Saturday, November 5, 2011

Aku Bukan Reya - Bab IV


Reya bergeser kebelakang sementara matanya tak lepas menatapi ular itu. Tiba-tiba dari arah belakang ular, muncul Lendra berdiri membawa batang kayu. Reya terdiam sesaat.
Sekilas terbayang saat petir menyambar dan tampak bayangan Lendra membawa batang kayu malam itu.
Reya memandang Lendra dan ular bergantian tanpa suara, takut.
Sesaat kemudian wajah Lendra berubah, memandang Reya dengan tatapan lembut perhatian dan menempelkan tangannya di bibir memberi isyarat supaya Reya tenang dan diam. Lendra berjingkat pelan dan membungkuk lalu mengusir ular itu dengan batang kayu.
Ular terusik sesaat bergerak lebih cepat. Reya berdiri cepat ketakutan.
Lendra segera mengambil ular dengan batang kayu dan melemparnya menjauh ke semak.
Reya segera berlari kebelakang Lendra sambil ketakutan memandang ke semak tempat ular tadi di buang. Lendra berdiri lega dan memandangi Reya yang masih tampak takut.
Reya terengah meredakan kepanikannya tak sadar Lendra memandanginya, sesaat kemudian dia  menoleh jengah setelah merasa kalau Lendra memandangnya begitu dekat.
“Kamu ngapain ke sini? Ngga ada kapoknya ya?” suara Lendra terengah pelan.
Reya terdiam dan tampak tak enak hati memonyongkan mulutnya manja.
Wajah Lendra terlihat pucat.
“Tadinya cuma mau jalan-jalan.. ngga sengaja kok tahu-tahu udah di sini…”
Lendra menggelengkan kepala dan menghela napas. Reya dan Lendra kembali ke jalan setapak dan menuju rumah.
Kamu kan bisa ditemenin Bi Sarmi atau yang lain.. “nadanya halus dan pelan, tak ketus seperti biasanya.
“Coba kalau tadi aku ngga denger kamu teriak.. mana bisa kamu usir ular pake begini “ Lendra menirukan gerakan Reya tadi saat mengibaskan tangan kosong seperti mengusir.
“Mana tahu di sini bisa ada ularnya…” tukas Reya membela diri.
Ngga tahu di sini ada ular?! Hei Non… ini kan bukan pertama kalinya kamu hampir digigit ular di sini.. malam-malam itu .. kamu sampai lari terbirit-birit sama teriak-teriak.. apa kamu sudah lupa?
Reya mengernyitkan kening.
“Kamu bukannya lari ke tempat terang malah semakin masuk ke semak-semak..
Kalau aku ngga cepet-cepet pukul tuh ular… udah.. hampiirr aja dia gigit kamu, tahu?!”
Reya ternganga.

“Hah?! Jadi malam itu ada ular?” bisiknya.
Lendra berhenti melangkah dan menatap Reya heran. Reya tampak berpikir dan mengingat.
“Kalau ngga tau di kejar ular…, ngapain kamu lari-lari sambil teriak-teriak kesetanan gitu?”
Reya memandang Lendra polos, “ Bukannya dikejar kamu?”
Lendra mendengus dan membalikkan badan kesal lalu berjalan ke rumah meninggalkan Reya yang masih berdiri.
“Ngapain aku ngejar-ngejar kamu.. ngga ada kerjaan apa… “ sahutnya kesal, sesekali nafasnya terengah.
Reya menjulurkan lidah dan mengikuti dari belakang.
“Siapa suruh nakut-nakutin orang.. malem-malem, gelap-gelap muncul kaya hantu..”bisiknya lirih sambil tertawa meledek.
Lendra mendengar gerutuan Reya dan berhenti berjalan, lalu berbalik hendak marah.
Reya memandang ke arah lain pura-pura tak tahu.
Tiba-tiba Lendra memegang dada kirinya dan tampak menahan sakit.
Reya tersadar dan menatap khawatir.
“Ah… kamu ini.. “ Lendra tak mampu bicara, terengah menahan sakit.
Reya tampak sangat khawatir dan panik.
“Lendra? Kenapa? Aduuhh.. sakit lagi ya..”
Reya mendekat dan membantu memapahnya berdiri karena Lendra tampak lemas.
“Tunggu sebentar ya..”Kata Reya. Lendra tak mampu menjawab dan berusaha mengatur nafasnya.
Reya menatap ke sekeliling dan melihat dua orang penjaga di dekat rumah.
“Pak!! Pak tolong pak!! Pak kesini!!!”
Reya melambai-lambai dan berteriak keras-keras persis di telinga Lendra. Lendra meminggirkan kepalanya kaget/kesal dan memandang Reya yang tak sadar sudah berteriak di telinga Lendra.
“Dasar bawel.. mau bikin aku cepat mati ya?.. Giliran teriak aja.. kaya tarzan .. “ gerutunya dalam hati.
Dua penjaga tadi segera berlari mendekat ke arah Lendra dan Reya.
“Pak tolong Pak…” lanjut Reya.
Penjaga segera membantu memapah Lendra. Reya mengikuti di belakang dengan gelisah.
***

Lendra tampak berbaring di ranjang. Bi Sarmi menyodorkan beberapa pil dan segera diminum oleh Lendra yang masih sesekali tersengal.
Setelah minum Lendra segera berbaring dan memejamkan mata menahan sakit.
“Bi…” bisik Reya gelisah.
Apa perlu telepon dokter Probo Den?” tanya Bibi.
Lendra mengangkat tangannya dan memberi tanda tak mau sambil tetap memejamkan mata dan mengatur napasnya yang mulai teratur.
Tapi .. tapi kamu ngga papa kan “ tanya Reya khawatir.
Lendra mengangguk sambil tetap memejamkan mata. Bi Sarmi membawa gelas dan mengajak Reya keluar kamar. Sesaat Reya berhenti di depan pintu dan memandang ke arah Lendra dengan perasaan bersalah. Lendra tampak terbaring lemah di ranjangnya. Reya menghela napas sedih dan mengikuti Bi Sarmi keluar kamar.
Dikamarnya Reya berbaring tengkurap diranjang sambil melamun. Matanya tak bisa terpejam.
“Ternyata malam itu Lendra bukannya mau mengejar aku…Dia justru menyelamatkan aku dari gigitan ular…”pikirnya, Reya sejenak berbalik memeluk bantal.
“Tapi aku malah mengira dia monster yang mau menyerang dan membunuh aku..”
Reya menelungkupkan wajahnya di bantal dan merengek kesal.
Terngiang kembali ucapan Bi Sarmi
“Masa Non Reya ngga merasakan sih.. Bibi aja yang sudah tua gini bisa melihat kok.. apa maksud tersembunyi dari berantem-berantemnya Aden…”
Reya membalikkan badan dan tidur telentang sambil memandang langit-langit kamarnya.
Apa ini yang dimaksud Bi Sarmi?Kalau Lendra sangat memperhatikan aku? Apa benar dia sangat mencintai aku?  Lalu bagaimana dengan masa lalu ku?”
Reya teringat tatapan lembut Lendra tadi.
“Walau aku sudah sangat menyakitinya.. tapi dia tetap mempertahankan aku di sisinya. Dia selalu ada dan rela menolongku.. bahkan dalam keadaan sakit pun.. dia ngga memikirkan kondisinya sama sekali”
Reya diam melamun terus memandang langit-langit kamarnya.
Hari –hari berikutnya, hubungan Reya dan Lendra semakin akrab. Reya dengan telaten merawat sampai kondisi Lendra pulih.
Lendra tampaknya senang dengan perhatian Reya. Dan reya pun mulai terbiasa tinggal di rumah itu.
***
Banaran, Kepulauan Seribu, 07.15 wib

Hari ini Lendra berjanji mengajari Reya berkebun. Lendra sangat hafal bermacam jenis nama tanaman baik tanaman hias atau pun sayur, dan juga bagaimana cara merawatnya.
Setelah berkeliling, Reya dan Lendra berjongkok dan mulai bekerja di area kebun bunga. Reya memangkas merapikan daun-daun dan pucuk rerumpunan mawar yang telah kering.
Menurut Lendra jika kita rajin memangkasnya maka dari bekas potongan itu akan muncul cabang dan ranting baru yang berbunga lebih banyak. Dan memang rerumpunan mawar mini ini sangat cantik, dalam satu tangkai bahkan ada yang berputik lebih dari 5 bakal bunga warna warni. Lendra mengambil alat-alat berkebun di dekatnya lalu mulai mendangkur(menggemburkan) tanah. Ia terlihat terampil, persis seperti cerita Bi Sarmi pikir Reya.
Sesekali Lendra menyibakkan rambut panjang ikalnya yang terus jatuh menutupi mukanya sehingga tangannya yang berlumpur mengotori pipinya.
Reya memandang rambut Lendra yang terasa mengganggu itu.
“Kenapa sih rambut kamu ngga di potong aja?”
Lendra menoleh heran.
Kenapa? Bagus kan? “ Lendra tersenyum meledek sambil menggelengkan kepalanya sehingga rambutnya bergoyang” Bagus kan?” tukasnya lagi.
“Ih rambut kaya genderuwo kok di piara…” Reya mencibir dan kembali memperhatikan rumpun mawar itu serta memotong beberapa bagian yang terewatkan tadi.
Hei Non.. jangan main fisik dong..” gerutu Lendra.
Habisnya.. emang rambut kamu ngga bagus kok.. di bonding kek atau di smoothing biar kerenan dikit… jadi kan ngga nakutin orang..” sembur Reya.
Kamu aja tuh yang kebangetan.. tega banget masa aku dibilang hantu penunggu rumah”
Emang kamu sih yang aneh.. masa jalan malem-malem gelap-gelapan… nyalain lampu kek…” tukasnya membela diri.
Siapa bilang gelap… masih kelihatan jalan kok… lampu taman dan lampu dinding juga nyala.. kamunya aja tuh yang rabun ayam…” gerutu Lendra kesal.
Enak aja kalo ngomong.. siapa rabun ayam.. kamu tuh pelit amat nyalain lampu”
Hei Non.. apa ngga tau istilah pe – ngi – rit - an!!” ejanya lagi.
Ala.. itukan alasan kamu aja. Lagian ngapain juga coba malem-malem pake jas panjang kaya drakula keluyuran dalam rumah…”
“Aku kan baru pulang dari kantor, Sayang… belum sempet ganti baju..lagian aku ngga pernah pake jas panjang.. kamu aja tuh.. RABUN AYAM!!” gemas Lendra menatap Reya.
Dih.. lagian sih.. kamu-nya kumisan, brewokan.. dan nih rambut “ ujarnya sambil menyentil rambut Lendra yang panjang melebihi bahu ” berantakan begitu, tapi kalo di bilang nakutin orang ga terima…”
Apa hayo.. mau ngomong apa lagi… kamu tu paling bisa aja ngatain orang” potong Reya lagi sebelum Lendra sempat menjawab. Lendra hanya menggeleng mati kutu.
Lendra kembali menunduk meratakan tanah dengan kedua tangannya. Rambutnya kembali tergerai ke depan.
Kamu aja yang penakut, udah gitu teriak-teriak kaya tarzan kota aja.. sampe nge-gegerin orang serumah…” gerutunya sambil melanjutkan pekerjaannya.
Reya sambil cemberut, memandangi Lendra yang mengomel. Karena merasa kesal, reflek Reya menggunting sebagian rambut Lendra yang terurai lepas dengan gunting daun yang dari tadi di pegangnya.
Lendra terdiam dan menoleh memandang Reya, masih tak sadar kalau rambutnya di gunting. Lalu ia kembali menunduk meneruskan pekerjaannya merapikan tanah sambil menggerutu.
“Kenapa? Ngga suka di ingetin kalau…” lanjutnya lagi.
Lendra baru mulai mengomel lagi dan Reya mengguntingkan gunting daunnya lagi ke rambut Lendra dengan sengaja.
Kali ini Lendra sadar dan menoleh cepat sambil memegang rambutnya kaget. Sebagian rambut panjangnya yang tergunting lepas.
Lendra menatap tangannya yang kotor oleh tanah dan ada segenggam rambut yang terpotong.
Reya masih memandang Lendra cemberut.
Lendra dan Reya yang masih berjongkok, saling memandang kesal tak bersuara lagi.
Tiba-tiba Lendra mengusapkan kedua tangannya yang kotor dan berlumpur ke wajah Reya. Reya terkejut. Reya kotor oleh tanah basah dan ada sebagian rambut menempel di sana. Melihat betapa lucunya wajah Reya saat itu, Lendra terbahak. Reya menahan geram dan mengambil sejumput tanah dan membalas mengotori wajah Lendra.
Lendra berusaha menghindar dan kembali mengambil segenggam tanah dan menempelkan ke seluruh baju Reya yang bisa di jangkaunya sambil tertawa.
Reya menahan geli dan kesal, tertawa, mengambil tanah dan mengusapkan pada rambut Lendra.
Keduanya terus saling mengotori dengan tanah sambil tak hentinya tertawa, tiba-tiba Bi Sarmi muncul.
“Masya Allah… Aden.. Non…”
Bi Sarmi memandang Reya dan Lendra heran.
Reya dan Lendra berjongkok memandang Bi Sarmi dengan pandangan seperti anak kecil yang kepergok melakukan kenakalan, dalam kondisi kacau balau dan kotor.
Segera Bi Sarmi menyalakan keran penyiram otomatis dan juga menyemprotkan selang air di taman ke arah Reya dan Lendra sambil mengomel panjang pendek tak habis pikir.
Semula Reya dan Lendra hanya berdiri canggung berhadapan seperti anak kecil  yang dihukum, tapi setelah sesaat mereka tak bisa menahan senyum dan tertawa.
Reya membersihkan wajah dan rambut Lendra dari ceceran tanah yang menempel. Lumpur di rambut Lendra dan bajunya.
Mereka terdiam saling berpandangan.
Tangan Lendra yang semula juga membersihkan kotoran di wajah Reya, berubah mengelus pipinya.
Melihat pemandangan itu, Bi Sarmi meletakkan selang dan bergegas pergi merasa tak enak hati. Mereka berdiri main dekat dan saling memandang. Lendra memajukan wajahnya hendak mencium Reya dan Reya terkejut menghindar.
Jengah mereka memandang sekeliling mencari-cari dan baru sadar kalau Bi Sarmi sudah tak ada.

Banaran, 11.20 wib

Reya sudah berganti baju dengan rambut yang sudah kering dan duduk tegak menunggu di ruang duduk dengan gelisah. Sesaat kemudian, terdengar langkah Lendra turun dari atas.
Rambut Lendra sudah terpotong pendek dan rapi. Badan Lendra yang tegap di balut kaos tanpa lengan yang melekat di badannya dan dipadukan dengan jeans panjang belel.
Agak pincang Lendra menuruni tangga. Lendra berusaha menguatkan langkahnya setegap mungkin. Reya memandang ke atas dan berdiri menyambut kedatangan Lendra.
Reya tampak terpesona menatap Lendra yang sangat berbeda. Dipandanginya Lendra dari atas sampai ke bawah. Wajah Lendra sudah dicukur bersih dan rapi. Bekas luka nya tak terlalu kentara karena sama dengan warna kulit
“Gila.. ternyata monster jelek ini cakep juga ..” bisiknya dalam hati.
Lendra merasa tak enak dipandangi, dan menarik sebelah jeansnya merapikan bagian celana untuk menutupi kakinya yang cacat.
Reya sekejap menyadari gerakan Lendra dan terlihat terharu.
“Kenapa? Aneh ya? “ ujarnya kaku.
Reya terkejut, tertangkap basah sedang menatapi Lendra.
“Emang aneh.. “sahutnya sekenanya.
Lendra terkejut cemas.
“Kalau udah jelek, mau diapa-apain ternyata tetep aja jelek… “ ledek Reya.
Lendra merengut sebentar lalu tersenyum dan menggandeng Reya keluar.
Dasar bawel…”cibirnya.
“Heh? Mau kemana?”
“Udah.. diem aja…” bisik Lendra sambil tersenyum.
Lendra dan Reya bergandengan keluar rumah.
***

Pantai Banaran

Reya dan Lendra bergandengan di sepanjang pantai.
Mau kemana sih… “ tanyanya penasaran.
Lendra tersenyum memandang Reya dan menunjuk ke bibir pantai di kejauhan.
Dekat anjungan kayu ada sebuah kapal pesiar yang tertambat di sana. Tak terlalu besar, bercat putih dengan layar tergulung. Tampak beberapa orang penjaga yang baru selesai memeriksa kesiapan kapal.
Reya terkesima melihat kapal itu dan sangat senang, segera ia berlari kecil mendekati kapal itu. Lendra memandang Reya tersenyum melihat tingkahnya yang seperti anak kecil.
“Heh? Bukannya biasa cuma ada kapal barang yang sesekali datang? Lalu itu?” tunjuknya heran, “Kok bisa ada kapal lain? Kapan datangnya?” Tanya Reya bertubi-tubi.
“Mana bisa tinggal di pulau kalau kita ngga punya kapal, Non?!”
Reya mendelik sesaat. Lendra tertawa kecil. Penjaga mendekat dan memberikan kunci lalu mengangguk dan pergi ke arah tali penambatnya.
Lendra memandang Reya lagi.
“Hari ini… aku mau ajak kamu ngelilingin pulau.. gimana?” tawarnya.
Reya pura-pura berpikir sejenak.
Boleh… “ senyum Reya.
Mereka segera menaiki kapal yang tertambat itu. Jika tak ingin memakai layar, kapal ini dapat dijalankan dengan mesin. Penjaga melepas pengikat dan kapal melaju pelan meninggalkan pantai.
Lendra menyetir kapalnya menjelajah tepi lautan dengan pemandangan indah.
Reya tampak sangat menikmati suasana. Reya memejamkan mata dan merasakan angin laut yang berhembus meniup rambutnya. Sesekali Lendra menunjuk-nunjuk memperlihatkan bagian-bagian pulau yang mereka lewati. Ternyata banyak sekali bagian pulau itu yang Reya tak pernah lihat sebelumnya.
Lendra menghentikan kapalnya di perairan yang tenang dan mereka membuka bekal makan siang yang sudah tersedia di kapal. Reya dan Lendra menghabiskan hari itu di sana hingga menjelang senja.
Penjaga membantu merapatkan kapal. Reya dan Lendra turun dan berjalan beriringan menyusuri pantai.
Kamu senang?” tanyanya hati-hati.
Reya tersenyum dan mengangguk. Lendra terlihat sangat gembira dan menahan napas sebentar lalu diam-diam ia memberanikan diri menggandeng tangan Reya sambil tersenyum.
Reya dan Lendra duduk bersisian di pantai sambil memandang matahari tenggelam
Terbawa oleh suasana Reya merebahkan kepalanya di bahu Lendra.           
“Kamu mau… kalau kita mulai dari awal, Re?”tanya Lendra lirih.
Reya tak menjawab.
Reya dan Lendra berjalan bergandengan menaiki tangga ke lantai atas. Mereka berhenti di depan kamar Reya. Reya membuka pintu dan berbalik memandang Lendra.
Terimakasih ya…”ucapnya.
Lendra tersenyum dan mengusap rambut Reya.
Tidur gih… “sapanya mesra.
Reya mengangguk dan terus tersenyum.
Daah…” Lendra menjauh dan melambai kecil.
Reya masuk dan merapatkan pintu. Lendra tersenyum lebar dan berjalan ke kamarnya sambil menggoyang-goyangkan badannya kegirangan, dan ketika dia berputar, Lendra melihat Bi Sarmi berdiri di dekat tangga sambil tertawa geli melihat tingkahnya.
Lendra segera berbalik malu dan cepat-cepat ke kamarnya.
***
Banaran, 19 November 2009, malam hari

Reya duduk sendirian di depan meja makan. Beberapa pelayan menyiapkan makan malamnya lalu pergi. Bi Sarmi datang dan melihat Reya yang tampak masih belum makan dan seperti menunggu.
“Non Reya .. kenapa ngga makan?”
Reya menoleh gugup.
“Oh.. eh.. iya Bi…” Pandangan sedih berkilat di matanya.
“Den Lendra kan pulangnya malem Non… Lebih baik Non makan duluan aja…”
Reya mengangguk sejenak dan menghela napas berat. Aneh rasanya sepi, padahal ini bukan kali pertama Reya makan sendiri. Sebelumnya malah Reya selalu sendiri. Tapi kedekatannya dengan Lendra beberapa hari terakhir ternyata dengan cepat sudah mengubah pola hidupnya.
Bi Sarmi tersenyum.

Banaran, 20 November 2009, pagi hari

Reya berjalan gontai mengikuti Lendra yang sudah berdasi rapi menuruni tangga.
“Hari ini.. pulang malam lagi?” suara Reya terdengar lemas.
Lendra menoleh, “ Kenapa?”
“Aku kan bosen seharian ngga ada kamu…” tukasnya sambil cemberut.
Lendra tersenyum dan mengusap kepala Reya.
Aku kan mesti kerja Non.. banyak banget urusan yang numpuk karena kemaren liburnya kelamaan.. Ini juga aku udah berangkat siangan kan…”
Lendra tampak merapikan kancing lengan bajunya.
Ya tapi tetep aja.. sampai aku tidur nanti kamu belum dateng.. “
Reya memberikan jas Lendra yang sedari tadi di pegangnya. Lendra menerimanya dan segera memakainya.
Sorry deh… “ ia terdiam sejenak, ” tapi aku janji, kalau pekerjaanku beres nanti aku lebih cepet pulang.. gimana?”
Reya diam saja menghela napas dan mengangguk tak rela. Lendra tersenyum menggandengnya ke arah luar sambil sesekali menatap Reya yang tampak kecewa.
Lendra berhenti berjalan dan seperti berpikir.
Atau… kamu mau ikut aku ke Jakarta?” ucapnya hati-hati dan ragu.
Ha?” heran Reya terbelalak.
Hanya dalam beberapa hari saja, semua keinginannya untuk kabur dan mencari tahu masa lalunya tak pernah terlintas dalam benaknya. Tiba-tiba Lendra menawarkan hal yang bagaikan emas baginya.
 Lendra mengangguk tersenyum, “ Kalau kamu mau, kamu bisa ikut aku ke kantor.. jadi nanti begitu ada waktu senggang.. kita bisa keluar sama-sama.. gimana?”
Reya berpikir sejenak dan mengangguk tersenyum senang. Bi Sarmi datang membawakan tas kerja Lendra.
Lendra memandang Reya sebentar dan memandang pakaian Reya yang mengenakan rok pendek.
Mendingan kamu ganti pakai celana aja deh… “
Ha?”Reya memandang pakaiannya sejenak dan segera berlari ke kamarnya. Lendra tertawa.
Selesai berganti pakaian, Reya dan Lendra mendekat ke helikopter yang sudah siap terbang di helipad belakang.
Angin kencang meniup ke sekitar helikopter. Reya sudah berganti baju memakai jeans dan t-shirt. Lendra menggandeng Reya yang tampak takut.
Seorang penjaga membawakan tas Lendra, dan beberapa tampak memberikan aba-aba pada pilot helikopter.
“Tau kan sekarang kenapa aku suruh ganti celana?” senyumnya.
Reya memandang Lendra takut-takut. Ini kali pertama Reya akan naik helikopter. Hatinya tegang bukan main.
Reya dan Lendra segera naik ke atas helikopter. Lendra membantu Reya memakai perlengkapan keselamatan lalu merapikan tasnya di samping tempat duduk.
Reya terlihat tegang. Lendra menggengam tangannya menenangkan.
Helikopter berangkat.
Reya dan Lendra memandang pemandangan dari atas heli. Reya terlihat lebih santai. Lendra mengamatinya sambil tersenyum.
Heli melintasi perairan. Lendra menunjukkan dan memberitahu Reya nama-nama pulau yang mereka lewati. Sesaat kemudian heli melintas di atas kota. Reya menunjuk-nunjuk ke bawah dengan antusias. Lendra terlihat sangat senang.
Memasuki jakarta, pesawat Lendra menuju ke pusat perkantoran terbesar di Jakarta.
Dari jauh Lendra menunju sebuah gedung kantor yang mewah dan megah, tinggi menjulang. Helikopter mereka mendarat di atasnya.
Mereka berlari kecil menuju lobby atap. Beberapa office boy segera datang membukakan pintu kaca lebar. Beberapa penjaga (bodyguard) berjas menyambut di depan pintu.
Reya memandang ke sekeliling terperangah oleh kemewahan.
            Rasanya daerah ini memang kurang di kenal Reya. Sepanjang ingatannya sebagai Fayo memang ia pernah beberapa kali melewati daerah ini, tapi tak pernah terpikir sekalipun ia akan masuk ke dalam salah satu gedung termegah di kawasan ini. Naik helikopter pula.
“Wah.. aku mau di bawa kemana lagi nih..”pikir Reya.
Mereka masuk ke lift pribadi yang berlapis cermin dan berlantai karpet tebal.
Hanya beberapa lantai untuk turun dari atap, Lendra dan rombongan memasuki lobby ruangan kantor yang mewah. Lantai marmer slab besar warna hitam berkilat. Sebagian sudutnya tampak dipasang parket kayu berurat warna tua. Reya memandang sekeliling, terpana dengan bersih dan indahnya ruangan itu. Sofa hitam empuk berkaki stainles dan meja kaca berderet rapi, tak seperti kantor, lebih seperti hotel, “bintang 10 mungkin” pikir Reya.
Lendra Berjalan tegap (agak pincang) dan gagah. Di belakangnya dikelilingi 4orang penjaga berjas mengikuti rapi dan tegap.
Lalu muncul kepala Reya mengintip dari belakang Lendra. Badan Reya yang mungil tertutup oleh badan Lendra yang tegap. Reya berjalan sambil terbengong-bengong memandang ke sekeliling ruangan. Sangat tidak serasi dengan barisan Lendra dan penjaganya, terlihat kampungan dan tolol.
Beberapa karyawan yang berpapasan menunduk hormat pada Lendra. Beberapa tampak berkasak kusuk melihat Reya.
Mereka berhenti sejenak di depan lift. Reya menghela napas dan memandang bayangannya sendiri di kaca pintu lift yang tampak tak serasi dengan Lendra.
Reya hanya berpakaian casual dan terlihat tak rapi, tak berdandan, pendek. Sedangkan Lendra walau pincang terlihat gagah, tampan, rapi dan berkelas.
Lampu di atas lift menyala di sertai bunyi bel tanda lift tiba.
Lendra dan rombongan memasuki lift yang kosong.
Di dalam lift, Reya berdiri agak rapat di belakang Lendra sambil melirik penjaga di sekitarnya.
“Kamu kok ngga bilang-bilang sih mau ajak aku ke tempat begini.. “ bisiknya.
Lendra menoleh memandang Reya, lalu mendekatkan kepalanya mendengarkan Reya.
Paling ngga kan aku bisa ganti baju yang lebih bagus… Katanya cuma mau ke kantor…” bisiknya lagi.
Lendra tersenyum, “ Ini memang kantor ku…” balasnya berbisik.
Reya kembali terbelalak.
Bel lift berbunyi, dan lift berhenti. Lendra tersenyum dan kali ini dia menggandeng tangan Reya yang terlihat tak pe-de bersamanya, keluar dari lift.
Seharian itu Reya duduk di sofa ruang duduk di sebelah ruangan kerja Lendra sambil memandangi sekeliling mengamati. Tak ada majalah atau apa pun di meja di depannya. Beberapa karyawan yang lewat tampak mengamati dan membicarakan Reya.
Reya merasa diperhatikan dan melirik mereka tak enak hati.
Reya memandang Lendra yang sibuk bekerja di ruang sebelah yang hanya berbatas kaca.
Lendra sepertinya sibuk memeriksa berkas dan pekerjaan. Ia menghela napas dan mengangkat wajahnya, pandangannya tertumbuk pada Reya yang tampak bosan duduk di sebelah dan tersenyum.
Di lihatnya Reya mengangkat wajah dan memandang ke ruang depan, Lendra ikut melihat ke depan dan melihat beberapa karyawan tampak seperti sedang membicarakan Reya.
Terngiang perkataan Reya pada Lendra saat keluar dari lift tadi.
“Semua orang pasti mikir … kamu bawa cewek udik dari mana..” bisik Reya.
Lendra memandang Reya yang kembali tertunduk dan memainkan sandalnya, lalu tersenyum dan segera meraih telepon.
“Dini? Bisa bantu saya sebentar?” kata Lendra.
***
Jakarta, 20 November 2009

Reya berdiri di ruangan sebuah butik mewah sambil memandang sekeliling dan mengamati. Butik ini ada di tengah perumahan mewah, dari depannya tak terlihat bahwa ternyata di dalam rumah besar mewah itu ada sebuah butik berkelas.  Sejenak Reya mendekat ke deretan blouse dan melihat-lihat harganya. Harga sebuah blouse Rp. 4.925.000,-
Reya terbelalak dan menahan rasa terkejutnya. Sandal jepit hitam dengan logo sebuah rumah mode terkenal Rp.6.125.000,-. Tas tangan Rp.23.450.000,-
Tiba-tiba di sebelahnya sudah berdiri seorang pelayan butik yang berpakaian rapi dan tersenyum ramah.
Hah, toko apa-an nih.. jangan-jangan aku pindah ke masa depan atau .. ??”pikirnya dalam hati. Tak percaya bisa melihat barang semahal itu seumur hidupnya.
Reya tersenyum pada pramuniaga canggung.
Selamat Siang Ibu Reya… selamat datang, saya penata busana di sini.. tadi Pak Lendra sudah menyampaikan pada saya bahwa Ibu hendak membeli beberapa baju yang sekiranya bisa Ibu pakai…” sapa sang penjaga butik.
Reya kembali tersenyum canggung.
Lendra!!! Sialan!! “ teriaknya dalam hati,“Kamu mau ngerjain aku ya.. kamu kan tahu aku sama sekali ngga punya duit.. dompet aja aku ngga ada… “
Reya tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya bingung.
Silakan Ibu.. mari saya bantu.. tadi Pak Lendra juga sudah berpesan supaya Ibu mengambil beberapa macam model sekalian…”
Oh eh.. iya.. maksud saya.. apa bisa saya hubungi Pak Lendra dulu?” jawabnya hati-hati.
Oh bisa.. silakan…” jawab pramuniaga itu sopan.
Pramuniaga tadi memberi kode dan seorang pelayan lain, yang sepertinya berkedudukan lebih rendah, datang membawakan telepon tanpa kabel dan memberikan pada sang pramuniaga.
Aduh mati.. aku hubungi kemana.. aku kan ngga tahu nomor teleponnya…” pikirnya panik.
“Aku ini benar-benar ceroboh”
Silakan Bu…”
Oh eh.. saya .. saya ngga tahu apa Pak Lendra sedang ada di kantor atau.. “ tangkis Reya.
“Oh.. mari saya sambungkan ke nomor pribadinya..” jawabnya ramah.
Pramuniaga tadi segera memencet tuts dan setelah tersambung memberikan telepon pada Reya.
“Sialan.. masa orang lain aja lebih tahu nomor pribadi Lendra dari pada aku istrinya” pikir Reya dalam hati.
Reya menerima telepon dari tangan pramuniaga dan berjalan menjauh seakan tak ingin pembicaraannya di dengar.
Lendra masih sibuk bekerja di kantornya, telepon genggamnya berdering dan bergetar di atas meja. Lendra meletakkan pekerjaannya dan mengangkat teleponnya.
“Hallo?”
Hei jelek.. kamu mau ngerjain aku ya.. aku pikir kamu mau suruh supirmu bawa aku kemana.. ternyata kamu mau jailin aku.” Berondong Reya begitu mendengar suara Lendra.
“Masa kamu tinggalin aku sendirian di butik mahal begini, apa kamu tahu berapa harga baju-baju di sini, kamu kan tahu aku ngga punya uang, kamu suruh aku bayar pakai apa? Pakai sandal?!” ujarnya kesal.
Lendra mengernyitkan kening heran mendengar omelan Reya lalu tersenyum.
Kamu tu ya.. selalu aja berprasangka buruk sama aku..Tadi aku lihat kamu bosen banget di sini, jadi ya aku pikir ngga ada salahnya kan kamu belanja beberapa baju yang kamu suka, kan kamu sudah lama ga beli baju..”
Reya melirik pramuniaga sejenak lalu tersenyum manis seakan tak ada apa-apa dan kembali berbalik mengomeli Lendra.
Ya tapi liat-liat dong Den Lendra.. “ tukasnya sebal’ “ jangankan ke butik mahal gini, kamu kirim aku ke pasar uler juga aku ngga mampu beli apa-apa..”
Lendra menghela napas menahan geli dan kesal.
Hei Non.. butik itu langganan keluarga aku dari dulu, kamu tinggal pilih aja mana yang kamu suka, nanti tagihannya tinggal mereka kirim ke sini.. beres kan?”
Ha? Jadi kamu biasa ngutang di sini?” jawab Reya agak keras.
Sadar suaranya agak keras Reya memandang ke pramuniaga yang memandanginya dan Reya tertawa kecil mengangguk malu pura-pura tak ada apa-apa.
Kamu ngomongnya kasar banget sih… pokoknya nanti aku bayar deh..Udah sana.. aku masih banyak kerjaan nih..Kamu pilih aja semua yang kamu mau…  ngga usah pikirin harganya.”
Reya mencibir dan mematikan telepon, lalu mengembalikan telepon ke pramuniaga dan tersenyum canggung.
Pelayan lain mengambil telepon itu dari tangan pramuniaga dan membawanya pergi.
Bagaimana  Bu?”
Reya tersenyum dan mengangguk lalu mengambil dan mencoba beberapa baju.
Pramuniaga memilihkan baju casual, celana jeans hipster dan t-shirt berlapis di hias dengan kalung manik-manik besar. Kemudian Reya mencoba lagi setelan leging dengan atasan model t-shirt panjang dengan sabuk di pinggul, lalu setelah itu mengganti atasannya dengan terusan bunga-bunga yang masih dipadankan dengan leging tadi.
Rok mini jeans dan kaus ber-rompi kecil. Terusan katun model 60-an yang di padu dengan cardigan. Semuanya dari berbagai rumah mode terkenal dari luar negri.
Setelah beberapa model casual di coba, pramuniaga juga membawakan beberapa baju lebih resmi dan feminin.
Rok bunga-bunga pendek dan blouse rajut, rok panjang dan juga dress yang menawan. Beberapa model coat dan terusan kotak-kotak. Pramuniaga juga membawakan sepatu-sepatu dari model casual sampai sepatu hak tinggi, tas tangan santai dan tas pesta resmi. Terakhir Reya mencoba gaun-gaun malam yang indah-indah.
Tak terasa hari sudah berganti malam, dan barang belanjaan Reya sudah cukup menumpuk.
Reya sudah mengganti pakaiannya dengan dress hitam yang anggun, sepatu ber hak sedang dan tas tangan feminin.
Reya duduk di sofa, seorang penata make up dan penata rambut selesai mendadaninya sehingga terlihat lebih cantik.
Bu Semua barangnya sudah saya kirimkan, masih ada lagi yang bisa di bantu?”
Reya berdiri dan maju ke depan kaca sebentar memandang wajahnya yang terasa asing.
Ehm.. ngga.. cukup “ ujarnya ragu memandangi pantulan wajahnya” terimakasih ya…”
Reya memandang pramuniaga dan penata make up dan rambutnya sambil tersenyum.
Sekali lagi Reya berbalik dan mengaca. Asing. Ini kali pertamanya melihat dirinya secara utuh dan benar-benar bercermin. Rasanya ada yang berbeda.
***

Reya memasuki sebuah restaurat mewah di iringi dua orang bodyguard yang sudah seharian ini mengikutinya.
Seorang pelayan berseragam rapi menyambut dan mempersilakan Reya sambil menunjukkan jalan ke sebuah meja yang telah tertata rapi dengan hiasan bunga dan lilin-lilin yang romantis.
Lendra sudah duduk menanti sambil memandang kedatangan Reya dan tersenyum.
Setelah Reya mendekat, penjaga pergi menjauh dan Lendra berdiri menyambut Reya.
Lendra menatap Reya dari atas sampai ke bawah. Reya merasa canggung di pandangi seperti itu.
Lendra masih berjas, tapi sudah melepas dasinya dan membuka beberapa kancing atas bajunya sehingga terlihat lebih santai.
Pelayan segera menyiapkan hidangan pembuka dan minuman. Reya memajukan badannya supaya bisa berbisik pada Lendra yang duduk di hadapannya.
Kamu ngapain pakai bawa aku makan malam di tempat begini.. pasti mahal kan? Kamu ni boros banget deh, tadi kan baru keluar uang banyak beli baju... sekarang masih ke tempat begini lagi… Apa ngga takut bangkrut kamu nanti…”
Lendra tertawa kecil.
“Hei bawel.. pokoknya tenang aja.. di sini kita ngga perlu bayar… .” bisiknya.
“Hah? Jadi di sini kamu mau ngutang lagi?”
“Siapa bilang?”
“Tadi kamu! Kan  bilang ngga usah bayar..” rajuk Reya.
Lendra tersenyum geli.
Non.. restaurant ini punya ku, jadi aku ngga perlu bayar dong.. kamu ini ngerusak suasana aja..udah jangan bahas ini lagi ya.”
Reya mencibir sengit sambil memandangi sekeliling heran.
Interior bergaya perpaduan eropa dengan berbagai ornamen antik dan berkelas.
Aku tahu sih kamu kaya.. tapi harusnya aku sadar ya, kalau kamu bisa sampai punya pulau pribadi, mestinya bukan ga mungkin punya kantor dan restaurant mewah kaya gini..”pikir Reya.
Tampangnya aja cantik, anggun, tapi kalau udah mulai ngomong kasarnya minta ampun. “ pikir Lendra sambil menatap Reya.
Reya dan Lendra saling berpandangan dan menjulurkan lidah kesal. Tapi keduanya lalu tertawa dan berbaikan.
Pelayan datang membawakan makanan dan mereka mulai makan. Reya tampak kesulitan memotong steak dagingnya. Lendra yang sudah akan mulai makan memandangnya sejenak lalu memotong-motong steaknya menjadi potongan kecil dan memberikan hot platenya ke Reya dan menukarnya dengan hot plate Reya yang baru terpotong sedikit.
Reya memandang Lendra tak enak hati, dan Lendra tersenyum menenangkan. Mereka mulai makan.
Seorang pria datang memainkan biola di dekat mereka setelah pria itu selesai dan pergi, perlahan denting piano memainkan “ When I fall in love”, dan seorang penyanyi pria berkulit hitam menyanyikannya dengan sangat lembut.
***
Jakarta, 23.55wib

Reya mengikuti Lendra yang berjalan cepat menuju front office, melintasi lobby yang luas dengan gemericik air terjun buatan dan suasana yang asri.
“Ini mau kemana lagi?” gerutu Reya.
Tidur lah Non.. ini kan udah malem…” jawab Lendra pelan.
Reya memandang sekeliling yang tampak mewah dengan canggung.
“Hah? Lendra bawa aku ke hotel.. mau apa nih.. kenapa ngga pulang ke rumah aja?” batinnya curiga.
Pegawai front office mengulurkan kartu ke Lendra sambil menyapa ramah.
“Malam Pak Lendra.. kamar sudah di siapkan..” sapanya ramah.
“Terimakasih Ben..” sapa Lendra seakan sudah kenal baik dengan petugas tadi.
Lendra lalu memandang Reya dan menggandengnya ke lift dengan santai.
Wah.. sampai-sampai pegawai hotel aja kenal sama dia.. pasti dia sering bawa cewek-cewek ke sini… dasar play boy cap kapal” umpat Reya dalam hati.
Reya terlihat gugup dan berhenti berjalan. Lendra memandangnya heran.
“Aku mau pulang.. “ tukasnya.
“Apa?”Lendra berhenti.
“Ehm Aku.. aku ngga biasa tidur pindah pindah kamar.. jadi aku.. aku..” gugup Reya menjawab.
Hei Non.. ini sudah malam banget, heli ngga bisa terbang terlalu malem gini, lagian besok pagi-pagi aku ada rapat jadi ngga bakalan sempet balik lagi…lihat udah jam berapa” kata Lendra sembari menunjukkan jam di tangannya.
Lendra menarik tangan Reya lagi mendekati lift. Mereka menunggu sebentar sampai  lift terbuka.
“Apa.. apa mesti tidur di sini?” ucapnya ragu saat memasuki lift.
” Sebenarnya aku ada rumah dan apartemen juga di sini, tapi aku sudah lama banget ngga pernah ke sana sejak pindah ke pulau, dan tadi aku juga ngga sempet kasi tau penjaganya untuk beresin kamar.”
Lendra dengan cuek bicara tanpa menoleh ke Reya tetap memandang ke depan.
Di sini aku punya satu kamar khusus yang dibersihkan tiap hari dan lagian hotel ini juga lebih dekat sama tempat aku rapat besok..”
Lendra menoleh memandang Reya yang terdiam berpikir.
Kenapa? “ Lendra menghela napas dan melanjutkan, “ Aku punya saham di hotel ini jadi aku bisa tinggal kapan saja di sini kalau aku mau… “ ia diam sejenak menunggu reaksi Reya.
“Jangan bilang aku mau ngutang lagi…” Reya melirik sebal dan mencibir.
Pintu lift terbuka dan Lendra menggandengnya menuju sebuah kamar.
“Aku ini ternyata memang selalu berpikiran buruk…Aku pikir dia don juan kelas wahid yang selalu bawa ceweknya ke sini… “ Reya menghela napas kesal diam sejenak, “ Lagian kalaupun itu bener.. kenapa aku mesti sebel..”
Langkah mereka terhenti di depan kamar, dan Reya yang melamun jadi menabrak Lendra yang mendadak berhenti. Lendra memandang Reya heran. Reya semakin canggung.
Lendra membuka pintu dan mereka masuk. Lendra memasangkan kartu dan segera secara otomatis lampu dan pendingin udara menyala.
Sebuah kamar mewah, dilapisi karpet tebal dan perabot yang mahal. Reya masuk dan memandang sekeliling terpana sejenak.
Tak ada ranjang, hanya ada sofa sofa lebar, meja kaca berbentuk segitiga, seperti ruang duduk besar dan pintu kaca buram menuju ke kamar mandi. Di satu sisi lain ada sebuah tangga menuju ke mezanin yang terbuka. Reya memandang ke atas dan sekeliling seperti mencari-cari.
“Ranjangnya di atas..” terang Lendra.
Lendra menaiki tangga dan menyalakan lampu tidur di sisi ranjang.
Reya menaiki tangga dengan ragu.
Aduh kenapa aku jadi takut banget ya.. padahal sebenernya kan dia suami aku.. walaupun aku sama sekali ngga inget, atau entah aku menikahnya mendadak, atau apa pun… mestinya aku ngga perlu setakut ini..”pikir Reya dalam hati.
            Selama ini di Banaran, walaupun hubungan Reya dan Lendra sudah membaik, mereka tak pernah tidur sekamar sebelumnya. Sedangkan segala peristiwa sebelum Banaran, tak bisa di ingat Reya sama sekali.
Reya sampai di atas dan berdiri memandang ranjang bulat yang tampak empuk dan nyaman, sebuah kamar mandi ber pintu kaca juga ada di atas. Reya menoleh ke samping dan bisa di lihatnya suasana lantai bawah.
Lendra duduk di ranjang memandangi Reya dan wajahnya tampak lelah. Lendra lalu menepuk ranjang di sebelahnya menyururuh Reya duduk. Reya mendekat dan tersenyum canggung lalu duduk di sampingnya agak menjaga jarak.
Lendra membuka jasnya dan Reya menoleh terkesiap menggeser duduknya menjauh.
Lendra menoleh memandang heran pada reaksi Reya, lalu berdiri, meletakkan jas di bahunya dan mengambil 2buah kantong kertas di atas meja dan membuka melihat isinya.
Lendra lalu melempar satu kantong ke Reya dan Reya menangkapnya.
“Sono mandi… itu udah di laundry..”
Reya mengernyit heran dan membuka isinya. Lendra berjalan menuruni tangga.
“Aku mandi di bawah aja..” lanjut Lendra.
Reya mengeluarkan sebuah handuk pink dan baju tidur/piama satin berbentuk kemeja lengan pendek dan celana panjang dari dalam kantong lalu memandanginya. Lendra berdiri di depan pintu kamar mandi bawah dan memandang ke atas.
“Bisa nyalain air panas ngga?”katanya.
Reya berdiri dan berjalan ke sisi railing dan mengangguk tersenyum canggung. “Ehm.. bisa..”
“Ya udah..”
Lendra masuk ke kamar mandi. Reya masih berdiri di atas sambil memegang handuk dan baju tidurnya sambil setengah melamun. Tak sadar matanya memandang ke arah kamar mandi.
Terlihat siluet bayangan Lendra membuka baju lalu celananya.
Reya ternganga dan cepat-cepat memalingkan muka sambil menutup mulutnya dan berlari masuk ke kamar mandinya.
***
Reya keluar dari kamar mandi sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah sehabis keramas. Lalu berjalan pelan dan mengintip ke bawah. Sepi.
“Kemana ya?” carinya.
Reya lalu memandang ke arah kamar mandi dan dilihatnya Lendra sedang keluar dari sana.
Reya cepat-cepat duduk di ranjang dan dengan gugup menggosok-gosok rambutnya dengan handuk.
Reya mengintip ke bawah dan melihat Lendra hanya mengenakan celana pendek bertelanjang dada dan memakai kimono sutra, sambil berkalungkan handuk dan juga sedang mengeringkan rambutnya. Lendra berjalan ke arah tangga hendak ke atas.
“Aduh.. dia ke atas lagi. gimana nih.. “ Reya tegang dan gelisah.
Reya kembali menegakkan duduknya dan terlihat gugup.
Lendra datang dan melihat Reya yang pura-pura sibuk mengeringkan rambut.
Lendra memandang Reya, tersenyum lalu duduk di sampingnya sambil memandangi Reya yang salah tingkah dan menahan senyum.
Lendra lalu mundur ke tengah kasur dan tampak akan berbaring.
Reya memalingkan muka
Lendra tersenyum melihat tingkah Reya.
Lendra meraih bantal dan bangun kembali, duduk lalu berdiri dan memandang Reya yang masih juga pura-pura sibuk menggosok rambut dengan handuk.
Tiba-tiba Lendra memukulkan bantal ke kepala Reya gemas.
“Sudah jangan di gosok lagi.. ntar gundul tau…” tawanya. “ Di kamar mandi kan ada hairdryer..”
Lendra tertawa kecil dan berjalan menuruni tangga membawa bantal ke bawah.
Reya memonyongkan mulutnya merasa tersindir lalu berdiri dan memandang Lendra berjalan pincang ke sofa bawah dan menata bantalnya di sana. Reya tersenyum sendiri, menggelengkan kepala.
“Ternyata cuma ambil bantal..” bisiknya dalam hati lega.
Lendra berbaring dan memandang ke atas sambil melambai.
“Tidur…” ucapnya lagi.
Reya tersenyum melambai dan naik ke ranjangnya. Terdengar suara tepukan tangan Lendra dan lampu meredup. Reya membaringkan diri di ranjangnya. Tapi matanya tak bisa terpejam.
Pikirannya kemabali ke segala masa bersama Lendra, saat Lendra menyelamatkan dari ular di pepohonan saat sore hari dan berbagai peristiwa lucu yang mereka alami.
Malam semakin larut, tapi Reya masih terjaga dan bolak-balik di ranjang tak bisa tidur.
Kenapa aku jadi mikirin dia terus ya… “ pikirnya gelisah.
Reya teringat saat Reya dan Lendra di kebun bermain tanah berlumpur. Dan bagaimana
Lendra menatapnya di bawah siraman air, ketika Lendra hampir menciumnya.
Reya menata bantalnya dan mencari posisi nyaman untuk tidur lalu kembali berbaring.
Lendra berbaring di sofa lebar di bawah. Meskipun sudah lama terbaring dengan namun matanya tetap terbuka melamun. Potongan wajah-wajah Reya yang riang dan lucu memenuhi benaknya.
Lendra tersenyum sendiri dan menghela napas lalu mengganti posisi tidurnya. Ketika berbalik dan bergeser mengangkat kakinya, Lendra memandang ke kakinya yang cacat itu dan diam sejenak.
Lendra lalu duduk dan meluruskan kedua kakinya. Wajahnya tampak sedih dan memandang kaki palsunya lalu mengalihkan pandangan ke penyangga sepatu kayu yang dia letakkan di bawah sofa.
Teringat olehnya bagaimana wajah Reya yang takut melihatnya dan saat Reya menghindar ketika Lendra akan menciumnya. Lendra tersenyum pedih dan menggelengkan kepala.
Jangan mimpi..”ujarnya dalam hati, “ sejak semula dia ngga pernah mencintai aku.. dan ngga akan pernah mencintai aku..  begitu ingatannya kembali.. dia akan segera pergi dan membenci aku selamanya.. “
Reya bangun dan duduk di ranjang tak tenang. Masih gelap dan remang. Reya lalu maju sebentar ke pinggir railing tanpa suara dan mengintip ke bawah.
Tampak olehnya Lendra sedang mengelus kakinya yang cacat dengan tatapan sedih. Reya terus memperhatikan Lendra yang tak sadar di pandang dari atas.
Terngiang di telinga Reya perkataan Bi Sarmi.
Sebenarnya kaki Aden sudah di operasi di Amerika, katanya jenis kaki palsu ini bisa bener-bener menyerupai kaki asli.. tapi ya masih dibutuhkan penyesuaian dan harus terus diterapi supaya benar-benar bisa menyesuaikan dan nggak terlalu pincang lagi..
Nantinya penyangga kayunya bisa di lepas dan dengan beberapa operasi terakhir bisa berjalan seperti biasa..”Bi Sarmi diam sejenak, “ Ya.. tapi sejak Non Reya memutuskan hubungan dengan Aden, Aden tidak lagi mau melanjutkan terapinya.. sekarang keadaan sudah berubah, siapa tahu Non bisa bujuk Aden supaya kembali berobat..”
Reya menatap Lendra yang tampak kembali berbaring. Lendra mengangkat lengannya menutup ke mata yang terpejam.
Reya menghela napas dan kembali mundur naik ke ranjangnya perlahan.

Hotel, 21 November 2009

Terdengar bunyi bel pintu.
Reya yang masih terbaring di tempat tidur menggeliat. Dengan wajah mengantuk Reya mengerjapkan mata bangun.
Kembali terdengar bel pintu.
Reya bangun dan merenggangkan badan lalu menatap kebawah. Sepi. Sofa sudah kosong.
“Lendra kemana ya?”
Reya menuruni tangga dan menuju pintu kamarnya sambil sesekali memandang sekeliling yang kosong.
Pintu kamar terbuka dan seorang pelayan wanita berdiri membawa seikat mawar dan mengangguk hormat. Di belakangnya ada seorang pelayan lain yang membawakan sarapan.
Reya membuka pintu lebar dan mempersilakan masuk sambil menerima mawar itu dan menciumnya sambil mengernyitkan kening.
“Maaf membangunkan Ibu, tapi tadi Pak Lendra berpesan untuk membangun kan Ibu.”
Reya tersenyum dan menggeleng.
“Pak Lendra sudah pergi?” tanyanya.
Sudah tadi pagi Bu… “ jawab room keeper lalu diam sejenak. “Kamarnya mau di rapikan Bu?” tanyanya lagi.
Reya tersenyum dan mengangkat bahu.
Pelayan yang satunya mendorong sarapan Reya masuk dan menyiapkannya. Reya mengambil kartu yang terselip dalam mawar.
Dilihatnya tulisan di kartu.
“Selamat siang tuan putri.. cepat makan, aku tunggu ya…”
Reya tersenyum dan berjalan mendekati meja makan.
***
Jakarta, 21 November 2009

Selesai makan dan mandi, Reya berjalan pelan menyusuri lobby dengan ragu. Seorang pria berjas berbadan tegap segera menghampirinya.
“Selamat siang Bu.. mobilnya sudah siap..”
Reya mengangguk-angguk dan mengikutinya ke sebuah sedan limo mewah yang sudah menunggu di depan pintu.
Pelayan hotel membukakan pintu dan Reya masuk. Penjaga duduk di bangku depan.
“Selamat siang Non…”
Reya tersenyum pada sopir yang menyapanya. Mobil pun berlalu.
Mobil Reya keluar dari hotel dan menyusuri jalan raya Jakarta.
Reya memandangi ke jendela dan memandangi jalanan dan gedung-gedung yang di lewati.
Aneh.. aku rasanya kenal banget daerah ini…” pikirnya dalam hati.
Reya terus memandangi jalanan sambil berpikir keras.
Ujung situ taman ria Senayan… “ memandang lokasi taman ria” terus di sana gedung MPR-DPR… “ mobil melewati kawasan MPR-DPR” seterusnya slipi.. taman anggrek.. mal ciputra… roxy.. daan mogot?” pikirnya.
Mobil terus melaju di jalan tol dalam kota.
Pak, pak.. kita mau kemana ya…” katanya sambil menoleh memandang jalur belokan jembatan layang menuju ke tol Jakarta Merak.
“Pak pak pak.. apa bisa kita keluar sini.. maksud saya ambil jalur itu dan…saya mau ke.. mau ke.. “ Reya berpikir bingung.
Sopir dan penjaga berpandangan sejenak.
“Maaf Non, tapi kita sudah di tunggu Den Lendra” jawabnya sopan sambil meneruskan perjalanan.
Reya diam memandangi jalanan resah.
Kacang polong 3 … rumahku.. mestinya aku bisa ke sana.. tapi, bagaimana caranya aku lepas dari orang-orang ini…wah kemaren ada kesempatan untuk menelepon selama di butik itu, tapi..” Reya menggeleng gemas “kenapa ngga terpikir sama sekali ya …??”

Ancol, 13.30 wib

Mobil Reya memasuki kawasan parkir sebuah restaurant seafood di tepi pantai.
Reya berjalan memasuki ruangan terbuka dan seorang pelayan menghampirinya.
Silakan Bu…”
Pelayan mengantar Reya ke sebuah meja yang ada agak jauh dari bangunan utama. Mejanya menghadap ke laut, Lendra sudah menunggu di sana.
“Lama banget sih.. dasar tukang molor..” gerutunya.
Reya yang masih bingung dengan ingatannya tak menanggapi omelan Lendra dan duduk di hadapannya. Lendra terlihat heran.
Lendra berdiri dan menggandeng Reya ke tempat memilih bahan makanan segar, ikan dan yang lainnya.
“Kamu mau makan apa? “
“Oh? Ehm.. terserah kamu aja…” jawab Reya sekenanya tak konsentrasi.
Lendra menatap Reya sesaat heran dan mulai memilih. Reya berdiri sambil melamun di dekatnya, sesekali Lendra memandangnya dengan perasaan tak enak.
Suara ponsel Lendra berbunyi dan Lendra menerimanya.
“Ya hallo? “ Lendra melirik Reya yang masih tenggelam dalam lamunan.
“Oya..sudah siap? Sudah di pasang semua?Oke.. oke.. ya terimakasih..” bisiknya pelan.
Lendra menutup ponsel dan menghela napas memandang Reya yang tak memperhatikannya.
Penjaga yang tadi menjemput Reya datang mendekati Lendra dan membisikkan sesuatu lalu pergi. Lendra tampak agak terkejut dan menghela napas lalu mendekati Reya yang masih merenung. Lendra lalu menggandengnya kembali ke meja.
Reya tersenyum canggung.
Selesai makan, Reya dan Lendra berjalan menyusuri pantai. Ada beberapa orang yang juga duduk di sana.
Reya dan Lendra duduk di tepi pantai, Reya masih agak diam. Lendra menatapinya.
“Kenapa?” tanyanya pelan, “Kok dari tadi diem aja…”
Reya menoleh dan menggeleng pelan sambil tersenyum.
Kamu bosen ya? Aku kan sudah bilang di sini aku sibuk.. ini juga udah di bela-belain cari waktu untuk nemenin kamu…”
Reya kembali tersenyum dan menghela napas lalu memandang Lendra. Lendra memakai jas berdasi lengkap. Lendra merasa di pandangi memandangi pakaiannya.
Kenapa?”katanya sambil memegangi dasinya.
Kamu kok kepantai pakai beginian.. gak matching banget deh..” kelakar Reya.
Tadi kan aku habis ketemu klien…masa pake bermuda sih..”
Reya dan Lendra berpandangan. Melihat pandangan Reya yang tak puas padanya, Lendra lalu melepas dasinya dan membuka beberapa kancingnya lalu tersenyum dan mengangkat alisnya seakan bertanya gimana sudah oke?
Reya menggeleng, belum puas dan mengernyitkan kening menatap Lendra lekat-lekat. Lendra berpikir sejenak lalu membuka jasnya. Dan kembali memandang Reya.
Reya masih menggeleng tak puas.
Lendra tampak berpikir sejenak, lalu membuka kancing tangan kemejanya dan menggulung kedua lengan bajunya sehingga terlihat lebih santai, lalu kembali memandang Reya.
Kali ini Reya mengangguk angguk sambil tersenyum menahan tawa.
Lendra langsung tersenyum lebar melihat senyum Reya.
Gitu dong senyum.. dari tadi mikirin apa sih..” lega Lendra melihat senyum di bibir Reya.
Ngga kok.. “
Tiba-tiba reya teringat “Oh ya soal terapinya…” pikirnya dalam hati.
“Kenapa?” tanya Lendra.
Oh nggak.. cuma.. kamu.. kamu ngga mau check up lagi?” tanya Reya hati-hati.
“Check up?”
Waktu itu kan dokter Probo pesan.. katanya sebaiknya kamu kontrol lagi supaya bisa di cek lebih menyeluruh… dan juga soal terapi kaki kamu.. “ sambungnya pelan.
Ekspresi wajah Lendra menegang terlihat tak senang.
Kenapa? Kamu malu jalan sama orang cacat?”
Bukan gitu… cuman, Bi Sarmi pernah bercerita soal operasi kamu, dan mestinya kalau kamu mau rajin terapi dan berobat pasti kondisi kamu bisa pulih seperti dulu..” Reya berusaha menjaga kalimatnya.
Lendra tertawa getir, “Ngga mungkin… aku ngga akan bisa seperti dulu lagi… “
Kok kamu ngomongnya gitu sih… “
Reya mendekat dan melingkarkan tangan ke pinggang Lendra.
“Kamu mestinya bersyukur masih dikaruniai hidup.. masih bisa .. jalan-jalan sama aku sekarang di sini.. “ senyum Reya manja.
Lendra melirik sambil tersenyum, sedihnya mencair melihat Reya melekat disisinya.
Kalau kamu rajin chek up dan terapi kan bukan cuma buat penampilan aja, tapi yang lebih penting .. buat kesehatan kamu… “
Lendra dan Reya berpandangan sejenak lalu Reya melepaskan pelukannya jengah.
Sebenarnya mau aja sih.. tapi terapi dan pengobatan itu mesti makan waktu lama dan pekerjaan aku ngga bisa ditinggal.. apalagi sekarang aku ada tambahan pekerjaan baru “ Lendra diam sejenak dan menjukurkan lidahnya menggoda Reya, “ Jadi baby sitter…”
“Iih.. Apaan sih.. “ Reya mencubit pinggang Lendra kesal.
Lendra mengaduh dan tertawa lalu menoleh mendengar suara musik penjual es cream.
“Tunggu bentar ya..”
Reya menoleh dan Lendra berdiri.
Lendra berlari kecil terpincang-pincang mendekati penjual es.
Reya menatapnya dan tersenyum lalu kembali menatap laut.
Lendra sebenarnya baik banget sama aku… tapi kenapa ya aku masih merasa ada yang hilang… “pikirnya dalam hati.
Reya kembali merenung memandang laut.
Dua orang perempuan melintas di belakang Reya. Salah seorang melihat Reya duduk dan perempuan itu seperti berpikir sejenak lalu menghampirinya.
Fay?” sapanya.
Reya menoleh merasa di panggil.
Fayo kan?” tanyanya lagi.
Perempuan itu memandangi Reya dari atas ke bawah seperti tak percaya. Reya tampak cantik dan feminin. Reya bangkit berdiri dan memandangi perempuan itu sambil berpikir.
Aduh kamu kemana aja? Lama banget ga ada kabarnya… “ sekali lagi perempuan muda itu memandangi penampilan Reya.
“Wah.. lama ga ketemu sekarang kamu beda banget ya… langsing banget… rambutmu juga udah panjang.. Dan.. ternyata….  kamu bisa feminin juga ya…” perempuan itu tertawa senang.
Reya memandangnya ragu. Tak ingat sama sekali dengan kedua perempuan itu.
Lendra membayar es sambil menoleh dan tersenyum. Tapi segera senyum di wajahnya hilang berubah tegang dan serius.
Es Cream di tangan Lendra tak sadar jatuh. Lendra memandang Reya dan kedua perempuan itu dengan cemas dan tegang.
***

No comments:

Post a Comment