Tuesday, November 6, 2012

Ortu dan pernikahan anaknya


Pernikahan di indonesia erat berkaitan dengan peran orangtua. Bahkan ada yang sejak awal memilih pasangan hidup pun tidak sedikit yang dipilihkan oleh orang tua, yang ini tidak cocok yang ini kurang sepadan atau dijodohkan langsung dengan menantu pilihan.
Juga ketika sampai pada pesta pernikahan di indonesia, masih jarang dimana resepsi pernikahan dibayar sendiri oleh kedua mempelai, dan lebih banyak terjadi bahwa orangtua lah yang menikahkan anaknya.
Oleh karena itu biasanya orang tua banyak yang jadi terlibat baik secara emosi maupun ekonomi dalam kehidupan pernikahan anak2nya. Apalagi untuk keluarga2 yang masih tinggal dalam satu rumah dengan orang tuanya.
Seorang menantu yang berasal dari keluarga dan kebuadayaan juga kebiasaan berbeda dengan mertua tidak semuanya serta merta bisa menyesuaikan diri. Jadinya permasalahan keluarga yang semestinya tidak ada bisa muncul. Apalagi kalo mertua atau kerabat yang tinggal serumah dengan keluarga baru ini sering mengeluarkan pertanyaan2 yang berkesan menyelidiki mencecar bahkan pernyataan2 yang mendikte dalam kehidupan berumah tangga.
Keluarga baru ini akan menjadi lumpuh karena terbiasa selalu dibantu dalam segala penyelesaian masalah hidupnya, bahkan juga buta karena tidak bisa melihat secara rasional dari kaca mata mereka sendiri.
Jika memang terpaksa harus tinggal menjadi satu rumah, sebaiknya orang tua tetap membiarkan anak2 mereka untuk menyelesaikan segala permasalah mereka sendiri. Kadang ini terjadi karena orang tua terlalu menyayangi anaknya dan tidak ingin anaknya disakiti.. misal saya aja ngga pernah berkata kasar pada anak saya.. atau saya tidak pernah menyuruh2 dan membentak anak saya.. tapi sekarang pasangannya ...dll
Kadang sesuatu yang sangat menyakitkan bagi orang tua yang melihatnya belum tentu menyakitkan bagi sang anak yang mengalaminya. Setiap keluarga pasti mempunyai sisi kelam dan masa2 gelap dalam perjalanan hidup berkeluarga, dan justru disitulah diperlukan usaha peran serta kedua belah pihak dari pasangan suami istri untuk mencari cara dan jalan dalam menyelesaikan segala permasalahan mereka tanpa campur tangan orang lain termasuk orang tua. Karena disitulah mereka menjadi dewasa. Apapun keputusan yang mereka jalankan, baik atau buruknya dimana orang tua haruslah diterima.
Kadang ada statement orang tua yang menyatakan.. pilih suamimu/istrimu.. atau mama/papa? Jika kamu pilih pasanganmu maka silakan keluar dari rumah ini dan bukan anak kami lagi..
Statement seperti ini sangatlah kurang bijak untuk dikeluarkan oleh orangtua yang sudah dengan sadar dan jelas menikahkan anaknya. Hal ini tentu menjadi dilema dan beban yang sangat besar bagi anaknya. Jika ia pillih pasangannya maka ia menjadi durhaka tidak tau terimakasih tidak tau balas budi dan juga menyedihkan karena setiap anak pastilah mencintai orang tuanya, sedangkan jika harus memilih orang tua nya berarti dia harus meninggalkan pasangannya yang ia cintai, juga keluarga dan masa depannya. Maka orang tua menjadi sangat bertanggung jawab atas penderitaan yang harus ditanggung oleh anak2 mereka ini karena merekalah yang memaksa untuk memutuskan dalam permasalahan hidup keluarga mereka. Tetapi jika anak dibiarkan untuk memilih sendiri jalan hidupnya maka orang tua hanya berperan sebagai pendamping penghibur dan penasehat, tapi bukanlah sebagai decision makernya. Segala keputusan tetap haruslah di putuskan oleh anak2 mereka sendiri. Sehingga mereka bisa berkembang menjadi keluarga2 yang mandiri dengan pengalaman yang mereka selesaikan dan dapatkan sendiri.
Kecuali jika memang sang pasangan itu melakukan tindakan2 kriminal atau kekerasan yang bahkan bisa mengancam jiwa, maka tidak hanya orang tua, tapi bahkan kita juga wajib menolongnya.

Rm Erwin  - komisi kerasulan keluarga KAJ – oase rohani katolik cakrawala fm – 5 Nov 2012

No comments:

Post a Comment