Monday, December 12, 2011

Benang Merah - skenario eps.10

Eps.10

1. INT: RUMAH CINDY.PAGI
PIERE, ERIN, FIGURAN

Dua orang pelayan rumah tangga tampak merapikan meja untuk sarapan. Erin datang dan duduk. Seorang pelayan melayaninya dengan mengambilkan piring dan roti serta selai.
Piere tampak menuruni tangga menuju meja makan.
Pelayan mengangguk sopan dan pergi ke dapur. Erin membalas mengangguk lalu memandang Piere.

ERIN
            Sarapan??

Erin melanjutkan sarapannya. Piere menghampiri dan duduk di dekatnya. Wajahnya tampak berpikir heran dan memandang ke arah atas lalu ke depan.

PIERE
            Where’s Cindy?

Erin menghentikan sarapannya sejenak dan memandang Piere.

ERIN
            Sudah berangkat…

Erin menjawab pendek dan kembali melanjutkan sarapannya.
Piere menyandarkan punggungnya di kursi. Jemarinya mengetuk meja heran.

PIERE
            Kemana saja anak itu.. tiap hari kelayapan…

Erin hanya melirik sebentar dan diam tetap sarapan tak menjawab.

CU       Wajah Piere kesal dan berpikir.

CUT TO

Jono di sebuah pelataran parkir, ponselnya berbunyi dan segera diangkat.

Intercut

Piere berdiri diteras rumahnya sendirian.

PIERE
            Hallo? Jono?

JONO
            Selamat pagi Pak!!

PIERE
            Jadi?? Bagaimana??

JONO
            Beres Pak… kalau tidak ada halangan.. (diam sejenak)
            Malam ini saatnya Pak..

Piere mengangguk-angguk dengan sajah licik.

PIERE
            Pastikan semuanya beres.. saya tidak mau dengar alasan apa pun..

JONO
O Pasti Pak… (tertawa mencoba meyakinkan) Serahkan saja pada saya… Nanti malam saya akan hubungi Bapak lagi, jadi Bapak bisa secara langsung melihat hasilnya..

PIERE
            Okey… saya tunggu nanti malam…

Piere menutup telepon dan tersenyum penuh rahasia.

CUT TO

2. INT: KANTOR F2. SIANG
NAIA, ARYA, FIGURAN PEGAWAI F2

Arya melempar sebendel berkas ke seorang karyawan wanita yang menunduk ketakutan dan  mundur ke arah pintu.

NAIA
            GOBLOKK!! (menggebrak meja sambil bangkit berdiri dari kursi)
Kamu ini dikasi tahu ngga ngerti-ngerti juga ya?? Mau ikut-ikutan jadi orang goblok ngga tahu diri.. heh.. ngga tahu terimakasih… (melirik ke arah Arya di luar ruangannya) Bisanya Cuma ngerugi-in perusahaan aja.. ngerti nggak!!

Naia menatap galak. Karyawan menunduk takut.Arya dan beberapa karyawan yang ada di ruang depan mengangkat wajah dan memandang ke kantor Naia.

NAIA
            Sudah sana keluar!! (bentak)

Karyawan buru-buru mengangguk dan keluar.
Naia berdiri di ambang pintunya dan memandang Arya dengan tatapan sinis lalu masuk dan membanting pintu.
Arya memandang sebentar ke sekeliling. Beberapa tatap mata karyawan yang memandang Arya prihatin segera mengalihkan pandangan seolah-olah tak tahu sindiran Naia pada Arya. Arya menghela napas dan berdiri, merapikan beberapa berkas dan memasukkan ke dalam Map dan berjalan membawa Map itu keluar.

ARYA
Yanti… saya keluar dulu, ada janji dengan Pak Bas… Kalau ada yang cari saya, tolong hubungi handphone saya ya…

YANTI(karyawan)
            Iya Pak…

Arya keluar ruangan. Yanti mengamati dengan prihatin. Beberapa karyawan mendekati Yanti dan berdiri memandangi sampai Arya tak kelihatan.

KARYAWAN A
            Kasihan ya Pak Arya… Bu Naia kok semakin hari semakin galak aja…

YANTI
            Iya.. padahal Pak Arya itu kan orangnya baik banget ya.. ngalah gitu..

KARYAWAN B(Pria)
            Lagi ngidam kali jadi garang.. (tertawa kecil)

KARYAWAN A
            Ah.. masa ngidam terus tapi ngga hamil-hamil..

YANTI
Iya.. mana galaknya kaya gitu.. kasihan kali nanti yang jadi anaknya… makanya kepengen punya anak juga ngga di kasi-kasi..

KARYAWAN B
Eh iya.. Bu Vina juga sudah lama ngga pernah kelihatan lagi ya? Padahal dulu kan sering banget ke sini, anter makanan atau bantu-bantu di kafe

KARYAWAN A
Ah kamu ini kaya ngga tahu aja… Bu Naia kalo ngeliat Bu Vina (mencibir) udah kaya cacing kepanasan.. atau.. (berpikir sejenak) macan beranak kali…

Semua tertawa kecil sambil melirik ke ruang Naia takut terdengar.

YANTI
Iya sirik dia kali.. Pak Arya sama istrinya kan serasi banget, mesra lagi… (tersenyum) kalau Ibu sama Pak Bas kan…

Ucapan terhenti karena mendadak pintu ruangan Nai terbuka. Dan semua segera bubar.
Naia menatap tak senang, tak bicara segera keluar ruangan dan pergi.

CUT TO

3. INT: EXECUTIVE CLUB. MALAM
IAN, JONO, PEREMPUAN A, FIGURAN PENGUNJUNG, KARYAWAN BAR

Ian duduk di bar sambil meneruskan kebiasaannya mabuk-mabukkan. Seorang perempuan cantik (A) mendekat dan duduk di dekatnya. Ian tersenyum menggoda dan menawarkan minuman dengan mengangkat gelas. Perempuan itu mengangguk dan mesra menatap Ian.
Ian mengacungkan 1 jari ke bartender yang menyiapkan minuman. Sejenak mereka terlihat akrab. Ian dan perempuan yang baru dikenalnya itu terlihat sangat mesra.
Dari sudut lain tampak Jono mengawasi sambil mengangguk-angguk puas dan senang.

Ketika Ian lengah dan memandang ke arah dance floor, sang perempuan segera memasukkan sesuatu ke dalam minuman Ian dan kembali berpura-pura tak tahu apa-apa. Bartender seperti melihat sesuatu tapi tak berdaya hanya bisa memandang saja ketika Ian menenggaknya sampai habis.

CUT TO

4. EXT/INT: HOTEL MELATI. MALAM
IAN, JONO, PEREMPUAN A(PSK), KARYAWAN HOTEL

Establish hotel yang depannya penuh dengan hiasan lampu hias.
Tampak Ian di papah sang perempuan cantik memasuki hotel. Terdengar suara jepretan kamera. Seseorang memotret mereka dari dalam mobil di seberang jalan.

CUT TO

Ian dalam keadaan setengah sadar memasuki kamar hotel bersama dengan perempuan A yang tertatih-tatih memapahnya. Perempuan itu (PSK) merebahkan Ian di ranjang pelan-pelan. Sejenak PSK memandangi Ian terpesona oleh ketampanan Ian yang lelap tidur. Tangannya mengelus pipi Ian dan tersenyum penuh arti.
Perempuan itu (PSK) berdiri pelan lalu mematikan lampu sehingga ruangan menjadi remang-remang. Perempuan A (PSK) duduk di sisi Ian dan lagi mengelus pipi Ian sambil tersenyum licik.
Perempuan A melepaskan pakaian Ian satu persatu kemudian perempuan itu juga melepas pakaiannya.

CUT TO
Commercial Break

5. EXT/INT: HOTEL MELATI. MALAM
IAN, JONO, PEREMPUAN A(PSK), PIERE

Lampu kamar hotel mendadak menyala. Perempuan A(PSK) yang sedang mencoba mencium Ian terkejut dan membatalkan niatnya.
Piere dan Jono berdiri memandangi mereka. Jono membawa kamera ditangannya.

PIERE
            Apa-apaan ini!! (sentak geram lalu memandang Jono)

Jono tampak terkejut dan memberi kode supaya perempuan itu(PSK) menjauhi Ian.

PIERE
Heh saya memang sewa kalian untuk menjebak laki-laki ini… (menuding-nuding) tapi hanya dengan foto-foto saja… lalu ada apa ini pakai gelap-gelapan…

Perempuan A(PSK) tampak kesal dan duduk disebelah Ian yang lelap tertidur. Jono tampak bingung tak enak hati pada kejadian itu.

PIERE
Ingat.. laki-laki ini calon menantu saya… saya tidak ingin kamu macam-macam dengan dia… (tegas)

JONO
Maaf Pak.. mungkin dia hanya sedikit terbawa perasaan… (gugup)

PIERE
Ah sudah ngga usah banyak alasan.. cepat foto…cepat..

JONO
Baik Pak… (mengangkat kamera, lalu menuding perempuan A)
            Ayo kamu .. siap??

Perempuan A (PSK) dengan kesal lalu kembali tersenyum dan berpose mesra.
Bunyi jepretan kamera berkali-kali. Dan potongan gambar mesra Ian terekam sudah.
Piere mengangguk-angguk puas.
CUT TO

6. INT: RESTAURANT MEWAH. MALAM
ARYA, VINARA, BASKORO, FIGURAN PENGUNJUNG RESTO, KARYAWAN

Arya berdiri di sudut restaurant agar sambil menerima telepon dari Vina. Matanya sesekali memandang mejanya, ada Baskoro yang duduk-duduk dengan beberapa pria berpakaian perlente.

ARYA
            Iya belum nih.. sebentar lagi ya… (pelan)

Intercut

Vinara duduk di meja makan.

VINARA
            Kamu makan di luar lagi ya sama Mas Bas?? Pulang malam lagi??

ARYA
            Nggak lah.. paling bentar lagi..

VINARA
            Ngomongin apaan sih? Proyek yang kemarin?

ARYA
            Iya… Mas Bas ngenalin beberapa bos ke aku, mereka pelanggan tetap F2.

VINARA
            Terus…

ARYA
            Ya udah ngga ada apa-apa, Cuma ngobrol-ngobrol aja kok…
Eh ya .. belum lihat ya? Mas Bas beli Rolex baru tuh, katanya dapet harga murah dari importirnya..

VINARA
            (tertawa kecil) Terus.. kamu pengen juga..

ARYA
            Nggak ah.. ngga pantes aku pake begitu an…

VINARA
(tertawa) Bukannya Mas Bas kemarennya baru beli kalung, cincin dan gelang berlian, di kasi Kak Nai tuh yang dipake terus? Kok udah beli arloji lagi?
Tumben ya Kak Nai sekarang murah hati banget.. (tersenyum) lama-lama Mas Bas bisa kaya toko mas berjalan dong..

ARYA
(tertawa) Ah kamu…

VINARA
Entar ya Yak.. aku tabungin dulu gajiku, baru bisa beliin kamu deh dikit-dikit..

ARYA
Aku ngga pengen kok.. (melirik, tampak Bas melambai memanggil)
Udah ya, ngobrolnya besok lagi aja..

VINARA
Ya udah.. hati-hati ya..

ARYA
Iya, kamu tidur aja dulu, ngga usah tungguin, aku bawa kunci kok… Ya Bye…

VINARA
Bye.. I Love You..

ARYA
Ya… Dahh…

Vinara menutup telepon dan memandang meja makan dengan makanan yang masih belum tersentuh. Vina menghela napas dan merapikan meja, tak jadi makan malam.

CUT BACK TO

Arya menghampiri Baskoro dan duduk kembali bercengkerama dengan rombongan teman-temannya.

LS        Arya dan Baskoro tertawa bersama teman-temannya

CUT TO

7. INT: KANTOR ERIN.SIANG
ERIN, PIERE

CU       Amplop coklat dihempaskan ke meja kerja Erin.

Erin yang sedang bekerja tampak terkejut memandang amplop dan mengangkat wajahnya memandang Piere yang berdiri memandang Erin dengan tatapan geram, tangan bertolak di pinggang dan tampak kesal.

ERIN
            Apa ini?

Tangannya meraih amplop.

PIERE
            Coba kamu lihat….

Erin mengernyitkan kening heran dan membuka amplop. Erin terkejut melihat foto-foto Ian itu. Tangannya membuka-buka dan membolak-balik foto-foto itu dengan tak percaya. Erin hanya diam dan walaupun kesal ia hanya menahan geram di wajahnya.
Piere duduk di depan Erin dan terus mengamati raut wajah istrinya.

ERIN
            Apa maksudnya foto-foto ini?(menahan geram berusaha tenang dan cool)

Piere kesal karena tak melihat reaksi seperti yang diharapkannya.

PIERE
            Lho… kamu… (gugup bingung)..gimana sih kamu ini?

Erin menghela napas dan meletakkan foto-foto di meja.

ERIN
            Dari mana kamu dapatkan foto-foto ini?

Piere menggeleng kesal.

PIERE
Tidak penting aku dapatkan dari mana. (tegas) Yang penting sekarang apalagi yang kamu tunggu… kamu lihat sendiri kan tingkah keponakan kesayanganmu ini..

Tangannya menuding foto-foto.

ERIN
            Apa maksud kamu Mas?

PIERE
Kamu ini gimana sih Rin? Apa foto ini kurang menjelaskan lagi kesalahan keponakan kamu itu. Kali ini dia sudah keterlaluan… lihat bikin malu saja…

Erin diam saja dan mengambil foto di meja dan mengamatinya lagi.

PIERE
Harusnya kamu ambil tindakan dong.. apa gitu… masa kamu mau diam aja? Kelakuannya sudah memalukan keluarga kita. Aku saja bisa mendapatkan foto ini jadi bukan ngga mungkin orang lain diluaran juga bisa mendapatkannya kan? Apa kata rekanan kita nanti kalau pemilik sekaligus komisaris utama perusahaan ini tingkahnya memalukan seperti itu.

Erin meletakkan foto di meja dan melipat tangannya di meja lalu memandang Piere tenang.

ERIN
Jadi maksud kamu apa yang mesti kita lakukan sekarang? Apa perlu kita mengadakan pertemuan dengan rekanan atau jumpa pers mengenai masalah ini sementara kabar nya saja belum jelas?

PIERE
Bukan begitu Rin. Aku juga ngga mau masalah ini tersebar keluar, apalagi kalau sampai Cindy tahu. Kamu kan tahu kalau Cindy sangat mencintai Ian. (diam sebentar)
Kalau Cindy sampai melihat foto-foto ini dia pasti sangat sedih kan…

Erin memandang Piere dan kelihatan berpikir.

PIERE
Apa tidak lebih baik kalau mereka segera menikah saja? Mungkin dengan pernikahan itu bisa mengurangi kebiasaan buruk Ian.. yang suka kelayapan itu…

Erin menggeleng dan menghela napas berat.

ERIN
Aku rasa.. itu bukan keputusan yang tepat. Kulihat hubungan mereka kurang begitu baik, aku rasa sebaiknya mereka menimbang benar-benar masalah pernikahan ini.

PIERE
            Tapi kan mereka sudah bertunangan Rin?

ERIN
            Aku akan coba bicarakan dengan Ian masalah ini…

PIERE
Kenapa sih kamu ngga pernah dengerin omonganku? Yang aku minta ini kan sudah sewajarnya.. untuk kebaikan anak-anak kita..

ERIN
            Sudahlah… aku masih banyak pekerjaan. (tangannya memasukkan foto ke amplop)
            Nanti akan bicara dengan Ian. Apa pun hasilnya, nanti kita bicarakan saja di rumah.

Piere berdiri dengan kesal. Dan menggerutu sambil keluar ruangan.

PIERE
Terserah lah.. yang penting aku sudah peringatkan ke kamu… suatu hari kalau ada apa-apa jangan salahkan aku…

Erin memandang Piere yang pergi dengan marah dan membanting pintu. Setelah menghela napas, tangannya menekan tombol telepon. Suara sekretaris di speaker phone.

ERIN
            Lisna??

SEKRETARIS
            Iya Bu??

ERIN
            Tolong hubungi Pak Ian dan segera sambungkan ke ruangan saya..

SEKRETARIS
            Baik Bu..

ERIN
            Terimakasih

Erin mematikan i-phone dan menyandarkan punggungnya di kursi sambil memandangi amplop coklat di tangannya lalu menggelengkan kepala sedih.

CUT TO
Commercial Break

8. INT: EXECUTIVE CLUB. MALAM
ARYA, BASKORO, TEMAN-A, TEMAN-B, IAN, FIGURAN PENGUNJUNG KAFE/DISKOTIK LAIN& PELAYAN

Arya tampak duduk bersama teman-teman ‘gank’nya dan Baskoro di salah satu sudut sebuah discotik. Beberapa perempuan cantik ber-warga negara asing menemani, seorang bule, dua orang ber-raut latin, dan 4 perempuan putih bermata sipit dengan pakaian elegan dan semuanya sangat cantik. Sofa sudut mengitari meja kotak pendek. Di atas meja penuh dengan botol dan gelas minuman keras, puntung rokok dan beberapa botol minyak angin kecil tergeletak.
Semua tampak sedang menertawakan Arya yang menggeleng-geleng pening setelah menenggak minuman.

TEMAN A
            Ayo ambil aja… masa lu ngga berani sih…

Teman A menyodorkan sebutir pil kecil ke Arya. Semua memandang tertawa.

BASKORO
            Jangan gitu dong… dia ini anak baik-baik… (tersenyum memandang Arya)

Arya tampak tersenyum ragu memandang ke pil itu.

TEMAN B
Kenapa? Lu takut sama istri?? (disambut tawa yang lain) Payah lu… Badan lu aja gede, tato-an lagi… (menarik lengan baju Arya dan memperlihatkan tato-nya)
Heh.. masa .. hari gini .. takut sama istri…

Arya tampak tertantang dan memandang Baskoro yang memandangnya dengan ekspresi terserah.

PSK ASING (yang duduk di samping Arya)
            Try it… it’s not a big deal… (mengambil pil dari atas meja dan menyodorkan ke Arya)

Arya menerima sambil tersenyum dan disambut tepuk tangan yang lain.

TEMAN A
            Nah.. gituu dongg.. baru jantan namanya…

Semua tertawa.
Arya memasukkan pil ke mulutnya dan menenggaknya dengan air mineral di meja. Sorak riuh di sambut dengan senyum lebar Arya.

Dissolve to

INT. RUMAH ARYA/KAMAR.MALAM
Vinara membolak balikkan badan gelisah tak bisa tidur.

VINARA
            Kok Arya belum pulang ya?

Setelah beberapa kali gelisah dan memandangi sebelahnya yang masih kosong dia bangkit dan duduk lalu memandang jam dinding.
Hampir pukul 4 pagi. Vina tampak sangat khawatir.

VINARA
Duh udah mau jam 4 pagi? Sekarang kok pulangnya semakin pagi aja tiap hari… ada apa ya? (mengernyitkan kening berpikir)
Jangan-jangan ada masalah di jalan. Coba deh aku telepon aja.

Vina meraih telepon di dekat ranjangnya dan mencoba menghubungi ponsel Arya.
Suara operator telepon bahwa telepon tidak aktif.

VINARA
            Duh kok ngga aktif ya?
            Aduh.. Arya… kamu dimana sih??

CU       Wajah Vina cemas

Bayang-bayang suasana temaram dengan lampu hingar bingar dan slow motion suasana Arya dan gank-nya tertawa gembira.

CUT TO

9. INT: STUDIO. SIANG
IAN, DANI

Ian dan Dani berjalan beriringan memasuki studio tergesa. Ian tampak kesal masuk sambil memukul pintu. Dani dengan hati-hati menutup pintu dan memandang Ian yang menjatuhkan diri di sofa dengan kesal. Dani lalu duduk di hadapannya.

DANI
Sabar dulu Yan… coba lu ceritain ke gua pelan-pelan.. gimana sebenernya kejadiannya…

Ian menendang meja di depannya kesal.

CUT TO/FLASHBACK
INT. Kantor Erin. SIANG

Erin duduk tegak sambil memandang Ian tenang.
Ian tampak gusar membuka-buka foto yang ada di tangannya.

IAN
            What is this?! (meninggi)

ERIN (tenang)
            Bukan seharusnya Aunty yang tanya sama kamu?

Ian tak mampu bicara.

CUT BACK TO

Ian menggaruk kepalanya geram. Dani hanya memandanginya dengan tatapan menuntut penjelasan.

IAN
Sialan.. gua bener-bener ngga tahu kenapa bisa ada kejadian kaya gitu… Gua bahkan ngga kenal sama dia…

DANI
Apa lo mabok Yan?

IAN
Mana mungkin gua mabok? Lu kaya ngga tahu kalau gua jago minum…

DANI
Lha terus.. kenapa bisa lo ngga inget lo ada kejadian kaya gitu…

Ian tampak berpikir keras, mengingat.

IAN
            Pasti waktu itu…

Dani menatap menunggu dengan tegang. Ian menatap Dani serius.

IAN
Elo inget kan… hari itu… waktu lo telepon gua karena gua telat dateng ke jadwal pemotretan…

CUT TO/FLASH BACK

INT. MOBIL IAN.PAGI
Bunyi dering ponsel.
CU       Ponsel Ian yang tergeletak di lantai mobil agak di bawah jok
Ian yang tertidur sambil duduk di mobilnya terkejut. Ian memandang sekeliling heran dan tak sadar ada di mana lalu mencari ponselnya yang terus berdering.

CUT BACK TO

Wajah Ian tampak yakin.

IAN
Pasti hari itu…. Waktu itu gua bener-bener heran kenapa gua bisa ketiduran di pinggir jalan. Hal yang ngga pernah terjadi dalam hidup gua sebelumnya. (menatap tajam ke Dani) Lo tau gua kan Dan? Pasti ada yang ngga beres.

Dani tampak berpikir dan diam sejenak.

DANI
Coba lu inget-inget lagi. Malam itu lo kemana aja. Terakhir lo pergi kemana dan ama siapa?

Ian tampak diam sejenak. Lalu tiba-tiba bangkit berdiri dan beranjak pergi.

DANI
            Heh lu mau kemana?

Ian berhenti dan berbalik memandang Dani.

IAN
Mungkin gua emang ngga inget apa-apa… tapi gua yakin pasti ada orang-orang di sekitar gua malam itu yang ngelihat kejadian malam itu…

Dani mengangkat jarinya sambil tersenyum dan berdiri.

DANI
            Tunggu apa lagi kalo gitu…

Ian tersenyum dan bersama dengan Dani keluar ruangan.

CUT TO
Commercial Break

10. INT: RUMAH ARYA/KAMAR. MALAM
ARYA, VINARA

Vina duduk di ranjang sambil memandang Arya sedih.
Arya tampak bersiul-siul sambil menyisir rambut dan berkaca dengan wajah gembira. Sesekali mematut bajunya ke kanan dan ke kiri. Setelah puas Arya memilah parfum yang ada di meja.

ARYA
            Parfum yang kamu beli buat aku waktu itu yang mana ya? Ini ya?

Tangan Arya mengambil satu botol parfum pria dan mulai menyemprotkannya.

VINARA
            Bukannya waktu itu kamu bilang, kamu pusing kalau ada bau-bau parfum?

ARYA
            Ah masa sih… (melirik Vina yang menatapnya heran)

VINARA
            Emangnya mau kemana lagi sih? Ini kan malam minggu…

Arya membalikkan badan dan berjalan mendekat ke Vina yang duduk bersila sambil memeluk guling.

ARYA
            Ah mau tahu aja… (menggoda)

Vina memukulkan guling dalam pelukannya ke arah Arya sambil merajuk.

VINARA
Ihh gimana sih… ya iya lah… tadi pagi aja kamu baru pulang hampir jam 6 pagi. Tidur ngga sampe 2 jam sudah berangkat ke kafe..

Vinara menoleh memandang jam dinding. Jam 8.20 malam. Arya ikut memandang ke jam lalu mereka berpandangan lagi.

VINARA
            Pulang cuman mandi… trus pamit mau pergi lagi??

Arya duduk di sebelah Vina sambil mengelus kepalanya mesra.

ARYA
            Aku kan mesti kerja…

VINARA
            Kerja apa-an malem minggu begini… malem-malem lagi…

ARYA
            Kalo ngga percaya tanya aja Mas Bas…(bangkit berdiri agak kesal)
            Orang pergi kerja kok dicurigai terus.

Vina diam saja malas bertengkar. Hanya menghela napas berat.
Arya melirik, mencari tahu reaksi Vina.

VINARA
            Nanti pulang jam berapa?

ARYA
            Ya belum tahu lah (melirik sambil pura-pura kesal)..
            Orang belum berangkat kok udah ditanya kapan pulang..

Vinara menahan napas dan menggigit bibir pelan. Arya berjalan keluar tanpa berpamitan dan pergi begitu saja.
CU       Wajah Vina terpukul dan terpekur tetap duduk di ranjang.

Di balik pintu Arya melirik sebentar mengurangi cemberutnya dan bergegas keluar rumah.
Dering ponsel Arya berbunyi. Arya melihat nomor pemanggil dan mengangkatnya sambil terus berjalan ke luar rumah. Wajahnya tampak kembali ceria.

ARYA
            Oke, beres… (diam sejenak) Ya.. ya.. tempat biasa ya..

CUT TO

11. INT: EXECUTIVE CLUB. MALAM
IAN, DANI, BARTENDER, FIGURAN PENGUNJUNG CLUB DAN PELAYAN

Ian, Dani dan Bartender yang malam itu melayani Ian tampak duduk mengelilingi sebuah meja bulat kecil. Lobby Club tak terlalu ramai pengunjung, dan tampak beberapa pelayan berdiri di sekitar ruangan.
Ian, Dani dan Bartender seperti sedang membicarakan sesuatu yang serius. Sang Bartender beberapa kali mengangkat tangannya seperti memperagakan dan menjelaskan sesuatu dan di iya kan dengan anggukan Ian dan Dani yang serius memandanginya.

DANI
Lalu… kamu punya alamat atau… nomor telepon.. atau apa aja deh jadi kami bisa mencari wanita itu.

BARTENDER
            Wah kalau alamat atau teleponnya saya tidak punya Pak…

Dani dan Ian berpandangan kecewa.

BARTENDER
            Tapi saya tahu dia ‘anak’nya siapa dan biasa mangkal dimana…

Ian dan Dani tersenyum.

LS        Bartender menuliskan sesuatu di kertas dan diberikan pada Ian. Ian dan Dani berpandangan puas lalu berdiri dan menyalami Bartender itu dan beranjak pergi.
CUT TO

12. INT: RUMAH NAIA. MALAM
NAIA, MBOK

Bunyi telepon di ruang tengah berdering. Mbok datang berlari dan mengangkatnya.
Naia sedang menonton TV di kamarnya. Suara pintu di ketuk. Mbok membuka pintu dan mengintip ke dalam. Naia memandangnya.

MBOK
            Telpon Non…

NAIA
            Dari siapa (pelan)

MBOK
            Dari Ibu..

Naia mengernyitkan kening segan, lalu menggaruk kepala.

NAIA
            Ehm.. bilang aja aku udah tidur Mbok…

MBOK
            Tapi Non…

NAIA
            Udah sana-sana…

Naia mengibaskan tangan dan Mbok beringsut pelan keluar. Naia menghela napas sedih. Wajahnya menatap TV tapi matanya menerawang.

NAIA
Paling-paling Ibu mau nanya lagi… sudah telat belum Nai? Sudah periksa belum? Jamunya sudah diminum? (merengut kesal)
Emangnya tiap kawin mesti cepet-cepet punya anak apa? Belum juga satu tahun.

Naia menghela napas lagi berat. Memandang sekeliling kamar. Kosong. Sepi. Lalu dengan sedih mematikan lampu di sebelah ranjangnya dan membaringkan diri tidur tanpa mematikan TV.

CUT TO
Commercial Break

13. INT: RUMAH CINDY. PAGI
ERIN, PIERE, CINDY, IAN, DANI, PEREMPUAN A(PSK), FIGURAN PRT

Piere, Erin dan Cindy sedang duduk di meja makan dan sarapan.
Suara bel pintu dan pelayan berlari membukakan pintu. Piere, Erin dan Cindy tetap diam tenang dan sarapan tanpa suara sama sekali, tampak kaku.
Piere sesekali memandang Erin kesal. Erin tak menggubris tetap tenang dan memakan rotinya. Cindy memandangi orangtuanya dengan tatapan heran.
Tiba-tiba suara gaduh dari luar. Ian menerjang masuk dengan marah membawa amplop coklat dan sebelah tangannya menarik paksa PSK masuk bersamanya. Dani tampak berusaha mencegah dan meredam kemarahan Ian. Semua berhenti makan dan memandang kearah sumber kegaduhan.

IAN(teriak)
            Uncle!!

Setelah dekat meja makan Ian mendorong PSK yang berteriak-teriak ketakutan ke arah meja sampai menabrak meja dan membuat berantakan sebagian makanan dan minuman yang ada.
Erin, Piere dan Cindy berdiri terkejut.

ERIN
            Ada apa ini?

DANI
            Sabar Yan… (memegang bahu Ian menenangkan) kita bicarakan baik-baik.

Ian tak menjawab Dani tapi dengan kasar melepaskan tangan Dani dan menuding ke arah Piere dengan wajah sangat marah.

IAN
            Sebaiknya Aunty tanya sendiri sama dia!!

Piere terkejut melihat PSK dan mengenali wajahnya.
Ian melempar amplop coklat ke arah meja dengan kesal. Amplop jatuh ke depan Cindy. Cindy yang tampak terkejut dan takut perlahan mengambil amplop itu tanpa ada yang menyadarinya.

PIERE
            Hei.. kamu anak kurang ajar! (menahan geram)

IAN
            Sial… (maju hendak memukul)

Dani memegangi Ian.

ERIN
            Cukup Ian!! Jelaskan ada apa ini! (tegas)

Ian menatap Erin dengan gusar. Napasnya naik turun menahan amarah. Erin memandang Dani. Dani menepuk bahu Ian

DANI
            Kami sudah menemukan siapa dalang yang merekayasa foto-foto itu Tan.

Cindy membuka amplop.
Slow motion foto keluar dari amplop.
CU       Wajah Cindy terperanjat dan shock berat lalu memandang ke sekeliling tapi tak ada yang memperhatikannya

ERIN
            Apa maksud kamu? Siapa sebenarnya orangnya?

Erin memandangi PSK dengan menyelidik. Cindy juga menatapi PSK dan Ian bergantian, masih shock.

IAN
            Ayo ngomong.. dasar lo… (menendang kaki PSK dengan kesal, Dani menahannya)

Perempuan A(PSK) tampak ketakutan, rambutnya acak-acakan menatap ke semua orang dengan bingung. PSK bertatapan dengan Piere. Piere tampak memberi kode dengan mata supaya jangan bicara dan memandang PSK dengan tatapan PSK.

IAN
            Elo budeg ya… (menendang lagi)

Perempuan A(PSK) berteriak kecil ketakutan memandang kemarahan Ian yang seperti kesetanan. Piere juga mulai tampak kecut.

PEREMPUAN A(PSK)
            Sa sa saya.. (gagap terisak) saya Cuma di suruh Bu… (memelas)
            Semua hanya rekayasa Bu… sebenernya.. sama sekali ngga terjadi apa-apa…

Erin menautkan alis dan menatap PSK tajam.

PEREMPUAN A(PSK)
Saya memasukkan obat bius ke dalam minuman Pak Ian, dan membawanya ke hotel ketika Pak Ian tidak sadar Bu… dan di sana kami membuat foto-foto itu… (terbata-bata)

IAN
            Kami!! Kami!! Kami siapa?? (bentak)

PEREMPUAN A(PSK)
            Kami.. ka kami… saya.. Pak… saya dan Pak Jono… (tercekat)

Suara PSK memelan dan melirik ke Piere dengan takut. Piere tampak kesal karena rahasianya terbongkar.

IAN
            Siapa lagi??!! (bentak) Lalu siapa lagi?? (tambah keras)

CU       Erin menanti dengan tegang
CU       Wajah Piere gelisah takut terbongkar
CU       Wajah Ian seperti kesetanan
CU       Cindy menangkupkan foto-foto itu dadanya dengan air mata bercucuran
CU       Dani menatap khawatir ke sekeliling dan terutama ke Cindy

Perempuan A(PSK) menarik napas panjang memberanikan diri.

PEREMPUAN A(PSK)
            Kami.. dan Pak… Pak Piere… (memandang Piere sedih)

Erin dan Cindy terkejut. Dani tampak prihatin dan Ian tampak puas karena PSK itu mengaku.

CU       Piere kesal
CU       Erin memandang kesal ke Piere dengan pandangan mempertanyakan
CU       Cindy ternganga terkejut menangis tanpa suara

Wajah-wajah bergantian


CUT TO


END EPS.10



Credit Title
THEME SONG 4

No comments:

Post a Comment