Pernikahan di indonesia erat berkaitan dengan peran
orangtua. Bahkan ada yang sejak awal memilih pasangan hidup pun tidak sedikit
yang dipilihkan oleh orang tua, yang ini tidak cocok yang ini kurang sepadan
atau dijodohkan langsung dengan menantu pilihan.
Juga ketika sampai pada pesta pernikahan di indonesia, masih
jarang dimana resepsi pernikahan dibayar sendiri oleh kedua mempelai, dan lebih
banyak terjadi bahwa orangtua lah yang menikahkan anaknya.
Oleh karena itu biasanya orang tua banyak yang jadi terlibat
baik secara emosi maupun ekonomi dalam kehidupan pernikahan anak2nya. Apalagi
untuk keluarga2 yang masih tinggal dalam satu rumah dengan orang tuanya.
Seorang menantu yang berasal dari keluarga dan kebuadayaan
juga kebiasaan berbeda dengan mertua tidak semuanya serta merta bisa
menyesuaikan diri. Jadinya permasalahan keluarga yang semestinya tidak ada bisa
muncul. Apalagi kalo mertua atau kerabat yang tinggal serumah dengan keluarga
baru ini sering mengeluarkan pertanyaan2 yang berkesan menyelidiki mencecar
bahkan pernyataan2 yang mendikte dalam kehidupan berumah tangga.
Keluarga baru ini akan menjadi lumpuh karena terbiasa selalu
dibantu dalam segala penyelesaian masalah hidupnya, bahkan juga buta karena
tidak bisa melihat secara rasional dari kaca mata mereka sendiri.
Jika memang terpaksa harus tinggal menjadi satu rumah,
sebaiknya orang tua tetap membiarkan anak2 mereka untuk menyelesaikan segala
permasalah mereka sendiri. Kadang ini terjadi karena orang tua terlalu
menyayangi anaknya dan tidak ingin anaknya disakiti.. misal saya aja ngga
pernah berkata kasar pada anak saya.. atau saya tidak pernah menyuruh2 dan
membentak anak saya.. tapi sekarang pasangannya ...dll
Kadang sesuatu yang sangat menyakitkan bagi orang tua yang
melihatnya belum tentu menyakitkan bagi sang anak yang mengalaminya. Setiap
keluarga pasti mempunyai sisi kelam dan masa2 gelap dalam perjalanan hidup berkeluarga,
dan justru disitulah diperlukan usaha peran serta kedua belah pihak dari
pasangan suami istri untuk mencari cara dan jalan dalam menyelesaikan segala
permasalahan mereka tanpa campur tangan orang lain termasuk orang tua. Karena
disitulah mereka menjadi dewasa. Apapun keputusan yang mereka jalankan, baik
atau buruknya dimana orang tua haruslah diterima.
Kadang ada statement orang tua yang menyatakan.. pilih
suamimu/istrimu.. atau mama/papa? Jika kamu pilih pasanganmu maka silakan
keluar dari rumah ini dan bukan anak kami lagi..
Statement seperti ini sangatlah kurang bijak untuk
dikeluarkan oleh orangtua yang sudah dengan sadar dan jelas menikahkan anaknya.
Hal ini tentu menjadi dilema dan beban yang sangat besar bagi anaknya. Jika ia
pillih pasangannya maka ia menjadi durhaka tidak tau terimakasih tidak tau
balas budi dan juga menyedihkan karena setiap anak pastilah mencintai orang
tuanya, sedangkan jika harus memilih orang tua nya berarti dia harus
meninggalkan pasangannya yang ia cintai, juga keluarga dan masa depannya. Maka
orang tua menjadi sangat bertanggung jawab atas penderitaan yang harus
ditanggung oleh anak2 mereka ini karena merekalah yang memaksa untuk memutuskan
dalam permasalahan hidup keluarga mereka. Tetapi jika anak dibiarkan untuk
memilih sendiri jalan hidupnya maka orang tua hanya berperan sebagai pendamping
penghibur dan penasehat, tapi bukanlah sebagai decision makernya. Segala
keputusan tetap haruslah di putuskan oleh anak2 mereka sendiri. Sehingga mereka
bisa berkembang menjadi keluarga2 yang mandiri dengan pengalaman yang mereka
selesaikan dan dapatkan sendiri.
Kecuali jika memang sang pasangan itu melakukan tindakan2
kriminal atau kekerasan yang bahkan bisa mengancam jiwa, maka tidak hanya orang
tua, tapi bahkan kita juga wajib menolongnya.
Rm Erwin - komisi
kerasulan keluarga KAJ – oase rohani katolik cakrawala fm – 5 Nov 2012
No comments:
Post a Comment