Saturday, March 3, 2012

Benang Merah - skenario eps.18


Eps.18

1.INT.MOBIL IAN. SORE
IAN

Mobil Ian melaju cepat. Ian menyetir dengan sangat ngebut dan ngawur. Hatinya sangat panas.
 CU      Wajah Ian sangat geram/marah

IAN
Sialan.. pantas saja dia selalu menghindar setiap kali aku deketin dia… dan dia selalu menolak kalau aku datang tiap hari..
Pasti dia takut kalau sampai aku tahu dia ternyata menerima laki-laki lain di rumah...

Ian memukul setir beberapa kali dengan kasar.

IAN
            Dia juga ngga pernah cerita kenapa mendadak dia pindah rumah..
            Pantas saja aku ngga pernah ketemu sama suaminya…
           ternyata dia hanya seorang…

Ian menggeleng kesal.

CUT TO

2.EXT.KONTRAKAN VINARA. SORE
IAN, VINARA, ARYA, FIGURAN

Mobil Ian berhenti di depan kontrakan Vina. Remnya berdecit keras karena semula Ian sangat ngebut. Hujan turun rintik-rintik. Vina yang baru saja turun dari mobilnya dan hendak masuk ke rumah tampak terkejut dengan kedatangan Ian.

VINARA
            Ian? Tumben ada apa?

Ian mendekat dengan wajah emosi. Napasnya memburu menahan marah. Vina heran.

VINARA
            Ada masalah? (perhatian)

IAN
            Siapa kamu sebenernya? Kenapa kamu pindah ke rumah ini? (desak)

Vina terkejut dan heran.

VINARA
            Kenapa … ada apa sebenernya?

IAN
            Jangan balik bertanya (nada meninggi) Jawab saja pertanyaanku..
Kenapa kamu keberatan kalau aku datang di hari-hari tertentu di sini… siapa yang kamu sembunyiin dari aku.. suami kamu atau kekasih kamu yang lain?

Tiba-tiba Arya datang dengan wajah sama garangnya.
Ian terkejut melihat kedatanngan Arya. Arya dan Ian berpandangan dengan marah dan benci. Beberapa tetangga mulai keluar dan melongok ingin tahu.
Ian menoleh sambil tersenyum sinis pada Vina yang terlihat bingung.

IAN
Lalu siapa laki-laki ini… simpanan kamu yang lain? (menunjuk Arya)

Arya terkesiap kaget dan memandang Vina dengan tatapan menuntut penjelasan.

ARYA
            Vina! (bentak) Apa maksudnya? Siapa laki-laki ini?

Vina menutup matanya dengan tangan kanan dan menunduk pusing. Ian menggeleng marah dan berbalik pergi ke mobilnya. Setelah menendang pagar Ian berlalu melesat kesetanan dengan mobilnya.
Vina menggeleng sedih dan berjalan masuk. Arya mengikuti masuk dengan kesal. Hujan semakin deras.

CUT TO

3.INT.KONTRAKAN VINARA. SORE
VINARA, ARYA, SELMA, NARTI

Vinara masuk di ikuti Arya. Selma yang sedang menonton acara kartun di TV bersama Narti melonjak kegirangan dan hendak menghambur ke pelukan Vina dan Arya.

SELMA
            Mama… Papa…

Vina tersenyum hendak menyambut, tapi Arya menarik lengan Vina keras.

ARYA
            Siapa laki-laki itu? Apa hubungan DIA sama KAMU heh?!!!

Vina memandang Arya kesal. Lalu mendekati Selma yang tampak ketakutan.

VINARA
            Selma sama Mbak Narti ke kamar dulu ya.. Papa sama Mama mau bicara.. sana..

Narti menggandeng Selma masuk ke kamar.
Arya meraih remote dan mematikan TV lalu membanting remotenya ke sofa.

ARYA
            Ayo jawab… (diam sejenak memandangi Vina yang diam saja)
Apa kamu tahu… foto dan cerita tentang kamu sekarang sampai di muat di tabloid dan majalah… (Arya melempar tabloid ke muka Vina, Vina terkejut dengan perilaku Arya)
Kamu ini mikir ngga sih? Katanya kamu sayang sama Ibu… apa kamu ngga mikir kalau sampai Ibu membaca atau dengar masalah ini.. kamu ngga takut kalau Ibu kena serangan lagi?

VINARA
            Apa kamu sudah baca isinya? (diam sejenak) Semuanya?

Arya tampak diam bingung dengan arah pertanyaan Vina.

VINARA
            Aku sudah baca berbagai versi beritanya, aku juga sudah nonton beritanya di TV…
Dan kalau kamu juga sudah bener-bener baca dan denger semuanya… aku rasa ngga ada lagi yang perlu aku jelasin ke kamu kan…

Arya menggeleng kesal.

ARYA
            Kamu ini ngomong apa sih? Aku nanya apa kamu jawabnya apa? (kesal)

VINARA
Kenapa? Masalah Ibu? Ibu juga sudah tahu kok dan Ibu juga tahu kalau semua itu ngga bener.. (nada keras)

ARYA
Eh.. kamu sekarang berani ngelawan ya? Gara-gara pacar gelapmu tadi itu ya…(tertawa mengejek) dia ya yang ngajarin kamu sekarang berani ngelawan suami? Dulu kamu bisa memaki aku karena berhubungan dengan Susan, ternyata sekarang… (menunjuk) lihat saja kamu sendiri… bisa-bisa nya jadi perempuan simpanan…

Vinara menggeleng tak mengerti.

VINARA
Kenapa sih Yak? Kamu ini kenapa selalu nyalahin aku? Kenapa ngga  Susan? Kamu ini pasti ngga bener-bener baca beritanya.. (menggeleng) Siapa yang dibilang simpanan siapa…

ARYA
Heh jangan bawa-bawa urusan Susan ya.. ini masalah kamu dan selingkuhan kamu itu.. ngga ada hubungannya sama Susan.. (kasar)

VINARA
Arya? Sudah berapa tahun kamu kenal aku? Bisa-bisanya kamu ngomong kaya gitu. Terserah apa pikiran mu tentang aku sekarang. (diam sejenak) Lagian kalau aku beneran selingkuh ngga ada salahnya… toh kamu sendiri sekarang juga tinggal serumah sama simpanan kamu tanpa nikah… (ketus) apa salahnya aku membuka hati untuk orang lain yang bener-bener sayang sama aku…

Tangan Arya menampar pipi Vina. Vina terhuyung dan jatuh menimpa kursi sampai jatuh ke lantai. Arya terkejut tak menyangka hal itu dan memandang tanganya yang telah memukul Vina dengan sesal.
Vina duduk di lantai sambil menangis. Arya berjongkok di dekatnya dengan sangat menyesal.

ARYA
            Vin… sorry Vin.. aku…

Vina menepis tangan Arya yang mencoba melihat bekas tamparan di pipinya.

ARYA
            Sorry aku.. aku ngga sengaja.. aku khilaf…

Vina mengangkat tangan Arya menghentikan ucapan Arya.

VINARA
            Keluarlah.. (lirih) Pulang…

ARYA
            Tapi Vin…

VINARA
            Tolong tinggalin aku… pulanglah… (sedih terisak)

Arya berdiri dengan sedih, beringsut menjauh dan keluar rumah.

CUT TO

4.INT.MOBIL IAN. MALAM
IAN

Ian menghentikan mobilnya di salah satu jalan yang sepi. Hujan deras mengguyur jalanan. Airmata Ian mengalir. Sesekali Ian memukul setir dengan kesal terbayang wajah Arya.

IAN
Siapa dia Yank? Apa hubungannya sama kamu? Apa dia yang menjadikan kamu simpanannya? (diam sejenak)
Atau dia kekasih kamu yang lain?

Ian sangat gelisah. Sesekali Ian saling memukulkan kedua tangannya. Sebentar menggoyangkan kaki. Sebentar lagi menyandarkan kepala ke sandaran mobil dan menggelepar karena sedih dan bingung.

IAN
Ian Ian… bego banget sih kamu..

Ian memukul-mukul kepalanya kesal.

IAN
            Apa-apaan aku ini… kenapa aku jadi marah-marah begini..
Seharusnya kan aku memang sudah tahu kalau dia sudah bersuami… dan aku hanya akan temenan aja sama dia… apa hak-ku membentak-bentak dan begitu kasar sama dia.. (diam sejenak)
Apa karena dia pikir begitu jadi dia bisa se enaknya saja memperlakukan aku?

Ian membentur-benturkan kepalanya ke setir dengan gemas.

IAN
Tapi.. perasaan ini (memukul dada) Aku ngga bisa menghapus marahku… Aku harus minta penjelasannya… aku harus ketemu dia sekarang… kalau ngga aku bisa gila

Ian kembali menjalankan mobil dan melesat menembus hujan.

CUT TO
Commercial Break

4.EXT.KONTRAKAN VINARA. MALAM
IAN, VINARA, NARTI, FIGURAN WARTAWAN dan WARGA

Mobil Ian mendekat ke rumah Vinara. Hujan deras masih mengguyur, tapi depan rumah Vina tampak ramai dengan mobil-mobil wartawan yang berjaga di sana.
Ian mematikan lampu mobilnya dan berhenti agak jauh. Ian terlihat ragu. Ian melihat jam, hampir pukul 1 pagi.

IAN
            Sialan.. mau apa wartawan-wartawan itu nongkrong di sini…
Bagaimana aku bisa ketemu Vina? Jangan-jangan gara-gara kedatanganku tengah malam begini, beritanya jadi makin kacau

Ian memukul-mukul jendela gelisah dan panik.

IAN
            Tapi aku ngga bisa diam saja… aku harus ketemu dia sekarang juga (sangat gelisah)
           Aku ngga bisa nunggu lagi, aku bisa mati karena gila  (mengacak rambutnya kesal)

Ian menghela napas menguatkan hati. Lalu menyalakan lampu mobil dan mendekat ke rumah Vina. Beberapa wartawan yang duduk di warung dan mobil melihat kedatangan Ian.
Mobil Ian berhenti di depan pagar. Ian turun berhujan-hujan dan mengetukkan kunci mobilnya ke pagar yang terkunci.
Wartawan segera berlari mengerumuninya. Mereka pun rela berhujan-hujan bersama Ian.

IAN
            Yank… (teriak).. buka pintu Yank.. (memanggil manggil)
            Vina!!!… Sayang… Sayang…

Intercut – Vina dalam rumah

Vinara yang duduk di sofa terkejut seperti sayup-sayup mendengar panggilan Ian diantara deru hujan. Vina terlihat bingung dan tetap duduk sambil tak henti menangis. Wajahnya sangat terpukul.
Narti keluar dari kamar dan memandangi Vina, lalu berjalan ke jendela dan mengintip ke depan. Sayup-sayup panggilan Ian terdengar sampai ke dalam rumah.

NARTI
            Ada Den Ian, Non… apa mau dibukain pintu? (takut-takut)

CUT BACK TO
Ian terus memanggil Vina dengan nada gelisah dan panik. Terdengar bersalah dan sangat takut.
Wartawan mengerumuni Ian sambil terus mencecar dengan pertanyaan.

WARTAWAN-WARTAWAN(bersautan)
            Ian? Apa hubungan anda dengan Vinara?
            Bisa diceritakan? Ian? Ian?
            Apakah Vinara ini yang anda panggil dengan panggilan Sayang?
            Sejauh mana hubungan Anda dengan Vinara?
            Apa benar Vinara ini sudah bersuami?
            Apa benar Vinara ini istri simpanan?
            Apa komentar keluarga besar dan managemen kamu mengenai masalah ini?
            Yang anda panggil sayang sayang itu apakah saudari vina?

Ian sama sekali tak menggubris semua pertanyaan. Seperti yang ada di otaknya hanya Vina dan harus bertemu Vina.

IAN
            Sayang.. buka pintunya dong Sayang…
            Aku mau bicara sama kamu… (diam sejenak)
Sayang… aku akan terus tunggu kamu di sini sampai kamu mau bukain pintunya… (terus berteriak)

Wartawan segera mengambil gambar sambil berkasak kusuk.

Intercut
Narti mengintip dengan prihatin.

NARTI
            Non.. apa ngga dibukain Non.. kasihan kan Den Ian kehujanan…

Vina memandang Narti bingung. Airmatanya mulai mengering.
Narti menghela napas dan berinisiatif mengambil payung, keluar rumah dan membukakan pagar. Wartawan segera merekan semua kejadian. Warga yang menonton tampak tertawa sambil berbisik-bisik.

CUT TO

5.INT.KONTRAKAN VINARA. MALAM
IAN, VINARA, NARTI

Ian dan Narti masuk. Badan Ian basah kuyup. Narti berlari ke dapur.
Ian memandang Vina yang masih duduk di sofa diam, memalingkan muka dan tak memandang Ian sama sekali.
Wajah Ian tampak sangat tertekan, sedih dan marah.
Ian berjalan mendekat ke Vina dan berdiri di depannya dengan kesal.

IAN
            Jelasin… aku mau kamu jelasin semuanya… (gemetar menahan perasaannya)

Vina tetap diam menunduk.

IAN
            Ayo ngomong!!! (teriak) Jelasin ke aku… (panik dan gusar)

Narti datang membawa handuk dan berhenti karena takut melihat Ian begitu marah.

IAN
            Sayang!! (kesal) Kenapa diam aja?? (meninggi) Ngomong dong!!

Narti meletakkan handuk dan teh hangat di meja makan lalu bergegas ke kamar.
Ian berdiri berkacak pinggang dan berjalan hilir mudik gelisah dan geram.

IAN
Kamu.. (tercekat sambil menunjuk kesal seperti menahan kata-kata kasar yang sudah hampir keluar)

Vina memandang Ian heran. Masih ada bekas air mata di wajahnya yang tak terlalu jelas karena tertutup sebagian oleh rambutnya yang terurai.

VINARA
            Mau ngomong apa lagi? (lirih)

Ian terdiam dan gugup.

IAN
            Ya.. ya.. (gagap) jelasin apa kek.. (bingung hendak bicara apa)

VINARA
            Apa yang mesti dijelasin? (pelan)

IAN
            Gimana sih? Ya semua.. berita itu..

VINARA(memotong)
            Menurut kamu?

Ian tampak bingung dan tak mengerti.

IAN
            Maksud kamu? Gimana?

VINARA
            Ya.. menurut kamu berita itu bener ngga? (pelan-diam sejenak)
            Jadi ngga ada yang perlu di jelasin kan…

Ian mengepalkan tangan gemas.

IAN
Oke.. oke kalau kamu bilang itu ngga bener.. kenapa kamu harus menutupinya sama tetangga dan warga di sini.. kenapa kamu harus bohong sama aku?

VINARA
Jadi aku mesti ngomong apa? (lirih)

IAN
Ya.. yang sebenernya dong.. apa susah nya cerita yang sebenernya.. kalau sejak semula ngga ada yang kamu tutupin, semua berita ini kan ngga akan ada..

Airmata Vina menetes lagi. Ian terkesiap melihat itu.
Vina mengangkat wajah memandang Ian sehingga tampak lah bekas luka tamparan di pipinya dan sudut bibirnya.
CU       Luka Vina
Ian terkejut melihat luka itu.

VINARA
            Jadi aku mesti bilang ke semua orang yang sebenernya gitu…

Ian terkejut karena masih bingung antara jawaban Vina dan melihat lukanya.

IAN
            Kamu .. kenapa..

Ian hendak mendekat melihat luka Vina. Vina menepis tangan Ian sambil terisak.

VINARA
           Kalau sejak semula aku jujur sama semua orang masalah ini ngga akan ada? Begitu?

IAN
            Sayang.. (melunak lirih dan kasihan)

VINARA
            Tadi kamu tanya apa? (memandang Ian dengan tatapan luka)

IAN
            Hah? Apa? (bingung dan menyesal)

VINARA
Kamu tanya kenapa aku pindah? Juga Ibu-ibu di depan itu? Mereka tanya kenapa aku pindah dan mana suamiku?

Ian menggeleng merasa menyesal karena melihat Vina sangat terluka dan sedih. Ia maju ke depan Vina perlahan mendekat.

VINARA
            Gampang ya jawab sejujurnya… (diam sejenak, Ian memandang kaku)
            Aku.. aku tinggal bilang saja sama semuuaa orang yang nanya.. (berpikir)
Oh.. iya Bu..(menirukan menjawab) aku pindah karena suami aku menghamili kekasih gelapnya, dan sekarang perempuan itu beserta anaknya tinggal di rumahku yang lama, sehingga aku dan anakku harus mencari tempat lain..
            Oh kalau suamiku di mana? Sekarang dia memilih tinggal sama istri simpanannya…
            Begitu?

Ian diam terpaku. Vina menghapus air matanya.

VINARA
            Begitu mau mu? (pelan sedih)

Ian menggeleng menyesal tak menyangka jawaban Vina.

VINARA
            Apalagi? Apalagi yang aku harus jelasin (berpikir) tadi kamu tanya apa..

Ian berlutut di depan Vina dengan panik dan takut.

IAN
            Sayang… (menahan tangis).. maaf in aku ya… aku yang salah.. semua salah aku…
            Ngga seharusnya.. aku… (tak mampu bicara) aku ngga tahu…

Ian menggenggam erat tangan Vina. Air mata Vina kembali menetes. Ian mengusap pipi Vina yang luka dan melihat bekas darah di bibirnya.

IAN
            Kenapa? (nada terluka) Siapa yang tega nyakitin kamu kaya gini?

Vina diam tak mampu bicara.
Ian seperti teringat sesuatu.

IAN
            Laki-laki tadi? (hati-hati) Dia suami kamu?

Vina tak menjawab tak mengangguk hanya memandang Ian. Ian seperti membaca dari matanya.

IAN
            Dia yang mukulin kamu sampai kaya begini? (emosi) Dia sering mukulin kamu?

Vina menggeleng.

VINARA
            Aku ngga papa kok..

Vina mundur dan menghindar dari Ian. Lalu Vina menatap Ian yang basah kuyup.
CU       Ian dari atas ke bawah basah kuyup
Vina menoleh dan berdiri meraih handuk dan memberikan pada Ian yang terus memandanginya.

VINARA
            Ini.. nanti kamu sakit… (mengambil gelas teh) minum nih..

Ian menerima handuk dan cangkir tapi tetap memandangi Vina dengan cemas.

VINARA
            Kalau sudah pulang lah.. (membelakangi Ian) dan cepat ganti baju..

Ian mengerutkan mukanya, terlihat sedih dan takut. Segera meletakkan kembali handuk dan cangkir lalu memegang pinggang Vina dari belakang hendak memeluk.

IAN
            Sorry… i'm really sorry

Vina menghindari pelukan Ian dan bergeser.

VINARA
            Sudah sana cepetan.. nanti kamu keburu sakit.. (membalikkan badan)
            Bawa saja payungku di depan masih hujan

Ian memegang lengan Vina erat. Vina berusaha menepis tapi Ian terus berusaha memegangnya.

IAN
            Sayang sorry… kamu marah ya… (cemas)
Sorry.. sorry… aku.. aku emang jahat banget… (menggeram kesal dan memukul kepalanya sendiri) bego..

Vina terkejut melihat reaksi Ian.

IAN
Aku memang egois, Cuma bisa mikirin kepentingan sendiri, sama sekali ngga menimbang perasaan kamu… (Ian menggenggam ke dua tangan Vina)
Maafin aku ya… Please… Aku janji aku ngga akan nyakitin kamu lagi..

Vina merasa jengah karena terlalu dekat dengan Ian.
Vina cepat-cepat menghindar dengan gugup.

VINARA
            Ngga kok Yan.. kamu ngga salah.. kamu kan ngga tahu…
(tersenyum memandang Ian) Kamu pulang deh.. besok kamu mesti kerja kan? Ini sudah malam lho…

Vina mengambil handuk dan mengudungkan ke kepala Ian sambil tersenyum lalu mengacak handuk dan tertawa kecil.
Ian tertawa senang Vina tampaknya sudah tak sedih dan marah lagi.

CUT TO
Commercial Break

6.INT.KANTOR IAN.SIANG
IAN, SEKRETARIS

Ian berjalan masuk ke ruangannya. Sebentar kemudian sekretarisnya menyusul dengan wajah tegang.

SEKRETARIS
            Pak Ian? (gugup)

Ian menghela napas dan berbalik memandangnya.

IAN
Iya… maaf ya, tadi saya kesiangan sehingga  nggak bisa mengikuti rapat pagi ini (diam sejenak dan berpikir) tapi.. tadi bukannya Pak Dani sudah mewakili saya?

SEKRETARIS
Iya Pak… (ragu) tapi bukan masalah rapat pagi ini…

IAN
Lalu?

SEKRETARIS
Pak Ian di tunggu di ruangan Ibu Erin segera, penting Pak…

Ian mengernyitkan kening heran, sekretaris menunduk.

IAN
            Oke, sebentar lagi saya ke sana.. (ramah)

Sekretaris tersenyum, mengangguk dan keluar.

7.INT.DEPAN KANTOR IAN.SIANG
SEKRETARIS, IAN, FIGURAN

Sekretaris menutup pintu ruangan Ian dan kembali ke mejanya. Dua orang karyawati datang menghampiri, juga seorang karyawan. Mereka tampak berkumpul dekat meja sekretaris.

FIGURAN A
            Gimana?(penasaran)

Sekretaris mengangkat bahu dan memasang tampang prihatin.

FIGURAN B
            Kamu sudah lihat juga ya tayangan tadi pagi?

SEKRETARIS
Pantesan.. apa kalian ngga berasa kalau memang sudah setengah tahun ini Pak Ian itu bedaaa banget sama dulu?

FIGURAN A
Iya lah.. waktu itu aku pikir dia lagi latihan peran atau apa kok jadi ramah banget, perhatian sama bawahan…

FIGURAN C
Iya aku ngga pernah denger dia marah-marah lagi sama kamu (menunjuk sekretaris)

SEKRETARIS
Iya.. dia selalu manis dan sopan bicaranya, pokoknya ngga kaya dulu lagi deh..
Padahal aku pikir perubahan itu ngga akan lama deh, paling nanti kalau bosen juga balik lagi kaya dulu.. tapi ini rekor banget sudah hampir setengah tahun kan?

FIGURAN B
Ternyata cinta itu beneran bisa merubah sifat seseorang ya? (menggoda)

SEKRETARIS
Ah kamu.. apa ngga lihat reaksi Bu Erin dan Pak Piere tadi…

FIGURAN A
Iya itulah.. kadang cinta itu memang datang pada waktu dan orang yang salah…

FIGURAN C
Ala.. sok puitis .. (tertawa)

Tiba-tiba pintu ruangan Ian terbuka, dan mereka segera bubar dan pura-pura sibuk.
Ian hanya mengangguk sambil tersenyum manis dan pergi ke ruangan Erin.
Karyawan terpana melihat keramahan Ian.

CUT TO

8.INT.RUANGAN ERIN.SIANG
ERIN, PIERE, DANI, IAN

Ian mengetuk pintu ruangan Erin dan masuk. Ian terkejut di sana sudah menunggu Erin, Piere dan Dani dengan tatapan tegang.

ERIN
            (menghela napas berat) Duduk Yan.. Aunty mau bicara.. (serius)

Dani menatap dengan gelisah. Piere membuang muka dan tampak kesal. Ian duduk.

IAN
            Ada apa Aunty? Something wrong?

Piere menoleh dan hendak menjawab, tapi Erin mengangkat tangannya memberi kode untuk diam.

ERIN
            Apa kamu hari ini sudah menonton televisi Yan?

IAN
            Belum Aunty? (menggeleng dan memandang Dani mencari petunjuk)

Erin menghela napas sambil berdiri menuju depan televisi di ruangannya dan menyalakannya.

ERIN
Kalau begitu, silahkan kamu lihat, beberapa berita yang sempat Aunty rekam selama beberapa minggu terakhir ini…

Ian dan Dani berpandangan.

CUT TO (tak ada suara)

Layar TV –      Cuplikan waktu Ian, Vina dan Selma di taman hiburan
Erin memindah gambar dengan remote
                        Cuplikan Ian berkunjung ke rumah Vina
Erin memindah gambar dengan remote lagi
                        Cuplikan wawancara Betty dan tetangga Vina

CUT BACK TO

Erin berbalik memandang Ian yang menunduk ragu, sepertinya sudah membaca suasana.

ERIN
            Sebagian dari itu mungkin kamu sudah lihat.. dan ini yang terbaru..

Ian mengangkat wajah memandang TV

CUT TO

Layar TV -       Ian sedang menangis berhujan-hujan menggedor pagar rumah Vina

CUT TO

Dani mengusap wajahnya dan menggeleng bingung. Piere menghela napas kesal, Ian hanya memandangi orang-orang dalam ruangan dan tampak bingung mencari alasan.
Erin mematikan TV dan kembali duduk.

ERIN
(menghela napas lagi) Sebenarnya masih ada lagi, tapi Aunty rasa kamu sudah tahu sendiri. (diam sejenak)
Belum lagi berita di tabloid dan laporan orang-orang yang masuk ke meja saya…
(menggeleng) Ian.. kamu tahu kalau saya tidak pernah.. dan tidak ingin mencampuri urusan pribadi kamu… tapi jika masalahnya sudah menjadi serius dan bisa mengganggu image perusahaan dan nama baik kamu… mau-tidak mau, saya harus bicarakan dengan kamu…

Dani melirik Ian yang terdiam. Piere tampak sebal.

ERIN
Aunty tidak memerlukan jawaban dan alasan apa pun mengenai masalah ini.. Saya rasa kamu sudah tahu arah pembicaraan kita…
Makanya Aunty juga undang Dani ke sini.. (tersenyum bijak pada Dani) Saya harap kalian bisa bicarakan, bagaimana menyelesaikan kasus ini secepatnya…

Dani dan Ian berpandangan.
Erin memandang mereka dengan tegas.

CUT TO

9.INT.KONTRAKAN VINA.SORE
VINARA, ARYA, SELMA

Vinara turun dari mobil dan memasuki pagar rumahnya. Vina berhenti melihat sebungkus coklat berpita merah dan sebuah mawar merah di atas meja terasnya. Vina mengambilnya dan memandanginya sambil berpikir.

 VINARA(dalam hati)
            Siapa yang mengirim coklat dan bunga? Ian? (diam sejenak, mencium bunganya)
            Siapa lagi… ngga mungkin Arya.. dia bukan tipe ..

Pintu rumah terbuka dan Selma keluar sambil memeluk boneka.

SELMA
            Mama.. tebak dari siapa?(mengangkat bonekanya tinggi-tinggi)

VINARA
            Wah.. bagus banget bonekanya? (tersenyum) Dari siapa sayang?

SELMA
            (tersenyum) Dari… yang kasi mama bunga itu…

Vina tersenyum sambil mengernyitkan kening. Arya keluar dari rumah, tersenyum manis.

VINARA
            Arya?

Selma berlari memeluk Arya. Vina terkejut tak menyangka.

CUT TO
Commercial Break
10.INT.APARTEMEN IAN.MALAM
IAN, DANI

Ian dan Dani duduk di balkon sambil memandang langit malam.

DANI
Jadi Plan A, Plan B yang selama ini kita pakai untuk mengantisipasi cewek-cewek lo sudah pasti ngga bisa di pakai kan?

Dani memandang Ian. Ian menghela napas.

DANI
Gua bener-bener ngga nyangka Yan kalo lo bisa sampe sejauh ini… mikir apa sih lo Yan? (lirih)

Ian menyandarkan badannya di dinding dan memejamkan mata.

DANI
            Dia itu sudah menikah…

IAN(memotong)
            Tapi Vina sudah berpisah dari ..(dengan nada sebal) suami sialan-nya itu…

DANI
Tapi mereka kan belum bercerai.. masih resmi suami istri… dan aduh.. kenapa juga lo pilih orang yang banyak masalah gitu.. apa ngga bisa sih lo lupain aja dia…

Ian menggeleng lemas.

IAN
Kalo aja semudah lo ngomong Dan… gua udah berkali-kali coba lupain dia..(diam sejenak) bukan Cuma sekali dua kali…
Tapi semakin gua menjauh dari Vina… (menelan ludah dan menggeleng) gua.. gua sendiri ngga bisa gambarin kaya apa perasaan gua… mungkin lebih baik gua mati.

Dani memandang Ian serius.

DANI
            Gua sungguh berharap lo becanda dengan kata-kata lo barusan… (serius)
Lo sadar ngga sih? Walaupun belum ada resepsi resminya, tapi semua orang tahu kalau lo sudah bertunangan dengan Cindy… dan Vina … itu masih istri orang…
Bagaimana cara kita mesti jelasin ke publik kalau lo ngomongnya seperti itu…

Ian tertawa getir dan menepuk Dani.

IAN
Gua akan berterimakasih ama lo tujuh hari tujuh malam ngga berhenti.. kalau aja lo bisa membuat kata-kata gua barusan Cuma sekedar becanda… (diam sejenak kembali serius)
Gua juga masih waras Dan.. dan akal sehat gua juga masih bekerja(menunjuk kepalanya) tapi walaupun gua tau semua yang udah gua lakuin mungkin terlihat gila-gilaan buat orang lain… gua tetep ngga bisa berhenti berlaku gila.. (tertawa kecil) gua ngga pernah bisa berhenti mikirin dia… dan asalkan gua bisa deket ama dia.. rasanya gua akan lakukan apa aja yang dia minta, mungkin kalau dia minta gua terjun ke jurang pun akan gua lakuin…

Dani menggeleng tak mengerti dan mengernyitkan kening.

DANI
Kalau begitu… terpaksa kita pakai Plan C… (diam sejenak, Ian menoleh memandangnya) no comment dan membiarkan semua berlalu begitu aja…

Ian mengangkat alisnya dan mengangguk-angguk pasrah.

CUT TO

11.INT.KONTRAKAN VINARA.MALAM
VINA, SELMA, ARYA, NARTI

Selma dan Arya sedang bermain di depan televisi. Narti dan Vina memasak.

ARYA
            Selma seneng ngga tadi kita pergi berenang…

SELMA
            Seneng dong Pa… (tertawa sambil terus memainkan bonekanya)

ARYA
            Kalau gitu kapan-kapan kita pergi lagi ya…

SELMA
            Iya.. (mengangguk) Uncle juga janji mau ajak Selma berenang lagi…

Vina melirik mendengar jawaban Selma. Arya tampak sedikit tak enak hati.

SELMA
            Besok Papa bisa datang ke sini maen lagi sama Selma?

Arya tersenyum mengelus rambutnya.

ARYA
            Besok Papa harus kerja sayang..

SELMA
            Tapi besok kan sabtu? Emangnya kantor Papa hari sabtu ngga libur ya?

ARYA
            Ngga sayang (tertawa)besok Papa ngga libur…

SELMA
            Kalau minggu? Papa libur ngga?

ARYA
Wah.. minggu papa juga kerja sayang.. soalnya di sana kalau sabtu dan minggu justru lebih sibuk dan ramai dari hari biasa…

SELMA
Kok Papa tiap hari kerja-kerja terus sih, kenapa kerja terus? Jadi kapan dong liburnya?

Arya mengetatkan pelukannya pada Selma.

ARYA
Ya kan Papa memang harus kerja dong Sayang… cari uang buat Selma, kalau ngga kerja nanti Papa ngga dapat uang dong..

SELMA
Uncle juga kerja kan Pa? Kenapa tapi kok banyak liburnya? Bisa temenin Selma waktu liburan kemarin. Terus kalau ngga liburan juga tetep bisa nemenin Selma. Kenapa Papa ngga bisa? Kenapa Uncle bisa?

Arya menghela napas bingung dan menoleh ke Vina yang sedang merapikan meja makan.

ARYA
Oke.. kalau gitu, mulai sekarang Papa janji deh.. Papa akan selalu berusaha nemenin Selma.. gimana?

SELMA
            Janji? (tertawa)

Arya dan Selma menautkan kelingking dan tertawa.
Vinara tersenyum melihat keakraban mereka.

VINARA(dalam hati)
            Kalau saja dari dulu kamu begini Yak… masalah seperti ini ngga akan pernah ada..

CUT TO

12.INT.MOBIL VINARA. SIANG
VINA

Vina sedang menyetir. Ponsel berbunyi.

VINARA
Hallo? (diam sejenak) Iya saya sendiri…
O.. iya? Hari ini? Bisa… Bisa Bu… dengan siapa tadi? Ibu Cindy ya?
Baik Bu.. saya langsung ke kantor Ibu… (tersenyum)
Ya.. terimakasih…

Vina menutup telepon.

VINARA
            Tumben, PT. Laksmana mau penambahan polis kok ngga lewat Ian? (diam berpikir)
Mungkin karena masalah kemarin, mereka hanya mencoba mengurangi masalah baru
            Kalau gitu aku telepon ke kantor dulu, bilang kalau aku akan langsung ke sana…

Vina menelepon sambil menyetir pelan.

CUT TO

13.INT.KANTOR PIERE. SIANG
VINA, CINDY, PIERE, FIGURAN

Seorang sekretaris membukakan pintu dan mempersilakan Vina masuk ke ruangan Piere. Cindy dan Piere sudah menunggu duduk di sofa. Melihat kedatangan Vina tampak Cindy dengan tegang mengamati dari atas ke bawah. Piere berdiri dan menyambut dengan senyum.

PIERE
            Ah Ibu Vinara.. silakan.. silakan…

Piere mempersilakan duduk. Vina mengangguk dan tersenyum lalu duduk.

PIERE
Maaf ya, kalau mendadak kami meminta anda datang tanpa perjanjian terlebih dahulu..

VINARA
Tidak apa-apa.. Pak Piere?

PIERE
Oh ya sampai lupa (menyalami Vina) saya Piere dan ini Cindy..

Cindy menyalami Vina dengan tegang.


PIERE
            Jadi begini.. langsung saja ke pokok permasalahannya..
Kami sudah memeriksa selama beberapa bulan terakhir ini perusahaan kami sering memakai jasa asuransi dari perusahaan anda, tapi ternyata sebenarnya masih ada sebagian besar karyawan kami dan juga  aset perusahaan yang masih belum tertangani…
Oleh karena itu.. (mengambil beberapa berkas asuransi) kami ingin memberikan data ini.. (menunjuk kertas) ini nama-nama karyawan kami yang ingin kami daftarkan… untuk medapatkan.. (piere mengambil beberapa berkas yang diberikan Cindy)
Ya yang seperti ini modelnya…

VINARA
            Oh ini.. tabungan proteksi untuk karyawan…

PIERE
            Ya.. benar..

Vina mengamati data dan berkas.

VINARA
            Kalau begitu saya akan siapkan proposalnya untuk..

PIERE(memotong)
            Oh ngga perlu ngga perlu…

VINARA
            Maksud Bapak? (bingung)

PIERE
Saya kan sudah tahu seperti apa proposal dan polisnya dari karyawan yang sudah memiliki, jadi ngga perlu lagi ada proposalnya.. (menoleh memandang Cindy sambil tersenyum) kami percaya kok..
Langsung saja ..

Cindy dengan tegang menyodorkan sebuah tas besar hitam dan membukanya.
CU       Uang dalam jumlah besar dalam tas

PIERE
           Kami akan memberikan 12 juta pertahun untuk masing-masing karyawan, dan.. `          (melihat berkas) ada 20 karyawan.. jadi semuanya ada 240 juta di dalam tas ini..

CU       Wajah bingung Vina
Piere tersenyum tenang, Cindy terlihat tegang.

VINARA
Tapi Pak, Bapak belum perlu menyertakan pembayarannya sekarang, karena selain data ini, kami juga memerlukan yang lain seperti foto kopi ktp mereka, slip gaji, dan yang lain.. selain itu juga ada proposal dan surat-surat yang sebelumnya harus di tanda tangan..

Cindy memandangi Piere dengan gugup takut Vina menolak.

PIERE
Oh ngga apa Bu Vinara… nanti masalah itu bisa kami susulkan.. ya kan? Nanti kamu fax saja data apa yang perlu kami siapkan dan kami akan mengirimkan nya secepatnya..

VINARA
Tapi (heran).. sebenarnya kami sebagai agen sebaiknya tidak di perbolehkan untuk menerima pembayaran tunai sebesar ini.. dan juga setahu saya selama ini PT. Laksmana selalu melakukan pembayaran melalui transfer bank setiap akhir bulan sesuai dengan pembayaran gaji pegawai, tidak di setorkan secara langsung dimuka sebesar ini…

PIERE
Oh ngga masalah Bu Vinara.. Ibu kan sudah jadi agen kami sejak lama.. kami percaya Ibu dan perusahaan Ibu tidak akan menipu kami, makanya kami sekarang akan membayar langsung setahun dimuka…

Vina hendak membantah lagi.

PIERE
Sudah…ngga apa.. silakan Ibu hitung dulu jumlahnya.. supaya tidak ada kesalahan, dan kami akan siapkan tanda terimanya.. (memaksa)

Vina menerima tas dengan bingung.

CUT TO

14.INT.LOBBY KANTOR PT.LAKSMANA. SIANG
VINA, IAN, FIGURAN

Vina berjalan melintasi lobby dengan menenteng tas besar berisi uang di bahunya.
Vina terlihat ragu dan berjalan pelan.

VINARA
            Duh.. gimana ya? Perasaanku kok ngga enak bawa uang sebanyak ini…
            Sebaiknya aku telepon ke kantor dulu, dan tanya bagaimana baiknya..

Vina membuka tas tangannya dan mengambil ponsel mencoba menghubungi. Ponsel mati.

Intercut
Dari lantai dua Ian yang sedang melintas bisa melihat Vina di bawah. Ian terkejut dan heran.

IAN
            Vina? Ngapain ya dia ke sini?(berpikir sejenak lalu tersenyum)
Apa mungkin mau ketemu aku..

Ian memandang Vina yang sedang mencoba menelepon.

CUT BACK TO
Vina mencoba beberapa kali menyalakan ponsel, tapi tetap mati.

VINARA
Duh baterainya habis lagi… semalam soalnya ngga kepikir mau keluar, jadi aku pikir mau charge di kantor aja… atau telepon umum ada ngga ya…
Ah gimana sih, ini kan gedung kantor pribadi, mana ada telepon umum, emangnya stasiun kereta…

Vina menggeleng dan bergegas keluar.

Intercut
Ian melihat Vina berjalan cepat keluar dan hendak memanggil. Diam sejenak lalu mengambil ponsel dan menghubungi Vina.
Suara operator telepon tidak aktif.

IAN
            Lho.. kok mati sih..

Ian mengangkat wajah melihat ke bawah dan Vina sudah tidak ada.
Ian bergegas menyusul turun.

CUT TO
Vinara memasuki mobilnya.

CUT TO
Ian berlari menuruni escalator. Saat tiba di lobby lantai dasar, terpisah melalui pintu kaca, Ian melihat mobil Vina melintas. Ian berlari mengejar ke depan.
Sampai di teras Ian melambai. Mobil Vina terus melaju.
CUT TO
Commercial break

15.INT.KANTOR PIERE. SIANG
PIERE, CINDY

Piere sedang menelepon. Cindy berdiri di sebelahnya dengan gelisah.

PIERE
            Terimakasih Pak James… Ya kami tunggu kabar dari Anda segera..
            Ya terimakasih..

Piere menutup telepon dan tersenyum puas.

CINDY
            Gimana Dad?

PIERE
            Kamu tenang saja, pasti beres..

Cindy berjalan memutar dan duduk di depan Piere. Tangannya di gosok-gosokkan gelisah.

CINDY
            Tapi bagaimana kalau that Mr.James…(cemas)

PIERE(memotong)
Tenang.. tenang Sweetheart… Ngga mungkin Mr.James berani menolak permintaan kita.. perusahaannya akan merugi cukup banyak… (tertawa kecil)
(Piere berjalan ke belakang Cindy dan memegang bahunya)
Begitu dia dipecat dari perusahaan, kita akan pastikan bahwa perempuan bernama Vinara itu tidak akan punya kesempatan lagi untuk bekerja di perusahaan mana pun..
(tertawa sinis) Dan pada saat dia benar-benar terdesak.. tidak mungkin dia akan menolak lagi semua permintaan kita…

Cindy tampak gelisah tak mengomentari.

CINDY(dalam hati)
           I’m so sorry Vinara… I really feel bad about it… but I’ll do anything to get Ian back…

Piere menghela napas lega.

CUT TO

16.INT.KANTOR VINARA. SIANG
JAMES, VINARA, OPIE, FIGURAN

Vinara memasuki kantornya tergesa. Opie mencegatnya dengan wajah khawatir.

OPIE
Kamu kemana aja sih? Aku coba telponin kamu dari tadi tapi ngga aktif… ada masalah apa sih sama PT.Laksmana?


VINARA
Bateraiku habis Pi, tadi aku juga hubungi ke kantor dari sana. Tapi karena ngga bisa ya.. (diam sejenak) Kenapa emang nya?

OPIE
Aku ngga tahu pasti.. tapi kamu di tunggu Pak James di ruangannya. Kelihatannya serius deh…

VINARA
            Oke deh.. aku langsung ke sana.. aku juga ada perlu bicara sama dia…

Vina tersenyum dan pergi ke ruang Pak James. Opie mengangguk dan memandangnya pergi.
Vina mengetuk pintu dan masuk. James sedang duduk, mengangkat wajahnya dan melambai menyuruh Vina masuk.

VINARA
            Iya Pak?

JAMES
            Begini Vinara… (menghela napas lalu melihat tas hitam) Eh itu?

Vina meletakkan tas di meja.

VINARA
Ini Pak.. sebenarnya saya juga ada perlu bicara dengan Bapak.. tapi kalau Bapak ada sesuatu yang ingin di sampaikan lebih dulu?

JAMES
Oh nggak, silakan.. kamu bicara dulu..

VINARA
Begini Pak, saya baru saja dari PT. Laksmana, di sana saya bertemu dengan Pak Piere dan Ibu Cindy, mereka hendak menambah polis untuk tabungan karyawan…
(diam sejenak)
Tapi anehnya mereka memberikan saya ini (membuka tas) untuk membayar premi tahun pertama mereka padahal saya belum menerima data lengkap dan belum juga mengajukan proposal apa pun Pak.. katanya semua bisa menyusul..

JAMES
Saya tahu Vina, (ragu)
Kamu sudah bekerja dengan prestasi yang sangat bagus di perusahaan ini selama bertahun-tahun…
Tapi masalahnya.. (gelisah)

VINARA
Ada masalah apa Pak?

James tampak gelisah.

JAMES
Vina.. begini.. saya baru saja menerima telepon dari PT. Laksmana, mereka menyampaikan bahwa kamu telah bertindak tidak sopan dan bahkan memaksa mereka untuk mengeluarkan pembayaran premi di muka dengan jumlah besar.. padahal semua data karyawan dan proposalnya belum mereka terima..

Vina terkejut.

VINARA
            Apa? Itu ngga benar Pak… sungguh.. Bahkan tadi saya sudah menolaknya..

JAMES
Saya tahu Vina.. ini tidak mungkin kamu lakukan.. (diam sejenak)
Tapi masalahnya tidak ada bukti dan saksi apa pun yang bisa meringankan kamu..
Mereka bahkan mempunyai bukti yang memberatkan berupa tanda terima dan .. (menepuk tas uang) Uang ini memang ada di kamu…

VINARA
Tapi Pak, kalau saya memang ingin melarikan uang ini, untuk apa saya bawa uang ini ke sini…

JAMES
Saya tahu Vina..
Tapi mereka juga bersikeras bahwa kamu yang bersalah, dan mereka mengancam akan melaporkan perusahaan kita ke kepolisian jika saya tidak bisa menyelesaikan masalah kamu..

Vina terduduk lemas dan bingung.

JAMES
Maaf kan saya Vina.. tolong kamu mengerti posisi saya…
Kamu tahu sendiri kan sebuah perusahaan asuransi bisa berjalan salah satunya yang utama adalah karena nama baik…(menghela napas)
Saya tidak bisa berbuat banyak… selain menuruti permintaan mereka..

Vina terkesiap.

VINARA
            Mak.. maksud Bapak? (gugup)

James terdiam sejenak dan terlihat bingung.

JAMES
Saya mohon maaf, ini demi kelangsungan perusahaan..
Tapi mengingat jasa kamu yang besar bagi perusahaan, kami memang tidak akan memecat kamu dengan tidak hormat seperti permintaan mereka…

Vina mengangkat wajahnya sedih memandang James penuh harap.

JAMES
            Tapi dengan terpaksa… (pelan) saya mohon kebesaran hati kamu..
            Untuk mengajukan permohonan pengunduran diri kamu secara terhormat..

Vina tampak terpukul, matanya berkaca-kaca.
James menghela napas berat.

JAMES
Kami akan tetap memberikan referensi yang terbaik, sehingga kamu bisa bekerja di tempat lain…

Vina mengatupkan ke dua tangannya di depan wajahnya dan tampak sangat sedih dan terkejut.
James menggeleng sedih dan pasrah.

CU       Wajah Vina terpukul dan sedih
CU       James menunduk dan menggeleng


CUT TO



END EPS.18



Credit Title
THEME SONG 4

No comments:

Post a Comment