Thursday, December 1, 2011

Benang Merah - skenario eps.8

Eps.8

1. INT: RUMAH KEL.PRODJO/ORANG TUA ARYA.MALAM
PAK PRODJO, BASKORO

Pak Prodjo menghisap cerutunya dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya sambil memainkan cerutu di tangannya.
Kemudian Pak Prodjo meletakkan cerutunya di asbak di atas meja dan menyandarkan duduknya sambil menatap Baskoro yang ada di hadapannya.
Baskoro tampak sangat tenang dan santai, tapi tetap hormat.

BASKORO
Maaf, saya sudah tidak punya keluarga, adanya hanya kerabat jauh yang.. ya sudah jarang ketemu Pak… makanya saya sekarang hanya datang sendiri menemui Bapak dan keluarga.

Pak Prodjo menatap Baskoro tajam lalu menghela napas.

BAPAK PRODJO
Nggak apa Nak Bas, Bapak ngga terlalu mementingkan masalah seperti itu, yang penting buat Bapak adalah kebahagiaan anak-anak Bapak. Jadi buat Bapak, kami sebagai orang tua hanya menurut saja apa kemauan anak, selama mereka senang…

Pak Prodjo dan Baskoro tersenyum.

BASKORO
Bapak tidak perlu khawatir. Saya sungguh-sungguh mencintai Naia, putri Bapak. (Berhenti sejenak)
Saya tahu, mungkin bagi Bapak dan Ibu kedatangan saya saat ini untuk melamar Naia terlalu cepat, karena saya dengar Naia baru saja berselisih dan memutuskan pertunangannya dengan Hilman.
Tapi saya sudah lama menyukai Nai, dan saya rasa untuk masalah pernikahan, tidak ada kata terlalu cepat atau pun terlambat. Yang ada adalah keseriusan dan kesungguhan hati untuk menjalaninya.
(Tersenyum menatap Pak Prodjo yang memandanginya serius)
Insya Allah, saya akan selalu berusaha membahagiakan Naia, dan menjadi suami yang baik baginya.

Pak Prodjo hanya menghela napas sambil tersenyum mengangguk-angguk, lalu kembali menikmati cerutunya.

CUT TO

2. INT: KAMAR NAIA/RUMAH KEL.PRODJO.MALAM
IBU PRODJO, NAIA

Naia duduk bersila di atas ranjang. Bu Prodjo ibunya duduk di hadapannya sambil memandanginya serius.

IBU PRODJO
Kamu yakin ‘Nduk’ dengan keputusan kamu?(nada khawatir)
Apa ngga terlalu cepat? (hati-hati) Maksud Ibu… masalah kamu dengan Nak Hilman kan baru saja…

NAIA(memotong)
Saya ngerti Bu… (menghela napas, lalu meraih tangan ibunya dalam genggaman)
Saya sendiri juga ngga … ngga percaya… sepertinya begitu cepat, tapi rasanya Nai seperti sudah mengenal Bas begitu lama, kami begitu akrab dan begitu banyak kesamaan diantara saya dan Bas. Juga perasaan-perasaan… (menggerak-gerakkan tangannya seakan berusaha mengekspresikan perasaan yang meluap-luap)
Yang bahkan ngga pernah Nai rasakan saat bersama dengan Hilman.

Naia diam sejenak. Ibu Prodjo menatap Naia penuh perhatian. Naia menatap ibunya dengan mata berbinar.

NAIA
Nai benar-benar bahagia Bu… Bas sungguh membuat Nai merasa bahagia… (melemah memohon) Saya rasa…, Bas benar-benar mencintai saya… dan Nai … juga sangat mencintai Baskoro…
Nai mohon Bu… restuilah kami… (diam sejenak)
Ya Bu.. (memohon)

Naia meletakkan kepalanya dipangkuan Ibunya. Bu prodjo mengelus kepala Nai dengan kasih sayang.

IBU PRODJO
Ibu tidak bermaksud menghalangi keinginan kamu sayang… Ibu hanya takut kalau semua ini hanya pelarian kamu saja… belum sebulan yang lalu kamu masih menangisi keputusan Hilman... (menghela napas)
Dan Ibu tahu, Ibu juga sangat sakit hati dengan perlakuannya sama kamu… Bahkan Ibu juga sempat bingung mencari-carikan kamu kenalan yang mungkin … (menghela napas)

 Naia bangkit dan duduk kembali menatap Ibunya.

NAIA
Makanya (tersenyum) sekarang kan Ibu sudah ngga perlu lagi bingung mencarikan pasangan buat Nai..

Bu Prodjo kembali mengusap rambut Naia sambil memandangnya dengan sayang.

IBU PRODJO
            Sungguh kamu mencintainya? (menatap Nai serius)

Naia mengangguk malu-malu.

IBU PRODJO
Kamu serius dengan keputusan kamu ini? (tetap memandang Nai)

Naia mengangguk mantap.

IBU PRODJO
            Ini masalah serius lho Nai. Bukan main-main. (menekan nada suaranya)
            Pernikahan itu hanya sekali untuk seumur hidup.
            Apa kamu sudah benar-benar kenal dengan yang namanya Baskoro itu?
            Kamu yakin akan menghabiskan seluruh sisa hidupmu dengan orang itu?

Naia tersenyum dan mengangguk mantap.

NAIA
Saya bahkan merasa belum pernah seyakin ini Bu… bahkan tidak ketika bersama Hilman…

Naia menatap ibunya dengan tatapan memohon. Bu Prodjo menatapnya ragu.

NAIA
Baskoro memang bukan orang kaya, dia juga sudah yatim piatu, seperti Vina… tapi Bas orang yang sangat baik, soleh, rajin beribadah dan… sangat pengertian…

Naia memandang Bu Prodjo serius mencoba meyakinkan.

IBU PRODJO
            (menghela napas) Kalau itu memang sudah keputusanmu… (diam sejenak)
Kalau memang sudah merasa mantap dengan perasaan kamu… (membuang napas gundah), selama ini Ibu dan Bapak tidak pernah melarang kamu, atau saudara-saudara kamu yang lain, jika hendak bergaul dengan siapa pun, juga dalam memutuskan pasangan hidup.
(diam sejenak dan tersenyum memandang  Naia, lalu mengelus rambut Naia)
Asalkan kamu bahagia sayang… Ibu dan Bapak pasti merestui…

Naia terpekik senang dan memeluk Ibunya.

NAIA
            Sungguh Bu… (nada sangat senang dan tak percaya)

Bu Prodjo mengangguk senang memandang Naia yang tampak sangat gembira.

NAIA
            Terimakasih Bu.. terimakasih…. (sangat senang)

Naia dan Bu Prodjo berpelukan senang.

CUT TO
Commercial Break

3. INT. KANTOR IAN. SIANG
CINDY, DANI, SEKRETARIS

Cindy berjalan menghampiri meja sekretaris. Sekretaris mengangkat wajahnya dari tumpukan berkas di meja.

CINDY
            Siang Meity… Ian-nya ada?

Sekretaris/Meity tampak gugup.

SEKRETARIS/MEITY
            Oh.. Maaf Bu Cindy… Pak Ian-nya sedang  makan siang di luar tuh..

Cindy mengernyitkan keningnya kesal.

CINDY
            Lho tadi saya kan sudah telepon? Apa pesan saya tidak di sampaikan?

SEKRETARIS/MEITY
Maaf Bu Cindy.. sudah, tapi Pak Ian sudah terlanjur ada janji dengan klien.. (terbata-bata mencari alasan)

CINDY
Ada janji? Kenapa ngga telepon saya dulu, kalau tau dia …

Tiba-tiba datang Dani tergopoh-gopoh.

DANI
            Mei… Ian?? (terputus karena terkejut melihat ada Cindy)

Cindy melipat tangannya kesal memandang Dani. Dani tampak salah tingkah.
Meity juga tampak sungkan.

MEITY
            Pak Dani?? Ehm.. maaf tadi ada pesan dari Pak Ian…
Mendadak beliau ada janji dengan Pak Damar dari Nusajaya, jadi Pak Ian minta maaf tidak dapat makan siang bersama anda siang ini.

Dani menggaruk kepala dan tampak bingung.

DANI
            Gimana sih Ian ini, tadi dia sendiri yang bikin janji… (menggerutu)

Dani memandang Cindy yang tampak agak kecewa.

CINDY
            Kamu udah makan siang Dan?

DANI
            Hah.. eh oh… (gelagapan bingung)
            Eh.. belum sih…

CINDY
            Kita makan siang keluar yuk… (memandang Dani)

Dani tampak ragu sebentar kemudian mengangguk.

            DANI
            Ehm, ok deh… (berbalik memandang sekretaris)
Gini Mei, kalau Pak Ian balik atau ada telepon dari dia, tolong kasi tau dia untuk menghubungi hp saya… okey?

Sekretaris mengangguk.

DANI
            Okey, thanks ya… (melambai pada sekretaris yang mengangguk hormat)
            Yuk Cin…

Cindy mengangguk dan mengikuti Dani berjalan keluar ruangan.
CUT TO

4. INT. KAMAR KARAOKE. SIANG
BASKORO, SUSAN, FIGURAN

Televisi di depan menayangkan gambar lagu karaoke.
Susan dan Baskoro duduk berdampingan memandang ke tv. Tidak menyanyi, mic tergeletak di meja yang penuh putung rokok dan minuman keras.
Lengan Baskoro merangkul Susan. Susan tampak kesal dan Baskoro tampak merayunya.

Kamera dari belakang atau samping atau sudut tertentu sehingga wajah Susan selalu tak terlihat hanya terdengar suaranya, rambut memakai wig sehingga tak jelas juga siapa Susan sebenarnya.

SUSAN
Aku bener-bener ngga ngerti deh Bas… buat apa sih kamu pake menikahi perempuan tua itu…

BASKORO
            Eh.. jangan gitu dong sayang… ini kan buat kebaikan kita juga…
            Lagian Naia juga belum terlalu tua kan hanya 6 atau 7 tahun saja lebih tua dari kita..

Susan kelihatan kesal.

SUSAN
            Oh, jadi kamu sudah mulai ngebelain dia..

Baskoro tersenyum mesra mempererat rangkulannya pada Susan.

BASKORO
            Sayang… masa kamu ngga percaya sih sama aku… (meyakinkan mesra)
            Aku ngga punya perasaan apa-apa sama dia… sungguh..
Kamu kan sudah tahu, Naia itu pemilik tunggal sebuah Kafe besar yang sedang terkenal di Jakarta. (tangannya menunjuk-nunjuk tampak mencoba meyakinkan Susan yang sedang kesal)
Begitu mendengar bahwa dia baru saja di campakkan oleh calon suaminya, aku rasa ini memang sudah jalan untuk kita untuk menuju kemakmuran.  (senang yakin)

BASKORO
Dia kan sudah sangat ingin menikah dan punya suami, jadi apa salahnya aku menawarkan diri untuk menjadi suaminya.. (tertawa terbahak) dan nantinya.. semua yang menjadi miliknya akan menjadi milik ..ku, milik Baskoro… (tertawa)
Berarti (berhenti sejenak) milik kamu juga… dan anak kita Andre…

CU       Baskoro menyentil ujung hidung Susan yang tersenyum senang dan manja. (tetap tak jelas semua wajah Susan, hanya sepotong)

SUSAN
            Aku tuh Cuma takut kalau kamu serius sama perempuan ini…
            Apa duit dari kerja aku buat kamu masih kurang …  (merajuk)

Baskoro mendengus kesal.

BASKORO
            Apa kamu mau kerja terus seperti ini? (nada meninggi)
Melayani banyak laki-laki iseng…??? (kesal)
            Aku mau kamu hanya melayani aku saja.. (membuang muka ke arah lain)
            (menoleh memandang Susan lagi) Bukan yang lain.

Susan merapatkan badannya ke Baskoro.

SUSAN
        Sorry Yank… jangan marah gitu dong… aku kan ngelakuin semua ini demi kamu juga…

BASKORO
Pokoknya setelah masalah ini beres. Kamu harus keluar dari pekerjaan kamu ini. Ngga ada lagi alasan. (tegas)

Baskoro memeluk Susan erat.
Lampu meredup, suara lagu di tv karaoke memenuhi ruangan.

CUT TO


5. INT. RUANG RESEPSI PERNIKAHAN.MALAM
BASKORO, NAIA, KELUARGA PRODJO, ARYA, VINARA, FIGURAN TAMU UNDANGAN

(enter to  img. Theme Song11 : From this moment)
Suasana pesta pernikahan yang meriah. Baskoro dan Naia tampak bahagia berdiri di pelaminan. Di sebelah mereka berdiri semua keluarga besar Prodjo termasuk Arya dan Vinara.
Baskoro dan Naia memakai baju pesta pernikahan, sedangkan Arya dan Vina hanya memakai pakaian pesta biasa seperti keluarga yang lain.

Tamu-tamu berjalan menyalami satu persatu di atas pelaminan. Beberapa tamu tampak makan dan minum hidangan yang di sediakan. Band pengiring menghibur tamu dengan lagu-lagu romantis, menambah suasana pesta besar yang meriah.

Muncul kilas balik potongan beberapa kejadian sebelum pesta, termasuk persiapan pernikahan yang bertumpuk dengan acara pesta, untuk menjelaskan kejadian latar belakang pesta.

INTERCUT TO
Ruang duduk rumah Kel.Prodjo
Naia dan Baskoro duduk berhadapan dengan Bapak dan Ibu Prodjo. Bas dan Nai tampak sangat mesra saling berpegangan tangan.

IBU PRODJO
Lho? Bukannya kamu sendiri yang ingin menikah bersamaan dengan Arya? (Bu Prodjo tampak bingung) Bahkan sejak kalian berdua masih kecil ‘inil-inil’ kalian sudah janjian untuk melakukan itu. Undangan dan semuanya untuk pernikahan Arya dan Vina juga sudah siap. Kenapa mendadak sekarang berubah pikiran?

Pak Prodjo menatap Bas sekilas dengan tatapan kurang senang. Bu Prodjo menatap Bas dan Nai menuntut penjelasan. Bas dan Nai tampak tersenyum tenang.

NAIA
Pernikahan itu kan bukan main-main Bu. (berhenti sejenak)
Cuma satu kali seumur hidup… (Nai menatap Bas sambil tersenyum manja)
Makanya Bu… Nai pengen ngerasain juga jadi Ratu sehari kaya yang lainnya (tertawa kecil di sambut senyum Bas)

NAIA
Kalo kawinannya rame-rame sama si Arya kan ga seru Bu..
Apalagi, kata orang kalau dalam satu tahun ngga baik kan kalo menikahkan dua orang anak sekaligus…

IBU PRODJO
Ya kalau dua-duanya anak perempuan tapi kalau kamu dan Arya kan perempuan dan laki-laki mestinya…

Ibu Prodjo tampak hendak mengucapkan sesuatu lagi, tapi Pak Prodjo menggamit tangannya. Nai dan Bas saling bertatapan mesra tak mendengar ucapan Bu Prodjo, dan tak memperhatikan orangtuanya. Pak Prodjo menggeleng lalu menganggukkan kepala memberi kode untuk tidak lagi memprotes keputusan Nai dan mengabulkan permintaannya.

CUT BACK TO
Pesta  Pernikahan Nai dan Bas
Naia dan Baskoro tampak mesra saling menyuapkan nasi sambil di iringi tepukan tangan dan tawa gembira semua orang. Vina dan Arya yang hadir juga tampak gembira.

INTERCUT
Teras Rumah Naia.Malam
Nai dan Bas duduk berdua di teras depan rumah Naia sambil memandangi langit malam.

BASKORO
Aku malu Nai, aku ini kan laki-laki, seharusnya setelah menikah.. akulah yang semestinya memboyong pengantinku ke rumah ku… rumah kita… tapi..

NAIA(memotong)
Aduh.. Kamu kok ngomongnya gitu sih… rumah aku kan rumah kamu juga.. ngga ada bedanya. (menatap Bas sayang)
Selain itu, aku juga lebih nyaman tinggal di sini, kan repot kalo kamu mesti cari-cari rumah baru lagi. Padahal kamu sendiri kan, juga baru aja tiba di Jakarta. (berhenti sejenak)
Apalagi, rumah ini kan lokasinya deket dari Kafe. Jadi kalo kita mau berangkat kerja ato mau ngontrol udah ngga perlu susah-susah.

Naia mengelus bahu Bas menenangkan.

NAIA
Kamu kan juga belum dapat kerjaan yang baru sejak datang ke Jakarta, dan kebetulan kantor aku juga sedang butuh orang yang bisa bantuin aku, buat ngurusin ini itu. Jadi sebagai suami aku nantinya (menggeser duduknya menghadap Bas), ngga salah dong kalo kamu ikut bantuin aku ngurusin kafe kita…

Naia memeluk Bas mesra.

CU       Wajah Naia polos senang mendekap Bas.
CU       Wajah Bas tersenyum licik bisa menguasai Naia dengan mudah.

CUT BACK TO
Pesta  Pernikahan Nai dan Bas

Nai dan Bas berpose dengan kerabat, juru foto dan beberapa kru foto mengatur mereka berfoto. Tak ada suara pembicaraan. Hanya iringan musik romantis.
Sesekali pengantin dan keluarga tampak tertawa bahagia.

CUT TO
Commercial Break

6. EXT/INT. MOBIL DANI. MALAM
DANI, CINDY

Dani dan Cindy sedang dalam perjalanan pulang dari makan malam. Suasana malam dengan hujan gerimis. Dani dan Cindy tampak akrab.

CINDY
Thanks ya Dan… kamu udah anterin aku pulang. Padahal ini kan mestinya tugasnya Ian. (mendengus kesal)
Tapi dia malah ninggalin aku lagi (memasang wajah murung).
Selalu begitu… tiap kali ada janji ama aku… (menoleh menatap Dani lalu menghela napas)
Untung aja kamu selaluu.. bantuin aku… seperti malam ini.

Cindy memandang Dani penuh terimakasih. Dani tersenyum menatap Cindy sebentar, lalu kembali memandang ke jalan.

DANI
Ga papa, emang udah semestinya kan… masa aku biarin cewek secantik kamu pulang sendiri malem-malem gini…

Dani tersenyum menggoda Cindy yang tertawa menimpali gurauan Dani.

CINDY
Ah Kamu .. Rayuan kamu itu udah basi tahu… gombal, rayuan jaman behula…
(tertawa)

DANI
Biarin aja, walaupun rayuanku ini dari jaman kuda gigit besi (di iringi tawa Dani dan Cindy) … yang penting itu bisa bikin kamu ketawa lagi…

Dani memandang Cindy yang tersenyum sambil memandang ke jalanan.

DANI
            Bener kan?? Gitu dong Non… Kalau tersenyum kan gitu kan lebih cantik…

Cindy melirik sambil tersenyum geli.

DANI
Aku suka kalo bisa bikin kamu selalu tersenyum… (pelan, hati-hati)

Cindy memandang Dani, ekspresinya seperti sedang menebak apa maksud dari perkataan Dani barusan.
Dani menoleh dan menatap Cindy lalu tersenyum penuh arti.

CUT TO

7. INT. RUMAH NAIA. MALAM
VINARA, NAIA, ARYA, BASKORO, MBOK

Vinara tampak gelisah berdiri dan berjalan hilir mudik dalam kamarnya. Tangannya terkepal memukul-mukul telapak tangannya. Sesekali bertolak pinggang. Sesekali menggaruk kepalanya. Sangat gelisah. Dari balik pintu kamarnya yang tertutup terdengar suara gaduh dari luar kamar. Suara Arya dan Naia saling bergumam tak jelas, seperti sedang bertengkar.

CUT TO

Di ruang tengah Naia dan Arya berdiri berhadapan dengan muka garang. Sesekali bertolak pinggang, dan sesekali Naia berjalan hilir mudik dengan kesal. Arya menarik kursi makan dan duduk sambil memandangi Naia.

 NAIA
Coba kamu pikir… (nada seperti berbisik bergumam supaya hanya terdengar oleh Arya saja) Apanya yang salah??

Naia mendekat dan berdiri di samping Arya.

NAIA
Benerkan yang aku bilang!! (Nada meninggi kesal)
Kalau ada Vina itu berkeliaran di rumah ini, di sana .. di sini (sambil menghadap dan menunjuk ke beberapa arah dalam rumah) itu kan akan membuat Mas Bas dan aku merasa ngga nyaman.
Nanti kalau kita mau ke luar kamar, mau makan, mau ke kamar mandi.. ya .. (mengibaskan tangannya) mau apa aja, pokoknya ngga enak lah..

Arya memandang Naia tak mengerti.

ARYA
            Ngga nyaman gimana sih Nai? (heran dan menahan kesal)
Vina itu udah tinggal di sini jauh sebelum ada Baskoro. Dan selama ini kamu ngga pernah merasa ngga nyaman kan?

Naia melipat tangannya di dada menahan kesal karena Arya tak juga mengerti ucapannya.

NAIA
Ya lain lah Yak! (diam sebentar karena kehabisan alasan, seperti berpikir sejenak)
Apalagi.. kamu dan Vina itu kan belum resmi menikah, masa sudah tinggal satu rumah?? (Nada menghina merendahkan)
Baru juga di lamar… (nada mengejek)

Arya terkesiap tak menyangka nada suara seperti itu keluar dari mulut Naia. Arya memandang Naia tak percaya. Naia memandang ke arah lain dengan pandangan licik, seperti merendahkan Vina dan Arya.

CUT TO

Baskoro dalam kamarnya sedang berbaring di ranjang sambil tertawa senang mendengarkan keributan di luar.

CUT BACK TO

ARYA
Kamu ngga salah ngomong Nai? (Nada meninggi) Atau aku yang salah denger?

Naia memandang Arya tak senang dibantah. Arya juga memandang Naia tak terima dengan ucapan Naia yang merendahkan Vina.

NAIA
          Ha? Apa maksudmu ngomong kaya gitu? (bertolak pinggang garang menatap Arya)

CUT TO

Vina duduk di tepi ranjangnya dengan sedih. Air mata bercucuran, terisak pelan. Tangisnya di tahan supaya tak terdengar keluar.

CUT BACK TO

Arya bangkit berdiri dengan marah.


ARYA
            Vina itu calon istriku Nai!!

NAIA
            Iya.. aku juga tahu. (cuek) Ca-lon is-tri-mu…(mengeja dengan nada di tekan)
Belum beneran jadi istri kan??

ARYA
Apa maksud kamu belum beneran? Seharusnya… (kesal) sekarang ini Aku dan Vina sudah resmi menikah, kalau bukan karena kamu sendiri yang meminta untuk membatalkan pesta kita…

Naia mendelik marah dan semakin maju mendekati Arya.

NAIA
O jadi gitu ya…  ternyata kamu sebenernya ngga terima?? (berhenti sejenak dan menggebrak meja)
Heh?? Ngga terima karena pernikahan kamu diundur tahun depan… Iya?? (Bentak keras)

CUT TO

Vina terkesiap mendengar suara meja makan di gebrak.

CUT TO

ARYA
Bukan aku ngga terima karena pernikahan kami diundur Nai. Tapi cara kamu ngomong itu..

NAIA (memotong)
Kenapa… kenapa memangnya dengan caraku ngomong…

ARYA
Kamu ngomong seakan aku dan Vina bukan apa-apa mu! Seakan Vina itu cewek apaan tinggal serumah dengan laki-laki tanpa nikah.. kamu..

NAIA(memotong)
Tapi benerkan!!! (bertolak pinggang menantang)
 Apa kata tetangga, kata orang-orang.. kalau ngeliat Vina tinggal di rumah ini?? Apa otak kamu ngga mikir??!! (menudingkan telunjuk ke kepalanya sendiri dengan keras, geram)

CUT TO

Vina berdiri di balik pintu. Tangannya menggegam handle pintu ragu.

Dalam hati Vinara:
Aduhh.. gimana nih.. lebih baik aku keluar?? Atau di sini saja ya.. gimana nih..

Vina kembali duduk di tepi ranjang.

CUT BACK TO

ARYA
Nai kamu?? (tercekat)
(Arya mengernyitkan kening, berbalik sambil mengusap kepalanya bingung tak mengerti dengan maksud Naia)
Dulu kan kamu sendiri yang meminta Vina pindah ke rumah ini.
Juga Bapak dan Ibu… Kenapa sekarang mendadak berubah pikiran?

Berbalik menghadap Naia dengan heran.

NAIA
            (terkejut tak menyangka Arya akan berkata demikian)
            Kamu ini… (bingung terbata hendak bicara apa lagi)
            Susah banget di ajak ngomong!! (kesal) Ngga ngerti-ngerti juga.. (bergumam kesal)
Terserah lah kamu mau bilang apa!!(berhenti sejenak)
Tapi ini rumah ku!! Dan aku ngga suka ada Vina di rumah ini!!

CU      Arya menatap terkejut
CU      Naia menatap marah

Naia berbalik meninggalkan Arya yang terpana memandangnya.
Baskoro sudah berdiri di dekat mereka. Entah sejak kapan tak ada yang menyadarinya. Naia memandang Bas sejenak, lalu mendengus kesal dan masuk ke kamarnya.
Naia menggebrak dan membanting pintu kamarnya keras.
Bas dan Arya memandang Naia dengan tatapan prihatin.
Baskoro mendekati Arya yang masih bertolak pinggang sambil menggelengkan kepala menahan kesal.
Arya duduk kembali dengan kesal. Baskoro duduk di dekatnya.

BASKORO
(menghela napas berusaha tampak sabar)
Sabar ya Yak… Maaf in Naia… ‘mood’ nya lagi ngga baik malam ini (menoleh menatap pintu kamarnya yang tertutup, lalu kembali menatap Arya), mungkin kecapekan karena baru aja pulang tadi sore.
Tadinya juga dia masih pengen memperpanjang liburan bulan madu kami, tapi ternyata hotelnya ngga bisa di perpanjang, karena sudah di booking orang lain, makanya dia mungkin … agak …sedikit kesel aja… (tersenyum perhatian)
Nanti  aku coba bicarakan sama Nai… okey?

Baskoro berdiri dan menepuk-nepuk bahu Arya. Arya menangkupkan kedua tangannya ke wajahnya sambil menghela napas berat.

CUT TO
Commercial Break

8. EXT. TAMAN. SIANG
VINARA, ARYA

Vina dan Arya berjalan bersisian di taman. Mereka mendekati bangku taman yang kosong dan duduk di sana.
Wajah Arya tampak kusut kesal, Vina mengelus lengannya menenangkan sambil tersenyum.

VINARA
Ngga papa kok Yak.. Bener… (sabar)
Lagian inget ngga.. minggu-minggu lalu sebelum Kak Nai menikah aku sudah pernah bilang kan, kalau sebenernya perusahaanku akan pindah ke gedung yang lebih besar.
Lumayan jauh si dari sini, lebih deket malah sama kontrakanku yang lama…

Arya melirik menatap Vina yang memandanginya tenang.

VINARA
Ada benarnya juga perkataan Kak Nai, mungkin sekarang kan sudah berkeluarga, jadi ya beda.. mungkin mereka lebih butuh privasi… (mengedik kan bahu sambil tersenyum) dan ngerasa ngga enak aja kalo aku setiap kali ada di sana.

Arya mendengus dan merubah posisi duduknya menghadap Vina.

ARYA
Nggak enak gimana Vin.. aku ngga ngerti aja kenapa orang bisa berubah sokap dan pikiran setelah menikah.. Selama ini ngga pernah ada masalah kan??

VINARA
Ya orang kan bisa aja berubah pikiran, dan kita ngga boleh maksa.. (sabar)
Aku rasa ini yang terbaik kok… aku juga bisa lebih irit ongkos ke kantor ..

ARYA(memotong)
Tapi aku kan jadi semakin jarang ketemu kamu…

Vina tertawa kecil melihat Arya tampak merajuk.

ARYA
            Kamu lho diajak ngomong serius malah ketawa. (kesal)
            Sebenernya yang bikin aku ngga terima.. (diam sejenak)
            Kok bisa-bisanya dia begitu perhitungan sama aku dan kamu.
Seakan rumah itu rumahnya sendiri aja, apa dia lupa, kalau aku juga ikut membayar sebagian cicilan rumah itu, biaya renovasi, bahkan sampai ke perabot, gorden, tv dan semua barang-barang yang kecil seperti piring sendok… siapa yang beli… (kesal menggerutu, Vina mengelus bahu Arya menenangkan)
Rumah itu juga rumahku Vin! Dan berarti rumahmu juga… dia ngga punya hak sama sekali berkata seperti itu sama kamu.. (gemetar kesal)

VINARA
Duh.. jangan ngomong kaya gitu dong Yak.. ngga baik hitung-hitungan sama saudara, Inget lho Kak Nai itu kakak kandung kamu sendiri…

Arya menggeleng kesal.

ARYA  
Apa dia inget kalau aku adik kandungnya sewaktu dia ngomong kaya gitu sama    aku!!

VINARA
Mungkin waktu itu dia lagi kesel Yak.
Bener kata Bas….
Udahlah kita ngalah aja, ngga ada salahnya kan.
Kebetulan posisi dan penghasilanku di kantor juga lumayan, dan sayang kalau mesti di lepas hanya karena lokasinya jah dari rumah..  Jadi anggap saja emang udah jalannya mesti begini.. Sementara aku bisa pindah ke daerah kontrakanku yang lama. (berhenti sejenak)
Aku udah ke sana tadi dan kebetulan ada satu paviliun yang kosong, harganya juga ngga terlalu mahal. Aku bisa pindah kapan aja… secepatnya… (tersenyum getir)

Arya menatap Vina ragu. Arya merangkul Vina dan keduanya diam sambil duduk memandangi taman.

CUT TO
Commercial Break

9. INT. KONTRAKAN VINARA. SIANG
VINARA, IBU PRODJO, ARYA, FIGURAN

Vinara sedang merapikan barang-barang yang sebagian masih dalam kardus. Rumah sederhana, tak terlalu bagus.
Ruang depan kecil yang cukup rapi dan bersih, tak banyak barang karena sebagian besar masih bertumpuk dalam kardus.
Sebelah tangan Vina memegang telepon genggam dan sebelah lagi tampak membereskan barang. Dari jendela terlihat Arya sedang menurunkan sebuah koper dan beberapa dus kecil. Dua orang laki-laki muda  (karyawan Arya) tampak membantu Arya mengangkat barang ke dalam rumah.

VINARA        
            Ngga ada apa-apa kok Bu..

Intercut

Ibu Prodjo dari seberang telepon, sambil berdiri di teras rumahnya.

IBU PRODJO
Kalo ngga ada apa-apa kenapa mendadak pindah? Kan sudah enak tinggal saja sama Arya, Toh kalian sebentar lagi juga menikah dan sudah seharusnya kamu ikut sama suami kamu.  Nantinya juga kamu akan balik lagi ke rumah Arya kan?
Apa ngga repot-repot pindah terus?

CUT BACK TO
Vinara tersenyum. Arya dan 2 karyawannya mengangkat springbed memasuki rumah menuju ke kamar tidur. Vina bergegas membantu memegangkan pintu agar lebih lebar terbuka.

VINARA
Ngga mendadak kok Bu. Sebenernya sudah sejak sebelum Ibu kemari saya sudah bicara sama Arya. Soalnya kalau dari sini kan jauh lebih dekat menuju kantor Vina yang baru.
Ngga papa kok Bu. Nanti masalah setelah menikah… di lihat saja nanti Bu bagaimana terserah Arya saja..

Bu Prodjo menghela napas khawatir.

IBU PRODJO
            Sungguh Nak? Ngga ada masalah? (ragu)
Kamu ngga bertengkar dengan Arya?

VINARA
            Sungguh Bu.. ngga ada apa-apa kok. Ibu jangan khawatir…

IBU PRODJO
Ehm… begini saja. Lusa Ibu akan ke Jakarta, Ibu mau lihat rumah kamu yang baru seperti apa. Nanti kita bicarakan saja di sana. Ya?

VINARA
Tapi Bu..??

IBU PRODJO
Sudah sudah… nanti Ibu bicarakan dulu sama Bapak. Sudah dulu ya Sayang.. sampaikan salam Ibu untuk Arya.

VINARA
Iya Bu…

Vinara menutup telepon dan memandang Arya yang meluruskan pinggangnya yang pegal.

ARYA 
            Terimakasih ya (tersenyum pada 2 karyawannya yang sudah selesai berberes)
            Ga papa yang lain nanti biar saya selesaikan sendiri, kalian langsung ke kafe saja..

FIGURAN     
            Baik Pak…

VINARA        
            Terimakasih ya Mas…

Dua karyawan Arya pergi. Vina menutup pintu. Arya memandang sekeliling. Tak banyak lagi yang perlu dirapikan.

ARYA 
Ada apa? (memandang Vina yang menatapnya sambil memegang telepon genggam)

VINARA
Ehm.. anu… (ragu) Ibu mau datang Yak…

Arya mengernyitkan kening.

ARYA 
            Kapan?

VINARA
            Mungkin lusa.

ARYA 
            Ya udah.. biar aja dia tahu…

VINARA
            Duh.. ngga papa Yak? Kak Nai kan lagi bad mood gitu…

ARYA 
Ya biarin aja Ibu tahu masalah yang sebenernya. Buat apa kamu tutup-tutupin. (sedikit kesal sambil tetap memandangi kardus kardus dan ruangan)

VINARA
            Bukannya di tutupin, Cuma ngga mau masalahnya jadi melebar aja…

ARYA 
            Udah lah biarin aja. (Arya menghampiri tumpukan kardus)
            Ini mau di taru dimana?

Arya membuka kardus. Vina menghampiri
Arya dan Vina kembali sibuk menata ruangan dan barang-barang.

CUT TO

10. INT. RUMAH CINDY. SIANG
CINDY, PIERE, FIGURAN

Cindy menuruni tangga dengan pakaian rapi dan wajah gembira.
Piere sedang membaca surat kabar di ruang tengah, menengadah dan memandangi Cindy.
Sesampainya Cindy di tangga paling bawah Piere menegurnya.

PIERE
Where are you going?!! (nada tak senang)

Cindy memandang Piere sambil tersenyum.

CINDY
            Lunch?? (hati-hati)

PIERE
            Sama siapa? (menyelidik)

CINDY
            (menghela napas) Dani…

Piere menegakkan duduknya yang semula bersandar di sofa, lalu meletakkan koran di meja di depannya dan memandang Cindy tak senang.

PIERE
            Apa Daddy ngga salah dengar? Dani?

Cindy tampak gelisah memainkan tali tas tangan-nya yang tergantung di bahu.

CINDY
            What’s the problem?(mengedikkan bahu)

PIERE
Kamu jangan lupa kalau sekarang kamu sudah kembali di Indonesia. Mana bisa kamu sembarangan pergi berdua dengan laki-laki?

CINDY
Daddy…(merajuk) Dani kan bukan orang lain..
Kita udah biasa main sama-sama sejak kecil… ngga ada salahnya kan? Cindy bosen banget nih di rumah…

PIERE
(menghela napas) Sekarang kamu kan sudah dewasa, ngga bisa lagi sembarangan main kesana kesini. Kalau kamu bosan di rumah, Mommy kan sudah minta kamu datang ke kantor dan membantunya… lagian di kantor kamu bisa lebih sering ketemu Ian tunangan kamu…

CINDY
Daddy gimana sih.. Cindy kan di Amerika kuliahnya design grafis, masa di sini di suruh ngurusin accounting… kerja di tempat lain juga ngga boleh.. (merajuk)
Lagian Cindy ketemu Dani juga untuk membicarakan masalah Ian kok…
(Cindy memandang arloji di pergelangan tangannya)
Udah ya.. I’m late…

Cindy maju dan mencium pipi Piere. Piere menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti. Cindy berjalan menuju keluar.

CINDY
            Bi…. (berteriak) bukain pintu ya…

Seorang pelayan datang berlari-lari dan mengikuti Cindy.

CUT TO

11. INT. KAFE. SIANG
CINDY, DANI, FIGURAN

Cindy masuk ke ruangan kafe dan memandang ke seluruh ruangan. Dani yang duduk di sudut melambaikan tangan memanggilnya. Cindy tersenyum dan menghampiri meja Dani lalu duduk di hadapannya.

CINDY
Udah lama ya?

DANI
Ngga juga… mau pesen apa?

Seorang pelayan datang membawa buku menu dan menyodorkan ke Cindy.

PELAYAN
            Silahkan..

CINDY
            Terimakasih… (memandang sekilas ke menu)
           One Salad…. And… orange juice please… (mengembalikan buku menu ke pelayan)

Pelayan mencatat dan mengulang membaca pesanan Cindy lalu pergi.

CINDY
            So… (mengedikkan bahu) gimana…

DANI
            Sorry Cin… (menunjukkan wajah tak enak) aku udah berusaha tapi..

CINDY
            Dia ngga mau ya? (sedih dan kecewa)

Dani menatapnya prihatin.

CINDY
            (tersenyum) Tapi ngga papa… selama ini kamu juga tahu sendirikan…

Pelayan datang mengantarkan pesanan.

CINDY
            Terimakasih (menatap pelayan, tersenyum, lalu kembali ke Dani)
Walaupun Ian selalu berganti-ganti perempuan.. ngga pernah ada yang lebih lama dari 1 atau 2 minggu… dan semuanya ngga pernah ada yang serius.. just for fun.. (meminum jusnya)

DANI
Ya tapi mau sampai kapan Cin?? Karir Ian sudah bagus, dan berita pertunangan kalian sewaktu di Amerika juga ngga berpengaruh dengan popularitasnya.. aku rasa kalau sekarang pertunangan itu benar-benar mau diresmikan pun ngga akan ada masalah..

CINDY
Kalau memang Ian ngga mau ada pesta, yang penting kan semua pihak sudah tahu bahwa kami sudah bertunangan, dan aku rasa itu udah cukup. (menerawang ke luar, lalu tersenyum memandang Dani)
Lagian aku dan Ian sekarang masih 20 tahun, rasanya kami juga kepengen kok kawin muda (tersenyum).. dengan bertambahnya waktu, mungkin kita akan lebih siap nantinya.. yah.. kita jalanin aja..

Dani mengangkat alis dan tersenyum.

LS        Cindy dan Dani makan sambil ngobrol.

CUT TO
Commercial Break

12. EXT/INT. RUMAH KONTRAKAN VINARA. SIANG
VINARA, BU PRODJO, FIGURAN

Bu Prodjo turun dari mobil di dampingi Vinara. Kompleks kontrakan Vinara terlihat sempit. Beberapa tetangga memandangi ingin tahu.
Bu Prodjo tersenyum canggung dan memandang ke sekeliling yang tampak agak kotor, panas dan tak rapi.
Vinara membuka pintu dan mempersilakannya masuk.
Bu Prodjo kembali mengamati ruangan, mengangguk-angguk sambil memeriksa seluruh rumah. Walaupu  bersih dan rapi, ruangan kecil yang tampak tua itu tak memuaskan Bu Prodjo. Tampak dari ekspresi mukanya yang memandang prihatin. Vinara tampak tegang.
Bu Prodjo menuju kamar mandi, walau rapi tapi karena kamar mandi sederhana belum berkeramik hanya dari batu semen yang sudah tak rata karena aus air, jadi tampak cukup mengerikan bagi Bu Prodjo yang kaya dan sangat ‘bersih’.

 IBU PRODJO
Maaf ya Sayang… bukannya Ibu mau… (ragu menatap Vinara)
Apa ngga ada tempat lain yang lebih… 
(kembali pandangannya menyapu ruangan)
Layak?? (mengintip ke kamar mandi) Mungkin kalau kamar mandinya bisa di keramik dan di cat, (lalu menatap dinding dan langit-langit)
Apa perlu di perbaiki sedikit-sedikit…

VINARA
Ngga apa kok Bu, begini juga sudah cukup…

BU PRODJO 
Kenapa kamu ngga memilih kontrakan kamu yang lama… sepertinya lebih bagus kan?

VINARA
Iya Bu…  tapi kebetulan sekarang sedang penuh, dan ini lokasi terdekat dari kantor yang masih kosong…

BU PRODJO
Apa aman? (menatap dinding kamar mandi yang setengahnya terbuka hanya dengan kawat dan papan) Kalau kamu mesti tinggal sendirian?

VINARA
            Aman kok Bu… tetangganya juga baik-baik dan ramah…

BU PRODJO
(menghela napas) Begini ya Vin… Ibu sudah menganggap kamu seperti anak Ibu sendiri, kalau memang ada permasalahan… bicaralah sama Ibu (sambil berjalan ke arah depan dan duduk di kursi)

VINARA
(duduk di kursi di dekatnya) Sungguh Bu ngga ada apa-apa kok..
Memang Vina yang mau pindah ke sini. Soalnya setelah kantornya pindah, kalau berangkat jadi mesti pagi-pagi banget dan kalau kebetulan lembur juga pulangnya jadi malem banget karena jauh.
Lumayan kan di sini bisa irit waktu dan biayanya juga bisa lebih hemat.

BU PRODJO
Lho… jangan dipikir hematnya.. ngga apa mahalan sedikit yang penting kan bersih
dan aman…

VINARA
Buat apa Bu kontrak mahal-mahal, orang Vina Cuma numpang tidur aja (tertawa kecil) pagi pergi, pulang malam langsung tidur.. kan jarang di rumah..

BU PRODJO
Aman rumahnya di tinggalin kosong begitu? (cemas)

VINARA
Sudah Ibu jangan khawatir.. ngga papa kok Bu… (bangkit berdiri)
Ibu mau minum?

Vina mengambil gelas dan menuangkan air putih.
Bu Prodjo masih memandangi sekeliling.

CUT TO

13. EXT. TERAS RUMAH NAIA. SORE
BU PRODJO, NAIA, BAS, MBOK, FIGURAN

Ibu Prodjo berjalan keluar di iringi Baskoro dan Naia. Mbok membawakan tasnya menuju mobil. Sopir menerima tas dan memasukkan ke bagasi. Bu Prodjo siap pergi.

NAIA
            Ibu kok buru-buru banget, baru aja dateng langsung pulang…

IBU PRODJO
Kamu kan tahu Ibu ngga bisa ninggalin perkebunan lama-lama… (menghela napas sedih) kalau ngga penting juga Ibu ngga kesini…

Baskoro tersenyum, (sekilas tampak ekspresi ‘tuh kan’). Naia terdiam tak suka.

IBU PRODJO
Kamu belum lihat kontrakannya Vina, Nai?

NAIA
            (Merengut kesal) Belum Bu, ngga ada waktu (ketus)

IBU PRODJO
Cobalah kamu bicara sama dia. Menurut Ibu ngga baik dia tinggal sendirian di sana. Ibu ngga yakin lingkungannya aman. Tempatnya juga ... seperti itu.. (prihatin)

Bu Prodjo masuk ke mobil.

BASKORO
Iya Bu, nanti coba kami bicarakan…

Bu Prodjo melambaikan tangan dan mobil berlalu. Baskoro melambai sambil tersenyum. Naia merengut kesal dan masuk ke rumah dengan menahan marah.
Mbok memandang ekspresi Naia dengan sedih dan pergi ke belakang.

CUT TO

14. INT. RUMAH NAIA. MALAM
NAIA, ARYA, BASKORO, MBOK

Naia berjalan bolak balik dengan kesal, sesekali duduk dengan marah lalu berdiri lagi dan berjalan bolak-balik. Arya duduk di sofa dengan ekspresi marah.

NAIA
Kamu senangkan.. (nada marah, geram) sekarang Ibu jadi menyalahkan aku…

Arya diam saja tak menjawab hanya memandangi Naia kesal.
Naia masih saja berjalan bolak balik sambil memandangi Arya dengan marah.

NAIA
Sengaja kan kalian laporan sama Ibu supaya Ibu benci sama aku..

ARYA
Laporan apa? (nada meninggi)

NAIA
Jangan pura-pura ngga tahu!! Kalau ngga, mana mungkin Ibu datang hanya khusus melihat kontrakannya si Vina!!

ARYA
Apa salahnya Ibu datang lihat kontrakan Vina?

NAIA
Kamu tu ya!!  (berdiri menghadap Arya dengan sangat marah)
Kalian sengaja kan, ambil kontrakan jelek dan kumuh gitu supaya Ibu menyalahkan aku dan Bas!!

Arya berdiri.

ARYA
Aku bener-bener ngga ngerti Nai… kamu ini baru cuci otak dimana (menuding kepalanya sendiri dengan geram) kenapa kamu selalu menyalahkan aku dan Vina?

NAIA
Ya karena kamu tu orang yang ngga tahu diri!! Ngerti ngga!!

ARYA
Ngga tahu diri? Apa maksud kamu?

NAIA
Pake nanya lagi?! Pikir aja sendiri…

Naia berjalan bolak balik lagi sambil bertolak pinggang.

ARYA
            Nai… kamu tu…??(menahan kesal)

NAIA
Kenapa? Apa aku salah ngomong? Bener kan kamu itu adik yang ngga tahu balas budi!! Kalau bukan karena aku… (diam sejenak dan mencibir) sudah jadi apa kamu ini… mana bisa seperti sekarang, makan tidur gratis di rumah orang…

ARYA
Apa kamu bilang?

Baskoro keluar dari kamar dan memandangi mereka yang bertengkar dengan wajah prihatin dan perhatian. Mbok juga muncul dan mendekat.

NAIA
Ngga usah sok budeg deh!! Aku bilang (nada mengeja di tekan) kamu… bisanya… Cuma makan tidur gratis di rumah orang… dan ngga bisa balas budi… tahu… kualat kamu nanti liat aja…

ARYA
Apa?? Makan tidur gratis?? Dirumah ini?

NAIA
Iya!! (mendongakkan wajah menantang) Ini rumahku, sudah untung kamu bisa numpang disini selama ini. Mana pernah kamu sekedar bilang terimakasih sama aku… malahan…

ARYA
Numpang kamu bilang Nai?? (diam sejenak)
Apa kamu lupa kalau sebagian dari cicilan rumah ini dulu juga aku yang nombokin…

NAIA
OO… jadi kamu mau hitung-hitungan sama aku??

Naia menendangi kursi-kursi makan yang ada di dekatnya. Baskoro terkesiap dan berjalan mendekat. Mbok berteriak sambil mengurut dada.

MBOK
            Astafirullah Alazim… Non…

ARYA
Kamu yang mulai duluan!! (menuding Naia)

NAIA
Berapa?!! (bentak) Berapa??!! Yang sudah kamu itu bayarin berapa??!!
Hehh!! Aku ganti… (melambaikan tangan, sebelahnya bertolak pinggang) aku ganti berlipat-lipat… tahu…
Berapa tahun kamu ikut di sini.. apa kamu ngga hitung apa aja yang udah aku keluarin buat kamu?

Baskoro mendekat dan memegangi bahu Naia.

ARYA
Apa? Apa yang sudah kamu keluarin? Setiap bulan aku juga bayar untuk kebutuhan air, listrik, telepon, belanja si Mbok…

NAIA
Oo.. jadi kamu merasa pahlawan.. udah bayar ini itu… (menantang)
Kamu pikir kamu tu dapet duit dari mana?? Heh?? Dari siapa?? Pake dong otak kamu!! Jangan Cuma bisa mikir kebaikanmu doang!!

BASKORO
Sudah.. sudah.. sabar…

ARYA
Apa ngga salah?? Siapa yang Cuma bisa mikir kebaikannya sendiri dan ngga bisa ngeliat kebaikan orang lain..

NAIA
Kamu nantangin ya?? Baik?? Ayo kita hitungan… siapa yang lebih berjasa dan siapa yang udah jelas-jelas ngga tahu balas budi!! Coba kamu pikir…
Kamu pertama datang ke Jakarta numpang ama siapa? Kamu kerja di mana? Tinggal di mana? Sekarang kamu seperti ini… (menunjuk Arya dari atas ke bawah) berkat siapa, sekarang kamu kerja dimana? Itu Kafe siapa? Dapet duit dari mana?? NGACA DONG!!

Arya menggelengkan kepala tak percaya dengan ucapan Naia.

ARYA
Memang, pertama aku ke Jakarta kamu yang nolongin aku..

Mbok mulai terisak memandangi kedua majikannya dengan sedih. Baskoro tampak (pura-pura) bingung dan sedih juga karena pertengkaran itu.

NAIA
Nah… (menunjuk dengan menang)

ARYA
Tapi aku juga ngga diem aja kan, aku kerja sana sini ngumpulin uang untuk keperluan kita, melunasi rumah, modal kafe… 

NAIA
O.. jadi kamu ngga rela, bekerja untuk keperluan kamu sendiri ngga rela..??
Dasaarrr…!!

Naia menyapu gelas yang ada di meja makan dengan kesal lalu menggebrak meja.
Mbok kembali berteriak bingung.

ARYA
Siapa yang ngga rela Nai?? Aku atau kamu?

NAIA
Kamu ini susah banget diajak ngomong ya?? Emang dasarnya ngga tahu balas budi, di jelasin juga… ngga sadar-sadar juga.. (mendengus lalu mencibir)

ARYA
Kamu ini kenapa sih Nai? Apa maumu?

NAIA
Kenapa emangnya?

ARYA
Sekarang aku tanya.. apa maumu (bentak keras)

MBOK
            Sudah Den.. sudah … Inget.. sama saudara sendiri Den… jangan bertengkar..

NAIA
Oo.. jadi sekarang kamu mulai ngelawan ya… mau nantangin aku… (dada Nai turun naik menahan amarah) dasar kacang lupa sama kulit…

BASKORO
Sudah sayang… sabar ya.. kan bisa dibicarakan baik-baik.. ada apa sebenarnya..

Arya memandangi Baskoro dan Mbok bergantian.

ARYA
Apa?!! Mau kamu apa sekarang sebenernya Nai?? Kamu ngga rela aku tinggal di sini?? (diam sejenak seperti berpikir, Naia diam saja)
Baik… kalau memang kamu ngga suka aku tinggal di sini… aku akan pergi dari sini…

NAIA
O bagus… (tertawa sengit) memang sudah semestinya kamu tahu diri untuk segera angkat kaki dari rumah ini.. dasar ngga tahu malu…

ARYA
Ok… semoga  kamu puas… (mengangguk-angguk geram)

Arya berbalik mengambil kunci mobil dan berjalan keluar.
Mbok menangis sedih dan mengejar Arya. Naia menendang kursi dan berlalu menuju kamarnya dengan kesal. Baskoro memandang Arya lalu menyusul Naia.

MBOK
Den… Den Arya mau ke mana… 
(terisak) sabar Den… kenapa bisa begini duh Gusti…

ARYA(sedih)
Maaf Mbok.. tapi aku sudah ngga tahan lagi dengan Nai, setiap hari kerjanya hanya ngamuk dan maki-maki aku… ngga di rumah ngga di kantor… dia pikir aku ini apa…

MBOK
Sabar Den… (mencoba menahan) mungkin Non Nai sedang ada masalah… (diam sejenak seperti berpikir) atau jangan-jangan sedang hamil muda ya?? Soalnya kan baru aja pulang dari bulan madu.. (seperti yakin kalau Nai hamil) biasanya kalau lagi ngidam memang suka aneh-aneh Den…

ARYA
Sudah lah Mbok… (diam sejenak menghela napas, wajahnya sedih dan matanya berkaca-kaca) aku… juga butuh waktu… 
Aku pergi dulu ya… jaga Nai baik-baik… (mulai menangis)

Arya bergegas masuk ke mobil dan mobil berlalu. Air mata mengalir dan terus di sekanya berkali-kali. Mbok memandangi dengan sedih.

LS        Mobil Arya menjauh dalam kegelapan malam


CUT TO 




END EPS.8



Credit Title
THEME SONG 4

No comments:

Post a Comment