Friday, November 4, 2011

Aku Bukan Reya - Bab III

Banaran, Kepulauan Seribu

Hujan gerimis mereda dan cahaya matahari terbit menerangi rumah itu. Reya terlonjak dari tidurnya dan tampak ketakutan memandang sekeliling. Sesekali ia terbatuk pelan. Dilihatnya Rati, pelayannya yang tampak terkejut melihat Reya yang mendadak bangun dan memandanginya cemas.
Reya terengah memandang lagi ke sekeliling kamarnya.
Dimana?  Apa.. apa yang terjadi??” gugup Reya memandang sekeliling sambil terbatuk.
Reya terengah dan terlihat bingung.
Syukurlah Non Reya sudah sadar…”
Rati mendekat dan mengulurkan segelas air putih. Reya menatapnya bingung.
Apa yang terjadi semalam? Kenapa aku bisa ada di sini? “ batinnya.
Reya menunduk dan memandang bajunya yang sudah memakai pakaian tidur dan kering.
“Apa semalam aku hanya mimpi? Atau memang aku gagal lari di sini… “ pikirnya lagi.
“Lalu .. makhluk itu.. kemana makhluk itu.. “Reya memandang takut mencari sekeliling.
Apa Non baik-baik saja? Apa ada yang sakit?”
Rati seakan membaca pikiran Reya.
Sebenarnya apa yang terjadi Mbak? Kenapa saya bisa ada di sini… Mana Bi Sarmi?”
Rati tertunduk pelan sedih dan ragu kembali memandang Reya.
Semalam Non Reya hilang dari kamar.. kami semua khawatir dan mencari Non kemana-mana… ternyata Non hampir saja tenggelam di pantai.. “ jelasnya.
Pantai? Tenggelam? Ternyata itu bukan mimpi..? “ pikirnya.
“Mana Bi Sarmi, kenapa dia ngga kelihatan?” Reya berusaha bangun.
“Maaf Non.. Bi Sarmi sedang merawat Aden.. “jawabnya lirih, “ Aden.. Aden sakit Non..” sambungnya lagi. Reya mengernyitkan kening heran dan segera menyingkap selimut dan berdiri lalu ke luar kamar. Rati memandang Reya dan menggelengkan kepala sambil menghela napas.
Reya keluar dari kamar dan dilihatnya Bi Sarmi sedang keluar dari kamar Lendra sambil menangis sedih. Reya semakin heran.
Ada apa sebenarnya dengan orang-orang ini?” batinnya.
Reya memandang ke bawah dan dilihatnya seorang dokter dan perawat berjalan keluar dari rumah di iringi beberapa penjaga. Bi Sarmi berjalan menuju tangga dan melewati Reya.
Bi Sarmi berhenti sejenak dan mereka berpandangan, tapi Bi Sarmi hanya tersenyum sedih mengangguk dan melanjutkan jalannya meninggalkan Reya tanpa menyapanya. Tidak biasa Bi Sarmi bersikap seperti itu. Pasti terjadi sesuatu yang serius. Reya heran dan memegang lengan Bi Sarmi menahannya.
Tunggu Bi.. ada apa sebenarnya?”
Reya memandang ke bawah dan kembali memandang Bi Sarmi menuntut penjelasan. “Kenapa ada dokter di sini?” Reya berpikir sejenak dan teringat ucapan Rati  tadi.
“Lendra sakit? Parah? Kenapa?” tanyanya khawatir.
Bi Sarmi memandang Reya heran.
“Apa Non Reya sama sekali ngga ingat kejadian semalam?” suaranya terdengar kecewa.
Reya semakin merasa tak enak.
Bi Sarmi menggeleng dan menghela napas sambil mengusap air mata dan menahan isaknya.
Maaf Non.. saya ngga bermaksud menyalahkan Non Reya.. tapi.. “ ia kembali terisak.
“Saya kan sudah bilang.. Non belum sehat masih suka ngelindur, jalan ke sana ke mari.. lebih baik kamarnya di kunci saja… ini kan juga demi kebaikan Non sendiri..”
Bi Sarmi berjalan pelan kebawah, Reya mengikutinya.
“Kalau saja Non Reya mau mendengar nasehat saya.. ngga akan seperti ini kejadiannya”
Reya menggeleng tak mengerti. Maaf Bi.. tapi saya bener-bener ngga ngerti.. sebenarnya ada apa..” ucap Reya pelan. Keduanya berjalan menuruni tangga.
“Waktu itu Aden sudah jatuh dari tangga karena menolong Non, sekarang… “
Bi sarmi terdiam sejenak, “Sekarang Aden juga hampir tenggelam menyelamatkan Non.. “
“Aden kira Non mau bunuh diri lagi.. “ isak Bi Sarmi pelan.
“Maaf Non.. tapi.. Saya sudah merawat Aden sejak kecil.. saya sudah sangaattt menyayangi Aden seperti keluarga sendiri…Saya mohon Non.. jangan menyakitinya lagi.. Aden sudah banyak menderita karena Non.. “ Reya terkesiap.
***

Reya duduk termenung sedih di tepi kolam dan teringat pembicaraannya dengan Bi Sarmi tadi. Wajahnya terpekur menatapi air kolam.
Terngiang ucapan Bi Sarmi tadi.
Den Lendra memang cacat Non.. tapi Aden bukan hantu...” Reya duduk diam-diam.
“Mungkin buat Non Reya suara langkah kaki Aden terdengar seperti ketukan atau bunyi aneh, tapi Non mesti tahu, itu karena memang sebelah kaki Aden pincang dan masih memakai kaki penyangga kayu.. “
Reya berusaha mengingat sosok bayangan hitam itu.
“Bibi mohon Non.. Bibi ngga tahu apakah benar Non mengalami gangguan tidur atau memang Non sengaja hendak meninggalkan kami.. tapi yang Bibi tahu.. Aden sangaatt mencintai Non.. Bibi mohon Non pertimbangkan lagi… Aden sudah cukup menderita dengan penyakitnya.. mohon Non Reya lebih bersabar.. Bibi mohon.”
Ucapan Bi Sarmi tadi begitu memelas. Reya menghela napas dan berdiri mondar-mandir di tepi kolam sambil terus merenung.
Apa.. apa saya boleh menjenguknya Bi?” tanyanya tadi.
Sekarang Aden belum sadar.. tapi nanti coba Bibi tanyakan..  sementara itu, mungkin lebih baik Non jangan ketemu Aden dulu… Bibi takut Aden ngga setuju… nanti bisa berpengaruh sama jantungnya..”
Jantung Bi?!”
Iya Non, kondisi jantungnya kurang baik, jadi mesti di jaga hati-hati’
Tapi.. tapi kenapa Lendra selalu menghindari saya Bi.. kalau memang dia sangat mencintai saya.. kenapa dia selalu menolak bertemu saya?”
Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban.
Reya berhenti mondar mandir dan menghela napas memandang ke arah beberapa penjaga yang ada di kejauhan, lalu ia berjalan pelan dan masuk ke dalam rumah.
Rati masuk ke kamar Lendra membawa nampan berisi baskom dan handuk. Reya yang sedang menaiki tangga lalu mengikutinya sampai ke depan pintu. Reya mengintip ke dalam kamar Lendra melalui celah pintu yang setengah terbuka.Terlihat Bi Sarmi dan Rati sedang merawat Lendra yang terbaring di ranjang.
Tak jelas kondisi Lendra karena terhalang oleh Bi Sarmi dan Rati juga. Tubuhnya terbungkus selimut rapat sehingga tak kelihatan, hanya sebagian kepala dan wajah yang terbuka, itupun tertutup oleh kumis, cambang dan rambut ikalnya yang tergerai panjang. Reya menghela napas berbalik menjauhi pintu.
Sebentar kemudian Bi Sarmi keluar dari kamar dan menutup pintu kamar Lendra. Reya yang masih menunggu segera menghampiri.
“Bagaimana Bi? Apa Lendra mau ketemu saya?”
Maaf Non.. tapi sepertinya Aden .. “
Reya bertolak pinggang dengan kesal lalu mendengus dan kembali ke kamarnya sendiri. Bi Sarmi memandangnya sambil menggelengkan kepala.

Banaran, menjelang sore

Reya duduk di ranjang dengan gundah. Tampak sedang merenung dan berpikir keras.
Sebenarnya apa yang sudah terjadi sama Lendra.. kenapa dia bisa jadi cacat seperti itu?”
Reya menerawang, teringat saat Reya dikejar-kejar oleh bayangan hitam yang ternyata Lendra. Saat kilat menyambar dan terlihat sekilas sosok Lendra membawa batang kayu menatap Reya yang ketakutan.
Kenapa dia seperti mau membunuhku… seperti sangat membenci aku.. “
Kembali ia teringat saat Lendra seperti akan menerkamnya di atas tangga sehingga Reya dan Lendra jatuh terguling ke bawah, juga saat Lendra dan Reya bergumul dalam air.
Reya menggelengkan kepalanya dan teringat kondisi Lendra yang terbaring lemah saat di rawat Bi Sarmi tadi.
“Apa benar semua ini karena aku? Itu sebabnya dia selalu menghindari aku.. Karena aku kah di jadi cacat begitu? Kalau memang dia begitu benci sama aku.. buat apa dia menahan aku di sini? Apa dia mau menghukum aku atas semua yang terjadi sama dia?”
Pikirannya terus berkecamuk.
“Huuhh.. “ Reya mendengus kesal dan memukuli kepalanya sendiri.
“Apa yang terjadi sama aku.. kenapa aku bisa menikah sama orang seperti dia.. apa yang terjadi sebenarnya.. kenapa sih aku mesti hilang ingatan segala…”
Reya terbayang saat  Fayo saat wisuda bersama papanya dan Randy
Reya semakin berpikir keras.
Lalu siapa itu Fayo.. kenapa aku selalu merasa aku ini orang lain.. kenapa aku selalu merasa punya kehidupan yang lain… dan aku selalu merasa kalau ini “ reya memandang sekeliling lalu memandangi diri sendiri dan mengusap rambut panjangnya, “ ini… bukan hidupku…”
“Kenapa ngga ada siapa pun yang bisa jelasin… Aku mesti tanya sama siapa.. “ lesu berbisik.
“Kalau saja aku bisa keluar dari sini dan kembali ke Jakarta.. aku akan mencari tahu semua tentang Fayo.. pasti ada sesuatu yang bisa mengingatkan aku kembali..  Atau kalau aku bisa menelpon ke rumah atau ke papa.. “ Sejenak Reya tercekat.
“Papa?? Papa..  apa benar aku punya Papa.. pasti Papa sekarang sangat sedih… kalau saja aku bisa menelepon Papa.. “
Tiba-tiba terlintas dalam pikiran Reya. Saat Reya mengintip ke dalam kamar Lendra ia melihat telepon tergeletak di meja, di sebelahnya ada komputer. Reya menutup mulutnya dan terdiam tampak berpikir keras.
Ada telepon di kamar Lendra.. kalau saja aku ada kesempatan untuk masuk kesana..
Mestinya aku bisa, saat Lendra ngga ada… kata Bi Sarmi beberapa hari lagi Lendra sudah bisa masuk kerja.. mungkin ini kesempatan aku untuk bisa mencari jawabannya.. Sudah kuduga Bi Sarmi bohong soal tak ada sinyal itu..”
“Lendra.. Kalau kamu memang ngga mau ngasi tahu aku, maka aku akan cari tahu sendiri ..dengan caraku sendiri juga… Aku harus mendapatkan telepon itu..Atau setidaknya aku bisa mencari tahu apa ada jaringan internet yang bisa menghubungkan aku dengan Randy…”
Reya membaringkan diri lemas lalu menutup matanya.
Tergambar jelas dalam benak Reya sosok Fayo dengan rambut lebih pendek dan sedikit tomboi sedang bersama Randy, mereka berdua sedang di pusat perbelanjaan dan memilih beberapa topi pet.
“Bagus yang mana Dy?” tanyanya sambil mematut beberapa macam topi.
Randy memandang dan menilai sejenak lalu mengambil sebuah topi lain yang lebih feminin yang ada di gantungan dan memakaikan pada Fayo.
“Yang ini lebih bagus Fay…”
Oh ya?”
Fayo mematut topi itu di kaca.
Reya menggeleng.
Kenapa aku sama sekali ngga bisa mengingat Lendra.. tapi justru aku mengingat Randy sebagai kekasih ku… “
Reya terdiam memandang langit-langit kamar.
***

Banaran, 07.05 pagi

Reya membuka tirai kamarnya dan membiarkan sinar matahari masuk.
Reya tampak sudah rapi, di belakangnya ada beberapa pelayan yang membantu merapikan kamar.
“Non Reya ngga mau sarapan?”
Reya berbalik menatapnya, “Saya belum lapar Mbak.. saya.. mau jalan-jalan keluar aja sebentar.”
Apa perlu saya temani Non?”
Ngga usah Mbak.. saya lagi pengen sendirian.. “
 “Kalau begitu… saya ke belakang dulu..”
Reya membuka pintu dan bersama dengan Pelayan keluar dari kamar.
Reya tercenung menatap pelayan pergi satu persatu.
Suasana depan kamar Reya sepi
“Biasanya jam segini Lendra sudah pergi… “ pikirnya sambil melirik ke kiri dan ke kanan.
“Kalau dia ngga jadi pergi pasti banyak pelayan yang keluar masuk membereskan kamar atau sekedar menawarkan makanan.. “ Reya diam sejenak memandangi pintu kamar Lendra.
Reya mendekat ke kamar Lendra hati-hati dan sesekali memandang ke sekeliling sambil berusaha bersikap santai. Reya menghela napas tegang
“ Gimana nih? Apa aku mesti masuk ke sana ya?” hatinya ragu dan kembali memandang sekeliling.
“Gimana kalau ketahuan Bi Sarmi atau yang lain… “
Reya menggeleng kepala memantapkan diri.
“Ngga.. ini ngga bisa di tunda lagi.. seharusnya aku sudah ngelakuin ini dari dulu..Ini satu-satunya cara aku bisa berhubungan dengan dunia luar… Kalaupun aku ngga bisa pergi dari sini.. aku bisa mencari tahu sesuatu tentang Fayo.. atau apa pun itu.. Aku masih hafal nomor telepon rumah ku dan juga telepon Randy…. Aku yakin banget kalau aku bener, kalau aku ini bukan Reya seperti yang mereka bilang… aku pasti bisa minta pertolongan sama siapa pun di luar sana…”
Reya maju pelan dan ragu memegang gagang pintu kamar Lendra hati-hati dan menempelkan telinga ke pintu seakan mendengar apa ada suara di dalam. Sepi.
Reya membuka pintu pelan-pelan sambil memandang cemas ke sekitarnya. Diam-diam Reya memasuki kamar Lendra lalu mengintip ke luar memastikan tak ada orang mendekat ke kamar Lendra dan menutup pintu pelan-pelan.
Reya lalu masuk ke kamar Lendra lebih dalam.Ia ternganga melihat suasana kamar Lendra.
Kamar yang terang, rapi dan bersih dengan dominasi wana putih. Beberapa foto dalam pigura kecil diletakkan dalam rak hias. Reya mendekat dan memandangi foto-foto itu. Seperti foto keluarga.
Foto seorang anak laki-laki normal bersama ayah dan ibunya bertiga. “Ganteng juga waktu kecil.. kaya bule..” Reya tersenyum geli.
Foto pasangan suami istri setengah baya.
“Ini pasti orang tua Lendra” pikirnya.
Ada beberapa figura yang di letakkan telungkup tak di pajang. Reya mengernyitkan kening dan membuka figura itu melihat fotonya.
Foto seorang laki-laki tampan dan gagah saat wisuda. Harvard.. tak sadar Reya berdecak.
Ia membuka foto yang lain. Foto laki-laki tadi dalam kostum balap sedang memeluk helm di depan mobil balapnya. Reya tampak heran dan menengadah menatap rak di atas foto yang dipenuhi piala dan piagam. Reya meletakkan foto itu dan menjinjitkan kakinya untuk membaca tulisan di piagam dan piala. Tak sampai. Rak terlalu tinggi untuk ukuran badan Reya yang mungil.
Reya menghela napas dan memandang sekeliling kamar lagi dengan heran.
“Aneh? Aku pikir aku akan masuk ke dalam kamar yang seram seperti pemiliknya…
Ku pikir pasti kamar ini akan di penuhi gambar seram atau sesuatu yang hitam-hitam seperti yang selalu Lendra pakai” Reya tersenyum sendiri.
“Atau setidaknya alat-alat kedokteran yang mungkin masih terpasang.. “ Reya memandang ke beberapa titik listrik dan stop kontak di dinding.
Reya berjalan pelan berkeliling.
“Kata Bi Sarmi kan dia sakit-sakitan..  pasti Bi Sarmi bohong.. Bi Sarmi kan selalu membela si busuk Lendra itu.. sakit apa-an.. waktu itu.. jatuh dari tangga.. huh kesannya parah sekali kan menurut Bi Sarmi.. ternyata baru 1-2 hari juga udah kabur pergi ke kantor…” gerutu Reya,
“Dan kemarin waktu hampir tenggelam.. aku hampir aja merasa bersalah.. eh ini baru 3 hari sudah ngilang juga…”
Reya berdiri ragu sebentar dan berpikir. Lalu pandangannya tertumbuk pada telepon yang ada di meja dan tersenyum.
“Wah… hampir saja aku lupa dengan tujuanku ke sini…”
Segera Reya berjalan cepat mendekati dan mengangkatnya. Sejenak Reya memandang kecewa.
Ternyata cuma i-phone… ini sih cuma bisa menghubungkan kamar ini dengan sesama penghuni rumah.. “
Reya menguatkan diri dan pandangannya cepat menyapu ruangan.
Di sisi lain matanya tertuju pada telepon genggam yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur.
Reya kembali tersenyum lebar dan berlari kecil hendak mengambilnya. Tak sengaja sebelah kaki Reya menabrak kaki ranjang dan Reya mengaduh kesakitan.
“Aduh sial banget sih aku.. aduh.. “
Reya terduduk di ranjang sambil mengelus tulang keringnya yang lebam.
Di ruang lain dalam kamar yang terpisah, Lendra yang sedang duduk menghadap ke komputer yang menyala terkejut mendengar berisiknya Reya yang terantuk dan mengaduh. Ruangan itu seperti ruang kerja yang di penuhi buku-buku seperti  perpustakaan kecil.
Lendra menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke arah pintu penghubung yang menghubungkan ruangan itu dan kamar Lendra. Sebentar kemudian Lendra berdiri pelan tanpa suara.
Sementara itu Reya mencoba berdiri dan memonyongkan mulutnya kesal.
Kenapa sih aku selalu ngga hati-hati… “
Reya mendekati meja dan mengambil ponsel, wajah kesalnya berubah senang menatap ponsel itu.
Tak sadar di belakang Reya ada lemari pakaian besar dengan pintu cermin buram bermotif kotak. Perlahan salah satu pintu lemari itu bergeser dan terbuka. Lendra membuka pintu yang menghubungkan ruang kerjanya dengan kamarnya. Dari luar, pintu ruangan itu seperti pintu lemari biasa sehingga tak terlihat kalau ada ruangan lain tersembunyi di dalam kamar. Lendra menatap Reya yang sedang mengambil ponsel sambil tersenyum-senyum.
Segera ia masuk dan membanting pintu keras dengan marah. Reya terlonjak kaget dan memandang ke arah datangnya suara. Reya ternganga. Wajah Lendra tampak marah sekali.
Suasana kamar terang dan jelas sekali mengekspos wajah Lendra yang penuh kumis dan cambang tak terawat dengan rambut panjang ikal yang menutupi sebagian wajahnya yang penuh luka bekas jahitan kecil-kecil. Wajahnya pucat dan bibirnya memutih.
Reya menatap Lendra dari atas ke bawah tak percaya dan takut. Badannya tinggi besar dengan kulit pucat dan tatapan mata mengerikan membuatnya semakin seperti mayat hidup.
Lendra kali ini tak memakai jas hitam dan celana panjang hitamnya, tapi memakai t shirt santai dengan celana pendek selutut sehingga menampakkan jelas posisi kaki palsunya yang bengkok dengan sepatu penyangga kayu.
Seketika Reya menjerit histeris ketakutan. Lendra yang melihat wajah Reya ketakutan menjadi semakin marah dan menghampiri Reya dengan kesal lalu berusaha menyeretnya keluar.
Mau apa kamu di sini.. berani-beraninya ya kamu masuk ke sini tanpa ijin.. keluar.. keluar.. “ geram Lendra serak.
Reya meronta. Ponsel dalam genggamannya lepas dan jatuh. Reya menoleh menatap ponsel dan berusaha kembali berbalik hendak mengambilnya.
Lendra tetap mencengkeramnya erat dan tak menyadari Reya yang terus memperhatikan ponsel yang jatuh tadi.
“Kenapa sih kamu ini selalu saja bikin aku marah. Kamu selalu sengaja mau bikin aku celaka ya .” nadanya meninggi.
” Iya?!! Kenapa Hah?! “ Lendra menatap Reya lekat-lekat.
“Pura-pura baik mau ketemu aku.. mau apa? Mau apa ketemu aku heh? Mau menertawakan aku? Mau melihat apa seperti tampang hantu di siang bolong?! Iya!! iya?!!
Reya terdiam sejenak sambil tak sadar telah menangis antara takut dan bingung. Reya memandang Lendra lekat dengan tatapan takut-takut dan kembali meronta.
Lendra tampak tersengal, napasnya memburu tak teratur, ia masih sangat emosi.
Lihat.. lihat aku sekarang… makhluk jelek!! Cacat!! … lihat!!! Lihat!! Puas kamu?! Heh Puas kamu sekarang.. Puas…!!!’” Serak suara Lendra tersengal di antara nafasnya yang satu-satu.
Lendra memaki sambil terus menggucang badan Reya.
Napasnya semakin tersengal dan tiba-tiba Lendra mundur sambil memegang dadanya erat dan tampak meringis kesakitan.
Reya menutup mulutnya takut dengan ekspresi Lendra. Cepat ia berbalik hendak melarikan diri keluar kamar.
Tiba-tiba Lendra roboh lemas dan napasnya seakan terhenti. Reya berhenti dan kembali berteriak histeris sambil memandang Lendra yang terkapar di lantai.
***

Reya duduk tercenung di sofa ruang tengah. Wajahnya masih merah dan basah bekas menangis. Sesekali Reya menatap ke arah kamar yang selalu di sebutnya kamar ICU. Reya tampak gelisah menunggu. Seorang pelayan datang mendekat. Hatinya dipenuhi perasaan bersalah. Ternyata Lendra benar-benar sakit. Bi Sarmi selama ini tidak membohonginya.
Tatapan Bi Sarmi yang terluka serasa mengiris hatinya. Kembali teringat teriakan Lendra sebelum dia pingsan. Reya baru sadar kalau ternyata selama ini Lendra bukan menghindarinya tanpa alasan.
Foto-foto di kamar menggambarkan betapa gagah dan tampannya dia dulu. Pewaris tunggal perusahaan seorang konglomerat ternama, dan lulusan universitas terkenal. Tetapi sekarang yang tersisa hanya jiwa yang rapuh dan terluka.
“Maaf Non Reya.. apa Non mau makan sekarang?” seorang pelayan mendekat.
Reya terkejut dan memandang pelayan gugup.
“Ngga dulu Mbak.. saya belum lapar..” gelengnya pelan.
“Tapi.. Non kan belum makan apa-apa dari pagi.. nanti Non sakit..”
“Ngga Mbak.. saya ngga papa kok..” gumam Reya.
Mana mungkin Reya bisa makan dalam kondisi seperti ini.
Sebentar kemudian pintu kamar ICU terbuka dan Reya berdiri cemas. Bi Sarmi di iringi seorang perawat dan dokter keluar dari kamar. Penjaga yang semula berdiri dekat pintu depan bersiap-siap mendekat hendak menghantar dokter dan perawat pergi.
Saya kan sudah bilang, kalau memang Lendra mau di rawat di rumah, dia harus menjaga kesehatannya baik-baik… apalagi setelah kejadian malam itu, Bi Sarmi kan tahu bagaimana kondisi Lendra… kenapa bisa ada kejadian seperti ini..” gerutu sang dokter pada Bi Sarmi.
Bi Sarmi hanya menunduk pasrah. Reya semakin merasa bersalah dan memandang mereka sambil meremas tangannya gelisah.
Dokter memandang Reya sekilas lalu kembali memandang Bi Sarmi.
Sementara kondisinya belum stabil.. Lendra belum bisa di pindahkan ke rumah sakit untuk perawatan yang intensif ..  saya khawatir, jika di pindahkan sekarang dia tidak bisa bertahan berada di perjalanan terlalu lama.”
Bi Sarmi menunduk sedih. Reya menutup mulutnya dan menahan air mata yang terasa hangat mengalir di pipinya.
Tapi untungnya peralatan di rumah ini cukup memadai…Sus.. kamu pantau seperti instruksi saya tadi.. kalau ada apa-apa segera laporkan ke saya.” Sambung dokter sambil memandang ke arah perawat.
Baik Dok…” sahut sang perawat.
“Setelah kondisinya lebih stabil..  bicaralah sama Lendra… “ suaranya melunak, “supaya dia mau meneruskan pengobatannya di rumah sakit… apa dia ngga kepengen sembuh?”
Dokter memandang Reya sebentar dan tersenyum mengangguk hormat dan pergi keluar di iringi Bi Sarmi tanpa menyapanya. Perawat tadi kembali masuk ke dalam kamar.
Reya tampak ragu sejenak memandang bingung ke sana ke mari lalu berjalan pelan mendekati kamar Lendra.
Reya berdiri dekat pintu dan memandang Lendra yang terbaring lemah di ranjang. Selang infus dan alat bantu pernafasan juga beberapa alat deteksi jantung terpasang padanya. Ia tak berani masuk. Reya menggigit bibirnya miris.
Perawat tampak mencatat kondisi Lendra dan menoleh melihat Reya yang berjalan mendekat ke ranjang.
“Maaf.. tapi Pak Lendra perlu istirahat.. “ katanya sopan.
Langkah Reya terhenti dan memandang perawat sedih.
“Bagaimana.. bagaimana keadaannya suster?” Reya memandangi wajah Lendra yang pucat.
Sekarang masih belum stabil, tapi nafas dan denyutnya mulai teratur.”
Ia membuka catatan dan memandang Lendra.
“Kami harap tidak ada komplikasi, jadi malam ini akan sangat penting untuk Pak Lendra, apakah akan cepat membaik atau tidak..”
Reya mengernyitkan kening heran. “Maksud suster?”
Kalau kondisinya bisa terus membaik seperti ini “ ujarnya sambil menunjuk catatan, “.. sampai besok pagi… maka Pak Lendra akan segera normal” lanjutnya lagi, “tapi kalau malam ini statusnya memburuk, bisa jadi proses penyembuhan Pak Lendra akan lebih lama.”
Reya memandangi Lendra lesu.
“Oleh karena itu, saya harap pasien tidak terganggu dulu, terutama selama hari ini…”
Tapi.. tapi .. saya .. saya hanya ingin menemani suami saya Sus.. apa bisa?” ucap Reya tulus.
Perawat menoleh ke pintu, Bi Sarmi sudah berdiri di sana dan mengangguk pelan. Reya menoleh dan melihat Bi Sarmi.
Maafin saya Bi.. saya ngga menyangka akan seperti ini.. “ tatapannya kembali memandang Lendra sedih.“Saya janji.. saya ngga akan mengganggu… saya cuma mau menemani Lendra di sini..”
Bi Sarmi memegang lengan Reya dan tersenyum mengangguk. Perawat membawa beberapa barang dan keluar ruangan. “Iya Non.. Bibi ngerti…”
Reya tersenyum, Bi Sarmi menunduk lalu pergi. Reya menghela napas dan menarik kursi lalu duduk di sebelah ranjang Lendra dan memandanginya lekat-lekat. Wajah Lendra tampak pucat dengan mata terpejam
Reya mendekatkan wajahnya dan mengamati wajah itu. Sejenak tangannya terangkat hendak menyibak rambut Lendra yang terurai, ragu dan berhenti, diam sejenak kemudian pelan mengelus anak rambut Lendra.
“Maaf in aku ya Lendra.. aku ngga bermaksud nyakitin kamu… “ bisiknya lirih.
Reya menyibakkan rambut Lendra yang menutup pipinya dan memandang wajahnya yang penuh bekas luka.
Sebenarnya wajahnya ngga terlalu jelek” pikirnya, “ bekas lukanya juga kecil-kecil tak terlalu jelas karena warnanya sama dengan kulitnya… “ Reya mengamati dan mengelus wajah Lendra.
“Mungkin waktu barunya agak ngeri ya kalau merah-merah.. tapi ini sih ngga terlalu kelihatan.. “ lalu ia menarik tangannya.
“Padahal aku paling benci sama orang berkumis… Ini kenapa mukanya subur banget (Reya bergidik) kalau aja dia mencukur kumis dan jenggotnya… juga rambutnya.. pasti dia lebih bersih dan ganteng…” pikirnya lagi.
“Ih.. mikir apa sih aku..  ada orang sakit kok malah mikir yang aneh-aneh.. “
Reya mengusap kepala Lendra dan berbisik ditelinganya.
Cepet sembuh ya Lendra..”
Ia  menggenggam erat tangan Lendra pelan dan membisikkan sebait doa di telinganya.
Reya terus berada di samping ranjang memandangi Lendra dan menjaganya. Bi Sarmi mengetuk pintu dan masuk. Reya menoleh dan menghela napas lalu kembali memandangi Lendra sedih.
“Non Reya… ngga makan dulu?”
Reya menoleh lagi dan menggeleng pelan. Bi Sarmi memandangnya khawatir dan berdiri di dekatnya.
“Dari tadi pagi kan Non cuma makan sedikit sekali… nanti Non sakit…”
“Ngga papa Bi.. saya ngga lapar kok..” Reya kembali menatap Lendra yang masih terpejam.
“Apa Non ngga mau istirahat dulu? Dari tadi Non duduuuk.. aja di sini?”
Reya tersenyum dan meluruskan punggungnya.
“Ngga papa Bi.. tadi kan udah sempet mandi ..jadi udah segeran kok… “senyumnya.
Reya kembali menatap Lendra yang masih tak sadar. Bi Sarmi juga terlihat prihatin.
“Bi apa Lendra sering seperti ini… “ tanya Reya pelan sambil terus menatap Lendra dan menggenggam tangannya yang dingin.
Bi Sarmi menoleh tak jelas dengan ucapan Reya.
“Ehm..maksud saya.. apa Lendra memang sudah sakit begini sejak lama? Sepertinya dokter dan suster tadi sudah kenal sekali dengan penyakitnya…”
Oo.. dokter Probo itu sudah lama jadi dokter pribadinya keluarga Aden.. ya sejak Aden masih kecil.. “
Reya menyandarkan punggungnya dan menghadap ke Bi Sarmi.
Jadi? Lendra sudah sakit seperti ini sejak masih kecil?”
Oh nggak Non.. maksud Bibi ya mengurus semua keluarga kalau ada yang sakit dari jaman Bapak dan Ibu nya Aden masih hidup.. “ lalu Bibi terdiam menatap Lendra.
Reya menatap Bi Sarmi menunggu penjelasan. Tapi Bi Sarmi diam saja.
“Bi.. “
Bi sarmi menoleh.
“Sebenarnya… soal kecelakaan itu… “ Reya menatap Lendra.
“Apa Bibi bisa cerita?”
Bi Sarmi menghela napas sejenak. Reya berdiri dan duduk di tepi ranjang sebelah Lendra dan menarik kursinya untuk Bi Sarmi. Bi Sarmi maju dan duduk di kursi itu.
“Ceritanya panjang Non.. “ Bibi memandang Lendra, “ kasihan Aden…”
“Yang Bibi ingat, waktu itu Aden sekolah di luar negeri. Jarang pulang ke sini. Setelah lulus Aden tetap tinggal di Amerika dan mengurus cabang yang di sana.” Bi Sarmi diam sejenak.
“Ibu Aden sudah lama meninggal sejak Aden masih TK… jadi waktu Bapak meninggal karena kecelakaan.. makanya Aden terpaksa pulang ke Jakarta untuk meneruskan usaha Bapak yang di sini… “
Reya larut dan memperhatikan cerita Bi Sarmi.
“Waktu itu Aden sering sekali bicara tentang Non.. katanya Non itu adik kelasnya waktu kuliah di Amerika… kenalnya sudah lama, tapi jarang ketemu karena Non lebih sering tinggal di luar negeri… “
Reya mengernyitkan kening.
Aku? Tinggal di luar negri?” pikirnya tak percaya.
Bi Sarmi tersenyum, Reya kembali mendengarkan ceritanya baik-baik.
Aden selalu berkata akan menikahi Non segera setelah Non lulus kuliah.. Aden sedih sekali harus terpisah dari Non karena kembali ke Jakarta” Bi Sarmi tampak menerawang dan diam sejenak.
“Suatu hari.. “ ia menunduk sebentar..
“Aden dan Non bertengkar di telepon… Bibi juga kurang jelas sebabnya apa.. tapi waktu itu Aden kedengarannya maraaaah sekali.. “ suaranya tercekat.
“Bibi menyesal sekali.. kenapa waktu itu ngga menahan Aden untuk pergi…”
“Kemana Bi? Apa lari dari rumah?” potong Reya.
Bi Sarmi menggeleng.
Aden kan hobi balap motor dan balap mobil.. waktu itu.. Aden bukannya pergi ke arena tapi malah kebut-kebutan ke puncak.. mungkin karena kurang konsentrasi Aden jadi kecelakaan…”
Reya menoleh sebentar menatap Lendra dan kembali memandang Bi Sarmi.
Seluruh tubuh Aden luka parah” bi Sarmi terisak, “ Wajah Aden penuh luka.. tulang dada patah dan retak, bahkan rusuknya yang patah melukai jantung Aden… dan parahnya ..sebelah kaki Aden juga hancur dan harus diamputasi.. “ Bibi menangis pelan.
Reya terlihat sedih.
Bi Sarmi mengusap airmatanya dan menghela napas kembali bercerita.
“Aden sangat sedih dengan kondisi tubuhnya.. apa lagi..  apa lagi..”
Reya memandang penasaran. Bi Sarmi memandangnya tak enak hati.
“Apa Bi?” desak Reya.
Maaf Non.. tapi  sebenarnya.. waktu itu Bibi sempat menghubungi dan menelepon Non untuk menjenguk Aden di Jakarta..”
Reya terkejut.
“Menghubungi saya? Lalu? Apa saya datang Bi? Bibi ketemu saya?”
 Bibi menggeleng, “Kata Non kuliahnya ngga bisa di tinggal… jadi masih tunggu beberapa bulan lagi…”
Reya menghela napas bingung. Tak ingat.
Lalu? Akhirnya saya datang kan Bi? “ tukasnya bingung’ “ Maaf.. tapi sebenarnya saya ngga ingat apa-apa tentang peristiwa saat itu..”
Bibi tersenyum sedih.
“Iya Bibi ngerti Non.. maaf juga kalau sepertinya Bibi ini egois… tapi  sebenarnya Bibi sempat bersyukur ketika tahu bahwa Non Reya hilang ingatan,,”
 Reya terkejut dan menatapnya lekat.
“Bahkan melihat sekarang Non begitu perhatian sama Aden, Bibi berharap Non bisa seperti ini aja selamanya… “ ujarnya takut-takut sambil memandang Reya.
Emangnya kenapa Bi? Apa yang sudah saya lakukan sebenarnya?”
Bi Sarmi menghela napas dan memandang sedih. Reya semakin penasaran.
Ada apa Bi? Ngga papa Bibi cerita aja… saya ngga akan marah kok” desaknya.
“Iya.. Bibi tahu Non Reya yang sekarang ngga akan marah sama Bibi.. “ Bibi tersebyum lagi.
“Makanya Bibi pengen Non seperti ini aja selamanya.. tetap hilang ingatan..”
“ Emangnya.. dulu saya nyebelin ya Bi?” Reya berusaha mengingat.
Wah ngga Cuma nyebelin Non.. tapi sombong.. mana mau ngobrol dan bicara-bicara sama Bibi begini.. “ tukasnya semangat, “makanya Bibi juga heran apanya yang dilihat sama Den Lendra kok bisa kepincut sama Non” berapi-api Bibi menjelaskan.
Sejenak Bi Sarmi menutup mulutnya merasa kelepasan bicara. Reya tersenyum geli.
“Masa sih Bi… emangnya saya sering ketemu Bibi atau gimana? Kok Bibi bisa tahu?”
Kalau ketemu sih belum pernah.. tapi waktu itu kan Bibi beberapa kali telepon ke Amerika karena Aden sakit.. tapi cara Non menjawabnya.. sombong sekali.. dan sepertinya sama sekali ngga peduli apa Aden sakit.. apa kecelakaan atau bagaimana keadaannya.. Non malah marah-marah.. kasaaarr sekali..”
Bi Sarmi memandang Lendra sedih.
Non Reya ngga tahu.. kalau Non itu satu-satunya alasan kenapa Aden bisa bertahan hidup setelah kecelakaan itu. Setelah Bibi telepon waktu itu, Non kan bilang akan pulang beberapa bulan lagi… nah sejak saat itu, setiap hari Aden ikut terapi, rajin berobat supaya bisa cepat sembuh dan ketemu Non lagi.” Bibi menghela napas berat.
“Lalu…?”Reya mendekat.
Hari itu kebetulan Bibi baru pulang mengambil pakaian, jadi Bibi ngga nungguin Aden di Rumah Sakit. Aden masih terapi di sana.. saat itu Non Reya pulang dari Amerika dan datang menjenguk Aden..” Bibi menatap Reya sambil mengenang.
“Makanya Bibi ngga ketemu langsung sama Non Reya… Cuma dengar ceritanya saja..Tapi ternyata… setelah Non pulang itu dan melihat keadaan Aden yang seperti ini.. cacat kakinya.. dan wajah Aden yang ngga mulus lagi… Non malah meninggalkan Aden… dan memutuskan hubungan Non sama Aden.”
Reya terperangah. Reya dan Bi Sarmi berpandangan.
Bi Sarmi meneruskan ceritanya.
“Aku memutuskan hubunganku dengan Lendra?”pikir Reya dalam hati, “Karena dia cacat?”
Waktu Bibi datang.. Bibi cuma melihat Aden duduk termenung dan diaamm saja…” air mata mengalir pelan di pipinya dan segera tangan tua itu cepat menghapusnya.
“Sejak saat itu Aden minta pulang dan menolak mengikuti semua pengobatan dan terapi nya. Aden jadi pemarah, pendiam dan bekerja terus sepanjang waktu… Aden juga suka mabuk-mabukan… “ Bibi mengelus dada dan mengusap air mata.
“Saat Aden mabuk itulah Aden tak sadar cerita.. kalau Aden kecelakaan karena Aden bertengkar sama Non Reya.. kata Aden.. Non Reya mendua-kan Aden setelah ditinggal pulang ke sini… Non Reya punya pacar lain di sana… “
Oya?” Reya bingung.
“Dari mana Lendra tahu kalau .. kalau waktu itu aku .. aku jalan sama orang lain?”
Kata Aden.. waktu Aden telepon seringkali diangkat sama cowok.. malahan ngga cuma siang-siang.. tapi juga malam-malam atau pagi-pagi… “ hati-hati Bibi memandang Reya yang tampak terkejut.
“Karena Aden cemburu… Aden jadi ngebut ke puncak.. dan terjadilah kecelakaan itu..
Dan ngga disangka… Non juga tega memutuskan hubungan dengan Aden saat Aden sangat membutuhkan Non. Dan dengan sengaja mengajak pacar baru Non untuk dikenalkan ke Aden sebagai calon suami Non”
Reya memandang  Bi Sarmi tak percaya. Sedikit pun tak terlintas di ingatannya semua kejadian itu.
***

Malam itu Reya masih menjaga di sisi Lendra. Perawat tampak sesekali mencatat status Lendra. Reya menatapinya khawatir. Bi Sarmi berdiri menutup rapat tirai jendela.
Lalu perawat dan Bi Sarmi meninggalkan kamar.
Reya duduk sendirian dalam kamar menjaga Lendra di sisinya yang tampak gelisah dalam tidurnya. Reya menggenggam erat tangan Lendra dan sesekali mengelus kepalanya menenangkan.
Reya kembali teringat saat Reya pertama melihat Lendra sebagai sosok hitam dan jatuh dari tangga, dan saat pergumuan mereka di laut, juga saat Lendra marah dan mendapat serangan jantung.
Terngiang lanjutan cerita Bi Sarmi tadi siang.
Lalu kenapa sekarang saya bisa ada di sini Bi? Katanya kami sudah putus?”
Waktu itu… suatu hari.. sekitar 3 bulan yang lalu, Den Lendra pergi kerja seperti biasa”
Bi Sarmi tampak mengingat “Tapi malamnya Aden ngga pulang, bahkan sampai beberapa hari.”
“Aden Cuma telepon kalau ada sedikit masalah. Setelah mungkin… kira-kira ada hampir satu bulan… tiba-tiba Aden meminta saya menyiapkan villa pulau ini dan bilang akan tinggal di sini… Lalu.. tiba-tiba juga Aden membawa saya ke rumah sakit untuk menjemput Non yang saat itu masih tak sadar…
Kata perawat rumah sakit, Non kecelakaan.. dan Non Reya sempat sadar, tapi karena ada apa yang mesti dioperasi atau bagaimana gitu, Non kembali ngga sadar, koma. Bibi juga kurang begitu jelas persisnya Non… Katanya, Den Lendra yang membawa Non ke rumah sakit dan selalu menjaga dan menengok Non Reya selama di rumah sakit. Bahkan katanya juga, Non dan Aden sempat menikah di rumah sakit saat Non masih sadar. “ceritanya.
Menikah saat saya sakit?” pikir Reya.
“Setelah sebelumnya saya memutuskan untuk meninggalkan Lendra?” rasanya janggal.
“Apa tidak ada keluarga saya yang datang menjenguk atau menghadiri pernikahan saya Bi?”
Reya termenung melamun memandangi Lendra yang terpejam.
Den Lendra ngga cerita apa-apa, dan Bibi juga ngga berani bertanya. Tapi menurut perawat di sana memang Non tidak ada yang menjenguk selain Aden.”
Bi Sarmi menatapnya hati-hati.
“Maaf Non.. tapi saat itu.. Bibi memang sempat berpikiran.. kalau pun Aden sepertinya .. memanfaatkan situasi penyakit Non ini untuk mempertahankan Non di sisi Aden…
Kalaupun memang begitu.. maaf.. Bibi juga pasti tetap akan membantu Aden..”
Reya menghela napas dan terlihat bingung menatap Lendra sambil menggenggam tangannya erat serasa mencari penjelasan.
“Selama Non tak sadar di sini, Bibi melihat sendiri betapa besar perhatian dan cinta Aden sama Non..” lanjutnya lagi.
“ Den Lendra seperti menemukan kembali semangat hidupnya yang hilang.. Walau pun Bibi merasa mungkin ini salah.. tapi melihat kebahagiaan Aden.. Bibi ngga tega Non..”
Reya meletakkan kepalanya di sisi Lendra sambil menghela napas berat.
“Bibi mohon Non…Setelah Non tahu yang sebenarnya.. mohon Non bisa memaafkan Bibi.. kalau Bibi lancang, menasehati atau meminta-minta sama Non…
Bibi harap Non jangan lagi mencoba lari dari sini, jangan tinggalin Aden lagi Non”
Lendra terbaring lemah. Reya tertidur di sisinya.
***

Suasana gelap pekat, Lendra berlari tertatih dalam ruang tak berbatas, tak tampak atap, dinding atau pun lantai.. semua gelap..lalu tiba-tiba hanya tampak sesosok wajah perempuan yang tertawa mengejek dan sinis, sebentar kemudian berubah menjadi wajah Reya yang menangis dan berteriak histeris ketakutan. Wajah wajah itu semakin banyak dan memenuhi seluruh kegelapan.
Lendra berlari menghindari wajah-wajah itu dan tiba-tiba suasana menjadi terang dan Lendra berada dalam ruangan penuh kaca.
Lendra menatapi bayangan tubuhnya sendiri yang cacat dengan kecewa, marah dan benci pada diri sendiri. Ia Berkeliling memandang ke sana sini, dan sepertinya bayangan dirinya yang cacat itu terus menertawakannya. Dengan gusar Lendra memecahkan kaca-kaca itu, tapi mereka tak berhenti tertawa.
Lendra terbangun gusar oleh mimpi dan ter-engah-engah.
Lendra masih terbaring lemah dan mengatur napasnya yang tersengal sejenak lalu menatapi sekeliling yang masih penuh dengan alat kedokteran.
Jemari Lendra bergerak pelan. Dirasakannya genggaman Reya pada jemari tangannya.
Reya masih tertidur disisi Lendra dalam posisi duduk dengan kepala terbaring di ranjang.
Lendra menoleh pelan dan terkejut memandang Reya yang masih tertidur di situ.
“Ngapain lagi cewek badung ini di sini?”batinnya.
“Apa dia nungguin aku… “ Lendra memandangi Reya, tatapannya tak lagi marah dan menyeramkan, lalu tersenyum getir.
Teringat olehnya wajah Reya yang selalu ketakutan saat melihatnya. Lendra menggeleng kepala dan menghela napas.
Buat apa dia ngejagain aku di sini.. padahal biasanya dia selalu ketakutan kalau ketemu aku… Malahan dia anggap aku sebagai hantu penunggu rumah ini.. sialan… “ ia memandang sebal pada Reya.
Kepala Reya bergerak dan terbangun.
Lendra terkejut dan cepat-cepat menutup matanya kembali, pura-pura tidur.
Reya mengangkat kedua tangannya sambil menguap lebar dan meregangkan badan, memegang pinggang dan lehernya yang pegal.
Reya menatap Lendra yang seperti masih tidur lalu mendekatkan mengamati apa Lendra baik-baik saja. Ia terdiam sejenak. Di pegangnya jemari Lendra. Hangat. Tak lagi sedingin semalam. Di sibaknya rambut Lendra dan di pegang dahinya. Tak ada demam.
Dada  Lendra berdebar resah. Ada rasa aneh yang timbul di hatinya. Jengah.
            Reya menatap Lendra dan mendekatkan wajahnya mengamati. Kenapa belum sadar juga. Alat bantu pernapasan masih bersarang dihidungnya, sementara itu bunyi pemindai jantung Lendra berkedip normal.
“HHRMM.. “ Lendra tiba tiba menggeram keras sambil membuka mata dan mengangkat kepala seperti akan menerkam.
Reya terlonjak kaget, mundur dan berteriak.
Lendra terbatuk pelan sambil tertawa dan terengah menertawakan Reya yang ketakutan. Reya menatap Lendra antara tak percaya dan kesal. Perawat dan Bi Sarmi yang mendengar teriakan Reya datang tergopoh-gopoh masuk dan memandangi mereka sejenak cemas.       
“Ada apa Non…. Den?” bingung Bi Sarmi menatapnya.
“Pak Lendra sudah bangun? Tapi..Ada apa ini?”
Perawat mendekati Lendra yang masih terbatuk dan tersengal pelan. Tawanya mulai berhenti. Lendra mengibaskan tangannya pelan memberi tanda kalau tak ada apa-apa.
Reya masih berdiri menatapi Lendra sebal.
Sialan?! Sejak kapan dia bangun.. emangnya ngga tahu aku udah jagain dia semalaman sampe leher dan badanku pegal begini.. beraninya ngerjain aku” umpatnya dalam hati.
Lendra melirik Reya sekilas dan kembali sok cuek. Bi Sarmi menghela napas lega dan tersenyum. Perawat mendekat dan memeriksa status Lendra kembali.
“Aduh Den.. Bibi kira ada apa… Alhamdulilah Aden sudah sadar..”
Kondisi Bapak sudah stabil, saya akan laporkan segera ke dokter Probo, sebaiknya Pak Lendra segera melanjutkan pemeriksaan ke rumah sakit”
Perawat merapikan selang oksigen. Lendra menggeleng dan mengibaskan tangan lagi tanda tak mau. Perawat pun segera dengan cekatan melepaskan alat bantu pernapasan.
Sebaiknya Bapak pertimbangkan lagi masalah ini, kemarin dokter Probo sudah berpesan pada saya… setidaknya di sana kan bisa dilakukan pemeriksaan yang lebih menyeluruh”
“Terimakasih Sus.. “ serak Lendra memotong pembicaraan perawat itu segera, “ tapi saya rasa ngga perlu ..saya sudah ngga papa kok.. “
Reya menatap Lendra kesal.
“Orang ini…. semalam udah hampir mati kok sekarang masih juga bilang ngga papa..” pikirnya
Maaf ya Bu.. bisa tinggalkan kami sebentar? Saya mau memeriksa Pak Lendra sebentar… “
Perawat tersenyum memandang Reya. Reya melirik Lendra. Lendra pun melirik Reya sebentar dan memalingkan muka. Reya mencibir dan menjulurkan lidahnya jengkel lalu berbalik keluar. Bi Sarmi tersenyum dan mengikuti Reya keluar.
Reya berjalan sambil meregangkan badannya yang pegal-pegal. Bi Sarmi tersenyum melihat Reya yang tampak penat.
Non Reya Istirahat saja dulu… sekarang kan Aden sudah sadar.. biar nanti Bibi yang bantuin jaga..”
Reya memandang sekeliling dan merasa amat mengantuk, lalu kembali berbalik memandang Bi Sarmi dan mengangguk. Reya berjalan gontai ke kamarnya. Seorang pelayan datang mengantarkan makanan ke kamar Lendra. Bi Sarmi menemuinya.
“Ayo.. ayo.. sini..” panggilnya pada pelayan itu.
Bi Sarmi dan pelayan masuk ke kamar Lendra membawa makanan.
Lendra duduk setengah terbaring di ranjangnya. Alat-alat deteksi jantung dan perlengkapan lain telah di lepas. Hanya infus saja yang masih terpasang. Perawat tampak sedang membereskan alat-alat.
Melihat kedatangan Bi Sarmi Lendra cepat menengok ke arah pintu seakan menunggu seseorang.
Bi Sarmi ikut menoleh ke pintu, seakan mengerti arti tatapan Lendra
Ini Bibi bawakan sarapannya Den… sesuai menu eh, diet dari dokter Probo…” senyumnya.
Bi Sarmi melihat sekilas kilatan kecewa di wajah Lendra karena Reya tak muncul.
Lendra yang kecewa sepertinya tak mendengar ucapan Bi Sarmi.
Non Reya mau istirahat Den…” Bibi menatap sambil tersenyum geli.
Lendra terkesiap dan memandang Bi Sarmi salah tingkah.
Dari kemarin seharian, sampai semalaman, Non Reya duduk di siniiii …terus menemani Aden.. “ sambil memegang kursi tempat bekas Reya duduk, “ jadi tadi Bibi suruh Non istirahat dulu.. Bibi takut Non jadi sakit..”
Lendra membuang muka.
“Saya ngga cari dia kok… “sahutnya kesal.
Bi Sarmi tersenyum dan pelan menyiapkan sarapan Lendra.
Pelayan membuka tirai kamar dan cahaya terang masuk. Lendra memandang ke luar jendela. Tatapannya sedih.
***
Banaran, 12 November 2009

Lendra sedang makan sendirian di atas ranjangnya. Perawat membawa nampan berisi bekas obat dan berjalan keluar kamar. Setelah Perawat keluar, Lendra meletakkan sendoknya dan menyandarkan badannya lemas dan tampak sedih.
Jangan mimpi Lendra… mana mungkin dia mau sama kamu…” melamun Lendra memandang jendela, “ segera setelah dia sembuh.. dia juga pasti akan pergi dari sini…”pikirnya lagi.
Lendra menghela napas berat dan mendorong piring makannya yang masih penuh menjauh lalu memejamkan mata.

Jam 8.15 pagi

Reya menggeliat dan meregangkan badannya di tempat tidur. Tampak malas sesekali membolak-balik kan badan dan memeluk guling. Sebentar kemudian Reya bangun dan duduk sambil meregangkan badan lagi dan memandang jam-nya lalu mengernyitkan kening.
Aneh… rasanya aku tidur cukup lama.. kok baru jam segini ya? Kayanya …tadi aku masuk kamar jam setengah delapan-an deh…”
Reya berdiri memakai sandal dan berjalan malas-malasan membuka tirai jendelanya lalu memandang ke kebun sambil sesekali menguap.
“Masa tidur ku cuma setengah jam aja..”pikirnya lagi.
Setelah menggerakkan badannya seperti bersenam sebentar Reya berjalan ke kamar mandi.
Selesai mandi, Reya berdiri di depan kamar ‘ICU’ tampak ragu akan masuk. Ia menghela napas sejenak memberanikan diri dan membuka pintu pelan-pelan.
Pelayan berdiri di samping ranjang Lendra yang duduk bersandar di ranjangnya yang setengah tegak. Nampan makanan Lendra diletakkan di meja sisi ranjang. Reya mengintip ke dalam, Lendra dan pelayan yang tak menyadari kehadirannya.
“Tapi tadi Bi Sarmi pesan supaya Aden makan.. soalnya dari kemarin kan..” terdiam pelayan menatap Lendra yang memandangnya tajam dan cepat tertunduk.
“Nanti kalau lapar kan saya juga makan.. sudah lah.. biarin aja di situ..”potong Lendra.
Pelayan membungkuk pelan, takut dan berbalik keluar. Pelayan berhenti di pintu berpapasan dengan Reya.
Bi Sarmi mana?” bisik Reya pada pelayan itu.
Pelayan membalas berbisik sambil melirik Lendra yang memandang dengan tatapan kosong ke luar jendela, “Bi Sarmi mengantar Suster ke kapal.. “
Reya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ke kapal? Emangnya si Suster mau kemana?”bisiknya lagi
“Disuruh pulang… “ pelayan berbisik kembali melirik Lendra.
Lendra menoleh merasa mendengar suara-suara, Pelayan cepat-cepat berlalu, takut kena marah. Reya masuk menutup pintu dan mendekat ke ranjang. Lendra memalingkan muka.
“Mau apa ke sini.” Tegurnya ketus.
Reya menatap makanan Lendra yang tak di sentuh.
“Aneh.. tadi pagi dia bisa ngerjain aku.. sekarang bicaranya ketus banget..”pikirnya dalam hati.
Lendra menoleh memandang Reya dingin, merasa tak mendapat jawaban.
“Belum puas ya?! Nonton orang cacat.. “ sindirnya sinis.
Reya menatap sebal, “Kenapa sih kamu selalu aja ngajakin berantem kalau ketemu aku?!
Dan kenapa kamu selalu berprasangka buruk sama orang lain…”
Lendra tersenyum sinis mendengar ucapan Reya dan menggelengkan kepala lalu memalingkan muka.
“Apa?... Salah aku bicara begitu?!”
Lendra memandang Reya sejenak lalu tersenyum lagi seolah menertawakan Reya.
Reya memandang makanan Lendra lagi.
“Kenapa ngga di makan?” lanjutnya ketus.
“Bukan urusan kamu!” Lendra kembali memalingkan muka ke tempat lain.
Reya mendekat dan menghela napas pelan.
“Aku harus lebih sabar menghadapi kunyuk satu ini… “ pikir Reya dalam hati.
Lendra tetap diam tampak kesal memandang ke luar.
Reya berdiri di dekat Lendra ragu dan bingung akan mulai bicara. Lendra sesekali melirik seperti menunggu reaksi Reya.
Sorry ya… aku ngga bermaksud nyakitin kamu.. “ucap Reya pelan.
Lendra memandang Reya curiga. Dia berbalik dan mengambil segelas air putih yang ada di sisi ranjang dan meminumnya.
“Tumben.. cewek ini bicara manis-manis.. pasti ada maunya” pikir Lendra curiga.
“Aku janji.. mulai sekarang aku.. aku akan jadi istri yang baik buat kamu..” lanjut Reya hati-hati.
Lendra terkejut dan tersedak air minumnya sampai terbatuk-batuk sambil memandang Reya tak percaya.
Reya tampak kesal karena reaksi Lendra.
“Kenapa?! Kok ngeliatin gitu banget sih.. ngga percaya.. “ umpatnya meninggi.
Lendra tersenyum sinis dan mencibir.
Huh.. istri yang baik? Mana mungkin.. liat aja.. baru sedetik aja nutup mulutnya yang manis, sekarang sudah main bentak..” gerutu Lendra dalam hati.
Kenapa sih kamu diam aja.. pakai senyum-senyum sinis gitu.. apa ngga bisa mulut kamu itu ngomong baik-baik…”
Siapa yang ngga bisa ngomong baik-baik?! Ngaca dong… Ngaca!!” Balas Lendra kesal.
Kamu kok ngga bisa menghargai niat baik orang sih.. aku kan sudah minta maaf..”
Lendra terdiam tak bisa menjawab. Lendra dan Reya saling berdiam diri sejenak. Reya memandang sekeliling canggung lalu tatapannya tertumbuk pada makanan Lendra yang belum tersentuh. Reya mengambil piring makan dan menyodorkannya pada Lendra.
“Nih.. makan…!!” sodornya agak kasar.
Lendra memandang Reya gemas.
“Kamu ini cewek apa preman sih.. kasar banget”
Lendra menolak sodoran piring makan itu.
“Jadi aku mesti bilang apa dong!!” nada Reya tetap meninggi.
“Sudahlah.. kamu ini bikin aku ngga napsu makan… “gusar Lendra menggerutu pelan.
“Napsu ngga napsu kamu harus makan! Apa ngga tahu kamu baru sakit! ”omelnya lagi.
“Kamu kan mesti minum obat.. kalau ngga makan mana bisa minum obat.. kamu ini bandel banget sih.. ke dokter ngga mau.. kontrol ngga mau, susternya di suruh pulang..”
Lendra menahan napas antara sebal dan geli melihat Reya tak henti mengomel. Omelan Reya terhenti karena mendengar pintu kamar di ketuk dan terbuka. Lendra dan Reya menoleh melihat Bi Sarmi masuk.
“Non Reya sudah bangun?” sapanya.
“Eh Bi Sarmi..  iya Bi..” jawabnya manis.
Lendra melirik gemas.
“Kalau sama Bibi aja, ngomongnya manis bener.. begitu sama aku.. huh bawelnya.. nye nye nye nye nye.. “bisiknya pelan.
“Apa kamu bilang?! “ Reya menoleh cepat mendengar omelan Lendra.
Lendra memandang Bi Sarmi sejenak dan menghela napas membuang muka kesal.
“Aden belum makan lagi?”  Bi Sarmi memandang makanan yang masih utuh.
“Sejak sadar kemarin kan Aden baru makan sedikit…”
Reya menoleh heran, “Kemarin? “
Heh putri tidur…kamu bahkan ngga tahu dan ngga peduli kan, aku seharian makan atau enggak.. gitu kok mau jadi istri yang baik..  bisa-bisanya perempuan molor sampe 24 jam…“ucapnya lirih.
Reya mendelik memandang Lendra kesal.
“Non juga seharian kemarin ngga makan.. apa mau saya siapin sekarang?”
Lendra dan Reya memandang Bi Sarmi.
***
Banaran, 8.40wib

Beberapa pelayan menyiapkan meja makan kecil dekat ranjang Lendra. Setelah selesai, Reya dan Lendra duduk berhadapan di meja makan sambil saling memandang canggung. Makanan tersusun rapi di meja. Di depan Reya dan Lendra sudah ada piring dengan lauk yang di hidangkan oleh pelayan.
“Gila, ternyata aku tidur lebih dari 24 jam… wah rekor…” lamun Reya.
Kamu ini cewek apa babi.. malas amat, masa tidur sampai sehari semalam sama sekali ngga bangun.. pantesan kemarin seharian ngga nongol sama sekali…” umpat Lendra dalam hati.
Apa?! “ sahut Reya ketus merasa di perhatikan.
“Aku kan begadang seharian jaga in kamu.. wajar dong kalau aku kecapean…”
Yang wajar itu.. tidur malam 8jam, atau tidur siang 2-3 jam… Mana ada tidur lebih dari 24 jam kok wajar…”
Reya merengut kesal lalu menyendok makanan ke mulutnya. Lendra tersenyum geli dan ikut memakan makanannya.
Bi Sarmi memandang Reya dan Lendra dari luar kamar dan tersenyum senang.
Ini adalah kemajuan dalam hubungan Lendra dan Reya. Kali pertama mereka duduk dan makan bersama sejak Reya berada di pulau itu.

Beberapa hari kemudian

Reya berjalan pelan di kebun sambil melamun dan menuju ke jalan setapak.
Terngiang terus pembicaraannya dengan Bi Sarmi sebelyumnya.
Saya ngga yakin Bi.. hubungan saya dan Lendra bisa baik kembali..
Apa Bibi ngga lihat setiap saya ketemu sama dia.. bawaannya berantem melulu”
“Saya justru senang Non.. Aden bisa berantem lagi sama Non..” tawa Bibi Sarmi.
Bibi ini gimana sih… masa kita berantem Bibi malah seneng..”
Aden emang orangnya begitu Non.. kalau bicara ceplas ceplos… bawel.. suka melucu.. “ Bibi terdiam sejenak, “ tapi sejak kecelakaan itu… Aden hampir ngga pernah bicara lagi.. kalau ngomong Cuma seperlunya aja.. ngga pernah senyum, apalgi ketawa… Kerjaannya cuma marah-marah, galaakk banget… sampai semua orang takut..”Bibi kembali tertawa
“Makanya sekarang bisa berantem kaya begini sama Non Reya .. itu sudah kemajuan.. “
Berantem kok kemajuan?!” tukas Reya.
“Masa Non Reya ngga merasakan sih.. Bibi aja yang sudah tua gini bisa melihat kok.. apa maksud tersembunyi dari berantem-berantemnya Aden…”
Reya terdiam. Tak sadar ia sudah menyusuri jalan setapak menjauhi rumah menuju pepohonan tempat dia melarikan diri dulu.
Sementara itu, Lendra berdiri menghadap ke jendela yang mengarah pantai, sisi lain rumah sehingga tak melihat Reya.
“Tumben.. si  bawel itu ngga ada suaranya? Kemana dia?” pikirnya.
Lendra memandang jam meja di kamarnya. 5.30p.m.
Lendra kembali memandang ke depan, suasana masih terang.
Lendra tampak gelisah menanti kedatangan Reya. Tak sabar dia berbalik dan berjalan keluar.
Lendra keluar ke ruang tengah. Didapatinya ruangan yang sepi dan kosong.
Seorang pelayan melintas dan Lendra memanggilnya.
“Heh… Kemana orang-orang?” panggilnya.
“Ehm..  Non Reya ke kebun belakang Den…” jawabnya.
“Siapa yang nanyain Reya? “ jawabnya kesal.
Pelayan memandang takut, “Oh Maaf Den… kalau.. kalau Bi Sarmi..”
“Udah.. udah sana…” potong Lendra.
Lendra mengibaskan tangan mengusir. Pelayan membungkuk dan cepat-cepat berlalu. Lendra menghela napas bertolak pinggang dan berjalan mendekat ke jendela belakang.
Ia menyibak tirai dan memandang ke kebun mencari Reya. Reya terlihat berjalan jauh menuju ke pepohonan. Lendra memandangnya serius.
“Masa dia mau bunuh diri lagi? Apa dia mau mencoba ke laut lagi? Ngga ada kapoknya tuh orang?”pikirnya.
Lendra  terus memandangi Reya yang menjauh.
Di belakang kebun ada bagian berpohon pinus dan cemara seperti hutan kecil. Bagian hutan kecil itu yang memisahkan antara kebun belakang dan pantai.
Reya berjalan semakin dekat ke pepohonan dan berhenti sejenak memandang ke pepohonan itu.
“Tempat ini… “ lamunnya.
Teringat saat Reya dikejar-kejar sosok hitam dalam rimbun nya pepohonan malam itu
Reya tersenyum dan memasuki pepohonan itu seakan berusaha mengenang masa lalu.
“Ternyata makhluk itu Lendra.. apa benar dia…”
Teringat lagi ia saat Lendra mengayunkan kayu seperti hendak membunuhnya.
“Kalau iya.. kenapa dia mau membunuhku dengan kayu itu?Apa dia begitu benci sama aku…”
Reya tak sadar berjalan semakin masuk ke dalam rimbun pepohonan dan semak. Seekor ular merayap di tanah yang tertutup dedaunan kering dan rumput.
Reya yang tak sadar berdiri di dekat ular, menghela napas sambil serius berpikir. Ular merayap semakin mendekati Reya dari belakang.
Reya berbalik, sejenak memandangi sekitar dengan pikiran penuh lalu segera tersadar oleh bunyi gemerisik daun kering di depannya.
Reya memandangi tanah di depannya, dan dengan takut melihat ular merayap mendekat. Seketika Reya berteriak kaget. Ular coklat itu berhenti sejenak dan kembali merayap.
“Ya ampun ular… aduh gimana nih..  hus.. hus…” panik Reya berjalan mundur sambil mengibaskan tangan seakan mengusir ular itu, tapi ular itu terus mendekat. Reya semakin ketakutan.
Kaki Reya mendadak terantuk akar pohon dan jatuh terduduk
Ular itu jaraknya sudah tak lebih dari 2.5 meter.
Reya mundur ketakutan.
***

No comments:

Post a Comment