Sunday, November 6, 2011

Aku Bukan Reya - Bab VI

Lendra seketika berbalik dan memasuki rumah tanpa bicara lagi.
Fayo tertegun sejenak berdiri lalu terduduk di kursinya lemas dan mulai menangis. Tak sengaja tangannya menyentuh rangkaian bunga dari Lendra tadi.
Fayo memandang bunga itu dan tangisnya semakin keras.
“Kenapa aku jadi marah-marah.. kok jadi gini sih.. kan maunya aku nanya baik-baik..Kenapa sih aku ngga bisa ngomong sedikit lebih manis.. “ sesalnya.
“Ngga, aku ngga boleh merasa bersalah.. ini bukan salah ku..Dia yang mulai.. dia yang jahat sudah merenggut hidupku begitu saja hanya untuk kepentingannya.. dasar egois…”
Fayo terdiam dan tampak gelisah, tangisnya mulai mereda.
Tiba-tiba Lendra keluar dari rumah dengan terburu-buru, sama sekali tak menoleh padanya. Lendra setengah pincang berjalan cepat meninggalkan rumah menuju ke arah anjungan kapal.
Fayo menatap punggung Lendra menjauh dan menghilang dalam gelapnya malam.
Fayo tertunduk lesu.
Kenapa perasaan ku sakit sekali melihatnya pergi… kenapa aku merasa bersalah banget sudah memakinya tadi.. “sesalnya lagi.
Fayo terpaku sendirian di tempatnya sampai dini hari.
Lilin pun mulai padam satu persatu.

Banaran, 18 Januari 2010

Fayo sarapan sendirian. Bi Sarmi membawa beberapa perlengkapan masuk kembali ke dapur. Seorang pelayan sibuk melayani Fayo.
“Sejak malam itu Lendra ngga pernah pulang lagi..Bi Sarmi dan yang lain sepertinya tidak tahu apa-apa.. mereka juga bingung kenapa Lendra mendadak pergi malam-malam dan sudah beberapa hari tak ada kabarnya…” pikir Fayo dalam hati
Fayo memandang meja dan kursi di sebelahnya dan tampak sedih.
Sampai kapan aku mau begini? Lendra ngga akan menjelaskan apa pun.. waktu itu aja dia hanya diam dan sama sekali ngga bicara apa-apa..
Dia pasti ngga menyangka aku bisa tahu… itu sebabnya dia marah banget.”
Fayo meletakkan sendoknya dan pandangannya menerawang keluar jendela ke arah pantai.
Beberapa penjaga kapal tampak sedang membereskan barang-barang. Fayo segera menyelesaikan makannya dan kembali ke kamarnya.

Banaran, malam hari

Suasana malam gelap dan temaram. Wajah Fayo terlihat muram.
“Aku ngga bisa begini terus.. buat apa aku menunggu dia di sini… Seharusnya sudah lama aku pergi dari sini.. sekarang mestinya lebih mudah..
Aku sudah hafal semua kebiasaan penjaga-penjaga itu, juga semua lokasi di pulau ini..”
Fayo memandang sekeliling kamarnya dengan sedih.
“Selamat tinggal… Lendra…” bisiknya lirih.

Banaran, 19 Januari 2010, menjelang subuh

Fayo mengendap-ngendap mendekati kapal. Ia memandang jam tangannya dan merapat ke salah satu sudut karang, lalu seperti menghitung dengan jari tanpa suara.
“Harusnya beberapa saat lagi Pak Atmo pergi mengambil kopi ke dapur..”
Fayo kembali menunggu.
Sejenak kemudian penjaga keluar dari kapal dan berjalan menjauhi kapal.
Fayo menahan napas dan sesekali memandang ke penjaga yang menjauh dan kembali memandang ke jam tangannya.
Setelah mengawasi sekeliling segera Fayo berlari menaiki kapal dan lari ke bagian belakang.
Beberapa kotak barang ada di sana, Fayo segera mencari posisi dan bersembunyi duduk di sela kotak yang tersembunyi. Fayo tampak tegang dan gelisah. Kemudian dia memeriksa kantong celananya, ada beberapa uang ribuan dan recehan yang segera dimasukkan kembali ke dalam kantong dengan cemas.
Untung aku sempat mencopet-copet dikit beberapa uang receh yang aku temuin di dapur..  aku pasti akan butuh uang ini, senggaknya untuk naik bis atau menelepon ke rumah… “ bisiknya tegang sambil memeluk lututnya.
Fayo kembali memandang jam tangannya dan duduk diam sambil merapatkan jaketnya.
Tiap hari selasa, semua kotak ini kosong, jadi mereka sama sekali ngga akan memeriksa ke sini, bahkan sampai kapal tiba di seberang.. mereka baru ke sini setelah mereka pulang dari pasar dan meletakkan barang-barang di sini…” pikirnya.
Fayo menghela napas tertahan.
Sejenak kemudian terdengar langkah kaki dan suara penjaga kapal berbicara dengan penjaga yang lain dan seorang pelayan.
Iya.. semua sudah di catat.. “ ujarnya.
“Ya udah.. hati-hati Pak Atmo..” sambung yang lain.
Kamu sudah siap Ti?” kata Pak Atmo.
Sudah Pak.. “ jawab si pelayan.
Reya meringkuk makin dalam di kegelapan. Didengarnya suara mesin di nyalakan.
Jalan Pak… “ setengah berteriak Pak Atmo melambai.
Fayo memejamkan mata tegang. Kapal bergerak dan mulai menjauhi pulau membelah gelap.
Bisingnya mesin kapal menulikan telinga Fayo. Tak didengarnya suara helikopter melintas di udara mendekati pulau.
Lendra duduk merenung di atas heli memandang ke jendela. Dua orang penjaga duduk diam dan serius di depan, mengemudikan helikopter.
“Aku baru tahu, ternyata seperti ini rasanya…”lamunnya.
“Dulu aku kira Reya adalah segala-galanya dalam hidupku.. Reya adalah nafasku..
Aku kecewa banget waktu dia mengkhianatiku dengan bule sialan itu, dan mencampakkan aku begitu saja saat aku cacat.. Aku pikir aku pasti mati.. “ Lendra menghela napas berat.
“Tapi .. semua sakit itu.. Bahkan ngga ada setengahnya dari sakit hatiku saat ini..”Lendra memejamkan mata, menyandarkan kepalanya.
Memang semestinya aku mengatakan semuanya sejak awal… jadi semua ini ngga akan terjadi. “pikirnya. “Tapi.. kondisinya masih labil.. dia bahkan melupakan semua peristiwa kecelakaan itu.. aku takut dia akan menyalahkan aku.. “
Lendra membuka matanya dan memandang ke sekitar.
“Aku ngga bisa terus-terusan menghindar.. toh aku sudah tahu cepat atau lambat, aku harus menjelaskan semuanya.. “ Lendra memegang keningnya dan kembali memejamkan mata.
“Kalau saja aku ngga suka sama dia sebesar ini.. pasti semuanya jadi lebih mudah..” Dengan gelisah Lendra memainkan jarinya.
“Aku harus minta maaf sama dia.. waktu itu aku sudah kasar banget dan pergi begitu aja tanpa pamit sampai hari ini…”pikirnya lagi.
“Kalau memang dia tetap mau tinggal di sini.. Atau memilih untuk pergi,” tercekat, “Aku ngga berhak menghalanginya lagi”
Lendra menerawang menatap pulau yang sudah tampak dekat.
***
Pelabuhan, siang hari

Fayo  berjalan di antara ramainya orang di pelabuhan dan terlihat bingung. Beberapa orang memandanginya ingin tahu,  beberapa pemuda nelayan bersiul menggoda Fayo yang terlihat seperti gadis kota yang tersesat di antara orang-orang yang berpakaian seadanya.
Fayo berjalan dalam kebingungan dan segera menyapa seorang ibu-ibu yang lewat.
Maaf Bu.. ehm ini di mana ya?” tanyanya gugup.
Ibu itu berhenti berjalan dan memandang Fayo heran dari atas ke bawah tak menjawab.
“Oh.. maksud saya.. kalau mau ke Jakarta, dari sini saya bisa naik apa ya?” jelasnya lagi.
“Oh.. ke sana aja Neng.. “ ibu itu menunjuk ke ujung jalan, di sana ada beberapa mikrolet dan ojek.
“Bilang aja mau ke terminal, nanti di sana banyak bis yang jurusan ke Jakarta…” terangnya.
“Oh ke sebelah sana ya Bu? Terimakasih ya… “ jawabnya sopan.
Ibu tadi mengangguk dan pergi, Fayo menghela napas dan berjalan menuju ke ujung jalan.
Dengan berbekal keberanian dan sedikit uang di sakunya Fayo menuju ke Jakarta hari itu juga.

Banaran, siang

Lendra memasuki ruang tengah dengan gelisah. Bi Sarmi tergopoh-gopoh menyambut dengan wajah cemas.
Aduh Aden.. Aden ini dari mana saja.. berapa hari kok ngga pulang juga ngga ada kabarnya… “ tanyanya cemas.
Lendra tersenyum pedih dan menghela napas tak menjawab, lalu memandang sekeliling.
Bi Sarmi seperti membaca pikiran Lendra dan dengan gelisah dan takut mendekat.
Anu Den.. Non Reya..” katanya takut-takut.
Lendra menoleh dan memandang heran.
Kenapa?”
 Bi Sarmi tampak gelisah dan cemas.
“Itu Den.. Anu.. Non Reya..” kata Bi Sarmi lagi.
Lendra merasa ada yang tak beres dan menjadi sangat cemas.
”Kenapa Reya? Apa sakit?” sahutnya.
Lendra segera berlari tertatih menuju ke kamar Fayo di atas dengan cemas dan membuka pintu kamarnya.
Dilihatnya suasana kamar yang dingin dan sepi. Ranjangnya rapi seperti tak tersentuh
Lendra memandang heran dan bingung. Bi Sarmi tergopoh-gopoh menyusul.
“Non Reya.. hilang Den… “ katanya hati-hati.
“Apa?!”
Kemarin seharian memang Non ngga mau keluar-keluar, makannya juga ngga di sentuh…
Tadi pagi-pagi saya datang.. tahu-tahu sudah ngga ada Den..” katanya terbata-bata.
Lendra terhenyak, shock, terdiam, napasnya memburu cemas. Lalu bergegas ke lemari pakaiannya dan membuka serta memeriksa barang-barang Fayo, semua masih ada.
“Saya sudah cari ke mana-mana.. tapi Non Reya ngga ketemu” ucapnya sambil menahan tangis, “Bibi takut Den.. ada apa-apa sama Non…”
Lendra tampak berpikir sejenak. Ia teringat saat Reya akan di serang ular di hutan cemara.
Lendra terlonjak dan segera berlari keluar kamar. Tak dipedulikannya Bi Sarmi yang terus bicara di belakangnya.
“Semua penjaga dan pelayan sudah mencari kemana-mana tapi belum ketemu..”
Lendra berlari menuruni tangga, keluar rumah menuju jalan setapak, sambil menoleh ke kanan kiri mencari-cari. Tak ada suara, tak memanggil, hanya kecemasan dan gelisah. Lendra terus berlari ke sana dan kemari sambil terpincang-pincang, di balik rimbun pepohonan mencari-cari.
Sampai sore tiba, Lendra masih berlari di pantai tempat mereka biasa berjalan-jalan.
Sesekali Lendra yang terlihat lelah memutar melihat sekeliling dan akhirnya tersengal-sengal berdiri, membungkuk dan bertahan untuk terus berdiri dengan kedua kakinya yang sakit, cemas dan kebingungan.
Lendra jatuh bersujud lalu menengadah dan berteriak melampiaskan kesedihannya.
Ia terus duduk sendirian di pantai dalam kegelapan malam sampai esok tiba.
            Pagi harinya Bi Sarmi berlari pelan mendekati Lendra yang masih duduk kelelahan di pantai dengan wajah cemas dan ragu. Lendra menoleh.
“Maaf Den.. sepertinya Non… “tak sampai hati rasanya Bi Sarmi melanjutkan karena tak tega melihat reaksi dan kondisi Lendra.
Lendra memalingkan muka dan terengah, sedih dan lemas.
“Kata Pak Atmo, kemarin ada yang melihat Non Reya di pelabuhan..bertanya jalan ke Jakarta” lanjutnya sedih.
Lendra menutup matanya dan menghela napas resah lalu mengangkat tangannya memberi kode Bi Sarmi untuk pergi.
“Tapi Den.. Aden…”
Tinggalkan saya sendiri Bi.. “potongnya lirih, “Saya pengen sendiri…”
Bi Sarmi berjalan pelan meninggalkan Lendra yang tampak terpukul. Sesekali Bi Sarmi menoleh memandang cemas ke Lendra. Dilihatnya wajah Lendra sedih, matanya berkaca-kaca menahan tangis, menggigit bibir dan tersenyum pedih
***
Serpong, 19 Januari 2010

Sebuah bajaj melaju pelan dan berhenti dekat sebuah rumah kecil. Deretan rumah-rumah berpagar rendah dengan tipe yang sama tidak membuat Fayo ragu.
Fayo membayar dan turun dari bajaj.
“Terimakasih Bang…”
Bajaj berlalu dan Fayo berjalan menuju ke rumahnya dengan tatapan cemas.
“Ini rumahku.. ini pasti rumah ku…”
Beberapa jemuran tergantung di depan rumah itu, sebuah sepeda motor terparkir di  halamannya.
Terbayang dalam benak Fayo rumah yang sama hanya saja lebih banyak barang dan ada sebuah mobil tua terparkir di sana. Fayo semakin mendekati pagar, memegangnya dan mengintip ke dalam.
Dari kejauhan datang seorang ibu-ibu membawa belanjaan berjalan mendekat.
Melihat seorang gadis berdiri mengintip di pagar,si  Mbok memandanginya heran.
“Maaf.. mau cari siapa ya?”
Fayo terkejut dan memandang Mbok. Mereka saling berpandangan sejenak.
“Ehm.. em… Mbok? “ tanyanya ragu.
Mbok terkejut dan memandang dari atas ke bawah lalu menjatuhkan belanjaannya.
“Non.. non… Fayo?”
Mereka berpandangan tegang dan tak percaya.

Jakarta, kantor Lendra

Reya asli, gadis cantik keturunan indo jerman itu berdiri dekat receptionis dengan gaya yang menawan. Receptionist berdiri dan mengangguk hormat.
‘Maaf Bu.. tapi Pak Lendra sedang ke luar kantor..” katanya sopan.
“Lalu? Kapan dia kembali?” jawab Reya sambil memandang sekeliling.
Sepertinya hari ini tidak kembali, tapi nanti kalau beliau menghubungi akan saya sampaikan kalau..”
Katakan saja, Reya sudah pulang… suruh dia hubungi saya.. “ potong Reya sambil tersenyum.
Reya memandang lagi ke sekeliling dan berjalan dengan anggun keluar.
TPU, 20 Januari 2010

Fayo menangis di makam ayahnya dengan sangat sedih. Mbok bersimpuh juga di sisinya, mereka menaburkan bunga dan berdoa di sana. Fayo merasa sangat hancur, terngiang pembicaraan Mbok dengannya kemarin.
Apa? Papa meninggal?”
Iya Non… sejak Non Fayo menghilang… tiap hari Bapak mencari Non ke sana kemari.. ke rumah sakit, kantor polisi… “ Si Mbok terisak.
“Sampai Bapak sakit mikirin Non Fayo.. sudah di bawa ke dokter, ke rumah sakit… tapi ngga sembuh juga…Terpaksa Bapak jual mobil untuk biaya rumah sakit, untung BuLik Nur sering datang menjaga Bapak… sampai akhirnya Bapak ngga ada.. semua juga Bu Lik yang bantu mengurus…”
Fayo menangis keras.
“Kata BuLik, pesan Bapak sebelum meninggal, supaya menjaga rumah baik-baik, siapa tahu suatu saat Non Fayo pulang..”
Fayo terus merenung menatap makam papanya.
“Lendra.. bagaimana aku bisa memaafkan kamu? “ pikirnya dalam hati.
Mbok memegang bahunya, Fayo menoleh. Keduanya lalu berdiri dan berjalan meninggalkan makam.
“Kamu sudah menyebabkan Papaku meninggal..”isaknya dalam hati, “ Satu-satunya orang tua ku ..Kamu sudah membuat aku jadi yatim piatu… padahal aku ngga punya kakak atau adik.. Satu-satunya kerabatku yang tersisa sekarang Cuma Bulik Nur adik sepupu Papa, padahal dia tinggal di Yogya… Kamu membuat aku sendirian.. aku ngga punya siapa-siapa lagi…Kenapa sih kamu tega banget Lendra?” kebencian membuncah di dada Fayo.
“Kamu egois.. hanya karena Reya meninggalkanmu, kenapa kamu tega memanfaatkan aku?”
Fayo terus menangisi dan menyesali semuanya.

Banaran, sore hari

Bi Sarmi berlari-lari ke depan pintu mendengar suara ketukan pintu. Sebelumnya beberapa penjaga dan pelayan telah menghubunginya bahwa ada tamu datang dengan helikopter dari Jakarta.
“Ya.. tunggu “ sahutnya agak keras.
“Aneh..puluhan tahun aku di sini, sejak kapan rumah ini bisa ada tamu?”pikirnya.
Bi Sarmi membuka pintu cepat-cepat,  tampak Reya berdiri di depan pintu.
Bi Sarmi ternganga sejenak melihat gadis cantik di sana. Dilihatnya baik-baik dari atas ke bawah. Reya membuka kaca mata hitamnya dan memandang jutek. Lendranya ada?”
“Oh? Eh? Ada.. ada Non mari..eh Non ini…”tanyanya bingung.
Bi Sarmi mempersilakan Reya masuk. Penjaga juga memandang Reya penuh selidik. Reya tak menjawab dan langsung masuk.
Reya duduk di ruang tengah sambil memandang ke sekeliling mengamati.
“Maaf Non.. mau minum apa?” sapa Bi Sarmi ragu.
“Saya kesini bukan mau minum. Saya mau ketemu Lendra. Mana dia?” jawabnya ketus.
Bi Sarmi terkejut dan tampak canggung.
Maaf Non.. tapi Non ini siapa ya… Ada urusan apa mau ketemu Aden?” jawabnya hati-hati.
Reya memandang Bi Sarmi dengan pandangan heran dan merendahkan.
“Oh..” Reya memandang Bibi dari atas ke bawah, ” pasti kamu yang namanya Bi Sarmi..”
Oh? Eh iya.. “ semakin heran karena Reya mengenalnya.
“Saya Reya.. bilang sama Lendra saya datang… “ jawabnya ketus.
“Apa? Reya?”Bi Sarmi terkejut.
Ia teringat nada bicara Reya di telepon dulu yang begitu kasar padanya, persis dengan suara perempuan cantik yang sekarang berdiri di depannya ini.
Iya.. “ Reya memandang tak senang.
”Reya! Kenapa? Saya ini tunangannya Lendra.. masa Bibi lupa.. walaupun kita belum pernah ketemu tapi kan Bibi pernah telepon saya dulu.. lagian.. masa sih Lendra ngga pernah cerita tentang saya” sahutnya kasar.
Bi Sarmi terkejut dan tampak bingung. “Tapi.. tapi..”
Kenapa? Tapi-tapi? Sudah sana cepetan panggilin.. Bibi ini lelet banget sih kalau di suruh.. ngga ngerti-ngerti juga..”
Bi Sarmi menunduk bingung dan berjalan tergopoh-gopoh ke kamar Lendra.
Reya berdiri dan memandang ke sekeliling memeriksa. Di pandangnya ke seluruh interior ruangan dan perabot yang mewah, lalu membuka tas mengambil hp hendak menelepon, tapi kemudian di lihatnya tak ada sinyal. Reya terlihat kesal.

Jakarta, sore hari

Fayo berjalan mendekati sebuah rumah sambil membaca alamat di secarik kertas.
Rumah yang terlihat asri, bangunan 1 lantai tanpa pagar di sebuah perumahan baru yang asri.
“Mestinya ini rumahnya… dulu kami sempat ke sini..”
Fayo memandang sekeliling rumah dan berusaha mengingat masa lalu.
Diingatnya saat bergelayut mesra pada lengan Randy
Yang ini boleh juga..” kata Fayo waktu itu. Hatinya sangat gembira memandangi rumah itu.
Waktu itu kondisi rumah masih dalam penyelesaian dan belum seperti sekarang.
”Gimana kamu suka kan?” tanya Randy.
Fayo mengangguk dan mencium pipi Randy senang.
“Nyonya Randy.. selamat datang di rumah impian..”
Fayo dan Randy tertawa bersama saat itu.
Fayo tersenyum getir teringat saat-saat itu dan memberanikan diri mendekat ke pintu lalu memencet bel.

Banaran, sore hari

Lendra terbaring lemah di ranjangnya dengan wajah pucat sambil berselimut. Setelah mengetuk pintu, Bi Sarmi memasuki kamar Lendra yang remang. Lendra menoleh lemah.
“Maaf Den.. ada tamu.. “ kata Bi Sarmi gugup.
“Siapa?” jawab Lendra lirih.
Bibi terlihat bingung “Anu Den.. katanya..Non Reya?”
Lendra terkejut, dia berusaha bangun tapi tak sanggup karena terlalu lemah, “ Apa? Reya?”
Bukan.. bukan Den.. bukan Non Reya.. aduh.. maksud Bibi Non Reya nya lain…” Bibi tampak tak tega yang melihat reaksi Lendra.
Lendra tampak berpikir bingung.

Jakarta, sore hari

Fayo berdiri gelisah di depan pintu menunggu. Sebentar kemudian pintu terbuka, Randy muncul dan memandang Fayo tak mengenalinya sama sekali.
Fayo dan Randy berpandangan sejenak.
“Randy?” ragu Fayo bertanya.
Badan Randy jauh lebih gemuk dari yang terakhirr di ingat Fayo, tapi lesung pipitnya tak pernah di lupakan Fayo.
“Kamu??” Randy diam sejenak lalu matanya melebar tak percaya, “Fay?”

Fayo tersenyum mengangguk dan maju hendak memeluknya tapi cepat Randy menangkap lengannya dan menggeser Fayo ke teras depan lalu menutup pintu rumahnya cepat-cepat. Sesekali Randy mengintip ke dalam rumah dan terlihat cemas. Fayo semakin heran.
Fay? Ini beneran kamu Fay?” Randy memandangi tak percaya. Fayo sangat jauh berbeda dengan dulu. Fayo yang tomboy, gendut, kekanakan dan kuper, sudah seperti ‘ugly ducking transform to swan’. Gadis cantik langsing berambut panjang dengan kulit bersih dan terawat, benar-benar tak seperti dulu.
Selama lebih dari 4 bulan sakit sudah membuat berat badan Fayo turun drastis, dan selama ada di rumah Lendra, segala kebutuhan Fayo terpenuhi. Fayo punya penata rambut dan menjalani berbagai perawatan ala spa ternama di rumahnya. Tak heran Randy benar-benar tak mengenalinya.
Randy terus memandangi Fayo dari atas ke bawah dengan heran.
“Kamu? Kemana aja kamu selama ini? Apa kamu ngga tahu kalau semua orang nyari-in kamu. Tanpa sebab mendadak kamu menghilang gitu aja…hampir setahun lagi… dan sekarang ..” Randy mengangkat ke dua tangannya sambil menggelengkan kepala, “ kamu kembali dengan …”
Ya.. “ Fayo memandang ke badan dan penampilannya yang baru “memang agak sedikit beda “ senyumnya.
Oh ya? Kamu sudah pulang ke rumah? Kamu sudah tahu kalau papa kamu.. “ suara Randy menggantung ragu.
Fayo diam dan mengangguk sedih. Randy memegang lengan Fayo dan tampak prihatin.
“Sorry ya…aku…”
“Ngga papa kok Ran.. “ Fayo menahan tangis dan tersenyum memandang Randy, “Mungkin memang sudah jalannya begitu…”
Fayo memandang Randy lekat-lekat.
Aku kira aku kangen banget sama Randy.. setelah sekian lama.. aku pikir aku pasti sangat senang bisa ketemu dia “ pikir Fayo dalm hati sambil memandang Randy.
“Sekarang aku ngga ngerti perasaanku sendiri. Kenapa aku justru merasa aneh... Apa karena aku dan Randy lama sekali ngga ketemu? Kenapa aku malah ingat Lendra”
“Aku lihat Randy juga canggung banget… Sepertinya dia ngga terlalu senang ketemu aku…”
Randy menatap Fayo lekat dan mengamatinya.
“Fay? Apa benar ini kamu? Apa aku Cuma mimpi? Kamu beda banget… lebih dewasa… lebih cantik… aku baru tahu kalau kamu cantik banget Fay… kenapa dari dulu kamu ngga pernah seperti ini…” pikir Randy dalam hati. Randy dan Fayo saling berpandangan canggung. Tiba-tiba pintu rumah terbuka dan terdengar suara perempuan.
Ran? Ada siapa?” Sitta memanggil dari dalam rumah.
Randy dan Fayo menoleh kaget.
Banaran, menjelang malam

Reya berdiri di depan pintu kamar Lendra dan memandang sekeliling kamar yang suram. Wajahnya terlihat kurang senang memandang Lendra terbaring sakit.
Lendra diam saja setengah berbaring dan memandang ke jendela yang masih terbuka, tak menoleh ke Reya sama sekali, wajahnya terlihat dingin.
Reya mendekat dan dilihatnya wajah Lendra pucat dan seperti berkeringat dingin.
Hii, honey?! Apa kabar?” sapanya hangat.
Lendra mendengus kesal. Reya mendekat ke sisi ranjang.
“What are you doing here?” jawab Lendra ketus.
Reya  kaget mendengar suara ketus Lendra. Selama berpacaran dengannya tak pernah Lendra mengasarinya, bahkan saat Lendra sudah tahu ia berselingkuhpun Lendra selalu manis padanya.
“Hei?! Aren’t you happy to see me?” rengeknya heran. Lendra hanya tersenyum dingin tak menjawab.
“Sudah beberapa hari aku cari ke kantor, tapi katanya kamu ngga ke sana…”
Reya memandang sekeliling, “ Emangnya.. ngapain sih kamu nyepi di tempat kaya gini, Babe.. Hp ngga dapet sinyal, telepon rumah ngga ada, ngga ada tempat hang out.. kok bisa-bisanya kamu tahan di tempat se-sepi gini..”
Reya berjalan ke arah jendela dan mengintip ke depan. “Good view… not bad… “ ia menilai dengan sinis. Lendra diam saja kesal.
“Kenapa sih kamu dari tadi diem aja? Tadinya aku pikir aku mau kasi surprise buat kamu sudah lama kan kita ngga ketemu…”
Reya mendekat dan hendak mencium Lendra. Lendra memalingkan muka. Reya memandangi kondisi Lendra.
Kamu sakit?” tukas Reya seperti jijik.
“Aku kira bisa ajak kamu hang out.. kata Reza sekarang banyak tongkrongan baru di jakarta..“ ujarnya sambil menghela napas cuek.
“Yah kalau gitu lain kali aja deh kamu ikutan… “ sejenak di pandangnya Lendra lagi, “Sepertinya kamu pengen istirahat.. kalau gitu aku pergi dulu ya…”
Reya tersenyum dan mencium pipi Lendra, Lendra kembali menghindar. Reya memandang heran.
“What’s up babe? Do you still mad at me?” rajuknya. Lendra diam saja, dingin.
Hei.. kamu tahu kan aku ngga bisa ninggalin kuliah ku L.A, apalagi Papa Mama juga minta aku tinggal sama mereka di London, masa kamu minta aku untuk tetap di Jakarta…
Aku kan ngga bisa jalanin semuanya bersamaan…”
Lendra menghela napas dan menatap ke jendela lagi. Terngiang perkataan Reya dulu saat menjenguknya di rumah sakit setelah kecelakaan itu.
“I’m so sorry.. but I must go now… Aku ngga bisa jaga kamu di sini.. dan aku juga ngga tahu kapan aku bisa balik ke Jakarta... or maybe… mungkin juga, aku ngga akan pernah balik lagi ke Jakarta…” suara Reya terdengar dingin tak berperasaan sama sekali.
“Jadi.. so sorry honey.. I can’t be with you anymore..”
Lendra saat itu hanya bisa memandang sedih ketika Reya berlalu. Dan dari balik pintu dilihatnya seorang pria bule memeluk Reya dan mereka pergi meninggalkan Lendra begitu saja.
Tiba-tiba hari ini Reya muncul seakan tak ada apa-apa sebelumnya. Reya mengelus lengan Lendra mencoba mendekatinya lagi. Lendra menghindari sentuhan Reya.
Yang penting sekarang aku sudah kembali kan… “ Reya memandang Lendra menggoda dan tertawa kecil” Besok aku datang lagi ya.. see you..”
Reya berjalan keluar ruangan sambil melambai dan melempar ciuman jauh.
Lendra menghela napas, terbatuk pelan dan terlihat menggigil.
Gila.. bagaimana mungkin aku pernah suka sama perempuan seperti dia?” pikirnya.
Terkenang masa lalunya saat Reya dan Lendra saling berpelukan mesra di pub, menikmati suasana malam. Dulu Lendra selalu memandangi Reya dengan penuh kekaguman. Tapi sekarang, Lendra mengusap wajahnya dan membaringkan badan sambil menarik selimut kedinginan.
Bodohnya dulu aku menyia-nyiakan hidupku hanya karena dia.. “ia menghela napas, “Apa yang kulihat dari Reya? Aku bahkan sudah ngga ingat lagi perasaan apa yang aku punya untuknya, dulu atau pun sekarang…” Lendra menutup matanya dan menggigil.
Pikirannya mulai dipenuhi oleh Fayo, teringat saat Fayo merawat Lendra yang sakit dengan penuh perhatian dan kasih. Setengah mengigau Lendra memanggil Fayo sambil menggigil.
“Non…  Kamu di mana?” ujarnya lirih, menghela napasnya yang tersengal dan kembali terbatuk.
“Aku kangen banget sama kamu… “

Serpong, malam hari

Fayo duduk di atas ranjangnya di dalam kamarnya yang terasa kecil. Fayo memandangi sekeliling dengan wajah sedih. Hatinya masih tak percaya. Tadi sore saat di rumah Randy, seorang perempuan cukup cantik dan sexy muncul dari dalam.
Fayo sangat terkejut dan memandang ke Randy menuntut penjelasan.
“Oh.. ini Mam.. temen aku waktu kuliah dulu… “ jelas Randy pada Sitta dengan gugup.
Fayo terdiam.  Saat itu Fayo dan Randy berdiri di depan halaman, Sitta melambai dan masuk ke dalam rumah. Fayo hanya bisa balas melambai dan tersenyum canggung.
“Maaf in aku Fay.. tapi aku bisa jelasin..” Randy tampak takut.
Fayo menghela napas diam saja.
Kamu hilang begitu saja ngga ada kabarnya.. kami semua bahkan mengira kamu sudah meninggal.. jadi..” Fayo menutup matanya bingung.
Fayo membaringkan badannya di ranjang bersprei katun yang selama ini memang selalu muncul diingatannya sambil memandang ke langit-langit kamar.
“Randy sudah menikah… Randy-ku sudah menikah dengan orang lain.. Seumur hidupku.. Randy adalah cinta pertama ku… dia hidupku, kebanggaan ku, harapanku… “ujarnya gelisah, “Tapi kenapa perasaan ku hanya kosong.. Aku bahkan ngga menangis sama sekali… Apa aku sudah mulai mati rasa?” gumamnya. Benaknya kembali kepada Lendra.
Saat ia dan Lendra bertengkar terakhir kali bertemu, dan Lendra pergi dengan sangat marah selama berhari-hari tanpa kabar, sehingga Fayo menangis sangat sedih di malam itu. Hatinya jauh lebih hancur dari pada sekarang.
“Lendra… kenapa kamu membuat aku jadi begini…Kamu merenggut kehidupanku begitu saja… membuat papa ku meninggal.. dan Randy meninggalkan aku… Seharusnya aku benci banget sama kamu… Tapi kenapa perasaanku justru sedih.. “ air matanya mulai menetes.
“Lendra… Apa kamu baik-baik aja? Apa penyakit kamu kambuh lagi? Kenapa perasaanku ngga enak banget? “ keluhnya.
“Semestinya aku sekarang sedang menangisi Randy.. Tapi kenapa kamu ngga bisa hilang dari bayanganku… Lendra…Kamu jahat.. jahat.. aku benci sama kamu…”
Fayo meringkuk dan menangis tersedu.

Banaran, malam hari

Lendra menggigil kedinginan dan berkeringat dingin. Demam, mengigau.
“Non.. non…” panggilnya.
Bi Sarmi berlari tergopoh-gopoh memasuki kamar.
“Aden…”
Bi Sarmi memegang dahi Lendra dan memeriksanya. Lendra tergeletak tak berdaya.
“Aduh.. panas banget…bagaimana ini..” ujarnya panik, “Den, den.. sebenarnya ada apa sih Den.. kok bisa begini..”
Bi Sarmi bergegas keluar mengambil baskom dan handuk, ia merawat Lendra dan mengompresnya.
“Udah tahu sakit, minum obat ngga mau, di panggilin dokter ga boleh.. maunya apa si Den..” ratapnya.
***
Serpong, 1 Februari 2010

Pagi itu, Fayo tampak cantik dan rapi bersiap-siap. Mbok datang membawakan minuman.
“Mau kemana sih Non pagi-pagi?”
“Hari ini saya ada panggilan kerja Mbok.. Ngga enak selalu mengharap bantuan dari BuLik Nur… “
Mbok menghela napas dan terlihat prihatin.
“Doain saya ya Mbok “ ucap Fayo penuh semangat.
“Perusahaannya lumayam besar… dan gajinya juga lumayan.. semoga saya bisa di terima di sana…”
Mbok tersenyum senang , “O pasti Non.. Non Fayo pasti diterima di sana… Amin..” Fayo dan Mbok tertawa. “Ya udah, saya berangkat dulu ya Mbok..”
Fayo berjalan ke luar rumah, Mbok mengiringinya keluar. “Hati-hati Non…” Fayo tersenyum dan melambai.
            Sepeninggal Fayo mbok masuk dan merapikan rumah. Hatinya sedih tapi juga bangga melihat Fayo jauh lebih dewasa dan mandiri.
Fayo anak satu-satunya. Setelah ibunya meninggal, papa Fayo sangat memanjakannya. Apalagi sejak kecil Fayo agak sedikit kurang pandai dibanding teman-teman seumurannya. Bagaimanapun ia belajar dengan semangat nilainya tak pernah bagus. Mbok masih ingat bagaimana ia dulu memarahi anak-anak kampung yang menertawai Fayo kecil yang bertubuh gendut seakan-akan dia anak idiot.
Sejak saat itu Fayo diet mati-matian bahkan sampai jatuh sakit. Tapi sekeras apa pun fayo berusaha, tubuhnya tetap gempal dan tak bisa kurus.
Tapi melihatnya sekarang, tubuhnya semampai dan langsing. Mbok berpikir, siapapun orang bernama Lendra yang telah menculik Fayo, bagaimanapun orang itu telah banyak menolong Fayo. Lendra dan Bibi yang sering Fayo ceritakan pada Mbok, tidak hanya merubah fisik dan penampilannya, tapi juga cara bicara, sifat manja dan kekanakannya dan bahkan hampir semuanya. Seperti kata pepatah bahwa segala sesuatu pasti ada hikmahnya.

Jakarta, siang hari

Fayo dan Randy duduk bersisian di sebuah bangku taman yang agak sepi. Pepohonan rindang di tengah pemukiman dekat kantor Fayo mencari kerja tadi pagi.
“Gimana hasil wawancaranya Fay?”
Yah.. lumayan.. Katanya dalam beberapa hari ini, mereka akan menghubungi lagi..”
Kenapa sih kamu ngga mau kerja di tempat aku aja? Nanti kan kita jadi bisa lebih sering ketemu..” bujuk Randy.
Fayo memandang Randy tak senang.
Ada apa lagi sih Ran? Aku kan pernah bilang..nanti istri kamu marah, kalau kamu selalu cari aku gini..”
“Biarin aja, dia ngga tahu kok..” senyum Randy.
Fayo memandang Randy sejenak dan kembali memandang ke depan, dingin.
“Please Fay.. jangan marah lagi sama aku.. aku bisa gila Fay..” rayu Randy.
“Aku ngga marah kok…” kata Fayo datar.
“Tapi sekarang kamu jadi dingin banget sama aku..”
“Jadi aku mesti gimana? Mesra?” sindirnya.
Fay.. aku tahu kamu marah.. tapi aku terpaksa menikahi Sitta. Kedua orangtuaku mau aku segera menikah, dan aku kira kamu sudah meninggal…Please Fay mengerti ya..”
Aku ngerti kok… dan mengerti sejelas-jelasnya, kalau sekarang kamu sudah menjadi milik orang lain dan..” jelas Fayo
Aku sayang kamu Fay.. aku cinta kamu.. dulu, sekarang dan selamanya… kembalilah padaku… kita mulai dari awal lagi..” potong Randy.
Fayo tersentak dan memandang Randy bingung.

Jakarta, apartemen Reya

Reya dan Aurel duduk di sofa sambil tertawa.
“Sialan lo Rel… lo kali ini bener-bener berhasil ngerjain gua…”
“Siapa juga yang ngerjain elo?” sahut Aurel. Aurel adalah sahabat Reya sejak kecil. Ia juga yang waktu itu meminta Reya kembali ke Indonesia.
“Mana lo bilang Lendra sudah bangkit dan melupakan gua.. sekarang aja dia masih marah karena gua tinggalin dan tetep terkapar di pedalaman sono..” tawa Reya berderai.
Aurel tertawa terbahak.
“Lo tu ya.. gua sampai ngga tahu mesti ngomong apa sama dia…Tadinya gua pikir kita bisa hang out bareng dan memulai dari awal lagi.. tapi ngelihat dia lemes gitu, males gua jadinya..” ujar Reya.
Iiih lo ini jahat banget sih.. bukannya Lendra ama Lo udah jalan cukup lama..Dulu waktu dia kecelakaan lo malah mutusin dia, padahal dia kecelakaan juga gara-gara elo kan?”
Salah dia sendiri.. gua kan udah bilang gua ngga mau balik ke indo lagi.. siapa suruh dia maksa pulang sendiri, ya gua cari cowok yang lain dong.. masa gua disuruh pasrah aja nunggu dia gitu.. “ jawab Reya ketus.
Terus kalo gitu, ngapain sekarang lo balik? Lo ngga rela kan kalo Lendra jalan sama cewek lain?” goda Aurel.
Siapa juga yang mau jalan sama cowok cacat kaya gitu… kalau ada yang mau pun paling cuma cewek matre yang mau ama duitnya…”
Reya berdiri dan berjalan ke arah meja bar kecil. Diambilnya sebongkah es batu dari dalam pendingin ke dalam sebuah gelas dan berdiri memilih beberapa jenis minuman yang berderet di rak bar di belakangnya.
“Apa lagi, gua yakin 100% kalau Lendra itu cinta mati ama gua.. Gua itu cinta pertamanya Rel.. dan selama jalan sama gua udah berapa juta kali dia bilang ngga bisa hidup tanpa gua.. lo lihat sendiri kan.. bagaimana keadaannya setelah gua pergi..” sambungnya lagi.
Terus… sekarang mau lo gimana?” Aurel ikut berdiri dan pindah duduk ke kursi bar di samping Reya.
“Yah.. kita lihat aja.. gua pikir.. gua juga udah mulai capek ‘dating’ sana sini… Mungkin Lendra cowok yang pantes gua nikahin.. “ Reya tersenyum cuek sambil menawarkan minuman ke Aurel.
“Yang pasti dia cinta dan memuja gua banget.. apalagi dengan kondisinya sekarang, dia akan semakin takut kehilangan gua… “ senyumnya percaya diri.
“Gua harus deketin dia lagi… dan memastikan kalau dia akan tetap jadi milik gua selamanya.. se-la-ma-nya… “ ejanya sambil tertawa.

Ancol, 3 Februari 2010

Fayo berjalan sendirian di pantai tempat dia dan Lendra makan dulu. Wajahnya terlihat sedih. Tampak beberapa orang berjalan-jalan dan bercengkerama di sana. Kebanyakan mereka berpasang-pasangan.
Fayo berhenti tepat di tempat dulu Lendra dan dia duduk.
Fayo teringat bagaimana Lendra membuka jas nya dan menggoda Fayo supaya tertawa dan berusaha membuatnya senang.
Fayo terus menghela napas, dan duduk lemah di tempat itu sambil merenung menatap pantai.
“Apa aku benar-benar kena amnesia? “ pikirnya bingung.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku bisa bertemu dengan Lendra dan tinggal di pulau itu?Aku ingat semua detail tentang masa laluku.. dan kejadian terakhir yang ku ingat saat itu adalah…”
Fayo memejamkan mata dan berusaha mengingat saat Fayo keluar dari minimarket membawa belanjaan dan tertabrak mobil.
“Kecelakaan itu… itu yang terakhir kali aku ingat… Masalahnya.. menurut Mbok… terakhir kali dia melihat aku…”pikirnya. Keningnya berkerut, di ingat-ingatnya lagi saat Fayo meninggalkan Mbok di mobil dan pergi ke minimarket. “Mbok bahkan ngga tahu kalau aku kecelakaan…”
Terngiang suara Mbok saat bercerita padanya..
Jadi Non kecelakaan?” tanya Mbok bingung.
“Waktu itu.. kan Non pergi.. Mbok tungguiiiiin aja di mobil..Kok lama banget… “katanya.
Mbok bercerita, waktu itu Mbok duduk gelisah dalam mobil Fayo.
“Aduh Non Fayo ini cuma beli santan aja kok lama banget.. nanti ayamnya keburu basi,  Gimana ini…”
Mbok menoleh dan memandangi beberapa kantong plastik belanjanya dan berpikir sejenak lalu bergerak keluar dari mobil.
“Mendingan aku susul aja… sudah lebih dari setengah jam…” pikir Mbok.
Ketika baru saja Mbok menutup pintu mobil dan hendak pergi sebuah kopaja mendadak datang mengebut dan menabrak mobil Fayo yang di parkir. Mbok langsung panik dan memeriksa body mobil yang ringsek sebagian dan berteriak-teriak meminta tolong.
“Aduh celaka Non… bagaimana ini.. Bapak bisa marah..” ujarnya panik.
“Hei.. jangan lari kamu” teriak Mbok memarahi kondektur dan kopaja yang hendak kabur , “tolong.. tolong.. tolong..” Mbok terus berteriak dan memancing orang-orang disekitarnya berdatangan.
Kondektur yang kesal memandang Mbok tanpa bicara dan hanya memukul-mukul badan kopaja supaya lari. Tapi massa lebih cepat datang dan dalam sekejap sudah mengejar dan mengerubungi kopaja.
Sebentar kemudian polisi datang dan tempat itu segera ramai oleh polisi dan penduduk.
Aduh bagaimana ini Pak coba.. nyetir kok ugal-ugalan.. masa ada mobil segede ini di parkir ngga kelihatan.. kok bisa-bisanya di tabrak…Untung ngga kena orang, bagaimana kalau kena saya coba.. apa ngga mati saya nanti.. bagaimana ini Pak..”
Mbok terus mengomel pada seorang polisi yang datang. Suasana ricuh.
Menurut cerita Mbok padanya..
“Gara-gara keributan itu, Mbok terpaksa ikut ke kantor polisi dan membuat laporan.. atau apa lah gitu sama pak Polisinya.. Tadinya Mbok sudah bilang ngga bisa ikut takut Non nyari-in, tapi kata Bapaknya sebentar saja, soalnya Non-nya di tunggu ga datang-datang juga.. jadi terpaksa Mbok pergi…
Hampir ada 2 jam kali baru Mbok bisa balik lagi, bareng sama Bapak yang nyusul simbok ke kantor polisi, soalnya sopir ama kondekturnya sempet dipukuli sama orang-orang Non.. jadi ya.. rame.. “ jelasnya.
“Mbok ama Bapak juga bingung kok Non ngga datang juga.. telpon juga enggak. Mbok cari ke minimarket, kemana-mana, tanya orang tapi nggak ada yang tahu.. dan ngga ada kecelakaan kok di depan supermarket..”tukasnya bingung.
“Ya sejak itulah Non.. Non seperti menghilang begitu saja…Bapak sudah lapor polisi, masukin ke koran, juga tanya-tanya ke rumah sakit, siapa tahu Non kecelakaan atau apa.. tapi ngga ada Non.. Non bener-bener hilang…hilang kaya di telan bumi.. “
Beberapa anak berlarian sambil bermain pasir di belakang Fayo, ia menoleh sejenak memandang mereka pergi dan kembali merenung dengan sedih.
“Aneh… aku sama sekali ngga ingat apa yang terjadi..Kalau memang aku mengalami kecelakaan setelah aku keluar dari minimarket itu, masa tak ada orang yang melihat kejadiannya.. Papa juga sudah mencari ke rumah sakit sekitar, mestinya ada catatan atau apa aja mengenai kecelakaan itu…”
Fayo memegang keningnya bingung.
Apa yang terjadi di antara hari menghilangnya aku, sampai ketika aku sadar di pulau itu? Kejadiannya hanya sekitar 1 atau 2 minggu setelah wisuda, berarti sekitar akhir april atau awal mei, dan waktu aku mulai sadar.. “ Fayo berpikir sejenak lalu menegakkan duduknya, “mungkin sekitar awal oktober.. karena waktu itu rasanya lama sekali aku cuma bisa tidur-tiduran sampai aku benar-benar bisa bicara dan bangun.. dan sewaktu aku tanya tanggal .. Bibi bilang hari itu sekitar oktober tanggal berapa ya?”
Fayo berusaha mengingat.
“Kata Bibi aku sempat dua bulan tak sadar di rumah, jadi mungkin sekitar bulan agustus aku datang ke pulau. Dan sebelumnya juga sempat ada dua bulanan di rumah sakit sebelum Lendra memutuskan untuk membawaku pulang, jadi..” Fayo menghitung hari, “Juni, Juli… kalau gitu ada yang hilang antara bulan mei dan juni..”Dia berpikir keras sampai kepalanya sakit, tapi tak bisa di ingatnya sama sekali.
“Hanya ada satu orang yang bisa menjelaskan semua ini… “pikirnya sambil cemberut.
“Lendra!! Dia harus menjelaskan semuanya.. dan.. aku juga akan meminta pertanggung jawabannya atas semua kesialan yang sudah terjadi sama aku…Se-enaknya saja dia mengambil kehidupanku hanya karena aku mirip dengan kekasihnya… Awas kamu Lendra..”
Fayo berdiri kesal dan berbalik lalu setengah berlari pergi menjauhi pantai.

Jakarta, kantor Randy

Randy duduk di meja kerjanya tak konsentrasi. Beberapa rekan kerjanya tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Randy terus mengetuk-ngetukkan jarinya di keboard sambil memandangi monitor komputernya. Pikirannya menerawang, dan terus terngiang perkataan Fayo.
“Kamu gila Ran.. kamu kan udah menikah.. aku ngga mau merusak rumah tangga orang..”
Fay.. aku pernah kehilangan kamu.. dan aku ngga mau kehilangan kamu lagi.. Please Fay.. kembalilah pada ku…”
Randy menghela napas dan menyandarkan badannya ke kursi. “Aku harus mendapatkan kamu kembali…” Randy menoleh dan memandang foto pernikahannya dengan Sitta yang terpajang di meja, lalu menelungkupkannya ke meja dengan kesal.

Banaran, siang hari

Dua orang pelayan sedang membersihkan ruang tengah sambil mengobrol. Seorang mengelap, dan seorang mengepel lantai.
“Apa sudah kabar dari Non Reya?” bisik Rati lirih.
“Belum.. terkahir aku dengar.. kata Pak Atmo, Non menanyakan jalan ke Jakarta..” jawab Narti.
Kenapa sih Non pake lari dari rumah? Apa yang kurang coba? Aden kan baik banget sama dia… semuanya sudah terpenuhi..”
Apa kamu lupa, malem sebelum Den Lendra pergi.. kan mereka bertengkar di taman samping.. mungkin Non marah dan memutuskan pulang saja ke rumahnya..”
Lalu kenapa ngga di susul aja.. dari pada Aden sakit terus begitu..”
Itulah masalahnya, ngga tahu Non pergi ke mana, Jakarta kan besar.. kata si Udin, Bi Sarmi sudah minta tolong penjaga dan orang kantor untuk mencari Non.. tapi sampai sekarang belum ketemu juga, belum ada kabarnya.”
Kasihan Aden… pasti Non nyesel kalau tahu Aden sakit gara-gara dia pergi…”
Kedua pelayan melanjutkan bekerja.
Dari atas Lendra mencuri dengar pembicaraan mereka. Para pelayan tak menyadari.
Lendra berpegangan pada dinding dengan lemah dan mencoba bertahan berdiri. Wajahnya pucat dan terlihat lemas. Ia semakin sedih mendengar pembicaraan mereka.

Jakarta, sore hari, kantor Lendra

Reya dan Aurel berdiri di depan meja receptionist sambil berbicara dengannya. Beberapa karyawan yang tampak sesekali berlalu lalang.
“Apa? Jadi sampai sekarang Lendra belum juga ke kantor?”tanya Reya berang.
“Udah 2 minggu kan?”
“Maaf Bu, tapi Ibu silakan tinggalkan pesan, nanti akan saya sampaikan..”
“Ngga usahlah.. nanti saya ke rumah aja..” potong Reya.
Reya berbalik dan berjalan keluar. Aurel mengikuti.
“So?” pancing Aurel.
“Ntar aja deh.. gua agak males ke sana “ bisik Reya. “Terakhir ke sana dia lagi sakit-sakit gitu deh… “ nadanya terdengar jijik. “Malas gua, nanti malah gua lagi yang kena getahnya suruh ngurusin dan ngerawat rawat dia...iiihhh.” Aurel tersenyum geli.
Tiba-tiba mereka berpapasan dengan Fayo yang berlari memasuki kantor Lendra. Setelah sampai di dalam lobby Fayo berhenti dan mengatur napasnya yang tersengal.
Aurel dan Reya menatapnya heran. Fayo hanya memakai jeans dan tshirt casual.
Sejenak tampak Aurel berpikir. “Sepertinya gua pernah lihat dia deh…” kata Aurel.
Reya melirik ke Fayo sambil mengerutkan alisnya. “Kenal dimana lo cewek udik gitu?” kata Reya.
Fayo berjalan cepat menuju ke receptionist. Aurel dan Reya memandangnya, lalu Aurel menjentikkan jari, teringat.“Ah gua tau.. itu Re.. itu cewek yang jalan sama Lendra..”
Reya terkejut dan memandang Fayo cemburu dan kesal. Fayo terlihat lelah, mengelap keringat dengan punggung tangan dan mengatur napasnya sambil berdiri di dekat receptionist.
Receptionist tampak mengenali Fayo dan bangkit berdiri menyambut dengan senang.
“Bu Reya?” sapanya semangat.
Reya dan Aurel yang mendengar terkejut lalu memandangi Fayo yang sedang bercakap dengan receptionist dengan penasaran. “Reya??” pikir mereka.
“Maaf Mbak, apa saya bisa ketemu Lendra?” tanya Fayo.
Reya tampak curiga dan berjalan mendekat.
“Maaf Bu, tapi Pak Lendra sudah lebih dari dua minggu tidak ke kantor… “ ucapnya mengambang.
“Sial, pasti dia lagi seneng-seneng ke luar negeri…begitu aku pergi langsung deh cari kesempatan…”pikir Fayo kesal.
“Lalu kapan Lendra pulang?” tanya Fayo.
“Maksud Ibu?” tanya receptionist bingung.
“Oh maksud saya, kapan Lendra kembali dari luar negeri? Saya ada perlu ketemu dia..”
Receptionist semakin bingung, “Tapi Pak Lendra ngga sedang ke luar negeri Bu…”
“Tadi kata kamu?” bingung.
“Pak Lendra sudah hampir 2minggu tidak ke kantor, tapi bukan ke luar negeri”
Reya gelisah, “ Jadi kapan kira-kira dia masuk lagi?”
“Wah kalau itu saya kurang tahu..”
“Ya udah deh.. nanti saya datang lagi..” jawab Fayo kecewa.
Fayo berbalik hendak pergi. Reya dan Aurel memandanginya ingin tahu.
Receptionist segera menahan Fayo. “Tunggu Bu Reya…” panggilnya.
Fayo menoleh sejenak ragu.
“Saya ada pesan.. dari Bi Sarmi…Ibu di suruh pulang.. Bapak sakit..” katanya lagi.
Fayo terkesiap dan terkejut.
Reya dan Aurel juga sangat terkejut mendengar panggilan Ibu dan Bapak tadi. Aurel menutup mulutnya yang ternganga dan Reya terlihat sangat marah.
Fayo segera hendak menanyakan sesuatu ke receptionist tapi Reya mendadak muncul di dekatnya dengan tampang dingin dan curiga. Receptionist itu memandang mereka bingung dan takut melihat ekspresi Reya lalu mundur dan kembali duduk di balik meja.
“Maaf.. Kamu ini siapa ya? Ada perlu apa mencari Lendra?” ujar Reya ketus.
Fayo terkejut dan memandang Reya. Fayo terpesona sesaat memandang dari atas ke bawah, tinggi, langsing dan sangat cantik.
Rasanya Reya dan Fayo berhadapan seperti itu bagaikan angsa dan itik
“Oh ngga.. saya cuma.. “ gugup Fayo menjawab.
Aurel ikut mendekat dan memandang Fayo sambil tersenyum mengejek.
Hari ini saya akan ke rumahnya “ Reya tersenyum penuh kemenangan. “kalau ada perlu apa-apa.. mungkin kamu bisa titipkan pesan ke saya..”
Fayo mengernyitkan kening heran.
“Siapa lagi cewek ini? Mau apa dia datang-datang ke rumahku?” pikir fayo dalam hati.
“Kenapa? Tadi sepertinya begitu penting…”sindir Reya sok ramah.
“Maaf, tapi anda ini siapa ya? “tanya Fayo curiga dan cemburu. ” Mau apa ke rumah Lendra?”
Reya tersenyum penuh kemenangan, mendekat lalu mengangkat dagunya dengan sangat percaya diri.
“Kenalkan… “katanya tegas tanpa mengulurkan tangan hanya memandang Fayo lekat-lekat. “Nama saya REYA…” ejanya, “ Saya tunangannya Lendra…” Fayo terkejut dan terbelalak.
Aurel tersenyum dan berusaha menahan tawanya,
Receptionist yang ikut mendengar cepat-cepat menunduk seolah tak mendengar apa-apa.
“Re.. Reya? Jadi kamu yang namanya Reya?” Fayo memandangi Reya tak percaya.
Segala teorinya selama ini bahwa Lendra menculiknya karena ia mirip dengan Reya terpatahkan seketika.
Reya tersenyum penuh kemenangan.
***

No comments:

Post a Comment