Eps.24
1. INT: RUANG TAHANAN. SORE
BASKORO, NAIA, FIGURAN POLISI
Baskoro gelisah sedang menelepon dari penjara. Seorang sipir/polisi penjaga menunggui nya.
BASKORO
Percayalah Nai.. itu semua ngga bener… Itu fitnah.. aku di jebak..
Intercut
Naia di kantornya duduk dengan menahan geram.
NAIA
Sudah lah Bas… aku sudah tahu semua kebusukan kamu… masih untung aku hanya menuntutmu atas nama perusahaan..
Kamu harus mengembalikan semua yang sudah kamu curi (kesal) atau selamanya mendekam di penjara…
BASKORO
Nai… Nai dengar dulu dong Sayang… kita bisa bicarakan ini baik-baik kan.. please, datanglah kesini, keluarin aku dari sini.. aku bisa jelaskan..
NAIA
Cukup Bas… jelaskan saja semuanya pada pengacara saya…
Naia menutup telepon dengan kasar.
BASKORO
Hallo.. hallo…(telepon mati) Sial..
Sipir menoleh mendengar umpatan Baskoro. Dan Baskoro dengan kesal menutup telepon dan berjalan meninggalkan ruang telepon.
2. INT: KAMAR VVIP RUMAH SAKIT. SORE
IAN, DANI, CINDY, PIERE, DOKTER, SUSTER, FIGURAN
Ruang VVIP terdiri atas sebuah kamar untuk pasien, sebuah kamar mandi dan sebuah ruang duduk lengkap dengan sofa, lemari es, televisi, telepon, seperti sebuah paviliun kecil.
Ian terbaring di kamarnya dalam ruang VVIP dengan kondisi kritis. Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus. Perawat sudah merapikan badannya yang lusuh, dan mengganti pakaiannya dengan baju rumah sakit. Selang infus dan oksigen menancap di tubuhnya. Detak jantungnya lemah.
CUT TO
Erin dan Cindy duduk berangkulan di sofa sambil terisak pelan. Piere dan Dani tampak berdiri dekat pintu kamar Ian yang setengah terbuka bersama seorang dokter. Dokter tampak sedang menjelaskan kondisi Ian pada Piere dan Dani. Sesekali mereka memandangi Ian yang tergolek lemah.
DOKTER
Secara fisik, tidak ada penyakit serius yang disebabkan oleh virus, bakteri dan semacamnya. Kondisinya yang lemah ini di sebabkan karena dehidrasi akut dan juga kekurangan nutrisi yang dialaminya… (menatap Ian yang sesekali tampak gelisah)
Seperti yang Pak Dani bilang kemarin… ada beberapa botol minuman beralkohol ketika Saudara Ian di temukan? Benar?
DANI
Iya Pak.. memang waktu saya bawa ke mari, di sekitar nya ada beberapa botol minuman keras yang sudah kosong.. dan sebagian pecah
DOKTER
Itu menjelaskan beberapa luka gores yang ada di tangan dan kakinya(diam sejenak) Tapi di hasil tes darah sementara yang kami lakukan, tidak ditemukan sedikit pun alkohol dalam darahnya…
Piere dan Dani berpandangan heran.
DOKTER
Dilihat dari kondisinya, kemungkinan besar Saudara Ian sudah menghabiskan botol-botol itu sejak beberapa hari yang lalu.. dan kemungkinan sejak itu Ian tidak makan atau minum apa pun lagi, kami akan melakukan endoskopi untuk lebih memastikan apakan ada luka di lambungnya
PIERE
Lalu bagaimana? Apakah dia akan baik-baik saja? Kenapa sampai sekarang belum sadar juga? Bahkan demamnya tidak juga turun…
DOKTER
Sepertinya Saudara Ian mengalami depresi yang sangat berat (memandang dan menunjuk Ian) Bapak dengar sendiri, Ian terus mengigaukan seperti nama-nama seseorang… (menghela napas)
Mungkin jika Bapak-bapak bisa membantu menghadirkan orang-orang itu… Saudara Ian bisa lebih cepat sadar…
CU Ian gelisah seperti sedang bermimpi buruk
Perawat mengompresnya dengan handuk
CUT BACK TO
Piere dan Dani berpandangan bingung.
DOKTER
Baiklah, sementara saya pergi dulu…
DANI
Oh ya Dok.. sebentar.. (teringat sesuatu)
Mengenai wartawan yang menunggu di luar… kami harap Dokter dan pihak rumah sakit tidak memberikan statement apa pun, karena kami sendiri yang akan memberikan keterangan… supaya tidak terjadi simpang siur berita.. (menunjuk Ian dan menghela napas)
DOKTER
Baik Pak.. itu memang bukan wewenang kami… kami tetap menjaga kode etik kedokteran dengan merahasiakan keadaan pasien.. mari…
Dokter mengangguk dan keluar ruangan. Dani dan Piere kembali berpandangan bingung.
Piere menghela napas dan mendekat ke Erin dan Cindy. Dani memandang Cindy sedih lalu memandang ke Ian.
CU Ian mengigau
IAN
Sayang.. sayang.. maaf in aku.. maaf in aku…
Sayang.. jangan tinggalin aku…
Dani merapat ke pintu dengan tatapan sedih.
DANI(dalam hati)
Maafin aku Yan.. aku belum bisa nemuin Vina sampai sekarang… tapi aku janji, aku akan cari dia sampai dapet.
IAN
Selma? Selma??
Dani menghela napas dan menutup pintu kamar Ian.
CUT TO
3. INT: RUANG INTEROGASI. SORE
BASKORO, FIGURAN POLISI
Baskoro duduk dengan wajah gelisah. Sekelilingnya berdiri polisi-polisi dengan wajah garang memandanginya dalam ruang interogasi yang tertutup. Meja kayu beberapa kali di gebrak. Seorang polisi membalikkan kursi kayu dan menaikkan sebelah kakinya. Baskoro terlihat ketakutan.
POLISI 1
Saudara Baskoro.. apa anda sadar bahwa tuntutan pada anda kali ini bukan tuntutan sepele?
Baskoro tetap diam dan tampak berpikir mencari cara berkelit.
POLISI 2
Memang.. istri anda, Ibu Naia, masih berbaik hati pada Anda dan hanya mengadukan peristiwa penipuan dan penggelapan yang Anda lakukan pada perusahaannya…
Tapi apa Anda tahu.. kalau selama ini Anda juga sudah lama masuk dalam daftar orang yang kami cari…
Baskoro memandang tegang dan menggeleng-geleng gelisah.
POLISI 1
Anda tidak hanya menjadi pemasok obat-obatan terlarang dan terlibat dalam jaringan narkoba asia, tapi juga dalam jaringan penyaluran wanita-wanita asing sebagai pekerja seksual di sini…
Baskoro menelan ludah dan mengusap wajahnya gelisah.
BASKORO
Itu semua ngga bener Pak… itu fitnah… saya di jebak.. ini fitnah karena orang-orang yang membenci saya…
POLISI 2
Fitnah bagaimana Bung.. sudah jelas-jelas semua bukti mengarah kepada Anda…
BASKORO
Saya ini Cuma kambing hitam Pak.. Cuma kambing hitam.. otak yang sebenarnya bukan saya, bukan saya Pak…
Polisi berpandangan.
POLISI 1
Jangan asal bicara Bung… kalau bukan Anda lalu siapa?
Baskoro menghela napas dan tatapan benci.
BASKORO
Sebenarnya saya tahu sudah lama Pak Polisi, hanya saja saya tak mau membongkar kedoknya karena bagaimana pun dia masih saudara.. (diam sejenak) Tapi kalau Bapak-Bapak terus menyalahkan saya atas hal-hal yang bukan menjadi tanggung jawab saya.. (menghela napas)
POLISI 1
Sudah sudah… tidak perlu bertele-tele… Siapa orangnya…
BASKORO
Dia.. (diam sejenak) adalah … adik Naia istri saya.. Arya…
Arya orangnya Pak.. dia pelakunya…
Polisi berpandangan heran dan kaget.
CUT TO
Commercial break
4. INT: KANTOR NAIA. SORE
NAIA, FIGURAN POLISI
Naia tampak gelisah dan tegang, dua orang berpakaian polisi preman sedang duduk di hadapannya. Mereka terlibat pembicaraan serius.
NAIA
Ini tidak mungkin Pak… Arya itu adik saya, jadi saya tahu betul apa saja kegiatan dan bagaimana sikapnya selama ini… nggak mungkin Pak… Baskoro pasti hanya mengada-ada.
POLISI 1
Maaf Bu Naia, tapi kepergian dan kepindahan Pak Arya dan keluarganya secara mendadak ke luar kota, semakin menguatkan kecurigaan kami, apalagi ada laporan dan keterangan dari salah satu tersangka yang mengarah ke sana… kami tidak bisa melepaskannya begitu saja, apapun kemungkinannya, kami tetap harus memeriksa Pak Arya…
NAIA
Kalau pun Arya dan keluarganya mendadak pergi… ini semua tidak ada hubungannya dengan laporan saya (bingung) ini hanya kebetulan…
POLISI 2
Lalu kenapa Pak Arya mendadak pergi?
NAIA(dalam hati)
Aku ngga bisa mengatakannya… Arya.. bagaimana ini…
POLISI 1
Saya mohon bantuan Bu Naia, supaya kasus ini bisa cepat kami selesaikan…
Naia terlihat bingung dan menghela napas.
NAIA
Kepergian adik saya.. dan keluarganya (terbata-bata) hanya karena hendak memeriksa kemungkinan untuk membuka cabang baru di sana… (gelisah)
POLISI 1
Jadi sekarang sebenarnya Pak Arya dan keluarganya ada di mana?
Naia menghela napas dan berpikir.
NAIA
Begini saja Pak… saya jamin adik saya tidak bersalah, mohon beri waktu saya akan bicara padanya untuk kembali ke Jakarta dan saya sendiri yang akan mengantarnya ke kantor Bapak.. bagaimana?
Polisi berpandangan dan menghela napas.
POLISI 2
Baik Bu.. kami akan berikan waktu 1 minggu pada Pak Arya untuk secara suka rela datang dan memberi keterangan ke kantor kami, jika dalam batas waktu yang telah di tentukan Pak Arya tidak juga datang, terpaksa kami yang akan menjemput Pak Arya di rumahnya…
Polisi dan Naia berdiri lalu bersalaman. Polisi pergi meninggalkan Naia yang terlihat gundah.
CUT TO
5. INT: LOBBY RS. MALAM
DANI, FIGURAN WARTAWAN, PENGUNJUNG RS
Dani berjalan bergegas memasuki lobby hendak ke lift. Puluhan wartawan mencegatnya di pintu dan menghujaninya dengan pertanyaan. Beberapa pengunjung tampak memandangi mereka.
WARTAWAN A
Pak Dani… bagaimana keadaan Ian sekarang? Apakah kondisinya sudah stabil?
WARTAWAN B
Apa betul Ian melakukan usaha bunuh diri kembali dan bukannya sakit seperti yang di sampaikan dalam jumpa pers kemarin?
WARTAWAN C
Apa ini ada hubungannya dengan perempuan bernama Vinara yang selama ini di gosipkan menjalin hubungan erat dengan Ian?
WARTAWAN A
Apa benar Ian melakukan penculikan seperti yang di sampaikan oleh Satpam sekolah yang waktu sempat memberikan pernyataan?
Dani tersenyum tenang dan mengangkat tangannya.
DANI
Itu semua tidak benar.. hanya salah paham dan salah pengertian saja.. seperti yang saya sampaikan kemarin dalam jumpa pers, memang Ian menderita pendarahan lambung karena .. makannya tidak teratur dan kurangnya istirahat seperti anda-anda tahu jadwalnya sangat padat
Dani terus berusaha maju. Wartawan terus mendesak dengan pertanyaan. Beberapa petugas keamanan mulai mendekat dan membantu menghalangi wartawan lebih ke dalam.
DANI
Maaf ya teman-teman.. tapi sementara ini memang belum ada perkembangan apa-apa.. nanti kalau ada kabar mengenai Ian pasti akan segera saya sampaikan… untuk saat ini Ian baik-baik saja.. hanya butuh istirahat total…
Dani melambai dan memasuki ruangan yang lebih private. Wartawan tampak kecewa memandang Dani masuk dan berkasak kusuk di depan pintu.
CUT TO
6. INT: RUANG VVIP RS.MALAM
DANI, CINDY
Dani menjatuhkan diri di sofa dengan lemas. Cindy yang duduk di sana memandanginya cemas.
CINDY
Ada apa? Wartawan-wartawan itu lagi ya?
Dani mengangguk dan menghela napas sambil menggeleng lesu.
DANI
Gimana Ian? Sudah sadar lagi? Ada kemajuan?
CINDY
Demamnya sempat turun sebentar, (diam sejenak) sempat sadar sebentar, tapi ya… seperti kemarin waktu ada kamu, sepertinya setiap kali sadar, Ian kelihatan shock dan menangis (bingung) oh ckk (berdecak heran) tadi dia malahan sempat teriak-teriak histeris gitu…
DANI
Teriak histeris bagaimana?(penasaran)
CINDY
Ya.. kaya panik gitu… dan terus minta maaf-maaf…
Ada kabar dari Opie?
Dani menggaruk kepalanya dengan gelisah. Cindy menatapnya tajam.
DANI
Belum… Sejak terakhir menghubungi Opie mengenai mobil Ian waktu itu.. Vina ngga pernah menghubungi nya lagi…
CINDY
Apa saudara dan kenalan jauhnya juga ngga ada yang tahu…
DANI
Masa kamu ngga nonton infotainment Cin?? Wartawan aja ngga bisa nemuin Vina dan keluarganya…
Teman atau kerabat jauhnya bilang mereka sudah lama ngga saling berhubungan, terakhir ya waktu masih di Jakarta… ada yang bilang terakhir ketemu waktu lahirnya Selma.. itukan sudah lama banget..
CINDY
Kakaknya Arya dan keluarganya masih belum mau bicara ya?
DANI
Mereka tetap bilang ngga tahu…(diam sejenak)
Aku ngga bisa salahin mereka sih… kelihatannya mereka benci banget sama Ian,
Bagaimana pun Ian kan sudah membuat keluarga mereka jadi bulan-bulanan wartawan selama ini… (menghela napas) mana beritanya buruk lagi…
CINDY
Ya tapi sekarang Ian kan sakit… masa sih mereka ngga punya rasa kemanusiaan atau belas kasihan sedikiiittt aja…
Cindy melipat tangan di dada dengan kesal. Dani tersenyum dan mengelus kepalanya.
DANI
Kita memang bisa berusaha.. tapi kita juga harus menghargai perasaan dan hak orang lain… dan kita ngga bisa maksa mereka.. (menghela napas)
Aku akan pikirkan cara lain yang mungkin bisa kita lakukan untuk menolong Ian…
Cindy menghela napas dan tampak berpikir keras.
Kamera menjauh.
CUT TO
Ian masih tergolek lemas tak sadar di ruangannya dan sesekali mengigau. Perawat tampak memeriksa selang infus dan suhu badan Ian yang belum stabil.
CUT TO
7. INT: RUMAH BARU ARYA.MALAM
ARYA, VINARA, NAIA
Vinara masih tampak pucat dan kurang sehat. Arya terlihat gelisah.
Flashback
Naia meneleponnya dari kantor dengan nada cemas.
NAIA
Kamu harus secepatnya ke Jakarta Yak… ini serius… (diam sejenak)
Jangan khawatir, aku sedang mengumpulkan bukti yang meringankan kamu.. pengacara aku yang akan mengurus semuanya…
ARYA
Tapi… Vina?
NAIA
Kalau kamu ngga bisa jujur sama dia, lebih baik katakan saja ada urusan pekerjaan yang mesti kamu selesaikan di sini… sementara waktu biarkan Vina dan Selma di Yogya…
ARYA
Tapi aku masih ragu meninggalkannya sendirian di sini Nai… sepertinya Vina masih kurang sehat.. (gelisah)
NAIA
Ngga ada waktu lagi Yak… polisi Cuma memberi waktu 1 minggu, kamu harus datang.. lebih cepat lebih baik..
CUT BACK TO
Vina memandang Arya yang terus melamun.
VINARA
Ada masalah Yak?
Arya terkejut dan duduk disamping Vina.
ARYA
Oh ngga sih.. Cuma.. tadi Nai telepon.. (bingung)
VINARA
Oh ya? Bagaimana kabarnya? (diam sejenak)
Apa Kak Nai sakit? (panik)
ARYA
Oh ngga ngga (menenangkan) Nai ngga papa kok.. dia sehat
Hanya.. ada masalah kerjaan aja…
Vina menatap menunggu Arya yang masih gelisah.
ARYA
Sebenarnya, Nai berharap aku bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda di Jakarta.. kemarin kan kita perginya mendadak, jadi…
VINARA
(senyum pengertian) Kamu mau ke Jakarta?
Arya terdiam tak berani menjawab.
VINARA
Ngga papa kok.. kamu pergi aja, kelihatannya sekitar sini aman, dan lingkungannya juga baik.. lagian ada Narti yang bisa bantu aku jaga Selma
ARYA
Tapi kesehatan kamu…
VINARA
Ngga papa kok.. mungkin Cuma flu aja.. aku ngga papa.. sungguh…
Arya mengelus kepalanya dan menatap Vina sayang.
ARYA
Sungguh kamu ngga papa? (Vina mengangguk tersenyum)
Kamu harus jaga kesehatan ya, makan yang banyak.. (mencubit pipinya) lihat sekarang kamu kurus banget.. nanti sama Ibu dikirain aku ngga kasi kamu makan…
Arya dan Vina tertawa kecil.
VINARA
Iya.. iya.. pokoknya, jangan lupa telepon aku tiap hari ya.. supaya aku ngga khawatir..
Arya mengangguk dan tersenyum dan merangkul Vina.
CUT TO
Commercial Break
8. INT: KANTOR NAIA.SIANG
NAIA, CINDY, YANTI, FIGURAN
Naia keluar dari ruangannya sambil berbicara serius dengan beberapa klien yang berpakaian rapi dan berjas.
NAIA
O pasti Pak.. jangan khawatir, semuanya akan kami selesaikan tepat pada waktunya…
Klien mengangguk puas dan mereka bersalaman.
Yanti tampak berdiri dekat mereka dan memandangi menunggu.
Naia tersenyum sambil memandangi mereka pergi. Naia menghela napas lega, tiba-tiba raut mukanya berubah.
Muncum Cindy dari belakang Yanti yang menatapnya penuh harap.
Naia segera berbalik masuk kembali ke ruangannya tanpa menyapa.
NAIA
Yanti tolong ambil berkas PT. Primatama ini dan jadikan satu dengan yang kemarin…
Naia menunjuk beberapa kertas ada di mejanya dan tampak menyibukkan diri.
Yanti mengambil berkas dan tampak ragu memandangi Cindy.
YANTI
Ehm.. itu Bu Naia… ada tamu…
NAIA
Apa sudah buat janji sebelumnya? (ketus)
Naia tak mengangkat wajah tetap memeriksa berkas di depannya. Yanti terlihat takut.
YANTI
Belum.. tapi..
Cindy yang semula menunggu di ambang pintu dengan ragu segera menyerobot masuk. Yanti terlihat terkejut. Naia mengangkat wajahnya dengan tak senang.
CINDY
Maaf Bu, tapi saya hanya mohon waktunya sebentaarr saja (lirih)
NAIA
Anda ini … (menatap dari atas ke bawah) katanya lulusan luar negeri.. tapi ngga tahu sopan santun, masuk ke kantor orang tanpa permisi…
Cindy menghela napas menahan sabar. Naia terus terlihat keras dan superior.
CINDY
Maaf kan saya tapi… (ragu)
NAIA
Dengar ya.. sudah beberapa kali saya katakan pada anda, dan teman-teman wartawan anda itu… bahwa saya tidak punya informasi apa-apa.. mohon jangan ganggu saya lagi.. (keras)
CINDY
Ini tidak ada hubungannya dengan pemberitaan apapun Bu Naia, saya kesini atas nama pribadi… saya mohon Bu Naia bisa membantu saya…
NAIA
Atas dasar apa Anda pikir saya akan membantu Anda? (Cindy baru akan membuka mulut dan Naia sudah bicara lagi)
Anda pikir.. dengan semua yang sudah Anda lakukan selama ini pada adik saya… saya masih mau membantu Anda? (kesal)
Cindy yang tak biasa di kasari tampak gundah dan menahan tangis karena Naia terlihat mulai marah.
NAIA
Dengar ya.. Nona Cindy? Anda kan orang yang sudah menjebak Vina adik ipar saya dan membuatnya hampir kehilangan pekerjaan? (Cindy terkejut)
Dan Anda, juga keluarga Anda yang selalu mempersulit kehidupan adik saya…
(menggeleng kesal dan berdiri)
Masih untung saya tidak mengadukan perbuatan Anda ke polisi karena tuduhan palsu dan pencemaran nama baik. Jadi lebih baik Anda segera angkat kaki dari sini sebelum kesabaran saya habis…
Cindy menghela napas memberanikan diri.
CINDY
Sekali lagi maaf… saya tahu saya sudah banyak menimbulkan kesulitan untuk Vina dan keluarganya… tapi saya sangat ingin bertemu dengan dia, atau paling tidak mohon sampaikan pesan saya pada nya..
NAIA
(menggeleng) Maaf saya masih banyak pekerjaan… (kembali duduk dan mengibas kan tangan supaya Cindy segera pergi)
CINDY
Ian sakit.. dia sakit parah… (maju kedua tangannya menumpu di meja)
Saya mohon.. Vina bisa menjenguknya sebentaarr saja.. supaya dia bisa sadar dan…
Naia menggebrak meja dan berdiri. Cindy terlonjak.
NAIA
Apa belum cukup bajingan itu menghancurkan hidup Vina.. biar saja dia mampus sekalian… Dengar Nona.. Vina sudah seperti adik saya sendiri, dan saya tidak suka ada orang-orang yang menyakitinya… apalagi laki-laki brengsek itu sudah berani.. (berhenti bicara teringat untuk merahasiakan – menghela napas menahan sabar)
Silahkan keluar… saya tidak ingin bicara dengan Anda lagi..
Cindy terlihat heran dengan reaksi Naia.
CINDY
Saya … atas nama Ian memohon kan maaf seandainya dia…
NAIA (memotong)
Perbuatan biadabnya itu sudah tidak bisa dimaafkan.. (Cindy terkejut)
Sebaiknya Anda keluar atau saya panggilkan security…
Naia kembali duduk dan menekuni pekerjaannya.
Cindy tertunduk dan keluar dengan tatapan bingung dan gelisah.
CINDY(dalam hati)
Sebenarnya apa yang terjadi.. kenapa Bu Naia bicara seperti itu…
Flashback
Ian terbaring mengigau.
IAN
Sayang.. maafin aku.. maafin aku… Sayang… maafin aku…
CUT BACK TO
CINDY(dalam hati)
Kenapa Ian terus meminta maaf? Ada masalah apa sebenarnya?
Cindy keluar dari ruangan Naia dengan gundah.
Naia mengangkat wajahnya memandang kepergian Cindy dan mengusap wajahnya dengan gundah.
NAIA
Yanti (menekan tombol i-phone) hubungi Pak Siregar…
Naia menghela napas dan menyandarkan badannya ke kursi lelah.
CUT TO
9. INT: RUMAH BARU ARYA.SIANG
VINARA, NARTI, SELMA, FIGURAN
Vina sedang merapikan beberapa barang. Suara televisi menyala sedang menyiarkan program kriminal. Vina tampak membelakangi televisi.
SUARA TV
Seorang pengusaha kafe berinisial A yang selama ini buron telah menyerahkan diri. Kasusnya yang melibatkan saudara iparnya berinisial B yang sudah tertangkap lebih dahulu sudah dilimpahkan ke meja hijau.
Vina berbalik sambil membawa beberapa pigura yang sedang di bersihkan, Vina memandang ke televisi ingin tahu.
CU TV
Arya sedang digiring oleh beberapa polisi. Baskoro dengan wajah masam menuding-nuding
Vina tampak terkejut
SUARA TV
Kedua pengusaha ini disinyalir tersangkut dalam jaringan narkoba asia dan juga penyaluran pekerja seks komersial dari manca negara…
Pigura di tangannya jatuh dan pecah. Napas Vina memburu, wajah pucatnya semakin pasi dan perlahan rubuh ke lantai.
Slow motion Vina pingsan.
CUT TO
Narti dan Selma membuka pintu depan sambil tertawa membawa es cone di tangannya.
SELMA
Punya aku yang coklat ya Mbak Narti…
Yang Stroberi.. pink ini buat Mbak Narti aja..
NARTI
Iya Non.. terserah Selma suka yang mana (tertawa)
SELMA
Mama.. Esnya…
Selma dan Narti masuk dan terkejut melihat Vina yang sudah terbaring di lantai.
NARTI
Astafirullah… Non… (panik)
Selma menjatuhkan Es nya dan mulai menangis menghambur ke ibunya sambil memanggil-manggil.
CUT TO
10. INT: RUANG VVIP RUMAH SAKIT.SIANG
DANI, CINDY, IAN, FIGURAN PERAWAT & DOKTER
Dani dan Cindy serius menatap ke berita kriminal di tv sambil menunjuk-nunjuk.
CINDY
Lihat deh Dan.. itukan suaminya Vina? Coba kamu perhatiin…
CU TV – Arya bersama beberapa polisi
Dani mengernyitkan kening.
DANI
Iya sepertinya serius…
Cindy tampak berpikir sejenak.
CINDY
Dan? Apa kamu pikir Ian yang menjebaknya?
DANI
(terkejut) Apa? Kamu kok mendadak ngomong begitu sih?
CINDY
Habisnya.. aku bingung banget… masalah Ian ini (diam sejenak)
Aku tahu hubungan mereka ngga mulus dan banyak masalah… okelah kalau Kakaknya, Bu Naia itu marah dan benci sama Ian, tapi… beberapa kali ketemu dia, sepertinya ada masalah lain yang dia sembunyikan..
Dan Ian.. apa kamu ngga perhatikan kalau setiap kali dia memanggil Vina dia selalu bilang maaf-maaf…
Dani mengernyit dan diam berpikir mengingat.
CINDY
Teoriku.. mungkin Ian melakukan sesuatu pada mereka.. dan membuat Vina segera mengajak keluarganya mendadak keluar dari Jakarta…
Menurutmu? Apa karena kasus ini? Itu sebabnya Vina dan keluarganya ngga mau menolong Ian, dan Ian juga kelihatannya menyesal banget…
DANI
Aku ngga tahu Cin… sampai sekarang Ian belum sepenuhnya sadar, dan kalau bangun dia juga terus menangis.. kita ngga bisa bertanya apa-apa sama dia…
(memandang Cindy heran) jadi selama ini kamu terus menemui Naia? Kenapa ngga bilang sama aku.. kan kita bisa temui dia sama-sama..
CINDY
(menggeleng) Aku pikir kalau aku yang bicara, mungkin Bu Naia bisa sedikit melunak…
Tiba-tiba bunyi sirine terdengar cukup keras. Dani dan Cindy menoleh ke ruangan Ian dan berlari ke sana.
Terlihat Ian tersengal seperti kesulitan bernapas dan kesakitan, beberapa perawat memeganginya yang terus meronta.
Dani dan Cindy masuk ke kamar, sebentar kemudian dari luar seorang dokter dan beberapa perawat bergegas masuk.
PERAWAT
Suhunya naik terus Dok… (kewalahan memegang Ian yang meronta) kesadarannya menurun..
Dokter maju memeriksa. Cindy menutup mulutnya tak percaya. Perawat mempersilakan Dani dan Cindy untuk keluar keruang tunggu. Ian terus mengaduh seperti kesakitan.
Dokter memberinya suntikan penenang.
Setelah memeriksa Dokter keluar dan disambut oleh Cindy dan Dani yang tampak cemas.
DANI
Kenapa Dok? Kenapa sering sekali Ian seperti ini.. padahal sudah lebih dari 1minggu dia dirawat intensif di sini…
Dokter menghela napas.
DOKTER
Saya sudah bilang dari pertama, bahwa sebenarnya tidak ada masalah penyakit fisik yang akut.. penyakitnya lebih pada psikis atau batinnya. Kami memang bisa menyembuhkan fisiknya, sekarang luka di lambungnya dan yang lainnya sudah membaik menurut hasil rontgen dan tes laboratorium.. tapi jika dari pihak pasien sendiri tidak ada kemauan untuk bertahan hidup… bisa jadi.. badanya juga bereaksi dan menolak proses penyembuhan itu…
Padahal karena kesadarannya belum kembali total, pasien belum bisa melakukan terapi dengan ahli jiwa atau psikolog…
DANI
Kalau begitu apa lagi yang bisa kami lakukan…
DOKTER
Banyak-banyaklah menghiburnya.. bicara padanya.. pasien, walau tidak sadar sepenuhnya, tapi dia bisa mendengar kita… (diam sejenak)
Lebih baik kalau orang terdekatnya yang menunggui… mungkin Ian bisa lebih cepat sembuh…
Dokter menepuk bahu Dani dan berjalan keluar diikuti beberapa perawat.
Dani dan Cindy memandang ke dalam kamar Ian. Ian tampak lebih tenang, badannya sedikit menggigil karena panas yang meninggi. Seorang perawat masih menunggu di dalam dan terus memantau keadaannya.
Dani dan Cindy berpandangan sedih.
CUT TO
Commercial Break
11. INT: RUANG BESUK POLDA.SIANG
ARYA, VINARA, FIGURAN POLISI
Vinara dan Arya duduk berhadapan. Seorang polisi menjaga mereka. Vinara dengan wajah pucat menangis pelan. Arya terlihat sangat bersalah dan terus menggenggam tangannya.
VINARA
Kenapa kamu ngga bilang terus terang.. aku kan bisa temenin kamu di sini… (lirih)
ARYA
Maafin aku ya.. (mengelus rambut Vina) aku Cuma ngga mau bikin kamu khawatir..
VINARA
Sekarang aku jadi lebih khawatir… kamu ngga tahu betapa kagetnya aku waktu dengar masalah ini… kenapa kamu menyimpan masalah sebesar ini sendiri… aku kan istrimu.. seharusnya kamu bisa membaginya sama aku.. kita bisa hadapi sama-sama..
ARYA
Aku ngga mau bikin kamu sedih… apalagi, aku ngerasa ngga bersalah kok.. sebentar lagi proses peradilannya selesai, Pak Siregar pengacara Naia sudah mengurus semuanya, bukti-bukti juga sudah lengkap…
VINARA
Lalu kenapa kamu masih di sini? Kenapa kamu ngga pulang?
ARYA
Ngga bisa semudah itu, semua kan ada prosesnya… nanti kita selesaikan semuanya di persidangan.. (tersenyum menenangkan) jangan khawatir ya…
Vina menatap Arya lekat.
VINARA
Apa kamu baik-baik aja di sini? (memandang sekeliling) Kamu tidur di mana? Gimana kamu makan? Kayanya kamu kurusan deh… Mereka baik sama kamu…
ARYA
(terharu-berkaca-kaca, mengangguk) Aku ngga papa kok.. sungguh..
Semuanya baik.. kamu jangan khawatir ya..
Arya tak dapat menahan air matanya, mencium kening Vina dan menciumi tangan di dalam genggamannya sambil menangis. Vina dan Arya saling mengusap air mata yang meleleh dan tersenyum sambil berpandangan.
CUT TO
12. INT: KANTOR NAIA.SIANG
NAIA, CINDY
Naia berjalan masuk ke kantor dan Cindy bergegas mengikuti.
CINDY
Saya tidak tahu ada masalah apa sebenarnya antara Ian dan Vina.. tapi jika ini berhubungan dengan pemberitaan di Televisi… kami akan berusaha membantu meluruskannya..
NAIA
(berhenti berjalan memandang heran ke Cindy) Maaf, terimakasih, tapi kami tidak butuh bantuan Anda… (berjalan lagi lalu berbalik) Dan apa maksud Anda masalah ini berhubungan berhubungan dengan si brengsek itu? (nada meninggi)
CINDY
Tapi saya kira…
NAIA
Sudahlah.. saya harap Anda tidak datang-datang ke sini lagi… saya sudah cukup banyak masalah.. mohon jangan ganggu saya lagi..
CINDY
Maaf Bu.. tunggu… kalau saja Ibu mengijinkan saya bertemu Vina atau bicara padanya.. saya tahu dia sendiri sedang bermasalah.. tapi..
NAIA
Anda ini ngga dengar saya bilang apa? (kesal)
Jangan ganggu saya lagi…
CINDY
Maaf Bu.. tapi saya tidak akan pergi sebelum menerima jawaban dari Bu Naia..
Kondisi Ian kritis dan dia sangat memerlukan kehadiran Vina… tolong lah Bu…
Naia menutup pintu dengan kesal. Cindy berdiri di hadapan pintu yang tertutup.
CINDY
Saya akan terus menunggu… sampai..
NAIA(memotong berteriak dari balik pintu)
Silahkan Anda menunggu, mau di kamar mandi, di garasi, di halaman, di mana saja, asal jangan di hadapan saya… (ketus)
Cindy tertunduk sedih dan berlalu dengan lesu.
CUT TO
Cindy keluar dari kantor Naia dan duduk di tepi halaman dekat kantor Naia. Tak bicara, kamera menjauh.
Siang berganti sore dan berganti malam. Cindy masih duduk di situ.
Dari ruangannya, Naia berjalan mendekati jendela dan memandangi Cindy yang terpekur duduk di halaman. Naia menghela napas dan menggeleng.
Cindy berdiri lalu memandang ke jendela Naia. Naia segera bersembunyi di balik tirai.
Cindy menghela napas sedih dan pergi dengan lesu.
Naia memandangi punggung Cindy yang berjalan menjauh.
CUT TO
13. INT: RUMAH NAIA.SIANG
NAIA, ARYA, VINARA, FIGURAN
CU TV menyiarkan berita
SUARA TV
Setelah melalui persidangan yang panjang, pengusaha kafe Arya Prodjo yang sempat mendekam di sel tahanan polda metro jaya, pagi hari kemarin telah di bebaskan.
Arya di dampingi dengan kuasa hukumnya Jusuf Siregar dan kakaknya Naia Prodjo mengajukan gugatan balik pada Baskoro yang sebelumnya telah terbukti bersalah pada kasus penggelapan dan penipuan yang menimpa kafe milik mereka…
Fade out
Arya dan Vina duduk berdampingan dengan wajah senang dan lega. Naia berdiri di samping mereka.
VINARA
Terimakasih ya Kak Nai.. semua ini karena bantuan Kak Nai… Sebenarnya aku juga pengen hadir di persidangan dan menjemput Arya tapi…
NAIA(memotong)
Kamu ini ngomong apa sih Vin.. sudah seharusnya dong aku bantu Arya, bukan Cuma karena dia adek aku.. tapi juga karena secara ngga langsung aku yang menyebabkan semua masalah ini.. (menunduk sebentar)
Senggaknya sekarang aku bisa lega karena si brengsek Baskoro itu sudah pasti akan membayar perbuatannya selama bertahun-tahun di penjara…
Apalagi dengan kasus Narkobanya itu… dia bisa saja dihukum seumur hidup..
Arya dan Vina mengangguk prihatin.
VINARA
Aku ngga nyangka, padahal selama ini Mas Bas kelihatannya baik banget sama kita..
Naia memandang Arya dan Vina dengan ragu.
NAIA
Sebenarnya.. aku juga mau minta maaf… selama ini aku sudah terpengaruh ocehannya Bas dan banyak menyusahkan kalian…
Arya berdiri dan tertawa menepuk Naia.
ARYA
(tertawa) Sejak kapan kamu serius gitu Nai… Sudahlah… yang sudah berlalu ya udah ngga usah dibahas lagi… yang penting sekarang kita sudah bersama lagi kan…
Naia tertawa dan berjalan ke meja makan bersama Arya. Vina tersenyum dan kembali memandang ke berita TV.
Naia dan Arya duduk di meja makan dan mengambil beberapa camilan di atas meja.
NAIA(berbisik)
Bagaimana … (melirik Vina) apa kamu sudah bicara sama dia?
Arya memandang tak rela ke Vina yang masih memindah-mindah chanel TV.
ARYA
Aku ngga tahu Nai… apa yang mesti aku bilang sama dia? Laki-laki brengsek itu memang sudah seharusnya menerima hukuman atas kesalahannya sendiri…
Sudah sepantasnya kalau dia menyesal sampai mati…
Naia menghela napas.
SUARA TV
Berita terakhir mengenai artis Ryandi Laksmana yang pada hari ini telah genap 17 hari menghuni ruang VVIP Rumah Sakit Internasional. Menurut laporan yang kami terima, sampai saat ini kondisi Ian belum sepenuhnya stabil dan masih dalam keadaan kritis.
CU Layar TV – Ian ketika di dorong pertama kali masuk ke rumah sakit
SUARA TV
Setelah percobaan bunuh dirinya yang pertama, di duga sakitnya Ian kali ini juga disebabkan oleh percobaan bunuh dirinya yang kedua, tetapi berita itu dibantah keras oleh managernya Dani dan juga pihak rumah sakit…
Vina terlihat khawatir memandangi potongan gambar-gambar yang ada di TV. Arya menatapnya dengan sedih.
ARYA(dalam hati)
Vin… apa dia masih begitu berarti dalam hati kamu.. setelah apa yang dia lakukan sama kamu?
Naia menghela napas, berdiri dan menepuk bahu Arya, memahaminya dalam kebimbangan.
NAIA(berbisik)
Kamu pikirkanlah yang terbaik…
Naia tersenyum dan keluar meninggalkan Arya yang memandangi Vina yang masih serius menatap TV. Arya berjalan mendekat, Vina masih belum sadar.
SUARA TV
Ian ditemukan dalam keadaan tak berdaya di salah satu villanya di kawasan Anyer. Sampai saat ini sebab terjadinya peristiwa itu masih menjadi misteri karena Ian belum juga sadar dan bisa di wawancarai…
Arya berdiri dekat Vina yang menatap wajah Ian di TV dengan sedih.
ARYA
Ya Tuhan… apa aku harus bilang sama dia tentang permintaan Cindy?
Arya menghela napas, Vina terkejut mendengarnya dan menoleh menatap Arya. Cepat-cepat Vina memindahkan chanel TV ke saluran yang lain dan pura-pura tersenyum tak memperhatikan TV.
Arya duduk di sebelahnya ragu. Vina menangkap keraguan Arya dan memandanginya.
VINARA
Ada apa yak?
Arya tersenyum canggung dan menatap Vina dalam-dalam.
LS Arya berbicara , Vina tampak terkejut dan menutup mulutnya
Arya tampak berusaha menenangkan Vina yang terlihat bingung dan panik
CUT TO
Commercial break
14. EXT: TERAS RUMAH NAIA.PAGI
NAIA, ARYA, VINARA, DANI, CINDY
Dani dan Cindy tampak menjemput Vina yang terlihat pucat dan ragu.
Arya merangkulnya berjalan keluar dan menepuk bahunya memberi semangat.
ARYA
Bicaralah sama dia.… Aku percaya sama kamu… (menatap Vina lekat)
Vina tersenyum ragu dan berjalan mendekati Dani dan Cindy.
CINDY
Terimakasih… (memandang Naia dan Arya) ini sangat berarti buat kami…
Cindy memandang Vina tersenyum dan menggandeng lengannya.
ARYA
Saya titipkan Vina pada Anda..
DANI
Jangan khawatir, kami sudah siapkan segala sesuatunya… kami pastikan para wartawan itu tidak akan bertemu dengan Vina…
Arya mengangguk dan menghela napas. Dani, Cindy dan Vina berjalan keluar. Arya dan Naia memandangi mereka memasuki mobil dan berlalu.
Naia menepuk bahu Arya dan mereka masuk ke rumah.
CUT TO
15. INT: RUANG VVIP RUMAH SAKIT.PAGI
CINDY, DANI, VINARA, IAN, FIGURAN
Seorang perawat keluar dari kamar Ian membawa bekas obat dan beberapa peralatan.
Cindy dan Vina yang menyamar sebagai perawat masuk ke kamar Ian. Cindy tersenyum pada pesawat yang keluar. Setelah perawat itu pergi, Cindy segera membawa Vina ke ruangan Ian. Vina melepas baju perawatnya dan meletakkan di meja dekat pintu lalu masuk.
Vina terlihat ragu diambang pintu dan memandangi Ian yang terbaring lemah dan sesekali tampak gelisah dan mengigau.
VINARA(dalam hati)
Ya Tuhan Ian?? Kenapa kamu seperti ini?
Cindy maju dan menepuk bahunya memberi semangat. Vina menoleh, mengangguk memberanikan diri dan masuk. Cindy menutup pintunya dan meninggalkan mereka berdua.
Dani masuk dan menghampiri Cindy.
DANI
Gimana? Mana Vina?
Cindy memberi kode untuk diam dan menunjuk Vina di dalam. Dani dan Cindy berjalan menjauh dari pintu dan duduk di sofa menunggu.
CUT TO
Vina mendekat dengan khawatir. Setelah berdiri di sebelah pembaringannya tangannya mengambang hendak mengelus Ian yang terlihat kesakitan.
VINARA(dalam hati)
Ian?? Apa ini karena aku?? Karena aku lagi kamu jadi seperti ini?
Tiba-tiba… Flashback
Saat Ian hendak memperkosanya
CUT BACK TO
Vina terkejut dan merapatkan bajunya sendiri dengan ketakutan mundur beberapa langkah.
VINARA
Ya Tuhan apa yang mesti aku lakukan…
Ian terlihat bertambah gelisah dan mulai meracau memanggil-manggil Vina dan Selma. Lalu terus meminta maaf pada Vina dalam igauannya.
Vina kembali mendekat dengan wajah sedih. Air mata Vina mengalir.
VINARA
Ian… (panggil pelan) Ian….
Vina duduk di kursi yang ada dekat pembaringan dan kepalanya mendekat ke kepala Ian.
VINARA
Maaf in aku Yan… (menangis) Aku jahat ya sama kamu
Vina mengelus wajah dan rambut Ian.
VINARA
Mana yang sakit Yan? Kenapa sih kamu bodoh banget? Kenapa mesti begini…
Ian… bangun dong Yan… ini aku… (terisak)
Jangan gini terus Yan… bangun dong… Ian…
Vina menelungkup di lengan Ian.
CU jemari Ian bergerak
Vina memegang jari Ian dan menggenggamnya erat. Sebelah tangan Vina memegang pipi Ian dan menghadapkan wajah Ian ke wajahnya. Vina menatapnya dengan sedih.
VINARA
Ian… kamu denger aku kan…
Ian seperti berusaha bangun. Beberapa kali kepalanya bergerak dan igauannya berhenti.
Vina terus memanggil. Vina memegang dahi Ian, pipi dan lehernya.
VINARA
Badan kamu panas lho… (menoleh ke kanan kiri sejenak)
Apa suster tadi sudah tahu ya?
Vina meletakkan tangan Ian dan berdiri hendak keluar.
CU Mata Ian mengerjap berusaha membuka mata.
Vina membalikkan badan hendak pergi. Tiba-tiba sebelah tangan Ian menyambar lengannya cepat dan erat.
Vina terkejut dan memandang Ian yang tampak sangat lemah.
CU Ian sudah membuka mata dan menatap Vina dengan pandangan terluka, sedih, kangen dan gelisah
CU Vina terkejut karena Ian tiba-tiba menangkap lengannya
Ian dan Vina saling berpandangan.
Pandangan Vina berubah ketakutan. Vina terlihat panik dan berusaha melepaskan diri.
Ian semakin memperat pegangannya.
Flash back
Vinara teringat kejadian perkosaan
CUT BACK TO
Vina berusaha melepaskan diri dengan panik. Ian tampak kecewa dengan reaksi Vina tapi terus memegang tangannya.
Vina dan Ian berpandangan.
CUT TO
END EPS.24
Credit Title
THEME SONG 4
No comments:
Post a Comment