Eps.23
1. INT/EXT: VILLA IAN/PANTAI. SORE
IAN, VINARA
Vina bergelung di lantai dekat sofa sambil menangis memunggungi Ian. Pakaiannya sudah berantakan, bajunya koyak. Celana panjangnya terlihat melorot ke setengah paha, dan bagian tubuhnya yang terbuka ditutupinya dengan baju Ian dan bantal sofa.
Ian duduk bersimpuh sambil menangis di hadapannya. Sabuknya tergeletak di lantai dekat mereka.
IAN
Yank.. (lirih) I’m sorry…
Ian mencoba memegang Vina dengan ragu, tapi Vina beringsut menjauh dengan ketakutan begitu tangan Ian menyentuhnya.
Ian sangat sedih melihat kondisi Vina yang kacau.
IAN
I’m so sorry… oh shitt... (menjambak rambutnya sendiri) apa yang sudah kulakuin sama kamu… Ya Tuhan.. (mengusap wajahnya)
Sayang.. (memohon) Vina.. sayang…
Vina terus menangis dan terus menjauhi sentuhan Ian dengan ketakutan dan tampak panik.
IAN
Maaf in aku… aku.. aku khilaf.. aku… aduuhhh… Sayang.. jangan gini dong… I’m so sorry.. (terus meratap)
Vina semakin meringkuk menjauhi Ian yang kebingungan.
IAN
Okey.. okey… (berpikir sejenak dan berdiri)
Eh.. aku.. aku ambilkan kamu baju ganti dulu ya.. kamu tunggu sebentar.. aku ada beberapa t-shirt dan … (diam bingung) sebentar..
Ian berjalan seperti linglung dan menuju kesebuah kamar dan masuk ke sana.
CUT TO
Vina bergerak pelan dan mengintip Ian yang sudah memasuki kamarnya. Vina terlihat sangat kacau dan bingung. Wajahnya basah oleh air mata. Terlihat kebingungan memandang sekeliling dan menatap ke pakaiannya yang koyak-koyak.
CUT TO
Ian kebingungan mencoba membuka lemari yang terkunci. Tapi tangannya gemetar dan beberapa kali gagal mencoba memutarnya.
IAN
Aduuh.. bego banget sih aku ini.. apa yang sudah aku lakuin…
Vina ngga akan maaf in aku.. (takut-menggeleng) Nggak.. nggak..
Ngga boleh… Ngga bisa begini…
Aduuhh.. kenapa susah banget sih kuncinya…
Ian menarik pintu dengan keras, dan bunyinya terdengar keras ke depan.
CUT TO
Vina sudah memakai rapi celananya dan mengatupkan kemeja Ian di bahunya sehingga bajunya yang koyak tertutup. Vina masih bersimpuh dilantai dengan kalut. Wajahnya memandang bingung ke sekeliling.
VINARA
Ya Tuhan.. apa yang sudah terjadi.. kenapa bisa begini… seharusnya aku ngga kesini.. ini salahku.. aku yang membuatnya begini…
Vina tersentak terkejut mendengar suara keras dari dalam kamar.
VINARA
Ya Tuhan.. (panik) dia datang… (ketakutan) apa yang mesti kulakukan.. (bingung)
Aku harus pergi dari sini… (menggeleng bingung)
CUT TO
Ian memandang ke setumpuk pakaian dan beberapa dalam gantungan. Semua pakaian pria. Ian memilah bajunya itu.
IAN
Aduuh.. yang mana.. yang mana ya.. (memilih bingung)
CUT TO
Vina berdiri dan berjalan limbung ke arah pintu depan sambil memandang sekeliling.
CU Kunci mobil di meja
Vina menyambar kunci dan berlari secepat kilat keluar.
CUT TO
Ian keluar dari kamar dengan dua t-shirt dan celana pendek.
IAN
Sayang… coba kamu lihat.. mungkin ini…
Ian bingung tak melihat Vina di tempatnya. Ian memutar badan melihat sekeliling.
IAN
Yank…. Sayang?
Tiba-tiba terdengar bunyi deru mobil dari luar. Ian terkejut dan melihat ke jendela. Vina memacu mobil Ian secepatnya menjauhi Villa.
Ian segera melempar pakaian di tangannya dan berlari mengejar keluar sambil terus berteriak memanggil-manggil Vina.
CUT TO
Dari dalam mobil terlihat Ian berlari keluar Villa dan mengejar mobil yang dikendarai Vina sampai semakin mengecil. Vina terlihat menyetir menjauh dengan panik dan tegang.
CUT TO
2. INT: APARTEMEN IAN. MALAM
DANI, CINDY
Cindy duduk dengan gelisah dan memandang jam dinding. Jam 8.20 malam.
CINDY
Aduh pada kemana ya kok ngga juga pulang…
Cindy dengan gelisah menimang remote tv dan memindah mindah chanel ke sana ke mari tanpa memperhatikan layar tv sama sekali.
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Cindy terlonjak kaget dan meloncat segera membukakan pintu. Pintu terbuka dan Dani berdiri di depan pintu dengan lesu.
DANI
Hai.. (lesu)
Cindy melebarkan pintu dan Dani masuk lalu menjatuhkan diri di sofa dengan lemas.
CINDY
Gimana? Ada kabar?
Dani menggeleng. Cindy duduk di dekatnya dengan resah.
DANI
Ian ngga ada dimana-mana, aku udah cari ke rumah kontrakan Vina, ke rumah Arya, ke kantor Vina dan aku kantor Arya… aku juga udah titip pesan pada temannya si Opie itu… (diam sejenak) Aku juga cari ke tempat-tempat biasa Ian nongkrong dan udah pesen juga ama teman-teman aku.. tapi nihil… Ian seperti hilang entah kemana…
Cindy tampak berpikir keras.
DANI
Teleponnya juga masih ngga bisa di hubungin kan?
Cindy menggeleng cemas menatap Dani.
DANI
Yang lebih parahnya lagi… (diam sejenak)
CINDY
Kenapa ada apa? (penasaran)
DANI
Sepertinya Ian membawa kabur Vina…
CINDY
Apa??
DANI
Tadi waktu aku cari ke tempat Vina dan Arya, dan Ian ngga ada di sana.. aku sudah tinggalkan pesan untuk mengabari aku kalau-kalau suatu waktu Ian muncul.. dan ternyata… (menghela napas dan menggeleng)
Sekarang yang hilang ngga Cuma Ian, tapi juga Vina…
CINDY
Gimana sih Dan.. aku ngga ngerti maksud kamu?
DANI
(menghela napas) Arya sekarang juga lagi mencari-cari istrinya itu… karena dia menghilang sejak mengantar anaknya ke sekolah…
Sampai jam pulang sekolah, Vina ngga muncul-muncul juga… sama sekali ngga jemput anaknya, sampai-sampai pihak sekolah menghubungi Arya karena mereka ngga bisa menghubungi Vina..
CINDY
Apa? Maksud kamu…?? Ian dan Vina .. pergi bersama?? Mereka lari bersama??
DANI
Aku ngga yakin kalau seperti itu Cin (cemas) Karena menurut Satpam yang melihat kejadiannya pada pagi hari…
Flashback
INT.RUANG KEPALA SEKOLAH.SIANG
Satpam berdiri di ruang kantor sekolah bersama dengan Dani dan Arya juga kepala sekolah. Mereka terlihat serius.
SATPAM(jawa kental)
Iya Pak… tadi pagi.. waktu Ibu Vina pulang, kan dia sempat ngobrol sama saya.. ngga ada apa-apa kok biasa saja…
Terus, tahu-tahu waktu Bu Vina mau nyebrang jalan ke mobilnya, tiba-tiba ada mobil datang ngebut.. wusss (memperagakan dengan polos) terus mendadak nge-rem di depannya, sampai hampir saja Bu Vina keserempet pak…
KEPALA SEKOLAH
Terus… kamu ngga nolongin dia Pak Juki?
SATPAM
Ya tadinya saya mau maju nolongin dia Pak.. tapi kejadiannya cepat sekali, tahu-tahu Bu Vina sudah di tarik dan di dorong masuk ke mobilnya, terus mobil itu langsung.. wuss hilang lagi Pak… saya ngga sempat ngapa-ngapain…
KEPALA SEKOLAH
Apa kamu bisa ngenalin orang yang membawa Bu Vina?
SATPAM
Wah kalau orangnya saya ngga ingat Pak… tapi kalau mobilnya… (berpikir)
DANI
Seperti apa mobil nya?
SATPAM
Sedan Pak.. bagus.. kaya mobil balap gitu.. warnanya merah… Pak…
Dani terhenyak. Arya dan Kepala sekolah berpandangan.
CUT BACK TO
Cindy tampak bingung dan tak percaya.
DANI
Mana Satpamnya bilang kalau Ian kaya penculik gitu, gayanya kasar banget dan…ah. . pokoknya (menggeleng heran)
CINDY
Aduh.. terus gimana dong Dan…
Dani menggeleng dan matanta tertumbuk pada makanan di meja yang belum tersentuh.
DANI
Kamu ?? Kamu belum makan juga?
Dani berdiri menghampiri meja dan melihat makanan. Cindy berdiri lesu.
DANI
Gimana sih Cin? Nanti kamu bisa sakit… hem gini deh.. aku panasih dulu dan kamu makan ya… (mengambil makanan membawa ke dapur) Kenapa dari tadi ngga makan?
Dani menoleh dan mendapati Cindy sedang memandanginya.
DANI
Kenapa? (diam sejenak) Kamu… nunggu Ian ya? (tersenyum)
Sudah jangan khawatir ya.. Ian pasti baik-baik aja.. semoga dia bisa segera menyelesaikan masalahnya sama Vina… ya… (menenangkan)
Cindy tersenyum dan memandangi Dani yang sibuk memanaskan makanan.
CINDY(dalam hati)
Apa aku nungguin Ian ya? (diam sejenak memandangi Dani) Apa bener aku Cuma nunggu in Ian…
(memandang Dani dan tersenyum lalu menghampirinya)
CUT TO
Commercial break
3. EXT/INT: RUMAH KONTRAKAN VINARA. MALAM
VINARA, ARYA, NARTI
Sebuah taksi berhenti di depan rumah Vina.
Vinara turun dengan tergesa dan masuk.
Narti membuka pintu dan terkejut melihat kondisi Vina yang kacau. Vina berlari masuk dan langsung ke kamar mandi.
Arya yang semula duduk tegang menunggu terkejut melihat Vina. Arya segera mendekati Vina dengan gusar.
ARYA
Kamu ini dari mana aja sih Vin.. apa ngga tahu kalau semua nyarin-in kamu.. kamu.. hei.. Vin…
Vina tak menggubris dan masuk mengunci pintu kamar mandi lalu mengguyur badanya dengan air shower. Vina mulai menangis dan mengambil sabun dan busa scrub yang ada disana. Dia terus menggosok dan terus ke seluruh badanya tanpa melepas pakaiannya.
Arya memanggil manggil dan menggedor pintu dengan khawatir.
ARYA
Vin… ada apa… Vina?
Buka pintunya Vin.. (diam sejenak) Kalau kamu ngga buka juga.. aku dobrak pintunya…
CUT TO
Vina terus menggosok sampai lengan-lengannya memerah, air mata terus bercucuran, tubuhnya melemah dan jatuh terduduk di lantai dengan air yang terus menyala.
Pintu terbuka karena dobrakan Arya. Arya terkejut melihat Vina yang basah kuyup terduduk dilantai dengan kondisi mengenaskan.
Arya mematikan air shower dan berjongkok mencoba menyadarkan Vina.
ARYA
Vina… Vin.. ada apa? (menyadari pakaian Vina yang koyak)
Apa yang terjadi sama kamu.. (mulai panik) Vina.. Vin…
Vina seperti tak mendengar ucapan Arya dan tiba-tiba Vina terkejut seperti menyadari sesuatu.
VINARA
Nggak.. nggak… (menggeleng panik dan merangkak mencoba berdiri)
Aku harus pergi.. aku harus pergi.. dia pasti ke sini… (meratap ketakutan)
Arya kebingungan melihat Vina yang beberapa kali terpeleset dan mencoba lari ke kamarnya.
VINARA
Narti..Narti… (menoleh melihat pembantunya yang memandang ketakutan)
Cepat.. cepat bereskan pakaian Selma.. mana Selma.. mana Selma…
(memegang kepalanya) Selma,Selma masih di sekolah. Aku harus jemput Selma
Vina berdiri dengan panik, Arya memegang kedua lengannnya dan menggoyangkannya keras.
ARYA
Vina (bentak)!! Selma sudah tidur, tadi aku yang jemput dia di sekolah.. sebenarnya ada apa.. kemana kamu seharian.. (memandang Vina dari atas kebawah) Apa yang terjadi sama kamu.. jawab.. jawab Vin…
VINARA
Selma.. sudah tidur.. kalau gitu-kalau gitu… cepat Narti gendong.. bawa.. bawa kita harus pergi sekarang..
Vina berontak dari pegangan Arya dan berlari ke kamarnya. Arya menariknya keras dengan gusar.
ARYA
Vin.. kamu ini denger aku ngomong ngga sih!!! Ada apa??!!
Vina terkejut mendengar suara keras Arya dan memandang Arya terkejut menyadari kehadirannya. Narti memandangi mereka sebentar dan masuk ke kamar Selma.
VINARA
Arya?? (heran) Ar.. ya..?? (ketakutan)
Vina menggeleng ketakutan, melepaskan pegangan Arya dan mencoba menutupi pakaiannya yang koyak.
VINARA(dalam hati)
Arya pasti marah.. Arya pasti benci sama aku..
Arya terus mendekat dan memandang Vina dengan pandangan menuntut. Tiba-tiba Vina berlutut dan menangis di kaki Arya. Arya terkejut dan berjongkok di depan Vina yang bersujud di kakinya.
VINARA
Maafin aku,.. maafin aku… ini semua salah ku…
Arya memandang Vina kebingungan.
ARYA
Ada apa Vin jelasin sama aku…
Vina mengangkat wajah dengan sedih, mereka berpandangan.
CUT TO
Vina duduk sambil menggoyang-goyangkan badannya karena gelisah, handuk menutupi badannya yang basah. Arya berjalan hilir mudik dengan wajah marah.
ARYA
Kurang ajar… aku akan cari si bangsat itu…
Arya hendak berjalan keluar dengan gusar. Vina terkejut dan menghalangi.
VINARA
Kamu mau kemana? Jangan.. jangan jangan… (bingung dan takut)
ARYA
Orang itu sudah kurang ajar sama kamu… (menuding)
Masa mau dibiarin aja? Aku harus buat perhitungan sama dia…
Vina bersujud di depan Arya dan memegang kakinya sambil menangis.
VINARA
Jangan Yak… ini salahku.. aku yang salah.. aku yang salah..
Arya memandang Vina kesal.
VINARA
Kamu boleh hukum aku.. pukul aku.. aku yang salah.. aku yang salah…
Arya mendengus kesal dan duduk di sofa dengan menahan marah.
VINARA
Maaf in aku Yak.. aku tahu kamu pasti marah.. kamu pasti kecewa.. aku .. aku ngga akan memaksa kamu maafin aku.. tapi.. (menggeleng) aku bener-bener harus segera pergi.. dia pasti akan cari aku kesini (nada ketakutan) aku.. aku ngga mau ketemu dia lagi… maafin aku Yak… (beringsut mundur)
Arya melemah dan memandang kasihan pada Vina, matanya berkaca-kaca.
ARYA
Kenapa harus takut? Kan ada aku? Aku akan hadapi dia…
Vina menggeleng. Dan berdiri mundur menjauh.
VINARA
Ngga Yak.. aku harus pergi.. aku ngga mau ketemu dia lagi…
Vina berlari ke kamar dan menarik koper lalu asal-asalan memasukkan baju. Arya mengikuti dengan gundah.
VINARA
Narti… (memanggil)
Narti lari keluar dari kamar Selma dan mendekat.
VINARA
Tasnya Selma sudah siap?
NARTI
Sudah Bu…
VINARA
Ayo kita pergi.. menutup tasnya..
NARTI
Ibu ngga ganti baju dulu?
Vina memandang pakaiannya yang setengah basah.
VINARA
Ngga ngga.. ngga ada waktu.. kita harus pergi sekarang..
ARYA
Kalian mau kemana…
Vina berdiri bingung menenteng koper. Narti lari ke kamar Selma.
VINARA
Kemana aja… (bingung)
ARYA
Baiklah kalau begitu.. kita pulang saja ke rumah
VINARA
Nggak.. nggak.. dia bisa saja kesana.. aku aku ngga mungkin ke rumah.. aku akan cari hotel saja sementara, besok aku akan pindah ke luar kota…
ARYA
Kenapa sih? Kamu begitu takut sama dia… kamu mau lari dia sampai kapan? Selamanya? Sudahlah kita pulang saja…
VINARA
Ngga… Yak.. maaf in aku.. ngga bisa ketemu dia lagi.. aku ngga mau ambil resiko (menangis dengan ketakutan) Maaf in aku…
Narti keluar menggendong Selma yang tertidur. Vina mengambil tas Selma dan membawa bersama kopernya. Arya menghela napas dan menggamit lengan Vina.
ARYA
Baiklah.. kalau kamu ngga mau pulang… (diam sejenak) Setidaknya.. biarkan aku pergi bersama kalian.. biarkan aku menjaga kamu…
Vina memandang tak percaya dan terlihat bingung di tengah tangisnya. Arya mengangguk dan merangkulnya keluar.
CUT TO
4. EXT: RUMAH KONTRAKAN VINARA. MALAM
IAN, FIGURAN TETANGGA
Sebuah taksi melambat di depan rumah Vina. Ian turun dari taksi dan memandang ke sekeliling rumah. Beberapa orang tetangga tampak ada yang berdiri dan ada yang duduk berkelompok sambil memandangi kedatangan Ian.
IAN
Mobilku ngga ada.. apa Vina ngga ke sini ya? Atau belum sampai? (bingung)
Tapi mobil Vina ada… (gelisah)
Ian memandangi mobil yang terparkir, lalu melongok ke dalam melalui pagar dan mulai mengetuk-ngetuk.
IAN
Kenapa rumahnya gelap ya? Masa Selma dan Narti ngga ada?
Vin… Sayang…
Ian terus mengetuk tanpa jawaban. Tetangga mulai berkasak kusuk sambil menunjuk-nunjuk dengan tatapan tak menyenangkan.
FIGURAN 1(ibu-ibu)
Tuh kan… apa aku bilang.. pasti dia lagi biang keladinya..
FIGURAN 2(ibu setengah tua)
Ah jangan menuduh dulu.. belum tentu kan… mungkin aja dia kebetulan baru mau kesini, jangan langsung disangkut kan sama masalah tadi dong… kita kan ngga tau duduk persoalannya..
FIGURAN(Pak RT)
Iya ibu-ibu, ini kan urusan rumah tangga orang… ngga usah ikut campur lah…
FIGURAN 1
Ah Pak RT ini lho… masa ada warganya yang bermasalah gini kok di diamkan saja.. apa jadinya nanti kampung kita ini, kalau moral orang-orangnya semakin ngga jelas saja…
FIGURAN 2
Iya betul juga sih Pak… lebih baik Bapak bicarakan dengan keluarganya Vina.. sebetulnya ada masalah apa tadi sampai berantem teriak-teriak nangis-nangis begitu..
FIGURAN 1
Apa ngga malu di dengar tetangga… (sinis)
FIGURAN (Pak RT)
Iya.. iya besok kalau Bu Vina pulang, saya akan temui dia…
FIGURAN 1
Nah gitu dong…
Mereka kembali memandang ke Ian yang tak juga berhenti memanggil dan mengetuk.
FIGURAN 1
Ngga ada yang mau kasi tau dia ya kalau rumahnya itu kosong? Mau sampai kapan teriak-teriak berisik gitu… gangguin tetangga aja.. ngga tau apa udah jam berapa ini… Biar aku yang tegur dia.. (sebal) mentang-mentang artis.. dia pikir bisa seenaknya aja.. dasar ngga tahu malu..
Figuran 1 beranjak hendak maju. Pak RT mencegahnya.
FIGURAN Pak RT
Sudah sudah Bu… biar saya saja… (menenangkan)
Pak RT menghela napas dan menghampiri Ian yang mulai meratap di depan gerbang. Beberapa tampak berkerumun dan bergunjing memandangi dari kejauhan.
FIGURAN Pak RT
Maaf Pak… Mau cari Bu Vina? (hati-hati)
Ian terkejut dan menoleh dengan pandangan kacau.
CU Wajah Pak RT terkejut melihat ekspresi dan kondisi Ian yang kacau
Ian mengangguk bingung.
FIGURAN Pak RT
Bu Vina nya pergi Pak… baru saja…
IAN
Hah? Pergi? Baru saja?
FIGURAN Pak RT
Iya Pak… tadi datang sebentar naik taksi, terus sebentar pergi lagi, jadi sekarang rumahnya kosong.. tadi soalnya perginya… sekeluarga di bawa semua, sama Pak Arya
Ian terhenyak dan ambruk ke pagar. Pak RT terkejut dan membantu memegangnya. Beberapa tetangga yang menonton terpekik dan mulai maju berkerumun.
IAN
Sayang?? (seperti orang linglung) Sayang…
Ian berdiri dengan limbung sambil merambat dipagar lalu terhuyung lari ke jalanan memecah kerumunan yang memandanginya heran.
FIGURAN 2
Tuh.. kamu ngga lihat kasihan sekali orang itu…
FIGURAN 1
Aku kira kemarin waktu nangis di hujan-hujan Cuma mau cari sensansi aja… (menggeleng) wah.. jangan-jangan… dia udah gila beneran… udah sinting kali..
FIGURAN 2
Huss.. kamu ini kalo ngomong… udah ayo pulang.. besok anak mu sekolah kan…
FIGURAN 1
Ah, Bu Siti ini.. aku kan Cuma ngomong apa adanya..
Kerumunan bubar dan kembali ke rumah masing-masing.
CUT TO
Ian berlari limbung di jalanan yang sepi dan gelap. Terjatuh dan berhenti terengah.
IAN
Sayang? Kamu kemana? Kenapa kamu naik taksi? Apa ada masalah di jalan?
(menutup mulut tersadar) Kamu kecelakaan? (bingung) Pasti kamu … kamu tadi marah banget kan sama aku.. dan kamu..
Sekarang kamu ada di mana? (diam sejenak)
Arya?!! Pasti Arya… Pasti Arya marah .. dia pasti menyakiti kamu lagi.. (bingung)
Ian berdiri dan segera berlari ke jalanan yang lebih ramai dan mencegat taksi.
IAN
Tunggu Sayang.. aku akan menolong kamu.. aku ngga akan biarin Arya nyakitin kamu lagi.. tunggu… (melambai pada taksi) TAKSI!!!
Taksi berhenti dan Ian masuk.
CUT TO
Commercial Break
5. EXT/INT: JALANAN.MOBIL ERIN. SIANG
ERIN, PIERE, DANI, CINDY
Dani menyetir mobil, Piere duduk di bangku depan. Cindy dan Erin duduk di belakang.
CINDY
Sorry ya Mom.. kita jadi ganggu liburan Mom and Dad
ERIN
Ngga sayang… kami memang sangat khawatir dengan keadaan Ian, disana pun rasanya ngga bisa tenang, jadi kami langsung pulang begitu mendapat kabar dari kamu..
PIERE
Gimana Dani? Belum ada kabar juga dari Ian sampai hari ini? Sudah tiga hari kan dia menghilang? Apa sudah kalian laporkan ke polisi…
DANI
Tadi pagi, sebelum jemput Om ke bandara, kami terpaksa ke kantor polisi, karena kami sudah ngga tahu lagi harus mencarinya ke mana
ERIN
Katanya mobilnya sudah ketemu? Apa tidak bisa di lacak?
DANI
Sepertinya Ian meninggalkannya begitu saja di lapangan parkir dekat halaman kantor kita, mungkin dia .. entah apa yang dipikirkannya sehingga menaruh mobilnya di situ.. tapi benar-benar aneh karena Ian ngga mungkin pergi jauh tanpa kendaraan.. mana mungkin dia naik kendaraan umum..
PIERE
Apa kalian sudah menghubungi pihak bandara? Siapa tahu dia pergi ke luar kota atau luar negeri?
CINDY
Sudah Mom… tapi tidak ada yang atas nama Ian.. kemana pun..
PIERE
Bagaimana dengan perempuan itu? Apa sudah ketemu? Dia satu-satunya kunci jawaban kita yang tahu di mana Ian berada.
DANI
Itu lah Om.. katanya malam itu Ian memang sempat terlihat mencari Vina di kontrakannya, tapi menurut warga setempat, Vina dan keluarga nya sudah pergi dan Ian pun pergi mencarinya, entah kemana.
ERIN
Lalu?
DANI
Kata Pak RT yang rumahnya kebetulan dekat rumah kontrakan vina, besok paginya Vina dan keluarga sempat mampir ke rumah untuk membereskan barang-barang dan setelah itu mengembalikan kunci pada pemilik kontrakan, katanya mereka akan pindah ke luar kota..
PIERE
Pindah? Lalu bagaimana dengan Ian? Apa ada yang melihatnya lagi?
Dani dan Cindy menggeleng sedih.
DANI
Ian ngga pernah muncul lagi sejak malam itu.
Ponsel Dani tiba-tiba berdering dan semua terkejut berharap cemas.
Dani mengangkatnya dengan tergesa.
DANI
Hallo?? Oh.. hai Opie.. ya… (menoleh ke Piere yang memandangnya ingin tahu)
Oh ya.. ya.. kalau gitu saya segera kesana.. oke…
CINDY
Ada apa Dan? (Cindy memajukan badannya)
Dani menghela napas.
DANI
Dari Opie.. temannya Vina.. katanya ada kabar dari Vina…
PIERE
Kalau gitu kita ke sana sekarang… ayo
Dani mengangguk dan mobil pun melaju.
CUT TO
6. INT: KANTOR NAIA. SIANG
NAIA, ARYA, VINARA, YANTI, (DEDI)FIGURAN
Naia tampak sedang menelepon dengan tatapan cemas.
NAIA
Kamu yakin dengan keputusan kamu Yak?
Intercut
Arya menelepon dari teras sebuah rumah yang tampak sejuk.
ARYA
Maaf in aku Nai.. aku tahu ini mendadak, padahal masih banyak pekerjaan yang belum sempat aku selesaikan.. tapi…
NAIA
Aku ngerti kok… Cuma (diam sejenak) kenapa harus ke luar kota? Jakarta kan besar, kalian bisa pindah ke mana aja, jadi bisa tetap bekerja di sini…
ARYA
Aku ngga yakin Vina bisa balik lagi ke Jakarta (menghela napas dan menoleh)
Arya memandang ke Vina yang sedang duduk terpekur dengan wajah pucat dan melamun sendirian.
NAIA
Oh ya? Bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia baik-baik aja Yak?
ARYA
Secara fisik sih dia sehat… tapi… (mendengus) kelihatannya dia masih trauma banget sama kejadian hari itu.. dia selalu murung, dan kalau malam.. masih saja mengigau karena mimpi buruk..
Sialan… memang bener-bener bangsat tuh orang… perlu di kasi pelajaran..
NAIA
Kenapa ngga kalian laporin aja ke polisi sih? Masa kalian biarin dia bebas begitu aja…
ARYA
Aku ngga mau menyakiti Vina lagi Nai.. kamu ngga lihat kondisinya sekarang (memandangi Vina) apalagi kalau harus berurusan dengan polisi dan pengadilan.. itu terlalu berat buat dia…
NAIA
Yah.. (menggeleng) terserah kalian lah…
Yanti masuk dan memberi kode pada Vina sesuatu.
NAIA
Yang penting.. kalian harus jaga diri di sana.. kalau ada apa-apa kabarin aku ya
ARYA
Thanks Nai…
Naia menutup telepon dan memandang Yanti.
YANTI
Pak Dedi sudah datang Bu…
NAIA
Oh.. suruh langsung masuk aja…
Naia menegakkan duduknya, Yanti keluar dan seorang laki-laki masuk.
NAIA
Silakan Pak Dedi.. (menunjuk kursi) Bagaimana hasilnya?
Dedi memberikan amplop besar yang segera di buka Naia.
DEDI
Ini baru sebagian Bu… hasil penyelidikan yang lain, baru bisa keluar dalam beberapa hari lagi… paling lambat minggu depan..
Soal tes DNA yang ibu minta… (Dedi mengulurkan selembar kertas dari amplop)
Positif… memang seperti dugaan Ibu, darahnya positif dengan darah pak Baskoro
Naia tersenyum puas dan menerima kertas dan memeriksanya.
CU Hasil Tes positif
Naia terlihat sangat kesal dan menerawang.
NAIA(dalam hati)
Baskoro.. kamu tunggu saja tanggal mainnya…
Naia kembali memandangi berkas, Dedi tampak menerangkan sesuatu.
CUT TO
7. EXT. DEPAN KANTOR VINARA. SIANG
OPIE, DANI, CINDY, ERIN, PIERE
Opie berdiri di depan pintu. Dani turun dari mobil dan berlari menghampiri terlebih dahulu. Cindy, Erin dan Piere menyusul mendekat.
DANI
Hai.. ada kabar ya?
Opie mengangguk dan mengulurkan ponselnya. Opie memandang Erin Cindy Piere yang mendekat dan menyalami mereka. Dani tampak membaca sms yang ada di ponsel Opie.
CINDY
Apa katanya?
Cindy mengambil ponsel dari tangan Dani.
OPIE
Maaf.. saya juga tidak tahu apa ini membantu, setidaknya kita jadi tahu kalau waktu itu ternyata sebenarnya Vina yang meninggalkan mobil Ian di sana, ngga tahu kenapa dan apa sebabnya kok Vina yang mengendarai mobil Ian… tapi Vina bilang dia hanya mau mengembalikan mobil itu jadi dia memarkirnya di halaman kantor..
Piere mengernyit heran.
PIERE
Jadi maksud kamu.. sebelumnya mereka pergi bersama.. dan sesudah itu Vina teman kamu itu yang membawa mobil Ian pulang sendirian?
OPIE
Sebenarnya saya juga kurang jelas, karena tadi begitu saya telepon balik telpon nya sudah di matikan dan saya ngga tahu harus menghubunginya di mana.
PIERE
Jangan-jangan dia melakukan sesuatu yang buruk sama Ian?! Atau Vina mencelakainya?
CINDY
Daddy?? How could u say that?
OPIE
Maaf Pak.. tapi Vina itu perempuan baik-baik.. mana mungkin dia mencelakai Ian (kesal)
PIERE
Maaf kalau saya terdengar kasar, tapi coba saja anda pikir, mereka menghilang bersama, setelah itu dia datang membawa mobil keponakan saya sendirian.. lalu dia sendiri pindah ke luar kota .. yang ngga jelas ke mana dan ngga bisa di hubungi… dan Ian yang semula ada bersamanya hilang bagai di telan bumi…
Apa salah kalau saya mencurigainya?
Opie hendak menjawab tapi Dani mengangkat tangan menenangkan.
DANI
Sorry Pie… tapi Om Piere belum tahu, tadi kami belum sempat cerita semuanya.. (memandang ke Piere dan Erin) Jadi begini.. sebenarnya, selain terlihat di rumah kontrakan Vina, Ian juga sempat terlihat datang ke rumah Arya dan juga menghubungi Opie untuk mencari Vina…
Semua berpandangan.
DANI
Jadi jelas sebenarnya Ian menghilang mungkin justru karena mencari Vina.. karena Vina pergi meninggalkannya lagi.. (melemah)
PIERE
Oh.. I’m sorry.. (menggeleng lemah)
Opie masih terlihat agak kesal.
OPIE
Aku juga udah coba hubungi Naia, kakaknya Arya… tapi dia juga bilang ngga tahu sebenarnya Arya dan Vina pindah ke mana.. katanya Arya hanya sempat menelepon kalau mereka akan pindah sementara waktu dan nanti akan memberi kabar lagi kalau sudah mendapatkan tempat tinggal yang tepat…
Dani bertolak pinggang dan menghela napas bingung. Semua terdiam dalam pikiran masing-masing.
CUT TO
Commercial Break
8. INT. VILLA IAN
IAN
Suasana dalam Villa gelap. Remang cahaya menembus tirai yang tertutup rapat. Tak jelas lagi siang atau malam telah berganti. Ian tetap terbaring lemah dilantai dengan bersandar di sofa. Beberapa botol minuman kosong ada di sekitarnya. Badannya kacau, lusuh, rambut acak-acakan, kumis dan cambangnya menunjukkan dia sama sekali tak merawat diri selama berhari-hari. Wajahnya masih basah oleh air mata.
IAN
Sayang.. kamu kemana? Kemana Arya membawa kamu pergi? Apa dia nyakitin kamu gara-gara aku? (terisak) Pasti kamu benci banget sama aku… pasti kamu marah karena kejadian kemarin..
Ian memukul-mukul lantai dengan kesal dan menendang botol sampai terlempar dan pecah berantakan.
IAN
Kenapa sih?!! Bagaimana bisa aku ngelakuin hal itu… aku .. aku sudah menyakiti dia… (terisak) Vina pasti ngga akan maaf in aku lagi… itu sebabnya dia pergi.. dia ngga mau dengerin penjelasan atau permintaan maaf ku sama sekali..
(menggeleng sedih dan lemah) Sayaangg… sayaangg… (menelungkup di lantai)
Kenapa kamu tega ninggalin aku Yank? Aku ngga bisa hidup tanpa kamu…
Ian terus meratap sambil berguling dilantai yang kotor dan gelap.
CUT TO
9. INT. RUMAH BARU ARYA.PAGI
ARYA, VINARA, SELMA, NARTI
Narti sedang menyuapi Selma sambil bermain di ruang tengah. Vinara duduk memandangi mereka tapi dengan tatapan kosong. Arya berjalan mendekati nya, pakaian tampak rapi.
ARYA
Vina? (pelan)
Vina terlonjak dan terpekik pelan, padahal Arya bicara sangat pelan.
ARYA
Ini aku.. Vin… aku Cuma..
Vina memandang sekejap dengan ketakutan ke Arya dan kemudian menghela napas sedih.
VINARA
Sorry Yak aku.. (nada masih bingung)
ARYA
Ngga papa Vin.. aku Cuma mau pamit.. kupikir sudah saatnya aku cari kerjaan di sekitar sini.. mungkin ada kantor EO atau kantor apa aja… kita kan harus mulai usaha baru di sini…
VINARA
Maaf in aku ya Yak.. gara-gara aku… semestinya kamu ngga perlu ninggalin usaha kamu dan semua.. (sedih)
ARYA
Sudah sudah, kamu ngga perlu minta maaf terus sama aku… ini bukan salah kamu.. (lembut) lagian mungkin memang ini jalan yang terbaik buat kita.. jadi kita bisa benar-benar memulai hidup baru di sini…
Vina tersenyum memandang Arya terlihat sangat memperhatikannya.
ARYA
Gini aja… kalau kamu udah enakan, cobalah ajak Selma jalan-jalan keluar di sekitar sini.. mungkin kamu akan merasa lebih enak.. (tersenyum)
Vina mengangguk dan tersenyum. Arya mengelus rambutnya.
CUT TO
10. INT. APARTEMEN IAN.SIANG
DANI
Dani duduk gelisah dan tampak berpikir keras.
DANI
Kemana sih kamu Yan? Hari ini berarti sudah 6hari sejak kepergian kamu.. Kamu ini kemana?
Dani diam kembali berpikir dan tiba-tiba berdiri teringat sesuatu.
DANI
Coba… mungkin aku bisa (bergegas ke tumpukan kunci) mencari .. kalau-kalau…
Ada kunci yang…kurang.. atau.. (terdiam menyadari sesuatu)
Dani meletakkan kembali kunci-kunci itu dan menghela napas.
CUT TO
11. EXT/INT. MOBIL DANI.SIANG
DANI, CINDY
Cindy dan Dani di dalam mobil yang memacu cepat.
DANI
Seharusnya aku tahu sejak kemarin.. bodoh banget aku ini… kenapa nggak langsung memeriksa kunci-kunci itu…
CINDY
Apa kamu yakin kalau Ian ada di sana?
DANI
Kita berdoa aja… soalnya kalau dia ngga ada.. aku bener-bener ngga tahu lagi harus cari kemana…
Cindy memandang Dani penuh harap dan menghela napas cemas.
LS Mobil melaju cepat menuju Villa Ian.
CUT TO
12. EXT/INT. VILLA IAN.SIANG
DANI, CINDY, IAN
Mobil Dani mendekati Villa Ian dan berhenti di depannya. Dani dan Cindy turun dengan cemas dan memandang sekeliling Villa yang sepi.
CINDY
Kok sepi banget Dan?
Dani berjalan mendekat ke pintu dan mengetuk sambil memanggil Ian. Tak ada jawaban. Dani mencoba membuka pintu, tapi terkunci.
DANI
Jangan-jangan kosong… sepertinya gelap banget… (menyerah)
Cindy berjalan mendekat ke jendela dan mencoba mengintip ke jendela yang tertutup.
CINDY
Gelap banget… mungkin Ian ngga ke sini…
Dani berkacak pinggang sambil berpikir.
DANI
Oh ya… sepertinya… (mendekat ke salah satu pot bunga dan memeriksa) ada kunci duplikatnya di sini… (mengambil kunci dan tersenyum) Nah ini dia….
Cindy dan Dani berpandangan tersenyum. Dani membuka pintu, dan Cindy mengibaskan tangan karena bau pengap langsung menyergap. Ruangan sangat gelap.
CINDY
Mana sih tombol lampunya?
Cindy meraba dinding. Dani menyibakkan tirai yang tertutup.
DANI
Kita buka aja.. (cahaya masuk)
Dani dan Cindy berpandangan tersenyum. Ruangan menjadi terang oleh cahaya matahari. Dani dan Cindy berbalik dan mereka terkejut.
CU Ian terkapar di lantai tak sadarkan diri
Ruangan berantakan dan Ian tampak sangat mengenaskan.
Cindy berteriak histeris mendekatinya. Dani juga berlari menghampiri.
CUT TO
Commercial break
13. INT. APARTEMEN SUSAN.SIANG
SUSAN, BASKORO, FIGURAN POLISI
Susan duduk dengan tampang kesal, Baskoro berjalan hilir mudik dengan tampang marah dan bingung.
BASKORO
Gara-gara kamu… sekarang Naia ngga percaya lagi sama aku…
Kamu tahu, dia memblokir semua akses kartu kredit dan tabunganku… juga semua permintaan cek dan kasbon ku di kantor di tolak oleh bagian keuangan…
Bahkan jelas-jelas dia beberapa kali menyindirku soal semua kehilangan dana dan data perusahaan… (menghela napas bingung)
SUSAN
Jadi sekarang kita mesti bagaimana? Dia sudah ngga ada gunanya lagi dong buat kita… Ceraikan saja dia.. minta gono gini yang banyak, dan carilah mangsa yang baru
BASKORO
Tenang.. aku juga sudah memikirkan soal itu.. tapi…
Kita harus hati-hati… jangan sampai kita salah melangkah dan kehilangan semuanya
Terdengar ketukan pintu.
BASKORO
Siapa ya? Apa kamu janji dengan temen kamu?
Baskoro berdiri dan berjalan ke pintu.
SUSAN
Ngga tuh, aku ngga ada janji ama siapa-siapa…
Susan ikut berdiri dan berjalan ke pintu.
Baskoro membuka pintu sambil tersenyum. Beberapa polisi berdiri di sana.
CU Wajah Baskoro terkejut
POLISI
Bapak Baskoro?
BASKORO
I..iya.. saya… ada apa ini..
POLISI
Maaf anda kami tahan dengan tuduhan penggelapan dan penipuan
Susan yang mendekat terkejut. Polisi memborgol Baskoro dan mencoba menahannya. Baskoro berontak.
BASKORO
Ngga Pak.. ngga mungkin.. ini salah paham Pak…
SUSAN
Bas.. ada apa ini.. Pak ??
Polisi menangkap Baskoro. Susan berteriak histeris dan Baskoro terus berontak.
CUT TO
END EPS.23
Credit Title
THEME SONG 4
No comments:
Post a Comment