Eps.22
1. EXT: RUMAH NAIA. PAGI
SUSAN, BASKORO, NAIA, RAKA, FIGURAN
Baskoro dengan panik menjambak rambutnya sendiri bingung. Susan kelihatan kesal.
BASKORO
Sudah cepat naik-naik.. (mendorong ke taksi)
Pak Pak.. cepat jalan Pak…
RAKA
Papa? Kok dorong-dorong?
BASKORO
SSttt… sudah sudah.. naik cepetan…
SUSAN
Bas?! Gimana sih?
Baskoro menoleh panik ke rumah. Terlihat Naia sudah membuka pintu dan berdiri di teras.
BASKORO
Kalian ke apartemen dulu, nanti aku susul.. cepet (bisik)
Susan dan anak-anaknya masuk dan menutup pintu. Naia mendekat.
BASKORO
Iya Bu betul… sebelah sana (menunjuk arah) ya daah.. (melambai)
Mobil berlalu. Naia berdiri dengan heran di sebelah Baskoro.
NAIA
Siapa? Kok buru-buru pergi?
BASKORO
Oh..(gugup) ngga Cuma orang salah alamat.. (keringat dingin)
Naia memandang tak percaya.
BASKORO
Iya… tadi mestinya dia ke gang sebelah.. nomornya sama…(menunjuk ke nomor rumah) dikiranya disini..
NAIA
Oh ya? (tak percaya) Sepertinya tadi aku denger dia panggil nama kamu? Bas?
Baskoro terkejut.
BASKORO
Ah salah denger kali kamu Yank.. (gugup)
Mas… mas tadi, dia panggil Mas…
Naia mengangkat bahu menyilangkan tangan di dada dan memandang ke jalanan.
NAIA(dalam hati)
Sepertinya aku pernah ngeliat perempuan itu? (heran)
Naia memandang Baskoro sejenak dan berjalan masuk.
BASKORO(dalam hati)
Kurang ajar Susan itu… hampir saja celaka…
Baskoro berusaha tersenyum sambil merangkul Naia mesra ke dalam.
CUT TO
2. INT: APARTEMEN IAN. MALAM
IAN, DANI
Ian tampak gelisah berjalan hilir mudik di balkon sendirian. Wajahnya pucat dan matanya merah, sesekali menjambaki rambutnya dan terlihat sangat depresi. Ponsel dalam genggamannya sesekali dipandangi dengan geram.
IAN
Kemana lagi kamuu… (antara geram dan kalut)
Sudah lebih dari dua minggu… kenapa menghilang begitu aja. Sebenernya kamu kemana? Pasti kamu pergi sama si sialan itu… begitu kamu hilang bersama Selma, aku langsung cari ke rumahnya.. ternyata dia juga ngga ada…
Kenapa juga kalau kamu pergi selalu mematikan handphone kamu Yank? Apa takut aku mengganggu kamu (menangis sambil bicara pada ponsel)
Apa aku mengganggu kamu Yank?(terisak-serak)
(memukuli kepalanya) Kenapa? Kenapa? Goblok! Goblok!Goblok! (teriak, terengah menahan tangis)
Theme song 22-Setengah Hati-Ada Band
IAN
Kenapa kamu ngga bisa ninggalin dia Sayang? Aku sudah bilang kan berkali-kali aku ngga bisa jauh dari kamu.. aku ngga mau kehilangan kamu Yank… (menangis terduduk di lantai dan memeluk lutut)
Kenapa kamu ulangin lagi…
Kenapa kamu selalu ninggalin aku..
Kenapa kamu selalu nyakitin aku…
Ian menangis tersedu sampai terpuruk di lantai.
Intercut
Dani mengintip dari jendela dengan wajah sedih dan khawatir.
CUT BACK TO
Ian masih menangis sedih tertelungkup di lantai sambil menggengam erat ponselnya.
Flash back
Ian dan Vina berjalan dipantai sambil berbincang akrab.
CUT TO
Ian dan Vina bercanda di apartemen Ian, memasak dengan seru dan sangat bahagia.
CUT TO
Kenangan manis saat Ian dan Vina bersama.
End theme song 22
CUT BACK TO
Dani di dalam memandangi Ian yang terus menangis.
CUT TO
Commercial break
3. EXT: TAMAN.SORE
DANI,CINDY, FIGURAN
Dani dan Cindy berjalan-jalan sore di taman. Beberapa anak tampak berlarian dan bersepeda. Beberapa pasangan juga sedang menikmati sore yang cerah.
Wajah Dani dan Cindy tampak serius.
DANI
Sorry ya Cin.. sebenernya aku ngga pengen cerita masalah ini sama kamu, tapi (diam sejenak) aku ngga tahu mesti membaginya sama siapa lagi… (menghela napas)
CINDY
Ngga apa Dan.. aku ngerti kok…
Bagaimanapun, Ian itu kakak aku.. meskipun kami ngga jadi menikah, tapi aku juga tetap sayang sama dia.. (tersenyum)
DANI
Aku bener-bener bingung Cin.. aku ngga tahu lagi mesti gimana menghadapi Ian.(serius) Kalau dulu, waktu dia masih kegatelan ke sana-ke sini… (tersenyum) aku selalu berharap dia berhenti dengan kebiasaan buruknya itu… tapi sekarang (diam sejenak) setelah dia berubah… rasanya justru aku berharap dia tetap seperti dulu aja..
Dani duduk di bangku taman, Cindy duduk disebelahnya dan menatap Dani perhatian.
DANI
Setidaknya dulu aku tahu, akan seperti apa endingnya.. aku tahu kalau Ian baik-baik aja, tapi sekarang… (menggeleng) aku bener-bener ngga tahu semuanya akan seperti apa… dan aku bener-bener yakin kalau Ian sama sekali ngga baik-baik aja…
Cindy memandang ke kejauhan dengan sedih.
CINDY
Sebenernya aku merasa bersalah Dan…
Dani menoleh heran.
DANI
Kenapa?
CINDY
Karena (lirih) dulu aku pernah berharap (diam sejenak) Kalau Ian bisa merasakan rasa sakitnya di dua kan.. di khianati, di ingkari, dan disakiti… seperti yang selalu dilakukannya padaku..
Dani menggeleng dan tersenyum.
DANI
Aku ngga tahu apa ini akan membuat mu lebih baik.. (menghela napas) Karena setahuku, bukan Cuma kamu yang pernah berharap seperti itu…
Bahkan sempat terpikir oleh aku kalau ya.. memang mungkin Ian sedang menerima pembalasan atas perbuatan nya selama ini…
CINDY
Tapi itu kan ngga adil Dan? Kamu tahu sendiri kan, Ian berubah jadi seperti itu kan juga karena keadaan. Sikapnya seperti itu setelah Pak De dan Bu De meninggal… aku rasa, itu karena dia berusaha menutupi kesedihannya..
Dani mengangguk dan tampak berpikir.
DANI
Itulah Cin yang bikin aku khawatir…
Cindy mengerutkan kening.
CINDY
Kenapa Dan? Apa Ian mengatakan sesuatu?
Dani mengangguk gundah.
DANI
Iya…(menghela napas) dia… bilang kalau… sakitnya kehilangan Vina lebih sakit dari waktu kehilangan orang tuanya… (Cindy terkejut dan cemas)
Aku kan pernah menasehatinya untuk melepaskan Vina… toh dia sudah memilih untuk kembali sama suaminya, untuk apa lagi Ian terus mengejarnya… terlalu banyak perbedaan dan halangan diantara mereka… (diam sejenak)
Tapi Ian malah bilang, kalau lebih baik dia mati saja dari pada kehilangan Vina..
Karena dia sudah pernah kehilangan orang tuanya tanpa bisa berbuat apa-apa, dan sekarang.. dia ngga mau lagi kehilangan… bagaimanapun caranya akan dia pertahankan.. walaupun harus ditebus dengan nyawanya…
Cindy terlihat cemas dan bingung, juga Dani.
CINDY
Sebesar itukah cinta Ian padanya Dan? Aku ngga menyangka Ian bisa mencintai sampai seperti itu?
DANI
Aku rasa ini bukan lagi sekedar cinta Cin.. ini obsesi.. (diam sejenak)
Sepertinya Ian…(menghela napas) aku benci harus mengakui ini, tapi sepertinya Ian sakit… dia sakit Cin.. kita sudah ngga mungkin bisa lagi menolongnya.. kita mesti segera membawanya ke psikiater atau…
Cindy memandang Dani terkejut.
CINDY
Apa seserius itu Dan?
DANI
Aku harap juga ngga seserius ini Cin… kamu ngga lihat sih perubahannya setiap hari..
Kalau ada Vina.. atau habis ketemu.. atau sekedar dengar suaranya aja.. (menggeleng) Heemm.. kaya abis menang undian 10 milyar… senengnya.. ngga karuan, tapi kalau ngga ketemu dia sebentar aja, atau di telpon ngga bisa.. hem… jangan coba-coba deh deketin dia… bisa uring-uringan terus…
CINDY
Masa sih? Tapi bukannya memang kalau orang yang sedang jatuh cinta suka bertingkah seperti itu?
DANI
Ya iya sih..(diam sejenak) tapi kalau sikap Ian kali ini sudah over Cin… kan keliatan dari gayanya… apalagi sekarang ini.. sudah hampir 3 minggu Vina ngga bisa dihubungi dan ngga bisa dicari… sepertinya Vina pergi berlibur ke luar kota sama suami dan anaknya…
Kamu bisa bayangin sendiri… tiap hari Ian kerjanya Cuma nangis dan bicara sendiri…
Ngomel-ngomel sama teleponnya…
CINDY
Ah.. masa sih Dan? Kamu jangan ngelebih-lebihin dong…
DANI
Suer Cin… aku ngga bohong… aku aja sampai ngga berani ninggalin dia sendirian, takut kejadian tempo hari ke-ulang lagi…
Cindy diam sejenak terlihat cemas.
CINDY
Nah terus.. sekarang kamu disini? Ian sama siapa? Apa dia baik-baik aja?
DANI
Tenang… ini aku bisa tinggalin dia sebentar karena ada pemotretan… aku aja ragu dia bisa menyelesaikannya hari ini atau ngga, karena konsentrasinya baru jelek banget.. tadinya aku pikir dengan banyak kegiatan Ian bakalan sibuk dan pelan-pelan bisa melupakan Vina… tapi aku salah, kerjaan malah tambah kacau, dan Ian semakin kelihatan tertekan…jadi aku udah jadwalin ulang semua kegiatannya, aku ambil kan cuti panjang sementara buat dia sampai kondisinya bener-bener stabil…
(Cindy mengangguk-angguk bingung.)
Thanks ya Cin.. kamu sudah dengerin aku.. se-nggak-nya aku jadi ngerasa lega..
(Cindy tersenyum tak berkomentar)
Eh… kamu ada acara malam ini? Gimana kalau makan bareng kita?
CINDY
Duh sorry Dan… hari ini aku udah janji mau makan keluar sama Mom and Dad…
(tersenyum)
DANI
Wah aku lihat, akhir-akhir ini hubungan kalian membaik ya…
CINDY
(mengangguk) Iya.. kadang aku juga ngga ngerti dan mempertanyakan kenapa Tuhan memberi cobaan terus buat aku, tapi aku ngga pernah tahu sebelumnya kan, kalau ternyata dibalik kesedihan aku yang kehilangan Ian… aku malah mendapatkan Mommy and Daddy ku kembali…(tersenyum)
Cindy dan Dani mengangguk tersenyum.
LS Cindy dan Dani berdiri dan berjalan pelan menyusuri taman.
CUT TO
4. EXT: DEPAN KONTRAKAN VINARA.MALAM-Menjelang pagi
IAN, VINARA, ARYA, SELMA
Mobil Ian menunggu di dalam kegelapan di ujung jalan yang sepi.
Ian terus menatap ke gerbang rumah Vina dengan gelisah.
IAN
Ayo.. ayo… pulanglah Yank… masa kamu ngga pulang-pulang juga sih…
Tiga hari lagi Selma sudah masuk sekolah… masa kamu ngga pulang sih?(gemetar)
Wajah Ian tampak samar dalam kegelapan. Muka pucat dan mata lebam karena kurang tidur dan menangis. Ian tampak tidak sehat.
IAN
Sayang… (setengah menangis) kamu ini dimana sih…
Ian menggosok-gosokkan tangan ke setir dengan gelisah. Menoleh kesana kemari melihat-lihat kalau ada yang datang.
IAN
Sayang?? Apa kamu ngga pulang ke sini (tampak berpikir) Apa kamu tahu tiap hari aku tungguin kamu di sini? Atau jangan-jangan kamu… (seperti tersadar) jangan-jangan kamu pulang ke sana?
Ian tampak kesal dan segera menyalakan lampu dan dengan marah menjalankan mobilnya mengebut membabi buta menghilang di tikungan.
Sejenak kemudian muncul mobil Arya dari arah yang berlainan.
Mobil Arya berjalan pelan dan berhenti di depan rumah Vina. Vina dan Arya turun. Vina menggendong Selma yang tertidur. Arya membukakan pintu pagar. Lalu membukakan pintu rumah dan menyalakan lampu depan.
ARYA
Aku ambil barang dulu ya…
Vina mengangguk dan membawa Selma masuk.
Arya kembali mobil dan mengambil koper dan barang-barang dari bagasi dan membawanya masuk.
CUT TO
Commercial Break
5. EXT: BANDARA.PAGI
PIERE, ERIN, CINDY, DANI, FIGURAN
Piere berjalan menarik sebuah koper besar. Erin menenteng sebuah tas tangan sambil bergandengan dengan Cindy berjalan memasuki lobby bandara.
Mereka berhenti dekat pintu masuk.
ERIN
Kamu yakin ngga masalah kalau kami pergi beberapa hari?
Erin terlihat khawatir mengelus bahu Cindy.
CINDY
Ngga apa-apa Mom… kan Mommy dan Daddy jarang banget bisa pergi liburan… kebetulan sekarang ada kesempatan masa mau disia-sia in? (tersenyum)
Erin dan Piere tersenyum.
CINDY
Cindy bisa jaga diri kok Mom…
PIERE
Kami akan sering-sering telepon kamu Sayang… (mencium pipi Cindy)
Kami hanya sepuluh hari ke Hongkong-China.. kamu jaga kesehatan kamu ya..
Cindy tersenyum mengangguk.
ERIN
I’ll miss u.. (mencium pipi Cindy)
CINDY
I’ll miss u too Mom.. (memeluk Erin)
Piere dan Erin berjalan pelan menuju pintu.
ERIN
Oh ya.. jangan lupa kasi kabar Mommy tentang Ian ya… Mommy khawatir sama dia..
CINDY
Pasti Mom… (melambai)
Erin memberikan cium jauh dan masuk ke ruang check in bersama Piere. Cindy melambai melalui jendela kaca yang membatasi mereka. Lalu tersenyum.
Sebentar kemudian ponsel Cindy berbunyi, Cindy melihat nama penelponnya.
CINDY
Dani? (heran)
Hallo Dan? What’s up?
Intercut
Dani gelisah hilir mudik dalam apartemen.
DANI
Sorry Cin… aku ganggu kamu gak?
CINDY
Oh enggak kok… ada apa Dan? Kayanya serius banget?
DANI
Anu.. apa Ian ada disitu Cin?
CINDY
Ian?
DANI
Iya.. (gugup) apa mungkin dia ikut nganterin tante dan om ke bandara bareng sama kamu?
CINDY
Ngga tuh Dan? Ian ngga di sini… kenapa? (cemas) Ada masalah?
DANI
Aduh.. kemana lagi dia ya? Apa dia ada telepon kamu atau sesuatu mungkin?
CINDY
Eh.. (berpikir) kayanya nggak deh Dan.. terakhir ketemu waktu kita makan bareng di apartemen kemarin dulu.. setelah itu aku ngga ada contact lagi sama dia….
Kenapa emangnya? Kemana Ian?
DANI
(menghela napas) Itu masalahnya Cin.. aku ngga tahu…
Dari kemarin seharian Ian menghilang.. waktu aku tinggal mandi tahu-tahu dia udah ngga ada.. biasanya kalau di telepon paling dia bilang mau cari angin dan beberapa jam kemudian dia udah balik.. tapi ini udah semaleman, hp-nya sama sekali ngga bisa dihubungin dan belum pulang-pulang juga…
CINDY
Terus gimana dong? Kamu ngga cari dia..
DANI
Justru itu Cin.. kamu bisa ngga kesini?
Tadi aku udah suruh orang untuk cek ke rumah Vina, tapi dia ngga ada.. jadi aku pikir aku akan cari dia… tapi aku ngga bisa tinggalin apartemen kosong, soalnya kalau mendadak Ian pulang.. dia kan ga bawa kunci.. bisa-bisa dia kabur lagi..
CINDY
Oke-oke.. aku kesana sekarang.. kamu tunggu sebentar ya…
Cindy berjalan bergegas.
DANI
Tapi kamu? Om dan Tante?
CINDY
Oh ngga, mereka udah masuk check in kok… aku ke sana sekarang ya..
DANI
Oke deh kalo gitu aku tunggu ya.. thanks..
Cindy menutup telepon dan bergegas setengah berlari menuju ke parkiran.
CUT TO
6. INT. APARTEMEN IAN. SIANG
CINDY, DANI, IAN
Dani gelisah duduk menunggu di ruang tamu. Terdengar ketukan pintu, dan segera Dani melonjak berdiri dan membukanya.
Cindy berdiri dengan tegang dan segera masuk.
CINDY
Gimana Dan? Ian udah pulang? Udah ada kabar?
DANI
Belum Cin.. (cemas)
CINDY
Telponnya masih mati juga?
DANI
Iya.. gini deh.. aku jalan sekarang.. kamu tolong tunggu di sini ya…
Nanti kalau Ian datang atau telepon.. kamu buruan kabarin aku… oke?
Cindy mengangguk cemas. Dani memegang bahu Cindy dan berbalik ke pintu hendak keluar. Ketika Dani menarik pintu dan pintu terbuka terlihat Ian berjalan lesu dan sempoyongan menuju ke mereka.
DANI
Ian!!
Dani dan Cindy segera berlari keluar dan memapah Ian yang hampir roboh lemas.
CINDY
Kamu ini dari mana aja sih Yan? Kami semua khawatirin kamu…
Ian diam saja lemas. Mereka membaringkan Ian di sofa. Ian segera memejamkan mata dan mengernyit seperti kesakitan.
DANI
Yan? (menoleh memandang Cindy cemas)
Kamu kenapa? Kamu sakit?
Cindy memijit kaki Ian dengan cemas.
CINDY
Mana yang sakit?Kamu kenapa? (menoleh ke Dani)
Kita ke rumah sakit aja ya…
Ian menggeram dan melambai menolak sambil membalikkan badannya ke sandaran sofa.
DANI
Kamu pasti belum makan juga kan dari kemarin? Ditambah ngga tidur semaleman…
Cindy menghela napas dan menggeleng.
CINDY
Kamu jangan nyiksa diri kamu sendiri kaya gini dong Yan…
Cindy tampak berpikir sejenak lalu berdiri dan berjalan kedapur.
CINDY
Sekarang kamu harus makan.. lalu istirahat..
Ian menggumam tak jelas dan menggeleng.
CINDY
Kalau kamu ngga mau makan juga, terpaksa kami bawa kamu ke rumah sakit… (menatap Ian tajam)
Ian menatap Cindy dengan sedikit kesal, tapi akhirnya diam saja pasrah.
Dani tersenyum dan mendekati Cindy membantunya menyiapkan makanan.
CUT TO
Cindy mendekat ke Ian yang masih duduk lemas di sofa sambil menonton televisi dan membawa kan bubur untuk nya.
CINDY
Ayo dimakan…(mencoba menyuapi)
Ian mengelak pelan. Cindy terus membujuk dan Ian sesekali menerima suapan Cindy dengan ogah-ogahan. Dani datang membawakan air putih dan duduk dekat mereka.
CUT TO
Ian berjalan pelan ke kamarnya pelan. Dani memapahnya tapi Ian menepis dan menggeleng berusaha sendiri. Ian masuk ke kamar.
Cindy dan Dani memandang sedih.
CUT TO
CU Bubur masih setengah
Cindy melipat tangan di dada sambil memandangi bubur lalu memandang Dani.
CINDY
Se-nggak nya, dia mau makan sedikit…(pelan)
Dani memandang Cindy dan menepuk bahunya.
DANI
Thanks ya.. kalau ngga ada kamu aku ngga tahu mesti gimana..
Cindy tersenyum dan memandang ke dalam kamar Ian. Pintunya sedikit terbuka. Dari celah pintu terlihat Ian merambat pelan ke atas ranjang dan duduk terpekur setengah memunggungi mereka.
Kamera mendekat ke Ian.
CU Airmata menetes tanpa suara
Wajah Ian sangat sedih memandang sebuah boneka beruang yang dipita seperti akan di kado’kan pada seseorang.
CU Hati yang ada dalam dekapan beruang bertuliskan
I Love U Selma
Kamera menjauh.
LS Dani dan Cindy mengamati Ian
Ian merambat pelan dan meraih beruang dan menatapinya lekat. Kedua tangannya meremas beruang besar di hadapannya lalu memeluknya erat dan menangis tersedu. Ian berguling di ranjang dan menangis terpuruk di situ.
Cindy dan Dani tampak berpandangan prihatin.
CINDY
Dan… sementara kita mesti ekstra hati-hati menjaganya…
Masih untung dia pulang hari ini…
Dani mengangguk serius lalu mengamati Cindy yang tampak lelah.
DANI
Kamu capek ya?
Cindy menoleh dan tersenyum lalu berjalan dan duduk di depan TV.
DANI
Kamu istirahat deh.. (berpikir sejenak)
Kamu pasti belum makan juga kan? Aku siapin makan buat kamu ya…
Cindy memandang Dani lalu mengangguk.
Dani dan Cindy berpandangan.
DANI
Sebentar ya..
Dani tersenyum dan pergi. Cindy menatapnya dan tersenyum penuh arti.
CUT TO
Commercial break
7. INT. APARTEMEN SUSAN. SIANG
SUSAN, BASKORO, FIGURAN Anak-anak
Baskoro berdiri sambil mengetuk pintu apartemen Susan dengan gelisah. Sesekali memandang sekeliling takut ada yang melihat.
Sebentar kemudian Susan membukakan pintu dengan tampang kusut. Baskoro menoleh ke kiri kanan takut ketahuan dan segera masuk dan menutup pintu.
Baskoro memandang sekeliling yang berantakan dan menjatuhkan diri di sofa dengan kalut. Susan berdiri sambil melipat tangan di dadanya dan memandang kesal.
BASKORO
Mana anak-anak?
SUSAN
Tidur siang tuh… (kepala menunjuk ke kamar)
Baskoro berjalan ke kamar, mengintip sebentar dan tersenyum manis memandang kedua anaknya yang tidur lelap.
Baskoro mendekat dan mencium pipi ke dua anaknya pelan-pelan, mengelus mereka.
Susan memandang dari pintu.
Sebentar kemudian Baskoro keluar dan menutup pintu kamar.
BASKORO
(menghela napas) Kamu ini ngga sabaran banget sih Yank?
Kalau sampai ketahuan Naia gimana?
Susan dengan kesal ikut duduk disamping Baskoro.
BASKORO
Kamu kan tahu kalau Naia itu lagi mengawasi aku… semua gerak gerik aku…
Tadi aja dia curiga banget…
SUSAN
Terus, dia tahu?
BASKORO
Entahlah.. aku rasa dia ngga percaya lagi sama omonganku…
(menoleh kesal) Kamu juga sih… cari masalah aja..
SUSAN
Jadi aku mesti gimana? Arya itu sudah pulang hari ini… kalau aku ngga keluar juga dari rumahnya, aku bisa dipanggilin polisi…
BASKORO
(menggeleng) Ngga mungkin.. Arya itu Cuma ngomongnya aja yang gedhe… berani ginilah berani gitu lah… mau gini lah.. mau gitu lah… tapi nyalinya… hemm (menjentikkan jari) secuil…
Kamu begitu aja ngga bisa ngatasin sih…
SUSAN
Aku mesti gimana lagi Bas? Tes DNA nya kan sudah keluar… dia sudah tahu anak itu bukan anaknya… (diam sejenak)
BASKORO
Seharusnya kamu cegah dia dong… jangan sampai dia lakukan tes DNA itu…
Dulu aja kamu begitu gampang ngerayu dia sampai melupakan keluarganya.. kenapa sekarang jadi begini…
SUSAN
Aku nyesel.. bener-bener nyesel… kalau saja waktu itu kita tetap merahasiakan hal ini dari si Vina itu dan tidak memaksa pindah ke rumahnya…
Mungkin sampai sekarang Arya masih tetap membiayai hidup kita…(menggeleng gemas)
BASKORO
Kita salah perhitungan .. Tapi jangan khawatir.. aku akan coba pikirkan cara lain… (gelisah)
Susan dan Bas duduk dengan tegang.
CUT TO
8. INT. APARTEMEN IAN. PAGI
DANI, CINDY
Cindy mengetuk pintu apartemen Ian. Pakaiannya sudah rapi, dan sebelah tangannya menentang plastik berisi makanan siap saji. Beberapa saat kemudian Dani muncul dipintu dengan kepala basah dan berkerudung handuk, terlihat tergesa.
DANI
Hai.. sorry.. udah lama ya (melebarkan pintu) tadi aku baru mandi..
Cindy masuk sambil tersenyum.
CINDY
Tumben pagi-pagi udah mandi kirain belum pada bangun (tertawa kecil)
Cindy berjalan dan meletakkan makanan di meja makan dan mulai membukanya. Dani mendekat dan memandang makanan dengan semangat.
DANI
Wah.. apa-an nih? (mencium wanginya) hemm.. (menggosok kedua tangannya senang) Jadi laper nih…
Cindy tertawa.
CINDY
Ini emang aku bawain khusus buat kalian… (menoleh ke kamar Ian)
Ian belum bangun?
DANI
Tadi sebelum aku mandi sih masih ngorok.. (tertawa) Bentar ya aku bangunin dulu…
Dani berjalan ke kamar Ian dan Cindy membereskan meja untuk makan.
DANI
Yan.. bangun Yan.. (mengetuk) Cindy dateng tuh… (menoleh ke Cindy sambil tersenyum) Bawa makanan lagi…
(Ian tak menyahut) Ian… (terus mengetuk dan semakin gelisah)
Bentar ya (memandang ke Cindy)
Dani membuka pintu yang tak terkunci.
CU Ranjang Ian berantakan kosong
Dani masuk dengan cemas dan mulai memanggil mencari-cari. Cindy ikut masuk.
Dani mencari ke balkon dan sekeliling apartemen.
CINDY
Mana?
DANI
Tadi sebelum aku mandi.. dia masih ada kok…
Cindy dan Dani tampak berpikir heran dan cemas.
CINDY
Kemana ya? Apa dia keluar?
Dani tampak berpikir sebentar dan lari ke meja pojok dan memeriksa gepokan kunci yang ada di sana.
DANI
Sial… kunci mobilnya ngga ada.. dia pasti pergi lagi… (cemas) Aku akan susul dia..
Kamu tunggu di sini aja ya…
Cindy mengangguk kebingungan. Dani berhenti sejenak di pintu dan memandang Cindy.
DANI
Sorry ya.. makannya nanti deh.. sesudah aku jemput Ian (tersenyum)
CINDY
Emangnya kamu tahu Ian pergi kemana?(cemas)
DANI
Kemana lagi kalau ngga cari Vina?
CINDY
Kalau dia ngga ada?
DANI
Ya.. (berpikir) senggak-nya aku juga tahu beberapa tempat yang mungkin Ian datengin.. sudah dulu ya..
Dani berlari ke depan dan Cindy memandang lesu.
CUT TO
9. EXT. JALANAN/DEPAN SEKOLAH SELMA. PAGI
SELMA, VINARA, IAN, FIGURAN
Vina menggandeng Selma menyeberang jalan dan masuk ke gerbang. Satpam menyambut dan menyapa, mereka bercanda sebentar.
VINARA
Dah Sayang… (melepas Selma di depan pintu kelas dan mencium pipinya)
Mama langsung pulang ya… nanti Mama jemput seperti biasa..
(Selma mengangguk.)
Jangan nakal ya…
Selma berjalan ke mejanya dan melambai. Vinara berjalan keluar dengan tenang.
SATPAM
Pagi Bu.. sendirian aja? Mbaknya ngga ikut? (tersenyum)
LS Kamera menjauh – Vina dan Satpam terlibat obrolan.
CUT TO
Dari dalam sebuah mobil, seseorang memperhatikan gerak gerik Vina. (kamera seakan dari pandangan mata Ian)
Terlihat Vina selesai bicara dan melambaikan tangan lalu berjalan menyeberang.
CUT TO
Mobil Ian melesat hampir menyerempet Vina dan berhenti tepat di depannya seperti dulu. Ian turun dan menyeret Vina ke dalam mobilnya. Vina terkejut tapi tak dapat menolak.
SATPAM
Waah.. Bu Vina? Ada apa tu ya?
Satpam memandang heran dan menggeleng-geleng, lalu mobil Ian kembali melesat pergi menjauh.
CUT TO
10. INT. JALANAN/MOBIL IAN. PAGI
IAN, VINARA
Vinara terlihat sedikit takut. Ian terlihat marah, tak bicara terus memandang ke depan.
VINARA(dalam hati)
Aduh.. ada apa lagi nih.. jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi…
Vina melirik pergelangan Ian yang masih ada bekas luka.
VINARA
Ian? (hati-hati) Kita mau kemana? Kamu ngga kerja?
Ian diam saja merengut. Vina berpikir sejenak mencari alasan.
VINARA
Nyetirnya jangan cepet-cepet dong.. (mengusap perutnya) Perutku agak ngga enak nih..
Ian melirik sebentar, terbersit kekhawatiran, Ian memelankan mobilnya sambil menghela napas. Vina tersenyum lega. Keduanya diam canggung. Mobil terus berjalan menjauh dari kota.
VINARA
Kita mau kemana Yan? (memandang heran ke jalanan) Ini kan.. ?? Mau keluar kota? Kamu ada perlu di luar kota?
Ian diam saja tapi wajah cemberutnya sudah sedikit mereda dan berganti tatapan sedih.
Vina memandang Ian lekat.
VINARA(dalam hati)
Aku nyakitin kamu lagi ya Yan? (sedih) Lihat diri kamu… biasanya kamu paling menjaga penampilan kamu kalau keluar rumah.. tapi sekarang.. rambut dan pakaian kamu acak-acakan..
(kumis dan cambang Ian sepertinya juga ngga sempat di cukur beberapa hari
Mata kamu sembab dan lebam.. pasti kamu kurang tidur.. atau kamu banyak menangis? Apa kamu menangis karena aku Yan? (menunduk sedih dan menatap keluar jendela)
Maaf-in aku… aku sungguh ngga ingin kamu sedih.. kamu ngga tahu betapa kangennya aku sama kamu, udah lama kita ngga ketemu, tapi.. tapi aku ngga tahu mesti gimana? Aku juga ngga mungkin ninggalin Arya.
Ian menoleh sejenak dan memandang wajah sedih Vina.
LS Mobil melaju di jalanan.
CUT TO
11. EXT/INT. PANTAI/VILLA IAN. PAGI
IAN, VINARA
Mobil Ian memasuki pelataran sebuah kompleks Villa di tepi pantai. Vina memandangi pantai yang terlihat damai dari jendela. Mobil melambat dan berhenti di salah satu bungalow yang paling ujung dan agak jauh dari yang lain. Vina memandang Villa itu dan menatap Ian yang memandangnya sedih.
VINARA
Ini..??
IAN
Aku mau bicara.. (lirih) Ayo.. (mengajak turun).
Vina dan Ian turun dari mobil, menaiki teras. Ian membuka pintu dan mereka masuk.
CUT TO
Vina menatap interior Villa kecil dan rapi. Ian menyalakan lampu dan melempar kunci mobil ke meja dekat pintu.
CU Kunci jatuh di meja
Vina terkejut dengan suara kunci dan menatap Ian yang terus menatapnya lekat. Ian menutup pintu dan memandang Vina dengan tatapan terluka. Vina tampak ikut sedih.
Tiba-tiba Ian menarik tangan Vina mendekat, lalu mendorongnya hingga tersandar di pintu dan mencium bibirnya paksa.
CUT TO
Commercial Break
12. EXT/INT. PANTAI/VILLA IAN. SIANG
IAN, VINARA
Vina terkejut tapi tak bisa bereaksi sampai Ian melepaskan kecupannya. Mereka berpandangan dengan perasaan rindu dan berpelukan. Ian menangis memeluk Vina erat.
VINARA(dalam hati)
Ya Tuhan.. perempuan macam apa aku ini.. apa sudah aku lakukan.. kenapa aku tak menolak ciumannya… Bagaimana kalau Arya sampai tahu…
Vina mendorong Ian pelan menjauh dan berjalan lunglai ke sofa dan duduk di sana sambil memegang bibirnya sedih. Ian mengikuti dengan lemas dan berlutut di hadapannya sambil memegang kedua tangan Vina erat. Vina berusaha menolak tapi Ian terus memegangnya dan Vina menyerah.
VINARA
Ian ini…(menggeleng)
IAN
Kenapa? (sedih) Kenapa kamu terus lakuin ini sama aku Vin… apa kamu mau ngetes aku, mau tahu seberapa dalam cintaku sama kamu?
Vina menggeleng dan hampir menangis.
IAN
Lalu kenapa? Apa Arya? Arya yang minta supaya kamu…
VINARA(memotong)
Nggak Yan… Arya ngga minta apa-apa…
IAN
Lalu? (diam sejenak) Apa kamu.. (pelan) sudah ngga sayang sama aku lagi…
Vina hanya bisa menatap sedih ke Ian yang sangat terpukul.
IAN
Kalau gitu kenapa kamu biarin aku hidup.. kenapa kamu tolong aku? Kenapa kamu jagain aku di rumah sakit dan ngerawat aku? (meninggi)
Lebih baik aku mati (memukuli diri sendiri) mati.. mati…
Vina memegang lengan Ian mencegahnya.
VINARA
Ian.. Ian.. Stop it Yan…
Grow Up!!! (teriak)
Ian terkejut dan memandang Vina.
VINARA
Okey… (berusaha tegas) Aku akuin… aku memang bersalah sama kamu… aku memang sempat berpikiran bahwa mungkin hubungan kita bisa diterusin…
Tapi ini semua ngga mungkin Yan… ngga mungkin…
IAN
Kenapa? Kenapa ngga mungkin?
VINARA
Aku sudah menjelaskan sama kamu berkali-kali…
Aku ini sudah menikah… Arya suamiku… dan aku juga sudah punya anak… aku punya keluarga.. aku mencintai mereka.. aku ngga bisa kehilangan mereka Yan…
IAN
Aku kan ngga minta kamu ninggalin mereka Yank…
VINARA
Lalu kamu mau aku bagaimana? Menduakan kamu? (menggeleng)
Itu ngga mungkin aku lakuin Yan..
IAN
Jadi kamu lebih milih ninggalin aku… (meratap) Kamu ngga peduli sama aku lagi.. kamu ngga peduli kalau kehilangan aku…
VINARA
Ian… (sedih) aku mohon pengertian kamu…
Kalau saja situasinya berbeda… dan kita bertemu lebih awal… sebelum aku menikah(mengedikkan bahu) mungkin semuanya ngga akan seperti ini…
IAN
Tapi aku ngga bisa kehilangan kamu Yank…. Aku bisa mati… aku ngga sanggup Yank
VINARA
Please Yan… aku mohon, jangan mempersulit hubungan kita… apa ngga bisa kalau kita hanya temenan aja?
IAN
(Menggeleng) Kenapa? (bangkit berdiri dan berjalan hilir mudik)
Kenapa harus aku yang mengalah? Kenapa bukan Arya? (emosi)
Arya itu sudah nyakitin kamu… ngga Cuma sekali dua kali.. tapi berkali-kali…
Dan dia juga sudah memilih untuk tinggal dengan kekasih barunya itu kan?
Bahkan mereka akan segera memiliki anak lagi.. mereka akan punya keluarga baru, Yank! Kenapa kamu ngga memberi kesempatan kita untuk mempunyai keluarga sendiri?
VINARA
(menggeleng) Ada yang perlu kamu tahu.. (hati-hati)
Vinara tampak ragu dan cemas. Ian menatap dengan kesal.
VINARA
Susan sudah melahirkan.
IAN
Nah… so…
VINARA
Anak itu bukan anak Arya…
Ian terkejut.
VINARA
Sejak semula Arya merasa tak pernah berhubungan serius dengan Susan, dan meragukan semua tuntutannya. Lalu… Arya melakukan tes DNA pada anak itu, dan terbukti benar anak itu bukan anaknya.
Ian mundur beberapa langkah seperti shock.
VINARA
Arya sudah menyesal… dan dia sudah berubah Yan… kami akan memulai hidup baru bersama..
Ian jatuh terduduk di lantai dan menggeleng panik.
Vina terkejut dan mendekat.
VINARA
Yan.. kamu ngga papa? (cemas)
Ian masih tampak shock dan tak mampu bicara.
VINARA
Maaf in aku Yan.. (menangis) Aku tahu aku jahat banget sama kamu…
Tapi aku sudah memutuskan.. untuk memperbaiki keluarga kami..
Ian menggeleng sambil menangis.
VINARA
Maaf in aku Yan… Maaf… (menangis)
Aku ngga tahu berapa juta kata maaf yang harus aku ucapkan untuk mengurangi sakit hati kamu… tapi aku ngga mungkin mengingkari sumpah aku sendiri Yan.. aku sudah bersumpah untuk menjaga rumah tangga aku selamanya, dalam kondisi apa pun… Aku ngga mungkin…
Ian maju dengan kalap dan memegang erat lengan Vina.
IAN
Lalu gimana dengan aku? Aku ngga bisa kehilangan kamu Yank… please Yank… jangan tinggalin aku..
Aku janji, aku ngga akan ganggu keluarga kamu.. aku akan.. (bingung) kamu bisa anggap aku teman baik kamu, sahabat kamu, saudara kamu.. atau apa aja yang kamu mau…
Vina menggeleng lemah.
IAN
Tapi jangan hindarin aku.. jangan tinggalin aku.. ijinkan aku mencintai kamu.. aku sumpah.. aku ngga akan minta balasan apa pun.. please Yank….
VINARA
Mana bisa begitu Yan… itu namanya menyiksa kamu…
IAN
Lalu kamu pikir dengan meninggalkan aku kamu ngga menyiksa aku?
Aku sakit Yank… (memukul dadanya)
VINARA
Aku tahu kamu sakit.. tapi aku pikir… dengan berjalannya waktu.. kamu pasti akan bisa melupakan aku… kamu akan bertemu dengan perempuan lain yang lebih pantas buat kamu
Ian menggeleng gemas dan menarik Vina mendekat ke pelukannya.
IAN
Aku ngga mau perempuan lain.. aku Cuma mau kamu
Ian mecoba mencium Vina lagi. Kali ini Vina mencoba memberontak dan menolak.
VINARA
Ian.. kamu apa-apa an sih? Lepasin Yan… (memberontak) Sakit.. Yan..
Ian menatapnya dalam, matanya memerah dan napas nya memburu.
IAN
Aku ngga akan ngelepasin kamu.. ngga akan..
Kamu milik ku .. selamanya.. kamu hanya milikku..
Ian mulai kalap dan mencoba menciumi Vina. Vina mulai takut dan berteriak menghindar.
Vina memukuli Ian yang terus mencoba memeluk dan menciumnya. Vina beringsut dan merangkak mencoba kabur dari kejaran Ian.
Vina berteriak-teriak dan memukuli Ian dengan segenap tenaganya. Tapi Ian lebih kuat. Dalam sekejap Ian menyeret kakinya hingga Vina terjerembab dilantai. Ian menarik kaki dan badan Vina dan mulai menindihnya.
VINARA
Ian.. sadar (menamparnya beberapa kali) Ian!! Jangan.. jangan!!!
LS Vinara meronta dalam genggaman Ian yang kalap.
CU Tangan Ian merobek baju Vina
CU Wajah Vina berteriak ketakutan
Lampu meredup.
CUT TO
END EPS.22
Credit Title
THEME SONG 4
No comments:
Post a Comment