku mencintai kamu dan aku ingin kamu bahagia… please berilah aku kesempatan… akan ku buktikan..

(enter to intro  img. Theme Song10 : Jiu se ai ni)
Baskoro mengelus wajah Naia. Naia menunduk. Baskoro memeluk Naia.
Naia menyandarkan kepalanya ke bahu Baskoro.

LS        Dari belakang, Naia dan Baskoro memandang ke laut

CUT TO
Pantai.Siang
Bas dan Naia bercanda dan bermain air di tepi pantai. Berkejaran, saling menyiramkan air dengan tangan dan tampak sangat gembira.
Pantai.Sore
Bas dan Naia berjalan santai sambil bergenggaman tangan dengan latar belakang senja temaram.
Bas dan Naia berhenti lalu berdiri berhadapan saling memandang dengan tatapan penuh kasih. Bas merapikan rambut Naia yang terhembus angin lalu mencium dahinya mesra.

CUT TO

8. INT: RUANG KERJA PIERE/GEDUNG KANTOR IAN.SIANG
PIERE(AYAH CINDY), JONO, FIGURAN

Piere duduk dengan kesal. Tangannya memilah-milah foto yang bertumpuk di depannya.
Piere menatap foto-foto itu yang berisi Ian dan kekasih-kekasihnya.
Jono yang duduk di depannya tampak mengamati ekspresi Piere.

PIERE
            Kurang ajar!!

Piere membanting foto ke meja. Lalu meyandar keras ke kursinya.

PIERE
            Anak berandal itu ngga juga berubah!! (mendengus)
Kalo saja aku ngga mengingat almarhum papa mamanya yang meninggalkan begitu banyak warisan pada si sialan itu… sudah aku depak dia sejak lama…

Jono menghela napas lalu menatap Piere dengan ragu.
JONO
Apa Bapak yakin, orang seperti ini yang akan Bapak ambil sebagai calon menantu? (hati-hati)

Piere mendengus.

PIERE
            Apa ada pilihan lain?? (menatap Jono kesal)
            Ian itu anak satu-satunya dari Mas Laksma, kakaknya Erin… (nada ditekan)
Dan mereka mewariskan hampir semua dari harta bendanya… aset-asetnya.. perusahaannya dan … semuanya… ya sama berandalan satu itu… (mengetukkan jari ke meja sambil berpikir)
Padahal Erin itu sudah menyumbang sangat banyak untuk perusahaan ini. Tapi mana.. dia ngga dapat apa-apa sama sekali selain jabatannya yang sekarang… (mendengus kesal)
Aku hanya ingin mendapatkan hak ku, yang semestinya sudah kami dapat… hak Cindy juga kan (kesal)

Jono menggelengkan kepalannya bingung dan ragu.

JONO
            Tapi Pak.. Cindy itu kan anak kandung Bapak sendiri… (hati-hati)
            Apa Bapak tidak mengkhawatirkan kebahagiaanya nanti.. (diam sejenak)
            Apabila mendapatkan suami yang…yah..bisa dibilang ‘rusak” seperti Ian?

Piere menatap Jono dengan tatapan tak peduli.

PIERE
Aku hanya ingin mengambil kembali hak ku… dan jika Cindy menikah dengan Ian. Ya.. dia pasti bahagia kan (membuka tangannya) Cindy menyukai Ian sejak lama, tentu ia pasti bahagia menikah dengan orang yang dicintainya… apalagi.. dengan keadaan Ian sekarang, sudah pasti Cindy dan anak-anaknya kelak akan hidup berkecukupan… apalagi yang mau dia cari…

Jono menghela napas ‘no comment’.
Pintu ruangan diketuk. Sekretaris masuk.
SEKRETARIS
            Permisi Pak… (hormat)

Jono dan Piere menatapnya.

PIERE
            Ada apa..

SEKRETARIS
Tadi ada pesan dari Ibu, Bapak dimohon ke ruangannya segera untuk membahas mengenai meeting Hotel di Cisarua tadi pagi.
(Piere mendengus kesal sambil mengangguk)
Permisi Pak..

Sekretaris membungkuk dan pergi.
Jono kembali menatap Piere. Piere berdiri.

PIERE
            Ya udah… pokoknya.. kamu terus awasi mereka.

Piere berjalan menuju ke pintu. Jono berdiri.

PIERE
            Laporkan terus perkembangannya. (tegas)

Jono membungkuk hormat.

JONO
            Baik Pak…

Piere berjalan ke luar di iringi Jono.

CUT TO




9. INT: RUMAH KEL. PRODJO/ORANG TUA ARYA.SIANG
IBU PRODJO, NAIA, BASKORO, FIGURAN PRT

Ibu Prodjo tampak sedang berdiri menghadap ke taman belakang. Tangannya menenteng penyiram bunga sambil sesekali menyiramkan air ke pot-pot di jendela.
Ning pembantu nya sedang merapikan dan mengelap meja.
Terdengar suara mobil mendekat.
Ibu Prodjo menolehkan kepala. Dari arah jendela tak terlihat siapa yang datang. Ning juga berhenti mengelap menatap ke arah depan.

IBU PRODJO
            Siapa Ning? Coba kamu lihat?

Ning yang semula bersimpuh lalu berdiri.

NING
Baik Bu…

Ning berjalan ke arah pintu depan. Terdengar pintu di ketuk. Ning mempercepat langkah.
Ibu Prodjo kembali memperhatikan tanamannya.
Dari arah pintu terdengar ucapan salam.

NAIA dan BAS
            Asallamualaikum…

Ibu Prodjo terkejut dan menoleh.

IBU ARYA
            Waallaikumsalam… Naia.. (nada meninggi terkejut)

Ibu Prodjo bergegas menghampiri Naia yang juga bergegas mendekat dan memeluk Ibunya.

IBU PRODJO
Mimpi apa Ibu Nak…?? Kok mendadak sekali? Kenapa ngga kasi tahu Ibu sebelumnya, Ibu kan bisa menyiapkan… (sambil memandangi Naia dan Bas bingung)

NAIA
Ngga papa Bu… Nai sudah kangen aja sama Ibu, makanya Nai pulang… (manja)

Ibu Prodjo tersenyum mengelus putrinya lalu menatap Bas dengan heran.

IBU PRODJO
            Ini… (menatap Bas sambil berpikir)

Baskoro maju menyalami Ibu Prodjo dan mengangguk sangat sopan.

BASKORO
            Siang Bu… sudah lupa ya sama saya? (tersenyum) Baskoro..

IBU PRODJO
            Oo… (lega) iya Nak Bas… apakabar…

Ibu Prodjo dengan ramah menyalami Baskoro dan mengajak mereka duduk ke ruang tengah.

IBU PRODJO
            Mari mari sini… wah sudah lama sekali ngga ketemu apakabarnya…

Bas dan Nai mengikuti Ibu Prodjo.

BASKORO
            Baik Bu… (menjawab sambil berjalan)

Mereka duduk bersama.
Ibu Prodjo menatap mereka bergantian dengan heran.

IBU PRODJO
Kalian?? Memang kebetulan atau…(bingung)

Bas dan Nai yang duduk berdampingan saling bertatapan. Bas menggamit tangan Nai dan menggegamnya. Ibu Prodjo tampak terkesiap melihat pemandangan itu dan menatap mereka sambil menahan perasaan heran.

BASKORO
Maaf sebelumnya, kala kami datang secara mendadak tanpa pemberitahuan kepada Bapak dan Ibu… (menoleh menatap Nai mesra)
Kedatangan saya ke sini, memang sengaja untuk menemui Ibu dan juga… Bapak…

NAIA
(memotong) Bapak belum pulang ya Bu? (celingukan mencari)

Ibu Prodjo terkesiap tersadar dari bingungnya.

IBU PRODJO
            Oh eh.. iya.. belum… (tergagap)

Ibu Prodjo kembali terdiam menatap heran Nai dan Bas yang berpegangan tangan dan berpandang-pandangan mesra.

IBU PRODJO
            Ada apa sebenarnya Nai?

Ibu Prodjo memandang bingung. Naia dan Bas saling menatap, memberi kode seakan bilang ‘sekarang aja ngomongnya’ saling mengangguk.

BASKORO
Begini Bu… (menatap Ibu Prodjo dan menarik napas dalam untuk mengumpulkan keberanian) kedatangan kami kemari sebenarnya karena … saya hendak melamar Naia untuk menjadi istri saya…

CU      Ibu Prodjo terkejut
CU      Naia dan Bas berpandangan tersenyum mesra

CUT TO
END EPS.7

Credit Title
THEME SONG 4