1. INT.APARTEMEN SUSAN.PAGI
ARYA, SUSAN
Arya dan Susan masih tampak tidur sambil berpelukan. Secercah cahaya dari belahan tirai yang sedikit terbuka masuk ke kamar dan mengenai wajah Arya.
Arya mengerjapkan mata dan menggeliat meregangkan badan sambil tersenyum.
Setelah matanya benar-benar terbuka Arya tampak terkejut melihat suasana yang bukan kamarnya.
ARYA
Uh.. dimana ini.. (mengantuk)
Arya menoleh ke perempuan dalam pelukannya.
ARYA
Vin…?? (setengah sadar)
Susan menggeliat dan mengangkat wajahnya. Arya terkejut dan meloncat bangun. Susan juga terkejut.
ARYA
Ap.. ada apa ini…?? Sus.. susan.. kamu…
Arya berdiri di sebelah ranjang dengan heran dan gugup memandang Susan yang hanya mengenakan kimono. Arya memandangi tubuhnya sendiri yang setengah terbuka dan tampak sangat ketakutan.
ARYA
Susan? Kita..??
Susan duduk dan meregangkan badan santai, lalu tersenyum manis memandang Arya.
SUSAN
Duh.. Sorry ya aku kesiangan… jadi lupa deh bangunin kamu…
Arya meraih kemejanya yang tergeletak dikursi dan dengan asal-asalan memakainya cepat-cepat sambil memandang ke sekeliling kamar bingung.
Arya mencari ponsel dan arlojinya. Susan melihat Arya yang melihat ke arah ponsel. Susan mengambil ponsel yang ada di meja dekatnya dan mengulurkan ke Arya yang sedang mengambil arloji dan memakainya.
ARYA
Jam sembilan? Hah… kemarin?
SUSAN
Ini… (mengulurkan ponsel)
ARYA
Kemarin kita?
Susan menatap Arya mesra.
SUSAN
Iya sayang… kenapa? Kamu masih ngantuk ya? Jadi bingung gitu?
Susan berdiri dan merapikan pakaian Arya lalu memeluk pinggang Arya mesra.
SUSAN
Aku seneng banget kamu bilang kamu sayang sama aku…
(meletakkan kepala di dada Arya)
Kamu ngga bohong kan? Kamu ngga Cuma mau manfaatin aku aja kan?
Kamu pasti tanggung jawab kan?
Arya terdiam shock.
SUSAN
Ya udah, sana katanya kesiangan, kamu mau mandi dulu ngga?
Arya hanya menggeleng bingung. Berjalan bingung keluar.
Susan menarik dan mencium pipinya mesra.
SUSAN
Dah sayang… nanti malem kamu kesini lagi kan?
Arya mengangguk bingung dan pergi keluar.
Susan menutup pintu dan menyandarkan badannya di balik pintu yang tertutup dan tersenyum senang.
CUT TO
Arya berdiri di depan pintu apartemen Susan dengan bingung. Mengusap kepalanya dan mengacak rambutnya.
ARYA
Apa yang udah aku lakuin semalem… Kenapa aku ngga inget sama sekali?
Gobloknya kamu Arya…
CUT TO
2. INT.BUNGALOW.SIANG
IAN, DANI
Ian berdiri hilir mudik. Dani memandang heran.
IAN
Gua udah menghubungi kantor pusat Taksi yang kemarin. Untung gua sempat mencatat nomornya. (diam sejenak menghela napas)
DANI
Masalahnya elo udah nggak bisa menunggu barang 1 detik lagi kan?
Dani tertawa.
DANI
Heran Yan… lo semangat banget sih.. gua jadi penasaran, kaya cewek idaman lo itu
Bunyi telepon bungalow berdering. Ian meloncat dan mengangkatnya segera.
IAN
Halo.. iya betul.. iya.. iya Pak.. betul-betul.. eh.. (melihat catatan) 5203 betul Pak…
Kemana? Oya (mencoret-coret)oke oke.. terimakasih Pak… ya terimakasih banyak Pak.. (diam sejenak menutup telepon)
YES!!
Ian melonjak girang dan mencium kertas coretan dalam tangannya.
Dani menggeleng kepala melihat tingkah Ian.
IAN
Nih.. gua udah dapetin alamat hotelnya… mau ikut ngga?
Ian bergegas ke pintu.
DANI
He? Buru-buru amat? Tunggu ga ikut…
Dani berlari kecil mengejar Ian yang sudah melesat keluar.
CUT TO
3. EXT/INT.HOTEL.SIANG
IAN, DANI, FIGURAN
Setelah mendapat alamat hotel yang dituju VIna, Ian mendatanginya bersama Dani.
Establish Hotel
Sebuah taksi berhenti di depan lobby, dan pelayan membantu membukakan pintu.
Ian dan Dani turun dari taksi dan menuju ke resepsionis.
IAN
Selamat siang… ehm.. apa benar beberapa hari yang lalu ada rombongan yang datang dari Jakarta?
RECEPTIONIST
Maaf.. atas nama siapa ya Pak..
Beberapa petugas reception yang ada di belakang receptionist yang melayani Ian tampak berbisik-bisik mengenali Ian sebagai artis.
IAN
Eehm.. kalau itu saya kurang tahu.. tapi chek in nya sekitar 6 hari yang lalu.. dan sepertinya rombongannya sekitar (flash back melihat rombongan Vina yang banyak berbaris masuk pesawat) mungkin 30 atau 40 orang…
RECEPTIONIST
Tunggu sebentar Pak…
Receptionist dan temannya memeriksa komputer. Ian menjentik-jentikkan jari ke meja gelisah. Dani hanya diam dan senyum-senyum melihat Ian yang tegang.
RECEPTIONIST
Enam hari lalu… rombongan dari Jakarta… (melihat komputer)
O ya ada Pak.. ada dua rombongan.. satu rombongan dari klub golf…
IAN
Bukan bukan (memotong) sepertinya bukan yang itu..
RECEPTIONIST
Yang satunya… (diam sejenak memeriksa) Dari PT. Asuransi Jaya Pak… mereka mengadakan seminar di sini selama beberapa hari…
DANI
Nah .. yang itu …
Ian tersenyum lebar.
RECEPTIONIST
Tapi maaf… kalau boleh tahu ada perlu apa ya?
DANI
Oh nggak.. kami hanya..
RECEPTIONIST
Oh soalnya rombongan Asuransi Jaya baru saja check out pagi ini.
IAN
Hah? Semuanya?
RECEPTIONIST
Iya Pak semuanya sudah kembali ke Jakarta, mungkin sekitar 1jam yang lalu kami mengantar mereka ke bandara
Ian menghela napas kecewa. Dani menahan tawa.
RECEPTIONIST
Maaf… (seorang figuran mendorong reception untuk bicara)
Anda Pak… eh.. Ian ya? Ryandi?
Ian menoleh masih bingung.
RECEPTIONIST
Boleh ngga kami minta tanda tangannya…
Reception menyodorkan buku kecil dan pulpen. Ian menerimanya sambil tersenyum kecut.
CUT TO
Commercial Break
4. EXT/INT.JALANAN/MOBIL.SIANG
IAN, DANI, DARIUS
Sebuah sedan mewah membelah keramaian.
Pak Darius, sopir, berjas rapi duduk di belakang setir. Ian duduk di sebelahnya.
Dani duduk di belakang sambil memajukan badan ke bangku depan.
DANI
Maaf ya Pak.. kami jadi ngerepotin nih mesti mendadak jemput…
DARIUS
Ngga masalah Pak Dani… memang itu tugas saya.
Ian sedang membuka-buka catatan kecil sambil tersenyum senang.
IAN
Gini-gini gua cukup berbakat kan jadi detektif (tertawa kecil) Meski kemarin kita gagal ketemu cewek itu, tapi kedatangan kita ngga sia-sia. (tersenyum penuh arti sambil mengipaskan catatan ke wajahnya)
Setidaknya kita bisa dapat informasi bahwa rombongan itu adalah rombongan dari PT Asuransi Jaya, dan kantor pusat nya ada di daerah Sudirman Jakarta.
DANI
Gila lo Yan, sejak pertama kenal lo, baru pertama kalinya gua lihat lo ngejar-ngejar cewek… sampai-sampai apa aja lo lakuin buat ngejar cewek itu, dalam hitungan jam aja kita udah balik ke Jakarta. Padahal lo baru aja bilang mau memperpanjang liburan lo di sana. (diam sejenak lalu menepuk dahinya)
Aduh mati gua… Cindy…
Ian berbalik menatap Dani.
IAN
Kenapa Cindy?
DANI
Aduh lo sih semua-muanya mendadak gini…
IAN
Kenapa emangnya?
DANI
(salah tingkah) Ya.. gua bilang kita masih mau liburan di Bali.. dan aku ajak aja dia nyusul ke sana…
IAN
Ah elo juga sih keganjenan.. dikit-dikit Cindy.. dikit-dikit Cindy.. payah lo…
Dani menepuk Ian sebal lalu mengeluarkan ponselnya.
DANI
Halo Cin? He eh.. iya… ehm anu Cin.. sorry…
CUT TO
5. INT.KANTOR ARYA.SIANG
ARYA, VINARA, FIGURAN
Arya duduk di depan komputer pura-pura sibuk. Vinara duduk di depannya.
VINARA
Aku pikir kamu ada apa-apa… ngga biasanya kamu ngga angkat teleponku atau…
ARYA
Ngga papa kok… aku Cuma ketiduran aja jadi ngga denger ada telepon.. (gugup)
VINARA
Ya udah… yang penting kamu ngga papa…
Arya tersenyum kecut. Yanti dan beberapa karyawan lain lewat.
YANTI
Eh.. Mbak Vina udah pulang ya dari Bali?
VINARA
Oh iya Yan… (Vina mengambil sebuah kantong plastik di dekatnya)
Ni ada sedikit oleh-oleh…
YANTI
Wah terimakasih ya… jadi ngerepotin nih..
VINARA
Ngga papa.. Cuma jajanan aja kok..
Vina berdiri dan bersiap keluar.
VINARA
Aku langsung pulang ya.. sekalian jemput Selma di sekolahnya… (menoleh dan berpamitan pada Arya)
ARYA
Oke.. hati-hati ya…
Vina berjalan keluar.
CUT TO
6. INT.KANTOR IAN.SIANG
IAN, DANI
Dani duduk sambil memandangi Ian geli. Ian tampak senang dan sangat bersemangat.
IAN
Rombongan Asuransi Jaya… kemarin baru aja mengikuti training tambahan dan pertemuan dengan beberapa motivator dari beberapa kota. Sebagai wakil dari Jakarta, diambil beberapa agen yang berpotensi dari beberapa kantor cabang. (diam sejenak tersenyum puas)
Semuanya ada (melihat catatan) 20 orang, 12 diantaranya adalah laki-laki.
Jadi tinggal tersisa 8 orang wanita.
Dari foto polaroid yang kita punya, ada sekitar 16 orang wanita, setelah gua konfirmasikan ternyata itu adalah beberapa agen dari luar kota seperti bogor dan bandung yang berangkat bersama dari Jakarta.
Dani bertepuk tangan sambil tertawa mengejek.
DANI
Elu kaya lagi presentasi aja… (tergelak)
IAN
Siapa dulu dong… Ian… (tertawa)
DANI
Jadi… dia bukan dari Jakarta?
IAN
Kebeneran…karena dia satu-satunya agen perempuan yang ngga ada di foto, jadi itu mempermudah gua untuk memperoleh informasinya.
Ian menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi sambil menghela napas lega.
IAN
Sampai saat ini gua baru memperoleh nama dan alamat kantornya aja.
DANI
Apa perlu gua cari tambahan informasi tentang pribadinya dia? Siapa namanya?
IAN
Vinara… namanya Vinara…
Dan… ngga perlu informasi apa-apa lagi.. Itu nanti bagian gua (riang)
Dani memonyongkan mulutnya sambil mengangkat bahu.
IAN
Vinara… PT. Asuransi Jaya, Kompleks Ruko Sinar Jaya Tangerang…
(Dalam hati : ngga terlalu jauh. Masih bisa dijangkau. )
Dani menggelengkan kepala melihat kelakuan Ian.
DANI
Terus Cindy gimana?
Ian diam saja tak mendengarkan Dani.
IAN
Gua udah mengatur waktu untuk pertemuan dengan dia besok siang. Menurut informasi yang gua dapet, ada beberapa pekerja kita yang masa asuransinya hampir habis. Mungkin … bisa dipertimbangkan kerjasama dengan perusahaan dia
Dani mengangguk2 pasrah. Dia manajerial bagian artis, jadi untuk urusan perusahaan dia tidak banyak ikut campur.
Ian terlihat sangat antusias. Di pikirannya sudah terbayang apa saja yang akan dikatakannya besok.
CUT TO
Commercial Break
7. INT.RESTAURANT/MAL.SIANG
IAN, VINARA, DANI,WISNU,FIGURAN
Ian masuk bersama Dani di salah satu restaurant dalam Mal. Ian tampak gelisah.
IAN(dalam hati)
Kali ini gua ajak Dani dulu. Pertemuan pertama rasanya nggak baik terlalu buru-buru. Dan lagi Dani bisa dimintai pendapat tentang si VIna itu.
Sepanjang perjalanan dari parkir hingga kafe itu Ian sangat gelisah.
IAN
Busyet deh… bahkan waktu sidang akhir ujian pun gua nggak setegang ini, (Ian melirik Dani) jangan sampai si Dani tau. Apa komentarnya nanti. Pasti habis gua di ledekin sama dia…
Setelah menaiki tangga memutar dilihatnya Vinara bersama dengan seorang laki-laki (Wisnu) di sebelahnya. Ian sedikit kesal. Tapi dia berjalan menghampiri dengan percaya diri.
DANI
Dengan Vinara?
Dani bertanya sambil berdiri di sebelah meja tempat Vina dan Wisnu duduk.
Vina dan Wisnu berdiri.
VINARA
O, Bapak Ryandi?
Vina dan Wisnu memandangi Dani dan Ian untuk memastikan.
Dani melirik Ian. Tapi Ian hanya diam seperti kena sihir. Semua keahlian don juan nya hilang begitu saja. Ian Cuma bisa menghela napas dan memberi kode Dani untuk menjawab.
DANI
Dani Setiawan, panggil saja Dani
Dani mengulurkan tangannya menyalami Vina dan Wisnu.
DANI
Ini Bapak Ryandi (Lanjutnya memperkenalkan, menunjuk Ian)
VINARA
Vinara…, dan ini agen saya Pak Wisnu
Vinara sesekali mencuri pandang Ian yang terus lekat menatapnya tak bersuara.
VINARA(dalam hati)
Duh.. ternyata dia lagi… semoga kali ini dia ngga ngerjain aku…
WISNU
Silakan…
Mereka duduk kembali.
LS Tampak membahas sesuatu dengan serius
CUT TO theme song 15 Manja – Ada Band
Kantor Vina
Vina sedang mengetik di komputernya, telepon di sebelahnya berdering. Vina mengangkatnya.
IAN
Hallo Vina?
CUT TO
Vina sedang mem-foto kopi beberapa berkas. Opie datang menghampiri sambil tersenyum menggoda.
OPIE
Telepon tuh…
Vina mengernyitkan kening.
VINARA
Siapa?
OPIE
Siapa lagi? (tertawa)
Vina menuju meja terdekat dan mengangkat telepon hunting-nya.
VINARA
Hallo?
IAN
Hai Vina?
CUT TO
Restaurant taman
Ian duduk sendiri dengan tegang. Dari kejauhan datang Vina bersama Opie dengan beberapa berkas di pelukannya.
IAN
Heh.. kenapa sih selalu ajak orang lain?(menggerutu)
CUT TO
Coffe shop
Ian menjentikkan jari di meja tak sabar. Vina datang bersama Wisnu dan melambai padanya.
IAN
Hem.. dasar ngga bisa liat orang seneng… (pura-pura tertawa sebal)
CUT TO
Rumah Vina
Vina sedang di dapur, Selma berdiri di dekatnya. Ponsel Vina berdering.
VINARA
Hallo?
IAN
Hallo? Vina?
Wajah Vina tampak agak malas menanggapi.
CUT TO
8. INT.KANTOR VINARA.SIANG
VINARA, OPIE, FIGURAN
Vina berdiri sambil merapikan berkasnya.
Opie datang menghampiri sambil senyum-senyum.
OPIE
Ketemu dia lagi?
VINARA
Iya.. (menghela napas) Aku jadi ngerasa.. jangan-jangan dia Cuma mau ngerjain aku aja…
OPIE
Tapi dia udah ambil beberapa macam polis kan?
VINARA
Ya iya sih.. tapi kenapa juga ngga sekalian ngomonginnya… sebentar ganti ini, sebentar mau itu.. Kan jadi repot juga.. dua bulan ini bisa di bilang aku Cuma ngurusin dia aja kesana kemari…
OPIE
(tertawa) Ada tiga kemungkinan…
Vina berjalan pelan keluar ruangan. Opie mengikuti dan berjalan di sebelahnya.
VINARA
Apa-an?
OPIE
Satu (menjentikkan jari) Pak Ian itu terlalu sibuk sama kegiatannya.. tau dong artis kaya dia, makanya kalau pas kebetulan dia inget dia butuh apa langsung aja dia baru hubungin kamu dan ngga berpikir panjang tentang yang lain… baru kapan lagi dia kepikir soal penawaran kamu yang lainnya nah dia baru hubungin kamu lagi…
Vina mengernyitkan kening tak mengerti.
VINARA
Masa sampai segitunya… kamu ngga sadar hampir tiap hari dia minta ketemu bahas ini itu.. dan ganti ini ganti itu..
OPIE
Ehm.. kalau soal itu nomor dua.. (jari 2)
Dia adalah orang yang super plin plan.. dan ngga bisa menentukan pilihan…
VINARA
Nah.. kalau yang ini aku percaya (tertawa)
OPIE
Tapi aku rasa… aku lebih percaya yang ketiga deh..
VINARA
Apa lagi?
OPIE
Dia ada hati sama kamu.. jadi dia cari alasan apa aja supaya bisa telepon dan ketemu sama kamu (terbahak)
VINARA
Ah apa-an sih kamu (memukul bahu Opie) Inget umur nek.. udah punya buntut juga, siapa yang mau…
OPIE
Eh.. jangan bilang gitu… kamu kan cantik… pinter.. (tertawa) bisa aja kan dia naksir kamu..
VINARA
Jangan macem-macem ah… kalau kedengeran Arya, bisa-bisa surat ijin usahaku dicabut sama dia..
Vina dan Opie tertawa keras. Mereka sdah sampai di depan teras kantor.
VINARA
Kamu beneran ngga bisa nemenin aku kali ini?
OPIE
Ngga bisa hari ini aku udah ada janji…Kalau ngga mana mungkin aku nolak ketemu klien ganteng kaya Pak Ian…
VINARA
Kalau ngga karena polis yang dia ambil gede, aku juga agak males nih kesana, berat diongkos (diam sejenak) tiap hari mesti naek taksi ketemu dia ke sana ke mari..
OPIE
(tertawa) Sekali-sekali kasi kesempatan dia berdua-an sama kamu deh..
VINARA
Ah kamu Pi… bisa aja.. udah ya.. aku jalan dulu…
OPIE
Good luck ya…
Vinara mencegat taksi yang lewat dan menaikinya. Membuka jendela dan melambai pada Opie. Taksi menjauh.
CUT TO
9. INT.TAKSI.SORE
VINARA, ARYA
Telepon Vina berdering. Vina mengambilnya dari dalam tas.
VINARA
Hallo Yak?
ARYA
Hallo Vin… lagi dimana? Anu hari ini aku mau ketemu Pak Reza lagi. Ada urusan Kafe, jadi nanti aku langsung makan di luar saja sama dia? Ga papa kan?
Vinara menghela napas.
VINARA(dalam hati)
Pulang pagi lagi nih.
ARYA
Kamu sudah makan? Antar jemput kantormu masih rusak? Aku ga bisa jemput kamu juga lho, gimana ntar kamu pulangnya? (Arya menelepon sambil menyetir)
Jadi ketemu orang lagi? Ada temenmu yang bisa anter pulang kan? Ehm.. Ntar jadinya gimana kabarin aja deh, Aku buru-buru…
VINARA
Eh Hallo Yak tunggu... gini harusnya aku ada janji sama Pak Ian hari ini, ada beberapa tanda tangan yang kurang. Tadi siang dia ada shooting jadi malam ini baru bisa ketemu.
ARYA
Ya udah sana… pergi aja, ati-ati ya, sampai rumah telepon aku
VINARA
Tapi… Opie ga bisa temeni aku lho malem ini. Yang lain2 juga( berhenti sejenak) Kamu ga keberatan kan?Cuma masalah kerja kok?(hati-hati)
ARYA
Iya..iya… gitu aja nanya… (tertawa kecil)
Ya udah ya, aku di tunggu Nai nih. Ya.. Bye
Arya menutup teleponnya. Vinara menghela napas.
VINARA(dalam hati)
Ya udah, nanti aku bisa pulang naik taksi aja dari sana. (diam sejenak)
Kenapa pula orang satu ini selalu ngajakin ketemu di tempat yang jauh-jauh.
Bener-bener buang-buang ongkos aja.
Sebenernya sih Pak Ian ini selalu menawarkan nganter atau jemput aku, tapi rasanya kok ngga enak banget. Sekarang aja Opie dan yang lain udah nggodain aku macem-macem apa lagi kalo sampe aku dianter jemput sama dia… huh bisa mampus aku.
CUT TO
Commercial Break
10. EXT/INT.LOBBY MAL.SORE
VINARA, IAN, DANI, FIGURAN
Ian berdiri di dekat lobby dengan topi dan kacamata hitam untuk menyamarkan diri. Ian sedang sibuk menelepon. Beberapa pengunjung Mal tampak mengamatinya.
IAN
Ngga kok.. mal di sini aman… apalagi ini ngga weekend jadi ngga bakalan banyak abg.. tenang aja…
Intercut
Dani duduk di depan meja kerjanya.
DANI
Yan.. yan… ngimpi apa elu Yan… gua rasa ini masa pendekatan lu yang paling lama (tertawa) Dua bulaann … Biasa ngga ada seminggu juga udah lu putusin… (terbahak)
IAN
Kurang ajar lu Dan… lain ini lain…
Dani agak terkejut seperti membaca yang lain dalam perilaku Ian.
Sebuah taksi berhenti, Vinara turun. Ian langsung tersenyum lebar.
IAN(dalam hati)
Sama siapa dia kali ini… (melongok – terlihat Vina naik ke tangga lobby sendirian)
IAN
Yes!!! (senang)
DANI
Apaan lu Yan?
IAN
Udah dulu ya… bidadari gua udah dateng.. (tertawa)
Dani menggeleng geli dan menutup telepon.
Tiba-tiba datang Cindy di dekatnya.
CINDY
Hai Dan..
Dani tampak terkejut tak menyangka Cindy datang.
CINDY
Ian mana?
DANI
Oh.. (gugup) anu.. Ian.. Ian lagi ada urusan kantor.. ketemu orang..
Cindy mengernyitkan kening.
CINDY
Tumben kamu ngga ikut?
Dani tampak bingung.
CUT BACK TO
Ian menghampiri Vina dan berjalan di sisinya.
VINARA
Eh Pak Ian… sudah lama ya?
IAN
Akhirnya kamu datang sendirian juga (lirih-sambil senyum-senyum)
Vina menatap heran.
VINARA
Apa Pak?
IAN
Oh ngga-ngga… bukan apa-apa kok… kita langsung ke restaurant aja ya..
Vina mengangguk dan mengikuti Ian.
Baru berdiri bersisian sepanjang eskalator dan jalan menuju restaurant saja begitu banyak pasang mata mengawasi.
VINARA(dalam hati)
Susahnya jalan sama orang terkenal.(sambil melirik ke orang-orang yang mengawasi)
Ian melihat kegundahan Vina.
IAN
Tenang aja.. aku sengaja memilih tempat seperti ini karena pengunjung yang biasa datang ke kafe dan restaurant di sini, kebanyakan ngga terlalu mengganggu privasi aku, (diam sejenak dan tersenyum sangat manis)
Jadi kamu ngga perlu khawatir… ya..
Vina tersenyum mengangguk.
VINARA(dalam hati)
Hem… kalau saja aku belum menikah, mungkin aku akan ge-er dan grogi berat selalu di telepon dan ketemu sama Ian, (melirik Ian yang tampak keren disampingnya) teman2 sekantor aja sering banget goda in kalau Ian…
Ah (cepat-cepat menepiskan pikiran dengan menggeleng)
Walau belum nikah pun, orang seperti Ian nggak bakalan serius dengan perempuan seperti aku. Dulu aja tingkahnya kaya gitu, jahat banget.. Apalagi sekarang. Jangan main api deh…
Ian menoleh seperti merasa kalau sedang dipikirin. Vina tersenyum canggung.
Ian membawa Vina ke sebuah restaurant mewah.
IAN(dalam hati)
Hari ini, pertama kalinya gua makan malam sama dia...
Tersenyum memandang Vina.
PELAYAN
Berapa orang…
IAN
No smoking please.. (menunjuk jari 2)
Ian dan Vina diantarkan ke salah satu meja dan duduk disana.
CUT TO
11. INT.APARTEMEN SUSAN.SORE
SUSAN, ARYA
Arya duduk di sofa sambil menonton televisi. Susan datang membawakan kopi dan duduk mesra di sampingnya.
SUSAN
Hari ini mau makan apa? Aku akan masakan yang spesial buat kamu…
Arya tersenyum sambil memandangi Susan yang memandanginya mesra.
SUSAN
Apa aja kalau kamu yang masak pasti enak..
Susan tertawa manja dan mencubit pinggang Arya.
Mesra.
CUT BACK TO
12. INT.RESTAURANT.MALAM
IAN, VINARA, FIGURAN
Selesai membahas masalah pekerjaan, pelan2 Ian menggiring pertanyaan yang lebih pribadi. Suasana tetap santai karena Vinara sangat pintar berbicara. Pengetahuannya luas dan tidak membosankan.
IAN
Oke deh… kalau gitu, masalah ini sudah beres kan… (melipat berkas dan meletakkan di sebelahnya) Sorry ya aku jadi ngerepotin kamu terus nih..
Vina tersenyum dan membereskan berkasnya.
VINARA
Ngga apa Pak.. ini memang sudah tugas saya kok untuk membantu Bapak…
IAN(dalam hati)
Penuh tantangan banget nih cewek. Sungguh rekor, dalam 2 bulan gua melakukan pendekatan hanya baru sampai ke tahap ini, sampai Dani aja berkomentar, seharusnya kali ini gua di daftarkan ke MURI karena selama 2 bulan pula gua ngga mengejar perempuan lain. Dikit-dikit Vina, apa aja yang di bicarakan selalu ujung-ujungnya ke Vina. Dani sampai sempet ngingetin gua untuk berhati-hati, (menghela napas) bagaimanapun gua sudah bertunangan sama Cindy dan hubungan dengan perempuan manapun nggak seharusnya menjadi serius. Huh…
Vina yang baru selesai merapikan berkasnya mengangkat wajah merasa terus dipandangi oleh Ian. Ian tampak salah tingkah beradu pandang dengan Vina.
IAN(dalam hati)
Gila tatapan matanya.. kenapa gua jadi salting gini ya…
Seorang pelayan datang menghampiri.
PELAYAN
Makanannya bisa dikeluarkan sekarang Pak?
IAN
Oh ya.. (gugup)
CUT TO
Ian dan Vina sedang makan sambil berbicara santai.
IAN
Kok jauh amat sih, kamu kan kuliah hukum, kenapa bisa jadi agen asuransi? Salah jurusan ya?(menggoda sambil menyuap makanannya)
VINARA
Ah Pak Ian itu kan..
IAN(memotong)
Ian aja lah, jangan pake pak, saya kan belum terlalu tua.(diam sejenak)
Mungkin kita seumuran…
VINARA
Panggilan Bapak kan bukan selalu berarti lebih tua, tapi hanya semacam penghormatan aja. (diam sejenak memandang Ian) Kalau soal umur, sudah pasti kok saya lebih tua dari Pak Ian.
IAN
Aduh Pak Ian lagi… panggil saja Ian, Ok? Sekali lagi kamu panggil Bapak aku denda lho (tertawa kecil) Ngga ada salahnya kan kalo kita temenan aja…
VINARA
Iya deh Pak..
IAN
Nah Lho… pake Pak lagi..(menyodorkan tangan seperti meminta)
VINARA
Sorry sorry, belum biasa aja… (tertawa)
IAN
Dari mana kamu tau kalau saya lebih muda dari kamu Yank? Emangnya saya pernah cerita ya?
Vina terkesiap dengan panggilan ‘Yank’ tapi segera menguasai diri.
VINARA
Ya waktu Bapak… eh… kamu mengisi polis kan ada data diri dan foto kopi ktpnya..
IAN
Wah curang… berarti kamu udah tau data komplitku dong Yank…(mesra)
Sekarang berarti giliranku yang nanya kamu, gimana?
Vinara tampak agak jengah. Matanya melirik jam tangannya, setengah 9 malam.
VINARA(dalam hati)
Orang ini cerewet juga ya, omongannya mulai ngga karuan.. pake yank-yank segala… wah kalau kemalaman bisa-bisa ga dapet taksi nih.
VINARA
Maaf Pak, eh Ian, sebenarnya hari ini…
IAN
Kenapa? Kamu ada acara? (tampak kecewa) Baru setengah 9 malam.
(tersenyum) Nggak ada bodyguardnya ya jadi buru-buru pulang ?
VINARA
He? Bodyguard?
IAN
Iya, biasa setiap kali ketemu aku kamu selalu ajak temenmu, si ini-lah itu-lah.. kenapa sih, takut ya sama aku?
VINARA
Nggak kok, Bukan begitu… Cuma ngga enak aja kalau selalu pulang terlalu malam. Maaf ya, bukannya saya…
IAN
Ok,ok… (tersenyum) aku anter pulang aja ya. Kamu sendirian kan? Takut diomelin mama ya kalo nglewatin jam malam he he.. (menggoda)
VINARA
Oh Nggak… e.. nggak apa-apa kok saya bisa pulang sendiri, sebenernya saya…” (tampak bingung mau menjawab apa) sua…
IAN
Udah lah jangan sungkan, aku anterin ya (bersikeras)
VINARA(dalam hati)
Sebenarnya aku mau bilang suamiku tidak bisa menjemput, tapi dia sudah buru-buru memotong…
IAN
Ayolah… masa kamu ngga percaya sama aku sih…
Vina nggak bisa lagi menolak. Vina mengangguk. Ian tersenyum senang.
CUT TO
Commercial break
13. INT.APARTEMEN IAN.MALAM
IAN, DANI
Ian datang dan menjatuhkan diri di sofa sambil tersenyum lebar. Dani yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi memandang Ian dengan heran.
Ian menghela napas sambil memejamkan mata dan tersenyum-senyum sendiri.
IAN
Malam ini, gua nggak Cuma makan malam berdua sama dia, tapi gua juga nganterin dia pulang, Dan.(diam sejenak memandang Dani)
Sepanjang perjalanan tadi (menerawang) kita ngobrol tentang masa sekolah yang lucu-lucu dulu. (menghela napas sambil tetap memejamkan mata)
Baru kali ini gua bisa terbuka tentang masa lalu gua.
Selama ini (membuka mata dan memandang Dani yang memandangnya heran) dengan cewek-cewek gua yang lain, nggak ada yang pernah bisa bicara begitu banyak ama gua… (tertawa sendiri)
Heem, gimana bisa ngomong banyak ya kalau gua hanya pacaran maksimal 1-2 minggu dan ketemunya juga Cuma 3-4 x aja.
Dani terdiam dan memandang Ian serius.
DANI(dalam hati)
Gawat (memandang Ian yang kembali memejamkan mata sambil senyum-senyum)
Ian memang beda, dia lebih ceria dari biasanya, selalu bersemangat dan kelihatan gembira. Apalagi kalau baru aja bertemu atau menelpon Yayank – nya satu ini.
Flash Back – suara Ian
Bisa dengar suaranya saja gua sudah seneng..
(Dani kembali memandangi Ian yang masih senyum-senyum sendiri)
Gua udah lama kenal Ian, jadi hampir 80% pacar-pacarnya gua juga kenal.
Dan selama ini gua nggak pernah melihatnya bertingkah seperti itu, apalagi kalo sama Cindy.
IAN
(tertawa) Malam ini gua seneng banget. Ini kemajuan besar dalam hubungan gua dengan Vina. Walaupun gua nggak pernah menyinggung2 masalah cinta atau apapun yang berhubungan dengan itu, (serius) tapi bisa temenan aja ama dia udah membuat gua semangat banget.(menghela napas) Rasanya adaaa… aja yang bisa dibicara-in kalo bareng dia. (menatapa Dani) Mungkin ini ..artinya ..pertemanan atau persahabatan yang sebenarnya ya? Selama ini kalau sama cewek gua yang lain, yang diomongin nggak jauh2 ya masalah makan kemana, liburan kemana, hadiah apa, huh.. bisanya bikin gua pusing aja.. (tertawa)
Ian menegakkan duduknya dan memandang Dani seakan teringat sesuatu yang penting.
IAN
Eh iya… lo tahu…kenapa gua selalu merasa udah kenal lama sama dia?
Dani menggeleng bingung.
IAN
(tertawa) Karena memang gua udah kenal lama sama dia…
DANI
Apa? Kapan? Kok gua ngga inget ya.. rasanya dia bukan tipe lu deh… Cewekmu yang dari mana ya?
IAN
Dia memang bukan cewek gua Dan… tapi sebenernya… (berpikir) udah… 6 atau hampir 7 tahun yang lalu gua kenal dia… dan elu juga tahu kok..
DANI
Oya.. (berpikir) kok gua bener-bener ngga inget ya…
IAN
Heem… kalo lo inget bener-bener… malah perkenalan gua itu sampai dimuat di tabloid kok… dan sebenernya setelah itu gua sempet beberapa kali ketemu dia lagi.. pas ngga ada elu… (tertawa penuh arti)
Dani menegakkan duduknya dan memandang Ian serius.
DANI
Elo ngga serius kan Yan sama dia? (hati-hati)
IAN
Maksud lo? (cuek)
Dani menatap Ian tak percaya.
DANI
Inget Yan… selama ini gua tahu elo Cuma sekedar iseng dan cari pelarian aja… dan gua ngga pernah ikut campur urusan lo… tapi kalau lo sampai serius sama dia dan mengkhianati Cindy…. (diam serius)
Ian menoleh dan tampak seperti bingung.
DANI
Gua ngga pernah liat lo kaya gini Yan… (diam sejenak) lo sadar ngga kalau sejak detik pertama lo masuk ke sini… (menunjuk) sampai sekarang, lo ngga brenti-brentinya ngomongin dia terus…
Ian memandang Dani lalu menghadap ke tempat lain sepertinya juga tak mempercayai apa yang baru saja di lakukannya.
CUT TO
15. INT.RUMAH ARYA.MALAM
VINARA, ARYA, SUSAN
Vinara duduk (berpakaian santai) di depan TV dengan gelisah.
Flash back
Mobil Ian berhenti di depan pagar rumah Vina. Vina dan Ian memandang ke rumah. Sepi. Mobil Arya belum kelihatan di parkir dan suasana sepi tak ada suara Selma.
CUT BACK TO
VINARA(bicara sendiri)
Tadi sebenarnya aku merasa bersalah hanya makan berdua saja sama Ian, walau Ian Cuma nasabah dan kita nggak ngapa-ngapain, tapi keakraban tadi dan pakai dianter pulang berdua.. rasanya kok ngga etis aja… mungkin sebaiknya aku bermanis-manis sama Arya deh untuk nebus rasa bersalah aku… (tersenyum)
Vina berdiri dan menuju sebuah kamar. Vina membuka pintu dan mengintip ke dalam, Selma tampak tidur di ranjangnya, Narti juga tidur di ranjang di bawahnya. Vina tersenyum dan menutup pintu kamar.
CUT TO
Jam dinding – bergerak dari jam ke jam
Sampai jam 4 pagi.
LS Vinara berbaring di tempat tidur
Arya membuka pintu kamar pelan-pelan dan menutup kembali juga pelan-pelan, lalu dengan berjingkat setengah sempoyongan menuju ranjang.
Vinara menggeliat terbangun. Arya terkejut merasa sudah diam-diam masuk ke kamar. Vina mengusap mata sambil melirik jam dinding lalu memandang kesal ke Arya.
Arya segera membaringkan badan ke ranjang. Vina seperti mencium bau minuman alkohol.
VINARA
Kok jam segini baru pulang? (mengantuk-mengusap hidungnya)
Kamu minum ya?
Arya menggeram saja dan memejamkan mata.
VINARA(dalam hati)
Tadinya aku pengen bermanis-manis sama kamu tapi rasanya…rasa bersalahku udah hilang deh ngelihat kamu kaya gini…
Vina duduk dan mendekat tapi Arya sudah mendengkur.
Vina kembali membaringkan diri dengan kesal. Beberapa kali berbalik ke kanan dan ke kiri tapi tak juga tertidur.
Tiba-tiba ponsel Arya yang ada di atas meja samping tempat tidur bergetar, ada sms masuk. Vina menoleh, dan memandang Arya, Arya diam saja, dan Vina juga kembali berbaring.
VINARA
Siapa subuh-subuh sms… iseng amat…
Vinara mencoba memejamkan mata lagi.
Suara dering ponsel Arya mengejutkan Vina. Vina menoleh memandang Arya, ponsel terus berdering. Vina merengut kesal.
VINARA
Tadi sms… sekarang telepon… siapa sih…
Vina menggoyang-goyangkan badan Arya.
VINARA
Yak… Yak bangun Yak… telepon tuh Yak…
Arya…
Dering ponsel mati, Arya tak juga bangun. Vina mencoba kembali berbaring untuk tidur. Baru sebentar Vina berbaring, ponsel Arya kembali berdering. Vinara duduk dengan kesal.
VINARA
Arya… (menggoyangkan badan Arya)
Arya tetap diam saja mendengkur. Vina berdiri dan menghampiri ponsel dan mengambilnya.
CU SS calling…
Kening Vina berkerut.
VINARA
SS… siapa ya?
Vinara mengangkat telepon, sebelum Vina mengatakan hallo atau apapun, baru membuka mulutnya…
Intercut – suara Susan
SUSAN
Duh… sayang.. lama banget sih ngga di angkat-angkat… (manja)
Dompet kamu ketinggalan nih.. tadi buru-buru sih sampai bisa jatuh di ranjang… (tertawa mesra)
Vina terkesiap, wajahnya pucat tak berkata apa-apa, hanya memandang ke Arya tak percaya dengan pendengarannya.
SUSAN
Hallo? Arya? Kok diem aja sih… Arya?
CU Wajah shock Vina
CU Wajah lelap Arya
Sayup sayup suara Susan memanggil-manggil Arya.
CUT TO
END EPS.14
Credit Title
THEME SONG 4
No comments:
Post a Comment