Reya terus memandang Fayo penuh kebencian dan Fayo hanya bisa menatap Reya tak percaya.
Fayo teringat saat Lendra bertengkar dengannya setelah makan malam di taman samping waktu itu. Saaat itu Lendra membentak Fayo dan mengatakan kalau Reya dan Fayo sama sekali tak mirip. Kalau Fayo tak ada apa-apanya dibanding Reya. Sekarang Fayo baru benar-benar tau apa maksudnya.
Fayo sangat terpukul dan merasa rendah diri.
“Ternyata benar kata Lendra.. seujung rambutpun aku ngga mirip dengan Reya..Reya begitu cantik dan sempurna… dan aku.. aku hanya.. “pikirnya dalam hati.
Jakarta, Kafe, sore malam hari
Reya dan Fayo duduk berhadapan dalam sebuah kafe . Malam itu suasana kafe tak terlalu ramai. Aurel duduk di meja lain agak jauh sambil mengawasi mereka.
“Maaf sebelumnya.. karena saya sudah lama ngga pulang ke Indonesia, dan baru saja pulang dari London hampir sebulan yang lalu, jadi saya ngga terlalu mengenal teman-teman Lendra di Jakarta.. “ kata Reya lalu diam sejenak, “ terutama yang dikenalnya saat saya pergi… “ sambungnya ketus.
Fayo hanya diam mendengarkan.
“Ternyata selama ini Reya tinggal di luar negeri… “pikir Fayo dalam hati.
Reya mengamati Fayo yang tampak diam saja dan canggung. Reya memajukan badannya dan mengintimidasi Fayo dengan tatapannya yang tajam.
“Saya ngga tahu siapa kamu.. dan saya juga ngga pengen tahu apa pun tentang kamu lagi.. tapi saya hanya mau peringatkan kamu.. jauhi tunangan saya.. jauhi Lendra.. kami akan segera menikah dan saya tidak mau ada skandal antara kamu dengan Lendra yang bisa mencoreng nama baik saya… “
Fayo mengangkat wajahnya menatap Reya dan mulai kesal.
“Sombong banget cewek ini…”pikir Fayo.
Reya menatap Fayo dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.
“Saya tahu.. kamu sudah banyak berkorban selama ini demi mendekati Lendra.. jadi, saya cukup mengerti.. “ Reya tersenyum sinis, “ Jangan khawatir…Saya ngga akan membiarkan kamu pergi dengan tangan hampa..Saya akan siapkan semuanya.. kamu tinggal sebutkan saja angkanya…”
Fayo menatap Reya tak mengerti.
“Kamu ini ngomong apa sih.. saya ngga ngerti.. “ jawab Fayo ketus.
“Sudahlah… jangan pura-pura lagi.. buat apa cewek seperti kamu” tuding Reya, “Mendekati cowok cacat seperti Lendra kalau bukan karena uangnya..”
“Lendra bukan cowok cacat!!” bentak Fayo.
Reya mendelik kesal dan mencibir.
“Apa menurut kamu terkapar di ranjang di pedalaman terpencil dan ngga bisa ngapa-ngapain itu ga cacat??!! Cibir Reya.
Fayo terkejut dan cemas. “Apa kamu bilang? “
“So any way… “ Reya tak menggubris Fayo. “Jadi?! Kalau bukan karena uang.. dengan alasan apa lagi kamu bisa bertahan di sampingnya?” sambung Reya dengan nada menghina, “Cinta?” Reya tertawa sinis.
“Saya rasa apa pun alasan saya.. itu bukan urusan kamu.. “geram Fayo.
Reya menghentikan tawanya dan menatap Fayo dalam-dalam. “Apapun alasan kamu.. kamu tetap harus meninggalkan Lendra..”
Fayo tersenyum sinis.“Kenapa? Kamu sendiri… kenapa ngotot meminta saya pergi?” Fayo balik menggertak.“Kelihatannya bukan karena cinta?” sindir Fayo.
Reya memajukan badannya dan menatap Fayo dingin. “Lendra milikku… selamanya milikku… “ kata Reya tajam. Reya menghela napas perlahan dan pelan-pelan menguasai diri kembali menjadi sikap yang anggun.“Mungkin kamu belum tahu siapa saya… “senyum Reya manis.
“Tapi setidaknya Lendra tahu… kalau saya sama sekali ngga butuh uangnya.. keluarga saya punya banyak uang yang sama banyaknya dengan dia.. “ Reya mendekap tangannya sambil bersandar tenang.
“Jadi selamanya dia ngga akan meragukan alasan saya untuk tetap ada di sampingnya.. “ Reya lagi-lagi tersenyum penuh kemenangan.
Fayo terdiam dan memandang Reya sambil menahan marah.
“Lendra sudah mencintai saya seumur hidupnya… “kata Reya.
“Sejak pertama kali kami bertemu.. waktu itu mungkin kami masih kecil..” Reya tampak berpikir mengingat.“Kami sama-sama ke swiss saat liburan bersama keluarga.. umur saya masih 11 tahun “ Reya tertawa kecil, “ dan Lendra mengajari saya main ski… “ Reya tersenyum manis dan menerawang seperti membayangkan saat-saat menyenangkan.
“Sejak itu.. Lendra selalu ada dimanapun saya berada.. “ Reya memandang Fayo yang tertegun, “ selalu hadir kapanpun saya butuhkan…” tambahnya lagi.
“Lendra mencintai saya..dan akan selalu mencintai saya..Kehadiran kamu sama saja dengan semua perempuan lain baginya, tak ada artinya.Karena selamanya Lendra hanya akan mencintai saya.R E Y A”
Reya memajukan badannya ke meja dan menunjuk dadanya saat mengeja nama R E Y A.
Fayo hanya diam tertegun tak mampu lagi menjawab.
Reya seperti membaca reaksi Fayo dan semakin merasa menang.
“Maaf.. mungkin.. apa terlalu menyakitkan buat kamu?” sindirnya.
Fayo mengangkat wajahnya dan memandang Reya kesal.
“Apa kamu terlalu mencintainya? Ngga sanggup menerima kenyataan kalau Lendra hanya mencintai saya, Reya?! Dan dia tak bisa hidup tanpa saya?” tawa Reya berderai.
Fayo berdiri kesal.
“Maaf.. saya rasa kamu salah menduga.. saya ngga ada hubungan apa pun dengan yang namanya Lendra.. apa lagi mencintai orang seperti dia..Saya mencari Lendra, hanya karena dia punya hutang sama saya… “ jawab Fayo dengan marah.
“Dia adalah orang yang sudah menghancurkan hidup saya… Dia adalah orang yang paling saya benci seumur hidup saya…Tanpa perlu kamu minta pun saya ngga sudi berhubungan lagi sama dia..!!!”Selamat siang!!” teriak fayo dengan kesal dan benci.
Fayo melangkah lebar meninggalkan Reya dengan marah.
Reya menahan senyum dan menyandarkan punggungnya dengan santai memandang kepergian Fayo.
Aurel berdiri dan mendekati Reya sambil menenteng ponsel nya dan keduanya tertawa senang. Mereka saling menepukkan tangan dan tertawa senang.
“Gimana? Oke kan?” ujar Reya sambil mengacungkan jempolnya.
Aurel tersenyum, “Eitt.. gua punya yang lebih oke..”
Reya mengernyitkan kening penasaran. Aurel mengangkat ponselnya dan menunjukkan ke Reya rekaman video saat Fayo memaki Lendra dan mengungkapkan kebenciannya.
“Wah lo hebat banget Rel… Gua aja ngga kepikir soal ini..” Reya tertawa senang.
“Someday you may need this, baby.. “senyum Aurel, “.. oh I love technology… “
Reya dan Aurel tertawa.
Serpong, sore hari
Fayo berjalan pelan sepanjang kawasan perumahan menuju ke rumahnya. Ia terus terbayang saat Reya menghinanya dan menyampaikan bahwa Lendra hanya mencintai Reya.Fayo sangat kecewa dan terpukul.
“Sekarang aku sudah melihat sendiri seperti apa Reya… perempuan yang selama ini kamu cintai.. Reya yang membuat kamu kehilangan semangat hidup.. “desah fayo.
“Sekarang dia sudah kembali… Pantaslah kamu sangat mencintainya, sangat cantik… kaya, beda sekali sama aku…”
Fayo mendekati sebuah bangku yang ada di tepi taman dekat jalan dan terduduk lemas menahan tangis.
“Kenapa kamu memilih aku Lendra? Kenapa aku? Kenapa kamu jadikan aku Reya? Untuk apa? Untuk apa kamu menghancurkan hidup aku begitu aja..Aku sudah kehilangan semuanya, papa.. Randy.. “Fayo tak bisa mengerti.
“Hanya untuk menemani kesepian kamu sementara tunangan kamu pergi.. Kenapa kamu jahat banget sama aku.. apa salahku? Kenapa kamu menyiksa aku kaya gini…”
Fayo menangis sedih.
Fayo terus teringat saat manis bersama Lendra di Banaran. Betapa lucunya tampang Lendra
saat Fayo menimpuknya dengan lumpur di kebun hingga kotor. Betapa beraninya Lendra mengusir ular yang akan mematuk Fayo. Betapa manisnya Lendra saat memeluknya sambil berjalan dan bercanda di sepanjang pantai.
“Untuk apa kamu berpura-pura manis sama aku…Lendra… kamu benar-benar jahat”
Fayo mengusap airmatanya dan berusaha menguasai diri.
“Ngga.. aku ngga boleh begini… toh sejak semula aku yang ingin mengakhiri semuanya.. Aku yang meninggalkan Lendra…Semestinya aku sadar, kalau cepat atau lambat Reya yang asli akan kembali.. Kenapa aku harus sedih…”
Fayo jadi teringat Reya telah mengatakan hal-hal yang menjelekkan Lendra. Fayo mengernyitkan kening.
“Tapi sepertinya Reya ngga mencintai Lendra… dia sepertinya ngga khawatir kalau Lendra sakit.. dan dia selalu menyebut Lendra sebagai cowok cacat.. “ pikirnya.
Ah.. siapa suruh dia menghancurkan hidup aku… biarin aja..Kalau memang Reya ngga mencintainya… biar aja itu jadi pelajaran atas semua kejahatan yang sudah dia lakukan sama aku..Punya istri seperti Reya pasti akan menyiksa Lendra seumur hidup…” pikirnya sinis.
Fayo mengusap air matanya dan memandang ke taman. Randy melihat Fayo duduk sendiri dan berlari kecil mendekat. Fayo menoleh melihat Randy datang dan tersenyum.
“Sorry.. udah lama ya, tadi macet banget.. ‘ Randy terengah sebentar sehabis berlari.
Fayo tersenyum dan menutupi bekas air matanya.
Randy duduk di sebelahnya dan segera menyadari kalau Fayo habis menangis.
“Hai.. ada apa?” tanyanya lembut. Randy mengelus kepala Fayo. Fayo menggeleng dan berusaha tersenyum. Fayo malahan teringat saat Lendra mengelus rambut Fayo sambil menatapnya.
Fayo menghela napas dan tersenyum canggung.
“Aku harus melupakan Lendra…” pikir Fayo dalam hati.
“Ayo.. “ dengan semangat Fayo berdiri, “ katanya mau makan? Aku udah laper nih..”
Fayo tertawa ceria dan mengusap perutnya. Randy tersenyum senang.
‘Ayo.. kamu mau makan apa?”
Randy merangkul Fayo dan berjalan menyusuri taman.
“Apa aja deh…” jawab Fayo.
***
Banaran, 12 Februari 2010
Reya duduk di kursi yang diletakkan dekat ranjang. Lendra terbaring lemah dan terlihat lebih kurus dan pucat.
‘Kenapa sih kamu ini .. ngotot ngga mau pulang ke Jakarta? Kamu kan sakit… aku jadi repot mesti bolak balik ke tempat ini.. mana jauh lagi..” ucap Reya kesal.
Lendra tetap diam saja.
Reya yang melihat reaksi Lendra menggeleng dan menghela napas kesal.
“Om Probo aja udah pesan supaya kamu dirawat di rumah sakit.. kenapa sih kamu ini bandel banget.. bisanya cuma bikin susah orang aja..” omelnya. Tapi Lendra tetap diam saja.
‘Oke deh.. aku tahu kamu marah,” sambung Reya melunak, “ tapi jangan gini dong Len.. “
Reya mendekat dan berusaha merayunya.
“Aku kan udah bela-belain pulang ke Indo karena mau ketemu kamu..Sorry deh.. setahun ini emang aku ngga hubungin kamu.. tapi..Kamunya juga sih.. “ Reya memandang sekeliling, “Ngumpet di pedalaman gini, ngga ada telepon, ngga ada internet, ngga ada apa-apa…how can I contact you?”
Pintu kamar Lendra diketuk. Reya menoleh. Bi Sarmi masuk membawakan minum untuk Reya.
“Taruh di sana aja Bi..” kata Reya.
Bi Sarmi meletakkan minuman sambil memandang Lendra sejenak, Lendra tersenyum di paksakan, lalu Bibi keluar ruangan dengan wajah sedih. Reya diam saja.
“Len.. jangan diem aja dong.. kok kamu gitu sih sekarang.. “ Reya diam sejenak dan berpikir, “Okey.. kamu masih inget kan permintaan kamu waktu di rumah sakit dulu, waktu terakhir kita ketemu..”
Lendra menoleh memandang Reya. Pikirannya kembali saat Lendra terbaring di rumah sakit dengan kondisi wajah masih cukup parah, bekas lukanya masih merah dan terlihat jelas, juga kakinya masih di bungkus gips tebal. Saat itu Reya berdiri menjauh darinya seperti menjaga jarak.
“Re.. please.. jangan pergi lagi.. jangan tinggalin aku..Bagaimana kalau kita tunangan aja.. kamu masih bisa tetep nerusin kuliah kamu di L.A..” mohon Lendra saat itu.
Dan waktu itu Reya terlihat malas menanggapi.
“Sorry but I think.. I don’t belong here…” jawabnya dulu.
Kini Lendra hanya mendengus dan tersenyum sinis mengingatnya.
“Sekarang” ujar Reya ceria, “I’m ready…aku akan kasi jawabannya.. tapi kamu harus janji ngga marah lagi..” Lendra tetap diam saja hanya menghela napas dan terlihat malas menanggapi.
“Bagaimana kalau kita tunangan sekarang? Secepatnya?” kata Reya sambil berjalan memandang ke jendela, “Kalau kamu memang ngga mau meninggalkan pulau ini.. kita bisa bikin a little party here..Pasti meriah.. “ Reya menatap ke sepanjang pemandangan indah di liuar jendela, “ beach party… dan aku akan siapin semua..”
Tiba-tiba Lendra setengah berteriak memotong angan Reya, “Re!!” bentaknya.
Lendra menegakkan duduknya dan terbatuk-batuk sedikit lalu menatap Reya.
“What’s up honey? Atau kamu mau kita rayain di Jakarta? Begitu juga boleh… kita bisa.. pakai salah satu hotel or our pub maybe?”
“Re!!” geram Lendra.
Reya berbalik memandang Lendra dan mulai tampak kesal.
“Apalagi sih Len? Kenapa?” gerutunya.
Lendra memalingkan muka tak tahu harus menjawab apa. Reya tampak kesal.
Sesaat terlintas Fayo dalam ingatan Reya, bagaimana cewek udik itu membentak Reya dan mengatakan kalau Lendra bukan cowok cacat. Reya sadar apa yang ada di pikiran Lendra.
“Kenapa? Apa kamu sudah berubah pikiran?” pancing Reya sinis.
“Apa yang terjadi selama aku pergi.. ,” tanyanya curiga, “ Selama ini kita emang sering jauh-jauhan, tapi kamu ngga pernah memperlakukan aku seperti ini.. “
Lendra menghela napas berat. “Apa karena cewek bantet itu?”tukas Reya kesal.
Lendra menoleh menatap Reya heran.
“Jangan bilang kalau sekarang selera kamu sudah berubah.. “sindir reya dengan nada cemburu dan memalingkan muka.
“Kamu pikir aku ngga tahu.. dia itu bukan cewek baik-baik..” katanya lagi.
“ Asal kamu tahu ya..Dia mendekati kamu cuma karena uang…” kata Reya sambil menjentikkan jarinya. Lendra menatap Reya marah.
“Ngomong apa sih kamu ini? Ngaco!!”sahut Lendra. Hatinya bertanya-tanya dari mana Reya tahu soal Fayo. Bahkan dia bisa tau kalo Fayo pendek.
“Dia itu ngga mencintai kamu.. “kata Reya, “ Perempuan itu cuma mau memanfaatkan kamu aja…Aku pernah ketemu dia..” sambungnya.
Lendra menatap penasaran. Reya tampak berpikir sejenak.
“Dia malahan bilang kalau sebenernya dia itu benci banget sama kamu..” ungkap Reya.
Lendra tertawa sinis.
“Kenapa? Kamu ngga percaya?” hati Reya panas melihat reaksi Lendra, “ Sungguh.. Aku punya buktinya..”
Lendra terdiam dan memandang Reya tak percaya. Reya mengeluarkan ponselnya dan membuka video rekaman Aurel tentang Fayo saat mengatakan bahwa dia membenci Lendra.
“Nih lihat aja sendiri…” cepat di sodorkan ponsel itu ke Lendra.
Lendra mengambil ponsel Reya dengan penasaran.
Dilihatnya wajah Fayo begitu marah.
“Dia adalah orang yang sudah menghancurkan hidup saya… Dia adalah orang yang paling saya benci seumur hidup saya…Tanpa perlu kamu minta pun saya ngga sudi berhubungan lagi sama dia..!!!”
Lendra terkejut mendengar dan melihat rekaman itu, sangat terpukul dan kecewa. Ternyata Fayo begitu membencinya.
Reya tampak senang mengamati reaksi Lendra.
Serpong, 12 Februari 2009, pagi
Fayo tampak sedang bersiap-siap berangkat kerja. Mbok ada di dekatnya dan membantu membereskan barang-barang.
“Hari ini mungkin saya pulang agak malam Mbok… jadi saya bawa kunci aja, biar Mbok ngga usah nunggu-nunggu.. “ senyumnya.
Fayo mengambil gepokan kunci dan memasukkan ke tas.
“Ini kan baru minggu pertama Non kerja? Masa sudah disuruh lembur?”
Fayo tertawa, “Bukannya lembur Mbok.. Cuma kan saya belum tahu seperti apa cara kerja di sana, saya masih perlu banyak belajar dan saya ngga jelas juga saya bisa pulang jam berapa, kata Mbak Lilis manager saya, kalau akhir minggu gini suka banyak kerjaan..” jelas Fayo, “mendingan saya anggap aja pulang malam, kalau seandainya sore sudah beres saya kan bisa pulang duluan.. Mbok ngga perlu khawatir..”lanjutnya.
“Iya Non.. Mbok doain kerjaannya lancar ya.. “
Terdengar suara klakson mobil. “Saya jalan dulu ya Mbok.. dah..”pamit Fayo
Fayo bergegas keluar. Mbok mengikuti dan memandang heran ke depan. “Dijemput siapa Non?
“Randy… udah ya..”Fayo melambai sambil tersenyum. Mobil Randy sudah menunggu di depan pagar , Randy membuka kaca depan dan menyapa Mbok, Fayo segera masuk.
Mbok melambaikan tangan dan mobil itu melaju pergi.
“Mas Randy? “ pikirnya heran. Mbok masuk kedalam rumah sambil sesekali menatap ke mobil yang menjauh sambil menggelengkan kepala.
Mobil Randy melaju di jalanan yang mulai padat. Randy sesekali menoleh menatap Fayo sambil tersenyum.
“Nanti siang kita makan bareng yuk..” ajaknya. Fayo menoleh.
“Kayanya hari ini ngga bisa deh Ran.. kemaren Mbak Lilis udah bilang hari ini aku banyak kerjaan, masa aku udah kabur?”
Randy tertawa, “ Ya kan tetep aja kamu ada jam istirahat makan siang.. masa ngga boleh keluar sih?”
“Bukan gitu Ran.. aku kan mesti mempelajari dulu kebiasaan disana, aku juga belum tau banget gimana rekan-rekan kerja aku… aku juga mesti cari teman baru… dan..”
“Asal jangan cowok baru ya…” potong Randy.
Fayo tertawa, “ Ya ngga lah.. ini aja aku masih tegang banget kerja di sana.. eh mana sempet mikirin cowok”
“Ya udah deh.. kalau gitu ntar pulangnya aku jemput.. sekalian kita pergi makan malam, gimana?”
Fayo menoleh menatap Randy.
Ingatan Fayo kembali pada Lendra, saat Fayo dan Lendra makan malam romantis berdua.
Fayo cepat mengerjapkan mata dan menggeleng seperti hendak membuang bayangan yang tiba-tiba muncul.
“Kenapa Fay?” tanya Randy heran.
“Oh.. nggak.. Cuma ..” sanggah Fayo, “aku kan belum tahu juga pulang jam berapa jadi..”
“Ngga papa, nanti kamu telepon aja bisa selesai jam berapa, kalau aku udah pulang duluan nanti aku tunggu..” potong Randy cepat-cepat, takut Fayo berubah pikiran.
Fayo memandang ragu.
“Ayo lah Fay… ini kan weekend pertama setelah kamu kerja, mesti dirayain dong.. ini kan termasuk hari yang spesial..” rayunya.
Kembali Fayo teringat saat Lendra membawa seikat bunga dan memberikan pada Fayo, malam terakhir sebelum mereka berpisah. Fayo menerima bunga itu dengan pandangan curiga. Dan saat itu Lendra berkata “Nothing special.. but everyday is special after you come to my life…ngga ada salahnya kalau kita rayakan”
Fayo menghela napas dan terlihat gelisah.
“Iiih, kenapa sih sekarang semua hal jadi mengingatkan aku pada kunyuk itu..kaya hantu aja muncul setiap saat.. gangguin banget.. “ pikirnya.
“Fay? Ada apa?” tanya Randy melihat Fayo melamun.
“Oh.. nggak .. ngga papa kok..” kilah Fayo gugup.
“Udah lah.. ngga usah tegang gitu.. santai aja… pasti kerjaan kamu lancar deh..”
Fayo tersenyum dan mengangguk. Tapi sepanjang perjalanan ke kantor pagi itu, semua benaknya hanya di isi oleh Lendra dan Lendra.
Banaran, siang hari
Pintu kamar ‘ICU’ terbuka, Dokter Probo keluar di iringi Reya, Bi Sarmi dan perawat.
Bi Sarmi tampak khawatir tapi hanya menunduk tak berani bicara. Mereka berjalan menuju ruang tengah
“Gimana Om? Kok penyakitnya ngga sembuh-sembuh juga.. malah sejak saya pulang dari London sampai hari ini kayanya semakin parah aja… apalagi pagi ini.. tau-tau kondisinya drop begitu..” Tanya Reya.
Dokter menghela napas dan memandang Reya. Bi Sarmi berjalan pelan ke dapur sambil mencuri dengar.
“Gini ya Re.. Lendra itu pernah mengalami luka di jantungnya sehingga mesti dijaga baik-baik.. ngga cuma kondiri fisiknya saja, tapi juga psikisnya..” Kata Dokter Probo hati-hati.
“Selama ini kan kamu cukup dekat sama dia, nasehatilah.. jangan terlalu stress.. dan kalau bisa mintalah dia meneruskan terapi jantungnya … at least di Jakarta…”
“Saya sudah berulang kali ajak dia ke Jakarta, atau ke singapore atau kemana aja.. yang penting Lendra bisa cepat sembuh.. tapi dia sama sekali ngga mau pergi dari rumah ini.. ngga tahu kenapa ..” tukasnya kesal.
Dokter dan Perawat menuju pintu keluar diiringi Reya. Dokter tampak berpikir sejenak dan teringat sesuatu.
“Ehm…. waktu itu.. terakhir saya ke sini, hampir setengah tahun yang lalu,” keningnya berkerut berusaha mengingat “sepertinya ada satu perempuan yang juga bernama Reya tinggal di sini. Apa kamu tahu, Re?” tanya Dokter Probo sambil memandang sekeliling.
“ Saya ngga melihatnya hari ini? Apa dia teman kalian juga?”
Reya mendengus kesal, “ Bukan.. pembantu… “ jawabnya ketus, “ udah di pecat…”
Reya menatap sinis, “Emang kenapa om nanyain dia..”
Dokter Probo tersenyum, “ Oh, Om kira dia temannya Lendra.. karena sepertinya mereka cukup dekat. Apalagi, saat itu Om lihat Lendra banyak berubah, dia mau meneruskan terapi jantungnya, bahkan pergi ke Amerika untuk melanjutkan operasi terakhir dan terapi kakinya..
Entah kenapa sekarang dia kumat lagi seperti ini?”
Reya tampak berpikir kesal.
“Ya sudah lah.. pokoknya kamu nasehatin saja dia.. Om pergi dulu ya..”
“Terimakasih Om.. “ senyum Reya.
Dokter dan perawat keluar rumah dan Reya menutup pintu. Setelah itu Reya tampak berdiri sambil berpikir.
“Jadi selama ini perempuan bantet itu tinggal di sini… “ gerutunya curiga, “Apa iya Lendra benar-benar suka sama dia… “
Reya tampak tak senang. Bi Sarmi memandangi Reya dari kejauhan.
Serpong, 22.35 wib
Mobil Randy mendekat dan berhenti di depan pagar rumah Fayo.
“Thanks ya Ran.. jadi ngga enak nih.. sejak aku kerja tiap hari kamu jadi antar jemput aku terus.. “ senyum Fayo.
“Ngga papa lagi.. aku seneng kok bisa ketemu kamu tiap hari…” Fayo menatap Randy yang terus memandanginya mesra. Tapi dalam benak Fayo malah terlintas saat Lendra dan Fayo saling bertatapan dan Lendra selalu menatapnya lekat-lekat. Fayo tersenyum getir dan keluar dari mobil.
“Hati-hati ya.. daah..” Fayo melambai. Randy membuka kaca dan melambai.
Mobil Randy berlalu. Fayo menghela napas sedih dan membuka pagar.
Mbok berlari kecil mendekat dan membantu membukakan menutup pagar.
“Anu Non.. ada tamu… “ kata Mbok.
“Tamu?” Fayo melihat jam di pergelangan tangannya, “Malam-malam gini? Siapa mbok?”
“Datangnya sih sudah dari siang Non.. Mbok sudah bilang Non pulangnya malam, tapi katanya mau tetap nunggu…”
Fayo mengernyitkan kening dan membuka pintu rumah. Fayo benar-benar terkejut melihat tamunya.
Bi Sarmi tampak duduk menunggu dengan gelisah dan segera berdiri melihat Fayo datang.
“Bi Sarmi?” Fayo segera menghampiri dan memeluknya erat.
Mbok tampak heran memandang mereka.
“Selamat malam Non.. aduh…maaf Bibi mengganggu.. “ lanjut Bi Sarmi ragu.
Fayo tampak senang menyambutnya dan mempersilakan duduk.
‘Aduh apa kabar Bi? Baik-baik aja kan.. ayo duduk..duduk..Mbok.. ini Bi Sarmi.. dia yang menolong saya selama ini… setelah kecelakaan itu” kata fayo memperkenalkan.
“Oh.. ,” si mbok mengangguk angguk tampak senang dan berterimakasih.
“Aduh.. terimakasih.. sudah menolong Non Fayo.. sehingga sekarang Non bisa kembali lagi dengan sehat… Wah kalau dari tadi bilang kan saya ngga perlu bingung-bingung.. Sebentar ya saya mau ke belakang dulu..” cepat Mbok menyahut.
Bi Sarmi tersenyum canggung. “Oh ya silakan…” kata Bibi.
Mbok tersenyum dan berjalan ke belakang membawakan tas Fayo.
“Bibi kok bisa tahu alamat saya di sini?” tanya Fayo sambil duduk di sebelah Bibi.
“Iya Non.. waktu itu Pak Atmo bilang ada yang melihat Non menanyakan arah ke Jakarta.. lalu saya minta tolong sama Security untuk mencarikan alamat Non… agak susah juga, makanya sudah beberapa bulan baru ketemu…”
“Maaf ya Bi.. waktu itu saya terpaksa pergi tanpa pamit.. “ Fayo menunduk.
“ Apalagi ngga ada telepon atau apa pun di sana, jadi saya juga ngga bisa kabarin Bibi.”
“Ngga papa Non.. tadinya Bibi juga heran, tapi.. Bibi bisa ngerti.. “ kata Bibi ragu.
Fayo menghela napas dan tampak gelisah.
“Apa.. apa Lendra baik-baik aja Bi? Terakhir, saya dengar Lendra sakit lagi… “ tanya Fayo.
“Justru itulah Non.. makanya Bibi jauh-jauh datang ke sini mencari Non.. “ nada bicara Bibi tampak sedih. “Ada apa Bi?” tersirat cemas di hati Fayo.
“Sejak Non pergi.. Aden sakit..Aden ngga pernah lagi keluar rumah.. obatnya juga jarang di minum, semakin hari sakitnya semakin parah Non..” Bibi mulai terisak, “ Bibi sudah ngga tahu lagi harus bagaimana…”
Fayo terdiam sedih dan bingung.
“Dulu waktu pertama ditinggal Non Reya yang bule itu aja.. ngga sampai seperti ini.. Walaupun malas berobat, tapi Aden masih tetap ke kantor, kerja, pergi, masih beraktivitas seperti biasa..” katanya lagi. Fayo memandang Bibi dan teringat pada Reya yang cantik.
“Tapi sekarang… sejak Non Reya” kata Bibi sambil menggenggam lengan Fayo, “ lari dari rumah… Aden benar-benar ngga bisa ngapa-ngapain.. Cuma bisa tiduuurr aja, makan dan minum juga susah, sampai harus dibantu infus… Non ngga tahu, hari itu, saat Non Reya pergi, Aden seharian ngelilingin pulau nyari-in Non, “ Bibi terus bercerita sambil menangis, “sampai tengah malam… bahkan sampai pagi Aden tungguin Non di pantai…Aden takut Non kenapa-napa..”
Fayo ikut menangis sedih dan menatap Bi Sarmi. “Apa benar Bi?” tanyanya lirih.
“Benar Non.. buat apa Bibi bohong… Sejak ngga ada Non Reya.. rumah jadi lain…”
Fayo menunduk sedih.
“Tapi Bi.. apa Bibi tahu.. “ Fayo diam sejenak ragu,” kalau sebenarnya…saya bukan Reya..” Sambungnya terbata. Bi Sarmi menatap ragu.
Fayo tersenyum getir, “Saya bukan Reya Bi.. jadi.. mungkin yang dicari … dan yang di harapkan Lendra sekarang.. itu bukan saya… “
Bibi menghela napas, ‘ Bibi sebenarnya juga ngga tahu ada masalah apa antara Non dan Aden.. Aden sama sekali ngga mau cerita… “ katanya sedih.
“Tapi Bibi tahu.. yang Aden cari dan harapkan ya Non Reya yang ini.. Bukan yang lain.. apa lagi Non Reya yang itu “ katanya dengan nada sebal.
“Siapa Bi?”tanya Fayo penasaran.
“Ngga lama setelah Non pergi, ada satu orang perempuan datang dan mengaku kalau namanya juga Reya, Non…” kata Bibi dengan semangat.
“Oh itu..” Fayo bergumam.
Bibi tampak heran, “ Non sudah tahu?”
“Saya pernah ketemu Reya…,” kata Fayo.
Bi Sarmi memandang Fayo heran dan tak mengerti.
“Ya dialah Bi yang sebenarnya bernama Reya.. dia tunangannya Lendra yang asli..”
“Apa Non?” katanya terkejut, “Lalu..”
“Nama saya Fayo.. saya bukan Reya, saya bukan juga tunangannya Lendra.. bukan juga istrinya.. Saya sendiri juga ngga tahu kenapa saya bisa menjadi Reya dan di bawa ke rumah itu “ Fayo menghela napas dan diam sejenak, “Maaf ya Bi… tapi..”
“Tapi Non… sejak kedatangan perempuan yang mengaku Non Reya itu.. semuanya jadi lain Non.. “ kata Bibi memotong dengan bingung.
“Setiap kali dia datang, pasti Aden tambah sakit.. ngga tahu orang itu ngomong apa saja, pokoknya setiap habis ketemu Non itu.. pasti malamnya Aden sakit, ya demam lah, ya itu lah.. “ katanya kesal.
Fayo memandang ragu.
“Non.. Apa.. apa Non ngga akan pulang lagi?”
Fayo menghela napas sedih. “Ini saya sudah pulang Bi.. ini kan rumah saya..”
“Maksud Bibi apa Non ngga mau kembali bersama Bibi ke Banaran?”
“Maaf Bi.. tapi tempat saya bukan di sana..Apalagi Reya sudah kembali.. dan saya dengar Lendra juga akan segera menikah..Buat apa lagi saya ke sana Bi?”
“Tapi Aden sangat mengharapkan kehadiran Non…” bujuknya, “ Aden bahkan ngga mau di bawa ke rumah sakit, ke Jakarta atau kemana pun.. Aden ngga mau keluar dari rumah.. “ kata Bibi kembali sedih, “ Karena Aden takut.. kalau-kalau suatu saat Non pulang dan Aden lagi ngga ada.. makanya Aden selalu menunggu di rumah… “
Fayo terdiam dan air mata kembali menetes.
Terbayang saat Lendra sakit tak sadar dan Fayo menjaganya semalaman dulu.
Fayo diam menahan tangis.
Mbok mendengarkan dari dapur dan tampak berpikir dia tetap diam di sana tak berani keluar.
Bi Sarmi menangis sedih.
“Bibi mohon Non… pulanglah dengan Bibi… “
Fayo tampak bingung. Tapi mengingat papanya yang meninggal dan Randy yang sudah menikah Fayo menggeleng lemah.
“Maaf Bi.. tapi saya ngga bisa.. ,” jawabnya pelan.
“Lendra terlalu banyak menyakiti hati saya.. Karena kehilangan saya.. Papa.. satu-satunya orang tua dan keluarga saya, meninggal dalam kesedihan…Rencana pernikahan saya batal, dan tunangan saya menikah dengan orang lain…Saya bahkan ngga tahu kenapa Lendra memperlakukan saya seperti itu…Saya masih belum bisa memaafkannya… “ tangis Fayo.
“Tapi Non… Aden..”
“Maaf Bi.. tapi saat ini.. saya bener-bener belum bisa..”
Bi Sarmi menunduk sedih dan kecewa. Fayo terlihat sedih .
Rumah Randy, 00.55 wib
Sitta menyisir rambutnya dan mengenakan pakaian tidur sexy.
Randy yang baru selesai mandi masuk ke kamar, sekejap melirik istrinya lalu cepat-cepat naik ke tempat tidur dan menarik selimut. Sitta tampak kesal dan memandangnya.
“Akhir-akhir ini.. sikapnya berubah sekali…Pagi-pagi buta sudah berangkat.. tiap malam selalu lembur.. bahkan hari libur pun dia selalu beralasan apa aja supaya bisa pergi dari rumah…
Pasti ada apa-apanya…”
Sitta naik ke ranjang dan mendekati Randy. Randy cepat menutup mata pura-pura tidur.
‘Ran.. “ ia menggoyang badan Randy, “Ran…” panggilnya.
“Apa sih? Aku capek banget nih!! “ Randy menggerutu kesal.
Sitta cemberut.
“Kenapa sih akhir-akhir ini sikap kamu aneh banget? Pasti kamu macam-macam di luar!!”
“Ahh.. apaan sih.. kalo ngomong dipikir dong.. gangguin orang istirahat aja”
“Emang tingkah kamu mencurigakan kok… tiap hari pulang malem.. hari minggu kamu juga pergi, ngga pernah ada sedikit pun waktu buat aku…Ran.. aku ini kan istrimu… belum juga setahun kita nikah.. masa kamu sudah begini..”
Randy bangkit dari tidur dan duduk dengan kesal.
“Orang suami pergi kerja kok dicurigain terus.. aku kan cari uang juga buat kamu!!”bentak Randy.
“Kamu pikir ini semua dari mana.. “ Randy mengangkat tangan ke sekeliling dan juga menunjuk ke pakaian dan perhiasan yang di pakai Sitta, “ Dari mana?!!” bentaknya lagi.
“Kamu pikir beli ini ngga pake uang.. kamu belanja, shopping, dari mana uangnya?!!”
Randy berdiri marah dan Sitta terlihat agak takut.
“Kamu tu ya.. ngga bisa bikin suami seneng, jadi jangan salahin aku kalau sampai aku ngga kerasan tinggal di rumah… kamu pikir aja sendiri..!!” tukas Randy ketus.
Randy berjalan marah keluar dan membanting pintu kamar.
Sitta tertegun dan tampak kesal.
Ancol, 14 Februari 2010
Fayo duduk termenung di tepi pantai tempat dulu dia dan Lendra ke sana.
Tiba-tiba terdengar dering ponsel, sejenak Fayo mencari-cari dalam tasnya, lalu mengangkatnya.
“Hallo?”
“Hallo Fay? Kamu lagi di mana? Dari pagi aku cari kamu kemana-mana.. handphone kamu juga ngga aktif…” suara Randy terdengar kesal.
Fayo menghela napas, dingin.
“Sorry Ran.. aku baru keluar…, “balas Fayo tak semangat.
“Kamu di mana? Biar aku ke sana sekarang?”
“Ini kan minggu.. apa kamu ngga keluar sama istri kamu?” tanya Fayo.
“Fay.. kamu kok ngomongnya gitu sih.. “ gerutu Randy.
“Pokoknya sekarang kamu di mana… aku ke sana sekarang…”
Fayo mengela napas dan memandang kedepan tak semangat.
“Aku di Ancol..”
“Ya udah.. kamu tunggu di sana.. aku datang sekarang”
Telepon di tutup. Fayo kembali menghela napas dan memandang ke pantai sedih.
Ia ingat saat Bi Sarmi mengunjunginya. Kata kata Bibi terus terngiang di benaknya.
“Sejak Non pergi.. Aden sakit..Aden ngga pernah lagi keluar rumah.. semakin hari sakitnya semakin parah Non.. Bibi sudah ngga tahu lagi harus bagaimana…
Non ngga tahu, hari itu, saat Non Reya pergi, Aden seharian ngelilingin pulau nyari-in Non sampai tengah malam… “
Fayo menutup mulutnya dan berusaha menahan tangis.
“Apa yang harus aku laku-in sekarang.. aku bener-bener ngga tahu.. “
Saat manis bersama Lendra di pulau terus terbayang.
Fayo menangis sedih sendirian.
“Kalau aja aku ada sedikit uang, aku bisa saja ke dokter untuk menanyakan masalah ingatanku. Tapi aku nggak mau ngerepotin Bu Lik..Padahal mungkin kalo ingatanku kembali aku akan lebih rela melepas Lendra..”pikirnya.
Randy menyusulnya ke pantai. Fayo sudah tak lagi menangis, ia duduk di sisi lain pantai bersama Randy. Randy tampak bersemangat dan terus bercerita, di sebelahnya Fayo hanya melamun tak memperhatikan Randy.
Fayo dan Randy berjalan bersisian di pantai. Randy mengajaknya merayakan valentine bersama, tapi Fayo tampak tak bersemangat dan malahan meminta pulang lebih awal.
Fayo teringat sesaat setelah Bibi pergi malam itu, Mbok datang menemuinya.
“Maaf Non.. bukannya Mbok mau ikut campur tapi.. kalau Mbok boleh tahu, Sebenarnya hubungan Non dan Mas Randy…”
Fayo menoleh dan memandang Mbok. “Kenapa Mbok?”
“Anu.. tapi sepertinya Mas Randy akhir-akhir ini semakin dekaaattt aja sama Non Fayo” Fayo tersenyum. “Tapi.. bukannya Mas Randy itu sekarang itu sudah menikah Non… , “ katanya hati-hati.
“Ngga baik… nanti apa kata orang… juga apa kata istrinya, kalau tahu Non Fayo dekat sama suaminya…”
Randy memandang Fayo dengan kesal.
“Ada apa sih Fay? Dari tadi aku datang kamu kok ngga merhatiin aku sama sekali?” kata Randy dengan nada kesal.
“Oh.. sorry Ran.. aku.. aku lagi banyak mikirin kerjaan aja.. “ kilahnya.
Randy memandang curiga.
“Masa mikirin kerjaan aja sampai segitunya sih.. “
Fayo hanya menghela napas dan tersenyum canggung. Randy tampak berpikir sejenak lalu menatapnya serius.
Fayo tetap saja melamun. Ia ingat malam itu, Fayo sedang berbaring di ranjang dan Mbok sedang duduk di sisinya sambil melipat baju.
“Kenapa sih Non ngga mau cerita.. sebenarnya ada apa yang terjadi selama Non menghilang.. apa Mbok ngga boleh tahu?” Fayo menghela napas ragu dan memeluk bantal sedih.
“Tadi Mbok dengar.. pembicaraan Non dan tamu yang Non panggil Bi Sarmi …Sepertinya, Non ada masalah ya.. “
Fayo terdiam sedih.
Randy menggeleng dan menggandeng Fayo.
“Kenapa Fayo sekarang seperti menjauhi aku.. dia ngga lagi memuja dan membutuhkan aku seperti dulu…Apa karena Sitta? Apa karena status aku sekarang?” pikirnya dalam hati.
Randy dan Fayo berjalan menyusuri pantai sambil berdiam. Tiba-tiba Randy berhenti dan menatap Fayo.
“Aku akan menceraikan Sitta…” kata Randy tegas.
Fayo terkejut dan menatap Randy ragu.
“Kita sudah menyia-nyiakan waktu begitu lama… Aku ngga mau kehilangan kamu lagi, Fay..” tatap Randy serius. Fayo tampak gelisah dan ragu.
“Kita punya banyak kenangan manis bersama… dan.. kalau pun aku pernah bersalah sama kamu.. sekarang aku akan menebus semuanya… selamanya…”
Fayo menghela napas bingung dan ragu. Randy menggenggam ke dua tangannya.
Fayo dan Randy berhadapan di pantai. Hati Fayo penuh kebimbangan.
Banaran, 14 Februari 2010
Di kamar ICU, Lendra berusaha bangkit sendiri dari tempat tidurnya. Sejenak dia terduduk di tepi ranjang, pusing. Lendra terlihat lebih kurus dan pucat. Lendra berusaha meraih tiang infusnya dan berusaha berdiri sambil mendorong tiang infus itu.
Di Ruang Tengah dua orang pelayan sedang merapikan meja makan.
“Katanya Nona besar hari ini datang lagi ya?” kata Narti.
“Iya.. makanya sekarang kita diminta menyiapkan makanan begini banyak.. , “ sahut Rati agak kesal, “ padahal nanti juga belum tentu di makan.. “
“Lain sekali ya sama Non Reya yang satunya… kalau yang dulu kan orangnya sederhana.. ramah sama siapa saja..ga neko-neko..ga suka perintah ini itu… “
Rati menghela napas,”Sayang sekali dia ngga akan pernah pulang ke sini lagi…”
Narti terkejut, “Masa.. dari mana kamu tahu?”
“Kata Udin, Bi Sarmi sudah pernah datang ke rumahnya di Jakarta..” lanjut Rati setegah berbisik.
Lendra berdiri tertegun di belakang pintu, dengan nafas tersengal, sambil memegang daun pintu kamar nya yang tertutup.
Pelayan selesai membereskan meja dan berjalan ke dapur pelan sambil melanjutkan permbicaraan mereka. “Sepertinya keputusan Non sudah bulat.. kata Udin selamanya Non ngga akan mau kembali ke sini lagi…” Narti memandang heran.
“Kenapa sih? Masa cuma karena berantem begitu aja Non sampai semarah itu..Apa jangan-jangan gara-gara.. Nona besar?”
“Ngga tahu deh.. tapi kata Udin, Bi Sarmi sampai nangis-nangis minta Non pulang.. tapi katanya Non sudah terlanjur kecewa dan benciii sekali sama Aden.. makanya Non ngga akan pernah pulang lagi… selamanya… se-la-ma-nya…”eja Rati memastikan.
Lendra tertegun, tampak sangat sedih, lemas, lalu ambruk pelan menabrak pintu.
Tiang infus tertarik dan jatuh ke lantai. Bunyi berisik berdebuk dan berdenting saat logam tiang yang ambruk bersama Lendra menyentuh lantai.
Pelayan terkejut mendengar suara jatuh dari dalam kamar ICU dan keduanya menoleh serentak memandang ke arah kamar.
Sore, 15.30 wib
Bi Sarmi berlari tergopoh-gopoh membawa baskom air dan seorang perawat yang sudah menunggu dekat pintu kamar ‘ICU’ segera menyambutnya dan mereka masuk ke dalam kamar. Reya tampak menunggu di ruang tengah sambil duduk membaca majalah. Sesekali Reya memandangi kesibukan Bi Sarmi dan Perawat tadi dan kembali membaca.
Sejenak kemudian pintu kamar ICU terbuka dan Dokter Probo keluar sambil menggelengkan kepala.
Reya berdiri dan menghampirinya.
“Bagaimana Om? Ada apa lagi sih?” Reya bertolak pinggang dan terlihat sebal.
“Padahal I’ve already invited some friends to have a surprised valentine party here…”
Probo menghela napas, “Reya.. Lendra ngga bisa menunggu lebih lama lagi.. dia harus segera dirawat intensif.. walaupun peralatan di sini cukup lengkap, tapi kan tidak ada dokter jaga yang merawatnya… “ ia menggelengkan kepala tak habis pikir. Kalau saja orang tua atau saudaranya masih ada, mungkin Lendra tak akan dibiarkan seperti ini.
“Om ini kaya ngga tau Lendra aja.. dasar kepala batu.. “ gerutunya kesal.
“Makanya dari kemarin-kemarin kan Om sudah bilang supaya kamu pintar-pintar membujuk dia…”
“Percuma Om, Lendra ngga mau dengerin omongan saya.. Dari halus sampai kasar… tetap aja ngga mau dengerin… Om sendiri kan lihat tadi begitu kita bilang mau bawa paksa dia ke rumah sakit langsung deh kaya gitu…”
Dokter Probo menggeleng lagi teringat saat Lendra tengah meronta-ronta sambil berteriak-teriak marah. Bi Sarmi dan Perawat dan beberapa penjaga sampai memegangi dan terus menenangkannya, Reya hanya tampak cemberut di dekat mereka.
“Ngga.. ngga mau!!! Pokoknya aku ngga mau ke rumah sakit!! “ teriaknya.
“Aku ngga mau pergi dari sini…”
Bi Sarmi memeganginya sambil menangis dan terus memanggil namanya.
“Tenang Lendra.. ini kan untuk kebaikan kamu.. betul kata Reya.. kamu mesti ke Jakarta,” kata Dokter Probo. “Ngga!!! Ngga Om..Pokoknya aku ngga akan kemana-mana!! “ teriak Lendra terpatah-patah diantara sengalan napasnya.
Sebentar kemudian Lendra memegang dadanya dan terlihat sesak napas, Bi Sarmi semakin panik. Tubuh Lendra melemah. Dokter kembali menghela napas dan menggelengkan kepala.
“Om masih ngga ngerti kenapa dia tetap memaksa untuk tinggal di sini… satu-satunya harapan Om Cuma kamu… , “ ia menepuk bahu Reya.
“Ngga tahu deh Om… Reya ngga yakin sanggup… “ Reya memandang ke pintu kamar ICU, “Se-nggak-nya sekarang ada perawat yang membantu merawat Lendra di sini…””
Ya, tapi tetep aja, Lendra perlu perawatan intensif di rumah sakit.. segera setelah dia bersedia.. Om takut.. Lendra ngga akan sanggup bertahan lebih lama lagi, jika kondisinya terus menerus ngga stabil seperti ini…”
Reya menghela napas. Dokter berjalan menuju keluar dan Reya mengikuti.
“Oh ya dan mengenai rencana pertunangan kalian?” tanya Dokter Probo.
Reya memandang Dokter sejenak.“Apa ngga sebaiknya di tunda dulu..” lanjutnya.
“Kita sudah menunggu too long… rasanya lebih cepat lebih baik kan Om.. tadinya aja saya pengen hari ini supaya berkesan dan sekalian bebarengan dengan perayaan Valentine, tapi ternyata susah juga mengatur catering dan gown designer nya supaya menyiapkan hari ini…” seraya menjentikkan jari kesal, “ So.. saya akan tunda beberapa minggu ke depan. Apalagi sekarang Lendra sakit, nantinya kan Reya bisa lebih sering menemaninya… kalau..”
“Justru karena Lendra masih sakit, apa ngga sebaiknya di tunda setelah kondisinya lebih baik… acara pesta seperti itukan cukup mengganggu istirahatnya, dan bisa menguras tenaga Lendra… “ potong Dokter Probo.
“Dia kan bisa pake kursi roda sebentar, nanti kalau dia capek tinggal di kembali-in aja ke kamarnya.. makanya pestanya nanti juga akan diadakan di sini.. jadi Lendra bisa istirahat kapan aja…” desak Reya.
“Apa Lendra sudah setuju?” Dokter Probo memandang serius.
“Ya sudah lah Om…” ujar Reya. Dokter menggeleng sebentar.
“Ya Terserah lah.. kalau memang itu mau kalian.. “ katanya pasrah. Reya tersenyum.
“Jangan lupa datang ya Om.. acaranya kan .. mungkin dua minggu ke depan.. Ajak juga Tante Thea, Gian dan Javin…okay?” kata Reya manis. Dokter Probo tersenyum.
“Ya , nanti Om usahakan.. “ Dokter keluar ruangan dan meninggalkan rumah. Reya tampak tersenyum-senyum senang.
“Sebentar lagi aku akan jadi calon Nyonya Lendra.. “ pikirnya.
***
Serpong, 21 Februari 2010
Hari itu Fayo dan Mbok ada dalam mikrolet yang tak terlalu penuh. Mereka membawa barang-barang belanjaan pulang dari pasar. Mbok tampak memeriksa kantong plastik belanjaannya tadi.
“Aduh Non.. celaka.. gula jawanya kelupaan…”
Fayo memandang terkejut dan memeriksa tentengannya.
“Lho gimana sih Mbok… kok bisa kelupaan” Mbok memandang Fayo yang tampak bingung.
“Apa ngga bisa diganti gula pasir aja Mbok… “
“Ya ngga enak lah Non kalau pakai gula pasir…”
“Habis gimana dong?” sergah Fayo.
Fayo dan Mbok memandang ke sekeliling jalanan yang di lewati dan tampaklah sebuah mini market. Fayo menepuk badan mobil. “Stop stop Bang…” teriaknya.
Mobil berjalan memelan dan berhenti di tepi jalan.
“Udah Mbok pulang aja dulu.. nanti saya nyusul…” kata Fayo sembari membayar ke sopir mikrolet.
Mbok memandang Fayo ragu lalu memandang ke mini market yang agak jauh di seberang.
“Jangan deh Non.. kok perasaan Mbok ngga enak… nanti jangan-jangan… “ katanya bingung sendiri teringat pernah kehilangan Fayo.
“Ngga papa Mbok.. Nanti kan Mbok bisa siapin lainnya dulu..”
“Tapi.. “ Mbok terlihat ragu.
Penumpang lain terlihat tak sabar. Kernet yang berdiri di tepi pintu juga memandang tak sabar.
“Jadi turun ngga Neng?!” katanya kesal.
Terpaksa Mbok dan Fayo cepat-cepat turun berdua karena Mbok tak mau melepas Fayo pergi sendirian.
Mbok dan Fayo segera menuju kemini market dan mencari gula jawa di antara susunan rak yang berjajar rapi..
“Maaf ya Non.. habisnya Mbok kok jadi teringat kejadian waktu itu.. Mbok jadi takut sendiri..”
Fayo tersenyum. Mbok dan Fayo membawa gula jawa ke kasir.
“Mbok aja yang terlalu khawatir… “ senyum Fayo.
Fayo membayar, Mbok mengambil barang belanjaan yang tadi di titipkan.
Mbok dan Fayo berjalan keluar dari Minimarket.
Saat mereka hendak keluar, sebuah mobil lewat dan Randy bersama Sitta ada di dalamnya. Randy dan Sitta terlihat suntuk dan seperti sehabis bertengkar. Mbok dan Fayo sedang akan terburu-buru menyeberang jalan.
Fayo tak melihat mereka karena sedang memandangi belanjaannya. Mbok yang melihatnya seperti terkejut dan berpikir.
“Eh Non.. Non Fayo “ tunjuknya, “ sepertinya….”
Fayo mengangkat wajah dan melihat ke arah mobil Randy. Reaksinya berubah.
Selintas dalam pikirannya teringat saat ia dulu saat tergesa keluar dari minimarket membawa santan dan terkejut ketika tak sengaja melihat mobil Randy melintas seperti hari itu.
Saat itu teringat oleh Fayo, di dalam mobil Randy dan Sitta terlihat sangat mesra. Sitta menyenderkan kepalanya di bahu Randy dan sesekali menciumnya sambil tertawa mesra.
Fayo sangat shock.
Lintasan peristiwa masa lalu berlompatan dalam benaknya.
Mbok merasa khawatir memandang Fayo.
Terbayang saat Fayo berada di dalam taksi sendirian dengan gelisah mengikuti mobil Randy hari itu.
Fayo maju agak ke tengah jalan sambil memandang mobil Randy yang sudah jauh.
Sekejap sebuah motor melintas dan menyerempet Fayo yang lengah. Mbok cepat menarik lengan Fayo. Fayo tetap limbung dan terjatuh ke belakang, tak sengaja kepalanya terbentur ke pinggiran jalan.
Mbok terkejut dan berteriak minta tolong. Fayo memegang kepalanya kesakitan. Mbok kebingungan.
***
No comments:
Post a Comment