1.INT.RUANG TUNGGU RUMAH SAKIT. SIANG
ARYA, NAIA, SUSAN, BASKORO, PAK PRODJO, FIGURAN
Arya berjalan hilir mudik di depan pintu. Pak Prodjo duduk di dekat pintu.
Naia danBaskoro duduk agak jauh dari Pak Prodjo. Susan duduk dihadapan Naia dan Baskoro. Sesekali perawat lewat.
Naia mengangkat wajah dan memandang Susan dengan sengit lalu berbicara dengan Baskoro dengan nada kasar.
NAIA
Mau ngapain dia di sini?
Sambil melirik Susan dengan pandangan tak suka.
Baskoro mengelus bahu Naia menenangkan.
NAIA
Belum puas apa dia bikin Ibu sakit…
Susan mengangkat wajah dan memandang Naia dengan pandangan menantang. Baskoro memandang Susan dan menggeleng supaya tak melawan.
NAIA
Kamu ini seharusnya ngaca dong.. mikir.. (bicara pada Susan)
Kamu tuh sama sekali ngga ada kepentingan apa-apa di sini.. bikin mata saya sakit aja..
SUSAN
Saya ini istri Arya.. (melirik Bas dengan geram) Jadi sudah semestinya saya mendampingi dia disini… apalagi Ibu lagi sakit… (menahan marah)
NAIA
(tertawa melecehkan) Istri? Sejak kapan Arya menikah sama kamu? Kok saya ngga pernah tahu ya? (tersenyum sinis)
Apalagi.. Ibu sakit itu kan gara-gara kamu… Ibu kena serangan jantung karena kamu.. (emosi, memajukan badannya ke depan) masih ngga ngerti juga… (menggeleng marah sambil kembali menyandarkan duduknya)
BASKORO
Sudah.. sudah.. malu di denger orang…
Arya memandang Naia, Susan dan Baskoro, lalu datang mendekat dengan kesal.
ARYA
Ibu sakit bukannya prihatin kok malah bikin ribut di sini..
NAIA
Siapa yang bikin ribut? Tuh.. perempuan yang ngaku istri kamu…
ARYA
Kamu sih Nai.. ngomong apa sama Ibu di telepon sampai Ibu pagi-pagi datang ke rumah ku…
Pak Prodjo mulai merasa terganggu dan menoleh ke arah anak-anaknya yang bersitegang.
ARYA
Kamu sih kalau ada apa-apa ngga mikir.. lihat kan gara-gara laporan kamu sakit Ibu jadi kumat lagi…
Naia tampak berang, Susan tersenyum senang merasa di bela.
NAIA
E e.. kok kamu jadi nyalahin aku… (memandang Susan kesal)
Siapa yang cari gara-gara pake menghamili orang segala..
Pak Prodjo berdiri mendekat. Arya terkejut dengan kalimat Naia.
ARYA
Kamu.. (kesal)
PAK PRODJO
Cukup!! Sejak kapan keluarga kita ribut hanya karena orang luar.. (melirik Susan tak senang) Arya.. Bapak mau bicara…
Pak Prodjo berjalan menjauh. Arya memandang kesal ke Naia dan berjalan mengikuti ayahnya.
CUT TO
2.INT.TAMAN. SIANG
VINARA, OPIE, SELMA, PUTRI, NARTI, SUSTER PUTRI, FIGURAN
Putri dan Selma bermain di taman sambil tertawa gembira. Suster dan Narti tampak asyik mengobrol dekat mereka. Opie dan Vina berjalan pelan menuju ke sebuah bangku yang lebih teduh dan duduk.
OPIE
Gimana kamu sudah hubungi Ian?
VINARA
(menggeleng) Mau bilang apa Pi? Orang ngga ada perlunya… lagian kan teleponnya mahal..
OPIE
Aduh nenek… Kamu ini gaptek amat sih.. kan bisa email.. atau sms… gimana sih?
Lagian ngga ada salahnya kan sekedar menjalin hubungan baik… kamu kan sempet berteman akrab sama dia…
VINARA
Aku takut ada salah persepsi atau .. apalah… lebih baik aku ngga main api deh..
OPIE
Tuh kan.. kamu ini sudah mikir jelek dulu sih.. ngga ada salahnya kok kamu sms dia dan menjelaskan ketidak hadiran kamu di bandara waktu itu.. kalaupun kamu ngga mau cerita masalah pribadi kamu, setidaknya kamu membalas sms dia hanya sekedar tata krama kesopanan saja…
VINARA
Aku ngga bermaksud ge-er Pi.. tapi kalau seandainya memang bener semua prasangka kamu tentang perasaan Ian ke aku.. berarti kan memang lebih baik aku ngga menghubungi dia lagi… Itu akan lebih baik buat dia dan aku.. toh hubungan kami ngga akan bisa kemana-mana.. hanya menimbulkan berita buruk aja
OPIE
Kamu ini gimana sih.. pasti masih juga mikirin Arya.. lihat aja.. sekarang posisi kamu hanya digantungin terus sama Arya… ngga ada kejelasan… Arya juga ngga mau ngelepasin istri mudanya.. buat apa kamu beratin dia Vin?
Aku ngga bilang kamu suruh cepat-cepat cari pengganti Arya, tapi aku rasa ngga ada salahnya kamu berteman dengan orang-orang lain dan belajar membuka hati kamu.. selama kamu menjaga diri kamu.. ya kan?
Vina mengangguk-angguk ragu.
OPIE
Ayo cepet… ambil hp kamu.. sms dia… say hello aja…
apalagi semua gosip Ian itu kan belum tentu bener, apa ngga sungkan kamu ngga memberi penjelasan sama dia..
anggap deh aku yang ada di posisi Ian, aku itu mengharapkan kamu bisa ketemu aku, sebelum aku pergi, jauhh dan lamaa, dan ternyata kamu ngga Cuma ngga muncul.. bahkan menghubungi aku juga engga.. (tersenyum) bisa aku jitakin kamu..
Vina tertawa sambil mengeluarkan ponsel dari tasnya.
VINARA
Betul juga Pi… (membuka sms dan mengetikkan beberapa kalimat)
OPIE
Mana .. sudah dikirim?
Vina mengangguk. Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel Vina berdering.
OPIE
Hah? Cepet banget sudah dibales?
Vina terkejut dan memandang ponselnya.
VINARA
Bukan ini dari Arya? (heran)
Opie dan Vina berpandangan.
CUT TO
Commercial Break
3.INT.RUANG TUNGGU RUMAH SAKIT. SIANG
ARYA, VINARA, SUSAN, NAIA, BASKORO, PAK PRODJO, FIGURAN
Vinara berlari tergesa masuk ke rumah sakit dengan wajah cemas. Lalu menuju lift dan masuk ke dalamnya.
Flash Back
Vina dengan cemas berdiri dan menggandeng Selma
VINARA
Pi aku nitip Selma dulu ya.. nanti sepulang dari rumah sakit, aku jemput di rumah kamu..
Opie dengan khawatir mengangguk.
OPIE
Iya ngga apa… hati-hati ya… sampaikan salam ku sama Ibu.. semoga cepat sembuh..
Vina mengangguk dan tersenyum.
CUT BACK TO
Vina keluar dari lift dan menuju informasi.
VINARA
Maaf Sus.. kamar Ibu Prodjo… yang baru masuk pagi ini Sus.. serangan jantung… (terengah)
SUSTER
Oh, sebentar (melihat daftar) Kamar intermediate 325 Bu sebelah sana.. (menunjuk)
VINARA
Terimakasih…
Vinara bergegas menuju lorong, dari kejauhan tampak Arya, Susan, Naia dan Baskoro duduk di depan kamar.
Susan tampak kesal melihat kedatangan Vina. Vina memandang Susan dengan perasaan tak enak.
VINARA
Bagaimana Ibu? (pelan)
BASKORO
Sudah stabil, tapi masih belum boleh di ganggu jadi mesti satu-satu yang masuk menjenguknya… Bapak sekarang masih di dalam..
Naia diam saja pura-pura tak melihat kehadiran Vina. Arya menoleh dan berdiri mendekati Vina. Susan yang melihat itu segera berdiri di hadapan Vina menghalangi.
SUSAN
Mau apa lagi kamu ke sini.. kamu sudah bukan lagi bagian dari keluarga kami, sebaiknya tidak usah datang-datang lagi…
Naia tersenyum mencibir. Arya menarik lengan Susan.
ARYA
Ngomong apa sih kamu… Ibu yang mau ketemu sama Vina..
Vina menghela napas sedih.
VINARA(dalam hati)
Ternyata hanya Ibu ya? Bukan kamu Yak…
Pintu kamar Bu Prodjo terbuka dan Pak Prodjo keluar.
Susan segera menghampiri.
Pak Prodjo menghalangi tanpa memandangnya.
PAK PRODJO
Vina?
Vinara mendekat. Susan tampak kesal.
PAK PRODJO
Ibu mau bicara…
Vina mengangguk cemas dan mengikuti Pak Prodjo masuk ke kamar.
Naia menghela napas kesal.
NAIA
Kalau anak emasnya sudah datang… (berdiri)
Ayo Mas.. (mengajak Bas).. kita cari makan aja.. pasti Ibu ngobrolnya masih lama..
Naia berjalan menjauh dengan kesal, Baskoro memandang Susan sejenak dan berjalan mengikuti Naia.
SUSAN
Kamu ini gimana sih Yak? Buat apa lagi kamu bawa perempuan itu ke sini?
ARYA
Aku mesti gimana lagi, Ibu dan Bapak mau ketemu Vina..
SUSAN
Mestinya kamu jelaskan dong, kalau sekarang aku lah yang istri kamu.. kasi pengertian sama mereka.. Vina itu sudah jadi masa lalu kamu..
ARYA
Apa kamu ngga lihat kalau suasananya ngga tepat… (bingung) Sudah lah lebih baik kamu pulang saja.. (menoleh ke perut Susan ) Kamu kan juga harus banyak istirahat…
Susan memandang kesal.
CUT TO
4.INT.PESAWAT. SIANG
IAN, FIGURAN
Ian tersenyum sambil memandangi ponselnya lalu menyandarkan badannya ke bangku eksekutif pesawat. Ian memejamkan mata dan tersenyum lega.
Back Sound – SMS dari Vina
VINARA
Hai Ian? Masih di Paris ya? Gimana kerjaan kamu? Bereskan?
Sorry ya, waktu itu aku ngga bisa ke bandara karena Selma masuk rumah sakit, dan setelah itu juga kebetulan banyak banget kerjaan, makanya baru sempet bales sms kamu sekarang.
Ya udah ya, sampai ketemu di Jakarta.
CUT BACK TO
Ian tersenyum sangat senang.
IAN(dalam hati)
Aku sebenernya memutuskan untuk menetap lebih lama, sekedar menenangkan pikiran dan melarikan kegalauan pikiranku, dengan lebih serius bekerja, menyibukkan diri dengan kegiatan shooting dan aksi amal yang diadakan di sana.
Tapi apa kamu tahu Sayang… ketika malam datang dan saat semua sudah tidur, aku selalu merasa hampa. (tersenyum pedih) Sakitnya seperti ketika pertama kali aku mendengar berita kecelakaan Papa dan Mama.(menghela napas)
Aku sendiri sebenernya nggak habis pikir. Aku baru aja kenal kamu. Bahkan hubunganku sama kamu sama sekali jauh dari serius. Hanya hubungan kerja. Tapi kenapa bisa jadi begini.
Apa benar ada cinta pada pandangan pertama? Ngga juga, ini bukan pertama aku ketemu kamu, dan sebelumnya ngga pernah ada perasaan kaya gini…
Kalau setelah kejadian wisuda itu, kamu sempat menjadi inspirasi dalam hidup aku, itu juga ngga seberapa… dibanding perasaanku sekarang ini
Tapi kalau memang ini cinta, kenapa pula harus jatuh pada orang yang salah?
Bukankah seharusnya Aku mencintai Cindy?
Ian memandang keluar jendela dan melihat awan putih indah di langit.
IAN(dalam hati)
Tiap hari aku disiksa perasaan ngga enak yang semakin mengganjal di hati aku. Apa kamu tahu, tiap malam, berulang kali aku ingin menelpon kamu, tapi sebelum tersambung selalu kumati'in, karena takut kalau kamu menolak aku lagi.
Sampai kemarin malam… aku menerima sms kamu (tersenyum) ternyata… kamu ngga pernah menolak aku.. semuanya hanya kebetulan terjadi di saat yang ngga tepat(penuh harap)… makanya aku langsung memutuskan untuk segera kembali ke Jakarta.
Aku sudah putusin, ini satu-satunya jalan untuk mengatasi perasaanku, yaitu dengan menghadapi perasaan itu sendiri.
Apa salahnya menjalin pertemanan dengan orang yang sudah menikah. Sekedar berteman tidak menjadi soalkan. (menghela napas) Aku tau Dani akan mentertawakan aku habis-habisan, tapi dari pada merasa tersiksa seperti ini terus, lama-lama aku bisa mati merana, (menggeleng) aku ngga ingin lagi memperpanjang masalah ini. (diam sejenak memandang foto Vina di ponselnya, ketika mereka pergi ke pantai)
Dulu aku selalu beranggapan bahwa ngga mungkin seorang laki-laki dan perempuan bisa bersahabat dekat jika ngga salah satu atau malah keduanya mempunyai perasaan tersembunyi terhadap pasangannya.
Tapi sekali ini aku terpaksa menjalaninya. Kupikir, dengan merubah misi pengejaran ku dengan persahabatan mungkin bisa membuat perasaanku menjadi lebih baik.
Ian kembali memejamkan mata dan tersenyum.
CUT TO
5.INT.KAMAR RUMAH SAKIT. SIANG
VINARA, BU PRODJO, PAK PRODJO
Bu Prodjo terbaring lemah dan wajahnya tampak sangat sedih.
Vinara datang menghampiri.
VINARA
Ibu.. (lirih)
Bu Prodjo menoleh. Vina mendekat dan mencium pipinya. Air mata mengalir di pipi Bu Prodjo.
Vina tampak sangat terharu dan cemas.
VINARA
Ibu… ada apa? Kalau masih sakit kan mestinya Ibu ngga maksain diri ke Jakarta..
BU PRODJO
Kalau Ibu ngga maksa ke Jakarta (melirik Pak Prodjo) Ibu dan Bapak ngga akan tahu kalau Arya sudah menelantarkan kamu dan Selma..
VINARA
Ibu..?? (sedih)
Pak Prodjo menggelengkan kepala sedih.
BU PRODJO
Vina.. (mengelus wajah Vina)
Ibu sudah anggap kamu seperti putri Ibu sendiri.. Ibu sangat menyesal.. Ibu sudah gagal mendidik anak, sampai hati Arya berbuat sekeji itu sama kamu.. (terisak)
VINARA
Ibu.. sudah.. jangan berpikir yang macam-macam dulu.. Vina dan Selma baik-baik aja kok.. Ibu jangan khawatir ya..
BU PRODJO
Ibu menyesal… (memukul dadanya) Ibu minta maaf Vin.. Ibu minta maaf.. (menangis)
VINARA
Ibu (menangis).. sudah Bu.. jangan bicara begitu… Ibu sudah Vina anggap seperti Ibu kandung Vina.. semua ini bukan salah Ibu, bukan salah siapa-siapa… Ibu jangan begini..
Bu Prodjo dan Vina berpelukan menangis. Pak Prodjo menggelengkan kepala gundah.
CUT TO
6.EXT.TAMAN RUMAH SAKIT. SIANG
VINARA, ARYA, FIGURAN
Arya dan Vina duduk berdampingan. Sesekali suster dan pengunjung rumah sakit melewati mereka.
ARYA
Maaf in aku Vin… (sedih) Aku bener-bener sudah bikin kacau semuanya..
Vina diam saja memandang ke depan. Arya memandang Vina penuh harap.
ARYA
Pulanglah Vin.. kita mulai dari awal lagi.. (memohon)
Vina menghela napas tetap memandang ke kejauhan.
VINARA
Pulang? (menoleh ke Arya) Pulang ke mana Yak? Apa masih ada tempat di rumah itu?
Arya menunduk bingung.
ARYA
Aku sudah bicara sama Bapak Ibu..
Susan.. bisa saja pindah ke apartemen atau.. kontrakan lain… aku aku akan..
VINARA(memotong)
Itu kan menurut Bapak dan Ibu… kalau menurut kamu sendiri bagaimana?
Vina memandang Arya yang tampak ragu.
VINARA
Kalau kamu sendiri masih ragu dengan keputusan kamu… buat apa aku pulang? Jangan-jangan suatu saat aku akan kamu usir lagi dari rumah…
ARYA
Ya ngga mungkin lah Vin… mana mungkin aku ngusir kamu.. kemarin pun aku ngga minta kamu pergi dari rumah.. kamu yang pergi sendiri..
Vinara memandang Arya tak mengerti.
VINARA(dalam hati)
Kamu sepertinya sama sekali ngga menyesal dan merasa bersalah ya?
ARYA
Aku ngga mencintai Susan.. semua itu hanya kecelakaan.. kami..
Vina mengangkat tangannya meminta Arya berhenti.
VINARA
Sudah lah Yak (memotong) Aku sudah sering dengar cerita itu, dan aku ngga mau ingat-ingat lagi masalah itu.. aku sudah capek.. (diam sejenak) Air mataku juga sudah habis… (menerawang sedih)
Aku sangat menghargai permintaan Bapak dan Ibu, tapi selama masalah Susan dan anaknya itu tidak jelas.. aku ngga mungkin kembali lagi sama kamu…
Kalau kamu bilang kamu ngga mencintai Susan, tapi semua perbuatan kamu sepertinya ngga sesuai dengan perkataan kamu tadi… kamu selalu memperlakukan nya dengan baik, menuruti semua permintaannya dan sangat memperhatikan dia
ARYA
Itu karena Susan sedang mengandung anakku…
(terkejut sendiri karena kelepasan bicara)
VINARA
(tertawa kecil) Kamu ngga memperlakukan aku seperti itu saat aku mengandung Selma kan? Apa kamu pikir Selma bukan anakmu?
Arya diam merasa salah bicara.
VINARA
Aku memang sangat mencintai kamu.. melebihi apa pun yang ada di dunia ini.. (diam sejenak) Tapi aku juga manusia Yak.. dan aku juga bisa sakit hati.. aku masih belum bisa menerima perlakuan kamu… apalagi aku lihat kamu…
(diam sejenak)
Sudah lah Yak.. kamu pikirkan lah baik-baik.. kandungan Susan sudah semakin besar… apa pun keputusan kamu, aku harap itu adalah yang terbaik buat kamu.. (tersenyum memandang Arya) dan aku pasti menerimanya..
Vina menghela napas dan berdiri meninggalkan Arya.
CUT TO
Commercial Break
7.INT.TAKSI. SIANG
IAN, DANI, SOPIR TAKSI
Ian tampak sangat bersemangat duduk di taksi sambil membuka-buka traveling bag nya.
Ian sedang mengobrol dengan Dani lewat ponsel.
Intercut
Dani terkejut dan bangkit dari duduknya.
DANI
Apa? Elo sudah pulang dari Paris? Sudah di Jakarta? (melihat arloji)
Kenapa ngga bilang dari tadi kan gua atau Pak Darius bisa jemput elo..
Ian tertawa sambil mengeluarkan beberapa bungkus plastik dan melihat isinya.
IAN
Tenang ‘men’ gua udah di taksi kok.. Cuma mau kasi tau lo aja supaya lo ngga bingung cari gua.. (tertawa)
Dani mengernyitkan kening heran mendengar tawa Ian.
DANI
Apa gua ngga salah denger Yan? Lo barusan ketawa?
Ian tergelak. Di dalam plastik ada coklat dan beberapa gantungan kunci dan suvenir berbentuk menara Eiffel.
IAN
Ngomong apa sih lu.. udah ya.. gua udah mau nyampe nih..
DANI
Oh elo udah mau sampe kantor? Ya udah langsung ke kantor gua aja ya… gua akan kabarin Cindy kalo lo udah pulang
IAN
Ngapain dateng-dateng gua ke kantor lo…
Kaya ngga ada kerjaan aja.. (tertawa)
Sorry ya.. gua masih ada perlu sebentar, nanti gua langsung pulang ke apartemen.. udahan dulu ya.. bye..
DANI
Hallo? Hei… hei.. (telepon putus) Sompret lu Yan.. gua belum selesai ngomong…
Ian menutup telepon dan merapikan tasnya lalu menyiapkan tas tentengan.
Taksi berhenti di halaman kantor Vina. Ian mengulurkan uang membayar.
IAN
Terimakasih Pak
Sopir menerima.
Ian turun dari mobil, di bahu nya tergantung traveling bag-nya terlihat kalau Ian baru pergi jauh. Ian berdiri sambil tersenyum senang memandang ke kantor Vina.
CUT TO
8.INT.KANTOR VINARA. SIANG
VINARA, RITA, NIA, MONIK, IAN, FIGURAN
Vinara sedang merapikan berkas. Rita dan Nia berdiri di dekatnya.
RITA
Langsung pulang ya? Selma ngga di ajak sih.. jadi buru-buru..
VINARA
Iya, tadi Selma sudah janji sama papanya, pulang sekolah mau di ajak jalan katanya
NIA
Pantesan kamu melarikan diri kesini.. males ketemu bekas suamimu ya.. (tertawa)
Vina hanya tersenyum.
RITA
Oya.. kok Pak Ian sudah lama ngga ada kabarnya ya?
Vina menoleh sambil memeluk berkas di dadanya.
VINARA
Ya kan emang semuanya sudah selesai Mbak. Polis-polisnya juga sudah jadi dan di kirim ke kantornya minggu lalu. Kata orang kantornya si masih di Paris.
(Vinara melempar senyum) Kaya nggak tau orang sibuk aja
RITA
(tertawa kecil) Kamu nggak kangen, akhir-akhir kan dia deketin kamu terus (godanya lagi)
NIA
Ngawur lu… ntar macannya bisa marah
RITA
Ah,.. macan-nya kan sekarang sudah ompong.. ya nggak Vin..
Vinara hanya tertawa menyambut gurauan teman-temannya.
VINARA(dalam hati)
Sudah hampir dua bulan sejak terakhir ketemu, dan Ian hanya menghubungiku, ketika hendak berangkat ke Paris, itu saja.
Sebenarnya aku sedikit ngerasa kehilangan, biasanya dalam sehari saja Ian bisa menelpon aku beberapa kali just to say Hello, dan aku juga kangen dengan nada bicaranya yang lucu.
(menggeleng) Ah..aku mikir apa sih.. jangan sampai perasaan itu tumbuh dihati aku (takut). Aku kan sudah menikah. Ngga seharusnya ada perasaan seperti itu.
Walau sekarang aku dan Arya sudah berpisah, tapi kami nggak pernah resmi bercerai.. dan aku merasa berdosa punya sedikit perasaan pada orang lain…
Yah..walau teman-teman sering godain aku dan malahan mendorong aku supaya dekat dengan Ian… dan malahan bilang dengan nada cemburu, kalau wajarlah siapapun juga pengen di dekati Pria idaman seperti Ian termasuk mereka. Nggak akan ada yang bisa menolak Ian.
Vina terkejut karena tawa teman-temannya. Ternyata mereka masih saja membahas Ian.
Saat Vina hendak berbalik mengambil tas, suara dering ponselnya berbunyi.
CU Layar ponsel Vina – nama Ian
Secara reflek Vina tersenyum senang dan dengan semangat mengangkatnya.
Intercut
Ian berdiri di depan kantor.
IAN
Selamat siang cantik.. bagaimana kabarnya?(mesra)
Vina berjalan menjauh dari teman-temannya yang masih mengobrol.
VINARA(dalam hati)
Aduh kenapa aku jadi deg-deg an begini sih…
VINARA
Ian ya? Sudah pulang atau masih di Paris?
Wajah Vina langsung bersinar.
IAN
Aku ada dibawah nih, keluar bentar dong Sayang..
Vina tersenyum lebar dan menutup telepon lalu setengah berlari menuju keluar melewati teman-temannya.
MONIK
Ada apa Vin… kok heboh banget sih…
Vinara tak mendengar seloroh Monik dan berlari kecil menuruni tangga. Melewati koridor dan muncul di pintu kaca. Teman-temannya segera menuju jendela untuk mengintip.
CU Ian tersenyum memandang Vina yang muncul dengan ceria
Hati Ian berdegup kencang ketika melihat Vina muncul sambil mencari-cari keberadaannya.
IAN(dalam hati)
Rasanya aku pengen ingin banget lari dan memeluk kamu…Kangen-nya…
Sabar Yan.. sabar.. (mengatur napas)
Vina melihat Ian dan menghampirinya.
IAN
Hai…. (gugup)
Vinara terlihat jengah.
VINARA(dalam hati)
Kenapa aku jadi begitu bersemangat ketika mendengar panggilan tadi.
Ian menyalaminya hangat.
IAN
Lama juga ya ga ketemu..
Matanya menatap Vina dalam-dalam. Vina hanya tersenyum dan mengangguk-angguk salah tingkah.
CUT TO
Teman-teman Vina yang berkerumun diam diam di jendela tampak semangat mengintip pertemuan itu.
RITA
Tuh kan aku bilang juga apa.. ngga mungkin deh mereka ngga ada apa-apanya.. lihat aja tatapan matanya (memperagakan menunjuk mata)
NIA
Yah biarin aja.. sirik amat sih…
Lagian Vina dan suaminya kan memang sudah mau bercerai… ngga masalah dong dia cari penggantinya…
MONIK
Iya.. walaupun sebenernya suami Vina juga ganteng.. tapi kalau di madu sih… mana tahan.. (tertawa)
RITA
Bener-bener… berondong-berondong dikit ngga papa deh… (tertawa) Mendingan sama Ian aja..
NIA
Beruntung banget si Vina… dulu suaminya ganteng.. sekarang di taksir cowok.. ga cuma ganteng, kaya, artis lagi…
CUT BACK TO
Ian mengulurkan 3 bungkusan .
IAN
Aku ada oleh-oleh nih buat kamu..
VINARA
Wah, kok repot-repot banget, banyak sekali, mungkin..(tangannya mengulur kembali hendak mengembalikan bungkusan itu)
IAN
Ga papa kok.. Cuma camilan aja dan sedikit kenang-kenangan.(tersenyum)
Ini buat kamu (menunjuk plastik merah kecil), ini untuk Selma (menunjuk sebuah plastik berisi boneka agak besar) dan ini untuk bala tentara kamu di atas tangannya menunjuk ke jendela)
Vina memandang ke jendela dan sekilas di lihat teman-temannya berlarian karena merasa ketahuan mengintip. Vina dan Ian tertawa.
VINARA
Makasih ya.. kamu jadi repot mesti bawa berat-berat dari sana…
Vina memandang sekilas ke traveling Bag Ian.
VINARA
Kamu..tadi..
Ian tampak salah tingkah.
IAN
Oh eh iya.. (gugup) iya aku langsung dari bandara belum sempet mampir ke rumah.. takut keburu leleh coklatnya (cepat-cepat beralasan)
Vina mengangguk mengiyakan saja.
IAN
Ehm… (gugup) Ada acara apa hari ini? Bisa keluar ga? Sebentaarr.. aja?
Suamimu nggak keberatan kan, nanti aku antar pulang deh. Aku janji nggak macem2. Cuma pengen ngobrol aja. Bisa kan temenin aku
VINARA
Eh gimana ya…
IAN
Aku Cuma pengen jadi temen kamu kok.. mau kan… (memohon)
Vina tampak berpikir sejenak.
VINARA
Aku ngga ada acara sih.. (pelan) ini juga sebenernya udah mau jalan pulang
Ian tersenyum senang.
VINARA
Kalau gitu aku kasi ini dulu ke mereka ya.. menunjuk tentengan oleh-olehnya…
Ian tersenyum. Ian dan Vina berpandangan mesra.
CUT TO
Ian tampak menunggu di depan sambil senyum-senyum sendiri.
Vina berjalan keluar kantor sambil membawa tas tangannya dan berdiri di samping Ian.
IAN
Sudah?
Vina mengangguk.
IAN
Ehm.. tadi lupa bilang.. karena langsung dari bandara.. aku jadi lupa bawa mobil.. kita naik taksi ngga masalah kan..
Vina tertawa kecil.
VINARA
Emangnya Tuan Besar mau kemana (menahan senyum) naik taksi ku aja bagaimana?
IAN
Taksi kamu?
Vina berjalan menuju mobilnya.
VINARA
Agak sedikit tua, tapi ac nya nyala dan nggak mogok kok… (tertawa)
Ian memandangi mobil Vina lalu tersenyum menggoda.
IAN
Emangnya.. kamu bisa nyetir? Sejak kapan? Atau mau aku yang bawain?
VINARA
Mau test drive nih… (tertawa) Ayo…
Vinara membuka mobil dan mereka masuk.
Tiba-tiba ponsel Vina berdering. Vina mengangkatnya.
VINARA
Ada apa Narti?
Ian tampak memandangi ingin tahu. Vina menoleh ke Ian seperti ada sesuatu.
VINARA
Ngga jadi datang? Kenapa?
Intercut suara Narti
Kata Bapak.. mau ngantar Bu Susan periksa kandungan Bu dan pulangnya malam.
Vina menghela napas kesal dan tampak berpikir keras.
VINARA
Ya udah.. suruh tunggu deh… saya pulang
Ian tampak penasaran dan agak kecewa.
Vina menutup teleponnya.
IAN
Ada apa?
VINARA
Sorry ya Yan.. Selma lagi ngambek.. papanya nggak jadi ajak dia jalan-jalan.. jadi aku pikir aku…
IAN
Ajak aja… (spontan)
Vina tampak terkejut. Ian sendiri seperti terkejut dengan ucapannya sendiri lalu berpikir mencari alasan.
IAN
Ngga apa kan, kita bisa ke mal, nonton, makan.. atau apa aja…
Vina menatap bingung.
VINARA
Bener nih… (ragu)
Ian mengangguk mantap. Vina mengangkat bahu dan menyalakan mesin.
Ian menghela napas.
IAN(dalam hati)
Duh… belum pernah aku kencan sama anak-anak.. semoga saja dia ngga benci sama aku..
Vina melirik Ian yang tampak tegang, dan tersenyum geli.
CUT TO
Commercial break
11.EXT.KONTRAKAN VINARA. SIANG
VINARA, IAN, SELMA
Mobil Vina berhenti di depan kontrakan. Ian memandang heran.
IAN
Kamu pindah rumah?
Vina tampak terkejut tapi lalu tersenyum dan mengangguk.
IAN(dalam hati)
Kenapa ya kok pindah? Kelihatannya jauh lebih kecil, mungkin keluarga mereka sedang ada masalah keuangan. Pantas waktu itu Vina bilang sedang ada masalah sehingga sibuk dan ngga sempat hubungi aku…(menghela napas)
Tapi untung aku ikut ke sini sekarang, kalau ngga besok-besok aku bisa nyasar ke rumah lama…
Ian dan Vina turun dari mobil. Seorang gadis kecil cantik berlari keluar dan Vina tersenyum menyambutnya.
Theme song 8 img: Berikan Aku Cinta by Ungu
10.EXT.TAMAN HIBURAN. SIANG
VINARA, IAN, SELMA, FIGURAN
Ian dan Vina menggandeng Selma di tengah dengan gembira.
Selma menunjuk komedi putar dengan gembira, Ian menggendongnya dan berjalan ke komidi putar. Ian, Selma dan Vina bergurau di komidi putar. Ian tampak sangat akrab dengan Selma. Sesekali Ian berusaha mendekati Vina, tapi Vina tampak menjaga jarak dengan Ian.
CUT TO
Ian menggandeng Selma dan membelikan gula-gula kapas dan balon. Vina mengamati sambil tersenyum melihat kebahagiaan Selma.
Beberapa orang memandangi Ian dengan tatapan ingin tahu dan berbisik-bisik.
CUT TO
Siang-malam berganti ganti
11.INT.KEDAI ES KRIM. SIANG
VINARA, IAN, SELMA, FIGURAN
Ian, Vina dan Selma duduk di sebuah kedai eskrim. Mereka tampak sangat akrab, bercanda dan saling suap. Seperti sebuah keluarga.
CUT TO
End theme song 8
12.EXT.RUMAH VINARA.MALAM
VINARA, IAN, SELMA, ARYA
Mobil Ian berhenti di depan rumah Vinara. Vina menggendong Selma yang sudah setengah mengantuk turun dari mobil. Ian turun dan berdiri dekat mereka.
VINARA
Thanks ya Yan.. kamu sudah temenin kita jalan-jalan terus.
IAN
Ngga papa lagi… aku juga udah lama banget ngga pernah bebas jalan-jalan kaya akhir-akhir ini.. aku juga seneng banget kok bisa jalan-jalan sama Princess… (mencubit pipi Selma)
SELMA
Uncle.. besok kita main lagi ya…
VINARA
Eh Selma… besok kan mesti sekolah, dan Uncle juga banyak kerjaan…
IAN
Ngga papa Sayang… (memandang Vina lalu menoleh ke Selma)
Pasti Princess, besok dan besok, dan besoknya lagi, uncle akan selalu sempetin waktu buat kamu… okey?
SELMA
Yee.. (senang)
VINARA
Jangan terlalu diturutin Yan, nanti dia manja lho..
Selma tertawa.
VINARA
Kita masuk dulu ya.. sudah malam.. sekali lagi thanks ya..
IAN
Oke deh.. kalau gitu aku langsung jalan ya…
See you… (memberi kiss bye pada Selma)
Vina dan Selma masuk dan melambai dari dalam pagar. Mobil Ian berlalu. Vina dan Selma masuk.
Mobil Ian berjalan melewati tikungan. Disudut jalan mobilnya berpapasan dengan sebuah mobil yang sudah lama di parkir di sana dan mengawasi Ian.
Mobil Arya.
CU Arya tampak cemburu
ARYA
Siapa laki-laki itu, kenapa mereka akrab sekali… Ini bukan pertama kalinya aku lihat dia datang ke rumah Vina..
Pantaslah Selma dan Vina ngga pernah protes lagi kalau aku ngga bisa datang.. ternyata… Sialan (kesal)
Arya memukul setir dengan geram.
CUT TO
13.INT.APARTEMEN IAN.MALAM
IAN, CINDY, DANI
Ian membuka pintu apartemen dan masuk dengan ceria. Tapi wajahnya segera berubah dingin. Dilihatnya ada Cindy dan Dani sedang menunggunya.
DANI
Eh pulang juga lo Yan… (gugup) Cindy udah dari tadi lho tunggu in kamu…
Ian tersenyum dingin dan berjalan ke dekat meja. Ian melepaskan arloji, mengeluarkan dompet dan beberapa kertas dari sakunya dan di letakkan di meja.
CINDY
Dari mana Yan? (menahan kesal)
IAN
(melirik) Kenapa emangnya?
Cindy menghela napas dan menghampiri Ian.
CINDY
Katanya kamu cuti 1minggu, sejak pulang dari Paris, tiap hari aku selalu cari kamu, tapi ngga juga bisa ketemu.
Ian menghela napas dan berjalan ke kamar mandi.
IAN
Aku mandi dulu… (cuek)
Dani diam saja hanya memandangi Ian dan Cindy. Cindy tampak kesal melihat Ian yang super cuek. Setelah melihat Ian menghilang dibalik pintu kamar mandi, Cindy seperti terpikir sesuatu dan berbaliik memandang ke dompet Ian.
Dani melihat apa yang dikerjakan Cindy dengan khawatir.
Cindy mengambil dompet Ian dan kertas-kertas yang ada di dekatnya.
DANI
Cin? Kamu mau ngapain?
Cindy melirik dan memberi tanda Dani untuk diam.
CINDY
Sstt!!
Cindy membuka kertas-kertas itu.
CU Tiket taman hiburan
Cindy tampak terkejut dan kesal.
CINDY
Ngapain Ian ke taman hiburan?
Cindy membuka dompet Ian dan menemukan selembar foto polaroid kecil. Ian, Selma dan Vina.
Cindy menoleh memandang Dani yang sudah berdiri di belakangnya.
Dani tampak tegang dan bingung. Cindy tampak sedih dan cemburu.
CINDY
Ini perempuan yang waktu itu kan?(memandang Vina) Jadi ini..
seperti ini wajahnya? Apa yang dilihat Ian dari dia?
seperti ini wajahnya? Apa yang dilihat Ian dari dia?
Cindy mengambil foto itu lalu memotrenya dengan ponselnya, lalu mengembalikan kembali ke dompet Ian dan menaruhnya kembali di meja.
CINDY
Jangan bilang apa pun.. (memandang Dani yang tampak berusaha mencegahnya)
Please..
Dani menghela napas dan menggeleng pasrah. Cindy keluar dari apartemen.
Di depan pintu Ian yang tertutup Cindy tampak ragu dan berpikir sejenak.
CINDY
Ngga ada jalan lain.. ini satu-satunya cara untuk memisahkan Ian dari perempuan itu..
Cindy mengambil ponsel dari dalam tas tangannya dan menghubungi seseorang.
CINDY
Daddy? Would you help me, please? (lirih)
CUT TO
Commercial break
14.INT.KANTOR IAN.SORE
IAN, CINDY
Ian sedang duduk dalam ruangannya. Cindy datang dan hendak mengetuk pintu. Tapi tangannya terhenti ketika mendengar suara Ian yang tampaknya sedang menelepon seseorang.
Cindy mencuri dengar dari depan pintu dengan cemas dan cemburu.
IAN
Nggak dong Sayang… mana bisa gitu sih.. (tertawa kecil)
Iya… iya.. pasti… nggak kok.. sama sekali nggak ganggu aku sama sekali… (lemah lembut)
Iya deh… kalau kamu memang nggak keberatan… (tertawa mesra)
Cindy mengepalkan tangan di dadanya.
CINDY(dalam hati)
Ian? Apa benar itu suara Ian? (gelisah)
Memang benar.. benar itu suaranya.. tapi…
Tapi… aneh rasanya, seumur hidup aku ngga pernah mendengar nada bicaranya seperti itu pada siapa pun… (menggigit bibir)
Sampai-sampai suatu kali Dani pernah bilang kalau mungkin Ian itu sudah terlalu lama di luar negeri sampai nggak bisa lagi berbahasa Indonesia yang baik dan benar.. (tersenyum pedih) Dan semua kosa katanya hanya berisi yang kasar-kasar saja… (diam sejenak dan menggeleng sedih)
Ternyata Dani salah… Ian bisa kok berkata-kata manis… lembut dan mesra.
Tapi kenapa semua itu justru Ian berikan pada orang lain.. bukan aku…
IAN
Oke deh Yank… nanti aku telepon kamu lagi ya… Bye.. mmuaahh.. (tertawa kecil)
Ian menutup ponsel dan tersenyum-senyum sendiri.
Cindy memandang dari depan pintu, menarik napas menguatkan diri, mengetuk pintu dan masuk ke ruangan Ian.
Sejenak Ian memandang masih ada sisa senyum di mukanya yang segera sirna melihat kedatangan Cindy.
IAN
Ada apa lagi? Dani hari ini sedang…
CINDY(memotong)
Aku ngga cari Dani kok… aku mau bicara sama kamu
Ian diam memandang Cindy dan menghela napas.
IAN
Ada apa? (lebih lembut)
Cindy duduk di depan meja Ian dan tampak ragu. Ian menunggu dan memandang Cindy dalam.
CINDY
Aku mau tanya sesuatu sama kamu…
Cindy diam sebentar ragu. Ian menaikkan alis dan memandangi Cindy yang tampak gugup.
CINDY
Sebenarnya… sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dan… perempuan yang bernama Vinara itu?
Ian tampak terkejut dan diam berpikir.
CINDY
Sorry aku.. aku ngga bermaksud mengganggu privacy kamu.. kamu tahu sendiri kan selama ini ada gosip apa pun antara kamu dan siapa pun, aku ngga pernah ikut campur masalah kamu. Tapi kali ini…
Cindy mengulurkan sebuah tabloid selebritis yang sedari tadi di pegangnya.
Ian menerima dengan heran.
CINDY
Tolong kamu baca baik-baik… dan kamu pikirkan baik-baik masalah ini…
Berita mengenai perempuan itu dan masa lalunya, tidak hanya di muat di sini, tapi juga di tabloid dan majalah yang lain.. bahkan dalam infotainment di televisi…
Ian membaca sekilas berita yang ada foto besar Vinara. Wajah Ian mengeras dan tampak menahan marah.
Cindy berbalik dan memandang televisi yang ada di dalam ruangan Ian. Cindy berdiri mengambil remote dan menyalakan televisi.
CINDY
Coba kamu lihat ini…
Ian meandang Cindy lalu berjalan mendekat ke televisi. Cindy membesarkan volume suaranya.
Layar TV :
Susan dengan wajah memelas menangis terisak sambil memangku Raka. Perutnya sudah semakin kelihatan membesar.
SUSAN
Dia itu hanya istri simpanan Arya suami saya… tega sekali dia.. padahal saya sedang mengandung anaknya…
CUT TO
Ian merebut remote dan memindah chanelnya ke saluran lain yang juga menayangkan berita selebriis.
Ian merebut remote dan memindah chanelnya ke saluran lain yang juga menayangkan berita selebriis.
Layar TV :
Betty bekas teman kuliah dan musuh Vina dulu tampak duduk di halaman sekolah sambil wawancara.
BETTY (bekas teman kuliah Vina)
Tentu saja saya tahu betul siapa Vina, saya kan pernah satu kampus dulu sama dia. Memang sejak dulu dia itu perempuan ngga bener.. (mencibir) dan hobby sekali merebut kekasih orang.. laki-laki yang dinikahinya sekarang ini juga dia rebut dari salah satu teman kami.. (mendecak dan geleng-geleng kepala)
Makanya kalau sampai saat ini Vina dekat dengan Ian, apalagi yang dia harapkan dari laki-laki itu kalau ngga sekedar harta dan popularitas…
Mungkin sekali kalau dia akhirnya hanya jadi simpanan para lelaki hidung belang..
CUT TO
Ian kembali memindah chanel. Cindy melirik diam-diam memperhatikan reaksi Ian.
Layar TV :
Dua orang ibu-ibu duduk di warung pojok dekat rumah Vina sambil wawancara.
TETANGGA KONTRAKAN VINARA 1
Wah kalau itu saya kurang tahu persis Pak…tapi memang betul Bu Vina hanya tinggal berdua dengan putrinya, eh bertiga… sama seorang pembantunya..
WARTAWAN
Kalau suaminya? Apa tinggal di sini juga?
TETANGGA KONTRAKAN VINARA 2
Ngga Pak.. suaminya memang ngga pernah kelihatan menginap.. kalau di tanya katanya sedang tugas di luar negeri…
WARTAWAN
Kalau yang namanya Pak Arya itu apa betul dia suaminya? Dan Pak Arya… sering pernah datang kan kerumahnya sekali sekali?
TETANGGA KONTRAKAN VINARA 2
Saya dengar memang suaminya bernama Arya gitu, sepertinya pernah kelihatan sih datang beberapa kali (menunjuk)
WARTAWAN
Apa benar sering ada laki-laki lain berganti-ganti yang berkunjung ke rumah Ibu Vina itu setiap hari nya?
TETANGGA KONTRAKAN VINARA 1
Ya… kami kurang tahu, tapi memang sering ada mobil gonta-ganti yang datang ke rumah itu… tapi siapa-siapa saja laki-laki itu ya kami kurang tahu…
CUT TO
Ian dengan kesal membanting remote ke kursi.
CU Wajah Ian kesal
Cindy memandang dengan tegang dan cemas.
CINDY(dalam hati)
Duh.. apa yang dia pikirin sekarang… semoga setelah tahu kebenarannya Ian mau meninggalkan perempuan itu…
Ian berbalik hendak keluar.
CINDY
Ian.. kamu mau kemana?
Ian berhenti dan menoleh tak menjawab. Wajahnya sangat emosi.
CINDY
Ian.. sebelum kamu menghancurkan diri kamu.. karier kamu dan perusahaan kamu… tolong lah, pikirkan yang terbaik…(tersenyum penuh harap)
Aku percaya sama keputusan kamu
Ian menghela napas dan berbalik lalu pergi keluar tergesa.
CU Cindy tersenyum misterius
CUT TO
END EPS.17
Credit Title
THEME SONG 4
No comments:
Post a Comment