Tuesday, November 15, 2011

Adil itu bukan matematika

Sebelumnya akan saya sertakan definisi kata adil dari beberapa sumber di internet sebagai berikut:
Kbbi on line - adil [a] (1) sama berat; tidak berat sebelah; tidak memihak: keputusan hakim itu --; (2) berpihak kpd yg benar; berpegang pd kebenaran; (3) sepatutnya; tidak sewenang-wenang: para buruh mengemukakan tuntutan yg --
Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/adil#ixzz1djxKdNWF
Adil - just, fair, equitable, legal
Pada kenyataannya kata adil tidak semudah itu di artikan orang. Bahkan masing-masing orang atau kelompok tertentu mempunyai definisi yang berbeda-beda mengenai keadilan.

Sebagai contoh mudah yang sering saya sampaikan pada anak-anak saya adalah, jika seandainya seseorang mempunyai uang  sebanyak Rp.1.000.000,- (satu juta rupiah) yang akan dibagi secara adil kepada 5 orang yang ada di situ.
Berapakah yang akan diterima oleh masing-masing orang tersebut?
Awalnya mereka akan menjawab bahwa adil itu adalah sama berat; tidak berat sebelah ; sama seperti arti dalam kamus tadi,  jadi jika satu juta di bagi lima orang, ya seharusnya masing-masing mendapat dua ratus ribu rupiah.
Kondisinya menjadi berbeda setelah saya kembali menjelaskan latar belakang dari penerima uang itu.
Orang pertama adalah seorang trilyuner pemilik tambang batu bara dan minyak yang sangat kaya, orang kedua adalah seorang direktur komisaris utama sebuah perusahaan asing yang juga tidak kalah kaya, orang ketiga adalah seorang guru tua yang sudah hampir pensiun, orang keempat adalah lulusan sarjana ekonomi yang sedang bekerja di sebuah bank swasta, dan orang kelima adalah seorang tukang penjaja sayur keliling.
Sangat jelas untuk orang pertama dan kedua, uang dua ratus ribu tentu sama sekali tidak ada artinya.
Sekali makan siang saja mungkin mereka bisa menghabiskan 1,5 juta rupiah hanya untuk 1 piring hati angsa belum termasuk minuman dan lainnya.
Orang keempat baru lulus dan sudah bekerja di sebuah bank, sesaat memperoleh uang itu tentu tidak banyak berarti baginya karena gajinya sudah pasti jauh lebih besar dari dua ratus ribu dan dia masih muda bisa bekerja untuk hasil yang lebih banyak lagi.
Tapi jika untuk calon pensiunan guru dan seorang tukang sayur, uang itu tentu sangat berarti untuk menambah penghasilan mereka.

Beberapa orang tetap kekeuh dalam pendirian mereka, bahwa adil itu ya harus SAMA RATA, SAMA RASA, tidak peduli siapapun penerimanya.
Bukan salahnya seseorang toh jika dia ada di posisi kaya? Bukan salah dia juga dilahirkan kaya?
Jadi kenapa karena dia kaya; dia sepertinya tidak berhak untuk menerima “hadiah” pembagian itu?
Orang-orang ini akan terus memperjuangkan keadilan dalam pembagian sama rata tadi dalam berbagai hal. Mereka mengukur keadilan dalam pembagian matematika yang logis dan tepat.

Beberapa orang punya pendapat lain, bahwa keadilan itu harus menimbang juga latar belakang kegunaannya.
Sang pensiunan itu mempunyai tanggungan istri yang tengah sakit, dan bapak tukang sayur itu juga punya 3 anak kecil yang harus bersekolah. Jadi mereka menganggap bahwa satu juta itu akan adil jika di bagi 2 saja kepada yang membutuhkan.

Perbedaan pola pikir inilah yang sering menjadi polemik dalam negara kita dan juga dalam berbagai bidang.
Setiap orang berusaha mendapatkan dan memperjuangkan keadilan menurut versi mereka sendiri.
Yang merasa miskin merasa berhak untuk mendapatkan lebih banyak belas kasihan dan pembagian yang lebih daripada yang kelas menengah ataupun atas dan mereka juga didukung oleh orang-orang yang sependapat.
Sedangkan sebagian lagi merasa jika mau mendapatkan lebih ya berusahalah jangan hanya menuntut untuk keadilan saja.

Hal yang saya tekankan pada anak2 saya adalah, keadilan yang benar adalah keadilan yang berempati dan bersimpati, bukan sekedar matematika logis.
Jadi tetap harus melihat situasi dan kondisi bagaimana keadilan itu harus ada.
Tetapi keadilan juga bukan sekedar sesuatu yang dibagikan secara Cuma-Cuma alias gratis. Karena beberapa orang tidak jarang memanfaatkan posisi dan kondisi mereka untuk mendapatkan ‘keadilan’ tersebut.
Walaupun tidak dibagi rata secara matematis tetap harus menggunakan logika.
Jika dia seorang kurang mampu tapi misal ternyata diketahui sang tukang sayur ini seorang pemakai dan pengedar narkoba yang hanya menggunakan uangnya untuk mabuk-mabukan dan berjudi, ya saya tidak menyarankan orang ini tidak disertakan sebagai salah satu dari penerima, karena hanya akan dimanfaatkan untuk hal-hal negatif saja.
Contoh sederhana ini juga akan berguna diterapkan dalam berbagai pengambilan keputusan.
Seorang jaksa dan hakim yang akan memutuskan keputusan yang adil, apakah hanya berdasarkan teori tanpa melihat penyebab dan alasan timbulnya suatu kejadian sama sekali langsung menjatuhkan putusan? Atau malah hanya memutuskan berdasarkan ‘belas kasihan’ tanpa melihat dasar hokum sama sekali?
Ini yang sering disalah gunakan dan menjadi bahan korupsi, kolusi dan nepotisme juga.

Jadi sebenarnya apakah adil itu?

Secara teori keadilan tidak memihak, tapi kenyataannya keadilan itu memihak kok kepada ‘pihak’ yang dianggap lemah. Padahal yang menentukan pihak itu lemah atau tidak siapakah? Sangat subyektif.
Secara teori keadilan itu adalah sepatutnya – fair enough ; tapi kenyataannya keadilan itu karena memihak pada posisi yang dianggap lemah jadi tidak lagi fair enough.

Contoh, sebuah pabrik besar mempunyai buruh yang berdemo karena menuntut kenaikan gaji, kenaikan tunjangan dan kenaikan – kenaikan lainnya.
Banyak orang, LSM, bahkan juga mahasiswa yang ikut mendukung aksi mereka dengan dalih untuk menuntut keadilan.
(saya tidak punya pabrik ya, tapi saya hanya memberi contoh permasalahan)
Mereka mungkin tidak tahu seperti apa kinerja keuangan pabrik itu.
Darimana sumber asal pendanaannya? Dari pinjaman bank. Bunga bank naik terus dan menurunkan keuntungan.
Bensin naik ongkos produksi naik, ongkos kirim naik untung semakin mepet.
Pabrik itu tanahnya beli dari kpr yang belum lunas.
Sebagian pemilik saham berasal dari pemodal asing yang sedang terpuruk kena krisis ekonomi global.
Tidak bisa menaikkan harga jual karena kalah bersaing dengan banyaknya produk lain yang dumping ke pasaran.
Adilkah jika para buruh dan orang-orang lain yang sok berkepentingan ini berdemo dan menuntut?
Saya hanya bisa urut dada.
Untung saya bukan yang punya pabrik.
Jika buruh dan pemilik bisa bekerjasama, sebagai pekerja yang baik tentunya dalam situasi kesulitan, tempat ia bekerja, maka ia akan bekerja lebih keras untuk membuat perusahaannya lebih maju sehingga menghasilkan lebih banyak, dan akhirnya akan bisa memberi bonus dia lebih banyak pula.
Tapi pada kenyataannya sekarang ini menurut saya 80% pegawai bekerja tidak lagi untuk kemajuan perusahaan tapi hanya untuk kepentingan diri sendiri. Gaji bagus fasilitas bagus dia stay, ada yang menawarkan atau sepertinya terlihat lebih bagus dia akan pindah.
Kalau bisa bekerja seenak dan sesantai mungkin dan dibayar semahal mungkin, itu baru namanya adil.
Menyedihkan tapi kenyataan.

Saya berusaha menekankan supaya anak2 tidak mencontoh hal-hal itu. Apakah itu menjamin anak saya akan bisa menerapkan adil dengan lebih baik setelah mereka besar nanti?
Tidak juga.
Tapi setidaknya sebagai orang tua saya berusaha untuk mendidik anak saya menjadi lebih baik kelak.
Dan tidak membiarkan saja anak saya keluyuran demo di jalan untuk hal-hal yang tidak jelas juntrungannya.
Saya dulu juga ikut demo hanya karena supaya bisa bolos kuliah.
Tapi setelah banyak pengetahuan masuk dan banyak hal yang perlu dipertimbangkan, rasanya perlu juga mendidik anak-anak untuk tau sejak dini apa yang perlu mereka perjuangkan di masyarakat, termasuk definisi adil ini.

Adil itu baru bisa benar jika dibarengin dengan kasih yang tulus dan kejujuran. Bukan kasih karena pamrih tertentu, apalagi untuk tujuan tertentu yang akhirnya akan menjerumuskan menuju ketidak adilan.
Posisi lemah tidak selalu pada korban, atau orang miskin atau orang lebih kecil, tapi harus lihat pula latar belakang disetiap kejadiannya.
Semoga semua orang bisa menahan diri dan berpikir ulang setiap kali hendak menegakkan keadilan sehingga keadilan yang benar-benar adil bisa benar-benar terwujud.

No comments:

Post a Comment