Sunday, November 6, 2011

Aku Bukan Reya - Bab VIII

Rumah Fayo, siang hari

Fayo duduk setengah berbaring di atas ranjangnya. Mbok berada di sampingnya sambil membawakan segelas minuman dan duduk di sisi ranjang. Fayo segera meminumnya dan mengembalikan gelas ke Mbok.
Mbok meletakkan gelas itu di sisi ranjang dan memijat kaki Fayo sambil memandangnya.
Tuh kan Non.. dari tadi perasaan Mbok sudah ngga enak..Beneran kan.. terjadi kaya gini lagi.. coba kalau tadi Mbok pulang duluan.. bagaimana coba Non…”
Fayo terdiam dan melamun. Ingatannya mulai kembali.
Fayo teringat saat itu Fayo terkejut melihat Randy dan Sitta mesra dalam mobil.
Sebuah taksi melintas dan Fayo segera melambai. Setelah taksi berhenti, cepat-cepat Fayo naik.
‘Ikutin mobil itu Pak.. ikutin..”
Fayo menunjuk ke mobil Randy yang melaju.
Taksi Fayo mengikuti  mobil Randy, terus sampai berhenti di depan sebuah toko perhiasan dan taksi berhenti di seberang jalan.
Mbok masih memijat kaki Fayo yang terlihat melamun tak bersemangat. Mbok terlihat prihatin.
Sudahlah Non… dari kemarin-kemarin kan Mbok sudah bilang… Mas Randy itu sudah menikah, sudah beristri.. sudah suami orang…Non jangan terlalu sedih ya…” hiburnya.
Fayo diam saja tetap melamun. Mbok tak tahu kalau bukan itu yang menjadi fokus pikiran fayo sekarang.
Fayo ingat saat turun dari taksi dan bergegas menyeberang dan masuk ke toko perhiasan. Fayo memandang ke sekeliling toko yang mewah. Di salah satu sudut tampak Randy dan Sitta duduk bersebelahan. Randy memeluk pinggang Sitta mesra.
Seorang pramuniaga mendekati Fayo saat itu.
“Maaf, ada yang bisa kami bantu..”
Fayo terkejut dan cepat-cepat mendekat ke salah satu etalase yang agak terpisah dengan bagian tempat Randy duduk. Sesaat Randy menoleh, tapi Fayo memalingkan wajah dan Randy tak melihatnya karena terhalang oleh penjaga dan lemari hias.
Fayo menunjuk-nunjuk beberapa perhiasan dalam etalase sambil menahan bicara karena takut terdengar. Sesekali Fayo melirik ke arah Randy dan Sitta yang tertawa mesra.

Pramuniaga mengambilkan perhiasan yang di tunjuk Fayo dan memberikan padanya. Fayo menerima dan pura-pura mencoba.
“Maaf Pak, Bu… agak lama.. “ Suara pramuniaga lain kepada Randy dan Sitta di sudut sana. Fayo segera menoleh dan berusaha mencuri dengar sambil terus sesekali memandang ke mereka. Pramuniaga yang melayani Fayo tampak agak heran dan curiga.
“Ngga papa kok Mas.. yang penting cincin pesanan kami sudah jadi.. “ kata Sitta sambil tertawa senang.
Pramuniaga itu mengulurkan kotak perhiasan pada mereka.
“Silakan di coba dulu…”
Randy menerima dan membukanya lalu menunjukkan ke Sitta yang segera terpekik senang dan menciumi Randy. Fayo semakin gelisah.
“Aduh.. cantik banget… sini-sini…”
Randy mengambil satu cincin dan memakaikan ke jari manis Sitta, dan Sitta mengambil cincin pasangannya dan memakaikan ke Randy.
Fayo sangat terkejut.
“Pas.. pas banget.. makasih ya sayang.. “ kata Sitta sambil mencium Randy.
“Kamu senang babe?” sapa Randy mesra sambil tak lepas memeluk Sitta.
“Seneng dong.. seneng banget.. “
Pramuniaga tampak tersenyum, Silakan diperiksa tulisan-tulisannya.. apa sudah betul karakter nama dan tanggal pernikahannya…”
Wajah Fayo pias memucat. Sitta dan Randy melepas cincin dan memeriksanya.
“Betul kok… tanggal 18 Agustus…”
Fayo gemetar, meletakkan perhiasan-perhiasan yang semula di cobanya.
“Ya, sudah benar…” jawab Randy.
Wah kalau begitu selamat ya Pak dan Ibu, pestanya sebentar lagi.. semoga pernikahan Bapak dan ibu langgeng dan bahagia..”
“Wah tentu dong.. ,” senyum Randy semangat.
Fayo berdiri dan keluar ruangan dengan napas terengah, saat itu ia sangat terpukul.
            Selama ini Randy adalah segalanya. Ia satu satunya pria yang bisa menerima Fayo apa adanya. Fayo tak pernah tahu kalau selama ini Randy mau berteman dengan Fayo hanya karena di suruh oleh orang tuanya. Dan selama mereka berpacaran, Randy juga menjalin hubungan serius dengan Sitta.
Mbok memandang ke Fayo yang terihat marah dan berpikir serius dengan khawatir.
“Mbok.. apa mbok masih ingat kapan tepatmya hari itu terjadi? “ tanya Fayo ragu, tatapannya tetap menerawang dan tak memandang Mbok sama sekali.
Mbok terlihat bingung.“Hari.. hari terjadi apa maksud Non?” sahutnya bingung.
Fayo menghela napas dan memandang Mbok serius. “Hari waktu saya menghilang…”
Mbok tampak berpikir sejenak.
Sepertinya… sekitar akhir april Non.. soalnya kan belum lama sesudah Non wisuda, sudah hampir setahun..tapi tanggal dan harinya.. harinya?” Mbok tampak berpikir lupa.
Mbok menatap khawatir.“Ada apa sih Non? Kok sejak tadi siang Non aneh sekali…”
Fayo kembali diam termenung.
Randy dan Sitta berpelukan keluar dari toko perhiasan sambil menenteng tasnya.
Fayo menunggu di luar sambil bersembunyi di balik pilar dekat pintu sambil mengawasi mereka.
Sitta dan Randy berdiri sejenak di depan pintu sambil berbincang tanpa menyadari keberadaan Fayo di dekatnya..
“Trus.. sekarang kita mau ke mana lagi? Ambil undangan ya?” tanya Randy.
“Undangannya besok Sayang.. masa belum jadi kakek-kakek sudah pelupa..Hari ini kita mau tes make up sekalian foto kan…” kata Sitta sambil bermanja.
“Oiya.. “ Randy menepuk dahinya, “ sorry deh manis.. “ Randy memegang dagu Sitta, “Ayo kita ke sana..”
Sitta tersenyum tapi lalu terdengar ponsel Randy berbunyi.
Fayo yang masih bersembunyi berusaha meneleponnya. Randy hanya memandangi layar ponsel ada nama Fayo memanggil
Randy mematikan ponselnya tanpa mengangkat. Fayo tampak tertegun, air matanya sudah mengambang di pelupuk mata.
Sitta terlihat tak senang. Randy mengantongi kembali ponselnya.
“Siapa sih? Cewek itu lagi.. “ tukasnya kesal.
“Sudah lah ngga usah dipikirin…”
Sitta terlihat marah.
Kenapa sih dia ngga berhenti gangguin kamu?! Kamu sih selalu ngasih harapan sama dia.. apa kamu ngga bilang kalau kita ini sudah mau menikah..”
“Sudahlah manis.. jangan marah dong.. nanti setelah dia terima undangannya kan dia ngerti sendiri..”tenang Randy.
Jadi sampai sekarang kamu belum juga kasi tahu ke dia kalau kita mau nikah..”
Sorry, Sayang.. tapi Bapak dan Ibuku itu teman dekat sama Papanya, dan mereka tak enak hati kalau mendadak memutuskan hubungan begitu saja… kami sedang cari saat yang tepat… tenang sajalah… toh yang penting aku memang ngga pernah cinta sama dia… ya kan?”
Sitta mendengus kesal dan berjalan ke mobil.
“Kok mau si kamu sama dia… “ tanya Sitta dengan kesal.
Randy mengikuti dan segera membukakan pintu.
“ Siapa yang mau sama perempuan idiot, gendut, manja dan kekanakan kaya dia..” lanjut Randy dingin.
Fayo terlihat sangat shock.
Randy masuk ke mobil dan mobil Randy segera berlalu. Fayo masih berdiri terpaku sambil berpegangan pada pilar di dekatnya. Fayo sangat sedih dan terpukul saat itu.

Jakarta, sore hari, toko perhiasan.

Fayo dan Mbok turun dari taksi. Fayo memandangi toko perhiasan sambil berpikir. Mbok tampak memandanginya bingung.
Non.. sebenarnya kita ini mau ke mana sih? “ Mbok terheran-menatap toko perhiasan.
“Mau apa ke sini Non.. masa beli mas-masan… buat apa?” tanyanya.
Fayo berjalan mendekati toko sambil sesekali menatap Mbok.
Saya kan sudah bilang, Mbok ngga usah ikut juga ngga papa..” katanya.
Mbok segera menggoyangkan tangannya.
O.. jangan Non.. Non masih sakit begini kok maksa mau pergi sendiri.. Mbok bisa mati berdiri.. lebih baik Mbok ikut…” katanya gelisah.
Fayo menghela napas menatap Mbok dan mereka segera memasuki toko.
Fayo memandang suasana Interior toko yang sudah agak berubah. Fayo melihat sekeliling tampak beberapa tamu yang dilayani pramuniaga.
Seorang pramuniaga sedang merapikan perhiasan yang tertata dan Fayo mendekat, manis dan ramah.
“Selamat siang..” sapa Fayo.
Pramuniaga mengangkat wajah dan tersenyum ramah. Mbok tampak tegang di sebelahnya.
“Siang.. ada yang bisa kami bantu?”
“Ehm.. begini.. , “ Fayo melirik Mbok sebentar dan kembali tersenyum ragu ke pramuniaga.
“Sebenarnya tahun lalu saya dan suami pernah memesan cincin pernikahan di sini.. masalahnya.. ,” Fayo diam sejenak menelan ludah, “saya menghilangkan cincin saya… dan saya takut kalau sampai ketahuan suami saya, dia bisa marah besar..”
Mbok memandang heran dan penjaga tersenyum.
Fayo dan Mbok duduk di depan etalase.
Jadi.. saya pikir pasti saya masih bisa memesan ulang cincin yang sama persis dengan milik saya yang hilang.. Anda pasti masih punya data tentang cincin saya kan?, “tanyanya penuh harap.
Kalau data penjualan dan semua model cincin pesanan kami memang ada… tapi kalau sudah setahun yang lalu.. “
“Aduh.. tolong dong Pak… ini penting sekali… saya bisa habis kalau suami saya tahu…”
Coba sebentar , “ pramuniaga berbalik hendak kedalam, “ Oya.. mungkin bisa dibantu dengan tanggalnya?” Fayo tersenyum lebar.
“Pernikahannya tanggal 18 Agustus… kalau tanggal pengambilan cincinya .. saya kurang ingat, tapi sekitar akhir april. “
“Sebentar ya Bu… “ senyumnya ramah. Pramuniaga masuk ke ruangan lain.
Mbok mendekat ke Fayo takut-takut. “Non… Cincin? Kapan Non Fayo menikah… “bisiknya pelan.
“Sudah Mbok diem aja.. “bisik Fayo.
Pramuniaga datang membawa sebuah buku rekap.
Pramuniaga membuka-buka buku dan mencocokkan tanggal. Tangannya menunjuk dan mencari deretan tanggal yang tertera.
“Randy… “ Mbok terkejut, “Randy dan Sitta…”
Mbok semakin terkejut memandang Fayo dan berusaha menguasai diri.
Pramuniaga memeriksa dan membolak-balik kertas.
Tangan pramuniaga menemukan rekap data pembelian atas nama Randy dan Sitta
“Yang ini Bu?”
Pramuniaga menunjukkan data tersebut dan Fayo membacanya dan mengangguk puas lalu menghela napas. “Iya.. iya.. memang betul… “
Pramuniaga memeriksa data sebentar. Fayo tampak berpikir.
Tapi maaf Bu.. sepertinya model yang ini sudah tidak tersedia lagi di toko kami, karena memang sudah agak lama, tapi kalau Ibu mau kami bisa membuatkan satu lagi yang sama persis dengan model ini.. tapi mungkin agak lama… bisa sekitar satu bulan… bagaimana?”
Oh.. ngga papa Pak.. “ jawabnya tak konsentrasi, “ Terimakasih ya..”
Fayo segera berdiri dan menggamit Mbok. “Terimakasih ya Pak…”
Fayo dan Mbok segera berbalik keluar. Pramuniaga menatap heran.
“Jadi… cincinnya bagaimana?” tanya pramuniaga.
Fayo menoleh dan menatap jengah, “ Nanti saya telepon lagi Pak… maaf saya buru-buru..”
Fayo dan Mbok bergegas keluar.
Tadi katanya penting… “ ujar pramuniaga sambil memandang catatan heran ” kalau mau ready stock ya cari dimana-mana ngga akan ada Bu.. “ gerutunya.
Pramuniaga menggelengkan kepala dan menutup buku.

Apartemen Reya, siang, 23 Februari 2010

Reya tampak sedang menelepon sambil berjalan hilir mudik. Wajahnya terlihat semangat.
“Kamu bisa datang kan? Ayolah.. aku tahu ini agak mendadak.. tapi ngga juga kan masih empat hari lagi… bisa dong… “ Rayu Reya lalu diam sejenak menunggu jawaban dan tertawa, “Nah gitu dong… pokoknya aku tunggu ya… bye..”
Reya lagi-lagi tertawa senang lalu berjalan ke sudut meja sambil menutup telepon.
Reya mengambil selembar catatan panjang dan mencoret salah satu dari deretan nama yang tertera.
“Okay.. ini sudah.. masih ada… satu dua… ,” hitungnya sambil membuka catatan, “Dikit lagi… ,” dilihatnya catatan dan daftar yang sangat panjang.
Reya kembali menekan tuts telepon dan meletakkan gagang di telinganya.
Hai Richard!! Yes.. its me… of course… Iya memang… aku mau ngundang kamu nih ke pesta pertunangan aku ama Lendra..( Reya tertawa ) Iya.. akhirnya ya… jadi juga? Bisa datangkan? Dua hari lagi.. sabtu depan.. Iya .. bener… ngga kok.. ya beres… datang lho ya.. okey…ya…see you then”
Reya menghela napas senang dan menutup teleponnya.
Sekali lagi Reya mengambil kertas dan mencoret sebuah nama yang tertera dan tersenyum puas.

Jakarta, siang

Fayo dan Mbok berjalan di tepi jalan dekat rel kereta api. Terlihat kereta api dalam kota melintas.
Ternyata.. ternyata.. hari itu ..jadi hari itu.. “ Mbok memandang Fayo gugup “Mas Randy..”
Fayo tersenyum dan menghela napas tampak berpikir dan mengingat.
Mbok tampak berpikir dan mengingat-ingat. Beberapa hari ini ia dan mbok sudah menelusuri jejak masa lalunya pelan-pelan.
Lalu kenapa Non malah pergi? Kenapa ngga pulang ke rumah? Apalagi… sekarang kenapa masih mau kembali sama Mas Randy? Padahal kan Non jelas-jelas tahu kalau Mas Randy itu…”
Sebenarnya waktu itu saya ngga pergi Mbok… “ Fayo memotong lirih.
“Waktu itu… “ Fayo menerawang diam sejenak, “ Saya bukannya lari dari rumah…”
“Saya pergi ke sini… “ ia diam sejenak memandang sekeliling.
Mbok ikut memandang sekeliling. Mbok dan Fayo berdiri dekat perlintasan rel kereta. Mbok terlihat heran. Jalanan terlihat ramai, beberapa orang berjalan, ada pedagang asongan dan mobil melintasi rel itu. Randy ngga hanya cinta pertama saya, tapi seluruh hidup saya…“ Fayo bercerita sambil menatap jauh ke depan, kosong, “ Waktu itu saya sangat terpukul, kecewa…Saya kira, saya ngga akan sanggup hidup lagi tanpa dia…Saya merasa semua harapan saya sudah hancur… “ ia diam sejenak.
“Jadi saya ke sini… karena saya sudah ngga mau hidup lagi… saya mau mengakhiri hidup saya di sini..” Reya memandang ke rel kereta.
Mbok terkejut dan menepuk Fayo. “MasyaAllah Non… “
Fayo menghela napas dan membayangkan kembali peristiwa lalu.
Waktu itu Fayo berjalan sendirian di sisi rel kereta dengan tatapan kosong.
“Saya langsung ke sini… dan ingin mengakhiri hidup saya…”
Suara dentang lonceng peringatan kereta akan lewat berbunyi bertalu talu tak didengarnya.
Fayo terlihat semakin mendekati rel dan berjalan di atas perlintasan kereta sambil menangis sedih.
Beberapa orang di dekat rel tampak menatap heran dan mulai berteriak-teriak memanggil.
“Neng.. kereta Neng… Kereta mau lewat.. minggir-minggir…”
Tapi Fayo tetap berjalan lesu perlahan di sana tak peduli.
Penjaga pintu kereta yang mendengar keramaian tampak berdiri dekat pos dan memandang ke Fayo cemas lalu memandang ke arah datangnya kereta yang semakin dekat.
Penjaga terlihat panik dan berusaha memperingati Fayo.
“Aduh cilakak… Neng.. minggir Neng… Neng …Waduh bagaimana ini.. jangan-jangan mau ngendhat…”
Fayo terlihat berjalan gamang di atas rel. Kereta api cepat melaju.

Serpong, malam.

Fayo dan Mbok duduk di atas ranjang.
Sekarang Non istirahat ya… besok Mbok temani Non ke rumah sakit lagi… “
Fayo mengangguk dan tersenyum.
Terimakasih ya Mbok…”
Mbok berdiri dan keluar kamar. Fayo termenung dan menghela napas sambil melamun.
Teringat saat tadi sore ia berada di depan informasi Rumah Sakit.
Maaf Mbak.. tapi petugasnya sudah pulang..  mungkin Mbak bisa datang besok pagi.. langsung saja dengan Ibu Dina bagian administrasi..” Saat itu Fayo dan Mbok mengangguk tampak kecewa.
Fayo membaringkan badannya dan menatap langit-langit kamar.
“Besok aku akan memastikan apakah ingatan ku benar-benar sudah kembali…Dan semua yang aku ceritakan sama Mbok tadi itu benar… Karena kalau memang benar..  Berarti aku… harus minta maaf pada Lendra…”
Fayo menghela napas sedih. Terbayang wajah Lendra saat kecewa dan sakit hati karena makian Fayo yang menuduhnya telah menyekap Fayo di pulau.
“Lendra… maafin aku… maafin aku..” tangisnya.
***
Jakarta, Rumah Sakit, 24 Februari 2010

Fayo dan Mbok berdiri dekat bagian administrasi sambil menunggu.
Maaf Bu Dina sedang ada tamu , “ petugas jaga menunjuk ke Bu Dina yang sedang berbincang dengan tamu”.. mungkin bisa ditunggu sebentar..” Petugas tersenyum dan pergi. Fayo dan Mbok mengangguk gelisah dan duduk di deretan bangku ruang tunggu. Fayo berusaha mengenang ingatannya.
Saat kereta melaju cepat. Fayo terus berjalan gontai di atas rel sambil menangis, orang orang ramai berteriak tak didengarnya sama sekali. Hatinya sesak dan sakit. Pandangannya kabur. Ada dari beberapa yang hendak maju tapi sepertinya takut. Palang pintu kereta sudah tertutup. Sebuah mobil sedan sport ada di deretan terdepan.Jendela terbuka.
Saat itu Lendra masih dengan rambut gondrong, cambang dan kumis, tampak sangar dengan kaca mata hitamnya.
Lendra melepas kaca mata hitamnya dan memandang ingin tahu ke depan. Beberapa sopir dan pengendara motor tampak memandang ke Fayo dan kereta sambil menunjuk-nunjuk dan melihat seperti ada tontonan seru.
“Ada apa sih Pak?” tanyanya pada seorang pengendara  motor yang berhenti di dekatnya.
Pengendara motor menunjuk.
Ada orang gila kali..  mau bunuh diri.. dari tadi dipanggil diam saja…”jawab pengendara motor.
“Iya.. tuh kereta nya.. “ seorang pedagang asongan menunjuk seru, “ wah bisa mati dia…”
Penjaga kereta membunyikan lonceng peringatan sambil berteriak-teriak.
Lendra cepat turun dari mobilnya dan memandang gelisah sambil tampak berpikir. Fayo sudah agak jauh tapi tetap saja masih di atas rel kereta. Seorang pedagang asongan kembali seperti akan mendekat ke rel tapi ragu. Orang sekitarnya semakin histeris berteriak. Beberapa tampak berusaha mendekat tapi ragu-ragu, karena kereta udah mulai terlihat mendekat.
Lendra menoleh ke pengendara motor di sebelahnya yang motornya masih menyala. Sekejap segera Lendra mendorong orang itu kepinggir dan merebut motornya. Beberapa mata terbelalak dan terkejut.
Lendra memiringkan motornya dan dengan ketrampilan balapnya yang tersisa sudah melalui palang perlintasan. Cepat dia mengambil ancang-ancang.
“Hei motor gua!!” teriak pemilik motor.
Lendra menancap gas dan mengejar ke arah Fayo, secepat kilat Lendra menyerempetkan motor ke Fayo dengan keras, tepat sesaat sebelum kereta melintas. Semua orang terdiam cemas dan ternganga sambil menunggu kereta habis. Kereta segera melintas terus hingga gerbong terakhir.
Terlihatlah Fayo tergolek beberapa meter dari rel.
Motor juga tergeletak di jalanan. Lendra berdiri tersengal menatap ke arah Fayo yang tergeletak pingsan dengan sekujur tubuh penuh luka-luka.
Pelan pintu perlintasan terbuka dan orang segera berkerumun.
Tamu Ibu Dina berdiri dan pergi. Fayo tersadar dan bersama Mbok ia segera mendekat.
Petugas yang bernama Bu Dina tadi dengan ramah menerima Fayo. Fayo dan Mbok duduk di meja informasi/administrasi.
“Iya? Ada yang bisa dibantu?,”ramah.
“Begini Bu… kemarin sudah saya sampaikan ke staf Ibu, bahwa tahun lalu saya pernah di rawat di rumah sakit ini.. Kebetulan saya perlu beberapa datanya untuk keperluan di kantor saya… “ katanya ragu. Bu Dina menatap ragu.
“Apa ada surat pengantarnya? Atau nomor kartu pasien Ibu barangkali?” tanya bu Dina.
Ngga ada Bu.. Justru saya kemari karena mau mengajukan surat pengantar untuk keperluan kantor saya itu…sedangkan kartu saya hilang Bu, saya tidak ingat nomornya.”
Tahun lalu ya? Masalahnya data ini sudah cukup lama, dan tiap berapa bulan sekali rekap yang tidak diperlukan akan secara otomatis dihapus…”
Aduh Bu.. tolong ini penting sekali… setidaknya saya bisa tahu kapan tanggal-tanggal pastinya saja… juga catatan medis nya…” Ada nama dokternya?” tanya bu Dina.
“Wah dokternya saya ngga ingat Bu..”
Mbok memandang khawatir. Bu Dina terlihat sulit membantu.
“Kalau begitu nama lengkap Ibu dan tanggallahir atau alamatnya? Jadi saya bisa di cek di komputer?” Bu Dina siap membuka file di komputernya.
“Atas namanya? Dan .. rawat inap ya Bu? Mungkin kelas kamarnya?” dengan ragu ia membuka komputernya.
“Reya.. atas nama Reya… kalau kamarnya saya kurang tahu.. Tapi.. sebabnya.. karena kecelakaan…Jadi alamat dan tanggal lahir saya mungkin belum dicantumkan oleh yang mendaftarkan saya di sini.”
Bu Dina memandang ragu, “ Sebentar…” Fayo dan Mbok menatap penuh harap.

Banaran, malam

Lendra duduk di kursi roda di dekat jendela yang terbuka dan memandang ke kegelapan.Badannya tampak lemah dan pucat, sambil memandang dengan tatapan terluka dan sedih.
Ingatannya kembali saat ia pertama bertemu Fayo.
Lendra terpincang membopong Fayo memasuki ruang ICU rumah sakit.
Beberapa perawat membawa brankar di dorong mendekat. Fayo diletakkan di sana dan di dorong ke dalam ruang tindakan.“Kenapa ini?”tanya suster.
“Kecelakaan..” jawab Lendra.
Pemilik motor yang sedari tadi mengikuti masuk dan mendekati Lendra dengan gusar.
“Eh.. Pak.. lalu bagaimana itu motor saya..”
Lendra tampak bingung. Seorang perawat lain menghampirinya.
“Silakan ikut saya Pak.. untuk melengkapi data dan administrasinya…”
Lendra memandang ke pemilik motor dan segera mengeluarkan dompetnya.
Lendra menyerahkan segepok uang ratusan ribu dan memberikan kartu namanya.
“Bapak bawa dulu ini “ katanya tanpa memeriksa jumlah uang itu yang terlihat cukup banyak itu, “Ini kartu nama saya.. besok Bapak datang saja ke kantor saya.. nanti saya akan ganti motor Bapak… pasti…”
Sang pemilik motor terlihat heran. Lendra segera bergegas mengikuti perawat meninggalkan nya. Wah… ini asli apa palsu? “ katanya heran memandang ke uang yang bertumpuk itu.
Lendra tak menggubris dan mengikuti perawat menuju bagian administrasi
Lendra menghela napas dan mengubah posisi duduknya sambil tetap memandang keluar jendela malam itu.  Ia masih ingat bagaimana ia gelisah sambil berjalan hilir mudik di dekat ranjang Fayo.
Fayo tergeletak lemah, lukanya sudah di perban, ada selang infus dan Fayo terlihat pucat.
Terngiang perkataan dokter yang merawat Fayo.
Luka luarnya tidak terlalu parah, hanya beberapa luka memar dan gores, sedikit robek di tangan…Ada retak di lengan sebelah sini “ menunjuk pada foto rontgen yang terpasang pada lampu, “Dan sedikit gegar otak ringan. Sebenarnya tidak terlalu berat… Beberapa hari di rawat sudah boleh pulang…”Dokter diam sejenak dan memandang Lendra.
“Hanya saja sepertinya pasien mengalami trauma berat.. mungkin karena terkejut karena kecelakaan ini… jadi sebaiknya segera menghubungi saudara terdekatnya untuk menemaninya melewati masa-masa ini…”
Lendra berhenti di sisi ranjang dan memandang Fayo. Fayo terlihat bergerak pelan seperti akan sadar. Lendra mendekat dan menatap Fayo cemas. Fayo mengerjapkan mata dan buram terlihat bayangan Lendra di matanya.
“Ini.. ini… “ Fayo memandang sekeliling, “ air… “ Fayo menelan ludah” air….” Ujarnya lirih.
Lendra sigap segera mengambilkan segelas air putih dan membantu Fayo minum.
“Gimana? Udah enakan?”
Fayo meringis sakit dan memandang sekeliling. “Ini dimana? “ katanya bingung.
Maaf tadi aku menabrak kamu dengan motor.. soalnya kamu hampir saja ketabrak kereta.. Oya nama kamu siapa? Tadi aku ngga bisa menemukan dompet atau apa pun… jadi … “ cecar Lendra.
Fayo terlihat berpikir dan mengingat sejenak lalu tiba-tiba seperti teringat sesuatu dan pandangannya tertekan dan sedih.Lendra terlihat bingung dengan reaksinya.
“Apa kamu punya keluarga? Atau saudara dekat atau…”tanya Lendra hati-hati.
Fayo mulai menangis dan terlihat sangat stress. Lendra terlihat semakin bingung.
“Ada yang sakit ya? “ tanyanya panik, “Eh.. atau saya panggil suster..”
Lendra berbalik hendak keluar. Fayo cepat memegang tangan Lendra erat.
Lendra memegang tangannya sendiri dimana dulu tangan Fayo memegang erat, sambil memejamkan. Seakan masih bisa dirasakan eratnya pegangan Fayo saat itu yang meluluhkan hatinya.
Lendra memandang heran.
“Jangan.. jangan pergi… jangan pergi… jangan tinggalin aku… jangan tinggalin aku..”
Lendra terkejut memandangi Fayo yang menatapnya memohon sambil menangis.
Perawat mendekati Lendra dan memanggilnya. “Sudah malam.. Pak Lendra istirahat ya.. saya bantu ke ranjang..”
Lendra menoleh pelan dan lemah.

Jakarta, 25 Februari 2010

Siang itu di taman Fayo dan Randy berdiri berhadapan tegang.
“Jawab Ran?! Apa itu benar?” Tanya Fayo. Randy terlihat gelisah.
“Kenapa? Kenapa sekarang kamu mendadak menanyakan hal itu? Aku kan sudah jelaskan kalau aku menikahi Sitta karena…”
Kalau seandainya aku ngga menghilang saat itu, kamu juga memang sudah berencana menikah dengannya kan?” potong Fayo.
Randy terlihat khawatir. Fay dengar dulu.. aku ngga…”
Fayo mengangkat tangannya. Kamu tahu… aku memang sempat kecelakaan.. dan aku juga sempat hilang ingatan sementara.. tapi.. tapi sekarang aku sudah ingat..”
Randy memandang cemas.
Aku melihat kalian ke toko perhiasan itu.. dan aku melihat kalian mencoba cincin kawin itu “ menunjuk cincin di jari Randy.
Randy tampak terkejut.
Dan aku juga dengar dengan jelas.. kamu bilang sama sekali ngga pernah mencintai aku..” tegas Fayo lagi. “Setelah bertahun-tahun… dengan semua janji manis dan rencana pernikahan kita.. kamu dengan mudah bilang kalau kamu ngga pernah mencintai aku, perempuan gendut idiot, dan malah akan menikahi perempuan lain… “
“Fay.. “ Randy tak bisa berkata.
Aku adalah perempuan paling bodoh karena sempat berpikiran akan memulai semuanya lagi dengan kamu.. “
Jangan bilang gitu dong Fay… aku bisa jelasin…”
Maaf Ran.. mungkin dulu aku memang sangat mencintai kamu, atau setidaknya aku pernah merasa begitu.. tapi sekarang.. sekarang aku ngga ragu lagi..”
Fay.. kamu ini ngomong apa..” Randy semakin panik, “Aku akan menceraikan Sitta dan aku akan menikahi kamu…Aku akan membahagiakan kamu Fay.. Aku mencintai kamu…Kita mulai lagi semuanya dari awal… please Fay…” Randy gemetar, tak sadar matanya berkaca-kaca. Randy merasa sangat takut Fayo akan benar-benar meninggalkannya.
Fayo tersenyum dan menggeleng. “Maaf Ran… aku ngga bisa..Kembalilah pada istri pilihanmu.. dan aku akan kembali pada suamiku” Randy terkejut dan heran.
Fayo membalikkan badan dan pergi. Randy berusaha memanggil.
“Suami? Fay.. Fay…!!!” Fayo terus berjalan menjauhi Randy yang hanya bisa  memandang bingung

Banaran, siang

Bi Sarmi membantu Lendra duduk di kursi roda dan mendorongnya ke dekat jendela.
Maaf Den.. tapi … “ tanyanya ragu, “ acara sabtu besok.. apa Aden yakin .. mau diteruskan…”
Lendra diam saja menatap dengan pandangan sedih ke depan.
Bi Sarmi menghela napas dan berbalik lalu menjauhi Lendra dan keluar ruangan.
Lendra terus melamun, saat itu Lendra setia menunggui Fayo yang tampak tergantung padanya. Lendra merawatnya dengan perhatian. Terngiang suara dokter padanya waktu itu.
Kami menemukan ada sedikit penyumbatan di otaknya.. kami akan berusaha menetralkan nya dengan obat, tapi jika dalam beberapa hari tak ada perubahan kami harus segera mengoperasinya..”
“Selain itu, retak bagian lengannya kembali terluka karena benturan ketika pasien berontak kemarin dan membutuhkan operasi.. hanya operasi kecil sebenarnya, tapi dengan kondisi trauma di kepalanya kami belum bisa melakukan tindakan saat ini..
Kami juga membutuhkan tandatangan sebagai tanda persetujuan dari pihak keluarga untuk semua prosedur operasi dan tindakan bagi pasien..
Jika pasien tidak mempunyai orang tua atau kerabat lain, suami atau tunangannya, Anda mungkin…. juga boleh…”
Lendra menghela napas dan mengelus kepala Fayo yang tampak tertidur.
“Apa yang harus aku lakukan sama kamu? Kelihatannya kita senasib…Walaupun kamu ngga cerita.. tapi apa pun itu yang menimpa kamu… pasti sesuatu yang sangat menyakitkan.. sampai-sampai kamu ngga mau mengingat masa lalu kamu lagi…”
Fayo terlihat gelisah. Lendra mengusap keringat dingin di wajah Fayo.
Fayo memegang tangan Lendra erat dan mengigau.
“Jangan tinggalin aku… temani aku selamanya… selamanya ya.. “ igaunya lirih.”Aku mau sama kamu selamanya.. selamanya…”
Lendra menatap Fayo dan tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Waktu aku belum cacat pun Reya ngga pernah bilang ingin bersamaku selamanya… ,” senyumnya, “ Aku ngga pernah ngerasa dibutuhin seperti ini. Seakan aku satu-satunya harapan dan hidupnya… , “ Lendra mengelus Fayo yang merapat padanya, “ Apa yang harus aku lakuin sama kamu… Aku bahkan ngga tahu nama kamu dan siapa kamu…”
Lendra memandangi Fayo yang terlelap sambil terus memeganginya erat
            Sorenya, Lendra hanya meninggalkan Fayo sesaat untuk mengabari Bibi. Sudah berhari-hari ia tak pulang tanpa kabar. Tak sedetik pun ia bisa meninggalkan perempuan malang yang terus memeganginya itu. Lendra hanya sempat menelepon karyawannya untuk diminta mengantarkan baju ke rumah sakit.
Sewaktu ia kembali ke kamar, betapa terkejutnya, perempuan itu sudah tak ada. Infusnya terlepas dengan paksa, ceceran darah tampak di mana-mana. Beberapa barang berjatuhan. Dengan gusar Lendra memarahi suster dan petugas rumah sakit yang lengah.
Baru sesaat saja terdengar teriakan panik dari seorang suster yang meminta bantuan. Ia melihat seorang pasien yang naik ke lantai atap.
Secepat kilat Lendra berlari ke sana. Beberapa penjaga mengikutinya.
Sesampainya di atap. Dilihatnya Fayo berdiri mendekat ke ujung balok atap dan mencari-cari tempat untuk memanjat.
“Hai… tunggu..”teriak Lendra.
Fayo tak menoleh. Lendra bingung bagaimana memanggilnya. Lendra berlari mendekat. Fayo sudah di atas balok seperti akan terjun lalu menoleh mendengar teriakan ribut-ribut.
Melihat Lendra datang ia langsung menangis dan berteriak-teriak.
“Teganya kamu… kamu kan udah janji ngga akan ninggalin aku.. kamu janji.. kita akan segera nikah setelah aku lulus kuliah.. “ teriaknya sambil menangis.
Beberapa penjaga rumah sakit langsung menatap Lendra curiga.
“Kamu laki-laki ngga bertanggung jawab.. teganya kamu.. kamu bilang aku cuma perempuan gendut!!! Idiot!!” teriaknya lagi.
Semua orang semakin menatap Lendra dengan tatapan menuduh.
“Ehm.. sabar.. sabar..” ujar Lendra bingung.
Fayo melepas cincin di jarinya dan membuangnya ke bawah. Cincin terbang dan jatuh tanpa suara.
“Lihat.. kamu membuang aku seperti cincin itu.. kamu pikir aku bisa hidup lagi” tangis Fayo.
“Sayang.. tenang..” Lendra mendekat karena takut melihat Fayo siap meloncat.
“Sekarang turun ya.. kita bicara baik-baik..”bujuknya.
Beberapa penjaga ikut mendekat dan membujuk. Tapi Fayo terus berteriak tak mau dan nekat meloncat.
Dengan sigap Lendra dan beberapa penjaga menariknya.
“Aku ngga mau.. kalau aku.. aku ngga jadi nikah sama kamu.. aku kan malu.. apa kata Papa.. apa kata orang-orang..kamu ngga mau karena aku jelek kan.. gendut!! Bodoh!! Idiot!! Manja!! kekanakan…” teriak Fayo.
            Petugas rumah sakit membawa Fayo turun ke kamarnya setelah memberikan suntikan penenang. Fayo terus menerus berteriak. Seorang penjaga dan dokter mendekati Lendra dan bertanya hati-hati.
“Apa papanya tidak bisa dihubungi, kami harus segera melakukan operasi.”kata dokter.
“Aku ngga mau operasi!!!” teriak Fayo yang mendengar ucapan itu.
Lendra mendekati Fayo berusaha bertanya tentang Papa, tapi Fayo yang setengah sadar terus berteriak marah.
“Aku ngga mungkin pulang dan bilang papa.. kalau aku ngga jadi menikah… aku ngga mau pulang..” ceracau Fayo.
Lendra terkenang kembali bayangan saat Lendra dan Fayo menikah.
Fayo duduk di atas ranjang lemah, memakai kerudung putih. Lendra memakai jas rapi berdiri di sampingnya. Ada penghulu dan saksi yang sedang menikahkan mereka.
Tampak Lendra bersalaman dengan penghulu. Fayo memeluk lengan Lendra erat dengan tatapan kosong.

Jakarta, rumah sakit, sore

Fayo yang sedang berbincang dengan seorang suster di lantai 7 tampak terkejut.
“Jadi.. saya mau bunuh diri di sini?” Suster mengangguk.
“Dan setelah itu baru tunangan saya mau dipanggilkan penghulu?”tanya Fayo lagi.
Suster tersenyum. “ Ya sebenarnya itu juga kurang sah ya Bu.. karena tidak ada saksi, tidak ada orang tua yang hadir, tidak ada surat-surat lengkap.., “ katanya lagi.
“Tapi waktu itu kondisi ibu sangat memaksa..apalagi penyumbatan di kepala ibu, dengan tekanan darah yang naik turun, kami khawatir jika pecah akan lebih sulit mengoperasinya, atau ibu bisa stroke… jadi setelah menikah, secepatnya suami ibu yang menandatangani surat operasi itu.”
Fayo terhenyak. Antara ingat dan lupa. Ia telah memperlakukan Lendra sebagai Randy. Jadi siapa sebenarnya yang telah memanfaatkan siapa pikirnya.
“Sebaiknya ibu bicara dengan dokter Laksmi yang menangani ibu.. dia psikolog di sini..” kata suster lagi.
            Setelah berbicara panjang lebar dengan dokter, diambil kesimpulan bahwa karena rasa traumatis yang berat dan ditambah dengan komplikasi pada operasi penyumbatan otaknya telah membuat sebagian ingatan Fayo hilang. Dan sekarang perlahan alam bawah sadarnya telah kembali.
Melihat kondisi Fayo yang sehat dan normal, dokter Laksmi tak segan menceritakan lagi apa saja yang telah terjadi di rumah sakit. Sebenarnya dokter ingin membahasnya perlahan, tapi Fayo tak mau menunggu lagi.
“Itu bukan pertama kali Ibu mencoba bunuh diri. Selain di rel kereta dan di atap, ibu juga pernah sekali hendak loncat keluar dari jendela, hanya sesaat sebelum operasi.” Kata dokter Laksmi.
Sudah hampir sebulan Fayo di rawat di rumah sakit. Tiap hari Lendra setia menemaninya. Fayo tak pernah menghubungi papanya di rumah. Setelah menikah, Fayo tak pernah bicara apa pun .. sepatah kata pun pada siapa pun, kecuali pada Lendra. Dan jika Lendra pergi maka Fayo akan terlihat sangat depresi.
Sampai saat hari itu, tak sengaja Fayo membaca surat kabar yang di bawa Lendra, dia melihat berita di kolom duka cita, bahwa ayahnya telah meninggal.
Fayo histeris dan menabrakkan diri ke kaca jendela hendak terjun. Untung Lendra segera menangkapnya.
Lendra terus memeluk dan menenangkan Fayo yang hancur.

Banaran, siang

Lendra menghela napas sambil memandang ke jendela. Ia ingat betapa sakitnya hatinya saat melihat Fayo menangis.
Lendra jadi teringat saat Papa dan Mamanya meninggal, dan Reya juga mencampakkannya. Ia tahu betul sakit hati yang dirasakan perempuan dalam pelukannya itu. Lendra merasa mereka senasib dan sama-sama tak punya siapa-siapa lagi.
Mendadak Lendra semakin rindu pada Fayo.
Ia teringat saat manis bersama Fayo setelah Fayo sembuh.
Lendra tersenyum pedih, matanya berkaca-kaca menahan tangis.
Aku sudah menggali lubang kuburku sendiri.. “tawa Lendra dalam hati.
Lendra mengusap wajahnya dan mulai menangis. Menangis sangat sedih dan hancur.

Jakarta, sore

Fayo menangis di makam ayahnya dengan sangat sedih.
Ia teringat percakapan dengan dokter laksmi dan suster yang merawatnya dulu.
Saat Fayo terbaring lemah, Lendra duduk di kursi dekat Fayo sambil memegangi tangannya. Fayo juga menggenggam tangannya erat.
Aku ngga mau ingat lagi siapa aku.. aku ngga mau lagi orang yang dekat sama aku .. aku ngga mau semuanya.. aku ngga mau… “ tangisnya waktu itu.
Lendra menatap khawatir.
Tapi mungkin kan mereka sedih dan mengkhawatirkan kamu.. aku bisa antar kamu pulang.. atau aku akan cari keluarga kamu…”
Ngga.. jangan cari.. jangan.. Aku ngga mau pulang… aku ngga mau kembali.. “ Fayo menggelengkan kepala keras dan menutup mata, “ Aku ngga mau semuanya… aku mau mati.. aku mau mati.. lebih baik aku mati aja..Dari pada kamu kembalikan aku.. lebih baik aku mati…”
Fayo memukuli badan dan kepalanya sendiri. Lendra bingung dan memegangnya berusaha menenangkan.
“Lebih baik aku mati… mati.. , “ teriakannya semakin histeris.
Lendra semakin panik memegang Fayo yang meronta.
Perawat datang dan membantu menenangkannya. Perawat lain datang membawa suntikan untuk menenangkan Fayo. Lendra mundur menjauh dan menatap cemas.
Jangan pergi.. jangan pergi… “ mohon Fayo ketakutan” Tolong aku.. tolong aku.. Kenapa.. kenapa kamu ninggalin aku… “ Fayo terus menangis, “kenapa… aku salah apa… apa!!”
Lendra menatap trenyuh dan sedih.

Fayo menangis di pusara.“Maaf in Fayo Papa… Fayo anak durhaka.. Fayo ngga ingat sama Papa…Fayo sudah melupakan papa… “
Fayo mengusap air matanya. “Fayo egois… hanya memikirkan diri sendiri.. ngga peduli sama Papa… “
Fayo tetap tak dapat membendung air matanya yang terus mengalir dengan penuh penyesalan.
“Dan sampai sekarang pun ternyata Fayo emang selalu egois..”

Serpong, malam

Fayo duduk di kamarnya dengan gelisah. Mbok mendekatinya prihatin.
“Bagaimana kalau dia ngga mau memaafkan saya Mbok…Saya sudah menuduhnya yang bukan-bukan… dan saya menyalahkan dia atas kematian Papa.. Padahal… saya sendirilah penyebab kematian Papa.. saya yang menyebabkan semua ini..”
Non ngga boleh bilang begitu.. ini sudah takdir…mungkin sudah jalan Nya mesti seperti itu.. jangan di sesali lagi…”
Fayo terdiam dan terngiang suara Ibu Dian administrasi rumah sakit.
“Waktu itu kami melakukan pembedahan sesuai prosedur..Dan semuanya telah di tandatangani oleh pihak keluarga, yang saat itu di wakili oleh Bapak Lendra selaku suami Ibu..Tapi ternyata karena reaksi alergi tubuh Ibu pada obat bius, tidak kami ketahui sebelumnya, beberapa jam setelah operasi, tubuh bagian sebelah kiri Nyonya mengalami kelumpuhan sementara, kami sudah berupaya memberikan pengobatan tapi dua hari setelah operasi Nyonya tak sadarkan diri dan dinyatakan koma. “ Bu Dian diam sejenak.
“Setelah hampir dua bulan, dan tidak ada perkembangan pada kesadaran ibu , Pak Lendra memutuskan untuk merawat Ibu di rumah…”
Fayo menelungkupkan wajahnya ke kedua telapak tangannya. Mbok duduk di dekatnya menenangkan.
“Lendra pasti marah dan benci banget sama saya Mbok.. saya ini ngga tahu terimakasih… sudah menarik dia ke dalam masalah saya.. lalu menjadikan dia kambing hitam atas semua kesalahan saya sendiri… “ Fayo diam sejenak mengangkat wajah dan menghela napas.
“Tapi mungkin kami memang sudah saling memanfaatkan… saya menjadikan Lendra pelarian dari dunia, yang saat itu saya anggap sudah membuang saya, dan Lendra… menjadikan saya sebagai pengganti kekasihnya… Reya.., “ senyumnya  sedih.
“Dan sekarang, kekasihnya itu sudah kembali… “ kata Fayo pedih.
“Lendra pasti sudah tidak mengharapkan saya kembali… untuk minta maaf..  atau untuk apa pun… Dia pasti sudah melupakan saya…” tunduk Fayo.
Mbok tersenyum dan mengelus rambut Fayo.
“Mbok ngga bisa bilang apa-apa.. tapi Non yang mesti rasakan sendiri.. “senyumnya bijak.
Fayo menoleh dan Mbok menangkupkan tangannya ke dada.
“Di sini…Non nanti bisa memutuskan… “
Fayo memandang Mbok ragu.
“Sekarang lebih baik Non istirahat… besok kan ada jadwal kontrol ke rumah sakit…”
Fayo menghela napas dan mengangguk ragu.
***

Banaran, malam

Lendra terbaring lemah di ranjangnya dengan wajah pucat sambil berselimut. Bi Sarmi duduk di sebelahnya.
“Kenapa bisa jadi begini Den.. “ Bibi menangis sedih, “Apa ngga sebaiknya Aden jelaskan sama Non Reya.. eh maksud Bibi…”
 “Percuma Bi.. saya memang salah… saya sendiri ngga ngerti kenapa waktu itu, tanpa pikir panjang langsung menikahinya… saya ngga konsultasi dulu sama siapa-siapa, bahkan saya memalsukan data dan masa lalu-nya..” potong Lendra.
Bi Sarmi menunduk sedih. Lendra bicara sambil memandang ke langit-langit kamar menerawang.
Yang ada di pikiran saya hanya ingin … ingin menjaganya.. ingin menurutinya…” Lendra diam sejenak, “ Saya ngga peduli masa lalunya, siapa dia.. siapa namanya, atau keluarganya.. Kalau memang dia ngga mau lagi ingat masa lalunya, maka saya yang akan menjadi masa depannya… “ katanya serak dan sedih.
“Saya ngga menyangka… Kesedihannya, kesakitannya itu.. sementara… hanya sementara..Dia punya keluarga… punya kekasih… punya masa depan…” lanjutnya.
Bi Sarmi memandang Lendra sedih.
Saya bahkan hampir membuatnya cacat, lumpuh, koma dan mati… “ napas Lendra tersengal, “Semestinya saya mencari keluarganya dan tidak langsung menyutujui operasi itu..
Kalau saja waktu itu saya langsung mencari keluarganya…mereka mungkin kan bisa tahu kalo Reya ada alergi terhadap obat-obatan tetentu, dan kejadiannya ngga akan seperti ini.. “ ia menutup mata lelah.
“Aden jangan berpikir begitu… ngga semua sepenuhnya kesalahan Aden…”
Waktu dia lumpuh, saya sangat takut… tanpa satu kaki seperti saya saja sudah sangat berat.. apalagi harus lumpuh sebelah tubuhnya…”ratapnya, “Dan setelah dia koma… apa kata keluarganya nanti kalau mereka menemukan… menemukan… dia..  dalam keadaan seperti ini… saya takut di salahkan.. saya egois Bi.. saya nggak mau di salahkan… “lanjutnya lagi.
“Itu sebabnya saya bawa dia ke sini… saya ngga mau ada orang yang tahu tentang dia.. saya ngga mau ada yang menemukannya…saya yang akan menjaganya, saya akan bertanggung jawab… saya akan merawatnya seumur hidup saya”
Bi Sarmi menatap prihatin dan sedih.
“Tanpa sadar, saya juga ngga mau ada orang lain yang mengambilnya dari saya… Karena ternyata.. dia sudah menjadi nafas hidup saya…dia selalu bergantung pada saya dan..  saya ngga mau kehilangan dia Bi.. “isaknya” saya ngga bisa..”
Kalau begitu kenapa Aden ngga mencarinya? Kenapa Aden malah mau bertunangan dengan Non yang itu..”
Karena saya tahu.. “ Lendra menghela napas, “Dia ngga akan pernah memaafkan saya… dia bilang selamanya ngga akan pernah bisa memaafkan saya… Sedangkan Reya.. “ Lendra terdiam sejenak mengenang Reya yang cantik dan mandiri, “meskipun saya ngga mencintainya lagi, tapi saya pernah menyayanginya.. Reya perempuan mandiri.. dia ngga butuh saya.. laki-laki cacat yang sudah mau mati…” ujarnya lagi.
“Dan kalau pun saya mati atau hanya setengah hidup… saya rasa.. Reya bisa terus bertahan tanpa saya… pasti.. sedangkan dia.. dia sangat lemah.. saya hanya akan jadi beban buatnya Bi..“
“Masya Allah Den.. ngga boleh bilang begitu…”
Lendra memejamkan mata lelah dan Bi Sarmi memandang cemas.
***
Banaran, 27 Februari 2010

Halaman rumah lendra sudah di sulap dengan tenda-tenda putih, rangkaian bunga lily segar dipadu dengan anggrek dan mawar putih yang cantik. Balon dan berbagai hiasan pesta kebun tampak semarak dan elegan.
Reya tampak sangat cantik dan dengan semangat hilir mudik mengatur pesta.
Penjaga dan pelayan tampak ada di berbagai sudut.
Ada beberapa stand bertenda sedang di siapkan. Tidak hanya stand makanan dari berbagai negara dan buah segar juga coklat, tapi dari stand temporary tatto, stand ramalan tarot, stand menicure dan nail art, juga acara permainan seperti mini bowling, mini golf dan permainan yang lain.
Semakin siang, cahaya menerang, beberapa kerabat dan teman dekat sudah berdatangan.
Makanan dan minuman sudah di sajikan.
“Reya.. Reya… cantik sekali kamu…” para tamu tampak mengagumi Reya.
“Selamat ya..”
“Thanks ya.. kalian mau datang..” kata Reya.
“Mana Lendra?” tanya tamu itu.
“Sorry.. Lendra-nya lagi ngga enak badan.. “ kata Reya dan para tamu memandangnya heran, “Tapi nanti sorean dia akan keluar saat acara utama …Jadi sekarang puas-puasin dulu deh…” lanjutnya lagi.
Mereka tertawa.
Tamu mulai berdatangan dan bergerombol menikmati pesta. Ada yang bermain sambil tertawa senang. Ada yang mulai makan-makan. Di dekat panggung ada sebuah live band yang mengiringi kemeriahan pesta.
Lendra dari dalam kamarnya di lt.2 menatap melalui Jendela. Lendra masih duduk di kursi rodanya dengan pakaian biasa, tak seperti akan berpesta. Wajahnya tampak sedih dan memandang ke keramaian dengan tatapan kosong.

Pelabuhan, siang

Pak Atmo penjaga kapal sedang menaikkan barang bersama beberapa orang pelayan yang sedang sibuk.
“Ayo cepat Di!! Udah kesiangan..”ia melambai.
Yang dipanggil sedang memanggul karung beras dan segera berlari mendekat dan naik ke kapal. Seorang nelayan di dekat situ menatap kesibukan dan menyapa.
Repot nih Pak Atmo.. mau ada pesta ya?” tanya beberapa penduduk di pelabuhan.
Pak Atmo melambai sejenak sambil tertawa.
“Iya nih… ayo Mang…” sahutnya.
Tiba-tiba ada seseorang muncul berlari mendekatinya.
“Pak Atmo?” sapa Fayo.
Pak Atmo menoleh dan terkejut.
“Eh.. Non.. Non Reya?” Pak Atmo memandang tak percaya.
Fayo mengangguk dan tersenyum ragu.

Banaran, sore

Pesta semakin meriah. Iringan musik lembut terdengar mengiringi beberapa pasangan yang berdansa.
Tamu –tamu sudah ramai dan bergerombol menghadap ke panggung agak pendek yang di hiasi banyak bunga.
Mereka berdiri dan bertepuk tangan ketika Reya berjalan di atas red carpet menuju panggung. Menyusul di belakangnya, Bi Sarmi mendorong Lendra di atas kursi roda terlihat pucat dan lemah. Lendra mengenakan kemeja dan jas putih.
Diantara para tamu, dokter Probo memandang Lendra cemas dan menggeleng tak habis pikir. Reya dan Lendra semakin mendekati panggung.
Fayo berdiri di atas kapal Pak Atmo yang mendekati pantai dan mulai berlabuh. Fayo terlihat cemas dan tegang. Teringat suara Pak Atmo terngiang.
“Aduh Non.. kemana aja? Celaka Non.. celaka…”
“Ada apa Pak?” Fayo lemas, disangkanya terjadi yang buruk pada Lendra.
“Non harus cepat pulang… Den Lendra..”
“Lendra? Kenapa lendra?”Fayo menggelengkan kepala dan terlihat bingung.
Sementara itu Reya dan Lendra sudah di atas panggung. Seorang MC berdiri di dekat mereka dan memberikan sambutan. Bi Sarmi pergi turun dari panggung dengan sedih.
Selamat sore… para hadirin.. tamu undangan yang terhormat.. Good afternoon… bersama ini kami dari pihak keluarga Lendra dan Reya hendak menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya atas kesediaan Bapak dan Ibu juga hadirin sekalian pada pesta pertunangan ini…
Semua tatapan mata mengarah ke panggung. Reya tampak berbahagia, sedang Lendra yang lemah hanya terpekur di kursi roda tanpa ekspresi.
Beberapa tamu tampak berkasak kusuk. Ada juga yang menatap kasihan.
Karena kondisi Lendra yang sedang kurang sehat.. maka acara nya akan langsung kami mulai ke acara puncaknya….Kami persilakan calon pasangan yang berbahagia untuk memberikan satu dua patah kata…”
MC menoleh ke Reya dan tersenyum. Reya menerima mic dari MC dan maju. Reya terlihat sangat cantik.
“Selamat Sore.. Om.. Tante.. dan teman-teman semua.. “ Reya tertawa lepas.
Reya memandang Lendra sejenak. Lendra terlihat tersenyum terpaksa.
“Terimakasih banget bisa hadir di sini sore ini… “ Reya membungkuk manis dan disambut tepukan tangan. Gaun putihnya yang terbuat dari bahan sifon lembut tertiup angin.
“Kebetulan, Daddy and Mom tidak bisa hadir hari ini karena masih ada acara di London yang ngga bisa di tinggal.. tapi mereka akan segera kembali ke Jakarta kok minggu-minggu depan.. “ senyum Reya lagi.
“Dan karena kebetulan juga Lendra sudah ngga punya keluarga.. “ Reya memandang Lendra” oleh karena itu.. hari ini.. kami mengundang Anda sekalian ke sini…” sambungnya lagi.
“Kami ingin agar Anda sekalian… bisa menjadi saksi cinta kami.. “ Reya tersenyum disambut lagi oleh tepuk tangan. Lendra menghela napas dan memalingkan muka.
“Yang akan dipersatukan dalam ikatan pertunangan…”Tepuk tangan terdengar bergemuruh.
Bi Sarmi menghela napas prihatin. Lendra terlihat tertekan.
MC mengambil mic dan tersenyum.“Sekali lagi kita beri tepuk tangan yang meriah untuk pasangan yang berbahagia..” Tepuk tangan membahana.
MC memberi kode. Lalu sederetan penari datang berbaris sambil menari mendekati panggung. Paling belakang ada seorang penari yang membawa kan nampan tempat cincin yang di hiasi indah.
“Berikut kami lanjutkan acaranya… kita sambut cincin pertunangan…”
Lendra, Reya dan MC memandang ke arah red carpet tempat penari datang.
Reya dan MC tampak tersenyum, sedangkan Lendra seperti menatap kosong dan gelisah.
Rombongan penari mendekat. Reya terlihat senang sekaligus tegang.
Satu persatu penari menyingkir dan membuka jalan untuk sang pembawa cincin mendekati panggung. Asap dan butiran gelembung menghiasi kemunculan sang pembawa cincin yang membungkuk hormat dan menaiki panggung. Gemuruh tepuk tangan kembali membahana.
Tiba-tiba dari balik asap di tengah red carpet muncul sosok Fayo menatap diam ke atas panggung dengan gelisah, cemas dan tegang di belakang para penari.
Reya terkejut. Lendra mengernyitkan kening tak jelas melihat siapa yang datang. Asap memudar dan sosok Fayo tampak semakin jelas berdiri di dekat panggung.
Reya sangat tak senang dengan kedatangan Fayo. Fayo hanya menatap Lendra penuh harap, sedang Lendra seperti terkejut dan tak percaya.
Penonton dan MC menatap heran.
***

No comments:

Post a Comment