Wednesday, November 2, 2011

Aku Bukan Reya - Bab I


Banaran, Kepulauan Seribu

Matahari sudah lama terbit. Udara dingin pagi masih menyapu sepanjang pantai menuju perbukitan yang hijau dengan taman yang indah. Sebuah rumah mewah menjulang di sisi bukit. Dibangun dengan perpaduan gaya naturalis, berdinding batu alam dan kayu dengan jendela kaca besar dan gemericik air terjun buatan di salah satu sisi dindingnya.
Bi Sarmi memandang dan memperhatikan sekeliling, perempuan yang berusia setengah abad itu telah bekerja lebih dari separuh umurnya pada sang pemilik rumah. Beberapa pekerja laki-laki tampak hilir mudik mengangkut barang dari kapal yang tertambat di sudut pulau menuju bagian dasar rumah yang berupa gudang dan ruang service. Sesekali Bi Sarmi menunjuk dan mengatur mereka. Beberapa pekerja perempuan berseragam tampak merapikan taman, membersihkan halaman dan beberapa yang lain sibuk menata di dalam rumah.
“Aaaaggghhh……… !!!!”
Tiba-tiba terdengar suara jeritan histeris dari dalam rumah. Sekejap semua kegiatan terhenti, dan semua memandang ke sebuah kamar di atas rumah tersebut. Bi Sarmi terkesiap dan bergegas masuk ke dalam rumah. Beberapa pekerja perempuan menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas sambil melanjutkan pekerjaan mereka.
Bi Sarmi berlari tergopoh-gopoh menuju sebuah pintu besar asal teriakan itu di lantai dua dan membuka kunci kamar dengan gugup. Napasnya terengah setelah berlari tertatih dan tangannya tampak gemetar memegang segepok kunci di tangannya.
Pintu terbuka, Bi Sarmi masuk dan memandang khawatir ke dalam kamar yang masih tampak remang. Reya masih terus berteriak. Perempuan muda itu terduduk di ranjang basah oleh keringat dan tampak sangat ketakutan. Wajahnya yang cantik tampak pucat pasi dan bibirnya gemetar. Bi Sarmi mendekat dan mengelus menghibur Reya.
“Non.. Non… “ sapanya pelan sambil mengguncang lengan Reya yang menatap kosong.
Reya terengah berhenti berteriak dengan bingung.
“Ada apa Non? Pagi-pagi kok sudah teriak-teriak..?” Bi Sarmi tersenyum lembut.
“Non Reya mimpi buruk lagi ya?”
Reya masih terdiam bingung memandang ke sekeliling kamar. Bi Sarmi berdiri perlahan dan membuka tirai-tirai kamar. Cahaya matahari masuk, Reya menghindar dan menutup matanya karena silau.
“Sudah hampir jam delapan Non.. Non Reya mau mandi dulu atau mau sarapan?” sambungnya.
Reya menatap ke luar jendela lalu berusaha berdiri dan memandang ke luar seperti bingung. Badannya terasa sangat lemah dan kakinya tak bertenaga. Bi Sarmi bergegas mendekat dan memapah Reya perlahan menuju jendela. Reya menopangkan tangannya di sisi jendela dengan lemah.
Bi? Sebenarnya saya ini ada di mana? Ini tempat apa? Ini kamar siapa?” Reya tampak gugup. Bi Sarmi tersenyum ramah dan mendekat.
Ini kan rumah Non Reya..ini Kamar Non..Masa Non lupa sama rumah sendiri” Bi Sarmi kembali tersenyum lembut “Sebentar ya, Bibi panggilin Rati dan Santi, supaya bisa membantu Non mandi… nanti sarapannya sekalian Bibi bawain ke kamar…sini non duduk sini aja”
Bi Sarmi menarik sebuah kursi berukir indah yang ada di sisi jendela mendekat pada Reya dan membantu Reya duduk lalu berjalan keluar perlahan dan menutup pintunya. Reya kembali memandang ke sekeliling kamar yang mewah dan indah. Reya mengamati semuanya satu persatu. Kepalanya mendadak pusing dan kilatan ingatan di benaknya kembali muncul.
Sebuah kamar kecil yang banyak ditempeli poster dan foto-foto tapi bukan kamar mewah yang sedang dia tempati sekarang. Foto-foto perempuan dan beberapa temannya ada di beberapa tempat di kamar kecil tadi.
Reya membuka matanya dan menatapi kamar mewah tadi. Tak ada foto. Sama sekali tak ada foto.
“Sepertinya ini bukan kamar aku.. kamar aku ngga seperti ini..” gumamnya.
Reya berusaha berdiri pelan dan lemah lalu berjalan mendekati meja rias.
Di kamar ini juga ngga ada foto aku sama sekali…”
Matanya kembali terpejam, berusaha mengingat.
Meja rias sederhana yang menempel menjadi satu dengan meja belajar, sederet foto dan perlengkapan rias merk biasa ada di sana. Begitu jelas dalam ingatannya.
Reya kembali membuka matanya. Reya mengambil beberapa botol parfum dan kosmetik merk terkenal yang sepertinya masih baru. Reya membuka botol melihat-lihat dan mencium aromanya berusaha mengingat. Membuka lipstik yang juga masih baru belum pernah di pakai.
“Sudah pasti ini bukan kosmetik aku… “ melihat ke parfum “Aku memang suka aroma ini tapi… “ sambungnya ragu.
Reya meletakkan kembali parfum itu dan berjalan mendekati ranjangnya. Ia memegang tiang ranjang kokoh dengan kelambu dan ukiran mewah. Bedcover satin dengan renda model victorian house sangat indah dan pasti sangat mahal.
Matanya menerawang dan kembali terbayang ranjang yang sangat akrab dalam ingatannya. Tempat tidur springbed single kecil dengan sprei kartun sedikit pudar dan boneka beruang di sisi ranjang.
Reya kembali memandang ke salah satu pintu yang menuju ke kamar mandi dan mendekat. Tertatih Reya masuk ke kamar mandi mewah yang terpisah antara basah dan kering. Sebuah jacuzzi yang masih kering ada di sana. Bunga segar menghiasi kamar mandi yang mewah.
Tiba-tiba dua orang pelayan berseragam masuk ke dalam. Reya terkejut. Mereka segera membungkuk ketakutan melihat Reya kaget seperti takut dimarahi.
Maaf Non…kami sudah lancang masuk kemari..” ujar seorang pelayan wanita muda yang kecil sambil menunduk. Wajahnya tampak ‘familier’, Reya sudah melihatnya beberapa kali rasanya.. ketika dia ada di kamar mewah ini sebelumnya.
Reya jadi merasa tak enak diperlakukan sesopan itu.
“Tadi kami sudah mengetuk pintu depan, dan juga pintu kamar mandi.. tapi Non tidak dengar.. kami khawatir terjadi sesuatu pada Non Reya…” sahut seorang pelayan yang lain.
Rati dan Santi, kedua pelayan itu masih menunduk takut.
Reya segera mendekat dan menyapa ramah.
Oh.. ngga.. ngga papa kok Mbak.. saya memang ngga dengar.. saya..” Reya terdiam bingung dan memandang sekeliling dan berjalan kembali ke arah kamar tidur. ”Saya baru melihat-lihat ruangan ini.. kok.. seperti nya banyak yang saya ngga ngerti… “diam sejenak“ Seperti sprei yang di sana… “ Reya menunjuk “ Saya ngga pernah memakai sprei satin sebelumnya.. biasanya saya selalu memakai katun dan… “ terdiam heran dan bingung mau berkata apa.
Kedua pelayan berpandangan.
“Maaf ya.. kalau saya membuat kalian bingung.. tapi sebenarnya saya ini di mana Mbak? Kenapa saya bisa ada di sini?” Reya menatap mereka dengan pandangan memohon.
Kedua pelayan kembali berpandangan heran. Reya menangkap pandangan khawatir di mata kedua pelayan.
Sejenak terbersit dalam pikiran Reya “Ada apa ya? Jangan-jangan mereka pikir aku gila?”
Maaf Non, kami.. tugas kami di sini hanya untuk membantu Non mandi…” Seorang dari pelayan muda itu menyahut pelan.
“Apa? Membantu saya mandi?” Sekilas ingatan menyeruak.
“Sepertinya aku pernah sakit”ujarnya dalam hati, terbayang sepotong ingatan ketika ia terbaring lemah dan teringat betapa sakit badannya dan infus juga selang menempel disana sini. Reya teringat dua pelayan itu dan Bi Sarmi adalah orang-orang yang paling sering ia lihat ketika ia sadar dan mereka sering membantunya ketika itu. Reya membaca label nama yang ada di baju mereka.
“Santi? Rati?” gumamnya.
“Iya Non… “sahut pelayan itu sambil memandang ke jacuzzi ”Non mau di siapkan berendam air hangat atau sedikit panas?”
Reya masih terheran-heran. Santi dan Rati mendekat ke lemari yang ada di situ dan mengeluarkan perlengkapan mandi seperti di Spa yang mewah.
“Hari ini Non mau pakai susu, atau mawar, atau rempah-rempah?” tawar mereka.
“Hari ini?” Reya berpikir sejenak “Emangnya kemarin-kemarin saya mandi pakai apa?”
Santi dan Rati kembali berpandangan.
Maaf Non, soalnya kami ini pegawai baru di sini jadi belum tahu betul kebiasaan Non Reya. Kalau kemarin-kemarin sih…”
Reya segera memotong Kalau kalian ini pegawai baru, lalu kemana pelayan saya yang lama?” Pandangnya menyelidik.
Kami kurang tahu Non, mungkin Bi Sarmi lebih tahu, beliau pengurus rumah tangga sekaligus kepala pelayan di sini…” kedua pelayan itu tertunduk sambil berpandangan jengah.
Reya terdiam heran.
“Jadinya.. Non mau mandi pakai apa?”
Reya menggaruk kepalanya bingung. Perlahan ia berjalan ke arah kamar mandi basah dan dengan sigap kedua pelayan tadi segera memapah dan membantunya.
            Sesaat kemudian, Bi Sarmi bersama seorang pelayan yang lain datang mendorong sebuah kereta saji perak dengan makanan yang ditutup diatasnya. Bi Sarmi meletakkan kereta di sudut kamar. Di sana sudah ada meja makan kecil dengan sebuah kursi makan dan hiasan bunga di atasnya. Bi Sarmi dan pelayan itu merapikan sarapan di atas meja.
Santi dan Rati sedang merapikan sprei yang semula satin itu, dan berganti menjadi sprei katun bermotif garis yang juga terlihat mahal. Ranjang berpilar itu sudah tak ada di sana. Sebuah springbed lebar dan empuk sebagai gantinya. Beberapa pelayan pria tampak mengeluarkan patung dan hiasan yang semula ada di kamar dan menggantinya dengan beberapa barang dan lampu hias yang lebih minimalis modelnya.
Reya membuka pintu kamar mandi dengan berkalungkan handuk. Rambutnya masih setengah basah. Reya tampak terkejut karena suasana kamar sudah berganti dari gaya victorian menjadi minimalis modern.
Lho… ini?” serunya.
Bi Sarmi tersenyum melihat Reya datang.
“Silakan Non sarapannya sudah siap… “ Bi Sarmi memandang rambut Reya yang basah ”Apa Non Reya mau merapikan rambut dulu atau mau sarapan dulu?” sambungnya.
“Oh.. “ Reya mengusap rambut “Ngga papa Bi.. nanti saja..”
Reya mendekat ke meja makan dan memandang sekeliling. Santi dan Rati mendekat dan menjaganya seakan takut Reya jatuh.
“Kalau begitu nanti biar Fitri membantu Non setelah selesai makan” lanjut Bi Sarmi.
Fitri?” Reya mengerutkan kening.
“Fitri yang akan membantu membereskan pakaian Non dan juga membantu Non merapikan rambut… apa Non lupa?”
Reya terbelalak. Santi dan Rati berjalan keluar dan sebelumnya membungkuk hormat sebelum keluar dari pintu. Reya memandang heran.
Aku punya dua orang pelayan yang membantu aku mandi, dan aku juga punya penata busana sekaligus penata rambut pribadi… “gumam Reya dalam hati.
Seorang pelayan menarikkan kursi untuk Reya duduk makan. Reya membaca namanya, Maya. Maya berdiri hormat di samping Bi Sarmi.
Bi Sarmi seperti nya membaca pikiran Reya.
Ini Maya, Non.. kemaren-kemaren Non sudah pernah ketemu kan? Dia yang akan membantu Non Reya menyiapkan makanan. Jika Non Reya perlu sesuatu Non Reya tinggal bilang saja…”
Bi.. “ Potong Reya “Sebenarnya ada apa ini.. saya “ Reya terdiam sejenak” kamar ini.. kenapa dengan kamar ini?”
“Oh kamar ini.. Tadi kan Non Reya bilang Non tidak terbiasa dengan sprei satin, jadi kami mencoba memberikan yang mungkin lebih sesuai dengan selera Non… bagaimana Non… apa ada yang kurang? Non Reya kurang suka dengan kamar yang sekarang?” ujarnya hati-hati” Atau … perlu di ganti lagi??” ujarnya ragu.
Oh ngga-ngga Bi.. sebenarnya saya ngga bermaksud begitu saya hanya..” Reya terhenyak.
Oh jadi Non Reya mau di kembalikan seperti sebelumnya?”
 Reya menghela napas “Ngga usah Bi.. “ Ujarnya pasrah “bukan begitu…” sambungnya lemah.
Baik Non.. kalau begitu silakan makan.. jika ada perlu bisa sampaikan pada Maya, atau..” Bi Sarmi menunjuk sebuah bel dekat pintu ”Non bisa memanggil saya dengan menekan tombol itu.. “ Ia terdiam sesaat “Non cepat makan yang banyak ya..biar cepat sehat.. Bibi senang melihat non hari ini banyak kemajuan.. dan sudah bisa berjalan “ senyum tulus menghiasi bibir Bi Sarmi. Reya menatapnya dalam. “Permisi…” kata Bibi sopan dan pergi.
Reya duduk lemas dan tersenyum lesu. Maya membantu merapikan lap makan dan menuangkan jus. Reya mulai memakan sebuah roti panggang dengan selai coklat kesukaannya.
“Non Reya mau minum susu? Coklat atau putih? Atau kopi atau teh?”Maya menyapanya pelan kemudian mengangkat beberapa teko yang ada di kereta. Reya terlihat bingung. Maya kemudian menunjukkan beberapa macam menu.
“Ini menu makanan untuk hari ini.. Non Reya bisa pilih yang mana yang akan di sajikan..” Maya menunjuk sebuah kertas menu yang tercetak rapi.” Ini makan siang, ini yang malam.. “Maya melipat menu dan meletakkan di samping Reya. ”Nanti Non bisa pelan-pelan memilihnya…”
Reya menghela napas dan mengusap dahinya bingung.
***

Serpong, Tangerang

Fayo dan Mbok di dalam mobil berjalan pelan. Fayo menyetir dengan kaku, sepertinya belum terlalu mahir. Mbok yang duduk di sebelahnya memeriksa plastik belanjaan supermarket dan tiba-tiba menyadari sesuatu.
Duh Non Fayo.. santan-nya lupa…” si  Mbok menepuk dahinya.
Lho.. embok ini gimana? Masa mau masak opor ngga ada santan nya sih?” sahut Fayo gemas. Tangannya yang gemuk meremas setir dan menjentik-jentikkan jarinya sambil berpikir.
Fayo memandang sekeliling jalanan dan melihat sebuah minimarket yang baru saja terlewat dan memelankan mobil.
“Di sana ada kali Mbok..” Fayo menunjuk ke minimarket itu.
Mbok memandang ke mini market. Jalanan sempit dan mobil-mobil di belakang mobil Fayo terus menekan klakson karena Fayo memelankan mobilnya dan memacetkan jalan.
“Duh berhenti di mana ya Mbok? Ngga ada tempat parkir..” ujarnya cemas.
Mbok dan Fayo terlihat bingung. Fayo membelokkan mobil dan berhenti di jalanan lain yang agak lebar.
Wah apa ngga kejauhan Non berhentinya?” Mbok memandang ke arah tikungan.
“Udah Mbok tunggu di sini aja, biar saya aja yang beli..”
Fayo melepas seatbelt, turun dari mobil dan perlahan berjalan ke arah minimarket tadi. Mbok membuka jendela dan berteriak memanggil.
“Non Fayo… beli dua kotak ya…!!!”
Fayo menoleh dan melambai tersenyum. Fayo membelok dan berjalan semakin jauh dari mobil. Jalanan mulai sepi.
“Duh.. jauh juga aku parkir ya.. tadi rame banget sih…” ujarnya dalam hati. “ Itung itung olah raga.. “ Fayo tersenyum sendiri sambil mengusap perutnya yang sedikit padat dan meringis karena mulai merasa lapar.
“Tinggal 4 bulan lagi.. hari H sudah dekat, jadi aku mesti benar-benar diet. “gumamnya.
Fayo menyeberang jalan menuju ke minimarket hati-hati.
Tiba tiba bayangan buram berkelebat kabur, buram. Fayo keluar dari minimarket. Suara mobil berdecit. Sesuatu melintas cepat.
Fayo yang ada di tengah jalan sambil menenteng plastik belanja berteriak terkejut. Sesuatu menyambarnya kencang. Fayo berteriak histeris.
***

Banaran, Kepulauan Seribu

Dalam kamarnya, Reya pun berteriak histeris dan segera sadar dari mimpi tertabrak mobil tadi. Reya memandang sekeliling kamar yang remang. Nafasnya terengah.
“Jadi ini cuma mimpi.. aku hanya mimpi lagi… “gumamnya terengah.
“Tapi kenapa begitu nyata.. Mbok? Mbok memanggilku Fayo… aku Fayo..”
Reya menggeleng” Aku bukan Reya…Aku bukan Reya… aku pasti bukan Reya…”
Reya tak bisa berhenti bergumam.
Tiba-tiba Bi Sarmi datang membuka pintu dan menyalakan lampu. Reya terkejut dan menatap Bi Sarmi yang terlihat khawatir.
Tergopoh Bi Sarmi menghampiri Reya, “Non Reya ada apa? Non mimpi lagi?” ujarnya cemas.
Bi.. katakan sebenarnya.. saya ini siapa Bi.. kenapa saya ngga bisa ingat apa-apa tentang rumah ini.. katakan Bi.. nama saya bukan Reya kan? Saya bukan Reya kan Bi…” ucapnya setengah menangis.
“Non Reya? Kenapa bilang begitu lagi? Kemarin kan Bibi sudah bilang… itu semua cuma mimpi Non… Mimpi itu bunga nya tidur.. jangan terlalu diambil hati”
“Tapi seperti semuanya nyata Bi.. ngga cuma dalam mimpi tapi.. rumah ini kamar ini..Saya ngga bisa mengingat apa-apa…” Reya memandang sekeliling. ”Yang saya ingat saya adalah Fayo, saya tidak tinggal di rumah seperti ini, rumah saya di.. “ Reya mengerutkan kening berusaha keras mengingat, “Jalan Kacang Polong 3 … “ Ujarnya mantap. “Saya baru saja lulus kuliah ekonomi dan di wisuda 21 April kemarin..” Tersadar Reya memandang sekeliling mencari kalender.
Sekarang tanggal berapa Bi? Sekarang hari apa? “ matanya mencari ke sekeliling tak ada kalender.
Sekarang ..” Bi Sarmi tampak berpikir mengingat. “ Sekarang 13 Oktober Non.. hari selasa… kenapa Non?”
Reya memegang kepalanya, “ Sejak kapan saya ada di sini?” Reya tampak pusing” Kenapa saya ngga ingat?”
Bi Sarmi mengambil air putih di samping tempat tidur Reya.
Sudah Non… jangan dipikirin lagi, sekarang sudah malam, Non Reya tidur ya biar besok bisa bangun seger dan lebih sehat..”
Ngga bisa Bi.. seharian ini saya sudah mencoba mengingat ..tapi saya ngga ingat semua hal tentang Reya, dan… Fayo… “nadanya berubah kesal, “ saya ngga tahu siapa Reya.. saya ini Fayo..  saya Fayo Bi..”
Bi Sarmi menggeleng prihatin dan merapikan selimut Reya.
Sudah Non, Non Reya tidur dulu ya… besok kita bicara lagi… sekarang Non Reya istirahat ya…”
Reya memandang Bi Sarmi yang tampak lelah, dan merasa tak tega untuk mendesaknya lagi. Ia segera meminum air putih dan membaringkan diri bingung.
Bi Sarmi kembali mematikan lampu dan keluar dari kamar.
Reya menghela napas sambil berbaring merenung.
“Sebenernya siapa aku ini? Reya atau Fayo?”
Reya membolak balikkan badan gelisah dan tak tenang.
Sesaat kemudian, di salah satu sudut kamar yang lain di lantai yang sama dengan kamar Reya, Bi Sarmi mengetuk pintu. Suasana hening.
“Ya? Siapa?” suara bariton terdengar dari dalam kamar.
Bi Sarmi membuka pintu dan mengintip ke dalam. Ruangan kerja modern yang rapi dan bersih. “Saya Den…” ucap Bi Sarmi pelan.
Lendra duduk di balik meja kerjanya, tak tampak, tertutup oleh sandaran kursi yang tinggi. Bi Sarmi membungkuk hormat di belakangnya.
Ada apa?” singkat tegas suara itu menyambung.
“Anu Den… Non Reya…” Bi Sarmi terdengar ragu.
“Kenapa Reya?” suara Lendra melunak.
“Non Reya.. mimpi terus Den.. sejak datang ke rumah ini, dan sadar dari sakitnya, setiap hari selalu menanyakan ini dimana? Saya siapa… Dan seperti bingung gitu Den…”
Kamu sudah kasi obat nya?” pelan Lendra menjawab.
“Sudah Den…” Bi Sarmi menegakkan berdirinya.
“Ya sudah.. besok kamu jelasin saja soal sakitnya..”
“Baik Den… Kalau begitu saya permisi dulu…” Bi Sarmi membungkuk dan keluar. Lendra mengangkat tangannya memberi tanda bibi untuk meninggalkannya.
            Sementara itu dikamarnya, Reya merasa tak tenang dan bangkit dari ranjangnya. Ada yang aneh dengan rumah ini. Reya memandang sekeliling kamar yang remang.
“Aku harus mencari tahu. Aku harus mencari Bi Sarmi” Reya berjalan pelan dalam kegelapan mendekati pintu.
Dimana ya tombol lampunya… “ Reya meraba dinding “Jangan-jangan nanti aku malah salah menekan tombol pemanggil pelayan.. sekarang sudah malam pasti mereka sudah tidur..”
Reya berdiri ragu di depan pintu kamarnya.
Apa besok aja ya?” Pikirnya ragu. “Tapi aku bener-bener ngga tahan lagi.. aku pengen tahu yang sebenarnya…”
Reya menghela napas menguatkan diri dan berusaha membuka pintu. Ternyata pintu terkunci dari luar.
Lho kok pintunya di kunci… kan Bi Sarmi belum lama baru dari sini..” ujarnya gemas.
Reya terus menggerakkan gagang pintu yang tertutup dengan  kesal.
Bener kan.. pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan.. kalau ngga kenapa aku selalu ngga pernah keluar dari kamar ini…”
Reya menendang pintu kesal dan menyandar di sana lemas.
Kenapa aku bisa ada disini.. Mereka memang melayani aku dengan baik, tapi..”
Suara Reya terhenti. Pelan-pelan di balik pintu ada suara lain. Reya berusaha mendengarkan.
Sepertinya ada yang datang? Apa Bi Sarmi?”
Reya kembali menempelken telinga di pintu. Wajahnya menegang.
Di balik pintu, di lorong, sesosok bayangan hitam berjalan mendekati kamar Reya, cara berjalannya aneh dan mengeluarkan bunyi-bunyian aneh.
Reya menjadi kaku dan takut.
“Suara apa itu? Kok sepertinya bukan langkah kaki… seperti ketukan atau…” bisik Reya tegang.
Suara kayu beradu berdetak-detak tak berirama semakin dekat, Reya mundur menjauh dari pintu dengan gelisah. Tiba-tiba suara itu berhenti di depan pintu kamar Reya. Reya menatap tegang.
Sekonyong-konyong gagang pintu bergerak-gerak cepat seperti ada yang berusaha membuka dari luar. Reya terpekik dan mundur menjauh. Gagang  pintu itu terus bergerak seperti ada yang berusaha masuk. Reya berlari ke ranjang dan menarik selimut ketakutan. Gerakan gagang pintu terhenti. Reya menutup bibirnya rapat-rapat. Suasana senyap sejenak, lalu kembali terdengar bunyi ketukan aneh tadi, kali ini suaranya menjauh dan pelan-pelan menghilang.
Apa itu tadi.. kenapa ada yang berusaha masuk kemari malam-malam begini…Ngga mungkin Bi Sarmi… “ Reya menghela napas cemas, “Apa itu sebabnya mereka mengunci pintu kamar aku?” Reya mengernyitkan kening.
“Sebenarnya aku marah karena mereka mengunci kamar aku dari luar… tapi’ sejenak Reya terdiam.
“Kalau mengingat… “ terbayang olehnya pintu yang berusaha dibuka dari luar tadi, “Apa untuk keselamatan aku? Wah jangan-jangan rumah ini berhantu…”
Reya bergidik dan duduk berkerut ketakutan di balik selimut. Reya memandang sekeliling yang senyap.
Tiba-tiba perlahan sayup-sayup terdengar bunyi denting piano. Lagu yang sedih terdengar memecah keheningan.
Aduh.. apa lagi itu… rasanya sebelum hari ini aku ngga pernah mendengar suara aneh-aneh begini.. “ Reya semakin bingung dan takut.
Suara piano terus berbunyi. Reya membaringkan diri dan terus mendengarkan.
“Aku ngga ingat lagi kapan aku pertama ada di sini… yang aku ingat..”
Ingatan Reya kembali menerawang. Reya dalam keadaan sakit terbaring di ranjang, kepala dan lengannya di perban dan tampak masih setengah sadar. Bi Sarmi dan beberapa pelayan melayaninya makan dan minum, juga merawatnya.
Reya tampak masih sangat lemah dan hanya berbaring dan kembali tidur.
Aku memang sakit seperti yang Bi Sarmi bilang.. tapi kenapa aku sakit? Dan kenapa aku ngga ingat siapa aku? Bagaimana masa lalu aku dulu dan apa hubunganku sama mereka dan rumah ini? Apa aku terkena amnesia? Sehingga Bi Sarmi dan pelayan-pelayan itu selalu menjaga aku dengan hati-hati?”Reya terdiam sejenak.
“Kenapa mereka ngga pernah mengingatkanku akan masa laluku?.. Lalu siapa Fayo?Kenapa aku selalu merasa aku adalah Fayo…”
Suara piano berhenti. Reya menunggu, tapi tak ada suara apa-apa lagi, hanya senyap. Reya terpekur sendiri sambil memegang selimutnya erat.
***

Keesokan harinya di kamar Reya

Maya melayani Reya duduk untuk sarapan di kamarnya. Reya sudah tampak rapi, matanya sembab bekas menangis dan kurang tidur semalaman. Bi Sarmi berdiri di sebelahnya menemani.
Gimana Non? Ada yang kurang?” kata Bi Sarmi.
Reya menggeleng lesu.
“Kalau begitu Bibi ke belakang dulu ya…” Bi Sarmi membalikkan badan dan akan pergi.
Tunggu Bi, saya mau bicara…” Reya berkata pelan.
Bi Sarmi memandang Reya sebentar lalu memandang Maya. Maya segera membungkuk hormat dan keluar dari kamar.
“Ada apa Non?” Bi Sarmi segera bertanya setelah Maya menutup pintu kamar.
Pertanyaan saya masih sama Bi.. tapi kali ini saya minta Bibi menjelaskan sejelas-jelasnya.. kenapa saya di sini dan.. “ Reya mengangkat piring kecil berisi beberapa obat, “ini apa? Kenapa setiap hari saya harus terus meminum obat ini? Saya sakit apa?”
Bi Sarmi menghela napas dan menunjuk obat-obat itu satu persatu.
“Yang ini dan ini obat dari dokter untuk bekas luka Non Reya, hari ini yang terakhir Non sudah habis.. “ ia berhenti sejenak dan menunjuk beberapa kapsul di tempat yang lain.
“Kalau yang ini dan ini vitamin dan suplemen supaya daya tahan tubuh Non lebih bagus dan cepet sembuh kembali…Sebenarnya masih ada beberapa untuk menahan sakit, pusing dan mual Non, tapi jika tidak di perlukan, kata dokter tidak perlu di berikan, jadi saya simpan di ruang obat.”
Tapi saya ini sakit apa Bi? Kenapa saya ngga ingat?” Reya menatap Bi Sarmi yang memandangnya sabar.
 Bi Sarmi diam sejenak dan mendekat.
“Non Reya kecelakaan, sampai hampir 2bulan di rumah sakit Non ngga sadar… Kata dokter, Non butuh ketenangan dan istirahat panjang sampai benar-benar pulih kembali, makanya Den Lendra membawa Non Kesini…dan alhamdulilah setelah hampir 2bulan di rawat di sini pelan-pelan mulai sadar”
Dua bulan? Empat bulan? Den Lendra? “ Reya mengingat” Siapa Lendra?? Siapa Bi?”
 Bi Sarmi terkejut, “Ya Den Lendra siapa lagi Non? Masa Non Reya lupa? Den Lendra kan suami Non…”
Reya terbelalak kaget.
Suami? Aku punya suami?”pikirnya “Lendra? Kenapa aku asing sekali sama nama itu?” Ujar Reya dalam hati dengan bingung, “ Bukannya tunangan aku bernama Randy.. kami akan menikah .. “ Reya tertegun sejenak “seharusnya kami sudah menikah bulan Agustus lalu…jika aku benar-benar Fayo”
BI Sarmi memandang khawatir.
Kenapa Non? Pusing lagi ya… Lebih baik Non istirahat dulu…Jangan terlalu dipaksa..”
Ngga Bi… Bibi harus cerita sama saya…Bibi harus jelaskan..” desak Reya
“Iya Non… pasti pelan-pelan Bibi jelaskan…” Bi Sarmi tersenyum.
Reya menarik kursi lain dan mengajak Bibi duduk, tapi Bibi menggeleng.
“Ngga papa Non, Bibi berdiri saja.. “
“Kalau memang saya punya suami bernama Lendra, kenapa selama saya di sini saya ngga pernah ketemu sama dia? “ Reya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil tak lepas menatap Biu Sarmi.
“Mungkin, seandainya benar saya sakit dan melupakan beberapa hal.. tapi semestinya dia kan ada di samping saya dan membantu untuk memulihkan ingatan saya kan Bi?’ tuntutnya.
Bi Sarmi tersenyum sabar.
“ Den Lendra itu sebenarnya orangnya super sibuk Non.. Dulu waktu Non masih belum sadar, Den Lendra juga selalu nungguin Non di sini kok..” Bi Sarmi diam sejenak
“Tapi kan Aden juga mesti kerja Non.. setelah orang tua Aden meninggal, semua urusan  perusahaan.. Aden sendiri yang menangani, jadi ya mohon maklum kalau Aden jadi sering ngga ada waktu menemani Non.. Apalagi sejak kecelakaan itu tiap hari Aden hanya menemani Non di sini, jadi banyak pekerjaan yang.. numpuk-numpuk gitu Non.. makanya setelah Non mulai sadar dan membaik terpaksa Aden mesti sibuk lagi..” ucapannya terdengar jujur dan tulus. Tapi Reya tetap penasaran.
Tapi sesibuk-sibuknya masa dia ngga pernah pulang atau sekedar menelepon “ Reya diam sejenak “sepertinya di rumah ini ngga ada telepon ya Bi? Rumah sebesar ini masa ngga telepon sih Bi?” ujarnya memancing.
“Di sini kan belum ada jaringannya Non, kalau pakai telepon genggam juga belum dapat sinyal…” Bi Sarmi menerangkan.
Lho emangnya kita ini di mana? Masa ga ada telepon ga ada sinyal… sekarang ini nih ya Bi.. di kampung-kampung aja udah bisa pake handpone..”
Bi Sarmi tertawa kecil. “ Iya tau Non.. di kampung Bibi juga bisa pake Ha-Pe..” tawanya berlanjut “ Tapi kita kan ada di pulau Non, jauh dari kota.. jauh dari mana-mana ..Ini pulau pribadi nya keluarganya Den Lendra…”
Reya menatap tak percaya.
Pulau? Pulau pribadi?”
Iya Non, ini pulau pribadi kepunyaan Aden, jadi yang tinggal di sini hanya Aden, Non Reya dan pelayan-pelayan saja.. tidak ada orang lain.. “ Bi Sarmi tersenyum bangga.
Hah? Jadi maksud Bibi kita tinggal di pulau terpencil.”
Reya berdiri dan memandang ke jendela heran.
Ya.. bukannya terpencil Non.. hanya saja memang nggak ada orang lain yang tinggal di sini.. begitu..”
“Lalu perusahaan Lendra? Dia kerja di mana?” Reya menatap penasaran.
“Pantas saja selama ini dia tak kelihatan” pikirnya, “membuang ku di sini dan pergi begitu saja.. suami macam apa itu? Wajarlah kalau aku ngga inget ama dia sama sekali..” gerutu Reya dalam hati.
Bi Sarmi kembali tersenyum bangga menceritakan Tuan nya.
Wah kalau kantornya banyak Non sampai ke luar negeri.. tapi semenjak Non Reya sakit, Aden lebih banyak di Jakarta, katanya supaya lebih dekat sama Non..”
Reya tampak berpikir, “Maksud bibi pulau ini dekat sama Jakarta? “
Kalau itu saya kurang tahu Non, maklum Bibi ngga bisa baca peta.. “ bi Sarmi tertawa terkekeh. Reya tersenyum.
“Ternyata Bibi ini suka bercanda juga..” pikirnya.
Jadi Lendra.. suami saya itu.. bekerja di kantornya yang di Jakarta.. makanya saya ngga pernah ketemu dia di sini.. “Reya seperti menggumam, “Apa dia ngga pernah datang ke sini Bi?”
Kali ini Bi Sarmi tertawa lebih keras. “Aden kan tinggal di sini Non.. tiap hari juga pulang…”
Reya memandang heran.
“Apa?!!”
Reya semakin bingung. “Gimana si Bibi ini” pikirnya “Katanya pulau ini jauh dari mana-mana.. kok Lendra bisa tiap hari pulang pergi ke Jakarta? Ga masuk akal…”
Bi Sarmi memahami kebingungan Reya dan buru-buru menjelaskan.
“Memang ada sekitar 2minggu kemarin ini Aden mesti pergi mengurus pekerjaan di Malaysia, makanya waktu Non sadar Aden memang ngga ada di sini..Tapi kemarin juga sudah pulang kok..”
Reya hampir terlonjak karena bersemangat.
Oh ya? Lalu sekarang dia ada di mana? Kenapa dia ngga nemuin saya?” berondongnya.
“Sudah pergi kerja Non… pagi-pagi tadi Non Reya masih tidur waktu Aden berangkat…” Bi Sarmi tersenyum geli.
Reya tampak kecewa, “Kalau begitu jam berapa dia pulang nanti Bi?”
Ngga tentu Non tapi biasanya agak malam.. “
Reya tampak berpikir keras. Bi Sarmi menggeleng-geleng sambil tersenyum.
“Sudah dulu ya Non.. bibi masih banyak kerjaan..” Bi Sarmi berjalan menjauh
“Nanti kalo Aden pulang biar Bibi kasi tau.. Non Reya kangen.. “ godanya sebelum menutup pintu. Reya tersenyum kecut.
Reya duduk sendiri termenung menghadap jendela kaca yang besar dan memandangi taman dan pantai di kejauhan. Pikirannya menerawang. Perasaan hangat melingkupi hatinya. Seberapa keras Reya berusaha untuk mengingat wajah Lendra sedikit pun dia tak ingat. Malah wajah pria bernama Randy yang terbayang di pelupuk matanya.  Sedikit gempal, tak terlalu tinggi, berkaca mata, dengan lesung pipit di kedua pipinya dan senyum yang bagi Reya sangat manis.
Reya menghela napas kembali, tersadar mengapa tadi dia lupa menanyakan perihal mimpinya dan Fayo. Terlalu bersemangat mendapat cerita baru mengenai Lendra.
Lendra. Seperti apa kira-kira mukanya. Reya memejamkan mata. Tersirat dalam benaknya sesosok bayangan tinggi besar yang memeluknya hangat, menggenggam jemari tangannya dan suara bariton yang lembut berdoa di telinganya ketika dia sakit.
Reya kembali memandang ke jendela dan menerawang.
Dia terus menunggu hingga malam hari.
 “Hari sudah gelap.. Lendra kok belum pulang ya.. “ gumam Reya
“Apa benar aku sudah menikah? “ Reya memainkan cincin emas putih bertatah berlian besar di jari manisnya.  
“Masa aku ngga ingat sama sekali dengan suamiku sendiri.. bahkan wajah atau suaranya? Juga ngga ada foto pernikahan atau apa pun di kamar ini…”                                                                
Reya diam sejenak lalu menepuk dahi tersadar.
“Goblok banget aku ini, dari tadi yang aku pikirin cuma Lendra.. dan aku hanya terus berusaha mengingat dia.. kenapa aku ngga nanya aja sama Bi Sarmi ya?” Reya berdiri, “Lebih baik aku tanya sama dia… “
Reya berjalan ke pintu dan mencoba membuka pintu, ternyata pintu itu kembali terkunci.
“Lho kenapa di kunci.. aduuhh..tadi aku lupa lagi bilang sama Bi Sarmi..” kesal Reya menggerutu.
Reya terus mencoba membuka pintu dengan sebal. Lalu segera menekan tombol pelayan berkali-kali dengan gemas.
“Kenapa sih setiap kali pintu kamar ini selalu di kunci..”
Reya berjalan hilir mudik dengan kesal. Suara langkah kaki berjalan bergegas mendekati kamar. Reya memandang ke pintu dengan wajah marah. Suara kunci di buka dan pintu terbuka pelan.
Seorang pelayan pria masuk dan membungkuk.
“Selamat malam Non.. ada yang bisa di bantu.. “ ujarnya gugup.
Reya memandang pria itu heran.
“Bi Sarmi kemana?” tukasnya ketus.
“Ehm.. Bi Sarmi..itu..” ujarnya terbata bata ragu dan bingung.
“Iya Bi Sarmi.. saya mau ketemu sama Bi Sarmi..”
Reya berjalan ke pintu yang setengah terbuka dan hendak keluar. Pelayan  itu segera menghalangi.
Oh ya Non, Bi Sarmi masih di belakang, sebentar biar saya saja yang panggilkan Bi Sarmi, mohon Non Reya tunggu sebentar” tukasnya cepat.
Pelayan membungkuk hormat dan cepat-cepat keluar. Reya memandang kesal karena tak bisa keluar.
Pintu di tutup oleh pelayan, dan terdengar suara kunci di putar dari luar. Reya terkejut dan melonjak berusaha membuka pintu. Reya semakin kesal karena pintu sudah terkunci kembali.
Reya memukul dan menendang pintu kesal.
Di ruang makan di lantai bawah, Bi Sarmi sedang membereskan makan di meja. Lendra tampak duduk membelakangi, tak tampak karena tertutup sandaran kursi yang besar.
Pelayan laki-laki yang tadi datang ke kamar Reya mendekat dengan takut-takut.
Dari lantai atas terdengar suara berisik omelan Reya yang berusaha membuka pintu.
Ada apa Din?” Bi Sarmi memandang Udin sang pelayan itu.
Pelayan yang di panggil Udin tampak gugup.
“Maaf Bi Sarmi.. Aden..” Udin membungkuk hormat pada Lendra, “ Non Reya… Non Reya mau ketemu Bi Sarmi..”
Bi Sarmi memandang ke Lendra. Lendra mengangkat tangannya memberi tanda sang pelayan untuk pergi. Udin membungkuk dan cepat-cepat pergi.
Sepertinya Non Reya agak keberatan karena kamarnya di kunci Den…Setiap hari selalu bertanya sama saya…” Bi Sarmi memandang Lendra cemas.
“Lalu kamu bilang apa?”
Ya saya bilang kalau Non Reya kan masih sakit, tiap malam sering mengigau dan mimpi buruk, jadi takutnya kalau saat tidur dan mengigau berjalan keluar kamar sendirian, bisa-bisa Non Reya jatuh atau kenapa-kenapa… makanya pintu kamar selalu di kunci..”
Hem.. terus..” Lendra menyelesaikan makannya.
“Ya sepertinya Non masih belum bisa menerima Den..”
Bi Sarmi memandang ke atas, suara berisik pintu kamar Reya yang ditendang-tendang sudah tak terdengar.
Lendra menghela napas.
“ Ya sudah, mulai besok, jangan di kunci lagi..Tapi ingat.. jangan biarkan Reya ada di luar saat saya berangkat ke kantor atau saat saya pulang.. “
Lendra berdiri dan berjalan menaiki tangga.
“Mulai besok semua keperluan saya, Bibi antar saja ke kamar..Kalau Reya tidak mau di kunci di kamar nya, biar saya saja yang mengunci kamar saya.”
Bi Sarmi terkejut.
Tapi Den… “ Bi Sarmi terdiam menatap Lendra sejenak lalu menghela napas dan menunduk pasrah “Baik Den.. saya permisi dulu…”
Bi Sarmi menunduk dan pergi ke arah kamar Reya.
***

Banaran, 15 Oktober 2009

Reya di dalam kamarnya  terburu-buru merapikan diri. Beberapa pelayan membereskan tempat tidur dan 2 orang yang lain keluar dari kamar mandi membawa bekas perkakas mandi Reya. Reya cepat-cepat berdiri tanpa bicara dan keluar kamar tergesa.
Di depan pintu Reya hampir bertabrakan dengan Bi Sarmi yang akan masuk ke kamar Reya.
“Aduh.. Non Reya buru-buru mau kemana?” katanya sambil mengelus dada.
Saya  mau ketemu Lendra Bi… “sambil bergegas keluar kamar, “Tadi malam dia menolak bertemu saya.. alasannya sudah tidur” ujarnya kesal.
Reya berjalan keluar kamar ke kanan lalu ke kiri bingung. Bi Sarmi mengikuti sambil tersenyum.
“Mana.. dimana Lendra?” Reya berdiri dan bersikap sok ketus “Masih di kamarnya? Yang mana kamarnya Bi?”
Reya memandang ke sekeliling. Sekejap Reya takjub pada interior rumah yang sangat mewah. Baru kali ini Reya keluar dari kamar dan bisa melihat sekeliling.
“Sebelah sana Non kamarnya “ Bi Sarmi menunjuk sabar.
Reya bergegas tergesa menuju kamar Lendra di ujung lorong dan mengetuk keras.
Non… “ ucapnya hati-hati.
Lendra!! Saya harus bicara sama kamu.. “ Teriak Reya, tak menggubris ucapan Bi Sarmi.
Non…”
Kenapa lagi sih Bi… Kemarin Bibi bilang dia sudah tidur, masa sekarang pun dia tetap ngga mau ketemu sama saya? Masih tidur?!!” ucap Reya kasar dan kembali mengetuk “Lendra??!!”
Maaf Non.. “kata Bibi. Reya menoleh kesal “Tapi Den Lendra nya sudah pergi..”ujarnya lagi.
“Apa? Masa pagi-pagi begini dia sudah pergi? Emangnya dia pergi kemana?”
Ke Jakarta  Non, kan kantor Aden ada di sana… tadi pagi-pagi sekali waktu Non Reya masih tidur, Aden sudah berangkat” Bi Sarmi tersenyum, “makanya kalau malam waktunya istirahat, Aden tidak mau diganggu.. karena pagi-pagi sebelum subuh juga mesti sudah pergi lagi Non…”
“Kantor apa sih? Masa berangkatnya dari pagi subuh dan pulang selalu tengah malam!!”
Reya meninggalkan kamar dan berjalan memandang sekeliling ruangan.
“Kan Jakarta lumayan jauh Non.. dari sini Aden harus naik helikopter ke sana.. “
Reya terbelalak.
“Helikopter?” Tak terbayang olehnya setiap hari suaminya pergi dan pulang kantor dengan kendaraan pribadi yang super mewah, helikopter??!!
“Siapapun Lendra ini pasti sangat kaya.. konglomerattt…punya pulau pribadi, perusahaan berjibun dan kemana-mana naik helikopter” pikir Reya.
Bi Sarmi memandang Reya yang tenggelam dalam pikirannya.
Ya sudah.. nanti saya sampaikan sama Aden kalau Non Reya ingin ketemu..” Bibi tersenyum “Sekarang Non pengen apa? Bilang sama Bibi ya..”
“Ngga Bi.. saya ngga butuh apa-apa.. “ suara Reya melunak.
Reya berjalan pelan dan memandang sekeliling. Dinding di hias dengan beberapa lukisan pemandangan dan abstrak. Barang-barang hiasan rumah dari kristal dan patung, karpet tebal empuk dan mewah yang pasti sangat mahal. Beberapa pelayan tampak membersihkan rumah dan sebagian sedang merapikan rangkaian bunga lili dan mawar segar di dalam vas kristal tinggi di beberapa sudut ruang.
“Apa mungkin aku ini istri simpanan atau istri muda? Jadi aku disembunyikan di sini?” pikir Reya mereka-reka.
Reya menuruni tangga sambil kembali memandang ke sekeliling, tampak beberapa pria berbadan tegap dan bertampang sangar berpakaian kaos hitam dan celana jeans, berdiri siap di dekat pintu dan beberapa tampak di luar halaman rumah, seperti menjaga sesuatu. Bi Sarmi berjalan mengikuti Reya.
“Di rumah ini selain saya dan Lendra.. dan para pelayan.. ada siapa lagi Bi?” selidik Reya.
‘Ngga ada Non.. ya selain Non dan Aden hanya kami para pelayan yang ada di sini’
Lalu mereka itu siapa Bi?” Reya memandang ke pria-pria tegap yang tampak berjaga-jaga di sekitar ruangan tadi.
Oh itu mah Security Non…”
Security? Untuk apa security sebanyak itu Bi? Apa daerah sini ngga aman? Kata Bibi kita ada di pulau pribadi, mestinya kan ngga ada orang lain yang bisa ada di sekitar sini dan mengganggu keamanan kan Bi?”
Reya berjalan dan memandang sekitar ruangan. Bi Sarmi mengikuti.
“Iya sih Non.. memang di sini jarang ada pendatang, paling hanya nelayan atau turis yang tersesat, itu pun jarang…  tapi keamanan kan tetap perlu di jaga, apalagi dengan rumah sebesar dan semewah ini, kalau sampai di datangi rombongan perampok bagaimana? Kan di sini susah ngga ada polisi.. “ Bi Sarmi tersenyum melucu.
Reya tersenyum dan duduk di sofa kulit di ruang keluarga yang indah dan nyaman.
“Bener juga ya.. “ katanya manggut-manggut sambi mengamati sekeliling. Reya memegang meja kaca dan hiasan buah kristal di atasnya sambil terus mengangguk-angguk menanggapi Bi Sarmi.
Bi Sarmi terus bercerita mengenai lingkungan rumah dan pulau, juga pekerjaan Lendra tanpa diminta oleh Reya. Pulau itu merupakan pulau pribadi, dari atas balkon teras, Bi Sarmi menunjukkan helipad tempat biasa Lendra berangkat dan pulang dari dan ke Jakarta. Tetapi, masih kata Bi Sarmi juga, rata-rata pelayan menggunakan kapal yang datang dua kali dalam seminggu untuk mengantar bahan makanan dan keperluan rumah.
Apalagi” sambung Bi Sarmi, “Di belakang sana kan masih ada hutan, rawa-rawa dan rerumputan Non.. kita sih ngga pernah dengar kalau ada macan atau binatang buas lainnya.. tapi ya siapa tau aja.. kalo ternyata mendadak ada binatang yang muncul.. soalnya kalau ular lumayan sering Non kelihatan masuk ke area rumah.. “ jelas Bi Sarmi.
Ular? Macan? Ih yang bener Bi.. masa sampai segitunya sih Bi?” Reya bergidik. Membayangkan binatang melata itu memasuki rumah sungguh hal yang sangat mengerikan.
 Bibi tertawa kecil, “Yah namanya tinggal di pulau Non.. makanya Non mesti hati-hati kalau mau keluar atau perlu sesuatu panggil saya saja ya Non..”
Reya mengangguk-angguk dan memandang sekeliling heran.
Bi.. “ Reya bertanya ragu, “ Saya kok ngga melihat satu pun ada foto keluarga yang ada di sini.. entah foto Lendra, saya .. foto pernikahan.. atau kalau ngga foto keluarganya Lendra gitu?”
Bi sarmi menatap ragu dan berpikir mencari alasan yang tepat.
Oke lah.. kalau mungkin seperti yang Bibi bilang saya hanya sementara di bawa ke sini setelah kecelakaan sampai saya sembuh, jadi mungkin memang tidak ada foto saya sama sekali di sini.. tapi.. Bibi bilang ini kan salah satu rumah Lendra sejak kecil, masa ngga ada satu pun fotonya dia, atau orang tuanya?” Reya meletakkan buah kristal tadi hati-hati kembali ke termpatnya.
Tadinya memang ada foto keluarga di situ Non “gamang Bibi memandang ke sebuah lukisan pemandangan di tengah dinding “ Tapi setelah Tuan Besar dan Ibu meninggal.. “ Bibi kembali menghela napas dan terdengar sedih “Aden menyimpan semua foto dan menggantinya dengan lukisan-lukisan…”
Reya mengangguk maklum dan tampak berpikir, sebentar kemudian di berbalik kembali dan karena terlalu cepat bergerak dirasakannya lengan kanannya yang bekas patah karena kecelakaan itu nyeri. Dan juga kepalanya sedikit pusing.
Reya mengaduh dan memegang lengannya lalu dahinya.
Kenapa Non?” panik terdengar “ Sakit lagi? Lebih baik Non Istirahat ya.. nanti kita bisa ngobrol-ngobrol lagi…”
Reya mengangguk dan Bi Sarmi memapahnya kembali ke kamar.
Reya berjalan di papah Bi Sarmi menuju kamarnya. Tampak wajah Reya memandang sekeliling rumah mempelajari ruangan dengan hati hati.
***

Esok paginya, Reya berdiri berpura-pura sibuk memandang ke sana ke sini, sementara itu beberapa pelayan sedang merapikan kamarnya. Ketika para pelayan lengah, Reya beringsut pelan dan diam-diam menuju pintu lalu mengintip dengan tegang keluar.
“Maaf Non? Ada yang bisa dibantu?” Reya terlonjak kaget karena mendadak Rati sudah di belakangnya.
Ah enggak kok..  ngga papa…” jawabnya gugup.
Reya kembali masuk ke kamarnya dengan tegang. Rati mengangguk dan kembali merapikan kamar.
Reya masih tegang meremas tangannya berjalan mondar-mandir, lalu kembali memandangi para pelayan hingga mereka terlihat lengah dan cepat-cepat keluar.
Reya berjalan gugup memandang sekeliling yang tampak sepi.
Sepertinya ngga ada orang.. mungkin ini kesempatan aku pergi dari sini…” pikir Reya.
Reya memandang sekeliling lagi tegang, bergegas menuruni tangga dan menuju ke pintu samping.
Dari atas, Udin berjalan membawa sapu sambil bersiul riang. Tak sengaja Udin melihat Reya yang berjingkat-jingkat mencurigakan di bawah. Udin terkejut.
Waduh.. celaka… “ tukas Udin bingung kesana kemari.
Dengan cepat Udin berlari ke ruang belakang tanpa Reya sadari.
Reya mendekat ke pintu samping dan menghela napas tegang sambil memandang sekeliling yang kosong.
Reya menghela napas tersenyum “Aman…” pikirnya.
Reya mengulurkan tangan hendak membuka pintu.
Tiba-tiba gagang pintu terbuka sebelum Reya mencapainya. Reya terkejut. Beberapa penjaga berdiri di depan pintu.
Reya memandang mereka dan menghela napas kecewa.
Udin dari atas memandang Reya yang lemas memandang penjaga yang menjaga di dekat pintu sambil tersenyum.
Reya berbalik dan kembali ke kamarnya.
“Tenang aja.. lain kali aku pasti bisa..” ujar Reya dalam hati.
Seharian itu Reya berjalan sekeliling rumah bersama Bibi. Bibi bercerita tentang masa kecil Lendra dan betapa bahagianya keluarga mereka dulu. Tapi bibi tak bisa menceritakan pernikahan Reya dan Lendra, atau bagaimana mereka berpacaran, atau apa pun yang Reya ingin tahu.
Hari berganti hari dan Reya tak pernah bisa menemui Lendra atau mendapat informasi apa pun mengenai masa lalunya. Reya masih tetap merasa sebagai Fayo dan tak pernah bisa mengingat apa pun mengenai Reya atau pun Lendra. Semakin hari badan Reya semakin sehat dan segar. Reya tak perlu lagi di papah dan bisa lebih bebas mengeksplorasi rumah itu, hingga suatu malam tiba, Maya berdiri di belakang dekat Reya yang sedang makan dengan wajah sebal.
Reya berpikir dalam hati, “Sudah beberapa kali aku mencoba keluar dari rumah ini.. tapi selalu saja gagal.. dan Lendra juga belum bisa di temui.. pasti dia sengaja tak mau ketemu aku..“ Reya kembali menghela napas
”Apa mungkin.. “ Reya bergumam dalam hatinya dan melirik Maya yang masih berdiri dibelakangnya, “mungkin kalau malam hari begini.. lebih gampang bersembunyi di kegelapan… “
Reya berpikir keras memutar otaknya mencari cara.
“Ehm.. “ Reya berdehem dan batuk kecil sambil mengibaskan tangannya.
Maya sang pelayan tampak terkejut dan mendekat.
“Aduh kayanya ini agak kepedesan deh.. Bisa tolong tambah…”
Maya bergegas menuangkan air dan memberikan ke Reya. Reya tampak gugup.
Bukan.. maksud saya.. “ tukasnya gugup, ” saya kok pengen kuah-kuah apa gitu yang anget-anget.. “ Reya tersenyum manis ke Maya.
Maya tampak berpikir sejenak.
Non Reya mau di buatkan Sup? Sup Sayur atau Cream Sup? Atau.. “
Sup Sayur aja… “ Reya tersenyum lebar”.. pakai sawi.. tomat, wortel.. ehmmm… ayam nya dikit aja untuk kaldunya dan.. pokoknya yang enak deh… Bisa kan?”
Maya tersenyum dan mengangguk.
Oh bisa Non bisa…. Tunggu sebentar saya siapkan supnya… 15 menit mungkin?”
“Oo.. ok ok.. ga papa…” Reya berusaha menahan senyum nya.
Maya bergegas ke dapur menjauhi ruang makan dan meninggalkan Reya sendiri.
“Lima belas tahun juga ga papa May.. “ Reya terkekeh pelan.
Akhirnya… “ Reya memandang sekeliling dan berjingkat pelan menjauhi meja.
“Itu.. “ Reya menunjuk ke satu pintu” ke taman belakang… “ Ia berpikir sejenak.
“Yang itu.. kamar kerja “ tunjuknya, lalu kembali memandang sekeliling ” yang sana kaya kamar ICU aja .. penuh alat-alat kedokteran… “  ia mengernyitkan kening sejenak.
“ Pintu depan selalu ada penjaga… Mestinya ada jalan keluar lain..” Sejenak Reya bingung.
Ia mengangguk-angguk dan mendekat ke arah belakang sambil sesekali memandang sekeliling yang sepi. Sampai dekat pintu Reya menyingkap jendela dan mengintip ke depan.
Suasana taman belakang sepi. Kolam renang kosong dan taman yang tampak remang.
Reya tersenyum dan dengan hati-hati keluar dari ruangan menuju ke belakang dan menutup kembali pintu dengan hati-hati.
Reya kembali memandang sekeliling mencari celah yang mungkin ada. Suasana remang terasa mencekam.
Wajah Reya terasa tegang.  Reya kembali teringat detak-detak suara kayu yang sering muncul di malam hari, denting piano dan suasana yang mencekam.
Reya menggelengkan kepala mencoba menghalau bayangan menakutkan yang menghantuinya. Tangannya mengelus tengkuknya ngeri lalu memeluk dirinya sendiri seakan dingin. Reya berjalan pelan menuju salah satu sudut gelap yang sepertinya menuju ke arah jalan setapak yang menjauhi rumah. Hawa dingin di tambah dengan gerimis yang mulai turun menambah suasana semakin mencekam.
Tenang Reya… pasti ngga akan ada apa-apa.. Bi Sarmi bilang semua itu cuma halusinasi aku aja… “ Reya menghela napas sambil terus menyemangati dirinya sendiri.
Reya semakin mendekat ke jalanan setapak yang agak gelap tadi lalu memandang ke jalanan setapak di sisi lain yang lebih terang.
“Aduh.. lewat yang mana ya?” Ia semakin bingung memandang 2 jalan tadi.
“Kalau aku lewat sana.. pasti gampang banget kelihatan sama orang lain.. tapi kalau lewat sini.. “ia meringis ngeri sendiri.
Reya mengusap wajahnya dan memberanikan diri sambil tersenyum.
“MAJU TERUS PANTANG MUNDUR!!! FAYO!!FAYO!!FAYO!!” Reya mengepalkan tangan menyemangati diri sendiri sambil tersenyum semangat.
Reya tertegun sejenak.
Kenapa aku bilang Fayo ya?” Reya terdiam.
“Sudahlah.. begitu aku pergi dari sini aku akan cari tahu siapa aku sebenarnya dan siapa Fayo itu… “ Pikiran itu membuat Reya kembali bersemangat.
Tiba-tiba sekelebat bayangan hitam tampak di arah jalanan gelap. Reya tersentak. Dengan gugup Reya memandang mencari-cari di tengah kegelapan.
“Hah? Apaan tuh? Aduhh .. jangan-jangan…” Reya mulai ketakutan.
Reya memandang sekeliling panik. Tiba-tiba matanya tertumbuk ke sesosok bayangan gelap dan besar di bawah pohon.
Seperti seseorang berjubah hitam yang hanya tampak bayangannya saja dikaburkan oleh bayangan pohon-pohon, sama sekali tak tampak apakah itu manusia atau bukan, laki-laki atau perempuan, seperti berambut ikal panjang yang sesekali bergerak tertiup angin malam.
Reya tertegun takut menatap bayangan itu. Seakan bayangan itu juga terpaku menatap Reya.
Non Reya?”
Reya terpekik panik dan sangat kaget menjauhi Maya yang ternyata telah berdiri di belakangnya. Maya terlihat sangat kaget dan takut dengan reaksi Reya.
Aduh maaf-maaf Non.. saya ngga bermaksud mengagetkan Non Reya…”
Reya mengelus dada lega memandang Maya. Tapi secepatnya dia kembali memandang ke bawah pohon.
Bawah pohon itu kosong tak ada bayangan hitam. Hanya gelap biasa.
Reya mencari-cari ke sana-kemari dengan gugup.
“Itu.. itu.. kamu lihat kan.. kamu lihat kan tadi..” tunjuknya pada Maya.
Lihat apa Non? Ngga ada apa-apa…”
Aduh… di sana.. di bawah pohon itu.. ada orang di sana… “
Maya memandang ke bawah pohon tak ada apa-apa, dan Maya mulai tampak ngeri.
“Ngga ada apa-apa kok Non… “
“Tapi.. “ ragu
“Mungkin Non Reya salah lihat.. “
Reya menggeleng bingung.
Oh ya Non.. Sup nya mau.. “
Reya menghela napas lemas. “Ngga jadi deh.. saya udah ngga lapar.. “
Reya berbalik dan masuk ke rumah dengan gontai. Maya tampak bingung dan mengikutinya masuk. Sesekali Maya melirik ke arah bawah pohon dan wajahnya sekilas menunjukkan ekspresi takut lalu berlari mengikuti Reya kembali ke kamarnya.
Reya duduk termenung di atas ranjang tanpa suara, memandang sekeliling kamar yang sepi dan dingin. Tangannya mengelus ranjang yang rapi lalu kembali memandang ke sekeliling. Reya berdiri dan berjalan pelan sambil memandangi seputar kamarnya yang mewah. Tatapannya sedih dan kesepian. Reya berjalan pelan ke jendela kamarnya dan membuka tirai sambil memandang ke luar yang gelap.
Suara dentang jam pukul 12 malam memecah keheningan tiba tiba berganti menjadi suara denting piano dengan lagu sedih.
Mata Reya membelalak dan menoleh ke sekeliling takut. Sambil meringis cepat-cepat Reya melompat ke atas ranjangnya dan meringkuk di bawah selimut tebal sampai menutupi ke seluruh tubuh dan kepalanya.
***

Banaran, 10.20 WIB

Reya bersikap sangat manis dan tersenyum pada pelayan yang baru saja membereskan perlengkapan minum teh dan beberapa camilan.
Reya berjalan keluar dan tampak beberapa pelayan sedang membersihkan ruangan. Dari kejauhan tampak penjaga berdiri di sekitar pintu keluar.
Reya menghela napas dan berusaha bersikap normal sambil berjalan biasa memandang sekeliling dan menuruni tangga.
“Ada yang bisa dibantu Non Reya? “ suara salah seorang pelayan mengagetkan-tiba-tiba.
Reya terkesiap sejenak dan berusaha tersenyum menguasai diri.
“Oh ngga.. ngga kok.. saya cuma mau jalan-jalan aja…”
“Oh kalau gitu saya panggilkan Bi Sarmi ya… supaya menemani Non Reya…”
“Oh ngga-ngga apa… saya.. saya cuma jalan di sini aja kok ngga kemana-mana…” Reya menjawab gugup.
Pelayan memandang ragu, tapi Reya cepat-cepat pergi kearah lain dan membuka sembarang pintu kamar di sana.
Reya memandang ke dalam sebuah kamar yang sepertinya kamar tamu yang tampak rapi dan bersih. Pelayan menatapnya sejenak lalu kembali bekerja. Reya melirik pelayan sejenak dan pura-pura sibuk memandangi perabot ke sana- kemari.
Reya berjalan ke pintu yang lain.. bergegas dia membuka..ternyata kamar mandi.
Kemudian setelah memandangi kian kemari sejenak, dia kembali berjalan ke arah lorong yang menuju ke dapur. Beberapa pelayan sedang menyiapkan makan siang dan tampak terkejut dengan kehadiran Reya. Reya tersenyum dan mengangkat tangan melambai dan berbalik pergi sambil menghela napas. Reya melihat beberapa penjaga juga ada di dekat pintu dapur yang menuju ke luar.
“Begitu banyak orang … bagaimana ya caranya aku bisa keluar dari sini?”
Reya diam sejenak dan terpikir sesuatu. Kamar tamu yang rapi tadi. Jendela besar di dalam kamar itu. Reya tersenyum senang dan kembali ke ruang tengah.
Pelayan tadi sudah tidak ada. Reya cepat-cepat menuju ke kamar dan sebelum masuk sempat ia memandang ke sekeliling. Sepi. Hanya ada penjaga yang berjaga di luar pintu depan dan pintu samping. Sesaat penjaga menoleh ke dalam dan Reya merapatkan diri ke dinding sehingga tak nampak oleh mereka. Lalu secepatnya Reya memasuki kamar itu.
Reya menutup pintu pelan dan bergegas ke arah jendela besar yang menghadap taman.
Reya menyingkap tirai pelan dan mengintip ke depan. Taman yang indah. Reya melihat ke kanan kiri dan sepertinya kosong, penjaga ada di pintu yang ada di sisi lain.
“Mungkin ini kesempatan yang bagus.. “
Reya memandang tegang.
“Maju terus pantang mundur!! Fay…?? “ nada berubah dari semangat menjadi heran
“Fayo lagi? “ Reya menggeleng cepat.
“Ah.. sudah lupain aja.. yang penting keluar dulu dari sini… “
Reya membuka jendela hati-hati sambil mengawasi penjaga yang terlihat sedikit di sisi lain sedang menghadap ke arah lain. Perlahan Reya melangkahi jendela besar dan keluar ruangan.
Lalu dengan berjingkat sambil merapat ke dinding, ia membungkuk pelan, kemudian berjongkok dan bersembunyi di balik bunga-bunga, sambil memandang ke penjaga yang menebar pandang ke sekeliling, Reya terus menjauhi rumah itu.
Penjaga tampak menghadap membelakangi Reya. Reya segera berlari hati-hati menuju ke jalan setapak sambil sesekali bersembunyi di balik pohon-pohon dan memandang sekeliling.
Reya setengah berlari menjauhi rumah melalui jalanan setapak yang asri dan indah. Semakin jauh dari rumah, sesekali Reya memandangi rumah dan akhirnya terhenti karena takjub.
Reya telah berada di dekat pantai yang berpasir putih dan bersih. Pemandangan indah memukaunya. Karang dan deburan ombak di pantai yang landai.
“Wah.. bagus banget… “  Reya terkagum-kagum berlarian di tepi pantai.
Reya memandang ke arah rumah besar dan indah di atas bukit.
“Istana Lendra.” Reya menatapi rumah dengan perasaan sedih, lalu kembali memandang ke sekeliling. Matanya tertumbuk pada satu bagian pantai, sebuah kapal tertambat di sana. Tampak beberapa orang menurunkan peti-peti dan membawanya ke arah rumah. Reya berjalan hati-hati menuju ke kapal. Reya membungkukkan badan dan mengintip ke arah kapal dari balik karang.
Reya tersenyum dan sangat gembira memandang kapal itu.
Reya teringat saat Bi Sarmi bercerita bahwa jalan keluar dari pulau hanya melalui helikopter Lendra dan kapal barang yang datang.
“Kapal.. kapal itu.. itu pasti yang disebut-sebut Bi Sarmi.. aku harus ke sana..”
Reya bergegas keluar dari persembunyian dan mendekati kapal. Beberapa penjaga kapal dan pekerja tampak masih sibuk membereskan keperluan pulau yang baru saja tiba dari kota.
Reya mengendap-endap sambil mencari celah yang kosong untuk mendekati kapal.
Tiba-tiba Reya menabrak seseorang yang muncul di depannya.
Reya jatuh terduduk dan dengan sigap seorang penjaga membantu memegangnya dan membantunya berdiri.
“Ada yang bisa di bantu?” tegas suara penjaga menciutkan nyali Reya.
Reya terdiam sesaat.
Kalau aku bicara terus terang ingin meninggalkan pulau ini dan memohon pada mereka.. apa mungkin mereka akan…?” lamun Reya.
“Sebaiknya Non segera kembali ke rumah. Bi Sarmi dan yang lainnya sudah menunggu.”
Penjaga menggamit lengan Reya dan beberapa yang lain segera mengiringi mereka membawa Reya kembali ke rumah. Reya berkali-kali menatap hampa ke kapal dan sesekali meronta dengan kesal.
Reya duduk menghadap ke jendela dengan wajah gusar. Bi Sarmi bersimpuh di sampingnya dan berusaha menghibur.
“Saya kan bosan Bi.. masa setiap hari cuma duduk-duduk saja di kamar…Kenapa saya selalu di kurung di sini…” keluhnya.
“Non Reya jangan bilang begitu, ini kan untuk kebaikan Non. Dan.. Non kan ngga di kurung di sini.. ini kan rumah Non sendiri, Non bebas mau ke mana saja Non mau di pulau ini.. hanya saja, lebih baik kalau keluar dari rumah bilang dulu sama Bibi atau pelayan-pelayan yang lain, jadi Non ngga tersesat lagi…”
Reya mendengus kesal.
Untung ini siang hari Non.. jadi masih bisa melihat jalan pulang.. bagaimana, kalau seandainya tadi Non tersesatnya malam-malam sendirian.. sampai ke rawa-rawa di belakang sana .. bagaimana kalau ada binatang, ular atau yang lain.. itu kan bahaya Non…”
Saya cuma ..  saya cuma ngerasa aneh Bi, semakin hari saya pikir… semuanya semakin ngga bisa dimengerti..  “memandang Bi Sarmi
“Aneh bagaimana Non?”
Ya aneh Bi… tentang mimpi-mimpi saya, tentang Fayo dan semua yang ada di rumah ini… saya ngga mengenal sama sekali semuanya… dan.. “ Reya berdiri memandang sekeliling, “Lihat…” Reya menghampiri meja dan membuka laci dan menunjuk kertas bertanda garis-garis penghitung hari ke Bi Sarmi.
“Saya sampai menghitung hari dengan ini.. “Bi Sarmi menerima dan melihat kertas itu.
“Saya benar-benar ngga tahu sekarang ini tepatnya saya ada di mana, kapan… bahkan kalender aja ngga ada di rumah ini, coba sekarang hari apa, tanggal berapa… “ ujar Reya berapi-api.
Oalah Non.. Non.. kalau cuma kalender ya Non bilang saja.. nanti saya ambilkan di gudang banyak Non.. “ Bibi tersenyum sambil mengacungkan jempol.
Reya mengernyit heran memandang Bi Sarmi.
“Di gudang? Kalender disimpan di gudang? Emangnya kalender tahun kapan Bi?”
“Ya tahun ini lah Non.. masa kalender jaman majapahit”
Reya tetap cemberut.
“Kenapa di sembunyikan di gudang, apa yang mau ditutupi dari saya sebenarnya?”
Non Reya jangan berpikiran negatif dulu.. tadinya juga di kamar ini ada satu kalender meja di sana “ Bibi menunjuk meja, Reya memandang Bi Sarmi.
“Tapi waktu itu, waktu Non dibawa ke sini sepulang dari Rumah Sakit, Non sampai lamaaa…. sekali ngga sadar-sadar juga. “diam sejenak si Bibi memandang Reya.
“Coba Non perhatikan bekas tanda-tanda di dinding itu “ Bibi menunjuk tanda – tanda di dinding seperti bekas alat elektronik yang di lepas.
Reya mendekat dan meraba dinding memperhatikan. Benar juga.. walaupu kamar ini selalu di dekorasi ulang, tapi lubang-lubang ini tetap ada.
Aden sampai sengaja mengubah kamar ini seperti kamar rumah sakit lengkap, ada infusnya, ada oksigennya.. pokoknya lengkap Non…!!”
Reya teringat kamar di bawah yang dia sebut ruang ICU dengan berbagai perlegkapan rumah sakit itu.
“Soalnya, waktu itu .. kata dokter.. “ Bi Sarmi terdiam sejenak.
“Kenapa Bi?” potong Reya.
“Anu, kata dokter, Non Reya koma… dan entah kapan baru bisa sadar kembali.. atau bahkan jika sadar pun, mungkin saja Non akan cacat selamanya..”
Reya tercekat.
“ Makanya sekarang…. Aden, saya dan semua di sini bersyukur sekarang melihat Non bisa sadar.. dan semakin hari semakiin sehat..” Bi Sarmi tersenyum lega.
“Waktu itu Aden membawa Non ke sini, supaya setiap saat bisa mengawasi dan menjaga Non sendiri.  Setiap hari Aden mencoret kalender dan menghitung hari, menunggu kapan Non akan sadar.. “ suaranya memelan ” Sampai suatu hari Aden menyuruh saya menyimpan semua kalender itu.. Kata Aden.. semua hari dan tanggal itu ngga penting lagi di rumah ini karena kapanpun Non sadar, Aden akan tetap menunggu…”
Reya tertegun memandang Bi Sarmi yang tampak sungguh-sungguh, sejenak timbul perasaan terharu di hati Reya tapi kemudian ia kembali mengernyitkan kening.
Kalau memang betul.. begitu besar perhatian dan… cinta.. Lendra sama saya.. “ ujar Reya terbata, “Kenapa justru sekarang setelah saya sadar dia malah menghindari saya dan ngga mau menemui saya…”
Kalau soal itu.. saya ngga tahu Non.. mungkin suatu saat Non akan tahu sendiri.. “ jawabnya hati-hati.
Reya heran dan tak mengerti
            Bi Sarmi meninggalkan Reya tenggelam dalam pikirannya. Hari itu Bi Sarmi memberikan sebuah kalender, seperti permintaan Reya.

Banaran, 22.20wib

Reya berbaring telungkup di ranjangnya sambil membuka-buka kalender dan tampak bingung berpikir. Reya mencocokkan hari-hari dengan kejadian yang diingatnya.
Ini.. “sambil mencoret” 13 Oktober.. pertama kali aku mulai menghitung… “
Reya memandang coretan hitungan harinya dan mulai menghitung “5, 10, 15… 19 hari… berarti sekarang mestinya tanggal… “
Reya kembali menghitung di kalender menunjuk tanggal ” 24, 25, 26, 27…
Eh.. 1,2,3,4,5… aduh… kenapa tadi aku ngga nanya aja sama Parti sekarang tanggal berapa waktu dia nganterin ini.. “ Reya membanting kesal ke ranjang dan membalikkan tubuh sehingga tidur telentang.
Reya kembali bangun duduk dan mengambil kalender membuka-buka bulan sebelumnya lalu menunjuk-nunjuk beberapa tanggal dengan bingung.
“Kenapa aku sama sekali ngga ingat tentang kecelakaan itu.. “ Reya mendengus kesal.
“Mestinya aku tadi tanya Bi Sarmi kapan tepatnya aku kecelakaan dan kapan aku dibawa ke sini… bego banget sih… “ Reya membuka kalender lagi.
“Yang aku ingat justru.. “ Reya menunjuk di bulan April” ini aku wisuda… “
Terlintas dalam benak Reya sosok Fayo yang sedikit gempal dalam balutan toga di dampingi ayahnya dan beberapa teman tampak gembira. Juga seorang pria gagah ada di sampingnya, Randy.
“Selamat ya Fay “ teringat teman-teman mencium pipi Fayo.
”Hebat kamu”
Dan teringat betapa bahagianya perasaan Fayo saat itu. Fayo memang tak terlalu pandai, jadi bisa di wisuda adalah salah satu anugerah terbesar dalam hidupnya.
“Papa?? Randy?? Kenapa.. kenapa aku merasa dekat banget sama mereka..
Itu Papa aku dan calon suami aku… Fayo.. aku pasti Fayo… Kalau aku Reya.. lantas dimana keluargaku?”
Reya meletakkan kalender di sampingnya duduk lalu menelungkupkan dua telapak tangan kemukanya dengan sedih.
Sesaat suasana hening. Kemudian sayup-sayup terdengar suara ketukan kayu beradu di kejauhan. Reya terkesiap dan tampak takut.
Suara itu, suara itu lagi.. sebenarnya suara apa itu? Masa Bi Sarmi ngga tahu sama sekali…”
Hening mencekam. Suara ketukan mendekat makin kencang. Reya meringkuk merosot kesamping tempat tidurnya sambil memandang pintu dengan takut. Sejenak suara terhenti di depan pintu, lalu sepi. Seakan menunggu sesuatu.
Kemudian suara itu kembali terdengar menjauh.
“Bener juga, rumah ini gede banget, dan kamar Bi Sarmi juga pelayan jauh dari sini.. pantas mereka ngga pernah dengar suara-suara itu… “pikir Reya.
“Aku harus cari tahu.. sebenarnya apa yang terjadi di rumah ini…”
Reya berlutut memegang ranjang hendak berdiri dan terlihat ragu sejenak tapi kemudian menggeleng dan berdiri.
Kalau aku mau tahu siapa aku yang sebenarnya, dan semua pertanyaan yang mengganggu selama ini, juga mimpi-mimpi itu… Aku harus berani mencari tahu asal suara ketukan itu.. “
            Reya berjalan mendekati pintu.
“Mungkin saja ini ada hubungannya dengan Fayo atau asal mula ku yang sebenarnya…”
Reya berjalan pelan terus mendekat ke pintu dengan tegang. Suara ketukan sudah hilang. Reya berhenti di depan pintu tampak menunggu. Sebentar kemudian suara itu terdengar lagi dari arah lorong.
Reya menahan napas dan membuka pintu kamarnya pelan-pelan.
Lampu ruang tengah sudah dimatikan. Cahaya remang dari lampu taman masuk dari arah jendela-jendela yang tertutup tirai tipis.
Reya memandang ke kanan kiri ragu. Suara ketukan tak terdengar.
Pelan-pelan Reya menutup pintu kamarnya tak bersuara. Reya diam berdiri di situ sambil menunggu dengan tegang.
Tiba-tiba dari kamar sebelah yang selalu kosong terdengar suara ketukan itu berdetak tak berirama mendekati pintu yang ada di dekat Reya. Reya mundur ketakutan dan tegang, tak sadar Reya mundur terus menuju tangga.
Suara ketukan semakin keras dan pintu terbuka.
Napas Reya seakan terhenti ketika melihat pintu terbuka.
Sesosok bayangan besar gelap tak jelas dengan rambut ikal terurai panjang muncul dari balik pintu.
“Aaaaaahhh…..”
Reya berteriak histeris dan tak sadar dengan cepat melangkah mundur ke tangga.
Sosok gelap itu terdiam sesaat seperti menatapi Reya yang histeris, lalu Bayangan hitam itu maju mengejar menerkam Reya yang terus berteriak ketakutan. Reya semakin ketakutan dan menghindar hingga terjatuh ke tangga, dan bersamaan dengan itu sosok hitam mencengkeramnya erat dan mereka bergulingan di tangga.
Nafas Reya serasa terhenti dan ia melemas tak sadarkan diri.
Hanya terdengar suara gaduh seperti benda berat berjatuhan. Kemudian semua kembali sepi.
***

No comments:

Post a Comment