Thursday, November 24, 2011

Benang Merah - skenario eps.2

Eps.2

1. INT: KORIDOR KAMPUS.MALAM
VINARA, ANDY, SITTA, ARYA, BETTY, TEMAN-TEMAN ANDY

Vinara menangis di sudut lorong. Duduk di lantai sambil memangku tugasnya. Lemas.
Ponselnya terus berusaha menghubungi Andy.

INTERCUT

Andy berjalan menjauh dari keramaian dalam sebuah tempat bilyard. Serombongan orang dengan asap rokok mengepul, setumpuk uang ratusan ribu dan lima puluhan ribu tergeletak di meja bilyard. Betty duduk di sudut, tangannya memegang stik, memandang tak suka Andy yang menjauh.

VINARA
Hallo.. (terisak)

ANDY
Kenapa Vin? (menjawab dengan enggan dan matanya terus menerus melirik ke arah kawan-kawannya yang berisik)

VINARA
Kamu di mana? (berusaha menguasai diri)

ANDY
Eh… (gugup)
Sorry Vin ga kedengeran? (Andy menjauh-jauhkan ponsel dan menggoyang-goyangkannya supaya terkesan suara rusak) Hallo.. hallo..

VINARA
Hallo… Hallo… (sedih, terbata-bata)

ANDY
Aku baru jaga pameran nih, berisik!! Ntar ya.. Nanti aku telepon lagi (setengah berteriak, cepat-cepat menutup ponsel dan mematikannya.)

Andy menghampiri teman-temannya. Betty tersenyum, merangkul menyambutnya.

VINARA
Hallo… (tertegun, kecewa, kembali menangis sedih)

Sitta dan Arya tampak mencari-cari Vina ke beberapa sudut kampus.
Arya tampak sangat cemas.
Setelah melihat Vina ada di ujung lorong mereka berlari kecil mendekat.

ARYA
Vin..!! (langsung menghambur dengan cemas dan berjongkok di depan Vina)
kamu ga papa? (cemas)

Vina mendongak memandang dengan sedih. Arya menyibakkan anak rambut Vina.

SITTA
Kok bisa gitu sih… gimana sebenernya.. (katanya setelah dekat)

VINARA
Ga tau… (terisak sedih membolak-balik buku tugasnya)
Kamu tahu sendiri kan gimana aku bikin tugas ini..
Masa katanya tugas ini jiplakan dari anak kelas A..

ARYA
Kamu tahu siapa yang membuat tugas sama dengan ini? (mengambil tugas dari tangan Vina)

Vina menatap Arya sedih. Menggeleng sambil mengusap air matanya yang tak kunjung berhenti. Berusaha menguasai diri.
Sitta menatap prihatin dan duduk di sebelah Vina.
Arya menegakkan punggungnya dan tampak berpikir keras.

VINARA
Jenny…. (suara tertahan, kembali terisak)…

SITTA
Jenny?? Jenny Rosanti yang rambutnya keriting?? (heran)

Vinara mengangguk sedih.

ARYA
Kok bisa sih? Bu Sri tidak mungkin menuduh kamu tanpa sebab. (berpikir sejenak)
Besok pagi coba kamu temuin dia lagi, tanyakan permasalahannya dengan jelas. Dari mana kamu tahu kalau tugasmu bisa kebetulan sama dengan Jenny?
Kalau temanya sama… aku rasa Bu Sri nggak keberatan.. kan pembahasannya bisa aja beda.

VINARA
Bukan kebetulan lagi Yak… tapi sama… sama persis… (nada tak mengerti)

Vina memandang Sitta dan Arya yang tampak bingung.

SITTA
Sama?? Sama gimana..

VINARA
Sama persis Ta… dari judul, tulisan, isi bahkan sampai ke susunan huruf… pokoknya semua deh… aku juga ga ngerti.. tapi..

ARYA
Dari mana kamu tahu kalau se persis itu..

VINARA
Aku tu lihat sendiri… Bu Sri yang memberikan tugas Jenny itu ke aku, dan semuanya sama.. Cuma sampulnya aja yang beda ilustrasinya…

SITTA
            Yang bener Vin…. (terkejut)

VINARA
            Masa aku bercanda si Ta… masalah kaya gini kok.. (tertekan)

Arya berpikir sejenak. Tampak teringat sesuatu.

ARYA
            Tadi siang kamu bilang… tugas kamu hilang kan??

VINARA
            Ee… iya…

SITTA
            (Sitta terkesiap.)Bener Yak!!! Jangan-jangan…

VINARA
            Maksud kamu…

ARYA
            Sebaiknya kita segera cari Jenny.. dia pasti tahu kenapa bisa begini..

VINARA
            (Menghela napas pasrah)
Aku sudah cari kemana-mana, ngga ada yang lihat dia (kesal)
Kata anak-anak mungkin sudah pulang.. aku juga udah cari alamat kostnya, ngga ada juga yang tahu. Telepon dan no ponselnya juga ngga ada yang tahu…

SITTA
Aduh jadi kita mesti gimana dong.. (ikut panik)

Arya, Vina dan Sitta terdiam dan berpikir.

ARYA
            Besok pagi-pagi kita tunggu dia di kampus, pasti dia besok masuk kan..

VINARA
Tapi kata Bu Sri nilainya sudah akan dimasukkan malam ini. Dia bilang, sebaiknya aku mengulang saja di semester depan.. (menangis lagi) Gimana Sit.. kamu tau kan susahnya aku cari uang buat biaya kuliah… kalo mesti ngulang.. dan kalo sampai masalah ini sampe ke dekan aku mesti gimana?

SITTA
Hah… aduh gimana ya.. (panik)

ARYA
(mengernyitkan kening memandang Sitta dan Vina) Tenang dulu deh, aku kenal cukup baik dengan Bu Sri, dia dosen yang bijak kok. Kalau kita jelaskan pasti dia ngerti. (menenangkan, memegang lengan Vina perhatian)
Jangan sedih dong.. besok pasti beres deh… (menenangkan, tersenyum, matanya lekat pada Mala)

Vina menatap Arya ragu.
Sitta memandang perubahan raut wajah Arya dan tangannya yang mengusap lengan Vina. Sebersit senyum kecil, kerling mata yang menunjukkan Sitta menangkap sesuatu yang lain dari perasaan Arya pada Vinara.
Vina yang tetap lemas, tak membaca perubahan sikap Arya.

CUT TO

2. EXT: HALAMAN KOST VINARA.MALAM
ARYA, SITTA, VINARA

Vina, Sitta dan Arya sampai di pintu pagar kost.

ARYA
            Masuk gih.. istirahat… jangan sedih lagi ya..

Vina mengangguk dan tersenyum.

VINARA
            Thanks ya Yak… (memandang Sitta) kamu??

SITTA
            Eh…Duluan deh aku mau nanya-nanta soal tugas dikit ama Arya…

Vina tersenyum, mengangguk, melambai pada Arya dan Sitta lalu berbalik dan masuk.
Sitta dan Arya berdiri di depan pagar memandang Vina sampai menghilang di pintu.

ARYA
            Bisa ceritain ke aku sekarang?

Sitta menghela napas dan berjalan ke arah teras lalu duduk. Arya mengikuti dan duduk di sebelahnya.

SITTA
Kasihan Vina, Mamanya udah lama meninggal.. (berhenti sejenak, menoleh menatap        Arya yang serius memperhatikan)
Trus papanya juga meninggal waktu dia masih SMA.
Padahal dia anak satu-satunya, dan kebetulan juga… keluarganya .. yahh ( agak tak enak mengucapkan) agak sedikit kurang mampu, ehh (takut salah bicara) atau pas-pasan aja lah… (memainkan jemari tangannya) jadi ya sejak itu, dia hanya hidup dari peninggalan yang seadanya, dan sedikit bantuan dari kerabat-kerabatnya.

Arya membungkukkan badan dan menangkupkan kedua telapak tangannya sambil berpikir sedih. Sitta memandang ke langit.

ARYA
            Maksudmu? Vina…? (menegaskan pernyataan Sitta dengan sedih)

SITTA
Ya.. Vinara itu udah yatim piatu (berhenti sejenak menatap Arya yang terkejut)
Dan ga Cuma itu, di sini bener-bener ga ada sodara… sebatang kara… kasihan banget ya..

ARYA
Tapi.. (seperti ragu).. untuk bisa masuk kuliah di universitas kaya gini kan perlu biaya besar.. dan juga … biaya hidupnya??

SITTA
Disitulah hebatnya Vina!
Memang dia mendapat keringanan biaya karena mendapat ranking bagus semasa SMA dan waktu ujian masuk perguruan tinggi, dan sepertinya dia pernah bilang kalau dapat pengurangan biaya khusus dari kampus.
Makanya, kalau kasus pemalsuan tugas kaya gini menimpa Vina, bisa-bisa semua fasilitas yang di dapatnya dengan susah payah, dan program beasiswanya itu bisa dicabut dari kampus.

Arya menghela napas kesal, tak habis pikir dengan kejadian itu.

SITTA
Belum lagi semua usahanya yang lain, kerja sana sini untuk menambah biaya kuliah dan,… (bingung) aduuuh.. kok sial banget si.. kenapa bisa begini…

Arya terpekur dan tampak berpikir sedih.

CUT TO

3. INT: MOBIL ARYA.MALAM
ARYA

Arya menyetir sambil menerawang. Terngiang perkataan Sitta.

Suara Sitta: Sejak SMA dia udah kerja, terutama untuk membantu biaya sekolah, bahkan sampai bisa masuk kuliah dan tinggal di Jakarta kaya sekarang ini! Karena Vina selalu ingat pesan Papanya sebelum meninggal supaya Vina bisa sekolah tinggi dan jadi wanita karir yang sukses. Tidak seperti Papa Mamanya yang bahkan tidak bisa lulus SD dan harus hidup susah. Papanya ingin kehidupan Vina lebih baik.
Bantuan dari keluarganya yang lain tidak seberapa, karena mereka sendiri juga hanya sadara jauh, paling kalo sempet ketemu Vina, ya di kasi sedikit bekal jajan.
Kamu juga tau sendiri kan! Vina itu sibuk banget, kerja terus tiap ada waktu luang..ngasi les anak-anak SMP, SMA gitu, ikut agen asuransi, magang kerja permbukuan, ya buat nambah biaya kuliah, kalo ada tugas dan buku yang mesti di beli, buat bayar kos, buat makan…
(menghela napas sedih)
makanya kalo sampai harus mengulang karena masalah seperti ini…(tercekat)
rasanya ngga adil banget deh…

Arya menghela napas sangat sedih. Menggeleng kepalanya berusaha menghapus suara Sitta. Tak menyangka bahwa ternyata dibalik keceriaan Vinara banyak sekali hal yang tak diketahuinya.
Tangannya memukul setir di depannya.

CUT TO

4. INT: RUANG KARAOKE.MALAM
IAN, MELLANI, TEMAN-TEMAN IAN

Teman A (laki-laki) menyanyi sumbang sambil berdiri di depan, ditemani seorang perempuan muda dengan gaya menggoda yang menggelayut mesra.
Ian tampak menenggak minuman beralkohol.

CU: meja penuh dengan putung rokok dan gelas-gelas juga botol-botol minuman keras yang sebagian besar telah kosong.

Seorang waitress merapikan meja dan mengambil botol dan gelas kosong dan menggantinya dengan yang baru.
Beberapa orang teman Ian berpasangan menikmati suasana.
Mellani menggelayut manja pada Ian dalam keadaan mabuk.
Ian memandang Mel dengan kesal dan mendorongnya menjauh.

MELLANI
            Uhh… apa.. sih… (terputus-putus setengah sadar)

Mel memandang Ian dengan mata setengah tertutup, kening berkerut dan terbatuk pelan, sesaat kemudian roboh tak sadar ke sandaran sofa.
Ian membuang muka, mendengus kesal. Wajahnya tak tampak mabuk sama sekali. Tatapannya kosong.

CU: duka diwajah Ian dengan latar belakang slow motion suasana gembira teman-teman Ian.

CUT TO

Theme song 5 img. Pandangi langit malam ini by Jikustik

INT: KAMAR KOST VINARA.MALAM (videoclip)
Vina dengan tatapan kosong duduk disamping jendela menatap langit.
Shoot kamar Vinara, buku-buku, boneka di ranjang, gambar-gambar di dinding, terakhir ke meja belajar dekat Vina duduk.
Meja rapi, dengan foto-foto terpajang. Foto Vina sendiri. Vina dan Papa. Vina dan teman-teman. Vina dan Andy. Vina meraih foto Vina dan Andy, menatapnya dengan luka.
Air mata Vina menetes menjatuhi kaca pigura foto. Vina mengusap foto itu dan meletakkan terbalik/tertutup di atas meja. Menghela napas sedih dan terisak memandang langit malam.
CU: langit gelap, bintang-bintang. Satu bintang bersinar terang. CUT TO

INT: KAFE_BILYARD.MALAM
Andy duduk melamun. Betty merangkulnya. Hingar bingar diskotik.
CU Wajah Andy membayangkan Vina. Betty menggugah Andy dari lamunannya dan Andy tersenyum memandang Betty. CUT TO

INT: KAMAR ARYA.MALAM
Arya berbaring di ranjangnya. Matanya memandang langit-langit kamar dengan sedih. Terbayang Vina yang duduk bersimpuh menangis di kampus tadi. CUT TO

INT: KAMAR KOST VINARA.MALAM
Vina terisak di pinggir jendela. Sesekali memandang ke langit. CUT TO
Meraih foto orang tua Vina dan menatapnya dalam dengan sedih.

Flashback :
5. INT: PASAR. SIANG
VINA, PAPA VINA, FIGURAN

Vina dan Papa di pasar. Papa Vina membereskan keranjang-keranjang besar berisi ikan asin. Mengangkat keranjang berat itu sesekali dibantu Vina. Vina ikut merapikan kiosnya.

PAPA VINA
            Makanya Vin… (sambil terus merapikan dagangan berbicara tanpa menatap Vina)
Kamu jangan sampe putus sekolahnya. Sebisa mungkin sekolah, sampe jadi sarjana, jadi insinyur, jadi dokter… pokoknya jadi orang pinter… jadi kamu ga perlu kerja di pasar seperti Papa.

Papa Vina berhenti dan menatap Vina yang berdiri di sebelahnya.

PAPA VINA
Papa kepengen liat, Vina bisa jadi wanita karir, kerja di kantor, gedung besar, bisa ke luar negeri, dapat uang banyak.. (semangat sambil tertawa senang)

VINARA
(Vina ikut tersenyum.) Pasti Pa… Vina janji, Vina ga akan ngecewain Papa..

Papa Vina tertawa senang.

PAPA VINA
            Nah itu baru anak Papa..

Vina dan Papanya tertawa.

CUT BACK TO
Foto Papa Mama Vina.
Vinara lalu menangis sambil memeluk foto itu. Isaknya yang tertahan makin lama makin keras.

EXT: JALANAN.PARKIRAN KARAOKE.MALAM
Ian berdiri sendiri di depan pintu keluar Karaoke. Mematikan api rokok dengan menginjak puntungnya. Menghela napas sedih. Menyibakkan rambutnya.
Ian berjalan lunglai dengan tangan di dalam saku celana mendekati mobilnya. Sampai didekat mobil ia berbalik dan menyandar di pintu lemas. Wajahnya sedih menatap langit malam. Bintang berkelip. CUT TO
Wajah sedih Vina. CUT BACK TO
Wajah sedih Ian.

End Theme song 5

CUT TO
Commercial break

6. INT: KORIDOR KAMPUS.SIANG
ARYA, VINARA, SITTA, JENNY

Vina dan Sitta berdiri cemas dan gelisah menatap sesekali ke lift, menunggu kedatangan Jenny. Sesekali berjalan hilir mudik.
Arya muncul dengan setengah berlari menghampiri mereka.

ARYA
            Gimana… (terengah)

Vina menggeleng lemas. Menunduk.
Sitta juga menghela napas.

SITTA
            Belum datang tuh…

ARYA
            Tenang.. (tersenyum)
            Aku bawa kabar bagus buat kamu.. (menatap Vina)

Vina dan Sitta memandang Arya penasaran. Penuh harap.

ARYA
Aku sudah ketemu dengan Bu Sri pagi ini. Dan aku menceritakan masalah kamu….

VINARA
            Lalu… apa katanya..

ARYA
Kalau Jenny datang nanti, kita ajak dia menemui Bu Sri. Beliau baru ada kelas jam 9. (Arya melihat arlojinya).
Masih ada waktu. Kamu sudah bawa kan semua data dan catatan tugas kemarin…

Vina mengangguk agak tenang, penuh terimakasih. Sitta tersenyum. Sitta kembali melihat ada yang lain pada Arya. Arya tampak memandang Vina penuh arti.
Vina yang sedang kalut tampak cuek dan tak memperhatikan sikap Arya.

CU Pintu lift terbuka. Jenny datang.
Arya, Vina dan Sitta memandang tegang.
Jenny berdiri di hadapan mereka, menatap tak senang.
Mereka saling berhadapan

CUT TO

7. INT: RUANG DOSEN/DEPAN RUANG DOSEN.PAGI
ARYA, SITTA, VINARA, JENNY, DOSEN

Arya dan Sitta menunggu di depan ruang dosen sambil gelisah. Sesekali mengintip lewat jendela kaca.

CUT TO

Vina dan Jenny tampak tegang duduk dihadapan dosen. Dosen sedang memeriksa data dari Vinara. Jenny tampak kesal dan gelisah, memandang Vina dengan geram.

DOSEN
Saya putuskan untuk melakukan test pada kalian.
(Bu Sri memandang Vina dan Jenny bergantian)
Saya hanya punya waktu sampai jam 9. Jadi sekarang juga saya minta kalian melakukan presentasi atas laporan ini secara terpisah.

Wajah Vina tampak lega, jenny tampak kalut.

JENNY
Tapi Bu.. (tak puas)

DOSEN
Saya rasa tidak perlu dipelajari lagi kan, kalau memang benar-benar kalian sendiri yang menyelesaikan tugas ini…
Vinara …

VINARA
Ya bu… (tegang, ekspresi senang)

DOSEN
Tolong tinggalkan kami sebentar, giliran kamu yang berikutnya.

JENNY
(Gelisah -Bicara dalam hati : Aduh mati gua… gimana nih <melirik Vina> sialan si Betty, kalau tau begini kemarin gua ngga akan nyetujuin usulnya…)

Vina berdiri dan keluar ruangan.

CUT TO

Arya dan Sitta menyambut gelisah.

SITTA
            Gimana… Apa katanya…
            (sambil menarik tangan Vina)

VINARA
Bu Sri akan melakukan test lisan, sekarang Jenny yang sedang ditest duluan… (memandang ke arah jendela yang keliatan Jenny sedang panik menjawab pertanyaan dosen)
Habis ini baru giliranku… (tersenyum tenang)…

ARYA
Kamu pasti bisa… (tersenyum menepuk pundak Vina)

Vina dan Sitta tampak tegang. Vina mengangguk menanggapi perkataan Arya.

CUT TO

Jenny gelisah, mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Bu Sri mencoret-coret menandai sesuatu di tugas Jenny. Bu Sri menghela napas dan mengangkat wajahnya memandang Jenny yang berharap cemas.

DOSEN
            Baik… coba kamu panggilkan Vina…
            (Berdiri berbalik dan mengambil tugas Vina)

Jenny dengan cemas beranjak keluar dan membuka pintu.

JENNY
            Giliranmu.. (pelan, cemas)

Vina yang sedari tadi tegang masuk dengan iringan tepukan di bahu dari Arya dan Sitta.

ARYA
            Tenang aja…. Okey…

Vina mengangguk dan masuk.

DOSEN
            Tunggu Jenny… kamu duduk saja disini… tidak perlu tunggu di luar.

Jenny yang semula hendak menunggu di luar mengurungkan langkahnya.
Jenny berbalik lalu ikut duduk kembali di sebelah Vina.

DOSEN
Karena tugasnya sama… (mengangkat alis) saya akan mengajukan pertanyaan yang sama…

Jenny dan Vina tampak tegang.
Suara dosen mengajukan pertanyaan memelan. Kamera menjauh.

CUT TO

8. INT: KORIDOR KAMPUS.SIANG
ARYA, SITTA, RULLY

Sitta tampak menunggu dengan gelisah.
Ponsel Arya berbunyi. Arya berjalan menjauh.

ARYA
Hallo… (suara di seberang tak terdengar)

Sitta menatap Arya.

ARYA
Jadi kamu bisa … oke deh..
Sekarang udah selesai kan kelasnya. Kalo gitu aku tunggu.

Arya menatap sekeliling melihat-lihat.

ARYA
Iya di depan ruang dosen. Lt.7 ya….
Oh kalo gitu langsung aja.

Arya menutup telepon dan tersenyum senang.
Sitta menatap ingin tahu.

SITTA
Ada apa Yak?

Arya tersenyum misterius.

ARYA
Tunggu aja…

SITTA
Apaan sih…

Arya tersenyum, menatap ujung koridor. Dari tikungan muncul Rully. Arya melambai.
Slow motion Rully datang.
CU Wajah Sitta heran
CUT TO Rully jalan mendekat

9. INT: KORIDOR KAMPUS.SIANG
BETTY, JENNY, TEMAN-TEMAN LAIN

Betty dan Jenny berdiri berhadapan sambil bertolak pinggang. Mereka tampak sangat marah dan bertengkar hebat.

BETTY
            Bego lu ya!!! Masa kerjaan begitu aja lu ga bisa sih.. (membentak)

JENNY
Kok jadi lu marah ama gue??! Seharusnya gue dong yang marah ama lu!! (tak kalah galak sambil mendorong Betty ke belakang)
Gara-gara elu..(sambil menuding) gue mesti ngulang lagi semester depan… tau!!!

BETTY
Heh..!! Lu berani berlagak ya.. Ga tau siapa gue!! (mendorong balik)
Itu kan elu sendiri yang bego, masa pembahasan kaya gitu aja lu ga bisa jawab… Kalo emang otak lu encer (menuding kepala) bikin dong si Vina itu yang ngulang… bukannya malah elu… dasar bego…

JENNY
Jangan katain gua bego-bego ya… ini semua gara-gara elu.. tau!!

Beberapa teman yang lewat mulai datang ikut memperhatikan pertengkaran.
Teman A(perempuan) datang berlari menguak kerumunan yang mulai ramai menonton.

TEMAN A
            Bet… lu dipanggil Bu Sri… (terengah)

Betty menoleh dengan kesal. Secepat kilat langsung berbalik menjambak rambut Jenny dan mendorongnya ke lantai.

BETTY
            Dasar bego!!! Lu bawa-bawa gue ya…

Yang menonton segera bergerak melerai. Jenny berusaha menendang balik dengan emosi.

JENNY
Lu kira gua mau nanggung ini sendirian.. Gua udah bilang kan gara-gara elu.. liat aja.. jangan kira lu bisa lolos.. (teriak kesal)

BETTY
Bego…!!! (berusaha meraih baju Jenny)

TEMAN B(LAKI-LAKI)
Udah.. udah… (melerai memegangi Betty yang kalap dan menarik menjauh) lebih baik lu selesai in dulu masalah ama Bu Sri..

JENNY
Heh punya mulut di jaga ya.. (mengayunkan tangan hendak menampar Betty)

Betty menghindar, tamparan tak kena, Betty dengan gusar dan maju menarik kalap baju Jenny sekenanya. Sambil memaki-maki.

BETTY
            Kurang ajar lu ya…. Bener-bener (geram)
Berani lu ngelawan gue… Belagu ya…

Teman-teman maju melerai dan menjauhkan dua orang yang masih saling memaki dan berteriak marah.
Kerumunan pelan mulai bubar, Jenny dan Betty terus ditarik menjauh kearah yang berbeda. Keduanya masih saja saling melempar pandangan sinis dan makian.

CUT TO

10. EXT: HALAMAN KAMPUS. SIANG
ARYA, SITTA, VINARA

Vinara, Sitta dan Arya berjalan pelan sambil membahas masalah tadi.

VINARA
Thanks ya Yak… kalau nggak karena kamu, mungkin aku ngga bisa nyelesai in masalah ini (memandang Arya penuh terimakasih)

ARYA
Ga papa .. emang kamu yang bener kok, jadi kamu ga perlu kawatir…

SITTA
Iya… duh untung terakhir Rully juga bersedia datang sebagai saksi ya..
(memandang Arya) Kamu kok bisa tau kalo Rully…

VINARA
Iya Yak… kok tau kalo Rully yang pertama kali nemuin tugasku?

ARYA
(menepuk dada sambil tertawa bercanda)
Gini-gini kan aku detektif profesional… mata-mata ku banyak…

Vina, Sitta dan Arya tertawa.

SITTA
Nah.. sekarang pulang deh istirahat. Udah ga ada kuliah lagi kan ntar sore.
Semaleman kamu ga tidur lho..

ARYA
Jangan gitu dong, walopun ada masalah kamu juga harus jaga kesehatan kamu. Udah makan belum?? (penuh perhatian)

Vina menggeleng, agak jengah.

VINARA
Aku kan hari ini ada les siang di tempat Intan… (melirik arloji)

ARYA
            Makan bareng dulu yuk, ntar aku anterin ke tempat Intan sekalian…

Vina memandang Sitta, mulai merasa ada yang sedikit janggal dengan perlakuan Arya yang sebelumnya tak disadarinya.

VINARA
Em.. anu… aku lupa.. ada janji sama Andy juga.. (gugup mencari alasan, melirik Sitta meminta dukungan)
Kamu duluan deh, nanti aku nyusul..

Sitta membuang wajah, dengan ekspresi”jangan bawa-bawa gue – ga ikut-ikut deh”            
Arya tampak menyesal. Vina tambah merasa sungkan dengan ekspresi Arya.

VINARA
Sorry ya… aku.. jalan dulu deh… Thanks banget ya..(menggeser posisi menjauh)
Sit..kamu mau makan atau.. (memandang ragu ke Sitta)

SITTA
Ee… aku juga mau ketemu Rully.. bareng deh. (menggamit lengan Vina)
Lain kali ya Yak.. (melambai) kita cabut dulu !!

Arya tampak tersenyum sedih dan melambaikan tangan memandang Sitta dan Vina yang menjauh. Arya berbalik dan berjalan ke arah kantin.
Sitta dan Vina berjalan tergesa ke arah senat dan di tikungan berhenti mengintip kepergian Arya dari balik dinding.

SITTA
            Gimana sih kamu.. (memukul lengan Vina) Kasihan tahu..

VINARA
            Aduh.. habis gimana.. sebenernya ga papa sih.. tapi..

SITTA
            Takut ya… (meledek)

VINARA
            Takut apa?! (pura-pura cuek)

SITTA
Udah jelaskan, dari dulu si Arya tu suka banget ama kamu. Kamu aja yang ga pernah percaya kalo dibilangin… (tertawa kecil)

VINARA
Nggak ah.. emang dia baik kok ama semuanya. Lagian aku kan udah punya cowok… (jengah)

SITTA
Ah kamu… sebelum janur kuning melengkung… (tertawa) siapa aja boleh dong deketin… ha.. ha..

VINARA
Jangan becanda ah.. (memukul lengan Sitta kemudian berjalan menjauh)

SITTA
Beneran mau ketemu Andy? (masih sambil tertawa kecil, mengejar Vina)

VINARA
Nggak, katanya tadi sih ada kelas siang ini jadi nanti sore aja mau ajak aku keluar sekalian anterin ke toko buku.. Aku mau ke rumah Intan dulu nih, ntar sore pulang ngelesin baru mau ke toko buku, ada beberapa materi yang mesti di cari buat ngelengkapi soal Dini kemarin…

SITTA
Payah.. masa kencan ke toko buku mulu… sekali-sekali libur dong cari uangnya. Masa tiap hari ga ada brentinya sih kalo ga tugas, belajar, ya ngajar… ga capek tu otak… (tertawa kecil)

VINARA
Ah kamu…. Eh.. katanya mau ketemu Rully (menggoda balik) aku bilangin si Jo lho..

SITTA
Huu .. Itu kan alasan doang biar bisa pergi bareng kamu tau…

Sitta dan Vina tertawa bersama. Mereka berjalan keluar halaman kampus sambil bercanda.
Dari sudut lain tampak Agnes mencuri dengar pembicaraan mereka. Agnes berbalik dan berjalan ke arah kampus.

CUT TO

11. INT: KORIDOR KAMPUS. SIANG
AGNES, BETTY, TEMAN LAIN

Betty berjalan keluar dari ruang dosen dengan kesal. Memukul pintu lalu berdiri menyandar di depan pintu ruang kuliahnya dengan wajah marah.
Beberapa teman perempuan menghampiri.

TEMAN A(PEREMPUAN)
Gimana….

Betty menatap mereka kesal lalu membuang muka lagi.
Tampak berpikir dengan kesal.

BETTY
Gara-gara Vina sialan itu, masa gua jadi ikut kena peringatan dari Bu Sri.
Aahh.. ga usah dibahas deh… (mengibaskan tangan)
Males gua!! (sangat kesal)

TEMAN B(PEREMPUAN)
Terus apa rencana lu selanjutnya? Masa lu diem aja…
(menghampiri dan bersandar dekat Betty)

BETTY
(memandang ke teman B dengan sebal)
Mana mungkin!! (diam sebentar, pandangan geram)
Dasar kurang ajar… lihat aja lu Vin.. gua pasti akan buat perhitungan ama lu.. (dendam)
Gua akan buat lu menyesal seumur hidup!!

Teman A dan B berpandangan misterius lalu tersenyum sinis.

TEMAN A
Gua tau gimana caranya…
(ikut menyandar di sebelah Betty)

BETTY
Apa maksud lo? (penasaran)

TEMAN A
Bukannya lu pengen si Andy balik lagi ama lu…
dia cowoknya si Vina kan sekarang…

Teman A memandang Betty dengan penuh arti. Betty menanti dengan tatapan licik.

BETTY
Selama ini sih, gue rasa gue udah berhasil kok nge-gaet si Andy lagi.
Cuma untuk kepastian… tinggal tunggu tanggal mainnya aja…

Teman A berjalan ke hadapan Betty dan Teman B.

TEMAN B(PEREMPUAN)
Nah, sekarang lah saatnya.. (tersenyum licik, menatap teman A)
(Betty memandang keduanya penasaran)

TEMAN B
Dari sumber yang terpercaya.. (mengerling ke teman A, tersenyum) sore ini mereka akan pergi kencan.
Jadi lu atur-atur aja deh.. Gimana caranya supaya si Andy ngebatalin acaranya ama kunyuk satu itu..

Betty terkejut, tersenyum senang dan tampak berpikir dengan tatapan licik. Ketiga orang itu melempar pandangan dan senyum sinis.
Agnes di sudut lain memandang diam-diam ke arah Betty dan teman-temannya, tersenyum misterius dan pergi.

CUT TO
Commercial break

12. INT: RUANG DUDUK KOST VINARA. SORE
VINA, RULLY, QISTY, TEMAN KOST VINA

Vinara berjalan masuk ke kost dengan berkas di tangan dan tentengan tasnya.

TEMAN KOST
Baru balik ya? Udah di tungguin Qisty tuh. (menyapa begitu melihat Vina datang    sambil menunjuk ke arah Qisty yang berdiri di dekat meja makan)

VINARA
Oya? Ada apa? Sitta kemana? Udah berangkat ya?
(berhenti lalu menatap Teman A)

TEMAN KOST
Iya dia udah berangkat duluan sama si Jo. (menatap Vina)

Qisty datang dan menghampiri Vina dan Teman Kost.
Vina dan Teman kost menatap Qisty yang datang sambil merapikan bajunya.

QISTY
Kamu beneran nggak mau ikutan kita Vin? Udah rapi gitu. (memandang Vina dari atas ke bawah) Baru dari nge-lesin lagi ya?
Udah lah berangkat aja yuk, ikutan.

VINARA
Sorry Qis, aku tapi udah ada janji ama Andy…

QISTY
Ala… paling juga dia batalin lagi…

Vina menatap Qisty bingung.

VINARA
Tapi tadi siang sih katanya dia bener-bener bisa kali ini…
(menaikkan tali tasnya di bahu)
Aku masuk dulu deh.. berat nih..

QISTY
Mendingan kamu telepon dia deh Vin.. siapa tau dia berudah pikiran lagi.

Vina tersenyum, menoleh memandang Qisty dan berjalan ke kamarnya.
Setelah Vina masuk ke kamarnya dan menutup pintu Qisty berjalan ke arah meja makan dan duduk di sana.
Suara dering telepon di ruang tengah. Teman kost Vina yang sedang menonton TV mengangkatnya.

TEMAN KOST VINARA
Hallo…

RULLY
Hallo, bisa bicara dengan Vina?

TEMAN KOST VINARA
Sebentar ya.. (dia beranjak mengetuk kamar Vina memanggilnya)
Vina.. telepon….!! (teriak, lalu kembali ke tempat duduk semula)

Vina berlari dari kamarnya segera. Pasti Andy pikirnya. Tas segera di letakkan diranjang.

RULLY
Hallo, Vin…

VINARA
O Kamu Rul… (Vina menghela napas.. kecewa)
            Tumben sore-sore telepon? (mengeryitkan kening)
Bukannya ada rapat di senat? Udah selesai ya?

RULLY
(Heran)Siapa bilang ada rapat? Ga ada kok?
Minggu ini kan banyak tugas, jadi.. sementara belum ada hal penting, ya kegiatan senat di - cool down – in dulu..

VINARA
(Vina tampak bingung)
Kata Andy dia ada rapat di senat dan mau pulang bareng kamu. (berhenti sejenak) Kalau semalem?? (penuh selidik)

RULLY
            Kalau semalem emang kita ada kuliah sampe agak malem.
Dan tadinya dia juga bilang mau pulang bareng gua. Ternyata gua tunggu-tunggu sampe malem, dan ga pamitan juga, tau tau udah ga ada tu orang.
(Rully merubah posisi duduknya, memindah telepon dari kanan ke kiri)
Bukannya semalem dia keluar sama kamu, katanya mau ke pool..

Vina terkejut, terdiam bingung.
Tidak menyangka mendengar tentang kebohongan Andy lagi.
Terbayang dalam lamunan Vina. Flashback :
Andy dan Vina duduk bersebelahan di bawah pohon di halaman kampus sore hari sebelumnya. Andy tampak merayu Vina mesra.

ANDY
Sorry ya Yank, hari ini pulang kuliah malem aku ada acara survei resto untuk kegiatan amal senat. Bareng ama Rully kok… kalo ga percaya tanya dia aja.

Vina tersenyum pasrah.

VINARA
            Ya ga papa kok. Aku percaya ama kamu..

ANDY
Besok sore deh, aku janji pulang kuliah aku langsung ke kostmu. Kita ke toko bukunya besok aja.. gimana…

VINARA
Ya.. boleh juga.. beneran lho tapi… jangan bo’ong lagi.. (merengut manja)

ANDY
Duh sayang.. sumpah deh… (merayu)

Mereka tertawa berdua. INTERCUT

RULLY
            Hallo?? Vina??

VINARA
Oh eh.. iya.. (terbata-bata, menutupi kalau Andy bohong)

RULLY
Makanya hari ini aku mau nanya ama kamu…

VINARA
Eh.. kenapa? (belum hilang kagetnya)

RULLY
Apa si Andy ada di kostmu? (berhenti sejenak)
Hari ini dari siang udah ga keliatan. Malah madol 2 mata kuliah.
Aku ada pesan nih dari Pak Mario.. (nada santai)

VINARA
            Nggak masuk kelas? (berbisik lirih)

RULLY
            Hallo apa?? Ga jelas Vin?

VINARA
            Eh, enggak.. iya, tadi memang ada janji, sore ini kita mau keluar. (terbata-bata)
            Nanti aku sampein deh.. Aku suru telpon kamu ya..

RULLY
            Ya udah, call ke HP aja ya, mungkin aku masih di jalan..
            Okey, thanks…

Rully menutup telepon dengan sedikit heran.
Vina menutup telepon dengan bingung. Vina bergegas kembali ke kamarnya.

CUT TO

13. INT: KAMAR VINARA/LOBBY BIOSKOP. SORE
VINARA, ANDY, BETTY, QISTY
 
Vinara cepat menutup pintu dan duduk di tepi ranjang sambil berpikir.

(Dalam hati Vina berkata: Akhir-akhir ini memang Andy sering beralasan macam-macam dan bertingkah aneh. Apa ada sesuatu ya? Sitta dan yang lain juga pernah memperingatin aku soal kelakuan Andy, tapi kalau aku konfirmasi ke dia, selalu ada saja alasannya. Rapat ini lah, tugas itu lah, survei ini, pameran itu… Ehm… Mungkin lebih baik aku tanya lagi aja.)

Vina meraih ponselnya di atas meja dan menghubungi Andy.

CUT TO LOBBY BIOSKOP

Andy sedang berdiri di antrean loket bioskop. Ponselnya berdering.
Cepat diangkat sambil memandang sekeliling khawatir.

VINARA
            Hallo..??

ANDY
            Hallo Yank.. kebetulan kamu telepon, aku baru aja mau telepon kamu.. (mesra)

VINARA
            Ada apa, Ndy?

ANDY
            Sorry banget ya… kayanya hari ini aku ga bisa temenin kamu lagi deh.
            (menoleh khawatir, gugup)

VINARA
            (terkesiap) Ehm… (berusaha bicara)

ANDY
Tapi aku janji deh, lain kali beneran aku pasti temenin kamu.(memotong Vina yang tengah mencoba bicara)
            Udah dulu ya.. (tergesa) nanti maleman aku telepon lagi.. I love you..

VINARA
            Eh, tunggu.. (telepon sudah terputus)

Muncul Betty menghampiri Andy yang masih berdiri di antrian.

BETTY
            Siapa?? (tersenyum manis)

ANDY
            E.. nggak, nyokap… (mematikan ponselnya)

Betty meraih lengan Andy dan memeluknya mesra. Andy memasukkan ponsel ke saku dan membalas pelukan Betty.

INTERCUT TO : Vinara berusaha menelepon Andy lagi. Tapi tidak aktif. Suara operator telepon bahwa telepon Andy tidak aktif atau di luar jangkauan.
Vina gelisah.

BETTY
Makasih ya Ndy, hari ini elo udah nemenin gua seharian. (menunjukkan ekspresi sedih)
Gua nggak tahu lagi mesti ngadu ama siapa..
Cuma lo yang bisa hibur gua… (memeluk Andy mesra)

Andy tersenyum, mempererat pelukannya dan mengelus rambut Betty.
CUT TO Vina

Qisty mengetuk dan membuka pintu kamar Vina. Vinara masih tertegun bingung.

QISTY
            Beneran kamu ga mau ikut kita Vin? (melongok dari pintu, meyakinkan)

VINARA
            Eh??! (terkesiap)

QISTY
Sitta udah jalan duluan ama Jo. Kalau mau kamu bareng kita aja.
Si Andy ga bakalan dateng deh..  udah jam segini…
Ngapain ditungguin.. (masuk ke kamar)

VINARA
Emangnya acaranya jam berapa sih? (memandang jam dinding)
Tapi sebenernya aku butuh ke toko buku..

QISTY
Ya disana kan juga ada toko buku!! (memaksa)
Sekalian jalan aja. Ntar kalo udah selesai kamu tinggal samperin kita atau…
gampang lah, kamu bawa HP kan, nanti kita bisa teleponan...

Vina berpikir sebentar. Qisty menariknya.

QISTY
            Udah udah..  kelamaan mikir.. kamu udah siap gitu kok.. yukk..

Vina meraih tasnya. Mereka keluar kamar.
Vina mengunci kamar.

VINARA
            Ya tunggu…

Tergesa Vina mengikuti Qisty dan teman-temannya yang terburu berjalan ke luar.
CUT TO

14. INT: MAL. MALAM
VINARA, SITTA, QISTY, IAN, KRU IAN, ANDY, BETTY, PENGUNJUNG MAL

Vinara, Qisty dan teman-temannya sampai di sebuah Mal elit. Mereka menuju hall lantai dasar yang sudah dipenuhi pengunjung. Dari atas sampai ke bawah penuh. Semua memandang ke arah panggung di tengah Hall yang sedang ada acara jumpa Fans Ryandi sekaligus peluncuran film layar lebar terbarunya.
Sitta dari kejauhan melambai memanggil. Vinara dan rombongan yang sebelumnya memandang sekeliling mencari-cari Sitta, lalu datang menghampirinya.
Ian sedang menyanyikan lagu dari soundtrack terbarunya (theme song 6- img: Rahasia Wanita-Ari Lasso), di iringi teriak dan panggilan histeris dari penggemar yang memadati pusat perbelanjaan itu.

QISTY
            Aduh.. telat ya.. .. udah lama…??

SITTA
Lumayan… (Sitta menengok sebentar ke arah Qisty, lalu cepat-cepat memandang ke Ian lagi)
Aduh keren banget deh… tuh lihat… (menunjuk, lalu melambai ke panggung)

Vina memandang ke panggung sambil mengangguk-angguk pelan mengikuti lagu. Sebentar kemudian memandang arloji

VINARA
Aku ke toko buku bentar ya.. nanti aku balik ke sini lagi
(teriaknya di telinga Qisty karena berisik)

Qisty mengangguk dan kembali memandang tak lepas ke panggung.
Vina memandang ke panggung, mengangguk sebentar mengikuti lagu, lalu berjalan menjauh dari kerumunan. Vina menaiki eskalator sambil sesekali memandang panggung.
Di lorong menuju toko buku suasana tak padat. Vina kembali berusaha menghubungi ponsel Andy. Vina berhenti sejenak di depan toko, tapi ponsel Andy tetap tidak aktif. Suara operator telepon bahwa telepon tidak aktif dan diluar jangkauan. Vina menghela napas sedih, lalu memasukkan telepon ke tasnya.

VINARA(dalam hati)
Duhh kemana sih Andy kok dari tadi susah banget di hubungi…

Vina masuk ke toko buku.

CUT TO :         Layar bioskop
CUT TO :         Andy dan Betty duduk bersebelahan di bioskop sambil berpegangan tangan mesra. Betty menyandarkan kepalanya ke bahu Andy.

CUT TO
Commercial Break

15. INT: MAL. MALAM
VINARA, IAN, ANDY, BETTY, FIGURAN

Vinara keluar dari toko buku. Suara Ian dan teriakan penggemar masih terdengar.
Vina melongokkan kepala memandang ke arah Sitta dan teman-temannya di bawah.

VINARA
            Kayanya masih lama deh.. mendingan aku beli minum dulu ke atas..

Vinara beranjak menuju escalator.

CUT TO :         Layar bioskop – credit title, the end
Betty dan Andy berpandangan mesra dan berdiri pelan, lalu bersama antrian penonton lain menuju ke luar. Sesekali mereka melihat ke layar bioskop.

BETTY
Bagus banget ya filmnya..

ANDY
Gimana.. kamu seneng kan? (merangkul mesra)

BETTY
Seneng dong, emang lo paling baik deh.. (manja)

CUT TO: Hall Panggung

Di panggung Ian mengucapkan perpisahan disambut dengan teriakan kecewa pengunjung. Dengan di kawal kru Ian berbalik ke arah belakang panggung dan beranjak pelan meninggalkan panggung.
Sejenak Ian berhenti dan Ian berbalik lagi menghadap kerumunan.

IAN
Terimakasih atas kehadirannya ya… you’re all my life… (tangan Ian disilangkan di dadanya)

Kata-kata Ian disambut teriakan fans. Ian berjalan pelan ke arah belakang panggung. Sesekali berbalik dan melambai serta melempar senyum manis. Fans masih berteriak-teriak. Sebagian mulai meringsek ke arah depan. Sebagian berkerumun ke arah ruang ganti di belakang panggung.

CUT TO Vinara

Vina berada di lantai atas, tangannya sudah menenteng tas berisi buku yang baru dibelinya. Dia menuju satu counter untuk membeli minuman ringan. Suara Ian dan teriakan fansnya terdengar jelas. Sesekali Vina menolehkan kepala ke arah hall. Dilihatnya penggemar Ian dan penonton, bahkan yang berada di lantai atas melambai-lambai sambil memanggil nama Ian. Vinara tersenyum geli.
Vina berdiri di depan counter minuman.

VINARA
            Orange Juice satu ya Mbak… (mengacungkan jarinya satu)

Penjaga counter mengambilkan pesanan Vina. Vina mengeluarkan dompet dan membayar.

VINARA
            Terimakasih ya… (menerima minumannya)

CUT TO Andy

Di lantai yang sama dengan Vinara, Andy sambil berpelukan dengan Betty keluar dari lobby bioskop. Mereka tampak mesra sambil bercanda.
Vina yang baru selesai membayar minumannya terkejut melihat mereka dari jauh.

CU Wajah Vina terkejut.
CU Wajah mesra Andy dan Betty.

Karena pengunjung masih ramai di hall, jadi suasana lantai atas dekat bioskop sepi sehingga Vina bisa melihat Andy dengan jelas.
Vinara segera menghampiri Andy dan Betty dengan marah. Slow motion.

VINARA
            ANDYY!!!! (teriak emosi setelah dekat)

CU Andy dan Betty terkejut.
Tapi ekspresi Betty segera berubah senang dan tambah mesra memeluk Andy dengan raut penuh kemenangan.
Andy hanya tertegun, terlalu shock, tak berusaha melepas pelukan Betty.

VINARA
            Ka.. mu… (tergagap)

Vina menatap Andy dan Betty berganti-ganti dengan wajah tak percaya.

ANDY
            E.. e.. Vina… kamu…

Betty tersenyum senang sekali, licik.

CU wajah Vina, Andy dan Betty berganti-ganti.
Split screen


CUT TO


END EPS.2

Credit Title

THEME SONG 4

No comments:

Post a Comment