Saturday, November 5, 2011

Aku Bukan Reya - Bab V

Reya memandang perempuan itu dan berusaha mengingat. Perempuan berkemeja biru muda itu seakan menyadari kalau Reya lupa padanya.
Masa kamu ngga inget sama aku sih Fay? Siapa coba? Aku anak akuntansi… kita kan suka ketemu di perpus…”
Lendra segera sadar dari terkejutnya dan berlari tertatih mendekat.
Reya!!” teriaknya.
Reya dan kedua perempuan itu menoleh, mereka tampak terkejut.
Reya?” gumam perempuan itu satu sama lain, bingung.
Ayo…” Lendra segera menarik tangan Reya pergi menjauh dari kedua perempuan tadi.
Lo salah orang kali…” Kata salah seorang yang berambut sebahu sambil memandang Reya dan Lendra yang menjauh cepat-cepat.
Aduh apa iya ya.. habis mukanya mirip banget.. pantesan dia ngga ngenalin gua.” Sahut yang lain dan diam sejenak’ “ penampilannya emang beda banget, dulu dia kan agak tomboi.. dan gendut..Yang ini emang lebih feminin dan pakaiannya juga keren banget.. gua pikir cuma ganti penampilan aja..siapa tahu dia udah kerja dimana gitu jadi ga kuper lagi”
“Temen kuliah lo?”
“Temen satu kampus, cuma beda jurusan aja..ya udah yuk…”
Dua perempuan tadi lalu berjalan menjauh.
***

Lendra dan Reya berjalan cepat di sisi lain pantai. Lendra masih menarik lengan Reya. Keduanya diam dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba Reya berhenti berjalan dan seperti teringat sesuatu, matanya melebar. Lendra berbalik dan memandang Reya cemas.
Tunggu.. tunggu… “ Reya mengangkat jarinya menunjuk-nunjuk.
“Aku inget.. aku inget dia.. “ ujarnya gugup, “ Dia itu anak akuntansi.. tiap ke perpus kerjaannya bawa camilan sampai diomelin Pak Wakiman.. “ mata Reya melebar, “ Namanya Wulan… namanya Wulan..” Reya gemetar dan terus berbicara antara panik dan senang.
“Tapi .. tadi dia panggil aku Fay.. Fayo.. “
Lendra tampak cemas dan mulai menenangkan Reya yang terus merepet.
“Non.. non.. non.. “ Lendra berusaha menyela.

“Aku memang ngga terlalu deket sama dia, tapi aku sering ketemu dan makan bareng di warung belakang kampus.. biasa makan warteg lewat lubang belakang kampus…”
Napas Lendra memburu takut dan segera memegang kedua pipi Reya yang terus bicara cepat dan menghadapkan wajahnya ke Lendra lekat sambil menatapnya dalam-dalam.
“Non.. Non..” panggilnya, “ REE!”nadanya semakin meninggi dan membentak.
Reya terdiam mendengar bentakan Lendra dan menatapnya bingung. Lendra tampak sangat terluka, hanya memegang kedua pipinya lekat dan terus memandang tak sanggup bicara. Setelah Reya diam Lendra melepaskan tangannya dan berbalik pergi dengan dingin. Reya masih diam saja berdiri tak bergerak.
Setelah beberapa langkah dan merasa Reya tak mengikuti Lendra berhenti lalu menoleh dan menatap Reya yang masih berdiri terpaku. Lendra berbalik dan menarik Reya pergi
Di dalam mobil sepanjang perjalanan, Reya dan Lendra saling diam, duduk berjauhan dan memandang ke jendela masing-masing tanpa menyapa.
Masing-masing penuh dengan pikiran nya sendiri.
Ada apa sebenarnya? Kenapa Lendra begitu marah? Dan kenapa tadi orang itu memanggil aku Fay? Fayo? Fayo?”pikir Reya dalam hati.
Reya memukuli kepalanya bingung sambil merengek pelan. Lendra menoleh dan memandangnya heran. Reya sadar dan menoleh ke Lendra sebentar lalu menghadap ke jendela lagi.
Siapa orang tadi? Apa yang mereka bicarakan? Apa ingatannya sudah kembali? “ Lendra menghela napas, “ Bodoh.. kenapa aku bawa dia ke Jakarta.. “pikirnya.
Mobil berlalu cepat menuj landasan heli. Di sana helikopter sudah menunggu.
***

Banaran, sore hari

Reya dan Lendra menyusuri jalan setapak menuju rumah di iringi dua orang penjaga
Bi Sarmi membukakan pintu sambil tersenyum menyambut, tapi wajahnya segera berubah melihat wajah Reya dan Lendra yang muram.
Reya dan Lendra berjalan berjauhan cepat-cepat.
Segera Reya masuk ke rumah dan langsung naik ke kamarnya tanpa bicara, masuk ke sana dan menutup pintu. Lendra berdiri sambil bertolak pinggang di dekat tangga sebentar memandang Reya menghilang di balik pintu, menghela napas lalu memandang sekeliling sebentar.
Ruang tengah sudah berubah, TV LED layar lebar, dan peralatan elektronik lengkap sudah tertata di sana.
Lendra menghela napas berat.
Ada apa Den?”
Lendra menggeleng dan berjalan gontai menaiki tangga menuju ke kamarnya lalu masuk dan menutup pintunya.
Bi Sarmi memandangi ke dua pintu kamar Lendra dan Reya sambil berpikir.
Berantem lagi?”
Bi Sarmi mengangkat bahu dan pergi ke dapur.

Banaran, malam

Reya duduk di depan jendela kamarnya memandang ke depan dengan tatapan sedih.
Sebenarnya siapa aku? Kenapa aku merasa begitu yakin kalau aku ini.. aku bukan Reya..Tapi Bi Sarmi… Lendra dan semua orang.. “ Reya menghela napas.
“Apa mungkin semua bersekongkol menipu aku..Kalau iya, lalu atas dasar apa mereka melakukan hal itu.. aku ngga punya dendam apa-apa sama mereka.. aku ngga merasa ingat punya hubungan apa pun sama mereka… “
Reya teringat saat-saat manis bersama Lendra, saat bermain air, saat makan romantis dan berdua di pantai.
Reya menggeleng dan menghela napas sedih.
Kenapa mereka memilih aku… kenapa aku.. Lendra dan semuanya sangat baik sama aku.. semua kebutuhan aku terpenuhi.. berkelimpahan malah.. baju mahal, perhiasan dan barang mewah.. “ Reya memandang sekeliling kamar.
“Masa mereka mau menghamburkan uang dan perhatian yang begitu besar pada orang yang salah… mereka kan berlaku baik sama aku karena aku ini Reya.. istri Lendra.. “ Reya menggeleng.
“Lendra bahkan beberapa kali mempertaruhkan nyawanya untuk nyelametin aku..Dia juga ngga peduli dengan kondisi jantungnya yang lemah… “
Aku juga bisa merasakan kalau Lendra selalu perhatian sama aku..
Kalau aku terlihat susah atau bosan.. dia selalu mencari cara menyenangkan aku dan membuat aku tersenyum lagi…”
Pintu kamar Reya diketuk. Reya menoleh.
“Masuk..” sahutnya.
Bi Sarmi membuka pintu dan masuk. Reya tersenyum sedih dan kembali memandang ke jendela.
“Non Reya ngga makan? Dari tadi Bibi lihat Non ngga keluar kamar sama sekali…”
“Bi? Apa Bibi kenal yang namanya Fayo?”
Bi Sarmi mengernyitkan kening dan tampak berpikir.
“Siapa Non?” jawabnya polos.
Bi Sarmi mendekat. Reya menatapnya.
“Fayo, Bi..”
Fayo?” bibi berpikir, ” Ngga tuh Non.. rasanya Bibi belum pernah dengar nama Fayo..
Ada apa Non? Apa Non mulai ingat .. Fayo nama teman nya Non?” jawaban Bi Sarmi terdengar tulus.
Reya menggeleng dan menunduk sedih.
Bi Sarmi tampak berpikir dan menebak-nebak lalu tersenyum.
“O.. Bibi tahu sekarang..”
Reya mengangkat wajahnya memandang Bi Sarmi.
Pasti tadi di Jakarta Non dan Aden ketemu sama perempuan lain ya.. temannya Aden? “ Bibi tersenyum sok tahu.
“Tenang aja Non.. kalau memang benar.. siapa tadi? Fayo? Aden pasti ngga ada hubungan apa-apa dengan perempuan itu.. “
Reya mengernyitkan kening heran karena Bi Sarmi ‘ngga nyambung’
“Soalnya.. Aden itu orangnya setia..” Bibi mengacungkan jempol memuji Lendra.
“Sejak kecil.. Aden ngga pernah dekat sama perempuan.. walaupun banyak cewek-cewek yang naksir.. tapi ngga pernah di tanggapi.. “senyumnya.
“Satu-satunya perempuan yang bisa merebut hati Aden ya Cuma Non Reya…”
Reya memandang Bi Sarmi lekat dan tampak berpikir.
Apalagi sejak Aden membawa Non ke sini.. Bibi melihat sendiri bagaimana perhatian dan cinta Aden sama Non.. Non ngga perlu khawatir…”
Reya menatap Bi Sarmi setengah percaya.

Banaran, 22 November 2009

Reya keluar dari kamarnya. Beberapa pelayan sedang merapikan ruangan. Reya baru menyadari rumah berubah. Suasana ruang tengah tertata berbeda. Reya menuruni tangga dan memandang ke alat-alat elektronik itu. Bi Sarmi datang dan mendekati Reya.
Kapan di pasangnya Bi? Kok saya ngga tahu?’
Kemarin waktu Non dan Aden ke Jakarta..”
Oya?”
Non kemarin kan pulang langsung cepat-cepat masuk kamar, dan ngga keluar lagi sampai sekarang, jadi ngga lihat kalau TV nya sudah di pasang…”
Oh… “ Reya mengangguk-angguk.
Sarapan sekarang Non?”
Reya mengangguk dan mendekat ke meja makan.
Reya melihat di meja makan, hanya ada sarapan untuk satu orang.
Kok cuma saya Bi? Apa Lendra ngga sarapan?”
“Aden sudah pergi Non… “
“Oh” Reya terlihat kecewa, “ bukannya ini hari minggu” ujarnya lagi.
Reya duduk di kursi dan pelayan menyiapkan makannnya.
“Tadi Aden pesan.. “ jawab Bi Sarmi hati-hati.
“Aden ke Malaysia, ada urusan mendadak…”
Reya berbalik menatapnya” Ke Malaysia?”
Iya Non…”
Kok ngga bilang saya dulu…”
Tadi pagi Aden ke kamar Non, tapi Non masih pules…”
Tadinya kata Aden Non mau di ajak, tapi takut Non kecapekan dan bosan, karena di sana acaranya padat Non…”
Reya menghela napas sedih.
“Berapa hari di sana Bi?”
“Kata Aden sih… 5hari..”
Reya mengusap wajahnya.
“Aden sudah siapkan kaset, VCD, DVD.. ada film action, drama, kartun, film seri juga ada… kalau Non Reya sudah selesai nonton atau mau yang lain bilang saja, nanti Bibi titipkan ke Pak Atmo yang bawa kapal, supaya membelikan yang baru untuk Non..” terang Bi Sarmi panjang lebar.
Reya tersenyum sedih dan mengangguk.
Dalam beberapa hari ke depan Reya menghabiskan hari dalam kesendirian. Tak satu kali pun Lendra menghubunginya.
***
Malaysia, 26 November 2009

Lendra tampak sedang duduk dalam rapat yang serius dan mempresentasikan beberapa hal. Beberapa orang asing, melayu, jepang dan eropa ikut serius dalam rapat.
Mereka kemudian saling tersenyum mengangguk dan bersalaman.
Sesaat kemudian, Lendra dan klien-klien tadi berjalan di lobby sambil tersenyum.
“Okay.. we will come soon to Jakarta to discuss the final agreement”
Lendra menyalaminya lagi.
“Sure.. you’re most kindly welcome Mr. San” jawabnya.
“Are you sure you won’t come with us tonight? Come on.. Lendra..”
Lendra tersenyum hendak menolak.
Yes right, malam ni terakhir kita bertemu, kita nak rayakan dengan sikit senang-senang.. ayolah.. “bujuk pria berlogat melayu kental itu.
Karena mereka terus membujuk Lendra tak bisa menolak dan mereka berjalan keluar bersama ke sebuah club malam yang ramai.
Beberapa pria muda berpakaian perlente duduk bersantai di sana.
Lendra dan kliennya duduk di sebuah ruangan VIP klub malam tadi sambil minum dan menikmati live music. Beberapa lady escort menemani mereka dan melayani mereka minum.
Lendra tampak tersenyum terpaksa dan minum beberapa, ia sangat tak bisa menikmati suasana. Sedangkan kliennya tampak sangat senang dengan hiburan di sana.
Lendra merenung sambil memandangi gelas minumannya.
Pikirannya kembali ke masa-masa saat ia di Amerika.
Saat itu Lendra saat masih belum cacat, duduk di sebuah klub bersama seorang wanita yang sangat cantik. Tubuhnya tinggi semampai, dengan kulit putih mulus dan mereka tampak sangat menikmati suasana.
Lendra menenggak minumannya sambil menghela napas sedih
Lendra kembali teringat saat sudah cacat, gondrong dan bercambang sedang mabuk-mabukan di sebuah bar, di depannya banyak sloki dan ada beberapa wanita penghibur menemainya.
Lendra meletakkan gelasnya di meja. Wanita cantik di sebelahnya tampak berusaha mendekat dan bermanja.
Terbayang oleh Lendra wajah cemberut Reya memandangnya. Segera Lendra menghindar halus dan menjaga jarak dengan wanita yang mendekatinya tadi.
Reya tak bisa lepas dari pikirannya.
***

Di kamar hotelnya malam itu, Lendra berdiri di sisi jendela kaca lebar dan memandang lampu-lampu dari gedung bertingkat yang menerangi langit malam. Di tangannya ada sebuah kotak perhiasan. Lendra membuka kotak itu dan melihat isinya.
Satu set perhiasan emas putih bertatahkan berlian yang cantik.
Lendra tersenyum dan menutupnya lalu kembali memandang ke jendela.
“Lagi ngapain kamu Non? Apa kamu mikirin aku?” Lendra menggelengkan kepala.
“Apa kamu tahu? Kalau aku bahkan ngga bisa bersenang-senang lagi di sini…” ia tersenyum tak habis pikir.
“Aku bener-bener ngga tahu lagi apa artinya bersenang-senang tanpa kamu…”
Lendra menerawang memandang jendela yang mulai basah. Titik hujan turun satu-satu.
Sementara itu di Banaran, Reya juga sedang memandang ke jendela dengan sedih, jendela nya juga mulai basah oleh titik hujan.
Lendra tersenyum sedih. Ia teringat saat Reya bertemu dengan temannya di pantai dan mereka memanggilnya Fayo. Lendra memandangi kotak perhiasan di tangannya.
“Pasti kamu benci sama aku Non…”
Lendra kembali memandang ke jendela yang sudah basah. Sebelah tangannya di letakkan di bingkai jendela.
Tapi aku ngga bisa kehilangan kamu… aku ngga yakin apa aku siap melepas kamu pergi…” suaranya bergetar lirih
“Aku ngga mau kamu pergi…”
Lendra menunduk sedih.

Banaran

Reya masih memandang sedih ke jendela yang basah oleh hujan.
Kamu ngapain sih lama banget di sana? Apa kamu ngga kangen sama aku?” lamun Reya. “ Jangan-jangan kamu di sana baru hepi-hepi sama cewek-cewek..  Awas kalau kamu pulang nanti…”
Reya berjalan ke atas ranjang dan berbaring tengkurap memeluk bantal sambil melamun.
Kenapa ya perasaanku ngga enak banget… biasanya kalau dekat dia maunya marah terus.. tapi kalau ngga ada Lendra… rasanya ada yang aneh.. “
Reya membalikkan badannya gelisah.
“Apa aku bener-bener sudah jatuh cinta sama dia? Kalau aku ngga cinta sama dia.. kenapa aku mau nikah sama dia ya?”
“Apalagi kata Bibi.. aku juga mencampakkan Lendra ketika tahu dia cacat… Jahat banget sih.. mana mungkin aku setega itu..Padahal Lendra begitu baik sama aku…”
Reya mengusap wajahnya gusar.
“Lendra…  cepet pulang dong…” rengeknya.
Reya menelungkupkan wajahnya di bantal.

Kuala lumpur

Lendra membalikkan badannya dari jendela dan meletakkan kotak perhiasan di atas meja. Lendra kembali terigat permintaan Reya untuk melanjutkan terapinya.
Lendra tampak berpikir sejenak.
“Suatu saat kamu pasti akan pergi… dan sampai saat itu tiba… aku akan membuatmu bahagia “ Lendra tersenyum sedih.
Lendra mematikan lampu kamarnya dan berbaring di ranjangnya.
***
Banaran, 5 Desember 2009, sore

Reya duduk lesu dan menatap TV dengan bosan sambil memainkan remote di tangannya. TV di depannya sedang menayangkan film action seru.
Katanya cuma 5 hari.. tapi perasaan kok udah lama banget… udah hampir 2minggu kenapa sampai sekarang ngga ada kabarnya. Mestinya dia kasi telepon dong di rumah ini, jadi aku kan bisa telepon dia atau dia telepon aku.. “rutuk Reya kesal.
Reya teringat melihat telepon di meja dalam kamar Lendra
“Bener juga sepertinya di kamar Lendra waktu itu ada telepon, kenapa dia ngga telepon aku ya.. sialan.. pasti dia lagi senang-senang di sana..”
Reya menegakkan duduknya memandang ke atas ke arah kamar Lendra lalu tampak berpikir. Reya mematikan TV dan berjalan ke atas lalu berhenti di depan kamar Lendra.
Kemarin-kemarin dia ngga keberatan aku masuk ke kamarnya.. mestinya sekarang juga ngga papa kan?”Reya membuka pintu pelan-pelan sambil memandang cemas ke sekitarnya.
Reya memasuki kamar Lendra yang tak terkunci pelan-pelan.
Pintu kamar Lendra terbuka pelan dan Reya mengintip ke dalam. Sekilas sepi tak ada orang, tak ada suara. Reya segera masuk ke kamar Lendra lebih dalam.
Ia berhenti di tengah kamar dan memandang sekeliling. Reya mendekati meja dan mengambil foto Lendra, memandanginya lekat. Kangen.
Reya tersenyum teringat saat manis bersama Lendra yang terus melekat di otaknya, dan meletakkan foto itu. Reya kembali memandang sekeliling dan tidak menemukan telepon di sana.
Ternyata emang ngga ada telepon ya di sini? Aneh.. pengusaha super sibuk.. tapi di rumahnya ngga ada telepon.. apa begitu takutnya kalau privasinya terganggu…”cibirnya.
Reya berjalan pelan berkeliling. Lalu menoleh menatap pintu lemari yang merupakan pintu penghubung ke kamar kerja/ruang rahasia Lendra.
Aku beberapa kali ke sini, tapi aku belum pernah masuk ke sana..Kira-kira ada apa ya?”
Reya berdiri ragu sebentar dan berpikir. Lalu berjalan mendekati pintu itu dan menghela napas. Pelan dibukanya pintu geser itu dan masuk ke sana.
Cahaya  remang masuk dari jendela yang tertutup tirai. Reya mencari saklar sebentar lalu menyalakan lampu. Pandangan Reya ke sekeliling ruangan yang cukup besar. Bentuknya seperti ruang kerja sekaligus perpustakaan. Ada sebuah grand piano di sana.
“Ah.. ternyata dari sini asal bunyi piano itu.. kenapa tak teringat olehku sama sekali untuk bertanya soal piano itu. Lendra benar-benar sudah membuatku lupa ingatan” gumam Reya.
Reya mendekati rak yang penuh buku-buku. Berbagai buku ada di sana.
Reya membaca beberapa judulnya dan mengembalikan ketempatnya.
Ada buku tentang musik, pengembangan diri, tentang ekonomi dan managemen, juga tentang otomotif dan balap.
Reya berkeliling dan memandangi barang-barang di sana lalu mendekati piano dan memegangnya, membuka tutup tuts dan memencet pelan.
Lendra ternyata bisa main piano ya? Aku aja yang cewek ngga bisa main beginian .. bisanya cuma main gundu” Reya tertawa kecil.
“Tapi sepertiya sejak hubunganku dan Lendra membaik.. aku ngga pernah dengar dia main piano lagi…makanya aku jadi lupa..”
Reya menghela napas dan menuju meja kerja Lendra. Ada sebuah laptop di sana. Reya memeriksa meja sebentar dan duduk di kursi kerja Lendra. Memeriksa tempat pulpen dan tumpukan kartu nama yang tertata rapi. Reya menyandarkan badan di kursi besar itu sambil mengangkat tangannya.
Pandangannya tertumbuk pada sebuah laci di bawah meja. Reya menegakkan duduknya dan meraba laci itu.
“Ada apa ya?”

Reya menarik laci dan melihat laci yang cukup rapi. Ada beberapa kertas seperti file kerja yang di tata. Lalu pandangannya tertumbuk pada dua buah buku hijau dan mengambilnya.
Sepasang buku nikah.
Reya membuka buku-buku itu. Dilihat foto yang ada di sana.
Ada foto Lendra dengan rambut masih gondrong, wajah penuh cambang dan kumis. Satu lagi ada foto Reya yang tampak pucat, ada perban di kepalanya yang tertutup pasmina warna putih.
Reya tampak menerawang dan berusaha mengingat.
Jadi benar aku memang istri Lendra…tertulis nama Reya di bawah foto itu.. jadi benar namaku Reya.. ” gumamnya.
Reya menutup kembali buku itu dengan bingung dan mengembalikan ke tempatnya semula.
Setelah menghela napas sebentar kembali Reya melihat beberapa guntingan koran yang sepertinya sudah lama tertutup di bawah kertas file.
Reya mengambil potongan-potongan koran itu.
Di lihatnya judul artikel di potongan koran itu.
Patah Hati, Seorang Pengusaha Muda Kehilangan Kakinya
Reya mengernyitkan kening dan membaca:
Karena mengetahui kekasihnya berselingkuh, seorang pengusaha muda mengalami kecelakaan di puncak pass.Mobil yang dikendarainya hancur tak berbentuk setelah terguling ke dalam jurang.
Ajaibnya sang pengemudi selamat, walau pun karena itu dia harus kehilangan sebelah kakinya.
Reya mengangkat wajahnya tegang dan membuka potongan lain di bawahnya.
Penghargaan untuk pengusaha muda berprestasi. Baca Reya pada judul artikel koran yang lain.
Reya memandang foto Lendra di dalam potongan koran itu. Masih sehat belum cacat sedang membawa piala dalam kejuaraan golf. Wajahnya sangat gembira.
Reya lalu membuka potongan yang lain lagi.
Baru seminggu di wisuda, seorang gadis menghilang secara misterius
Reya tampak penasaran dan membaca.
Menurut penuturan saksi mata, Fayonita, mahasiswi lulusan Universitas Tarumanagara jurusan management itu meninggalkan saksi untuk membeli keperluan belanja yang tertinggal di supermarket. Setelah ditunggu beberapa lama, saksi merasa heran karena korban Fayonita tak kembali.
Saksi mencoba menyusul, tapi Fayo nama panggilan gadis itu sudah raib entah kemana. Dan sampai berita ini di turunkan gadis itu tak ada kabar beritanya.
Dada Reya berdebar dan membuka lagi potongan di belakangnya.
Meninggalkan rumah.. ciri-ciri… tinggi 155cm.. dengan berat sekitar 63kg.. kulit putih.. berambut pendek.. saat meninggalkan rumah mengenakan kaos putih dan celana panjang jeans…
Reya teringat mimpi saat itu, saat Fayo meninggalkan Mbok di mobil, Fayo memakai kaos putih dan celana jeans, badannya lebih gemuk.
Reya menutup mulutnya terkejut. Lalu cepat-cepat dia memeriksa semua laci dan sudut-sudut meja dengan panik.
***
Banaran, 15 Desember 2009, siang

Reya duduk termenung memandang TV yang menyala dan menayangkan film kartun tapi pikirannya tak di sana.
Tidak ada foto perempuan bernama Fayo itu.. tapi.. aku merasa yakin kalau Fayo itu adalah aku… “ pikirnya gelisah.
“Kalau begitu kenapa mereka memanggil aku Reya..” Reya berpikir lalu membelalak seperti terpikir suatu hal, “Apa jangan-jangan aku kembar? Mungkin aku mirip dengan Reya, sehingga Lendra dan yang lain menganggap aku Reya.. mereka salah orang?” Reya menggeleng.
“Ngga-ngga.. se-nggak nya Lendra tahu siapa aku.. buktinya dia punya potongan koran itu … tapi apa maksudnya menyembunyikan aku di sini.. sebenarnya ada apa? Kalau Lendra tahu aku bukan Reya.. kenapa dia tetap menahan aku di sini…”
Bi Sarmi lewat dan memandang Reya sedang melamun lalu memandang ke TV yang sudah dalam keadaan standby karena film sudah mati.
Bi Sarmi menghela napas dan mendekat. Reya menoleh kaget dan tersenyum.
“Ada apa Non.. beberapa hari terakhir Bibi lihat Non Reya seperti sedang mikirin sesuatu? Apa ada masalah? Mungkin Bibi bisa bantu…”
Reya berpikir sejenak.
Apa sebaiknya aku tanya sama Bi Sarmi ya? Nggak.. sepertinya Bi Sarmi ngga tahu apa-apa.. dia sangat yakin kalau aku itu Reya.. Atau, jangan-jangan mereka bersekongkol?”
“Non? Ada apa?”
Reya terkejut lagi dan menggeleng sungkan. Oh.. ngga apa-apa kok Bi”
Bibi tersenyum, “ Pasti Non Reya baru mikirin Aden ya?”
Reya memandang Bi Sarmi dan tersenyum canggung.
Sebenernya Bibi sudah lama mau bilang sama Non, tapi sepertinya Non beberapa hari serius sekali, Bibi jadi ngga berani ganggu…”
Reya mengernyitkan kening. “Ada apa Bi?”
“Ada pesan dari kantor Aden… katanya kepergian Aden di perpanjang karena ada urusan mendadak, (berpikir) semestinya kan Aden  dua minggu lalu sudah pulang, tapi karena ada keperluan, jadi 2minggu lagi…”
Dua minggu lagi?”Reya menatap geram. Dalam hati ia berpikir bahwa ia sudah menunggu terlalu lama untuk sederet penjelasan dari Lendra, masa dia ngga jadi pulang juga.
Oh bukan.. maksud Bibi 2minggu lagi dari yang kemarin.. jadi ‘’Bibi bingung sendiri menghitung-hitung jarinya. Reya menatap penasaran, “ mestinya minggu depan… ya maksud Bibi minggu depan sudah pulang…”
“Minggu depan?Kok mundur terus sih Bi” desah Reya.
Teringat saat terakhir bertemu Lendra.
“ Apa dia marah dan mulai menghindari aku lagi?” pikir Reya.
Kalau Non Reya sudah bosan, nanti Bibi pesan Pak Atmo mencarikan film-film yang lain, bagaimana Non?”
Reya diam sejenak berpikir. “Apa boleh saya jalan-jalan ke luar Bi?”
Jalan-jalan?  Ya boleh Non.. kan Non selama ini juga sering jalan-jalan di sini..”
“Bukan di sini Bi.. maksud saya apa saya boleh ke Jakarta atau kemana gitu?”
“Wah kalau itu Bibi mesti tanya Aden dulu..”
Reya tampak kecewa.
Sudah Non di sini aja, jalan-jalannya tunggu kalau Aden sudah pulang saja, nanti kalau bosan Bibi temani ngobrol.. apa … bagaimana kalau Non belajar.. masak.. atau bikin kue.. atau..??”
Wah ide bagus juga tuh Bi.. “angguk Reya.
Kalau gitu nanti Bibi siapkan bahan-bahannya bagaimana?”
Boleh deh.. “ senyum tipis terkembang di bibir Reya.
“Ya sudah kalau gitu Bibi ke belakang dulu ya…”
Reya menghela napas dan mengangguk. Bi Sarmi berjalan meninggalkan Reya. Reya kembali merenung.
Minggu depan..  lama banget sih dia pergi.. masa hampir 5 minggu.. itu lebih dari satu bulan lho.. “ batinnya kesal, “ Sepertinya memang Lendra bener-bener ngga peduli sama aku. Mungkin semua ini cuma sandiwara… tapi kenapa? Kenapa Lendra harus pura-pura cinta sama aku?”
Reya mendongak dan mengenang saat-saat manis bersama Lendra. Semuanya terasa begitu tulus.
Reya menghela napas sedih.
Bagaimana kalau ternyata aku memang bukan Reya.. apa Lendra akan menceraikan aku? “ ia terdiam sejenak ” Apa Lendra akan mencampakkan aku?” Bingung Reya meremas jemarinya.
“Bagaimana kalau Reya yang asli kembali? Apa Lendra akan meninggalkan aku begitu saja…gimana sih.. sebenarnya aku ini siapa.. kenapa setelah semakin aku yakin kalau aku adalah Fayo, perasaanku semakin ngga rela meninggalkan Reya.. “
Reya menelungkupkan wajahnya di kedua tangan sambil merengek kesal dan bingung.
***
Pantai Banaran, 26 Desember 2009

Reya duduk sendiri memandang pantai yang sepi.
“Sudah lewat dari 1minggu, Lendra kenapa ngga juga pulang ya? Mundur lagi mundur lagi..” geram Reya.
“Kenapa aku jadi uring-uringan gini ya..Kalau memang aku bukan Reya.. mestinya aku senang ngga ada Lendra di sini..Ini kan kesempatan aku untuk pergi dari sini dan mencari tahu yang sebenarnya..” Reya menatapi deburan ombak yang memecah di pantai.
“Kenapa aku mesti nunggu dia dateng ya? Bego banget sih?” Reya memukul kepalanya sendiri kesal.
“Tapi kalau aku pergi.. aku ngga akan ketemu dia lagi..” lamunnya.
“Bagaimana kalau saat aku pergi.. Reya yang asli datang dan menggantikan posisi aku.. atau jangan-jangan Lendra tak pulang selama ini karena sedang mencari dan sudah bertemu dengan Reya yang asli?”
Reya membayangkan Lendra bersama Reya yang asli, berwajah sama dengannya sedang berpelukan dengan mesra, sedangkan dia hanya bisa menatap mereka sambil gigit jari. Reya langsung merengek kesal sambil menjejak-jejakkan kakinya ke pasir.
Dari belakang Reya yang sedang uring-uringan Lendra tampak berdiri memandanginya sambil senyum-senyum melihat tingkah Reya.
Reya memeluk kedua kakinya dan memandang laut lepas.
Aku ngga bisa pergi.. aku kan harus tahu kenapa dia menyekap aku disini..lebih baik aku tunggu dia.. dan begitu dia datang.. begitu ketemu dia, kata pertama yang harus aku tanyakan sama dia adalah masalah Fayo… “ Reya mengangguk mantap.
Lendra berjalan mendekat, lalu berdehem di belakangnya.
Reya terkejut dan berbalik. Lendra berdiri tegap memandangnya dengan senyum lebar.
Seketika Reya tak dapat berkata-kata dan hanya memandangnya saja. Semua perasaan membuncah di dadanya.
Lendra menghela napas, seperti memberanikan diri dan berjalan mendekat.
Tidak pincang lagi. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah.. Reya ternganga dan memandang Lendra dari atas ke bawah.
Kakinya yang biasa terlihat ada topangan kayu menyembul di celana tampak normal.
Melihat Reya terkejut, Lendra tersenyum lebar, tapi beberapa langkah kemudian dia berhenti, membungkuk dan tampak kelelahan.
Reya terlonjak berdiri dan menghampirinya.
Lendra?!!”teriaknya panik, “ Kamu kenapa? Kamu sakit lagi.. kamu kenapa? Kamu ngga papa kan?”
Reya mendekat dan memegang lengan Lendra hendak membantu memapahnya.
Lendra menoleh dan menyadari pandangan panik Reya, seketika Lendra menarik Reya dalam pelukannya erat.
Reya terdiam dan membiarkan Lendra memeluknya.
Sesaat semua waktu terasa berhenti. Reya sudah lupa dengan semua rencananya tentang Fayo. Tak pernah di sangka dia merasa sekangen ini pada Lendra. Air matanya sudah mengambang di pelupuk mata.
 “Aku ngga papa kok… Cuma..” sambung Lendra.
Lendra melepas pelukannya lalu mengangkat celananya menunjukkan kaki palsunya yang baru sehingga lebih tampak seperti kaki normal.
Reya membungkuk memperhatikan kaki Lendra dan tampak senang.
Kaki kamu?” tanyanya tak mengerti.
Lendra tersenyum. Katanya.. kamu pengen aku nerusin pengobatan…”
Mata Reya melebar dan tersenyum senang.
Bukannya kamu ada urusan kerjaan ke Malaysia?”
Lendra berjalan pincang dipapah oleh Reya menjauhi pantai kembali ke rumah.
Kerjaanku sudah di kebut jadi 4 hari aja “ ia tersenyum nakal, mencondongkan badan ke Reya sambil menunjukkan jari 4.
Jadi.. kamu mundur sampai 1 bulan karena meneruskan terapi kamu?”
Iya.. dan juga sekalian melakukan operasi terakhhir yang semestinya udah kulakukan tahun lalu” Lendra diam sejenak mengatur nafas, “ mestinya perlu perawatan intensif minimal 3bulan, dan setelah itu mesti terapi lagi rawat jalan minimal 1minggu 2x sampai bener-bener normal…”
Terus? Kamu kebut juga terapinya kaya meeting mu?”
Ya .. maunya… “ ia tersenyum malu sambil menggaruk kepala.
“Bisa emangnya? Terapi dikebut gitu?”
Ya nggak lah.. makanya sekarang juga masih agak sakit dikit..”
“Sakit?” tatap Reya khawatir.
Ngga terlalu kok, cuma agak ngilu aja, belum biasa..”
“Mestinya kamu bilang, jadi aku kan bisa temenin kamu di sana? Jadi kamu operasi sendirian?Dimana….Sakit ngga waktu operasi.. bius nya gimana..diapain aja.. ?” Reya mencecarnya dengan banyak pertanyaan.
Lendra diam saja dan tersenyum jengah. Reya tak menyadarinya.
Reya berhenti berjalan tersadar, “ Tadi kata kamu mestinya sampai 3 bulan kan? Kok sekarang sudah pulang?”
Reya dan Lendra berhenti sejenak sambil berpandangan. Lendra tersenyum dan memperat pelukannya ke Reya lalu berjalan lagi.
Bawel ah…  gitu pake nanya…”
Reya melirik Lendra heran. Lendra tampak sangat senang.
“Kenapa emangnya?” tanyanya lugu.
Lendra tetap diam sambil tertawa. Reya dan Lendra berpelukan mendekati rumah
Kenapa sih? Ayo dong… kok malah ketawa? Hei Lendra!! Kenapa? Kenapa kamu ngga nerusin terapinya ..” Reya terus merengek polos.
Bawel.. bawel.. bawel…” Lendra tertawa kecil.
Ah.. Lendra, Kenapa sih? Kok rahasia-rahasiaan segala sih.. kenapa..dokternya nyebelin.. atau…”desaknya.
Tiba-tiba Lendra berhenti dan mencium pipi Reya. Reya terkejut.
Malamnya, Reya duduk termenung di tepi jendela sambil terus memegang pipinya.
“Apa karena aku, makanya Lendra cepat-cepat ingin pulang…” gumam Reya.
Reya tersenyum-senyum senang. Sebentar kemudian dia terdiam dan menepuk dahinya.
Aduh.. gimana sih aku ini.. kan aku udah bilang begitu ketemu Lendra aku mesti nanya soal masalah Fayo itu.. kok bisa lupa sih.. “ menggeleng kesal.
“Kalau gitu aku mesti nanya sama dia besok…”
Reya berjalan ke ranjangnya dan berhenti sejenak lalu memandang kotak perhiasan di atas meja sebelah ranjang itu dan mengambilnya.
Reya duduk di ranjang dan membuka kotak itusambil memandanginya.
Ia teringat saat Lendra mengulurkan kotak itu ke Reya.
Aku ngga sempet kemana-mana.. jadi cuma bisa bawa ini.. semoga kamu suka ya “ katanya manis.
Reya tersenyum dan meraba perhiasan itu.
Apa benar aku bukan Reya… “gumamnya sedih, “ Dulu aku begitu benci dengan Reya.. aku ingin pergi dari sini.. aku mau menjadi Fayo.. tapi sekarang…” Tak terasa hangat airmata mengalir di pipinya.
“Kenapa sekarang aku begitu sedih… kalau memang aku bukan Reya..”
Reya menutup kotak perhiasan dan mengelus pipinya yang basah. Ciuman Lendra masih terasa dan membuat hatinya tak bisa berhenti berdebar.
“Berarti semua ini.. semua ini cuma semu? Khayalan? Atau mimpi?”
Reya menghela napas sedih.
***
Banaran, 30 Desember 2009

Reya menuruni tangga menuju ke ruang tengah sambil sesekali memandang ke sekeliling.
Kok sepi? Pasti Lendra sudah pergi.” Gumamnya sedih.
Reya mendekati meja makan. Cuma ada 1 piring sarapan. Reya terlihat kecewa.
“Kenapa ya perasaanku ngga enak banget kalau ngga ada Lendra? Padahal… kalau aku bukan Reya.. aku kan ngga boleh gini…”
Reya berjalan menuju ke pintu samping. Bi Sarmi lewat dan melihat Reya.
Non Reya? Mau kemana? Ngga sarapan dulu?”
Reya hanya menoleh dan menggeleng lalu berjalan keluar.
Bi Sarmi memandang Reya dengan pandangan heran.
Reya berjalan pelan menuju pantai dengan gontai. Matanya menekuri tanah sambil melamun. Sesaat kemudian Reya mengangkat wajahnya.
Di kejauhan di lihatnya Lendra sedang berlatih jalan di pasir, di dekatnya sebuah tongkat logam penyangga berkaki tiga berdiri.
Reya tersenyum senang dan berlari kecil mendekatinya.
“Lendra?!! “ teriaknya.
Lendra tertatih sebentar dan tersenyum lebar melihat Reya datang.
“Kok kamu di sini? Kamu ngga ke kantor?”
“Kenapa? Udah bosen nih ngeliat aku…” ledek Lendra.
Reya memukul lengan Lendra kesal.
Kamu kan biasa pagi-pagi udah kabur… lagian tadi di meja makan cuma ada 1 piring, aku pikir kamu pasti ngga di rumah..”
“Kalau nungguin kamu bangun baru sarapan.. aku bisa mati kelaparan Non”
Lendra terbahak.
Ih jahat banget sih.. “ tak sengaja Reya mendorong Lendra.
Lendra limbung dan hampir jatuh, Reya segera menariknya, sehingga mereka berpelukan dekat. Reya dan Lendra berpandangan sejenak, lalu keduanya memalingkan muka jengah sambil melepaskan pelukan.
Lendra mengambil tongkatnya dan berjalan perlahan.
“Kamu sekarang pakai itu?”
Enggak.. Cuma kalau lagi jalan terlalu jauh atau capek.. itu juga sementara sampai terapinya selesai.. mesti banyak latihan jalan…”
Reya mengangguk-angguk.
Mereka berjalan bersisian di tepi pantai.
“Kamu ngga terapi di rumah sakit? Bisa terapi di rumah aja?”
“Bulan depan” sahut Lendra.
Bulan depan? Kenapa? Kok lama banget ngejadwalinnya? Apa bisa ditunda begitu lama? Oh.. aku tahu, kamu pasti mau pergi lama lagi?”
Lendra berhenti berjalan dan memandang Reya sambil tersenyum.
“Kamu ni bawel banget ya?”
Habisnya.. mana bisa ngikutin terapi asal-asalan gitu, kalau lagi mau ya mau, kalau lagi ngga mau ya berhenti.. mana bisa sembuh kalau caranya begitu?”
Iya.. iya.. nanti pasti diterusin kok.. Cuma masih pengen lamaan di sini aja…lagian ini kan udah akhir bulan, minggu depan aja udah masuk bulan depan kan?” selorohnya.
“Dasarr.… “ Reya memukuli punggung Lendra keras-keras.
Lendra menangkap lengannya dan mereka berpandangan. Reya terdiam jengah. Lendra melepaskan tongkatnya dan merangkul Reya berjalan menyusuri pantai.
“Kata Bi Sarmi.. kamu suntuk banget ya kemaren waktu aku pergi?” pancing Lendra.
“Iya lah… bosen.. ngga ada kerjaan..” sahut Reya.
“Bosen ngga ada kerjaan, atau.. “ Lendra melirik Reya, “ kangen sama aku?”
“Ih.. ngapain juga kangen sama kamu” tukas Reya ketus.
“Oh kalau gitu kamu ngga keberatan dong kalau aku pergi tugas lagi?” godanya.
“Hah? Mau pergi lagi? Emang mau kemana? Berapa lama?” Reya tak bisa menutup rasa cemas dan kecewanya.
Survey lokasi dan urusan kantor 1 bulan.. terus…rencananya sekalian meneruskan terapi 2 atau 3 bulan… dan selama di sana, mungkin aja kan bisa ada jadwal baru lagi.. yah.. “ Lendra diam sejenak” totally.. setengah tahun –an lah..” senyum Lendra.
Apa setengah tahun?!!” Reya melepaskan pelukan Lendra dan menatap kesal.
“Ngga usah pulang aja sekalian!! “ cepat ia memalingkan muka geram.
Lendra terbahak sampai memegang perutnya sakit karena tertawa. Reya memandang kesal karena sadar sudah merasa dibodohi dan cemberut meninggalkan Lendra.
Lendra segera menarik lengannya dan mereka kembali bergandengan pergi sambil tertawa.
            Semakin hari hubungan mereka semakin dekat. Lendra tak pernah mengungkit lagi masalah mereka di Jakarta, dan Reya juga merasa berat untuk memulai bertanya masalah Fayo. Seakan mereka hanya ingin menikmati masa kebersamaan ini sebaik-baiknya, walaupun tak ada satu kata ‘cinta’ pun pernah terucap dari keduanya.
Lendra hanya ingin membahagiakan Reya sebisanya selama Reya belum menemukan kembali ingatannya. Sedang Reya sendiri merasa takut untuk mengingat masa lalunya.
            Dipenghujung tahun itu, Lendra mengajak Reya merayakan pergantian tahun di atas kapal pesiarnya. Semalaman mereka berada di sana bermain kembang api dan duduk menatapi bintang-bintang. Malam yang tak akan pernah bisa mereka lupakan.
***
London, 12 Januari 2010

Di sebuah apartemen mewah di jantung kota London, Reya, seorang gadis yang sangat cantik, berpostur tinggi dan ramping tampak seperti model sedang duduk santai sambil menelepon.
“Ah dari mana lo tahu? It’s non sense..!!” desisnya sambil menegakkan duduknya.
Gua lihat sendiri Re… beneran..” sahut suara perempuan dari seberang telepon.
Oh really?” Reya terlihat sangat penasaran.
Bener.. Lendra sudah berubah.. dia bener-bener merubah penampilannya dan balik lagi seperti dulu..”
Seperti dulu gimana sih? Dia kan cacat?!” sahut Reya sinis.
Emang kakinya agak pincang, tapi ngga terlalu kelihatan kok.. wajahnya juga tetep ganteng seperti dulu..!!”
Terus-terus apa lagi “Reya berdiri dan berjalan berkeliling dengan semangat. Sebelah tangannya memegang semangkuk kecil buah kiwi segar, dan ia mulai menyuapnya satu persatu.
Dan satu lagi Re.. “ suara di seberang telepon tertawa” yang ini pasti lo ngga akan percaya..”
Apaan sih?” Reya ikut tertawa penasaran.
Sepertinya dia sudah melupakan patah hatinya sama lo deh.. “ sindirnya, “ soalnya gua ketemu dia bareng sama cewek… “ kembali perempuan itu terbahak.
Ah mana mungkin,” Reya terdengar tak suka, “ lo salah lihat kali..”
Diletakkannya mangkuk kiwi itu dan Reya berjalan mendekat ke jendela apartemenya dan memandang ke suasana kota London yang ramai.
“Beneran Re… gua lihat sendiri..” perempuan itu berusaha meyakinkan Reya.
“Mungkin aja kan cewek itu cuma kliennya atau ada urusan kerjaan apa kali..” tukas Reya.
Aduh Re.. ngga mungkin kalau mereka sekedar teman atau kolega deh.. soalnya mereka itu.. lagi candle light dinner gitu, dan Lendra juga bawa bunga buat dia..” sahutnya lagi.
Apa?! “ Reya makin terkejut dan kesal” Dinner??!!”
“Makanya gua bilang juga apa?! Cepetan deh lo pulang ke indo..ngapain sih lama-lama di sana, kan si bule juga udah lo depak Re… apalagi yang lo tunggu..”
Reya terlihat kesal dan berpikir sambil mematikan telepon dan memandang ke depan jendela.
“Lendra?! Apa betul lo bisa melupakan gue? “ pikir Reya sambil tersenyum sinis.
Reya menepuk-nepukkan handset telepon di telapak tangannya.
“Gue ngga akan membiarkan elo pergi begitu aja… “
Reya berdiri mematung. Dalam pikirannya berkecamuk segala akal untuk mendapatkan kembali Lendra.

Banaran, 12 Januari 2010

Reya duduk termenung menatap jendela dan terlihat gelisah.
“Aduh.. kenapa sih aku ngga bisa konsekuen dengan pemikiran aku sendiri..” gumamnya.
“Setiap ketemu Lendra, semua rencana yang sudah aku susun.. semua pertanyaan dan pemikiran aku.. rasanya hilang semua…Aku ngga inget lagi apa yang mau aku tanyain.. bahkan aku juga ngga tahu apa yang mesti aku lakuin sekarang… “
Reya menghela napas dan menyandarkan punggungnya lemas.
Apa aku bener-bener mulai suka sama dia? Bagaimana ini? Kalau aku bukan Reya? Berarti aku ngga boleh cinta sama dia… “ Reya semakin resah. Ia mulai mereka-reka dan mengarang berbagai kemungkinan.
“Lendra mungkin hanya memanfaatkan aku, Bi Sarmi pernah bercerita kalau siapapun Reya itu, dia pernah mencampakkan Lendra .. pasti.. pasti saat itu tak sengaja dia menemukan aku yang ternyata sangat mirip sama kekasihnya,” Reya menjadi kesal, “ dan dia menjadikan aku pelariannya..”
Reya cemberut.  Tapi lalu ia teringat pembicaraannya dengan Lendra beberapa hari yang lalu. Saat itu Reya dan Lendra duduk di tepi kolam renang, anjungan kayu kecil, salah satu tempat favourite Reya di Banaran.
Ah itu kan alasan kamu aja pengen jalan-jalan ke Malaysia, pake ngaku-ngaku rapat segala..” gerutu Reya ketus.
“Beneran kok, ngapain aku mesti bohong sama kamu..” Lendra menjawab lembut.
Emangnya rapat apa-an masa ngobrol nya sampai berhari-hari siang malem ngga selesai-selesai…Lagian, aku juga tahu, biasanya kalau orang-orang itu…, paling dalam sehari rapatnya cuma beberapa jam, sisanya di pakai buat senang-senang deh…Ya kan?” Ngapain aja kamu di sana coba..?”
Lendra tertawa, “ Ya .. iya juga sih..”
Tuh kan.. “ Reya mendorong kesal.
Tapi ngga jugalah kalo rapatnya cuma beberapa jam, kemarin emang jadwalnya padet banget dari pagi sampai malam, makan siang aja ngga bisa keluar..
Baru deh malem terakhir kita sempet santai-santai dikit..”
“Hu.. Ngakunya aja malam terakhir doang.. “  Reya memonyongkan mulutnya.
Lendra tertawa dan memandang ke kejauhan sambil membayangkan masa lalunya.
Dulu.. emang sih.. rasanya setiap ada kesempatan “ Lendra diam sejenak dan memandang Reya, “Aku kan jarang ada waktu kosong, jadi setiap ada senggang dikit aja.. pasti pengennya refreshing lah.. ke pub, atau ke mana… “ Lendra kembali memandangi air kolam yang beriak kecil.
Reya menatap Lendra lekat-lekat.
“Tapi ngga tahu kenapa.. sejak pertama ketemu kamu.. ya baru kemarin itu di KL aku keluar lagi.. “ Lendra menoleh ke Reya dan tersenyum memandang Reya yang menatapnya lekat. “itu pun ngga ada setengah jam aku sudah balik ke hotel…”
Lendra tersenyum dan kembali memandang ke kejauhan, Reya mengernyitkan kening.
“Kenapa? Bukannya kesempatan bagus jauh-jauh dari rumah bisa hepi-hepi di sana?” sindir Reya ketus.
Lendra tertawa dan mengelus kepala Reya.
“Non.. non..?! Kamu ini emang bego atau pura-pura ngga tahu sih…”
Reya diam saja dan memandang ke depan dengan sebal.
Sampai malam itu Reya masih mengerutkan kening berpikir keras.
“Apa maksudnya dia ngomong gitu? Apa artinya Lendra juga suka sama aku? Apa maksudnya sejak bertemu aku dia berubah ngga pernah kelayapan lagi dan ngga bisa hepi-hepi.. Apa emang karena aku? Atau karena Reya? Siapa sebenarnya yang dia suka?
Lalu gimana dengan Reya? Apa Lendra bener-benersudah ngelupain dia?”
Reya menghela napas.
“Tapi kenapa Lendra selalu menganggap aku sebagai Reya? Kenapa dia ngga berterus terang mengenai masa lalu aku?Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa aku sama sekali ngga ingat kapan aku ketemu sama dia?”Reya terdiam dan kembali berpikir.
Atau jangan-jangan memang aku ngga pernah menikah sama Lendra? Itu sebabnya aku ngga pernah ingat apa pun tentang dia sama sekali kecuali sejak aku sadar di pulau ini?”
Reya berdiri dan berjalan ke ranjangnya.
“Lalu bagaimana dengan surat nikah itu?”Pikirnya.
“Wajah perempuan itu memang sangat mirip sama aku… hanya lebih gemuk dan ..” Reya berusaha mengingat foto-foto yang pernah dilihatnya,
“Apa perempuan itu Reya?” ia ternganga tia-tiba terlintas dalam pikirannya, “”Apa Reya mati atau pergi setelah menikah dengannya.. dan kebetulan Lendra menemukan aku yang berwajah sama dengan perempuan itu dan..”
Reya menggeleng kesal dan memukul-mukul kepalanya.
Duuh.. nggak-nggak.. aku nggak tahan lagi.. aku mesti tanya sejelas-jelasnya sama dia.. “ diam sejenak dan berdiri.
“Sekarang.. lebih baik sekarang sebelum aku mulai ragu lagi…”
Reya berdiri dan membuka laci meja riasnya dan mengeluarkan potongan koran yang sempat diambilnya dari kamar Lendra.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu kamar Reya.
“Ya?! “ ia terkejut dan cepat-cepat menyimpan potongan koran itu kembali.
Seorang pelayan membuka pintu dan berdiri di sana.
“Maaf Non? Apa Non bisa siap-siap sekarang?”
“Siap-siap?”
Pelayan itu melebarkan pintu dan di belakangnya  tiga orang pelayan lain sudah siap untuk mendadani Reya. Seorang membawa gaun indah, seorang membawa peralatan make up dan seorang lagi membawa peralatan rambut.
Reya ternganga heran.
***
Banaran, malam hari

Reya berdiri di taman samping dan tampak sangat cantik dengan dandanannya.
Suasana taman sudah di hias sangat indah. Lampu temaram dan lilin menyala dalam hiasan teratai tersebar di berbagai sudut dan juga mengapung di kolam renang, bahkan sampai ke arah pantai.
Sebuah meja kecil dengan bunga segar dan dua buah kursi rapi sudah disiapkan.
Seorang pelayan menarikkan kursi dan mempersilakan Reya duduk.
Reya menghela napas dan memasukkan tangannya ke saku gaunnya.
Reya memandang sekilas dan ragu saat mengeluarkan potongan kertas koran dari dalam saku dan memasukkannya kembali ke dalam saku.
Reya berjalan pelan dan duduk.
Lendra dari dalam rumah memandang ke luar tempat Reya duduk.
Lendra sudah rapi dan tersenyum, ia terlihat tegang.
Semoga saja ini waktu yang tepat.. “ ia menghela napas ragu, “Aku harap perasaan aku ngga salah mengartikan sikapnya selama ini.”Lendra tersenyum dan menunduk.
Perlahan Lendra berjalan mendekati Reya. Reya menoleh dan tersenyum canggung.
Lendra membawa seikat bunga mawar dan memberikan pada Reya. Reya menerimanya dengan pandangan curiga.
Tumben? Ada acara apa nih? “ tanyanya,“Apa kamu ulang tahun?”
Lendra tertawa, “Exactly ..nothing special..” Lendra duduk dan menatap Reya dalam, “ but everyday is special after you come to my life…”
Reya terhenyak sesaat dan memandang kesungguhan di mata Lendra.
Ngga ada salahnya kan kalau kita rayakan?” senyumnya.
Reya tersenyum canggung. Pelayan  datang dan menyajikan makanan.
Sampai selesai makan hati Lendra gelisah.
Ngomong ga ya? Mestinya sih dia kan bisa ngerasain perasaan aku yang sebenernya ke dia.. “pikirnya sambil melirik Reya, ” tapi cewek bawel ini agak-agak ‘telmi’ kayanya… “
Reya merasa Lendra menatapinya dan tersenyum canggung. Tangannya kembali memegang sakunya.
Duh.. hampir saja aku lupa.. “ pikirnya dalam hati, “dasar aku ini bener-bener kena ‘short term memory lost‘ deh, kalau sudah bareng Lendra semuanya lupa…” Reya menunduk memandang saku.
“Ngomong ga ya?” pikirnya ragu.
Reya dan Lendra mengangkat wajah berpandangan dan sama-sama membuka mulutnya hendak bicara bersamaan, lalu tertawa canggung.
“Oh,.. kenapa?” tanya Lendra.
“Ha? Eh.. nggak-nggak.. ehm.. kamu.. kamu tadi mau ngomong apa?” balas Reya.
“Eh? Aku? Oh ngga kok.. ngga papa, kamu duluan aja.. “ jawab Lendra gugup.
Reya menunduk dan gelisah, menghela napas memberanikan diri.
Ada apa ya? Tumben malam ini dia ngga rame kaya biasanya? Mau ngomong apa ya? Jangan-jangan dia mau nembak aku duluan?” pikir Lendra.
Lendra mengamati Reya yang menunduk gelisah.
“Duh.. gimana nih, aku mesti mulai dari mana..” cemas Reya dalam hati.
“Ada apa Re?” tanya Lendra serius karena merasa ada yang tak beres. Perasaannya mulai cemas.
Reya mengangkat wajahnya dan menatap Lendra yang tampak memandangnya penasaran.
“Aku tahu.. “ Reya terdiam sejenak dan menguatkn hatinya menatap mata Lendra, “Aku bukan Reya.”
Lendra memandangnya terdiam.
Reya menghela napas. Dan melanjutkan ucapannya. Namaku Fayonita Wiryawan… dan aku bukan Reya…  iya kan?”
Lendra memalingkan wajahnya tak bersuara.
Kenapa? Kenapa kamu.. “ Reya gugup” kenapa kamu menjadikan aku Reya? Membuat seolah-olah aku sakit.. “ Reya mulai emosi, “ amnesia.. hilang ingatan?”
Lendra tetap diam tak menjawab dan tak menatapnya lagi.
“Kenapa? Jawab Lendra?! Kenapa?” teriaknya.
Melihat Lendra yang diam, emosi Reya semakin meledak-ledak.
“Tentu saja sampai mati pun aku ngga akan ingat tentang masa lalu Reya, kapan ketemu kamu, kapan kita menikah, kenapa aku bisa menikah sama kamu dan semuanya.. aku ngga akan bisa ingat… karena memang semua itu ngga pernah terjadi… karena aku.. bukan.. Reya.” Tukasnya ketus.
Lendra mengangkat wajah dan menatap Reya menahan emosi.
Kenapa? Kenapa harus aku? Apa karena aku begitu mirip sama istri kamu yang meninggalkan kamu itu..”
Lendra mengernyitkan kening.
Itu sebabnya kamu memanfaatkan aku untuk kepentingan kamu.. kamu egois!! Kamu jahat!! Kamu membuat aku merasa bersalah sudah menelantarkan kamu saat kamu sakit.. “ Fayo mulai terisak.
“Padahal aku ngga pernah melakukannya.. kenapa? Kenapa kamu memaksa aku menjadi orang lain?” tangisnya.
“Kenapa kamu diam aja? Jawab Lendra!! Kenapa?” desak Fayo.
Lendra menegakkan duduknya dan menelungkupkan wajahnya ke kedua tangannya seperti baru saja menerima kekalahan telak. Lesu.
“Aku kan punya kehidupan.. aku punya kehidupan sendiri.. punya papa.. calon suami..” terbata-bata Fayo mengeluarkan semua emosinya yang terpendam selama ini.
Lendra mengangkat wajahnya menatap bingung, matanya berkaca-kaca melihat Fayo begitu terluka.
Apa kamu ngga berpikir kalau aku juga punya masa depan? Punya rencana untuk masa depan aku? Aku akan menikah dengan Randy, kami sudah 9 tahun pacaran… kami saling mencintai… apa kamu ngga pernah mikir sih? “ tanyanya berapi-api.
Ngga.. bukan begitu…semua itu ngga bener Non… “ jawab Lendra lirih.
Apa? Apa penjelasan kamu.. apa yang ngga bener?”
Lendra menggeleng gugup dan menghela napas.
Fayo mengeluarkan potongan potongan koran dan meletakkan nya di atas meja.
“Lalu apa ini? Coba jelasin.. untuk apa kamu simpan ini.. Semua data tentang aku, F A Y O… “ejanya
“Ya kan.. “tangisnya sudah berganti jadi marah dan kesal, “ Kamu jahat sekali Lendra!! Padahal kamu tahu keluarga aku mencari aku kemana-mana… kenapa kamu ngga kembalikan aku sama mereka..Kenapa kamu menyekap aku di sini… “
Lendra memandang Fayo dengan marah.
Fayo mengangguk-angguk seperti mengerti sesuatu dan mulai bicara dengan ketus.
“Oh.. pantes saja, kamu seorang pengusaha super sibuk, tapi di rumahnya bisa ngga ada koran, ngga ada telepon… kenapa? Kamu takutkan kalau-kalau aku membaca sesuatu yang membuat aku sadar siapa aku sebenarnya..” Fayo berdiri dan memukulkan tangannya pada lembaran koran di meja.
“Kamu bahkan mengerahkan banyak penjaga supaya aku ngga bisa lari dari sini..Dan waktu itu.. waktu kita di ancol.. kamu cepat-cepat membawa aku pergi karena takut Wulan membongkar kedok kamu kan..”
Kedua tangan Lendra erat memegang meja dan berdiri marah lalu membentak.
“REYA!!”
Lendra sejenak tertegun menyadari ucapannya. Fayo semakin kesal.
Namaku bukan Reya… “ujarnya dingin.
“Kebetulan banget waktu kamu pergi aku menemukan ini”
Ia menunjuk potongan koran di meja. “ kalau nggak.. selamanya aku akan kamu jadikan seperti orang bodoh..”
Jadi selama aku pergi kamu memeriksa barang-barang aku!!” bentak Lendra.
Lendra balas menggebrak potongan koran yang ada di atas meja dan meremasnya, lalu memandang Fayo yang menatapnya kesal, menggeleng dan pergi dengan marah.
Lendra!! Tunggu kamu belum jawab pertanyaan aku..”
Lendra berhenti tapi tak membalikkan badannya dan tetap memunggungi Fayo.
Kenapa.. apa hanya karena aku mirip dengan Reya jadi kamu merasa berhak merampas kehidupan aku?”
Lendra membalikkan badan dan menatap Fayo dengan sangat marah dan menuding.
Denger ya..” sahutnya ketus.
“Kamu ini ngga ada apa-apanya!! Ngga ada seujung rambut pun kamu mirip sama Reya!!”
Fayo terhenyak. Lendra menatapnya marah.
***

No comments:

Post a Comment