Sunday, November 6, 2011

Aku Bukan Reya - Bab IX - END

Banaran, 27 Februari 2010
                                                                                                
Semua tamu terkejut dan berkasak kusuk melihat Fayo yang datang berpakaian casual diantara para tamu yang berpakaian mewah dan anggun. Apa lagi Fayo berdiri di tengah red carpet di dekat panggung, tepat di depan Reya dan Lendra.
Dokter Probo yang ada di tengah para tamu deretan depan tampak terkejut.
Reya?” gumam Dokter Probo.
Istrinya yang ada di sebelahnya menatap heran ke dr. Probo. Siapa itu Pap?” bisiknya.
Dokter Probo mendekat dan berbisik di dekat istrinya.“Itu Reya.. yang pernah aku ceritakan ke kamu…“
Semua menatap ke panggung dan Fayo bergantian. Penari dan musik terhenti. Pembawa cincin sudah berdiri dekat Reya Asli sambil memandang bingung. Dan MC juga terlihat bingung.
Ehm.. “ Mc terlihat agak gugup dan berusaha mencairkan suasana, “ Mari kita ke acara selanjutnya… maaf Mbak.. bisa agak kesamping sebentar.. “ dengan ramah meminta Fayo minggir ,” Kami akan melanjutkan acaranya dengan…”
Lendra…” potong Fayo cepat.
Semua semakin heran. MC yang berusaha mengalihkan perhatian terhenti. Fayo maju dan naik ke panggung mendekati Lendra. Lalu memandang ke Reya.
“Mau apa kamu kesini!!” bentak Reya kesal dan berusaha menghalangi.
Lendra memandang Reya tak senang karena membentak Fayo, lalu ia kembali menatap Fayo dan menggapainya. Fayo mendekat dan berjongkok di depan kursi roda. Lendra menatapnya lekat-lekat seperti bermimpi. Fayo tampak sedih melihat keadaan Lendra dan mulai menangis. Lendra mengusap rambutnya sayang. Reya semakin kesal.
“Kamu kok kurus banget sih… sakit kamu.. kumat lagi ya? Apa terapinya ngga diterusin..” kata Fayo lirih. Lendra cuma menggeleng dan mengusap air mata dipipi Fayo.
Reya mendekat dan memandang tak suka.
“Kamu ini tahu sopan santun ngga sih.. apa ngga lihat kalau kita sedang ada acara..Ngga malu diliatin orang..Nanti kan kalian bisa ngobrol lagi…” kata Reya ketus.
Tamu memandang heran dan ingin tahu. Reya memandang ke para tamu dan menebar senyum seolah tak ada apa-apa. MC mendekat dan berbisik.
“Maaf.. apa acara bisa dilanjutkan atau.. ada acara..” bisiknya pada Reya ragu.
Lendra menggeleng lemah. Reya memandang kesal.
“Apa maksudnya itu? Kamu ngga mau meneruskan acara karena cewek sialan ini dateng gitu.. “ umpatnya kesal, “ Mana bisa begitu.. Mau di taru di mana mukaku… pokoknya kita harus tetap tunangan..” Reya memandang sekeliling cemas.
Lendra mulai terengah dan memegang dadanya. Fayo terlihat khawatir dan memegang Lendra cemas.
“Lendra kamu ngga papa kan? Kamu ngga papa?” kata Fayo khawatir.
Reya memandang ke pembawa cincin dan segera mengambil tempat cincin yang di bawanya.
Dengan senyum dia segera mendekat ke mic dan tertawa.
Maaf ya… kebetulan tadi teman kami ini yang semestinya membawakan cincin kami.. tapi karena ada sedikit masalah di perjalanan jadi agak terlambat dan belum sempat dandan.. “ Reya tertawa canggung. Beberapa tamu mengangguk angguk tak mengerti.
“Nih.. kita segera lanjutin aja.. , “ Reya memberikan cincin ke Fayo, “ sepertinya Lendra sudah lelah , “ katanya sambil memandang Lendra yang memucat.
Fayo menerima cincin bingung. Lendra menatap Fayo dan menggeleng pertanda dia tak mau bertunangan.
Fayo berdiri dan memandang Reya.
“Apa ngga sebaiknya di tunda saja sampai Lendra lebih sehat..” kata Fayo.
Reya dengan kesal melotot sambil bertolak pinggang, “ Ngga bisa…”
Reya kembali memandang ke tamu dan tersenyum seolah tak ada apa-apa. Fayo memandang Lendra dan ke arah Bi Sarmi. Bi Sarmi menggoyangkan tangan diam-diam memberi tanda untuk tak mau. Lendra juga menggeleng dan terus menggenggam tangan Fayo erat.
“Ayo tunggu apa lagi..” desak Reya kesal.
Reya tersenyum sambil mengulurkan tangannya meminta cincin bagiannya.
Fayo menghela napas sejenak dan tersenyum pada Lendra.
“Maaf Reya.. sepertinya pertunangan ini tidak bisa diteruskan.. “kata Fayo tegas.
Reya terbelalak. Fayo memandang Lendra ragu, tapi Lendra tampak tersenyum dan mengangguk.
Reya tertawa manis, “ Kamu ini suka bercanda.. ya kan.. sweet heart?” Reya tertawa pada pengunjung yang semakin berkasak kusuk.
Fayo menggeleng dan menghela napas memberanikan diri dan tampak mencari alasan.
Maaf Re.. saya ngga bercanda.. tapi kamu ngga bisa bertunangan dengan Lendra..” katanya lagi.
“Kamu jangan macam-macam ya , “ Reya mulai kesal, “ emangnya siapa kamu datang-datang ke pesta saya dan membuat onar di sini…”
Saya… “ Fayo berdiri tegak menghadapi Reya, “Saya istri sah-nya Lendra.. “
Reya dan para tamu terkejut. Lendra menatap Fayo tak percaya.
“ Apa?” Reya terkejut.
“Lendra belum menceraikan saya , “ Fayo menatap Lendra lalu kembali menatap Reya, “Saya masih istrinya yang sah… jadi kamu ngga bisa bertunangan dengan suami saya..” kata Fayo tenang.
Reya terbelalak.
Dokter probo menggeleng-gelengkan kepala lalu menunduk sambil mengurut dahi. Tamu-tamu memandang heran. Lendra tersenyum senang dan tampak sangat bahagia karena Fayo ternyata masih menganggapnya sebagai suami.
***
Banaran, malam

Lendra sudah terbaring di ranjangnya dan terihat lemah. Fayo selalu ada di sisinya. Lendra terus memegang tangan Fayo erat dan terus menatapinya sambil tersenyum-senyum senang kekanakan.
Reya terlihat kesal sambil membuka-buka buku nikah Lendra dan Reya tak percaya.
Sebenernya apa-apaan sih kalian ini.. , “ gerutunya kesal.
“Lendra!!! Betul kamu sudah menikah sama dia? “ katanya sambil menuding dengan buku.
Reya membanting buku nikah itu ke atas ranjang Lendra kesal.
Ternyata selama aku pergi.. ,”geramnya, “ kamu … kamu malah berselingkuh dan menikah dengan perempuan lain…begitu..”
Reya menatap kesal karena Lendra yang di maki sama sekali tak mendengarnya dan terlihat berpandang-pandangan terus dengan Fayo sambil tersenyum.
Heii!!” teriaknya “ Kalian ini tuli atau… sudah gila.. “
Fayo dan Lendra menoleh dan menatap Reya agak kaget.
Kenapa? Kenapa kamu dari dulu diem aja? Kenapa baru sekarang.. setelah di depan para tamu..baru ada kejadian kaya gini…. kamu sengaja mau bikin aku malu.. iya?”gerutu Reya.
Lendra menghela napas,Sorry Re… aku ngga bermaksud begitu.. , “ kata nya lirih.
“Aku kira… aku kira.. , “ Lendra menatap Fayo, “ dia ngga akan kembali…”
Fayo menatap Lendra terharu. Reya terlihat semakin kesal.
“Oh.. jadi kamu cuma jadi kan aku pengganti… karena .. “ Reya benar-benar kesal kehabisan kata-kata, ”Len… kamu ini buta atau gimana sih…” pekiknya.
“Dia ini hanya mau uang kamu.. dia ngga mencintai kamu… Kamu ini… masa kamu mau melupakan semua tentang kita begitu aja.. apa aku ngga ada artinya buat kamu… sama sekali.. apa artinya semua sumpah dan janji kamu selama ini….”
Dokter Probo masuk bersama istrinya. Reya terdiam menahan kesal.
“Sudahlah… jangan diperpanjang lagi…”Kata Dokter Probo, “Kalian ini… bikin acara besar hanya untuk main-main…”
“Tapi Om.. dia ini yang…” tunjuk Reya
Ya kalau sudah begini mau bagaimana lagi Re? Om kan sudah bilang apa tidak terlalu tergesa… coba kalau kamu menurut apa kata Om…” potongnya
Dokter Probo menoleh menatap Fayo dan Lendra, “ Kalian juga.. sudah menikah masih saja seperti anak kecil..” Reya terlihat kaget.
Jadi Om juga tahu? Kalau mereka sudah menikah? “ Kata Reya kesal.
Istri Dokter Probo mengelus menenangkan Reya yang tampak kesal.
Fayo diam saja tak tahu harus bicara apa.
Sudah ya Lendra.. mulai hari ini stop lagi ngambek-ngambeknya kamu harus teruskan terapi kamu.. “
Fayo memandang ke Lendra yang terus tersenyum-senyum.
Sial… “ ujar Reya kesal, “Kamu pikir aku ini apa.. tega banget sih kamu ini.. ,” Reya maju hendak memukul Lendra kesal, “ Buat apa aku susah-susah pulang ke Indo kalau hanya untuk dipermalukan seperti ini..”
Semua menghalangi Reya dan Reya terlihat sangat marah. Lendra memandang Reya menyesal. Fayo terlihat khawatir. “I’m so sorry Re…”kata Lendra lirih.
Reya menghentakkan kaki kesal dan bergegas keluar kamar.
Istri dokter Probo mengikutinya keluar.
Kamu harus segera check up ke Jakarta… “ kata Dokter Probo menasehati Lendra.
“Dan kamu ,” katanya sambil menatap Fayo”… urus anak bandel satu ini ya.. selama ini kelihatannya dia cuma nurut sama kamu“
Fayo tersenyum dan mengangguk.
Iya dok… terimakasih banyak ya…”
Oke kalau gitu saya pulang dulu… saya tunggu kalian di Jakarta..” kata Dokter Probo lagi.
“Terimakasih Om…” Dokter menepuk Lendra dan keluar kamar.
Fayo dan Lendra memandangnya pergi lalu berpandangan. Fayo menghela napas dan memandang ke luar depan.
Dari balik jendela, masih terlihat tenda-tenda indah yang dihiasi lampu-lampu mewah dan romantis. Fayo terlihat ragu.
Sorry ya.. aku jadi ngerusak acara kamu.. “, katanya.
“Kamu ngga nyesel.. membatalkan pertunangan kamu hari ini? Bukannya.. selama ini memang kamu selalu menunggu kedatangannya…”
Lendra menatap Fayo sambil berusaha menebak pikirannya.
Apa dia cemburu? Kenapa dia kembali? Apa karena dia dengar soal pesta pertunanganku dengan Reya?” pikir Lendra dalam hati sambil tersenyum senang.
Lendra menegakkan duduknya dan menarik Fayo mendekat.
Aku kira kamu ngga akan pulang.. Lama banget sih perginya ..  “ Lendra mengalihkan pembicaraan “Udah puas sekarang jalan-jalannya…”
Fayo menarik tangannya lepas lalu menoleh ke buku nikah mereka yang tadi di banting Reya. Fayo mengambil buku itu dan membuka-buka sejenak. Lendra terlihat cemas dan ragu dengan pikiran Fayo.
“Non? Ada apa?” panggilnya.
“Apa dia marah? Aku kira dia ke Jakarta untuk mencari keluarganya? Apa ingatannya sudah kembali?” pikir Lendra dalam hati.
Fayo menghela napas, “Aku sudah berkonsultasi dengan pengacara mengenai pernikahan kita… Beliau bisa membantu mengurus pembatalan pernikahan ini…”
Lendra terkesiap.
“Non… kamu… kamu bercanda kan.. , “ Lendra mencoba tertawa.
“Kalau kamu ngga keberatan, aku memerlukan buku-buku ini untuk kelengkapan suratnya..” kata Fayo serius.
Fayo mengangkat buku nikah, reflek Lendra hendak merebutnya tapi Fayo menarik buku itu lebih cepat sehingga Lendra tak bisa mengambilnya.
“Dan.. kalau boleh…malam ini…” kata Fayo lagi.
Lendra terus mencoba merebut buku sedangkan Fayo juga terus menggoyangkan tangannya sehingga Lendra yang setengah duduk dan masih agak lemah sulit menggapai buku itu.
Aku mau numpang nginep di sini.. soalnya.. Pak Atmo ngga kembali ke kota hari ini.. dan.. kalau pun ada .. aku akan kesulitan dapet bis ke... Jakarta ,” katanya sambil menggoyang-goyang kan buku menghindari tangkapan Lendra, “ dan…”
Lendra sama sekali tak mendengar ocehan Fayo dan sambil menatap Fayo, sesekali tangannya terus berusaha menggapai buku. Fayo mulai kesal.
“Lendra!! Kamu ini dengerin ngga sih orang lagi ngomong..”
Lendra diam sejenak. Lalu kembali mencoba merebut buku. Fayo tampak gemas dan menghindar. Lendra menarik tangan, baju dan badan Fayo sekenanya.
“Lendra lepasin!!” teriak Fayo kesal.
“Balikin nggak!!” bantah Lendra.
“Nggak!!” balas Fayo galak.
“Balikin..!!” Lendra tambah keras memaksa.
“Nggak!! Nggak!! Nggak!! Lepasin .. Lendra.. Lepasin.. kamu ini ya katanya sakit.. tapi ..”
“Balikin ayo balikin..” sergah Lendra.
“Kamu ini nyebelin banget sih..” Fayo hendak melempar buku itu jauh-jauh.
“Biarin!!”
“Lepasin nggak!!!”
“Balikin!!! Balikin dulu..”
Lendra mulai mengelitik Fayo yang tampak gemas. Lama kelama-lamaan makian dan jeritan Lendra dan Fayo yang kesal dan marah berubah menjadi tawa lepas.
Di luar, tenda-tenda yang terpasang dan semua hiasan mulai di lepas dan di bereskan.
Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Reya, Dokter Probo dan istrinya sudah pergi kembali ke Jakarta.

Banaran, 28 Februari 2010

Pagi itu Fayo keluar dari kamarnya yang dulu dan menuruni tangga ke ruang tengah.
Bi Sarmi yang ada di bawah memandanginya turun. Beberapa pelayan sedang merapikan ruangan.
Sudah bangun Non?”
Fayo mendekat dan tersenyum. Iya Bi… ehm.. apa hari ini Pak Atmo ada rencana ke kota?”
Bi Sarmi memandang heran.
“Sepertinya ada Non.. kan tenda-tenda yang kemarin mesti dikembalikan…Ada apa Non?”
Fayo mengangguk. Saya mau ikut pulang Bi..  jam berapa ya kapalnya berangkat?”
Bi Sarmi tampak kecewa. Kok buru-buru sih Non… apa ngga tunggu beberapa hari dulu.. kan kemaren baru pulang?”
Fayo tersenyum. Maaf Bi.. saya takut ngerepotin.. apalagi besok saya mesti kerja… sebelumnya malahan saya sudah ijin 2 hari, kalau kelamaan saya bisa dipecat Bi.. “ senyum Fayo.
Bi Sarmi mendekat dan tersenyum.
“Terimakasih ya Non.. Non sudah mau datang.. tapi … Kalau memang Non mau pulang ke Jakarta… mungkin lebih baik bilang sama Aden dulu.. Bibi takut.. Aden …”
Fayo tersenyum dan memegang lengan Bi Sarmi.
“Saya memang ada perlu bicara sama dia Bi…Apa Lendra sudah bangun?”
“O.. sudah.. sudah Non… Bibi senang.. Aden sudah kembali bersemangat lagi..Sejak Non pergi, baru semalem tuh Aden bisa makan banyak lagi.. “ kata Bibi senang.
“Ah Bibi.. mungkin kebetulan saja…Apa saya bisa ketemu Lendra sekarang Bi? Takut kesiangan nanti ketinggalan kapal Pak Atmo…”
“Silakan Non.. Aden ada di kamarnya… “ Bi Sarmi menunjuk ke kamar ICU.
“Permisi Bi…”
Fayo mengangguk dan berjalan pelan ke kamar Lendra. Sejenak Fayo berdiri ragu di depan pintu dan menghela napas memberanikan diri, lalu mengetuk pintu kamar.
Lendra sedang mencoba bangun dari tempat tidur ketika pintu di ketuk. Lendra menoleh dan memandang ke pintu.
“Masuk..” katanya.
Fayo membuka pintu dan masuk hati-hati. Lendra menatapnya senang dan duduk di tepi ranjang.
Hai… “ ungkapnya kagok.
“Aduh.. aku mesti ngomong apa ya.. mulai dari mana…” pikir Fayo.
Lendra menatap Fayo mendekat dan berdiri agak jauh.
Tumben pagi-pagi sudah bangun… kenapa begitu serius.. apa dia mau ngomonging soal pembatalan pernikahan itu lagi? Apa ingatannya sudah kembali?” pikir Lendra dalam hati.
Lendra menepuk ranjang di sebelahnya meminta Fayo duduk. Fayo mendekat dan duduk dengan canggung. Ada apa?” tanya Lendra manis.
“Ehm..  aku.. aku mau minta maaf.. “ Fayo menunduk.
Lendra mengernyitkan kening heran, “Maaf?”
Sorry.. selama ini “kata Fayo, “aku sudah banyak nyusahin kamu…”
Lendra diam saja dan terlihat bingung. Ada apa ya? Jangan-jangan ingatannya benar-benar sudah kembali…”pikir Lendra.
“Apa… apa kamu sudah… “ tanya Lendra ragu.
Lendra menunjuk-nunjuk dahinya sendiri seakan memberi kode bahwa ingatannya Fayo sudah sadar kembali. Fayo menatap tak mengerti.
Maksudku… keluarga kamu… kamu sudah kembali ke Jakarta kan?”tanya Lendra.
Oh ya.. ya.. aku sudah pulang “ jawab Fayo.
Apa.. apa.. keluarga kamu..  saya dengar… orang tua kamu… “ tanya Lendra takut-takut.
Fayo menoleh dan menghela napas berat, sedih.
Ya… Papa aku.. sudah meninggal.. “suaranya tercekat, “ Papa.. Papa sakit.. dan meninggal .. karena aku.. karena aku…  “ Fayo mengangkat bahu tak mampu berkata.
Lendra tak menjawab dan terlihat bingung. “Maaf.. aku.. “ Lendra menjawab lirih.
Fayo menggeleng, air mata mengalir dan cepat diusapnya.
Aku ngga tahu.. kenapa waktu itu… aku bisa .. begitu bodoh.. dan aku” Fayo tersenyum pedih, “ langsung memilih kamu sebagai pelarian aku..Dan aku juga.. ngga tahu apa alasan kamu menerima aku dan bahkan bersedia menikahi aku… “ Fayo terdiam sejenak.
Lendra terlihat ragu dan gelisah.
“Bagaimana pun… semua ini terjadi karena kesalahan aku…”
Lendra menoleh menatap Fayo gelisah.
Kenapa dia bilang begitu? Kenapa dia menganggap ini semua sebuah kesalahan? Apa betul yang di katakan Reya.. kalau ternyata .. dia ngga pernah suka sama aku…”pikir Lendra.
Fayo berusaha mengendalikan diri dan tenang.
“Aku ngga ngerti maksud kamu…” Lendra resah.
Kalau saja waktu itu.. aku ngga mencoba bertindak bodoh.. “ Fayo diam mengenang saat ia berjalan di rel kereta.
Lendra menatapnya penasaran.
“Aku ngga akan ketemu kamu dan melibatkan kamu kedalam permasalahan ini.. “ sambungnya lagi.
Lendra menatap serius. “Jadi .. ingatan kamu.. sudah kembali? Semuanya?” tanya Lendra.
Fayo menghela napas dan mengangguk.
“Ya.. sepertinya begitu..Aku ada jadwal untuk konsultasi dengan psikiater dan neurolog… minggu depan..Untuk memastikan apa aku udah sepenuhnya sembuh…”
Lendra menunduk ragu.
Ingatannya sudah kembali.. “ Lendra menghela napas, “ pasti sekarang dia menyesal sudah memilih aku.. “ pikirnya pesimis, “ setelah dia benar-benar sadar.. dia ngga akan mau kembali pada orang cacat dan sakit seperti aku lagi…”
Fayo menatap Lendra seperti berharap Lendra mengucapkan sesuatu.
“Aku.. aku juga mau pamitan..”
Lendra mengangkat wajah terkejut dan menatap Fayo kecewa.
“Aku akan ikut Pak Atmo kembali ke kota hari ini.. Sorry ya.. sudah ngerepotin kamu, Bi Sarmi dan yang lain…Terimakasih banyak kalian semua sudah banyak menolong aku selama ini.. aku ngga tahu gimana aku bisa membalas semuanya.. “ kata Fayo lirih.
Lendra terkejut, tak mampu menjawab dan tampak berpikir.
“Bagaimana ini? Apa aku mesti diam saja melihatnya pergi lagi?” pikir Lendra.
“Apa aku mesti menahannya di sini? Hanya untuk menemani dan merawat orang cacat dan sakit seperti aku? Apa itu adil buat dia? “ Lendra tercenung” Mungkin diluar sana ada orang lain yang lebih pantas dan lebih bisa membahagiakannya…”
Fayo terdiam bingung. Kenapa dia diam saja? Apa ngga ada sedikit pun yang mau di jelaskan? Kenapa dia bersedia menikahi aku misalnya? “ pikir Fayo dan menghela napas.
“Ah.. tak usah di jelaskan pun aku sudah tahu.. karena Lendra hanya mengambil aku sebagai pengganti Reya.. “ batin Fayo lagi.
“Tapi .. kenapa sekarang dia malah menolak bertunangan dengan  Reya ya?” Fayo melirik Lendra yang juga tampak termenung. “ Apa benar dia sudah berubah pikiran dan menyukai aku?” Fayo menggeleng, “Ngga mungkin… “ Fayo teringat cerita Reya bagaimana kedekatannya dengan Lendra dulu, sejak mereka kecil. Fayo menghela napas sedih. Lendra menoleh.
Lendra pasti hanya menjadikan aku ajang balas dendam.. karena Reya sudah pernah menyakiti hatinya dulu.. itu sebabnya dia sengaja membatalkan pertunangan dengan Reya di depan umum… hanya untuk mempermalukannya.. “ pikir Fayo sambil cemberut.
“Dan setelah sekarang skor mereka satu sama.. maka mereka akan segera kembali menjadi pasangan yang berbahagia… “ kesal Fayo membayangkannya.
Lendra mengamati Fayo yang melamun sambil cemberut.
“Ya sudah.. , “ Fayo berdiri, “aku mau tunggu Pak Atmo..Kamu jaga diri ya.. inget.. mesti melanjutkan terapi dan rajin berobat.. “ lanjutnya menghela napas.
Fayo melambaikan tangan dan tersenyum canggung lalu berbalik ke luar kamar. Lendra hanya diam memandang nya dengan ragu.
“Oh ya,” Fayo berhenti dan berbalik, “Soal surat nikah itu.. nanti mungkin akan di perlukan beberapa tanda tangan dan keterangan kamu.. nanti akan aku kirimkan ke kantor kamu..”
Lendra menatap Fayo kecewa.
Ternyata.. sudah sejauh itu? Berarti selama kamu pergi kamu memang sudah merencanakan matang-matang untuk berpisah dengan aku…Pasti kamu sudah konsultasi dan bicara dengan orang-orang mengenai hal ini..” pikir Lendra pahit.
“Karena, nama dan semua data diri aku salah dan ngga jelas.. juga tidak ada surat pengantar dan saksi yang pasti.. maka pernikahan ini akan di secara otomatis dibatalkan.. jadi tidak perlu ada perceraian.. toh memang semuanya tidak sah.. Apalagi, kata pengacara aku, pernikahan ini terjadi ketika aku sedang dalam keadaan sakit… jadi segala urusan pembatalan ini bisa dipermudah..” jelas Fayo.
Sebegitu bencinya kah kamu sama aku… “pikir Lendra, “ Aku sempat mengira kalau kamu benar-benar membutuhkan aku..”
Lendra ingat saat Fayo sangat membutuhkannya, “Jangan tinggalin aku… temani aku selamanya… selamanya ya.. Aku mau sama kamu selamanya.. selamanya…” kata Fayo waktu itu.
Fayo dan Lendra saling berdiam diri.
Ternyata Lendra benar-benar ngga peduli.. dia sama sekali ngga peduli dengan pembatalan pernikahan ini.. dia memang ngga peduli sama aku..Aku kira dia ngambek dan sakit karena mikirin aku yang meninggalkan nya… goblok banget aku ini..ke-ge-er-an banget..” pikir Fayo dalam hati.
Reflek Fayo menepuk jidatnya sendiri kesal. Lendra menoleh heran. Fayo tersenyum malu.
“Aku .. aku pergi dulu ya.. dah..”
Fayo berjalan ke luar kamar dan Lendra hanya menghela napas sedih lalu kembali merenung.
Lendra duduk di kursinya sambil merenung menatap ke halaman. Bi Sarmi mengetuk pintu dan masuk ke kamar sambil membawakan makanan. Di lihatnya Lendra yang tampak serius dan sedih.
Sebentar lagi.. kapal barang sudah akan berangkat Den.. apa ada barang lagi yang akan di bawa? Atau ada yang Aden perlukan untuk di bawa kemari? Biar di bawa sama Pak Atmo sekalian?”
Lendra menoleh dan menggeleng lalu kembali menatap ke depan.
Bi Sarmi mendekat, nampan di letakkan di meja dan memandang Lendra hati-hati.
“Non Reya.. juga akan ikut Pak Atmo ke Jakarta lho.. “ sambungnya.
Lendra melirik sedikit lalu diam saja kembali menatap ke jendela.
Kenapa Aden ngga menahan Non Reya pergi? Bibi kira Aden senang waktu Non pulang…” pancingnya.
Lendra menghela napas, “Biarin aja deh Bi…”
Bukannya Aden selalu berharap Non pulang ke sini? Kenapa sekarang Aden diam saja kalau Non mau pergi?”
Lendra menunduk sedih, “Memang maunya begitu.. saya bisa apa… , “ katanya pasrah, “Saya cuma akan nyusahin dia aja Bi… gara-gara saya… dia kehilangan Papanya.. dia pasti sangat membenci saya…”
“Dia bahkan sudah menghubungi pengacara untuk membatalkan pernikahan kami… “ Lendra menghela napas dan tertunduk, “Dia memang ngga pernah peduli sama saya Bi..”
Ah masa Den… kalau memang Non Reya benci sama Aden.. buat apa dia kembali ke sini.. dan bahkan membuat acara pertunangan Aden dengan Nona Besar dibatalkan.. juga Non sudah mengaku sebagai istri Aden di hadapan semua orang..”
Lendra menoleh dan berpikir. Bi Sarmi tampak bersemangat mengompori.
Ya kan? Coba Aden pikir.. apa alasannya dia kembali kemari?”
Katanya sih.. dia mau minta maaf sama saya.. dan berterimakasih karena saya sudah menolongnya waktu itu…” Lendra terus berpikir.
Masa.. ,”senyum Bibi, “Cuma mau minta maaf  dan berterimakasih saja sampai jauh-jauh naik bis, naik kapal.. datang ke sini… Pas lagi.. dengan acara pertunangan Aden… Masa Aden ngga bisa membaca maksud hatinya Non Reya?”
Lendra memandang Bi Sarmi ragu.
Emangnya Bibi tahu.. apa isi hatinya?” tanya Lendra ragu.
Bi Sarmi tersenyum dan mendekat sambil menyemangati Lendra.
“Walaupun Non ngga bilang.. tapi Bibi bisa merasakan perasaan Non sama Aden..Non itu sangat khawatir dengan keadaan Den Lendra.. Hanya saja Non kan orangnya keras kepala, kan malu Den kalau perempuan yang mesti menyatakan isi hatinya sama laki-laki.”
Lendra tampak berpikir diam, lalu tiba-tiba berdiri dan terpincang-pincang berlari keluar kamar.
“Lho Den.. makanannya..”
Lendra tak menggubris dan terus bergegas keluar. Bi Sarmi menggeleng.
“Den Den..… masa apa-apa mesti dibilangin dulu baru ngerti…” tukasnya.
***
Pantai Banaran, siang

            Penjaga dan beberapa pelayan membereskan kapal dan barang-barang yang akan di bawa.
Lendra berlari terpincang-pincang mendekati kapal dan memandang cemas.
Kapal belum berangkat dan Lendra tampak mencari-cari.
“Kemana dia? Di dalam ngga ada.. katanya sudah ke sini..”pikir Lendra.
Fayo yang duduk berteduh di bawah pohon agak jauh tampak memandang Lendra heran.
“Ngapain dia panas-panasan di sana? Apa dia nyari-in aku? “ pikir Fayo.
Lendra berputar dan melihat Fayo yang sedang duduk di bawah pohon tak jauh dari pantai lalu berjalan mendekat.
Lendra menghela napas dan memandang Fayo sejenak lalu duduk di sebelahnya.
Lendra dan Fayo berpandangan canggung. Sesaat Lendra dan Fayo seperti akan berbicara bersamaan dan tersenyum.
Kamu duluan deh.. “senyum Lendra.
Ngga papa kok.. , “ Fayo menggaruk kepala bingung, “ Cuma lagi nunggu Pak Atmo aja.. “ katanya sambil menunjuk ke kapal.
Oh..  ehm.. “ Lendra bingung mencari pembicaraan, “Kamu sudah makan?”
Oh sudah… “ jawab Fayo canggung.
Oh… ,” sahut Lendra mengangguk.
Fayo menoleh menatap Lendra.
Kamu ngga istirahat? Kata dokter kan kamu belum boleh terlalu capek.. nanti kumat lagi lho…”
Ngga papa kok aku udah sehat..  “ Kata Lendra sambil membusungkan dada,” ya kan?”
Lendra dan Fayo tertawa. Sejenak mereka terdiam.
Non… soal.. pernikahan itu.. ,” Lendra diam sejenak, “ dan Papa kamu…”
Fayo memandang ragu. Aku minta maaf, ya… aku.. “kata Lendra terbata.
Lendra teringat saat Fayo marah dan menuduh Lendra dengan semua rekaannya.
Fayo menatap Lendra yang tampak gelisah.
Aku ngga sengaja… aku ngga bermaksud menjadikan kamu pengganti siapa pun.. atau menganggap kamu adalah … Reya.”
Fayo tersenyum dan menghela napas.
“Ya aku tahu… “ Fayo senyum sedih, “ kamu juga pernah bilang kalau aku ngga mirip sama dia..”
Lendra mengernyitkan kening dan menatap Fayo.
“Aku juga ngga bermaksud memaksa kamu menjadi orang lain..Cuma, waktu itu aku bener-bener ngga tahu siapa kamu.. dan tiba-tiba saja entah kenapa aku langsung mendaftarkan nama Reya sebagai namamu di rumah sakit, dan ketika aku membawa kamu pulang dan memperkenalkan ke Bi Sarmi kalau kamu adalah Reya, maka dia yang menyimpulkan sendiri bahwa kamu adalah Reya yang sama… dan semuanya langsung bergulir begitu aja… “ sesalnya Lendra.
Fayo tersenyum pedih.
“Tentu saja.. Reya.. Reya.. hanya itu yang selalu ada dalam pikiran kamu..Makanya nama itu yang terlintas untuk kau berikan pada ku…” pikir fayo.
Lendra menatap Fayo yang terlihat sedih.
Maaf kalau aku sudah merusak rencana kamu.. masa depan kamu.. Rencana pernikahan kamu…” Lendra menunduk sedih. Fayo menoleh menatap Lendra yang lesu.
“Apa dia baik-baik aja?” tanya Lendra. “Ha?” Fayo tak mengerti.
“Tunangan kamu?” tanya Lendra.
“Randy? Oh.. dia…” jawab Fayo.
“Oh.. jadi namanya Randy?” potong Lendra yang terlihat sedikit cemburu.
Fayo menghela napas, “ Randy sudah menikah dengan orang lain..”
“Apa?” Lendra tersentak.
Semula aku juga ngga bisa ngerti.. kenapa dia begitu mudah melupakan aku dan menikahi perempuan lain ketika aku pergi..”
Lendra menatap serius. Fayo memandang ke laut lepas. Tapi…” lanjut Fayo.
Maaf.. aku benar-benar sudah membuat hidupmu jadi kacau…” potong Lendra menyesal, “dengan membawa kamu ke sini…”
Fayo memandang Lendra dan tertawa kecil. Lendra tampak heran.
“Ah.. seandainya aku ngga ke sini pun.. dia tetap akan menikahi perempuan itu…” tawa Fayo.
Lendra memandang tak mengerti.
Beberapa hari yang lalu aku pergi bersama Mbok.. dan tiba-tiba.. semuanya seperi terulang begitu aja.. semua kejadian di masa lalu.. saat peristiwa kecelakaan itu..” Fayo diam sejenak dan mulai bercerita.
“Hari itu.. Aku melihat Randy bersama perempuan lain.. sedang mengambil cincin pernikahan mereka… padahal saat itu Randy sudah melamar ku di depan Papa… dan aku kira kami akan segera menikah… “ Fayo menghela napas, “Aku kira aku ngga akan sanggup hidup lagi tanpa dia…”
Lendra termenung seakan mulai mengerti kenapa saat itu Fayo tampak sangat depresi.
Jadi semua itu bukan salah kamu Len..” tatap Fayo.
Fayo tersenyum dan memandang Lendra.
Fayo memandang ke arah kapal. Sepertinya pekerjaan bersiap sudah selesai. Beberapa pelayan berjalan kembali ke rumah.
Lendra memandang ke kapal dan menghela napas.
“Apa.. kamu ngga bisa tinggal lebih lama…” tahannya.
Lendra menatap Fayo penuh harap.
Sorry tapi.. besok aku mesti kerja, nanti kalau kebanyakan bolos aku bisa di pecat dan…”
Fayo menunduk tak sanggup menatap Lendra.
Jangan.. jangan… jangan menatapku seperti itu… nanti aku bisa kena ‘short memory lost’ lagi dan…” pikir Fayo dalam hati.
Ngapain sih kamu mesti kerja di tempat lain.. kalau kamu pengen kerja kan bisa kerja di kantor aku, atau di hotel, atau di mana kamu suka…” Fayo menggaruk kepala.
“KKN nih.. “senyumnya,” Ngga lah Len.. aku udah banyak ngerepotin kamu..”
Lendra tertawa sejenak lalu memandang Fayo kembali serius.
Ada banyak hal yang mesti aku jelasin sama kamu…” kata Lendra.
Fayo memandang Lendra.
“Soal pernikahan itu.. “ Lendra diam sejenak mengumpulkan kekuatan.
“Memang.. semula.. sempat terpikir aku untuk melupakan Reya.. dan membalas apa yang pernah dia lakukan sama aku…”
Tuh kan… “ pikir Fayo kesal.
Tapi.. karena kamu… ,”menoleh memandang Fayo, “manja banget…”
Lendra tersenyum mengingat Fayo yang selalu memegang tangan Lendra dan tak pernah mau melepas tangannya selama Fayo sakit di rumah sakit.
Lama kelamaan.. aku jadi terbiasa dengan kehadiran kamu.. aku jadi ngerasa ada yang hilang kalau ngga ada kamu… , “menoleh Ke Fayo yang tersenyum, “Dan saat kamu bener-bener sakit.... “
Lendra teringat saat Fayo selesai di operasi dan mengalami kelumpuhan sebelah.
Fayo masih setengah sadar dan wajahnya tampak miring, bibirnya agak tertarik. Dan sepertinya susah berbicara.
Lendra menghela napas berat. “Aku ngerasa bersalah banget… “Lendra memandang Fayo.
Bu Dina yang di rumah sakit juga cerita soal kelumpuhan pasca operasi itu.. tapi aku ngga terlalu inget…aku cuma ngerasa berat.. pusing dan ngantuk banget..”
“Waktu itu kan kamu baru selesai operasi.. jadi masih ada pengaruh obat bius dan belum sepenuhnya sadar.. Aku ngga tahu kamu ada alergi sama obat bius… padahal selama ini banyak banget kejadian yang menyebabkan kelumpuhan atau koma pasca operasi.. tapi aku ngga pernah nyangka ini akan menimpa kamu…Kalau saja aku tahu… aku kan bisa minta tim dokter yang khusus menangani anestesinya.. dulu ada salah satu temanku yang istrinya juga punya alergi seperti ini, tapi karena cepat ketahuan dari awal… “ Lendra memandang Fayo yang menatapnya.
“Dia minta tim dokter yang terdiri dari beberapa orang yang memang sudah ahli dalam hal anestesi, dan operasinya berjalan lancar.. “ sesalnya.
Lendra menatap Fayo lekat, “Aku hampir saja membuat kamu mati…”
Lendra mengelus pipi Fayo. Fayo terkesiap, jengah.
“Aku ngga bisa berhenti menyalahkan diriku karena menandatangani persetujuan operasi itu..Kalau saja aku ngga egois dan meneruskan mencari keluarga kamu..
Mungkin saja Papa kamu, atau kerabat kamu yang lain lebih mengerti riwayat kesehatan kamu.. dan kamu ngga akan seperti itu…Aku ngga bisa bayangin kalau kamu harus lumpuh atau bahkan koma seperti itu, seumur hidup… aku … , “ Lendra tampak sangat sedih gelisah, “ aku ngga akan bisa memaafkan diri aku sendiri…”
Fayo memandang Lendra yang tampak sangat menyesal dan memperhatikannya.
Lendra menoleh dan menatap Fayo.
“Non… apa.. apa aku boleh tahu.. , “ tanyanya ragu, “ kenapa kamu kembali ke sini?”
Fayo mengangkat wajahnya kaget dan tak dapat berkata-kata segera memandang jengah ke tempat lain. Lendra terus menatapnya meminta kepastian.
Selama kamu di Jakarta.. apa kamu mikirin aku..”
Fayo berdiri gelisah sambil menepiskan pasir dari celananya.
“Sepertinya Pak Atmo sudah siap.. “ Fayo tersenyum jengah mengalihkan perhatian menunjuk ke kapal, ‘ Lebih baik aku ke sana aja.. nanti bisa ketinggalan..”
Lendra berdiri dan memandang gelisah.
“Jangan pergi…” pintanya.
Fayo terkejut dan menatap Lendra tak percaya.
“Tolong.. jangan pergi lagi… “ ucap Lendra serius, “Aku suka kamu…”
Fayo terdiam menatap Lendra.
***

Fayo memandang ragu dan tak percaya.
Aku ngga tahu sejak kapan.. dan kenapa.. tapi aku bener-bener suka sama kamu.Aku suka cara kamu ketawa, kalau kamu marah, saat kamu ngambek.. , “ senyum Lendra, “Aku sayang sama kamu…”
Fayo menghela napas ragu dan memandang ke laut.
Bukannya selama ini yang kamu harapkan cuma Reya? Kamu kan sudah mencintainya seumur hidup kamu… “
Aku juga ngga tahu..  aku kira tadinya memang aku mencintai Reya..” Fayo menatap Lendra.
Tapi sejak ketemu kamu… aku baru benar-benar tahu apa artinya kata senang, gembira, sedih juga sakit semua hal yang sebelumnya.. kukira sudah pernah aku rasa-in… semuanya beda..karena kamu… “
Fayo dan Lendra berpandangan.
“Aku tahu.. aku ini cuma cowok cacat, mungkin aku ngga pantes buat kamu.. tapi..”
“Kamu bukan cowok cacat!! Kamu ngga boleh ngomong begitu..” potong Fayo.
“Tapi aku memang cacat dan sakit.. aku pasti akan nyusahin kamu..Mungkin kamu juga nyesel… dulu pernah milih aku.. tapi..Tapi aku bener-bener suka sama kamu.. please Non.. kasi aku kesempatan”
“Bukan itu.. Lendra.. bukan begitu, tapi..”
Fayo menggeleng sedih. Sorry… aku rasa.. aku belum bisa..”
Lendra menatap tak mengerti.
“Aku pernah membuat kesalahan besar waktu itu, dan aku harus membayar dengan sangat mahal… aku kira dengan kehilangan Randy aku sudah kehilangan segalanya.. tapi karena kebodohan aku, aku malah kehilangan Papa…” ungkapnya sedih, “Tempat ini.. “ Fayo memandang sekeliling, “ dan kamu.. , “memandang Lendra, “.. sangat berarti buat aku..  Tapi… semua ini..” katanya lirih.
“Selalu mengingatkan aku akan kematian Papa… dan pengkhianatan Randy..Dan semua hal yang paling buruk dalam kehidupan aku…Aku ngga yakin apa aku sanggup… hidup dengan bayangan itu selamanya.. “
Lendra menatap kecewa. “Non… Non… “ Lendra memegang lengan Fayo.
Pak Atmo tampak berdiri di dekat kapal menunggu. Fayo menghela napas.
“Maaf aku harus pergi sekarang..”
Fayo melepas pegangan Lendra dan berjalan ke arah kapal.
“Non.. Non..tunggu… “ Fayo terus berjalan tak menoleh.
“Jangan pergi… “ Teriak Lendra.
“Bagaimana ini? Apa benar Lendra suka sama aku? Lalu bagaimana dengan perasaanku? Apa aku juga suka sama dia… selama jauh dari Lendra, aku ngga bisa berhenti mikirin dia terus.. ngga ada lagi semangat ngelakuin apa-apa.. Tapi… kenapa aku susah banget mau percaya sama dia.. “ pikir fayo.
“Jangan pergi Re!!!” teriak Lendra memanggil.
Fayo tertegun dan berhenti berjalan.
“Re?? “ Fayo menghela napas, “ Reya..  Reya..”
Mungkin selamanya aku hanya akan menjadi pengganti dan bayang-bayang Reya..Lendra ngga akan pernah benar-benar suka sama aku..Orang yang dia sukai.. orang yang dia harap jangan pergi.. sebenarnya hanya Reya..Bukan aku…”Pikir Fayo dalam hati kesal.
Fayo meneruskan langkah lebih cepat, air mata mulai menetes.
Lendra seperti sadar sudah salah bicara dan cepat terpincang-pincang mengejar.
“Non.. non..”
Lendra berusaha menggapai dan memegang lengan Fayo.
“Lepasin!! “ Fayo kesal dan menangis.
“Non.. aku..”
“Aku bukan Reya!! “ teriaknya kesal.
Fayo menepiskan tangan Lendra.
“Sorry… aku..”
Jangan panggil aku Reya lagi.. aku bukan Reya dan selamanya aku ngga akan bisa menjadi Reya..”
Fayo kembali meneruskan langkah. Lendra menatapnya serius.
“Aku ngga pernah menganggap kamu Reya… “ teriak Lendra. “Aku.. aku ngga tahu mesti manggil kamu apa..”
Fayo terus berjalan menjauh.
“Dan kalau kamu inget.. aku lebih sering panggil kamu Non.. “ teriak Lendra kesal.
Fayo tetap berjalan tak menoleh dan menaiki kapal.
Lendra menatap dari kejauhan tak bergerak.
“Dia memang ngga suka sama aku…Dia memang ngga ingin tinggal lagi di sini.. percuma aja aku menahannya..” pikir Lendra.
“Aku ini hanya orang cacat dan sakit yang ngga tahu diri..Bodoh sekali aku… dia bahkan ngga peduli kalau aku suka sama dia atau ngga…”
Lendra menghela napas sedih dan air mata mulai mengalir.
“Non.. tega banget sih kamu…” katanya dalam hati.
Lendra menatap kapal. Fayo sudah berdiri di atas kapal memandang ke lautan tak menoleh lagi. Pak Atmo menatap bingung. Lendra melambaikan tangan menyuruh kapal berangkat.
Lendra berjalan pincang kembali ke rumahnya.
Dari kapal, Fayo menoleh dan melihat punggung Lendra menjauh dengan gontai
Fayo tampak menghela napas dan sedih melihat Lendra pergi dengan terluka.
Fayo termenung di atas kapal sambil memandangi pulau menjauh. Kapal semakin menjauhi pulau, Fayo memandangi pantai yang tampak mengecil sambil menangis sendirian.

Banaran, malam

Lendra duduk termenung menatap pantai dari sisi taman samping rumahnya.
Apa yang mesti aku lakukan sekarang… tanpa dia.. “ Lendra menghela napas.
“Rasanya aku ngga bisa bernapas…, “ ia memegang dadanya.
“Kenapa kamu ninggalin aku lagi… bagaimana aku mesti nerusin semuanya tanpa kamu… “ pikirnya lagi. Benaknya dipenuhi kenangan akan Fayo. Lendra tertawa lalu mulai menangis pelan dan tersedu.
Apa yang harus aku lakukan tanpa kamu… tanpa kamu..” katanya sedih.
Lendra tersenyum pedih dan menggelengkan kepala dan membungkuk menelungkup sambil menangis.
“Apa aku ngga ada artinya buat kamu sama sekali.. “ bisiknya pelan.
Lendra tenggelam dalam tangisan dan lamunannya.
Perlahan dirasakannya seperti ada orang yang datang menghampirinya, dan cepat-cepat Lendra mengusap air matanya tanpa menoleh.
“Sudah saya bilang Bi, “ Lendra menahan tangis, “ saya pengen sendiri… “
Tak ada jawaban. Lendra mengernyit heran karena orang di belakangnya tak juga pergi.
"Saya juga ngga mau makan…” sambungnya lagi.
Lendra menoleh dan terkejut. Bukan Bibi tapi Fayo yang berdiri menatapnya
Kamu?”tak percaya.
Fayo tersenyum dan mengangguk hormat, “ Malam Pak… maaf menganggu, nama saya Fayo.. Fayonita Wiryawan…Saya lulusan S1 Jurusan Management, dengan IPK 2.62…” kata Fayo tenang.
Lendra menatapnya heran, membalikkan badan menghadap Fayo dan mulai tersenyum.
Saya rasa, besok saya akan di pecat.. karena saya belum berpengalaman kerja, baru saja diterima dan saya sudah sering membolos… ,” Fayo diam sejenak.
Lendra tertawa dan memandang Fayo yang berdiri sok hormat dan serius padanya.
Jadi.. maaf sebelumnya kalau saya mengganggu istirahat Bapak malam-malam begini… “ sambungnya lagi sambil menghela napas.
“Tapi.. apa sekiranya saya boleh melamar bekerja di perusahaan Bapak?”
Fayo mengulurkan tangan memberi salam.
Lendra tersenyum lebar dan menarik tangan Fayo lalu berdiri dan memeluknya erat sambil tertawa lepas.
“Hei..” teriak Fayo, “ Pak Lendra.. jangan kurang ajar ya.. saya bisa tuntut Bapak karena pelecehan pada karyawan” gerutunya.
Fayo meronta berusaha melepaskan diri. Tapi Lendra terus memeluknya sambil tertawa keras.
“Lendra.. lepasin nggak..”
“Nggak!!!”
“ Udah di bilang Ini namanya pelecehan.. bos pada calon karyawan baru..’
Biarin!!”
Aku laporin ke LSM lho..”
“Laporin aja..” Lendra tertawa dan mempererat pelukannya.
“Susah payah aku nungguin kamu.. aku ngga akan pernah ngelepasin kamu lagi selamanya.. selamanya..“ Lendra tersenyum memandang Fayo, “Fay…” panggilnya.
Fayo tersenyum mendengar Lendra memanggil namanya.
“Aku seneng kamu kembali..”
Lendra melepas pelukannya dan menyalami Fayo.
“Kenalkan… Lendra..”
Fayo heran sejenak lalu tersenyum dan menyalami Lendra. “Fayo…”
Lendra kembali menarik Fayo dalam pelukannya. Mereka berpelukan erat.
“Fayo.. fayo.. ,” Lendra terus memanggil seperti menghafal nama itu, “ Fayo…”
Fayo tertawa.
“Aku sayang kamu.. Fay..”
“Aku juga sayang kamu Len.. ”
Lendra mencium kening Fayo dan kembali berpelukan.
“Kita mulai dari awal ya..”

***

No comments:

Post a Comment