Tuesday, November 29, 2011

Benang Merah - skenario eps.6

Eps.6

1. INT: RUANG GANTI/KORIDOR.PAGI
IAN, VINARA,FIGURAN

Orang yang mencari Ian hendak membuka pintu. Tiba-tiba pintu ruang lain bergerak. Mereka batal membuka pintu dan menoleh ke pintu yang bergerak tadi.
Pintu terbuka semua menatap tegang.

FIGURAN1
            Di sana.. (menunjuk)

Pintu terbuka muncul seorang laki-laki dengan pakaian wisuda. Bukan Ian. Wajahnya bingung memandang orang-orang yang ramai-ramai menatapnya.

FIGURAN2
            Ada apa? (heran)

Wajah orang-orang yang mencari Ian tampak kecewa.

FIGURAN1
            Ryan.. Ian .. Ryandi… (tergagap bingung dan lelah berlari)

FIGURAN2
            Apaan sih? (semakin heran)

FIGURAN3
            Tadi kamu lihat ada artis lewat sini nggak? Ian? Ryandi?

Beberapa orang membuka pintu bekas pemuda tadi keluar dan memeriksa ruangan, juga ruangan sebelah-sebelahnya.
Shoot ruangan demi ruangan, ada yang kosong, ada yang berisi beberapa wisudawan yang sedang bersiap-siap.
Wisudawan saling menatap heran karena ada yang masuk sambil seperti mencari sesuatu.

FIGURAN2
            Nggak ada tuh? Nggak ada siapa2 kok Cuma anak kampus aja? (cuek)

Wisudawan tadi pergi dengan cuek. Penggemar Ian saling bertatapan bingung.

FIGURAN1
            Tadi dia belok ke arah sini deh rasanya.

FIGURAN3
            Masa bisa ngilang sih?

CU       pintu-pintu ruang ganti

Fans Ian tersadar ada satu pintu yang belum di periksa dan mereka menuju ke sana untuk membuka pintu.
Figuran mengendap menuju pintu dan membukanya.

Establish ruang ganti.

Kamera terhenti pada Vinara yang masih belum memakai toga, masih dengan gaun biasa dan belum berdandan. Vina tampak terkejut melihat orang-orang banyak menatap ingin tahu ke dalam ruangan.

VINARA
            Maaf??

Figuran1 melihat sekeliling bingung. Hanya ada Vinara dan seorang perempuan berambut sebahu (memakai jepit bunga-bunga) sedang memakai toga dan mencari-cari perlengkapan make up dalam tas.

FIGURAN3
            Apa ada yang masuk ke sini tadi? (penuh selidik)

Vinara menggeleng dan memandang temannya yang sedang sibuk, lalu memandang mereka lagi.

VINARA
            Ngga ada tuh? Dari tadi Cuma kita aja? (cuek)
            Ada apa ya?

Orang berpandangan bingung.

FIGURAN1
            Eh nggak  ada apa- apa kok… sorry ya…

Mereka beranjak keluar. Vinara mengikuti sampai ke pintu.
Sesekali orang-orang itu masih menatap ingin tahu.

VINARA
Maaf ya, saya mau ganti baju dulu, ngga apa-apa kan saya kunci pintunya? Atau masih ada perlu lagi?

Vinara bertanya sambil tangannya mempersilakan jika ada yang mau masuk.

FIGURAN3
            Ngga –ngga… ngga ada apa-apa kok… silakan.. maaf ya mengganggu…

Mereka pergi. Vinara menutup pintu dan memasang kunci penutup.
Vinara membalikkan badan dan meniup napas lega.

CUT TO dibalik pintu

Fans Ian merasa heran tidak menemukan  Ian.

FIGURAN1
            Salah lihat kali, tadi di sana kan banyak belokan.

FIGURAN3
            Iya jangan-jangan ke arah sana ya…

FIGURAN4
            Aduh gimana nih… kemana si Ian ya? Aku belum kebagian foto nih..

Orang-orang itu beranjak menjauh sambil menggerutu.

FIGURAN1
            Kamu sih tadi pake dandan dulu ngga cepet-cepet deketin dia.
            Kelompok Maya tadi sempet foto lho…

FIGURAN3
            Coba kita ke sana deh, siapa tahu masih ada…

CUT TO Vina dalam ruang ganti menguping.

Suara menjauh.
Vina berbalik dan menatap temannya.
Perempuan berjepit bunga tadi berdiri dari duduknya dan mengangkat wajahnya memandang Vina dengan lega.
Ternyata perempuan itu Ian yang menyamar.

CU       Wajah Ian menatap Vina sambil melepas jepit

CUT TO
Commercial break

2. INT: RUANG GANTI/KORIDOR.PAGI
IAN, VINARA

Vinara berjalan mendekati Ian dan duduk di ambang jendela yang ada di pinggir ruang.

VINARA(dalam hati)
            Mungkin aku bener-bener punya utang sama makhluk satu ini…
Sebenernya aku ngga pernah percaya takhayul… tapi kok bisa-bisanya selalu kebeneran.. berurusan lagi sama cowok ini..

Ian menatap Vina yang tampak berpikir sambil menatapnya. Ian tak mengenali Vina sama sekali.

IAN
            Terimakasih ya… sudah nolongin saya tadi (ramah dan manis, memotong lamunan)

Ian memandang Vina heran.

IAN(dalam hati)
         Kenapa ya cewek ini dari tadi ngeliatin aku kaya gitu… jangan-jangan ada kelainan?

Vina tersenyum kaku, terkejut karena Ian memotong lamunannya.

VINARA
            Oh eh.. ga papa kok… sama-sama…

Ucapan Vina terkesan kaku dan canggung.

IAN(dalam hati)
            Paling Cuma penggemar… semoga dia ngga mikir aneh-aneh…

Ian tertawa kaku juga karena agak takut melihat Vina yang juga canggung.
Mereka hanya saling diam beberapa saat.

IAN
            Siapa yang wisuda? Mau nganterin temen ato..??

Ian berusaha mencairkan suasana.

VINARA
            Oh… (suasana agak mencair)
            Enggak… saya… (menyibakkan rambutnya)
            Saya yang mau wisuda…

Suasana menjadi akrab. Ian mendekat dan duduk di dekat Vinara. Ian menatap Vina dari ujung rambut sampai ujung kaki.

IAN
            Wah selamat ya… (tersenyum tulus)
Tapi… (heran).. kok kamu ga pake kebaya atau.. (menggerakkan tangannya berputar di kepala) di gelung-gelung sanggul gitu sih… kaya yang lain…

Vinara tertawa akrab.

VINARA
            Kamu bukan orang pertama yang nanya itu…

Vina dan Ian tertawa.
Vina turun dari ambang jendela dan berdiri menghadap Ian.

VINARA
            Sini balikin… (tangannya meminta toga yang dipakai Ian)

Ian menepuk dahinya tersadar sambil tertawa.

IAN
            Oh aduh sampe lupa… sorry-sorry…

Ian berdiri dan membuka toganya.
Vina menerima toga dari Ian dan menuju tasnya.

VINARA
Ngapain mesti pake kebaya kalo nantinya juga bakal ketutupan jubah kaya gini. (menunjukkan toganya pada Ian)
Pake apa aja di dalemnya kan ga kelihatan… (nyengir)

Ian tertawa menanggapi gurauan Vina.

VINARA
            Aku sambil ganti dulu ya

Vina berdiri membelakangi Ian sambil memakai toganya.
Ian tampak terkesiap.

IAN(dalam hati)
       Wah gila nih cewek… jangan-jangan bener-bener kelainan, masa mau ganti di depan
gua…

Ian beranjak hendak mencegah Vina yang hendak memakai toga.

IAN
Eh… (tangannya mengulur hendak mencegah sambil setengah memalingkan muka takut Vina membuka baju)

Ternyata Vina hanya memakai toganya sebagai lapisan dan tidak membuka bajunya.
Ian menghela napas lega.
Vina memandang Ian heran dengan reaksinya.

VINARA
            Ada apa? (lalu memandangi toganya)
            Kebalik ya?

Ian tersenyum.

IAN
            Nggak kok… (tersenyum)
            (lalu melanjutkan dalam hati): Anak ini polos banget deh…

Vina lalu menuju kaca dan menggelung rambutnya dengan perlengkapan seadanya yang sudah ia bawa dari rumah. Ian menatap Vina lekat-lekat.

IAN
            Rasanya… (berpikir)
            Apa kita pernah ketemu ya? (sambil terus menatap Vina)

Vina memandang pantulan Ian dari dalam kaca. Berhenti sejenak, lalu melanjutkan merapikan rambut sambil tertawa geli – nyengir.

CUT TO
Flash back
Saat Ian memakinya karena menumpahkan Jus.

CUT BACK TO

IAN
            Hei… (menggugah Vina dari lamunan-nada merajuk)

Vina menatap Ian lagi sambil tersenym simpul.

VINARA
            Sering… (nada menggoda)

Ian mengernyikan kening tak ingat.

CUT TO
Flashback
Saat Ian menyerempetnya dengan mobil dan memarahi Vina karena mobilnya rusak.

CUT BACK TO

IAN
            Sering?? (heran) Kapan?

Vina selesai merapikan rambut dan memandang Ian sambil tertawa.

VINARA
            Masa kamu ngga inget sama sekali?

Ian menggeleng polos.
Vina tersenyum.

VINARA(dalam hati)
            Ternyata kalo lagi ga marah-marah anak ini manis juga

IAN
            Heh… kok malah ngelamun? Kapan kita ketemu? Di mana?

Ian penasaran.
Vina lalu membalikkan badan kembali menghadap kaca dan melanjutkan merapikan bedaknya.

VINARA
            Kalo ngga inget ya udah… (menghela napas)
            Lagian … emang mungkin sebaiknya kejadian-kejadian itu ga perlu di inget lagi.

Ian terkejut. Heran.
Belum sempat Ian berpikir lagi tiba-tiba Vina berdiri melonjak.

IAN
            Kenapa?

VINARA
            Aduh… (memandang arloji)
            Sorry banget… aku bisa telat nih…

Vina mengambil topi toga dan memasang di kepalanya sambil menghadap Ian.
Ian tersenyum dan membantu Vina merapikan topi dan toga Vina. Mereka berdiri berhadapan sangat dekat.

Slow motion Vina dan Ian saling memandang dengan wajah seperti berusaha membaca perasaan masing-masing.

VINARA
            Eh…(gugup)
            Maaf ya aku mesti buru-buru.

Vinara mundur menjauh dan bergegas merapikan peralatannya dan memasukkan dalam tas. Ian tersadar, jengah. Tergagap tak bisa bicara.

IAN(dalam hati)
            Gila… perasaan apa barusan.. kok gua ngerasa aneh banget…

Selesai merapikan, Vina membalikkan badan dan menatap Ian sambil tersenyum.

VINARA
            Aku jalan dulu ya.. kamu ga papa kan aku tinggalin?
            Ada yang jemput atau  …??

Vina berjalan ke jendela dan mengintip keluar.

VINARA
            Udah aman ngga ya?

Ian masih seperti orang linglung memandangi Vina. Pikirannya mendadak kosong.
Vina menatap Ian heran.
Vina mendekati Ian dan melambaikan tangan di depan wajah Ian.

VINARA
            H A L L OO?? (tertawa menggoda Ian yang masih saja bengong)
            Mikirin apaan sih.. takut ngga bisa keluar ya?

Ian tersenyum sambil menggaruk kepalanya.

IAN
            He he.. ngga papa.. (menguasai diri kembali)
            Selamat ya (memberi salam) Sukses deh…

Ian dan Vina bersalaman. Vina tersenyum lalu berbalik dan melambaikan tangan sambil berjalan ke pintu.

VINARA
            Aku tinggal ya… bye… (sesekali menoleh sambil tersenyum)

Ian melambai. Vina membuka pintu, keluar dan menutupnya lagi. Ian memandangi sampai Vina menghilang.
Ian menggelengkan kepala dan tertawa seperti menertawakan diri sendiri.

IAN
            Masa.. sampe gua lupa mau nelpon Dani. (tertawa kecil)

Ian menghubungi Dani via ponsel.

IAN
            Hallo Dan…

FADE OUT
CUT TO

3. INT: RUMAH NAIA.MALAM
NAIA, VINARA, ARYA,HILMAN, IAN, REPORTER, FIGURAN

Shoot : EXT: JHCC.SIANG
LS:       Ian tampak dikerudungi dengan jaket hitam dan berkaca mata hitam. Bodyguard disekitarnya melindungi Ian dari kerumunan penggemar dan wartawan yang memanggil namanya. Ian masuk ke sebuah mobil van yang segera pergi meninggalkan lokasi.
CUT TO
Wajah Cindy bersimbah air mata sambil tersedu dalam pelukan Dani menuju mobil yang sama di belakang Ian.
CU:      Wajah seorang reporter
REPORTER
Demikian pemirsa liputan mengenai aktor Ryandi yang beberapa bulan lalu tampak menghadiri sebuah acara wisuda di JHCC. Kehadiran Ryandi pada saat itu banyak mengundang pertanyaan karena … (suara memelan/FADE OUT)

Kamera keluar dari layar TV. (Shoot tadi ada di dalam TV)

NAIA
            Gimana rasanya ketemu aktor ganteng? (menggoda)

Vina tertawa. Arya tampak merengut merajuk.

ARYA
Pantesan, katanya Cuma ganti baju sebentar, kok lama banget ditungguin.. sampe hampir telat… ternyata… huh… (pura-pura merengut memonyongkan bibirnya)

Vina tertawa, tangannya seperti akan menangkap bibir Arya yang monyong.

VINARA
            Emang dandannya lama kok.. Cuma kebetulan aja lagi ketemu dia…

NAIA
            Cemburu…(menggoda Arya)

NAIA
            Iya tuh… (tertawa)

Jam dinding rumah Naia berdentang memecah gurauan. Pukul 9 malam.
Vina memandang jam lalu memandang Arya.

VINARA
            Aku pulang ya. Udah malem.
Kalo kemalaman besok aku bisa telat, ada wawancara kerja nih.

Arya memandang jam dinding.

ARYA
            Ya udah…. (mengangguk)

Arya dan Vina berdiri.

NAIA
            Mestinya kamu tinggal aja di sini Vin. (Naia memandang Vina serius)
Kan di sini masih ada dua(2) kamar kosong… (Vina menunjuk ke arah 2 kamar tamu)
Daripada kontrak sendirian… ngga ada salahnya kan kita tinggal sama-sama

Vina memandang Arya.

ARYA
            Tuh kan… aku bilang…
Kita kan sudah tunangan, dan sebentar lagi kita juga udah menikah, tinggal 3 bulan lagi kan… ngga apa lah kamu disini aja…

Vina tampak ragu, berpikir.
Naia merubah posisi duduknya dan memandang Vina lekat sambil memeluk bantal sofa.

NAIA
            Iya Vin… Ibu dan Bapak juga udah bolak-balik minta supaya aku bujukin kamu…
            Ngga baik juga kan perempuan tinggal sendirian

Vina menghela napas.

VINARA
            Terimakasih ya Kak Nai… tapi biar aku pikir dulu, ga papa kan?
         Aku pikir pengennya nanti juga cari tempat yang deket-deket ama tempat kerja aku.
Jadi selama belum ada kepastian soal kerja tetap ku, mungkin untuk sementara aku belum bisa pindah. (hati-hati takut menyinggung perasaan Naia)

Naia mengedikkan bahu.

NAIA
            Ya terserah sih… tapi kontrakan kamu itu dibayarnya per-bulan kan?
            Jadi kalo kamu berubah pikiran, kamu bisa pindah kapan aja… (ramah)

Arya mengacak rambut Vina.

ARYA
Iya… coba kamu pikir aja dulu. Kalo ngga salah kantor tempat kamu ngelamar kerja ga terlalu jah dari sini kan? Moga-moga aja kamu diterima, jadi kamu bisa pindah ke sini secepetnya. (Arya tersenyum)

Vina mengangguk.

VINARA
            Ya udah, ayo jalan. Ntar kemaleman lagi.
            Yuk Nai… aku jalan dulu ya..

Arya dan Vina melambai lalu berjalan keluar. Naia membalas melambai dan kembali menatap TV.
Setelah Arya dan Vina keluar, Naia merasa sepi karena sendirian.
Suasana sepi hanya ada suara TV. Naia memandang sekeliling lalu menghela napas, sejenak kemudian Naia mengambil telepon rumah, memangkunya dan menghubungi Hilman.
Suara telepon tersambung, lama tak diangkat.

NAIA(bicara sendiri)
            Ngapain aja sih, lama banget ga diangkat.

Karena terlalu lama tak diangkat, hubungan terputus. Dengan kesal Naia mencoba menghubungi Hilman lagi.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya telepon diangkat.

Intercut

HILMAN
            Halo?

Naia mendengus kesal.

NAIA
            Ngapain aja sih kamu…lama banget ngga diangkat.

Ekspresi Hilman langsung berubah kesal.

HILMAN
            (menghela napas) Ada apa? (ketus)

Naia menegakkan duduknya kesal dengan jawaban Hilman.

NAIA
            Kok jawabnya gitu banget sih? Ngga suka ya aku telepon kamu?

HILMAN
      Udah lah Nai, kalau ngga ada yang penting, jangan telpon-telpon aku terus. Aku sibuk.

Hilman mematikan telepon.
Naia bertambah berang.

NAIA
            Hallo?! (teriak marah)
            Kurang ajar (sambil menatap gagang telepon)

Naia menghubungi telepon Hilman lagi.

HILMAN
            Apa lagi? (nada malas)

NAIA
            Kamu ini gimana sih Man? Orang belum mulai ngomong kok sudah…

HILMAN
Mau ngomongin apa lagi sih? Aku lagi banyak kerjaan, ngga ada waktu buat ribut lagi sama kamu.

NAIA
            Siapa juga yang mau ribut sama kamu? Aku kan Cuma…

HILMAN
            Cukup Nai… percuma diomong sekarang. Aku bener-bener sibuk.
            Besok aja kita ketemu ditempat biasa. (Hilman berhenti sejenak)
            Aku ada perlu juga ngomong sama kamu. Sudah ya…

Hilman menutup telepon lagi sebelum Naia membuka mulut.
Naia dengan kesal menghubungi Hilman lagi. Tapi telepon sudah tidak aktif. Suara operator telepon.
Naia membanting telepon kesal.

CU       Wajah Naia marah, sedih dan kecewa.

CUT TO
Commercial break

4. INT: APARTEMEN IAN.MALAM
IAN, DANI

Ian menuang air putih ke dalam gelas.
Dani sedang mengotak-atik komputer dan memeriksa jadwal Ian.
Selesai menuang air, Ian berjalan ke arah Dani dan duduk di dekatnya.

IAN
            Udah bereskan? Masih ada apa lagi?

Ian melihat arloji di pergelangan tangannya dengan gelisah tak sabar.
Dani mengangkat wajahnya dari komputer dan memandang Ian tak senang.

DANI
            Emangnya lo mau kemana sih? (penasaran)
            Gue baru atur-atur waktu untuk konferensi pers elo…
Dan gue masih butuh lo… (berhenti sejenak) jangan bilang gue bikin schedulle tanpa konfirmasi ke elo ya

Wajahnya kembali ke komputer.
Ian menghela napas kesal.

IAN
            Mau konferensi pers apa lagi sih Dan? Lama-lama juga gosip kan reda sendiri.

Dani memandang Ian kesal.

DANI
            Cindy itu tunangan kamu yang sah… (nada tegas) dan itu bukan gosip.

Ian menggeleng geram menahan marah.

IAN
            Udah berapa kali sih gue bilang Dan?
Gue ngga mau konferensi pers atau mengumumkan apa pun atas hubungan gue dan Cindy. (tegas) Apa itu kurang jelas?

Ian berdiri kesal sambil mendorong keras kursi yang tadi didudukinya ke belakang.
Dani berusaha menahan emosi. Menghela napas.

DANI
            Gue ngga ngerti deh mau elo itu apa? (menatap heran ke Ian)
Sejak kejadian hari itu, pers terus-terusan ngejar lo, tentang kedatangan lo di sana, ada perlu apa, sama siapa? (terengah emosi-berhenti sejenak)
Apa gosip yang ada kurang santer. Bahwa ternyata lo ada pacar baru yang sedang diwisuda makanya elo ke sana dan mereka jadi mempertanyakan status Cindy…
            (Menghela napas sambil melipat tangannya)
Elo kan tinggal bilang bahwa elo dan perempuan itu ngga ada hubungan apa-apa, dan memperkenalkan Cindy sebagai tunangan elo, dan menjelaskan dengan jujur apa alasan lo ke sana. Kalau perlu minta perempuan itu untuk hadir di konferensi pers dan memberikan pernyataan. Apa susahnya? (nada meninggi)

Ian yang berdiri sambil menahan emosi berbalik menatap Dani.

IAN
Gue ngga kenal siapa dia, (mengacungkan jari menunjuk-nunjuk) dan gue bener-bener ngga tahu gimana cara menghubungi orang itu! Karena gue bahkan ngga nanya nama ato teleponnya. (berhenti sejenak) Lagian apa urusannya sih Cindy sampe nangis-nangis segala di sana nyari-in gue… (nada geram) kaya gue pergi ke mana aja… (tak habis pikir)

Dani menghela napas dalam, mengubah posisi duduknya.

DANI
Cindy belum pernah ada di suasana dan posisi seperti itu, wajar dong kalau dia sedikit panik dan…

Ian segera memotong perkataan Dani dengan nada tinggi.

IAN
            Sedikit panik apanya… (nada ketus mengejek)
Kalau dia emang mau jadi pasangan gue sudah seharusnya dia menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan kehidupan gue.

Dani berdiri. Menatap geram.

DANI
            Lo jangan samain Cindy dengan cewek-cewek lo yang lain dong Yan…

Ian berdiri menghadap Dani seperti hendak berkelahi.

IAN
Denger ya Dan.. gue ngga mau tahu apa pun alasan lo.
Gue menghargai posisi lo sebagai manager  dan temen gue.
Tapi untuk urusan kali ini.. (menghela napas)
Gue ngga mau urusan pribadi gue dengan Cindy di blow up ke media. (nada merendah menahan emosi)

CU       Wajah Dani kesal

IAN
Sebaiknya lo coba berpikir secara profesional, dan jangan bawa-bawa (menuding dada Dani setengah mendorong) urusan perasaan dan hati lo ke dalam masalah ini…

Ian memandang Dani tegas, berbalik mengambil kunci mobilnya dan keluar.
Dani menggeleng-gelengkan kepalanya dan tampak berpikir.

CUT TO

5. EXT: TAMAN.SIANG
VINARA, ARYA, FIGURAN

CU       Wajah Vina germbira

VINARA
            Aku di terima!!!

Vinara memekik gembira dan mengangkat ke dua tangannya senang.
Arya yang berdiri di hadapan juga menyambut gembira dan memeluk Vina dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Arya memeluk dan mencium kening Vina dengan bahagia.

ARYA
            Aku udah bilang kan… kamu pasti langsung di terima..
Indeks prestasi kamu bagus, dan dengan begitu banyak lampiran pengalaman kerja kamu… (tersenyum senang).. pasti kamu lolos…

Vina memeluk tasnya dengan sangat gembira. Vina dan Arya berjalan-jalan menyusuri taman.

VINARA
Makasih ya Yak… tadi aku sempet tegang banget.. tapi aku selalu inget kata-kata dan nasehat kamu… jadi waktu wawancara tadi semuanya bisa lancar..

Vina menatap Arya penuh terimakasih.
Arya mengacak rambut Vina mesra.

ARYA
            Aku seneng banget kamu bisa berhasil Vin… (tersenyum senang, merangkul Vina)
            Eh… (memandang Vina) kapan kamu mulai kerja?

Vina tersenyum.

VINARA
            Tanggal 1 bulan depan. (tertawa lebar)

Arya mengernyitkan kening.

ARYA
            Tanggal 1(satu)? Sekarang sudah…??(menjentikkan jari menghitung)
            Minggu depan dong?

Vina mengangguk dengan penuh semangat.

VINARA
Gajinya memang ngga seberapa, tapi ini kan perusahaan besar. Dan setahuku di sana banyak banget fasilitasnya, dari pelatihan, kesehatan dan lainnya. (mata menerawang)

Arya tampak berpikir, lalu menatap Vina.

ARYA
            Berarti… kamu jadi pindah ke rumahku dong? (seringai senang)

Vina berhenti berjalan dan seperti tersadar.

VINARA
            Ehm… gimana ya?

ARYA
          Udahlah.. pindah aja… lagian nantinya kan kamu juga akan pindah ke rumahku kan?
            (tersenyum menggoda)

Vina mencibir dengan jengah.
Arya tertawa.

ARYA
            Jangan mikir jelek tau… (mengelus kepala Vina)
Bapak Ibu dan Nai juga semua pengen kamu pindah ke rumah ku kan? Ayo lah… (membujuk dengan nada memohon)

Vinara menatap sesaat ragu. Tampak berpikir dan kemudian mengangguk mengiyakan.
Arya tampak sangat gembira dan merangkul Vina lagi.
Vina dan Arya berjalan sambil bercakap-cakap menjauh.

LS: Vina dan Arya berjalan di taman.

6. INT: RUMAH CINDY. PAGI
CINDY, ERIN(MAMA CINDY), PIERE(PAPA CINDY),FIGURAN

Establish rumah Cindy. Megah mewah.

CUT TO
Suasana ruang makan yang mewah dengan perabot mewah.
Cindy dan kedua orang tuanya sedang duduk sarapan bersama.
Di meja terhidang roti tawar, selai, margarine, coklat, dan jus jeruk.
Erin dengan pakaian kerja, sedang memoles roti dan memberikan pada suaminya.
Seorang pembantu rumah tangga berseragam menuangkan jus jeruk ke dalam gelas-gelas cristal dan meletakkan satu persatu untuk Cindy dan kedua orangtuanya.
Selesai menuang pelayan tersebut pergi ke dapur.

PIERE
            So… Cindy? Bagaimana kabar Ian? Akhir-akhir ini kok dia jarang kemari?

Cindy meletakkan pisau makan dengan malas. Wajah ekspresi sedih.

CINDY
            Daddy… (lirih) I’ve told you… (berhenti sejenak)
Please don’t ask…

Cindy menatap Papanya sejenak dan melanjutkan makannya.
Erin memandang putrinya sebentar. Diam saja kembali makan.
Piere menyadar di kursi makan dan menghentikan makannya. Memandang istrinya yang cuek.

PIERE
            Daddy hanya ingin tahu.. bagaimana perkembangan hubungan kamu sekarang?
Waktu itu kalian menunda pesta pertunangan kalian (berhenti sejenak) katanya karena kamu belum lulus. Tapi sekarang setelah kamu lulus… (mengangkat tangannya tengadah tak mengerti)

Cindy menghela napas sebentar. Menjawab sambil terus memandang piring dengan galau.

CINDY
            He’s bussy Daddy… (lirih)

Piere memandang putrinya dengan kening berkerut.

PIERE
            He’s… what?? (mempertanyakan dengan nada menekan)

Cindy kembali meletakkan pisau makan dan berhenti makan tanpa memandang papanya.
Erin yang sudah selesai makan mengusap mulutnya dengan kain yang tersedia lalu berdiri sambil menatap Piere dan Cindy.

ERIN
Mommy harus ke kantor lebih pagi hari ini. Ada beberapa janji meeting dengan beberapa klien.

Erin seperti tak perduli dengan permasalahan Cindy.
Erin menghela napas dan memandang Cindy yang telah mengangkat wajah menatapnya.

ERIN
            Kalau kamu ngga ada acara hari ini, lebih baik kamu mampir ke kantor..

Erin membalikkan badan menuju keluar. Seorang pelayan datang berlari kecil menenteng tas kerja Erin dan memberikan padanya.
Piere menghela napas dan menatap Erin dengan kesal.
Cindy diam saja.
Erin berbalik dan menatap Cindy lagi.

ERIN
Sebaiknya kamu segera membiasakan diri untuk belajar membantu Mommy di kantor… (berbalik dan berjalan keluar)
Dari pada tiap hari hanya keluyuran aja… (diucapkan dengan setengah bergumam sambil berjalan keluar)

Piere hanya geleng-geleng kepala dan Cindy tampak merengut.
Cindy lalu berdiri dan naik ke atas, tak menyelesaikan makannya.
Piere mengangkat tangannya menyerah.
Piere tampak berpikir lalu sambil memandang Cindy yang sudah sampai di tengah tangga dia berkata setengah berteriak.

PIERE
            If you don’t want to talk to him… I Will…

Cindy berhenti melangkah dan memandang papanya.

CUT TO
Commercial Break

7. INT: RUMAH NAIA.MALAM
NAIA, ARYA, VINARA, MBOK, HILMAN

Naia dan Vinara tampak sedang sibuk memasak di dapur, mbok membantu.

NAIA
            Wah.. kayanya berhasil deh kali ini…

Naia tertawa senang sambil memandang masakan yang sedang di aduk Vinara dalam penggorengan.
Vina tertawa juga.

MBOK
            Iya.. non-non ini harus pinter masak, supaya di sayang suami…
            Percaya deh sama simbok… (tersenyum)

Naia dan Vina tertawa.
Terdengar suara klakson mobil. Semua menoleh ke arah depan.

VINARA
            Arya dateng ya?

Mbok berjalan keluar.

MBOK
            Udah selesaikan dulu, biar simbok yang bukain..

Naia menuju meja makan dan merapikan peralatan makan.

VINARA
            Makasih ya Mbok..

Vina tersenyum memandang Mbok keluar dan mengambil piring saji.

CUT TO

Tangan Vina meletakkan masakan di meja makan. Meja makan sudah teratur rapi, ada peralatan makan untuk tiga orang, nasi dan lauk-pauk.
Arya datang menghampiri meja.

ARYA
            Wah wah.. masak apa hari ini…

Arya mengusap perutnya sambil memandang masakan dengan semangat.
Mbok menuju dapur dan datang lagi membawa 3 gelas air putih.
Vina, Naia dan Arya duduk.

VINARA
            Ini Kak Nai yang masak… (menunjuk)

Naia mengambil nasi ke piringnya, lalu menyendok lauk.
Vina berdiri dan meladeni Arya makan.

VINARA
            Cobain deh… ini resep baru dari si Mbok…

Naia menatap Arya.

NAIA
            Enak ngga?

Arya tampak berpikir dan seperti merasakan.
Naia mendorong kepala Arya kesal – bercanda.

NAIA
            Awas lho kalau bilang ngga enak…

Arya, Vina dan Naia tertawa.
Arya mengangguk-angguk dan mengacungkan jempol.

CUT TO

8. INT: KAMAR CINDY.MALAM
CINDY, IAN

Cindy berusaha menghubungi Ian.

Intercut
Ian berada di lobby sebuah executive club, sedang menelepon, mencari tempat yang agak sepi dan tak terlalu bising. Sayup-sayup suara house music terdengar. Sesekali suara house music menjadi kencang ketika pintu di buka karena ada orang yang keluar atau masuk.

IAN
            Ada apa Cin? (terdengar malas)

Cindy tampak berdiri dekat jendela sambil menelepon.

CINDY
            Ada waktu ngga Yan? I need to talk to you… please.. (memohon)

Ian tampak terganggu. Tangannya yang sebelah mematikan rokok.

IAN
            Hari ini gue ngga bisa Cin… besok ya..

Ian berdiri tegak. Tak terdengar jawaban Cindy dari seberang telepon.

IAN
            Okey… bye…

Ian menutup telepon.

CUT TO
Cindy menutup telepon dan berjalan ke ranjang.
Cindy membaringkan dirinya di ranjang sambil memandangi ponselnya.
CU       Wallpaper ponsel foto Ian dan Cindy tertawa berdua.

CINDY
            Yan… kenapa sih kamu ngga juga berubah…
            Sudah bertahun-tahun…

Cindy menghela napas dan membalikkan tubuhnya tengkurap.

CINDY
            Selama ini kamu kira ngga pernah tahu apa aja yang kamu lakuin di belakangku?
Sebenernya aku ngga suka kalo kamu deket-deket sama perempuan lain, atau sering keluar malam…
Tapi aku ngga mau ngebatesin kamu…

Cindy mengusap gambar di ponselnya.

CINDY
            Aku percaya kok… kamu ngga pernah serius sama mereka. (tersenyum)

Cindy kembali berbalik dan tidur telentang menatap foto Ian di ponselnya sambil tersenyum-senyum.

CUT TO

9. INT: EXECUTIVE CLUB.MALAM
IAN

Ian berjalan sambil memasukkan ponsel ke saku. Ian menuju ke ruang discotik.
Di dalam Ian menuju ke mejanya. Saat hendak mengambil sebotol minuman yang ada di meja, tangan Ian meleset sehingga botol jatuh pecah di meja dan melukai jarinya.

IAN
            Aduh… sial…

CU       jari Ian berdarah
 Ian mengibaskan tangannya yang luka.

CUT TO
INT: RUMAH NAIA.MALAM
VINARA, ARYA

CU       Gelas lepas dari pegangan, suara pecah, jari berdarah.

VINARA
            Aduhh…

Vinara memekik pelan. Tangan kirinya memegang jemari tangan kanannya yang berdarah terkena pecahan gelas saat mencuci.
Arya berlari kecil menghampiri.

ARYA
            Kenapa? (agak panik)

Vina memandang Arya.

VINARA
            Licin banget… (sambil menoleh ke gelas pecah dalam tempat cuci)

Arya memegang jemari Vina yang luka, menatapnya lekat.

ARYA
            Makanya hati-hati dong…

Arya menarik Vina menjauh dari tempat cuci.

ARYA
            Ayo.. kasi obat dulu..

Vina mengikuti Arya.

CUT TO

Ian mengibaskan jemarinya yang berdarah. Tampak menggerutu.
Seorang pelayan membereskan meja yang kotor.
CUT TO

10. INT: RUMAH NAIA.MALAM
VINARA, ARYA, NAIA, HILMAN, MBOK

Arya mengoleskan obat ke jari Vina yang luka. Arya meniup-i jari yang luka itu.

VINARA
            Udah ngga apa-apa kok Yak.. Cuma luka kecil…

Arya memandang Vina.
Vina tampak berpikir cemas.

ARYA
            Ada apa? Sakit?

Vinara terkesiap.

VINARA
            Oh.. nggak… Cuma..
Aku mecahin gelas.. (sambil memandang ke tempat cuci yang sedang di bereskan Mbok)

Arya tersenyum.

ARYA
            Ah.. gelas aja kok dipikirin sih? Ngga apa-apa, gelas di rumah kan masih banyak..

Vina merengut.

VINARA
Bukan gitu Yak… kata orang tua, kalau mendadak ada sesuatu yang pecah, biasanya mau ada … (tak menyelesaikan kalimat)

Naia keluar dari kamarnya dan datang menghampiri.

NAIA
            Ada apa?

Arya dan Vina menatap Naia.

ARYA
            Vina.. kena pecahan gelas…

Naia memandang jari Vina.

NAIA
            Hah… parah? Udah di kasi obat?

Vina tersenyum.

VINARA
            Ngga papa kok Kak Nai, Cuma luka kecil.

Tiba-tiba ada suara bel pintu. Semua menoleh ke pintu.

ARYA
            Siapa malem-malem?

Mbok berlari kecil ke depan.

MBOK
            Biar Mbok yang bukain…

Vinara dan Arya masih duduk di ruang makan. Naia pindah ke depan TV dan menyalakan TV.
Tiba-tiba Hilman masuk dengan tergesa dan garang seperti marah dan menghampiri Naia.

HILMAN
            Kenapa kamu ngga dateng?

Naia menoleh memandang Hilman sebentar, lalu memaling muka menghadap TV lagi dengan ekspresi kesal.

NAIA
Kemarin juga kamu ngga dateng… enak kan… nungguin orang… (nada ketus mengejek)

Hilman bertolak pinggang dan mendengus kesal.

HILMAN
            O jadi kamu bales dendam…

Naia memandang Hilman dengan  tatapan garang, tak bangkit dari duduknya.

NAIA
            Kalo emang iya kenapa? (menantang)

Hilman menggelengkan kepalanya tak sanggup menahan sabar.

HILMAN
            Sebenernya aku mau ngomong baik-baik sama kamu…

Hilman diam sejenak dan menatap Arya dan Vina yang melongo melihat Hilman dan Naia bertengkar.
Arya dan Vina tersadar dengan tatapan Hilman dan beranjak meninggalkan ruang makan, masuk ke kamar Arya.
Hilman menatap Naia lagi.

NAIA
            Kapan kamu pernah ngomong baik-baik sama aku?

Hilman diam sebentar meredam emosi.

HILMAN
            Nai… (tegas) aku rasa… kita sudah ngga ada kecocokan lagi…

Naia mendongakkan wajah agak terkejut.

HILMAN
            Lebih baik kita batalkan saja rencana pernikahanan kita. (diam sebentar)
            Hubungan kita sampai di sini saja.

Hilman membuang muka ke pintu keluar.
Naia terkejut, lalu berdiri.

NAIA
            Kamu udah gila ya?
            Kalo ngomong dipikir…
Pernikahan kita tinggal 2(dua) bulan lagi. Undangan sudah siap cetak, semua persiapan pesta sudah di pesan. Maksud kamu ni apa? (geram)

Hilman membuang napas.

HILMAN
            Kita udah ngga cocok Nai… untuk apa lagi di paksakan?
            Sekarang aja, tiap ketemu kita selalu berantem… gimana kalo kita nikah nanti?

Naia terdiam. Terpukul.

NAIA
            Semudah itu…

Hilman menatap Naia.

HILMAN
            Aku akan datang ke orang tua kamu dan menjelaskan semuanya.

NAIA
            Setelah 11 tahun lebih, Man? Begini aja? (sakit)
Kenapa? Apa yang salah? Setiap kali aku berusaha untuk berbaikan sama kamu, atau .. aku bahkan ngga tahu apa sebabnya kita ribut terus.. kamu selalu menghindar…
            (nada meninggi)
            Kamu dasar laki-laki nggak bertanggung jawab.

Naia berteriak-teriak memaki sambil mengambil barang-barang di sekitarnya dan melempari Hilman.
Hilman mengusap kepalanya sendiri dengan gelisah sambil menghindari amukan Naia.

NAIA
            Kamu mau mempermainkan aku heh!!
            (mendorong-dorong Hilman dengan gaya menantang)

HILMAN
            Aku ngga tahu apakah ini adalah saat yang tepat. (diam sejenak)
            Tapi bagaimanapun juga kamu suatu saat akan tahu…(geram menahan emosi)

Naia menatap penasaran.

NAIA
            Mau cari alasan apa lagi kamu?! (teriak kasar)

HILMAN
Sebenarnya sudah lama, aku ngga tahan sama sikap kasar kamu. (nada menghina dan marah)

Naia sudah hendak memukul Hilman lagi. Hilman menangkap tangan Naia.

HILMAN
Cukup!! Dengan temperamen kamu seperti ini… selamanya juga ngga akan ada yang mau nikah sama kamu…

Naia terbelalak geram. Tangannya mengepal dalam genggaman Hilman, meronta hendak memukul.

HILMAN
            Tadinya aku ngga mau mengatakannya tapi.. sebaiknya kamu tahu..

Hilman mengeluarkan sebuah surat undangan pernikahan dan mengulurkannya pada Naia.

HILMAN
            Maaf, aku ngga bisa nikah sama kamu…

CU       Wajah Naia tegang menatap Hilman dan berganti-ganti menatap undangan yang diulurkan Hilman.

HILMAN
            Karena aku akan menikah dengan orang lain…

CU       Wajah Naia terkejut… terbelalak
CU       Tulisan di undangan
            Hilman & Catherine
CU       Wajah Naia berkaca-kaca menatap Hilman
CU       Hilman memandang Naia dengan wajah tak merasa bersalah, cuek
CU       Wajah Naia shock


CUT TO


END EPS.6


Credit Title


THEME SONG 4

No comments:

Post a Comment