Monday, December 12, 2011

Benang Merah - skenario eps.9

Eps.9

1. INT: KONTRAKAN VINARA.MALAM
VINARA. ARYA

Vinara sedang merapikan berkas di meja makan. Setelah selesai ia berjalan mematikan lampu tengah. Tiba-tiba ada suara ketukan di pintu. Vina mengernyit heran dan memandang jam dinding. Jam 23.30 Malam. Vinara menghampiri pintu dan mengintip ke depan dengan menyibakkan tirai jendela. Tampak punggung Arya membelakangi.

VINARA
            Arya?? (bergumam)

Vinara membukakan pintu. Arya membalikkan badan dan tampaklah wajahnya yang sangat kuyu dan basah oleh air mata. Vinara sangat terkejut.

VINARA
            Arya?? (panik) Ada apa??

Vinara menggamit lengan Arya mengajaknya masuk.

CUT TO

Arya duduk di lantai beralas kasur lipat menghadap ke tv yang menyala. Punggungnya di sandarkan di tembok. Walaupun matanya menghadap ke tv tapi tatapannya kosong dan sedih, tak memperhatikan acara tv.
Vinara datang membawa secangkir teh hangat dan duduk di samping Arya.

VINARA
            Kenapa sih Yak? (mengulurkan teh dan Arya menerimanya)
            Ada masalah apa?

Vina mengelus pipi Arya dengan penuh perhatian dan memandangi wajah Arya yang sedih.
Arya meneguk tehnya dan mengulurkan kembali gelasnya ke Vina. Vina meletakkan gelas ke lantai di dekat mereka.
Arya menghela napas panjang dan memandang ke Vina dengan tatapan terluka. Arya menggeleng lalu menyandarkan kepalanya ke tembok dan menutup matanya.
Vina menyandarkan punggungnya di tembok di sebelah Arya.
Arya membaringkan badannya dan merebahkan kepalanya di pangkuan Vina. Vina mengelus kepala Arya.

ARYA
Aku bener-bener ngga nyangka..  kenapa Nai bisa berubah… (diam sejenak, Vina diam saja mendengarkan)
Atau jangan-jangan selama ini memang dia punya pikiran seperti itu… aku aja yang bego dan ngga peka dengan perasaan dia… (mendesah sedih)
Aku pikir.. selama ini kita kompak banget.. dan semua yang dia ucapkan tulus dari dasar hati…

VINARA
Aku memang baru beberapa tahun kenal Kak Nai… tapi selama ini setauku dia bukan orang yang suka berpura-pura atau… ngga tulus…

ARYA
Kalau memang begitu.. kenapa sekarang bisa keluar kata-kata seperti itu dari mulutnya.. perasaan itu pasti sesuatu yang udah dia pendam begitu lama… pandangannya tentang kita.. tentang aku… (mendengus sedih dan kesal) bodoh nya aku…

VINARA
Yak… kamu ngga boleh ngomong gitu, bagaimana pun Naia itu kakak kamu…

ARYA
Semula aku pikir, dengan kerjasama kita selama ini.. mungkin usaha kita akan maju.. tapi tiba-tiba aku merasa kalau sebenarnya aku udah menyia-nyiakan hidupku bertahun-tahun hanya untuk sesuatu yang .. (diam sejenak, mengusap wajahnya) ngga ada artinya…

VINARA
Kok ngga ada artinya gimana.. kamu jangan pesimis gitu dong…

ARYA
Kalau saja sejak semula aku tahu, bahwa Nai sama sekali ngga mengharapkan aku ada dalam kehidupannya…

VINARA(memotong lirih)
Yak… (mengelus kepala Arya)

ARYA
Aku sendiri ngga ngerti… apa aku bisa semaju ini… tapi… kalau saja aku tahu sejak semula … dan semua hasil jerih payahku selama ini benar-benar aku manfaatkan untuk keperluanku pribadi, tanpa mikirin dia.. (mendengus kesal), kita pasti sudah menikah.. punya rumah sendiri.. punya usaha sendiri… (menghela napas).. bego.. bego banget aku… Aku seperti kuli bangunan yang bekerja keras siang malam tanpa gaji, untuk membangun sebuah istana megah yang akan kita pakai bersama, tapi ternyata setelah istana itu mulai berdiri dan bisa dinikmati, aku ditendang keluar begitu saja…

Arya bangkit dan duduk. Vina menatapnya sedih,

VINARA
            Jangan gitu dong Yak… sudah sewajarnya kalian kakak adik saling membantu…

ARYA
Saling membantu?? Menurutnya aku ngga lebih dari benalu yang membuat dia sengsara… dia sama sekali ngga menghargai usahaku selama ini.. dia pikir aku Cuma bisa numpang makan dan tidur gratis di rumahnya… (menggeleng tak mengerti)

VINARA
            Mungkin Kak Nai lagi kesel… makanya dia asal ngomong aja..

Arya diam memandang ke tv.

VINARA
Aku tahu kamu juga lagi kesel, dan kayanya percuma dibahas pun ngga akan ada penyelesaiannya. Sekarang kamu istirahat dulu deh… nanti kalo udah sama-sama adem, kita pikirin lagi gimana solusinya…

Arya memandang Vina lalu tersenyum pedih dan merangkulnya.

CUT TO

2. INT: RUMAH NAIA.MALAM
NAIA, BASKORO

Naia berbaring miring di ranjang. Matanya tetap terbuka, ekspresi wajahnya kesal. Naia merapatkan selimutnya sambil merengut.
Baskoro datang menghampiri sambil membawa secangkir susu hangat dan sebuah kapsul obat, Baskoro meletakkannya di meja samping tempat tidur.
Bas mengelus kepala Naia.

BASKORO
            Sudahlah sayang… jangan dipikirin lagi… nanti kamu sakit ..

Naia tak menjawab tetap merengut kesal.

BASKORO
            Nih.. aku sudah buatkan susu hangat buat kamu, diminum ya..

Baskoro mengambil gelas susu dan memberikannya pada Naia. Naia menatap Bas sejenak lalu bangkit dari tidurnya dan duduk dihadapan Baskoro.
Naia menerima susu. Baskoro mengambil kapsul obat dan memberikan pada Naia.

BASKORO
            Ini vitaminnya… biar kamu tetap sehat…

Naia menerima kapsul dan meminumnya bersama susu dari Baskoro sambil tersenyum.
Gelas susu diletakkan kembali di meja. Naia kembali berbaring di ranjang. Baskoro merapikan selimutnya.

BASKORO
            Sekarang kamu istirahat ya Sayang… mimpi yang indah.. (mencium kening Naia)
            I Love You…

Naia tersenyum dan menghela napas. Lalu memejamkan mata.
Baskoro meraih gelas susu dan beranjak keluar.

CUT TO

Baskoro menutup pintu kamar perlahan lalu tersenyum sinis memandangi gelas susu di tangannya.
Dari arah dapur, Mbok memandang ekspresi Baskoro dengan tak enak hati, merasakan seperti ada yang tak beres.

CUT TO
Commercial Break

3. EXT/INT: KANTOR PERIKLANAN. SIANG
DANI, CINDY, ALDO, FIGURAN

Sebuah mobil keluarga berhenti dan parkir. Cindy dan Dani turun dari mobil Dani. Dani mengunci mobil dan Cindy memandangi sederetan ruko yang tampak asing.

CINDY
            Sebenernya kita ini mau kemana sih Dan?

Dani tersenyum dan menghampiri Cindy.

DANI
            Sebentar lagi kamu juga akan tahu.. yuk…

Dani dan Cindy berjalan dan memasuki sebuah kantor periklanan.
Di ruang tunggu ada beberapa tamu yang duduk di sofa. Seorang wanita cantik duduk di meja customer service dan tersenyum melihat kedatangan Dani. Perempuan itu berdiri.

C.S.O
            Pak Dani… sudah di tunggu Pak Aldo … (tersenyum)

DANI
            Terimakasih… saya langsung ke ruangannya ya… (menunjuk ke atas)
            Ayo Cin…

Dani menoleh memandang Cindy yang tampak mengamati sekeliling. Cindy tersenyum dan mereka masuk ke dalam lalu naik ke atas.

CUT TO
Ruangan Aldo

Dani mengetuk pintu kemudian langsung membuka dan melongokkan kepala ke dalam. Aldo mendongakkan wajahnya dari meja yang penuh berkas dan gambar lalu tersenyum melihat kedatangan Dani.

ALDO
            Eeh.. Dan!! Ayo masuk…

Aldo berdiri. Dani dan Cindy masuk.

DANI
            Sorry aku sedikit telat… (mengetukkan jari di arlojinya)
            Apa kabar (mengulurkan tangan menyalami Aldo)

ALDO
            Baik.. (ramah) elu sendiri..

DANI
            Baik-baik… (menoleh menatap Cindy)
            Kenalin.. ini Cindy.. yang gua ceritain waktu itu…

Cindy maju dan menyalami Aldo.

CINDY
            Hai.. Cindy…

ALDO
Geraldo.. panggil aja Aldo… (menilai dengan memandang Cindy dari atas ke bawah lalu tersenyum) Saya dengar, kamu kuliah design grafis di Amerika??

Cindy mengangguk sambil tersenyum.

ALDO
Ehm.. bagaimana kalau kita lihat-lihat dulu.. (mengangkat tangannya) suasana di kantor ku ini… yah siapa tahu ada sesuatu yang … (tersenyum tak melanjutkan bicaranya dan mengedikkan bahu)

Dani dan Aldo tersenyum berpandangan. Cindy agak terkejut tapi menunjukkan ekspresi gembira. Cindy menatap Dani tak bertanya, tapi matanya memberi kode seakan bertanya ada kejutan apa nih? Dani hanya tersenyum. Aldo berjalan menuju keluar ruangannya. Cindy dan Dani mengikuti.

CUT TO
Establish ruko kantor Advertising.
Cindy dan Dani keluar dari kantor Advertising.
Cindy tertawa gembira dan Dani juga tampak senang. Mereka berdiri di depan kantor.

CINDY
Aduh.. Dan… dari mana kamu tahu kalau aku memang suka dan pengen kerja di bidang ini?            Aku seneng banget deh… terimakasih ya udah bawa aku ke sini…

Cindy memandang Dani dengan penuh terimakasih. Dani tampak sangat senang bisa menyenangkan Cindy.

DANI
Ngga papa lagi Cin… kamu kan dulu pernah bilang kalau kamu tu suka banget periklanan, gambar-gambarnya, designnya, pokoknya apa-apa yang berhubungan ama itu… dan aku lihat akhir-akhir ini kamu suntuk banget di rumah…jadi aku pikir ngga ada salahnya kan kalau aku ajak kamu kesini, jadi bisa merefresh lagi pikiran kamu… (tertawa kecil) dan aku sendiri ngga nyangka kalo ternyata si Aldo itu lagi butuh orang dan kamu bisa langsung di terima bekerja di sini (memandang ke arah kantor sambil tersenyum)

Cindy memegang lengan Dani dan menggoyang-goyangkannya senang.

CINDY
            Duh.. pokoknya terimakasih banget deh…

Mobil sport Ian menghampiri dan berhenti di depan mereka. Wajah Cindy tampak makin sumringah. Mobil berhenti dan Ian turun dari mobil. Ian membuka kaca mata hitamnya dan menyandarkan diri di mobil sambil tersenyum memandang mereka.

CINDY
            Ian!! (berlari kecil menghampiri dan memeluk Ian senang)
Aku diterima Yan.. mulai besok aku boleh kerja di sini.. (menunjuk kantor dengan senang)

Ian memandang Cindy dari atas ke bawah sambil tersenyum kecil.

IAN
            Oya?? Selamat dong… (mengacak rambut Cindy)
Tapi… (memandang Cindy dari atas ke bawah) Masa elu ngelamar kerja pake baju begini (tertawa kecil)

Cindy merengut kecil sambil menunjuk Dani.

CINDY
Iya tuh malu-maluin… habis Dani ngga bilang kalau mau ajak ke sini, aku kira Cuma mau ke mal aja.. makanya aku pake baju begini.. kalau tahu kan aku bisa pake yang lebih pantas.. (Cindy memakai kaus casual dan jeans, dengan sepatu sandal tumit tinggi, kalung dan anting bohemian)

IAN
(Tertawa) Tapi kan ngga surprise lagi namanya… ya ngga Dan…

Dani tampak sedikit tertegun melihat betapa akrabnya Cindy dan Ian.
Ian dan Cindy menatap Dani.

CINDY
Iya deh… pokoknya aku harus berterimakasih banget sama Dani.. ini semua berkat dia..

Dani tersenyum dan mendekat.

DANI
            Ahh ngga kok… Cindy aja yang nglebih-lebih in…

Ian menahan tawa dan menutup mulutnya sambil memandang ke arah lain. Sejenak kemudian Ian menguasai diri dan dengan wajah biasa tersenyum kembali.

IAN
Ya udah kita mesti rayain dong sama-sama, gimana kalau sekarang kita pergi makan siang?

Cindy dan Dani mengangguk.

CINDY
Ya udah.. aku bareng Ian ya (memandang Dani melambai tersenyum dan masuk ke mobil Ian dengan cuek)

Dani menghela napas lalu menganggukkan kepala pasrah. Ian mengedikkan bahu.

IAN
            Ketemu di sana ya.. tempat biasa…

Ian melambai dan masuk ke mobilnya.
Dani mengangguk dan menghampiri mobilnya sambil memandangi mobil Ian yang melaju.
 
CUT TO
Commercial Break

4. INT: RUMAH NAIA. SORE
PAK PRODJO, BU PRODJO, PRIE, NAIA, BASKORO, ARYA, VINARA, MBOK

Naia berjalan hilir mudik dengan ekspresi kesal. Baskoro duduk sambil memandanginya. Pak dan Bu Prodjo duduk bersebelahan di sofa. Prie duduk dekat mereka. Arya dan Vinara duduk di kursi makan yang dihadapkan ke dekat kerumunan itu. Mereka tampak berbincang dengan serius. Mbok duduk bersimpuh dekat Bu Prodjo dengan wajah sedih sambil sesekali mengusap air mata. Bu Prodjo juga tampak terpukul dan sesekali mengusap lelehan airmatanya yang keluar sedikit-sedikit. Pak Prodjo duduk dengan tegang dan tampak geram.

NAIA
Ibu ini gimana sih… (berdiri depan Ibu) Nai minta Ibu datang kesini kan untuk menasehati Arya tuh (menunjuk Arya dengan dagunya, dengan ekspresi kesal) bukannya malah memojokkan aku…
Ibu selalu saja membela Arya, kalau ada apa-apa selalu aku yang salah…

Bu prodjo mengelus dada. Pak Prodjo memandang Naia sambil menggelengkan kepala.

PAK PRODJO
Ini bukan masalah siapa membela siapa… Ibu dan Bapak ini kan orangtua kamu… kita Cuma ingin semuanya bisa hidup rukun, saling membantu…

NAIA
Tapi Arya itu orang ngga tahu diuntung Pak!! Ngga tahu balas budi… kurang ajar banget dia sama aku … masa masih nggantung ama aku dan belum jadi apa-apa aja.. dia sudah berani bentak-bentak aku….

ARYA
            Apa sih maksudmu Nai? (nada meninggi)

NAIA
Tuh kan… lihat-lihat !!

Naia menunjuk dengan kedua tangannya mengarah ke Arya dan tersenyum mencibir, Arya mendelik kesal, Baskoro mengusap bahu Naia yang saat itu berdiri disisinya, menenangkan.
Bu Prodjo terisak sambil mengurut dada, Mbok yang duduk bersimpuh di sisinya tampak meneteskan air mata sedih.
Pak Prodjo menggelengkan kepala.

PAK PRODJO
Naia… Arya … rasanya selama ini Bapak dan Ibu tidak pernah mengajari kalian bicara seperti itu. (nadanya rendah menahan marah)
Ingat Nai! Arya itu adik kamu.. adik kandung kamu sendiri.. mana ada hutang budi antar saudara… itu memang sudah kewajiban kamu sebagai kakak (sambil mengacungkan jarinya) untuk membantu dan menolong adik kamu…
(menoleh memandang Arya)
Dan kamu… Arya! Kamu juga sudah sepatutnya menghormati Naia sebagai kakak kamu… (memandang ke Arya dan Naia bergantian) Sudah sepatutnya kalian saling menolong dalam semua hal…
Bapak dan Ibu tidak mau lagi dengar ada masalah seperti ini lagi… Kakak beradik kok itung-itungan.. (menggelengkan kepala geram) mau jadi apa kalian ini…
Coba bayangkan kalau Bapak, Ibu, dan Mas-mas mu semua hitung-hitungan sama kalian.. (mengacungkan jari ke arah Naia dan Arya) coba!! Bagaimana kalian mau membayarnya…

Naia dan Arya hanya merengut kesal tak menyahut.
Tak ada suara hanya wajah-wajah yang gundah dan sedih.

CU       Tangan Pak Prodjo menjentikkan abu rokok ke asbak di meja.

CUT TO

5. INT: RUANG KONSER. MALAM
IAN, BAND, CINDY, DANI, FIGURAN : PENONTON & CREW

Ian berdiri di panggung di iringi riuh tepuk tangan penonton. Riuh pelan berhenti. Ian berdiri dan meraih microphone, sebelah tangannya lagi memegang erat besi penyangga mic-nya.

IAN
Selanjutnya saya … akan menyanyikan salah satu lagu ciptaan saya sendiri yang ada dalam album saya yang terbaru… untuk seseorang yang yahh.. cukup special..(diam sejenak menjauhkan mic dari mulutnya kemudian kembali mendekatkan mic nya) ….Kau Auraku…
(enter to  img.Theme  Song 12 : Kau Auraku – Ada band)
Penonton riuh menyambut dengan tepuk tangan.
Ian menyanyikan lagu di panggung dengan penuh perasaan. Penonton dan penggemar berdesakkan berdiri di dekat panggung sambil menari dan berloncatan mengikuti irama dan ikut menyanyi.

CU       Wajah Ian menyanyi sepenuh hati
Flashback dalam bayangan Ian – Dissolve to
Ian memasuki ruang ganti wisuda dengan panik dan di dalam tampak Vina memandangnya tertegun. Potongan-potongan wajah Vina yang tertawa manis dan tampak bercengkerama dengan Ian selama dalam ruang wisuda memenuhi benak Ian.

CUT BACK TO
Ian menyanyi sambil tersenyum memandangi penggemarnya yang ikut menyanyi di sekelilingnya.
Dani berdiri di sisi panggung. Matanya diam-diam tak henti menatap Cindy yang duduk di deretan penonton VIP.
Cindy memandang Ian lekat-lekat, di bibirnya terus tersungging senyum, seakan Ian menyanyi lagu itu hanya untuknya.

CUT TO (masih dengan iringan lagu theme song12)
INT. RUMAH NAIA.MALAM
ARYA, NAIA, BASKORO, MBOK
Naia duduk di meja makan dan bercanda dengan Baskoro dengan gembira dan mesra. Mbok berlari pelan membukakan pintu, Arya pulang.
Naia menoleh melihat Arya datang, ekspresi berubah tak senang, seketika berdiri dan berlalu dengan kesal menuju ke kamarnya.
Arya menimang kunci mobil di tangannya dengan tatapan sedih. Baskoro memandang Arya dengan prihatin dan menepuk pundaknya memberi semangat lalu menyusul Naia.
Mbok berjalan ke dapur dengan wajah sedih.
CUT TO

INT. KANTOR VINARA.SIANG
VINARA, FIGURAN REKAN SEKERJA
Vinara menjabat tangan seorang pria berstelan jas rapi. Wajah mereka tersungging senyum. Setelah pria itu berlalu, teman-teman Vina gembira menyambut dan memberi selamat pada Vina, mencium pipi dan tampak senang dan bersemangat atas keberhasilan Vina.

CUT TO
INT. KANTOR CINDY.SIANG
CINDY, ALDO, FIGURAN REKAN SEKERJA

Cindy tampak sibuk di depan komputer, sesekali beberapa rekan menghampiri dan memberikan berkas serta bercakap sebentar sambil menunjuk gambar-gambar dan komputer. Aldo lewat dekat meja Cindy dan memandang Cindy yang serius bekerja lalu tersenyum dan pergi. Cindy tetap menatap komputer dengan serius.

CUT TO
Commercial Break

CUTBACK TO

Suara lagu (theme song 12)berpindah ke radio Vina.

6. INT: KONTRAKAN VINARA. SIANG
VINARA, ARYA

Suara Ian menyanyi di radio (theme song 12) terdengar memenuhi ruangan, sesekali Vinara yang sedang menyeterika pakaiannya ikut menyanyi sambil menganggukkan kepala mengikuti irama. Vina berhenti sejenak mematikan setrika dan meletakkan di sampingnya.
Matanya menerawang.

Flashback dalam bayangan Vinara – Dissolve to
Ian memakai jepit rambutnya dan bergaya sepert perempuan untuk menghindari dari kejaran fans nya, Vina tertawa geli melihat tampang Ian yang lucu. Potongan cerita dan gambar keakraban sesaat Vina dan Ian. Ian tampak sangat manis dan polos.
CUT TO
Ingatan Vina ketika Ian memakinya di Mal dengan wajah sangat judes.
CUT TO
Ketika Ian menyerempetnya dengan mobil dan memakinya dengan galak.

CUT BACK TO
Vina menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Vina terkejut menoleh dan mengecilkan volume radionya, lalu berjalan ke depan dan membukakan pintu.
CUT TO

Pintu terbuka dan Arya tersenyum di balik pintu lalu Arya meraih tangan Vina tergesa. Vina terkejut.

VINARA
Arya?? (heran) Ada apa Yak??

Arya tersenyum manis dan seperti menyembunyikan suatu rahasia.

ARYA
            Lagi ngapain?

VINARA
            Ehm… anu lagi..

ARYA
            Ngga sibukkan? (memotong)

VINARA
Nggak sih (bingung, mengernyitkan kening, menoleh sejenak memandang ke dalam) Cuma lagi nyetrika aja, tapi udah hamp…

ARYA
Udah selesaikan? (memotong, mengintip ke dalam)
Ikut aku bentar yukk.. udah di cabut belum? (menunjuk ke dalam)

VINARA
Oh iya (menepuk dahinya sambil tersenyum) belum… bentar ya.
(Vina lari ke dalam sebentar dan mencabut kabel setrika yang semula masih tertancap)
Mau kemana sih?? (berteriak dari dalam sambil menoleh ke depan)

ARYA
Ada ajaa… (tersenyum sambil menyandarkan badannya di pintu depan)

VINARA
Mau kemana? (Vina masih berdiri di dalam dan penasaran memandang Arya, lalu memandangi diri sendiri dari atas ke bawah)
Kostumku kan perlu di sesuaikan … perlu ganti baju ngga nih? (ujung jari Vina mencubit bahu kaos/t-shirt nya sendiri)

ARYA
Udah ngga usah lah, gitu aja .. pake apa aja kamu tetep cakep kok… (tertawa kecil)

VINARA
Iih.. genit.. apa-an sih… (tertawa)

Arya dan Vina tertawa bersama. Vina keluar dan mengunci pintu kontrakannya lalu mengikuti Arya menuju mobilnya.

CUT TO

7. INT: STUDIO. SIANG
IAN, DANI

Ian duduk bertumpang kaki di depan keyboard, tangannya sedang memetik accord gitar pelan dan sesekali bergumam mencari nada lalu mencorat-coret kertas seperti sedang membuat lagu, sesekali mencocokan dengan irama di keyboard. (theme song13-Karena Wanita (ingin dimengerti) Ada band) Sibuk sekali dan tak memperdulikan sekeliling.
Terdengar suara ketukan pintu. Ian yang sibuk tak mendengar dan memperhatikan.
Dani membuka pintu dan memandang Ian dengan heran lalu berjalan mendekatinya dan berdiri di belakangnya sambil mencuri baca coretan Ian. Kedua tangannya dilipat di dada.
Ian sama sekali tak mengetahui kedatangan Dani dan terus bersenandung lagu barunya.

DANI
            Akulah pengagum ragamu.. tak ingin ku menyakitimu… (terbata membaca lirik)

Ian terkejut dan menoleh kesal lalu memukul lengan Dani dengan geram.

IAN
            Gila lo… dateng kaya hantu… bikin kaget gua aja…

Dani dan Ian tertawa.

DANI
            Elo sih serius amat… apaan nih lagu baru

Tangan Dani meraih kertas di depan Ian. Ian segera merebutnya sambil memonyongkan mulutnya mengejek.

IAN
            Belum jadi pamali…

DANI
            Ee… sejak kapan pamali … dari dulu juga gua selalu liat lagu baru elo…

IAN
            Yaa.. sejak sekarang

Ian mengerling mengejek. Dani tertawa.

            DANI
He?! (tangannya menunjuk seakan tahu sesuatu) Jangan-jangan lu ada cewek baru lagi ya? (duduk di sebelah Ian) Siapa? Kok kagak kasi tau gua sih?

Ian hanya tertawa. Tak mengelak tak juga mengiyakan.
Dani menghentikan tawanya dan memandang Ian serius.

DANI
            Cewek ini… yang elo sebut di panggung waktu itu ya? (muka menahan cemburu)
            Yang elo bilang sudah menjadi inspirasi lo selama ini??
Pantesan aja gua liat udah beberapa bulan ini elo semangat banget di musik… (meninju lengan Ian pelan)
Heh tahu nggak lo.. kita dapet teguran dari Tante Erin karena lo mulai sering mangkir dari kantor… ini sekarang lo nongkrong lagi di sini… kan semestinya lo dikantor hari ini….ah payah lo… (merepet bawel dan kesal)

Ian menghentikan petikan gitarnya dan memandang Dani sambil tersenyum lebar.

IAN
            Lo pikir siapa…

Dani tak memandang Ian pura-pura memencet keyboard didekatnya.

DANI
Siapa lagi yang deket sama lo akhir-akhir ini. (diam sejenak menghela napas lalu memandang Ian dan tersenyum pedih)
Emang udah semestinya elo begini dari dulu.. Lo ngga tau kan betapa senengnya Cindy malam itu waktu elo bilang kalau mempersembahkan lagu itu buat dia…

Dani tersenyum lagi dan mengalihkan pandangan ke keyboard dan meraih kertas coretan lagu baru Ian tadi dan membacanya dalam hati. Ian tertawa terbahak mendengar ucapan Dani dan menepuk bahu Dani sambil terus tertawa.

IAN
            Elo cemburu ya? (sambil tertawa)

DANI
            Apa-an sih lo?

IAN
            Tenang ‘man’… siapa bilang itu lagu buat dia…

Dani terkejut dan memandang Ian.

IAN
            Mana pernah gua sebutin kalo lagu itu gua persembahkan buat Cindy.. ngga kan?

DANI
Elo nih gimana sih Yan? Elo sendiri bilang itu lagu buat seseorang yang special buat elo, dan disana kan ada Cindy.. siapa lagi?

IAN
Emang bener itu lagu buat seseorang yang special buat gua, karena dia sudah membuat gua semangat banget dapet karya baru… (terdiam sejenak menerawang)

Dani memandang Ian tak percaya dan menggelengkan kepala tak habis pikir.

IAN
Seseorang…. Yang bahkan suara.. dan wajahnya…. Udah mulai ngga bisa gua bayangin lagi… (serius dan diam)

Dani mengernyitkan kening heran.

DANI
Kenapa?? (tegang seakan heran seorang playboy seperti Ian bisa kasmaran pada seseorang)

IAN
            (menoleh memandang Dani dengan tampang usil) Kenapa?
            Duh… gua udah lupa kaya apa dia…

Ian tertawa terbahak. Dani mencibir kesal merasa dikerjai.

CUT TO

8. INT: RUMAH ARYA. SIANG
VINARA, ARYA

Arya menuntun Vina memasuki halaman sebuah rumah mungil. Mata Vinara ditutup dengan sapu tangan.

VINARA
            Udah belum? Mau kemana sih? Pake kejutan segala?

ARYA
Sebentar.. ya…

Arya dan Vina berdiri di dekat teras. Arya mengeluarkan segepok kunci dari kantong celananya dan memberikan pada Vina yang matanya masih tertutup. Vina menerima dengan bingung dan memegang-megang kunci seperti menebak apa itu yang ada dalam genggamannya.

ARYA
Ini buat kamu…

VINARA
Apa ini Yak? (memegang kunci dan memilahnya) Kunci-kunci? Kunci apa Yak? (bingung)

Arya membuka penutup mata Vina dengan hati-hati, senyum terus tersungging di wajahnya.
Vina mengerjapkan matanya karena merasa silau setelah sekian lama tertutup.
CU       Kunci dalam genggaman
CU       Wajah Arya tersenyum lebar menanti reaksi Vina
CU       Wajah Vina bingung memandang kunci ke rumah dan ke Arya bergantian

VINARA
            Kunci ini…?? Kunci rumah? Rumah ini?? (bingung)

Arya tak menjawab hanya menganggukkan kepala dengan senyum lebar.

VINARA
            Maksud kamu… (hati-hati, ragu) rumah ini…??

ARYA
            (tertawa kecil) Iya Non… ini kunci rumah ini (menunjuk ke kunci di tangan Vina)
            Rumah kita… rumah kamu…

Vinara tampak terkejut, lalu menutup mulutnya yang ternganga dan tersenyum lebar.

VINARA
            Beneran Yak??

ARYA
            Iyalah beneran… ayo dong di buka…

Arya mendorong kedua bahu Vina mendekati pintu. Vina masih tampak terkejut senang memandangi Arya dan kunci berganti-ganti. Arya dan Vina menghampiri pintu rumah. Vina memasukkan kunci ke lubang pintu utama.
CU       Kunci diputar dan tangan Vina menggamit pegangan pintu untuk membukanya

CUT TO
Commercial break

9. INT: RUMAH ARYA. SIANG
VINARA, ARYA

Arya dan Vina memasuki ruangan rumah. Suasana asri terasa. Walau rumah masih benar-benar kosong belum ada perabot sama sekali. Benar-benar rumah baru, belum ada teralis atau tirai ata perabot apapun. Tampak bersih dan nyaman.
Vina masuk dan memandang sekeliling dengan wajah tak percaya dan senang sekali, sesekali Vina berputar gembira. Arya memandang Vina dari arah pintu masuk dengan ekspresi sangat senang melihat kegembiraan Vina.

VINARA
            Kapan Yak kamu beli ini… (diam sejenak) kamu udah beli rumah ini untuk kita??

ARYA
            Iyalah, buat siapa lagi .. kamu ini ada-ada aja…

Arya tertawa menghampiri Vina dan mengacak rambutnya gemas.

VINARA
Duuhh (menghindar dan merapikan rambutnya) habis kamu kok beli rumah ngga bilang-bilang sih…

ARYA
Kalo bilang-bilang nanti ngga jadi kejutan lagi dong… (tertawa) kenapa kamu ngga suka ya sama rumah ini??

VINARA
Uuhh.. kamu.. suka lah.. (tersenyum manja sambil memandangi sekeliling dan masuk lebih ke dalam)

ARYA
Bagus nggak? (Arya berjalan mengikuti)
VINARA
Bagus…(tangannya menyentuh dinding-dinding dan mengintip ke dapur)

ARYA
Dapurnya agak kecil sih, ngga sebesar rumah Nai… (pelan)

VINARA
Ahh enggak kok.. (masuk ke dapur dan berbalik memandang Arya) cukuplah.. (kembali berbalik) bisa taruh kompor di sini (tangannya menunjuk dan seakan membayangkan posisi dapur dan peralatannya), rak piring di sini… kecap-kecap dan saus bisa di sini (tangannya terus menunjuk-nunjuk dengan semangat) perabot lain bisa di simpan di lemari sini… (menunjuk lemari bawah meja dapur dan lemari atas di kitchen set standar yang telah terpasang)

Arya tersenyum. Vina berjalan keluar dapur dan Arya merangkulnya. Mereka berangkulan melihat ke ruang lain.

ARYA
           Coba kita lihat kesana… ada dua kamar… dan bagian belakangnya masih terbuka..

Arya berdiri memandang ke belakang dengan tangan bertolak pinggang. Vina berdiri di sebelahnya.

ARYA
Sementara bisa untuk taman, dan kalau suatu waktu kita butuh ruang yang lebih besar, kita bisa perbesar kebagian sana (tangannya menunjuk)

Vina mengangguk-angguk semangat. Vina kemudia berjalan melongok ke dalam kamar-kamar. Arya kemudian duduk di lantai sambil memandangi Vina.
Selesai melihat-lihat Vina menuju ruang tengah dan memandang Arya yang tampak tegang duduk dilantai.

VINARA
            Ada apa Yak…

Vina pelan menghampiri. Arya terkejut sebentar dan menggosok kedua telapak tangannya menghilangkan kegugupannya, kemudian menarik napas dan memandang Vina tenang.

ARYA
            Sini deh (melambai dan menepuk lantai disebelahnya)

Vinara menghampiri dan duduk di sebelah Arya.

VINARA
            Ada apa sih?? (penasaran)

ARYA
            (menghela napas) Aku masih ada satu kejutan lagi buat kamu.

VINARA
          Hahh?? (tersenyum bingung) Ada apa lagi Yak?? (memandang ke sekeliling bingung)

Arya tersenyum lalu merubah posisi duduknya menghadap Vina dan merengkuh kedua tangan Vina.

ARYA
Kejutannya ada di sini… ngga di mana-mana… (menggoda Vina yang bingung menatap sekeliling)

VINARA
Apaan sih Yak… (tersenyum kecil)

Arya mengambil sebuah kotak biru dari saku celana belakangnya dan mengulurkan cincin itu ke hadapan Vina. Vina berkesiap dan menerima.

VINARA
            Arya?? Ini… (memandang kotak dan wajah Arya berganti-ganti bingung)

Vina membuka kotak.
CU       Sepasang cincin pernikahan
CU       Wajah Vina terharu dan terkejut

ARYA
        Bagaimana kalau kita menikah secepatnya Vin? Ngga perlu lagi tunggu tahun depan.

Vina menengadah memandang Arya dengan bingung.

VINARA
            Tapi Ibu… Bapak.. (terbata-bata)

ARYA
Bapak dan Ibu pasti nggak akan keberatan.. toh mestinya kita sudah menikah sejak setengah tahun yang lalu.. untuk apa lagi di tunda sampai tahun depan…

Vina tampak bingung dan tak menjawab memandang Arya ragu.

ARYA
Yah.. itu kalau kamu ngga keberatan… kita menikah hanya dengan upacara kecil-kecilan aja…

Vina memandang Arya dengan perasaan bercampur aduk.

ARYA
Soalnya, semua tabunganku sudah aku pakai untuk membeli rumah ini… (menatap sekeliling dan kembali menatap Vina) dan aku juga nggak pengen minta supaya Bapak Ibu yang mem…

VINARA
            Oh.. itu ngga masalah (memotong)

Arya memandang Vina dalam. Vina tampak salah tingkah.

VINARA
Oh.. eh.. maksudku… aku ngga perlu pesta kecil atau besar.. apalagi minta sama Bapak dan Ibu. Mereka sudah baik banget sama aku, dan menganggap aku seperti putri mereka sendiri, aku udah sangat berterimakasih … yang penting..

Ucapan Vina terhenti, matanya menatap Arya yang menatapnya penuh perasaan.

ARYA
Sorry ya Vin.. sebenernya aku penggeeen banget bisa adain pesta yang meriah buat kamu… (mengusap pipi Vina)
Seperti kata Nai.. pernikahan itu kan Cuma sekali seumur hidup.. apa kamu ngga pengen jadi ratu sehari.. (tersenyum ciut)

Vina tertawa kecil.

VINARA
Kamu kaya ngga kenal aku aja Yak… Asal bisa sama kamu, mau pake acara kaya apa aja aku ngga peduli kok…

Vina memandang Ian dengan tatapan sayang.

ARYA
Jadi kamu setuju? (Arya tersenyum tegang menanti jawaban)

(enter to  img.Theme  Song 14 : Bukan cinta biasa-Ruth Sahanaya)

Vina tersenyum dan mengangguk pelan. (Slow motion)
Arya tampak senang dan merengkuh Vina ke dalam pelukannya.

LS        Vina dan Arya berpelukan
LS        Rumah Arya

Kamera bergerak cepat ke langit, yang berubah warna dan cahaya, seperti dari siang berganti malam, ke pagi, ke siang dan ke malam… terus berganti… (terus di iringi lagu 13)

CUT TO

Vina, Arya dan beberapa figuran mengisi rumah.

Vina dan Arya mendorong-dorong sofa sampai ganti ke beberapa posisi. Mereka tampak sesekali serius menimbang posisi yang tepat dan sesekali tertawa.
CUT TO

Arya memaku dinding dan memajang beberapa foto.
CU       Foto pernikahan, Arya dan Vina tampak gembira dalam foto
Arya memandangi foto itu sejenak dan memandang ke arah Vinara yang sedang memasang tirai. Vina yang merasa di pandangi lalu menoleh dan tersenyum. Arya tersenyum dan kembali memasang foto.

LS        Arya dan Vina merapikan rumah

CUT TO


END EPS.9



Credit Title
Continue theme song 14

No comments:

Post a Comment