Thursday, November 24, 2011

Benang Merah - skenario eps.3

Eps.3

1. INT: MAL.MALAM
VINARA, ANDY, BETTY, IAN, KRU IAN, PENGUNJUNG MAL

Wajah Vinara tampak terpukul. Air mata sudah di pelupuk mata.
Andy tetap berdiri kaku. Betty juga tetap tak melepas pelukannya.

BETTY
            Eh.. Vin.. kebetulan banget di sini… (memandang Andy mesra)
            Mau nonton juga ya? Kita baru aja keluar nih, filmnya romanntiisss banget…
            Ya kan sayang…(mengelus Andy)

Vinara terkesiap. Menatap Andy tak percaya, air mata meleleh karena emosi. Andy menoleh memandang Betty terkejut, tak menyangka Betty akan berkata seperti itu. Andy hanya gugup tak bisa berkata apa-apa.

VINARA
            Apa-apa an ini Ndy… katanya kamu ada acara kampus… (terbata-bata)

ANDY
            Eh… anu… (bingung)

BETTY
(tertawa senang sekali)Ooo Iya… memang tadi siang kita survei resto..
Sekalian melanjutkan acara kita semalem, ya kan yank… (menatap Andy mesra) terus… (kembali memandang Vina dengan tatapan penuh kemenangan) langsung deh jalan dan nonton di sini… abis masih kangen sih.. (melirik Andy penuh arti) rasanya seharian juga belum cukup deh (manja)

Vinara memandang Andy menuntut penjelasan.
Andy terus bingung menatap Betty dan Vina bergantian.

ANDY
          Sorry Vin… tapi biar aku jelasin dulu.. sebenernya.. (menatap Betty dan Vina bingung)

Air mata Vinara mulai menetes.

VINARA
            Rasanya semua udah jelas Ndy… apa lagi yang perlu dijelasin (terisak)

Vinara cepat-cepat menghapus air matanya sambil melihat ke sekeliling dengan malu, ada beberapa orang yang mulai memperhatikan. Rombongan orang yang semula memenuhi sepanjang railing untuk melihat Ian dari atas sudah mulai bubar dan sebagian berjalan ke arah Vina, Andy dan Betty yang seperti sedang bertengkar.

ANDY
            Tapi Vin…

VINARA
            Mungkin lebih baik… kita temenan aja ya… (menahan tangis)
Ini kan yang kamu mau.
Mulai sekarang kamu bebas ngelakuin apa aja, nggak perlu lagi cari alasan bohong sama aku…

ANDY
Vin… jangan gitu dong (berusaha meraih lengan Vina, berusaha melepaskan rangkulan Betty)

Vinara menepis tangan Andy, mengangkat kedua tangan tanda menyerah dan berbalik segera pergi setengah berlari.

ANDY
Vin… Vina… (mengejar meraih Vinara. Andy menepiskan Betty yang terus berusaha memegangnya dengan kesal)
            Kamu ngomong apaan sih (berbisik dengan nada kesal ke arah Betty)

VINARA
            Aku bisa menerima apa aja Ndy… tapi kali ini… (Vina menggeleng terisak)

ANDY
            Kasi aku kesempatan Vin… aku bisa jelaskan.. (panik)

Andy menangkupkan tangannya memohon.

VINARA
Kebohongan apalagi yang mau kamu jelasin ke aku.
Sorry Ndy, tapi.. rasanya aku nggak akan pernah bisa percaya lagi sama kamu…

ANDY
(mengusap kepala kalut) Vina please.. (memohon)

Vinara menggeleng dan berbalik pergi.
Matanya masih buram karena air mata belum terlalu kering.
Vinara berpapasan dengan banyak orang yang berjalan ke arahnya. Karena tergesa berlari hendak menjauhi Andy dia tidak sadar bahwa di belakang orang-orang yang berpapasan dengannya itu sudah ujung railing.
Vinara terus mengibaskan tangan mengelak dari raihan tangan Andy, Vinara yang panik menabrak railing dan secara tak sengaja menumpahkan minuman ringan yang sedari tadi di pegangnya saja  dan belum sempat diminum karena terkejut melihat Andy dan Betty.

CU :  di lantai bawah, tepat di bawah minuman yang jatuh rombongan Ian sedang melintas dari belakang panggung.

CU :  minuman mengenai Ian sehingga T-shirt putih Ian tersiram, basah dan membekas warna merah, orange, kecoklatan. Slow motion

CU :    Ian mendongak terkejut, kesal. Matanya tertumbuk pada Vinara.

CU :  Vinara menutup mulutnya yang ternganga dengan kedua tangannya. Menoleh panik. Tampak Andy semakin dekat. Vinara memandang lagi ke bawah. Lalu memandang Andy lagi. Vinara kembali berlari menuruni escalator.

CU : Ian berusaha tersenyum sambil mengibas-ngibaskan pakaiannya yang basah bernoda. Lalu memandang ke atas lagi dan Vinara sudah tak ada.

CU :    Andy yang berdiri lemas, Betty memegang lengannya seakan tak mau melepaskan lagi. Wajah Andy sedih. Betty ekspresi menang.

CUT TO
Commercial Break

2. INT: RUANG GANTI.MAL.MALAM
VINARA, IAN, DANI, KRU, WARTAWAN

Ian berdiri di depan meja bercermin, sambil mengelap t-shirt dan jeans-nya dengan tissue. Seorang kru memberikan handuk kecil. Ian mengusapkan handuk ke kepala dan rambutnya yang basah. Bekas noda merah orange kecoklatan di kaosnya sangat kentara, sepertinya tak mungkin hilang.
Beberapa kru hilir mudik membereskan barang.
Dani berjalan menghampiri Ian. Vinara berjalan di belakang Dani sambil memandang sekeliling dengan canggung.

DANI
            Ian… ada yang mau ketemu nih…

Ian menoleh dan memandang Vinara terkejut. Vina tampak salah tingkah. Airmata karena Andy tadi sudah tak tampak di mukanya.

VINARA
            Maaf ya… (membungkuk) Maaf saya nggak sengaja…
            (kedua tangannya meremas tali kantong plastik bukunya)

Dani mengerling tersenyum. Ian yang semula tampak kesal merubah raut mukanya.

IAN
            Ngga papa kok namanya juga kecelakaan… (ramah)

Vinara menatap tak percaya. Senyumnya mengembang sedikit.

VINARA
(Dalam hati) Aduh… udah ganteng, baik lagi… pantesan Sitta, Erin dan semua suka.. (tersenyum) waah kalo mereka tau aku ketemu begini Ian, pasti semua iri…

Ian menangkap senyum-senyum Vina lalu Ian memandang Dani dengan tatapan.. ‘tuh kan!! liat ekspresinya, dasar fans’
Dani hanya tersenyum.

WARTAWAN A
            Ooh.. ini yang numpahin air tadi…

WARTAWAN B
            Wah boleh dong kita ambil gambarnya… (memasang pose kamera)

IAN
            Boleh.. (tersenyum menatap Vina)

Vina tampak kebingungan. Tak menyangka ada wartawan di situ.
Ian meraih bahu Vinara dan merangkulnya mesra.

IAN
Kebetulan kami habis wawancara soal launching tadi… juga soal insiden kamu.. (melirik Vina dengan manis)

Wartawan membidikkan kamera beberapa jepretan.

CU : Wajah Ian manis, wajah Vinara kaku terkaget-kaget..

WARTAWAN A
            Terimakasih ya Mbak… bisa wawancara sedikit..

VINARA
            Haa… (tambah bingung)

Untung Dani segera menyela. Menghampiri dan merangkul wartawan beranjak menjauh.

DANI
Maaf ya Mas, Mbak.. Ian masih harus ada acara di tempat lain jadi ngga bisa lama-lama. Kita kasi kesempatan dia ganti baju dulu. (berjalan menjauhi Ian dan Vinara, menoleh memandang noda di pakaian Ian)

Vinara mengangguk bingung. Memandang Ian speachless, membungkukkan badan berpamitan dan berbalik hendak pergi. Kru lain juga sudah menjauh keluar ruangan.

IAN
            Ehh.. tunggu tunggu.. tunggu… (Ian melambai ke arah Vinara)
            Kenalan dulu dong…

Ian mengulurkan tangannya. Vinara perlahan mengulurkan tangannya menyambut. Tampak senang bercampur was-was.

IAN
            Siapa nama kamu Manis… (mesra)

Vinara jengah. Menunduk malu-malu sesekali memandang Ian.

VINARA
            Vinara.. . (lirih)

IAN
            Siapa?? (menarik tangan Vina mendekat)

VINARA
Vina. Vinara. (lebih keras. Sudah bisa menguasai diri dari kagetnya atas reaksi Ian yang super mesra)

Ian mendongakkan wajah memandang ke belakang Vina. Vina menoleh mengikuti pandangan Ian. Tidak ada orang lagi. Pintu setengah terbuka. Vina memandang Ian lagi sambil tersenyum manis.

IAN
            Oh… Vina ya… (masih manis)

Vina mengangguk pelan sambil tetap tersenyum.

IAN
Denger ya Vina… sayang… (nada mulai kesal).. kalo emang kamu pengen ketemu saya, foto atau mau minta tanda tangan… dateng aja terus terang…

Vina menatap heran dengan perubahan nada suara dan ekspresi muka Ian. Tak menjawab.

IAN
            Ga perlu pake cara numpah-numpahin minum lu segala!! (nada meninggi)

Vinara semakin terpana. Shock.

IAN
Lu tau nggak… t-shirt gua ini harganya 89 EURO. Heeh!!! Ngerti ga lu?! (kepala Ian mendekat ke wajah Vina dengan ekspresi sangat marah)
Gua paling ngga suka dengan cewek norak kaya elu.. (kasar)

Vina tak mampu berkata.
CU Vina menggeleng heran dan tak menyangka reaksi Ian yang berubah 180%.
Ian berbalik ke arah gantungan baju-baju dan memilih-milih pakaian ganti.

IAN
            Sekarang keluar! Gua mau ganti baju…!!! (membentak tanpa menoleh lagi)

Vina yang masih ternganga, terus menggeleng tak mengerti. Berbalik dan berjalan keluar. Sesekali menoleh melihat ke arah Ian dengan heran.

VINARA
(Dalam hati) Gillaa… ternyata… cakep-cakep ga waras…

CU : Wajah Vina ekspresi sebal

VINARA
            (Dalam hati) Sial banget sih aku hari ini… (terbayang Andy dan Betty)

CU: Vina menggelengkan kepala seperti hendak membuang ingatannya.

CUT TO

3. ESTABLISH: KAMPUS

Ditunjukkan berganti-ganti siang ke malam, ke siang lagi dan ke malam lagi. (Hari berganti hari). Suasana hiruk pikuk kampus dengan cepat.

4. EXT: HALAMAN KAMPUS.SIANG
VINA, SITTA, ANDY, ARYA, TEMAN-TEMAN VINA

Vina dan Sitta sedang bercanda di halaman kampus dengan teman-temannya. Mereka masih membahas masalah insiden Ian yang sudah beberapa bulan berlalu.

TEMAN A
Kenapa sih sampe sekarang kamu ga mau cerita soal kejadian malem itu… (penasaran, menggeser duduknya mendekat ke Vinara yang duduk di sebelahnya)

Vina menoleh dan memonyongkan mulutnya. Disambut tawa teman-temannya.

TEMAN B
            Pasti terjadi sesuatu kan… kok kayanya rahasia banget…

SITTA
Liat… sampe sekarang aja aku masih simpen nih artikelnya (menunjukkan artikel dengan foto Ian yang berpelukan dengan Vina mesra)

TEMAN A
Mesra banget…. (menatap foto, CU : Foto Vina dan Ian berdua mesra)

TEMAN B
Pinter juga kamu ya pake cara gitu buat deketin si Ian… besok lagi aku juga mau ah… (menggoda)

VINARA
Hii… amit-amit deh… (ekspresi sebal)

Semua memandang Vina dengan heran.

TEMAN A
Kenapa sih selalu kamu bilang gitu, emangnya ada apa sih, segitu mesra kok amit-amit… (penasaran)

TEMAN B
Masa kamu juga ngga tau Sit? Ayo cerita dong… (memandang Sitta)

Vina memadang Sitta. Matanya memberi kode untuk tidak mengatakan apa-apa.

VINARA
            Udah lah jangan di bahas ya… ntar kalian pada nyesel lagi… (tertawa kecil)
            Pokoknya hari itu aku siiaalll banget.. gitu aja deh…

TEMAN A
Oo… aku tau… pasti gara-gara si Andy kan… masa sampe sekarang kamu belum bisa lupain dia sih… Udah basi lagi…

VINA
Ihh siapa yang mau pikirin Andy… sok tau ah..

SITTA
Kan udah ada gantinya.. (menggoda)

VINARA
Apaan sih.. (mencubit Sitta, Sitta menjerit kecil, tertawa)

TEMAN B
(tertawa) Si TP (baca:Te- Pe) ya?? (semua terbahak)… Tidak Proporsional… haha..

VINARA
Apaan sih!! (jengah) Jangan ngatain orang, kualat tau…

TEMAN A
Ngga papa, aslinya cakep kok, tinggal di permak-permak dikit boleh lah…

VINARA
Emangnya celana pake di permak…

Semua tertawa. Andy datang menghampiri. Tawa berhenti dan berganti wajah-wajah malas menanggapi. Tak senang dengan kehadiran Andy.

SITTA
            Huu panjang umur… (lirih dengan nada menyindir), baru diomongin..

Andy tersenyum manis.

ANDY
            Hai… ngga ada kuliah ya.. (basa basi)

TEMAN B
Emangnya kita ada tampang-tampang suka bolos.. ya nggak lah… kalo ada ngapain kita ngumpul di sini…

Vina menyikutnya, sungkan dengan kata kasar temannya.

ANDY
Ke sebrang yuk Vin.. (menunjuk ke arah Mal yang tampak di kejauhan) katanya banyak buku baru lho…

Teman-teman semua melirik tak senang. Vina hanya tersenyum tak enak hati.
Dari kejauhan Arya sedang bersama kelompoknya. Arya yang semula hanya mencuri-curi pandang ke kelompok Vinara, segera berdiri hendak menghampiri begitu melihat kedatangan Andy.

AGNES
            Mau kemana?? (tak senang menatap Arya dan kelompok VInara bergantian)

Arya tak menanggapi, tak mendengar ucapan Agnes, berjalan kearah Vinara dan teman-temannya.

ARYA
            Hai Vin… (menyapa cepat sambil memandang cemburu ke arah Andy)

Teman-teman Vina menahan senyum geli.

CU       Andy dengan wajah keren, trendy, kaos kerah ketat, jeans belel dan gaya keren. Cakep abis
CU       Arya dengan wajah yang sebenarnya juga ok. Tapi dari berpakaian, celana jeans biru terang, model baggy sempit di bawah, kemeja lengan pendek motif bunga-bunga dimasukkan rata rapi (tidak ada yang ditarik keluar), celana di tarik agak tinggi (seperti celana jojon), sabuk besar model lama, dan ujung lengan kemeja di gulung sampai dekat bahu sehingga kelihatan semua tato di lengannya.

CU       Vina menelungkupkan wajah di kedua tangannya. Pusing.

Sitta membalikkan badan menahan tawa.

Theme song 7 img: Seribu Tahun by Jikustik

Vinara berdiri berjalan menjauh dari kerumunan. Arya tersenyum konyol mengikuti. Andy memukul tinju ke telapak tangannya. CUT TO
Halaman Kost Vina.Malam : Vina, Sitta dan teman-teman duduk bersila di teras. Arya memegang gitar dengan kaku, berusaha memainkan nada sumbang. Wajah teman-teman menahan geli, Vina menatap tak percaya ada suara sejelek itu dan menahan tawa. Arya berhenti memetik gitar, menatap wajah-wajah di sekitarnya dan berkata “Jelek ya” dengan polos. Semua tertawa terbahak. CUT TO
Depan kelas Vina.Siang : Andy melongok ke kelas, tangan membawa bunga di belakang. Vina sedang sibuk mengerjakan tugas. Andy menitip bunga ke teman A. Teman A menerima dan meletakkan di meja di atas tugas yang sedang di baca Vina. Vinara mendongak memandang teman A. Teman A memberi kode ke arah pintu. Andy melambai. Vina tersenyum kaku. Meminggirkan bunga dan kembali membaca. CUT TO
Halaman kampus.hujan : Vina berdiri di depan teras kampus. Hujan deras. Andy datang menghampiri sambil tersenyum. Andy melepaskan jacket jeans nya dan hendak mengerudungi Vinara supaya tidak kehujanan berdua. Arya muncul. Menepuk Vinara dari belakang. Memandang Andy dengan senyum kemenangan. Mengeluarkan payung lipat dari tas nya, membuka payung dan merangkul mengajak Vina pergi. Vina memandang Andy tak enak hati sebentar dan berbalik pergi dengan Arya. CUT TO
Kelas Arya. Siang : Arya memandang keluar jendela sambil tersenyum-senyum. Vina di bawah, di halaman kampus sedang bersama teman-temannya. Agnes di sebelah Arya dengan kesal mengipas-ngipaskan buku ke depan wajah Arya, tapi Arya tak bereaksi tetap terpana memandang Vina. CUT TO
Depan kost Vina.Siang : Vina hendak pindah kost. Dia membawa beberapa kardus dan tumpukan barang-barang. Arya datang hendak membantu mengangkat dan membereskan. Vina berusaha menolak. Tapi Arya memaksa. Arya sangat bersemangat membantu dengan tulus. Vinara memandang dengan penuh terimakasih. Terbersit di wajahnya ada perasaan yang lain yang mulai timbul. Cepat Vina menggelengkan kepala seperti tak mau. Arya sudah selesai membereskan barang terakhir, berdiri menggosok telapak tangan. Vina dan Arya bertemu pandang. CUT TO
Warung mie instant. Malam : Vina dan Arya melahap mie instant dengan ekspresi gembira. Arya tampak seru bercerita, Vina tertawa menanggapi. CUT TO
Pusat Perbelanjaan/Mal : Vina dan Arya ada di suatu toko pakaian. Pakaian yang dikenakan Arya sudah agak berubah, cara berpakaiannya sudah tidak aneh lagi. Vina dan Arya ada di bagian pakaian pria. Memilih kemeja. Arya mengambil model agak norak dan Vina mengernyit lalu menggeleng geli. Vina mengambil model lain yang lebih polos dan mengangkatnya menunjukkan pada Arya. Andy dari kejauhan mengikuti dan memandang tak senang.

End Theme song 7

CUT TO
Commercial break

5. INT: PUSAT PERBELANJAAN.SIANG
VINARA, ARYA, NAIA, HILMAN

Vinara dan Arya berjalan beriringan di lorong sebuah pusat perbelanjaan. Keduanya tampak lebih akrab.

VINARA
            Gimana tugas akhirmu? Kapan sih sidangnya?

ARYA
Sidangnya bulan mei, mungkin pertengahan mei. Tanggalnya belum di tentuin sih. Ya udah 95% selesai lah…

VINARA
Mei? Bentar lagi dong. (menatap Arya) 95% udah hampir selesai ya?

ARYA
Iya.. (mengangkat bahu) lulus ga ya…
VINARA
Lulus dong pasti!! Gimana sih, kalo sampe kamu ga lulus, berarti satu angkatan ga ada yang lulus juga..

ARYA
Ah ngga lah.. belum tentu. Soalnya sidangnya seperti apa kan ngga kebayang. Tegang juga sih..

Dari arah berlawan datang Naia kakak Arya dan Hilman tunangan Naia.

NAIA
            Lho.. Arya… kok di sini? Tau gitu kan tadi bareng aja… (menepuk Arya)
            Siapa nih? Temen kamu? (memandang Vina ramah)

Vina tersenyum mengangguk.

ARYA
            Iya Nai.. tadi ngga ada rencana sih kesininya. (menoleh ke arah Vina)
            Kenalin Vin, ini kakak ku…

VINARA
            Oh.. hai (mengulurkan tangan) Vina…

NAIA
O ini yang namanya Vina?? Vinara kan? (tersenyum penh arti, bersalaman dengan Vina)            Naia! (tegas)

Vina memandang kagum. Naia tampak tegas dan sangat pintar. Selain cantik dia juga tampak smart. Penampilannya pun keren.

HILMAN
            Hai, Hilman (menjabat tangan Vina)

ARYA
            Ini Hilman tunangan Nai…

Vina mengangguk.

NAIA
            Aku jalan duluan ya. Mau nonton, takut telat. Kamu mau kemana lagi.

ARYA
            Belum tahu (menoleh pada Vina)
            Mau makan ga? (bertanya pada Vina)

Vina tersenyum dan mengangkat bahu.

VINARA
            Terserah sih, boleh aja..

NAIA
            Ya udah, kalo gitu aku jalan dulu ya.. (melambai)
            Yuk Man… (menggandeng tangan Hilman)

Hilman tersenyum mengikuti. Naia dan Hilman bergegas pergi.
Vina dan Arya kembali berjalan pelan menuju tempat makan di lantai atas.

VINARA
            Yang tadi, Naia, kakak kamu ya?

ARYA
            Iya. Kenapa?

VINARA
            Cantik banget ya?!

Vina menoleh ke arah Hilman dan Naia, sudah jauh.

ARYA
            Ya tentu dong…. Ga liat tampang adeknya… (meledek, membanggakan diri)

VINARA
            Yee… (balik meledek, mendorong Arya yang sedang berjalan disebelahnya)

Vina dan Arya tertawa.
CUT TO

6. EXT: KANTIN KAMPUS.SIANG
SITTA, QISTY, ANDY, BETTY, GANK BETTY

Sitta dan Qisty baru saja memilih nasi campur. Mereka memandang sekeliling mencari tempat kosong. Setelah melihat ada satu meja bersih dan kosong mereka menuju ke sana. Andy yang baru datang tampak mencari-cari Vina. Melihat Sitta dan Qisty jalan beriringan membawa nampan, segera Andy menghampiri.

ANDY
            Hai Sit… (nada merayu)

Sitta dan Qisty masih memasang tampang cuek. Mereka meletakkan nampan di meja. Qisty duduk. Sitta berdiri memandang Andy, tak menjawab.

ANDY
            Lihat si Vina ngga? Dari tadi kok ngga keliatan ya..

SITTA
            Hari ini kan dia ngga ada kuliah. (Sitta duduk dihadapan Qisty)

Andy segera menarik bangku dari meja sebelah dan duduk di sebelah Sitta.

ANDY
            Pesen gue kemaren udah disampe-in belum.. (penasaran)

Sitta yang semula hendak menyuap makanan berhenti dan memandang Andy sebal.

SITTA
Gua kan udah bilang Ndy, lu ngomong langsung aja ke Vina, jangan bawa-bawa gua ah.. (kembali ke piring dan menyuap makanan)

ANDY
Ayolah Sit.. please, lu kan sohibnya, pasti dia dengerin omongan elu…
(Andy menangkupkan telapak tangannya memohon)

SITTA
(menghela napas) Ndy… jujur aja deh, kalo saja dulu lu ga pernah nyakitin Vina, mungkin gua bisa bantu lu sekarang, tapi… sorry deh Ndy.. gua ga mau bantuin lu lagi, gua udah ga percaya lagi ama lu… (kembali ke piring)

ANDY
Tapi informasi itu kan penting. (berhenti sejenak menatap Sitta dan Qisty bergantian)
Oke (tegas) memang gua akuin gua pernah salah.(menegakkan duduknya dan memandang tegas lagi ke arah Sitta dan Qisty)
Tapi kali ini gua tulus bener-bener mau bantuin Vina. Jangan sampai di terjebak sama rayuan si udik itu.

QISTY
Elu cemburu kan Vina lagi deket sama Arya… (menatap Andy tak senang) mungkin cerita itu, Cuma bisa-bisanya lu aja supaya Vina ngejauhin Arya… huuh.. (mencibir)

ANDY
Aduh Qiss… gua ga bohong. Banyak kok saksinya. Kalo perlu gua panggil deh orang-orangnya. (berusaha meyakinkan)

SITTA
Kalo emang bener pacarnya si Arya itu banyak, sama inilah, itulah.. dan lu punya buktinya, kenapa lu ga sampein ke Vina sendiri, kenapa mesti lewat gue

ANDY
Lu kan tau, sejak kejadian itu Vina ga akan percaya lagi ama omongan gue.. walapun di depan gue dia selalu ramah, tapi …

QISTY
Nah (memotong pembicaraan Arya) lantas atas dasar apa lu pikir kita berdua percaya ama elu…
Ah.. udah lah (menggoyangkan sendok di tangannya) jangan diomongin lagi..

ANDY
Kalian kan temennya, masa kalian tega si kalo Vina ketipu sama orang itu..

SITTA
Gini aja deh Ndy.. (tegas, kesal) yang elu sebutin sebagai cewek-cewek simpenan Arya itu kan anak kampus kita semua. Agnes, Sonya, trus.. siapa lagi..??
Siapa lagi… yang lu bilang banyak itu.?? (meninggi nada tak percaya)
Nah sekarang lu liatkan sendiri kan, sejak putus dari elu, si Arya itu udah lengkeeetttt kaya perangko ngedeketin Vina..

SITTA
(berhenti sejenak memandang Qisty dan Andy)
Logikanya, kalo mereka emang bener-bener ceweknya, masa si gak ada satu orang pun yang komplain, ato marah, ato apa aja… Mereka..(nada ditekan) pacar-pacarnya Arya itu kan juga punya mata, punya mulut. Masa mereka ngga bisa bilang ato marah sendiri kalo pacarnya direbut orang…

Andy bingung kehabisan alasan. Kalah bicara. Qisty mengangguk membenarkan ucapan Sitta.

QISTY
Sebenernya Ndy, kita ini (menudingkan tangan menunjuk sitta dan qisty sendiri) ga pengen berpihak. Mau elu ato Arya, itu sudah jadi keputusan Vina. Gue sebagai temen ya mendukung aja. Yang penting dia bahagia. Jadi.. gue harap lu berbesar hatilah…
Elu sendiri yang dulu ninggalin Vina dan pacaran sama cewek lain kan…

ANDY
Tapi… (mengangkat tangan menyerah)
Terserah lu deh. Asal lu tau aja, kali ini gue ga bohong! Gue bener-bener pengen ngelindungin Vina. Itu aja. (tegas, kesal)

Andy berdiri dan pergi. Betty and the gank duduk di meja lain memandang dengan tak senang. Sitta dan Qisty menatap kepergian Andy dan kembali makan.

QISTY
Sit… (berpikir) gimana kalo yang di bilang Andy emang bener.. apa ngga sebaiknya kita sampein ke Vina…

SITTA
(Berpikir) Mungkin lebih baik kita cari tau dulu ya.. kalo emang bener kita liat buktinya, baru kita kasi tau Vina. Gimana?

Qisty mengangguk. Mereka melanjutkan makan.

CUT TO

Meja Betty.

TEMAN A
Kamu liat kan si Andy tadi… keliatannya dia berusaha balik lagi deh sama Vina.. (menghasut)

BETTY
(muka kesal) Huh.. ga akan gua biarin itu terjadi.. selamanya Andy hanya akan jadi milik gue.. Liat aja nanti…

Betty memandang ke arah Sitta dan Qisty dengan kesal.
Teman-temannya juga ikut melihat ke arah Sitta dan Qisty.

CUT TO
Commercial Break

7. INT: MOBIL ARYA.SIANG
VINA, ARYA

Vina sedang bersama Arya dalam perjalanan dengan mobil Arya.

VINARA
Emangnya kita mau kemana? (memandang ke arah jalanan yang tak dikenalnya)

ARYA
Tenang aja, nggak akan diculik kok… aku cuma mau ajak kamu ke rumahku aja..

Vina terkejut. Wajahnya ada ekspresi tak siap.

ARYA
Ga papa kan. Di sana cuma ada Nai, ama si mbok kok.. orang tua ku dan kakak-kakak ku yang lain kan tinggal di Jawa. Jangan kawatir… (tersenyum)

Vina tersenyum lega dan mengangguk.

VINARA
            Mereka jarang ke Jakarta ya? (pandangannya tetap tak lepas dari jendela)

Arya menoleh.

ARYA
            Siapa??

VINARA
            Keluargamu? (Vina memandang Arya)

ARYA
Mereka kan ada usaha perkebunan teh di sana yang nggak bisa ditinggal. Yahh.. perusahaan keluargalah, dan kerabatku yang lain juga kebanyakan tinggal di daerah sana. Makanya kalau nggak kebetulan keponakanku liburan atau ada acara yang sangat penting, ya mereka memang jarang ke sini..

Vina mengangguk-angguk memperhatikan.

VINARA
            Kak Nai ini satu-satunya perempuan dikeluargamu ya..

ARYA
Iya.. kakak pertamaku cowok, Mas Prie, sekarang anaknya udah dua, dua-duanya cewek, yang satu kelas 5SD, yang satunya masih TK. Kalo kakakku yang kedua cowok juga, Mas Robby, anaknya baru satu cowok umur 1th. Nah kakakku yang ke tiga ya si Nai itu, terus aku deh bontotnya… (tertawa)

VINARA
(Vina tertawa menanggapi) Kamu kok manggil kakakmu begitu sih…. Nai, padahal sama yang lain enggak kan pake mas juga..

ARYA
(tertawa) Emang begitu… mungkin karena jarak usiaku sama Nai paling dekat, dibanding Masku yang lain kan lumayan jauh. Makanya kita berdua paling bandel dan dari kecil emang kita berdua selalu main berdua sendiri…
(mata Arya menerawang)

Flash back

8. EXT: RUMAH ORANG TUA ARYA.SIANG
VINA, ARYA

Arya dan Naia kecil berlari di perkebunan tanpa sepatu pada saat hujan. Badan penuh lumpur. Pulang berjingkat hendak masuk, disambut oleh kakak yang sudah jauh lebih besar dengan kemoceng di tangan…

CUT BACK TO

Vina dan Arya tertawa.

VINARA
Masa sih… (tertawa) pantesan sekarang kalian berdua juga melarikan diri bareng ke sini ya..

ARYA
Tau aja (tertawa)

Mobil berhenti di depan sebuah rumah. Bukan rumah mewah, tapi cukup luas dan asri. Mala dan Arya turun dari mobil. Si Mbok membukakan pintu pagar.

MBOK
Eh.. Den Arya.. masuk Den… mari Non.. (ramah menyambut kedatangan Arya dan Vina)

Arya dan Vina masuk mengikuti. Sesekali Vina memandang sekeliling sambil memperhatikan sekitar.

CUT TO

9. INT: KORIDOR KAMPUS.SIANG
SONYA, ANDY, BETTY, GANK BETTY, SITTA, QISTY

Dari kejauhan tampak Sonya bersandar lemas di dinding dengan wajah pucat. Air mata mengalir, tanpa isak, hanya tatapan kosong.
Andy di hadapannya tampak bicara kesal, tak terdengar ucapan Andy, hanya tampak dari kejauhan mulutnya seperti marah memaki, dilihat dari arah Betty dan kawan-kawan yang diam mengawasi sambil mencuri dengar, sesekali tangannya memukul dinding karena menahan marah dan geram dengan sikap Sonya.
Andy membalikkan badan, seperti berpikir sebentar lalu kembali berbalik menghadap Sonya dan menanyakan sesuatu, seakan menegaskan sekali lagi tentang sesuatu. Sonya tampak menggelengkan kepala lemas. Menunduk dengan wajah terpukul.
Kemudian Andy meninggalkan Sonya dengan kesal.

Betty dan Ganknya mengawasi Andy yang pergi sambil bergumam dan berbisik tak jelas.
Betty berjalan sendirian mendekati Sonya yang masih terpekur menatap lantai, teman-temannya menunggu sambil mengawasi dengan tegang dari jauh.

BETTY
            Hai Sonya…

Betty menyapa ramah, ikut bersandar di dinding di sebelah Sonya.
Sonya cepat-cepat mengusap air matanya. Tanpa isak, pucat. Tak menjawab. Tak memandang Betty.

BETTY
Kenapa? Kok kayanya ada masalah?

Betty memancing sambil terus tak lepas menatap ekspresi Sonya.
Sonya diam, memandang ke tempat lain. Tetap tanpa ekspresi.

BETTY
Yaa… siapa tau aku bisa bantu… atau paling nggak…

Ucapan Betty terhenti karena Sonya menoleh dan menatapnya tajam. Betty bergidik karena tatapan dingin Sonya.

SONYA
Kata Andy…

Ucapan Sonya lirih, terputus, tak jadi melanjutkan katanta lalu menunduk – Sonya terlihat sangat down, terpukul.

BETTY
            Apa?? (tak jelas, tak mengerti ucapan Sonya, menahan sabar)

SONYA
Lebih baik… (mata menerawang kosong)
Mungkin lebih baik…aku cari anak itu… (tetap lirih, seperti bicara dengan sendiri lalu menoleh menatap Betty dengan tatapan dingin)

BETTY
Eh… (bergidik) aku sebenernya ga ngerti apa maksud kamu (sedikit ngeri dengan reaksi Sonya), tapi… kalo cuma berdasar omongan Andy mungkin sebaiknya kamu pikir ulang deh…
            (mata betty melirik kiri kanan mencari akal)

Sonya menatap dalam-dalam ke Betty, tatapan menusuk dingin, sehingga Betty tambah salah tingkah dan tegang.

SONYA
            Apa maksudmu…?? (tertarik)

Betty berjalan pelan hilir mudik di hadapan Sonya.

BETTY
Eh maksudku.. (gugup) kamu kan tau sendiri Andy orangnya seperti apa, jadi apa pun yang di omongin lebih baik ngga usah dipercaya deh…
(berusaha meyakinkan)

Sonya mengangkat kepala, diam, berpikir, lalu tersenyum sakit.

SONYA
Thanks ya Bet… sekarang aku lebih tenang… (masih tersenyum dan pergi meninggalkan Betty yang gugup)

Betty kembali berjalan ke arah teman-temannya. Temannya menanti dengan tak sabar.

TEMAN A
            Gimana… gimana..

Semua menyambut Betty tegang, sesekali melihat ke arah Sonya yang berjalan menjauh.

BETTY
            Fuhh..(menghembuskan napas lega).. Beres (tersenyum senang)
Se-nggak nya, dengan memuluskan jalan Arya dan Vina… (Betty memandang teman-temannya dengan licik) sama aja menutup jalan Andy untuk mendekati Vina lagi…

Mereka tertawa dan saling memberi tos/tepukkan tangan tanda berhasil.

CUT TO

Dibalik tembok tempat Betty dan gank-nya tertawa, Sitta dan Qisty yang sedang duduk tampak memperhatikan dengan seksama.

CUT TO
Commercial Break

10. INT: RUMAH NAIA.SORE
VINARA, ARYA, NAIA, MBOK

Vina sedang duduk di ruang makan bersama Naia. Di meja makan selain dua gelas air, tampak beberapa tumpukan foto-foto lama dan ada beberapa yang baru. Vina dan Naia tertawa bersama, mereka mengomentari foto kecil Arya dengan pose lucu.

VINARA
            Yang ini foto siapa? (menunjuk sebuah gambar)

NAIA
            Yang ini Mas Prie, ini Mas Robby dan istrinya. (menunjuk)

Naia membalik lembar foto lalu menunjukkan foto keluarga di halaman ketika mereka 4 bersaudara masih kecil-kecil.

VINARA
            Eh.. apa masih ada adik perempuan?

Vina menunjuk dua orang balita dengan kepala pelontos memakai rok dan dua orang remaja pria. Naia terbahak.

NAIA
            Ini Arya!!! Ha..ha..
            Saking nge-fans nya ama aku jadi dia selalu maunya pake baju-baju ku..

Naia dan Vina tertawa.
Si Mbok datang membawakan makanan kecil dan ikut tertawa bersama.

MBOK
Iya non… kalo den Arya sudah pake roknya non Naia, ndak mau lagi dilepas. Kalo dimarahi sama Bapak dan Ibu, dan si Mbok lepasin rok-nya, wah nangisnya bisa  sampe pojok jalan…

Semua tertawa lepas.

Intercut, di teras Arya sedang menerima telepon dari seseorang dengan wajah serius. Tak terdengar suaranya.
Arya melihat ke dalam dan menatap keakraban di dalam, matanya tak bisa lepas dari Vina. Dengan ekspresi gusar ia menutup telepon.
Arya masuk dan menghampiri mereka. Wajahnya berubah ceria.
Suara tawa Naia dan Vina terbahak memenuhi ruangan.

ARYA
            Apa-apaan nih… pasti ngomongin aku kan… hayoo..

VINARA
Wah, emang aku tau kamu kecilnya bandel, tapi ga nyangka kalo ternyata super bandel…

ARYA
Wah Nai.. jangan buka rahasia dong…

Arya menghampiri dan meletakkan kedua tangannya bersandar di sandaran kursi makan yang diduduki Vina, mesra.

NAIA
Ini belum ada apa-apanya… nanti aku ceritain yang lain lagi.. (tertawa menggoda sambil berdiri)
Sekarang aku ada kencan, jadi sorry ya Vin aku ga bisa nemenin kamu lama-lama. Ntar kapan-kapan maen ke sini lagi ya… seneng bisa ngobrol sama kamu (ramah)

Naia melambai, berpamitan, mengambil kunci mobil yang tergantung dan keluar.
Arya duduk di sebelah Vina yang kembali melihat-lihat foto-foto Arya dan keluarganya. Arya memandang Vina penuh perhatian. Si Mbok yang semula sedang berberes di sekitar meja berjalan pelan keluar ruangan, meninggalkan Vina dan Arya berdua.

VINARA
Kakak kamu baik banget ya… (mengangkat sebuah foto dengan gambar Arya dan keluarganya dalam suatu acara wisata)
Kelihatannya keluarga kamu bahagia banget ya… (ada bias rasa sedih di suaranya)

ARYA
(tersenyum sambil menyentuh lengan Vina memberi semangat)
Ehm… Sitta pernah cerita sedikit tentang kamu… (hati-hati)

Vina mengangkat wajahnya menatap Arya. Arya melipat tangannya di atas meja dan memandang dalam ke Vina.
Vina tampak berpikir dan mengingat masa lalu.

ARYA
         Ceritain dong masa kecil kamu… (tersenyum, berusaha mengalihkan kesedihan Vina)
            Pasti kamu lucu ya… pasti nakal kan… (menggoda)

VINARA
            (tersenyum mengejek) Enak aja, aku anak baik-baik tau…

Mata Vina menerawang mengingat yang lalu-lalu.

VINARA
Mungkin Sitta udah bilang ya, Mama ku meninggal waktu ngelahirin aku..
(menghela napas) jadi aku ga pernah ngerasain punya Mama.
Dan karena aku juga anak pertama dan terakhir (tersenyum pedih), makanya aku juga ga punya kakak ato adek.
(Diam sejenak, tangannya membalik-balik foto)
Setelah Mama meninggal, Papa ku juga ga pernah menikah lagi.. (memandang Arya dengan segurat rasa sedih) sampai dia meninggal…

ARYA
Sorry, aku ngga bermaksud ngingetin kamu soal…

VINARA
Ngga papa kok (memotong lalu tersenyum)
Dulu sampai setahun lebih hampir tiap hari aku nangis inget Papa, ngga siang, ngga malem. Sampai sekarang juga kalo inget dia aku masih suka sedih…

Vinara mengangkat foto keluarga Arya lagi dan memandangnya

VINARA
Makanya iri banget deh liat kamu punya keluarga besar yang akrab begini..
Kamu harus bersyukur tau Yak…

ARYA
(mengangguk, terdiam berpikir)
Kapan-kapan aku ajak kamu ke perkebunan, gimana. (menghibur, nada semangat)
Kamu pasti suka deh. Tempatnya bagus. Hawanya dingin. (menghirup udara membayangkan, lalu memandang Vina lagi). Bapak Ibu ku paling suka anak perempuan, mereka pasti seneng ketemu kamu…

Vinara agak jengah dengan ucapan Arya. Salah tingkah berusaha mengalihkan pembicaraan. Vinara berdiri pelan.

VINARA
Ehm.. udah sore(melihat arloji) pulang yuk. Aku mesti siapin buku buat les besok.

ARYA
Tugas kampus ato anak les kamu? Ada yang bisa di bantu?

VINARA
Nggak kok, buat anak les-ku, kebeneran aja sekarang lagi musim ulangan jadi aku mesti rajin-rajin bikinin soal buat dia. (tersenyum dan beranjak keluar)

Arya menatap Mala dan berkata dalam hati

ARYA(dalam hati)
Seharusnya kamu nggak perlu bekerja sekeras ini, kalo aja aku bisa ngebantu kamu. Hemm.. (memandang Vina sayang) aku pasti akan membuat kamu bahagia Vina…

Ucapan Vina memutus lamunan Arya.

VINARA
Mbok mana Yak, (mencari)
masa ngga pamit (memotong lamunan Arya)

ARYA
Oh ya… (menoleh mencari)
Mbookk… (berteriak memanggil sambil meraih kunci)

Sebentar kemudian Mbok datang.

VINARA
            Saya mau pulang dulu ya Mbok… terimakasih ya.. udah ngerepotin nih..

MBOK
            Lho… kok buru-buru to Non (jawa kental)

VINARA
            (sambil berjalan keluar)
Iya masih ada urusan ( hormat ) lain kali saya dateng lagi.. Permisi ya Mbok..

Arya sudah membuka pagar lalu memandang sambil tersenyum. Mereka memasuki mobil dan pergi. Mbok mengantar sampai ke depan dan menutup pagar.

CUT TO

11. INT: MOBIL ARYA.SORE
VINARA, ARYA

Vinara melambai tangan pada Mbok dari balik kaca.
Arya tersenyum memandangnya.
Mobil menjauh.

ARYA
Mbok udah ikut sejak pertama Papa Mamaku menikah. 35tahun lebih, sejak dia masih gadis lho..

VINARA
Keliatan orangnya baik banget ya..

ARYA
(tertawa) Kamu itu, siapa aja juga selalu kamu bilang baik banget ..

VINARA
Lho.. tapi emang baik kan (nada tak terima)

ARYA
Iya sih… (tertawa kecil)

VINARA
Dulu, ada Ibu-ibu yang jual bawang di belakang kiosku. Mukanya miriip banget ama dia… (menoleh memandang Arya dengan ekspresi senang)

ARYA
            Kios??

Arya mengalihkan pandangan sejenak dari jalan dan menatap Mala.

VINARA
(tertawa kecil) Iya gitu deh… dulu kan Papaku jual ikan asin di pasar.. bukan kios sih… kaya lapak gitu, cuman seperti meja-meja dari papan kayu..
(menjelaskan dengan seru, semangat)
Tiap pulang sekolah aku pasti bantu Papa di sana, kalo udah gitu dari seragam, tas, sepatu buku semuuaaanya bau ikan asin (tertawa) sampe buku-buku pelajaranku harus dijemurin semua di atas genteng baru bisa ilang baunya…

Vina dan Arya tertawa.

ARYA
            Masa sih…

VINARA
Ya bener kok…. (merubah duduknya menghadap Arya) trus Ibu itu yang mirip ama Mbok, aku suka main ama dia, trus dia juga hobby banget mijit. Kalo mijit bahuku, aduuhhh sakitnya minta ampun deh… (seru bercerita, suara memelan di sambung tawa Arya)

CUT TO : Mobil Arya menjauh

CUT TO

12. INT: KOST VINARA.MALAM
SITTA, QISTY, VINA

Sitta dan Qisty tampak gelisah di ruang tengah menunggu Vina.

QISTY
            Duh.. lama banget sih, tadi sms katanya udah jalan pulang.. (menggerutu)

SITTA
            Bentar lagi kali… (cemas, kening berkerut berpikir keras)
            Kamu yakin Qis.. kita mesti ngomong apa sama Vina.. (bingung)

QISTY
            (menoleh lalu duduk di sebelah Sitta)
Aku juga ngga tau. Akhir-akhir ini Vina semakin deket aja ama Arya. Aku takut.. kalo ada apa-apa, masa kita sebagai temennya diem aja sih…

SITTA
Masalahnya, semua itu kan masih dugaan, belum tentu bener…
Kalo dipikir, mana mungkin sih Arya begitu… (menerawang mengingat)
Kita kenal Arya sejak pertama-tama kita masuk kuliah kan. Udah hampir 2tahun lho. Dan selama ini setau kita, Arya orangnya baik banget. Apalagi sama Vina.

QISTY
Ya sih. Aneh juga sebenernya.
Walaupun waktu itu Vina lebih memilih Andy, tapi dia tetep aja baik, ngga cuma ama Vina tapi juga ama kita. Bahkan sampai sekarang sifatnya ngga berubah. (bingung)

SITTA
Tapi kalo inget gimana reaksi Sonya di kampus tadi, dan semua perkataan Andy… kayanya kok ada yang aneh deh.. (menggaruk kepalanya bingung)

Tiba-tiba Vina sudah berdiri di dekat mereka dengan wajah gembira.

VINARA
            Wah cerita apa-an seru banget.. (senyum gembira merekah di bibirnya)
            Aku juga punya cerita… (duduk di sebelah Sitta, senang)

Sitta dan Qisty terkejut, cepat merubah ekspresi bingung mereka seolah tak ada apa-apa  dan tersenyum menanggapi Vina.

SITTA
            Nggakk.. nggak ada apa-apa kok.. (ragu)

QISTY
            Ada berita gembira ya… (menggoda)

Vina tersenyum kecil, menundukkan wajahnya.

VINARA
            Bukan berita sih.. (pelan menunduk, menggoyang-goyangkan kakinya)
Cuma… (ragu seperti akan batal bercerita)

SITTA
Ada apa sih… (penasaran)

Vinara mengangkat wajahnya memandang Sitta dan Qisty dan tersenyum.

VINARA
Kamu tau kan, selama ini aku jarang banget cerita tentang keluargaku, papaku dan lainnya… bahkan sama Andy.. (berhenti sejenak, tersenyum lagi)
Ngga tau kenapa, tapi aku bisa terbuka banget sama Arya. (menerawang)
Padahal selama ini aku suka jahat ya ama dia. (menoleh memandang Sitta dan Qisty yang memandang Vina dengan pandangan resah)

QISTY
Terus maksud kamu… (hati-hati)

VINARA
Yaa… selama ini kan sebenernya… ehm .. Arya.. (ragu)
Kamu tau dia beberapa kali bilang suka ke aku (mengangkat bahu, ragu)
Tapi.. aku ga terlalu yakin kalo dia serius..

Qisty diam-diam mencubit lengan Sitta dengan wajah gugup memandang Vina.

CUT TO

Flash Back (dalam mobil Arya)

CU       Ekspresi sangat senang di wajah Arya menatap Vina.
Vinara menunduk malu sambil mengangguk. Arya menarik Vina ke dalam pelukannya dan mencium keningnya. Vina tersenyum dalam pelukan Arya.

CUT BACK TO
Qisty dan Sitta berpandangan tegang. Vina tersenyum.

QISTY
            Jadi kamu udah jadian ama Arya??(terkejut)

Vina mengangguk tersenyum sambil mengamati ekspresi Sitta dan Qisty yang terlihat bingung. Vina berubah serius. Senyumnya memudar.

VINARA
            Ada apa?? (memandang Sitta dan Qisty bergantian) Ada masalah??

Qisty dan Sitta berpandangan sambil saling dorong pelan seakan saling suruh bercerita. Vina membaca ekspresi mereka ada yang tak beres.

VINARA
Iya Qis, tadi di sms kamu bilang mau ngomong soal Arya. Penting. (memandang Qisty) Apaan sih…

Dalam hati Sitta : Aduhh ngomong gak ya..

CU       Qisty dan Sitta bingung
CU       Vina menunggu penasaran
CU       Qisty dan Sitta berpandangan ragu hendak bicara

CUT TO


END EPS.3

Credit Title
THEME SONG 4

No comments:

Post a Comment