1. EXT/INT: JALANAN/MOBIL IAN.MALAM
IAN, VINARA
Vinara berlari menjauhi rumah dengan pakaian yang kotor oleh tumpahan sup dan es campur. Airmatanya deras mengalir. Sambil menjinjing roknya yang panjang, sesekali tangannya mengusap air mata yang terus mengalir.
Flash back : Makian dan tatapan dari Mama Bella dan Mama Agnes
Cut To : Vinara memperlambat larinya setelah agak jauh dari rumah, terisak
Flash back :
CU wajah, tawa Betty dan teman-temannya
Cut To saat Betty menuang sup dan es
Cut To : Vinara berhenti berlari, berdiri dengan sedih, air mata tak bisa berhenti mengalir, terus terisak, sesekali mengusap air mata yang terus mengalir
Flash back : Arya berlari mengejar sambil memanggil Agnes.
Cut To : Vinara menggelengkan kepala tak percaya dan kembali berlari sambil menutup telinganya berusaha menghilangkan suara-suara ejekan yang terus terngiang bahwa Arya tak sungguh mencintainya. (Suara Mama Agnes dan Mama Bella terngiang : Arya hanya mencintai Agnes!!)
Tiba-tiba di tikungan mendadak muncul sebuah mobil sport melaju kencang dan berpapasan dengan Vinara. Vina terdiam terkejut, hanya bisa menjerit dan mengangkat lengan menutup mukanya.
Mobil berusaha menghindari Vina, tapi karena kecepatan yang tinggi Vina tetap terserempet hingga jatuh berguling-guling ke sisi jalan. Mobil menghindar ke kanan dan menyerempet pohon yang ada di tepi jalan, tepat di seberang Vina jatuh.
Tak ada seorangpun di situ selain Vina dan pengemudi mobil. Suasana sepi.
Mobil berhenti dan pengemudinya turun.
Ian turun dari mobil dengan kesal.
IAN
Siall… (marah, setengah mabuk)
Ian tidak menoleh atau melihat Vinara sama sekali, tak perduli, dia malah berkeliling memandangi mobilnya. Mengelus sebagian bemper kanannya yang penyok terkena pohon. Ian mengamati guratan-guratan yang ada dan memeriksa seberapa parah kerusakannya. Ian lalu memandang bemper depan kiri yang juga penyok karena telah membentur Vina dengan kencang.
Vinara merintih di tepi jalan, siku, lengan, lutut bahkan wajahnya sebagian luka-luka.
Ian mengusap kepala dengan kesal lalu memukul kap mesin dengan kedua tangannya.
Tetap tidak memperhatikan Vina yang kesakitan sama sekali.
IAN
Shitt…!! (mengumpat berkali-kali sambil menendang-nendang ke ban dan body mobilnya)
Vinara berusaha bangun. Seluruh badannya terasa nyeri. Ia hanya mampu duduk di tepi jalan sambil melihat siku, lengan dan kakinya yang luka-luka. Gaunnya koyak di beberapa tempat.
Vina meringis sakit sambil memegang kepalanya yang juga terluka. Vina menatap Ian yang sedang uring-uringan dan mengamuk di seberang jalan. Wajahnya terlihat heran dan ‘no respect’ pada Ian.
Dalam hati Vinara
Gila… siapa sih itu? Bukannya nolongin atau apa kek.. malah ngeributin mobilnya… Ga
waras kali ya tu orang… (mendengus kesal)
Duhh.. (mengelus luka-lukanya) Sial banget sih aku hari ini…
Vinara mengusap airmatanya sambil menengadah ke atas dengan sedih.
Tiba-tiba tanpa disadari Ian sudah berdiri di depannya.
IAN
Heh!!! Bego!!! Jalan pake mata dong… (bentak, kasar)
Kamu ga liat apa ada mobil segini gedhe… (menunjuk ke mobilnya)
Vinara terkejut dan memandangnya. Menggelengkan kepala seperti tak percaya setelah mengenali wajah Ian yang tertimpa cahaya lampu jalan.
Dalam hati Vinara
Ya ampun… punya utang apa aku sama dia di kehidupan sebelumnya… kok dia lagi .. dia lagi… (menunduk kesal sambil mengusap wajahnya. Airmata sudah mengering)
IAN
Ee… elu budeg apa tuli… di ajakin ngomong bukannya jawab apa gitu kek…
Vinara menatap Ian kesal, tak menjawab.
IAN
Liat nih liat… (berjalan menuju mobilnya dan menunjuk ke bagian-bagian mobil yang rusak)
Lu tau ga ini mobil mahal…
Ian mendekati Vina lagi yang telah berdiri tak tegak karena menahan sakit.
IAN
KTP… mana KTP…. (tangannya mengulur meminta dengan kasar)
VINARA
Apa sih maksud kamu? (bingung dan kesal)
IAN
Iya.. KTP… Ka .Te .Pe!! Ngerti ga ktp apa… (menatap Vinara dari atas sampai ujung kaki)
Jangan-jangan lu ga punya KTP lagi… dasar gembel… gimana bisa ganti…
Ian mengibaskan tangannya kesal. Berbalik dan berjalan ke arah mobilnya sambil terus menggerutu.
Ian masuk ke mobil dan menyalakan mesin. Menyalakan lampu mobil, sebelum menginjak gas Ian menoleh memandang ke arah Vina.
CU Wajah Vina memelas. Baju koyak dan kotor, badan penuh luka.
CU Wajah Ian terkesiap. Baru sadar Vina terluka. Seperti kasihan dan tersentuh.
Sekejap Ian menggelengkan kepala, seperti menolak perasaan itu. Ian bergegas menginjak gas dan melesat pergi.
Vina memandang kepergian Ian dengan sedih. Terisak.
CUT TO
2. EXT: DEPAN PAGAR KOST VINARA.MALAM
ARYA, VINARA, SOPIR TAKSI/FIGURAN
Arya berjalan hilir mudik menunggu di depan pagar. Mobilnya terpakir di dekat situ. Sesekali ia bersandar ke kap mobil sambil melipat tangan. Arya terlihat sangat gelisah.
Dari sudut jalan muncul taksi. Ian menatap cemas.
Taksi berhenti di dekat kost.
Vinara dari dalam mobil menatap Arya yang tampak gelisah.
Vina mengulurkan tangannya membayar taksi.
VINARA
Terimakasih ya Pak..
Sopir menerima, tersenyum ramah
SOPIR
Sungguh Non, tidak perlu ke rumah sakit?? (menatap luka mala khawatir)
VINARA
Nggak papa kok Pak.. terimakasih ya..
Vina beranjak membuka pintu. Sopir membantu membuka dan memapah Vina turun.
Arya menatap ingin tahu siapa yang datang.
Vina berusaha menegakkan berdirinya sambil menahan sakit.
Arya tampak terkejut dengan kondisi Vina. Arya memapah Vina dengan khawatir.
ARYA
Aduh Vinnn.. kenapa bisa begini.. (cemas memperhatikan Vinara)
VINARA
Ngga papa kok… (berusaha tersenyum)
Sopir masuk. Arya menggaguk berterimakasih. Lalu kembali menatap Vina.
Taksi berlalu.
Arya menatap Vina dalam-dalam. Airmata Arya mengalir.
ARYA
Sorry ya Vin… (memeluk Vina erat) Seharusnya aku ngga ninggalin kamu
(melepas pelukan dan menatap Vina) Kamu jadi luka begini… Sebenernya ada apa sih? Tadi Ube sempet cerita tentang kejadian di pesta… Soal Betty .. Bella..
(Arya berhenti bicara, sedih) Tapi aku nggak nyangka bisa seperti ini.
Kamu di apain aja sih… (kesal)
Semua salahku (menyesal, memperhatikan luka-luka di wajah Vina)
Vina menatap Arya. Arya mengelus luka Vina dengan penyesalan.
VINARA
Yak… (pelan) Soal… si Agnes…. (hati-hati)
Arya yang semula sibuk memperhatikan luka Vina berhenti, lalu menatap Vina serius dan sedih. Vina menatap Arya meminta penjelasan. Arya menatap Vina tegas.
ARYA
Aku udah jelasin ke Agnes, kalo aku tu sayaaang banget sama kamu.
Dan sejak semula… (Arya mengusap kepala Vina) Aku dan Agnes tu ngga pernah ada hubungan apa-apa selain … temen deket aja.. ngga lebih.. (mencoba meyakinkan)
VINARA
Tapi Tante Hen dan Om Sis tadi… (menyebut papa mama Agnes)
ARYA
(memotong) Semua itu ngga bener Vin… mereka Cuma menyimpulkan aja atas kedekatan-ku sama Agnes. Sungguh… percaya lah Vin… kamu satu-satunya perempuan yang paling aku cintai dalam hidupku… Aku Cuma sayang sama kamu.
Vina menatap bingung. Membuka pagar dan berjalan lunglai masuk. Arya menggandeng Vina yang tertatih-tatih.
ARYA
Kalo ngga percaya, kamu bisa tanya si Mbok … atau Nai… mereka tahu. Kamu satu-satunya temen perempuan yang aku ajak ke rumah. Kamu yang pertama…
(berhenti sejenak. Vina meringis kesakitan sambil duduk di teras)
Dan aku yakin, kamu juga pasti yang terakhir… (Arya berlutut di depan Vina)
Vinara menatap Arya bimbang.
VINARA
Aku Cuma ngga mau… kalo sepertinya aku selalu menari di atas penderitaan orang lain. Masalah Sonya… sekarang Agnes.. Aku…(ragu)
ARYA
Please Vin… (memotong ucapan Vinara) kasi aku kesempatan. Aku akan buktikan. Aku pasti membuat kamu bahagia. (mantap)
Sejak pertama aku lihat kamu, aku sudah merasa yakin bahwa kamu adalah orangnya. (mengelus Vinara) Maaf -in aku Vin.. aku terlalu banyak nyakitin kamu…
Aku sayang sama kamu… Maaf-in aku Vin…
Kedua tangan Arya menangkup di wajah Vinara yang tampak terharu. Vina tersenyum.
Vinara dan Arya berpelukan.
Theme song 8 img: Berikan Aku Cinta by Ungu
Vinara dan Arya saling berpelukan dan menatap dengan mesra. Fade Out
Rumah Arya.Siang : Vinara berdiri di depan pagar rumah Arya sambil menenteng koper. Naia, Hilman dan Arya tampak sibuk mengatur koper ke dalam mobil Arya. Mereka masuk ke mobil dan melambai pada Mbok. Mobil menjauh. CUT TO
Mobil Arya.Siang : Arya menyetir sambil bercanda dengan Vinara, Hilman dan Naia. CUT TO
Perkebunan Teh.Siang : Pemandangan alam yang indah. Vinara dan yang lain membuka jendela. Vinara mengeluarkan wajahnya ke jendela. Semua tertawa senang. CUT TO
Rumah Orang Tua Arya(Keluarga Prodjo).Sore : Ibu Arya berlari ke halaman menyambut rombongan yang turun dari mobil. Ayah Arya dan keluarga yang lain menyambut dengan senang. Ibu Arya merangkul Vinara masuk ke rumah. CUT TO
Perkebunan Teh.Siang : Vinara dan Arya berkejaran di pematang. Vinara dan Arya tampak bercanda dengan mesra sambil memandang pemandangan yang indah. CUT TO
Senja : Vina dan Arya berpelukan menatap matahari tenggelam. CUT TO
End Theme song 8
CUT TO
Commercial break
3. INT: RUANG MAKAN/RUMAH KEL. PRODJO.MALAM
ARYA, VINARA, NAIA, HILMAN, BAPAK & IBU PRODJO/ORTU ARYA, ROBBY&KELUARGA, PRIE&KELUARGA, FIGURAN
Semua duduk sambil berbincang akrab saat makan malam. Di meja terhidang masakan dan lauk. Beberapa lilin terpasang di tengah meja.
Anak-anak Robby dan Prie berlarian di sekitar meja. Suster pengasuh dan pembantu rumah tangga menjaga dan mengawasi mereka.
ARYA
Nambah lagi ah..
Arya bangkit dari kursi sambil mengambil nasi dan beberapa lauk di depannya.
NAIA
Dasar perut kadut!! (menggoda)
Semua menertawakan.
IBU PRODJO/IBU ARYA
Ya.. jarang-jarang kan kalian makan masakan Ibu, jadi makanlah yang banyak ya…
Ibu berdiri dan mengambilkan ikan goreng di dekatnya dan di sendok-kan ke piring Arya.
NAIA
Pake dilayani lagi.. nanti ngelunjak di Bu…
IBU PRODJO
Hus Nai, masa ngatain Adeknya kaya gitu… (merengut sambil tersenyum)
Arya tertawa senang merasa di bela.
NAIA
Nanti calon menantu Ibu satu ini takut lho, kalo tahu bakal disuruh ngelayani dia (menunjuk Arya) kaya begini.. (tertawa kecil)
Semua memandang Vina sambil tertawa.
Tinggal Arya yang belum menyelesaikan makannya. Hilman berdiri dan keluar ke teras bercakap-cakap dengan Prie dan Robby sambil merokok.
Pak Prodjo berdiri dan duduk di depan TV, segera dia di kerubuti cucunya yang tampak bandel-bandel.
Naia menatap Hilman dari jauh dengan wajah agak sedih.
Ibu Prodjo berdiri dan membereskan piring kotor di meja. Vina bangkit membantu.
IBU PRODJO
Ning..!! Rati!!
Bu Prodjo berteriak memanggil sambil menoleh ke arah dapur. Sejenak kemudian keluar dua orang pembantu rumah tangga yang membantu membereskan meja.
Arya menyelesaikan makannya dan berdiri lalu mencuci tangan ke wastafel.
Vina berjalan mengikuti Bu Prodjo sambil membawa beberapa piring kotor ke dapur.
Naia keluar ke teras dan ikut bercakap dengan Hilman, Robby dan Prie.
Istri Robby dan Prie sibuk mengurus anak-anak yang berlarian.
ISTRI ROBBY
Ayo Ditta, Dilla… sudah malam jangan lari-lari lagi..
ISTRI PRIE
Iya ayo anak-anak ganti baju sekalian.. sikat gigi, rawat-rawat…
Tangan istri Prie melambai memanggil anak-anak dan mengajak mereka memasuki salah satu kamar. Anak-anak, istri Robby dan suster pengasuh mengikutinya.
Arya tersenyum memandang anak-anak itu dan menepuk salah satu anak yang lari melewatinya. Arya berjalan ke depan TV dan ikut duduk bersama Bapaknya.
CUT TO
4. INT: DAPUR-RUANG TENGAH/RUMAH KEL.PRODJO.MALAM
VINARA, BAPAK & IBU PRODJO, ARYA, PRIE, ROBBY, NAIA, HILMAN, FIGURAN
Vina dan Ibu Prodjo meletakkan piring-piring di tempat cuci. Ning dan Rati membantu membereskan dapur.
IBU PRODJO
Bagaimana Vina persiapan sidang kamu?
Vina membilas piring-piring yang telah disabun oleh Bu Prodjo.
VINARA
Makalahnya sudah hampir selesai tante. Tinggal melengkapi penulisan dan lampirannya saja.
Bu Prodjo mengangguk-angguk.
IBU PRODJO
Tante percaya, kamu pasti lulus dengan nilai bagus…
Vina tersenyum. Ibu Prodjo menghentikan kegiatan mencucinya dan tersenyum memandang Vina yang sedang mambantunya.
IBU PODJO
Harus itu.. sudah pasti ya… Tante dan Om sudah pesankan tempat dan tanggal untuk pernikahan kalian awal tahun depan.. jadi kalau selesai wisuda…?? (menggantung) Bulan berapa ya kamu wisuda? September? Oktober?
VINARA
Menurut jadwalnya, Oktober Tante.. saya akan berusaha..
IBU PRODJO
(memotong) O iya.. pasti bisa, Tante yakin kamu pinter kok… (kembali menyelesaikan cucian)
Vina menahan napas canggung. Arya masuk dan merangkul Vina dan Ibunya yang sedang berdiri bersisian.
Rati dan Ning menggantikan mencuci. Vina, Arya dan Ibunya berjalan ke arah ruang tengah.
ARYA
Ngobrolin apa sih seru amat?
IBU PRODJO
Soal acara bulan Februari nanti..
Arya menggaruk kepalanya. Vina tersenyum.
ARYA
Apa nggak terlalu mepet Bu? Tinggal beberapa bulan lagi, padahal Arya dan Nai juga Mas Hil belum nyiapin apa-apa.
Vina juga masih sibuk ngurusin sidangnya…
Bu Prodjo menatap tegas.
IBU PRODJO
Kalian ini kan pacarannya sudah terlalu lama. Buat apa lagi di tunda-tunda.
Ibu Prodjo, Vina dan Arya sudah tiba di ruang tengah. Mereka duduk di dekat Pak Prodjo.
Ibu Prodjo memandang ke teras. Hilman tampak berdiri agak jauh sambil menelepon lewat ponselnya. Naia tampak memandang Hilman dengan tak senang. Prie dan Robby berjalan masuk.
IBU PRODJO
Lagian Nai kan sudah cukup umur untuk menikah. Waktu Ibu seumur dia, Ibu sudah melahirkan Prie dan Robby.
ARYA
Yah Ibu… masa jaman dulu di bandingin ama sekarang, dulu Ibu tuh yang kawin muda (tertawa) jaman sekarang 14 tahun juga masih SMP.
Semua tersenyum. Bu Prodjo menghela napas dengan gundah.
IBU PRODJO
Ibu juga ngga minta kalian kawin muda kan..
ARYA
Lagian Nai kan baru juga 28 tahun Bu. Belum juga kepala 3.
IBU PRODJO
Astaga Arya, masa mau tunggu sampai kepala 3? Sekarang aja… (Ibu Prodjo menoleh lagi ke teras dan menatap Hilman dan Naia tampak bersitegang)
Apa kamu tidak perhatikan kalau hubungan Hilman dan Nai sepertinya …
Semua yang di ruang tengah menoleh menatap ke depan. Nai dan Hilman masih tampak bersitegang, sementara telepon genggam Hilman tampak masih ditempelkan di telinga.
BAPAK PRODJO
Ah Ibu ini, apa lagi anak sudah besar, ya biarkan saja kalau mereka ada masalah kan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri
PRIE
Iya Bu…
IBU PRODJO
Ibu bukannya mau ikut campur urusan mereka. Tapi mereka kan sudah hampir 11 tahun pacaran sejak SMA. Dan mereka juga yang tadinya bilang mau nikah paling lambat tahun ini. Tapi setelah mau nikah kok malah ribut-ribut aja…
ROBBY
Ya biarin aja lah Bu, nanti kan kalau ada apa-apa pasti mereka akan ..
Perkataan Robby terhenti dengan masuknya Naia ke dalam rumah dengan setengah berlari dan naik ke lantai 2, menuju kamarnya.
Semua memandang Naia lalu memandang ke teras. Hilman masih saja menelepon.
Bu Prodjo tampak sedih, khawatir.
Vina hanya bisa memandang saja tak tahu harus berbuat apa.
ARYA
Udah Bu.. jangan terlalu dipikirin nanti juga mereka baikan sendiri. Kalau memang perlu kan pasti Nai akan ngomong sama Ibu…
Bu Prodjo mengangguk lalu memandang jam dinding.
IBU PRODJO
Ayo semua istirahat, sudah malam. Besok pagi kan kalian pagi-pagi sudah mau kembali ke Jakarta.
Ibu Prodjo mengelus Vina yang duduk di sebelahnya dengan sayang.
IBU PRODJO
Kamu juga istirahat ya sayang… sana…
Vina tersenyum dan berdiri.
LS Suasana ruangan dan orang-orang yang kembali ke kamar masing-masing.
Lampu meredup
CUT TO
Commercial break
5. INT: KAFE F2.MALAM
ARYA, VINARA, NAIA, HILMAN
Sebuah taksi berhenti di depan lobby kafe.
CU Pintu dan Plang nama Kafe.
Vinara turun dari taksi dan masuk ke kafe sambil menyapa ramah penjaganya.
Setelah masuk Vina langsung menuju ke ruang kantor di atas. Sesekali ia menoleh memperhatikan suasana Kafe yang cukup ramai.
Vinara membuka pintu kantor. Arya mengangkat wajahnya yang semula menekuni berkas-berkas di mejanya. Arya tersenyum mengetahui Vinara datang. Vina masuk sambil menatap ke arah ruang lain yang ada di dalam kantor.
Itu kantor Naia. Di dalam tampak Naia dan Hilman berbincang serius.
VINARA
Hallo sayang….
Menyapa Arya sambil duduk di kursi di hadapannya lalu merenggangkan badan penat.
ARYA
Capek ya? Aku kan udah bilang kamu ngga usah kerja sana-sini lagi. Bantu-bantu aku aja lah di sini… jadi kita bisa ketemu tiap saat kan…
VINARA
Nggak ah Yak… (menolak halus)
Kata orang kalo terlalu sering ketemuan ntar bosen lho… (tertawa menggoda Arya yang memonyongkan bibirnya)
ARYA
O… jadi kamu bosen sama aku…? iya.. (pura-pura ngambek)
VINARA
Bukan gitu (tertawa) cuma…. (katanya terhenti saat tangannya membuka beberapa berkas yang ada di meja Arya)
ARYA
Ah ya… ini lho yang tadi aku bilang… coba kamu lihat deh.. kamu suka yang mana?
Arya menunjukkan beberapa contoh undangan pernikahan yang tersusun di meja. Vinara tampak membuka-buka dan memperhatikan.
VINARA
Bagus-bagus kok. Yang mana ya?(memilah-milah)
Kak Nai bilang apa? (memajukan badan ke atas meja sambil memandang ke arah ruangan Naia)
ARYA
(mengangkat bahu)
Tuh lagi dibahas (memandang Hilman dan Naia yang tampak bersitegang)
VINARA
Jadi mau bareng-bareng ya nikahnya? Kak Hilman setuju?
ARYA
Oh iya dong! (tegas dan pasti)
Itu sudah jadi janji kita dari kecil dulu.
Kata Nai… sekalian biar irit…(tertawa)
Kan tamunya juga sama… lagian.. kenangannya pasti lebih seru kalau nikahnya bisa barengan… (tersenyum)
Makanya cepet lulus dong Non… (mengacak rambut Vina)
VINARA
Iya, bentar lagi kan udah sidang…
Doain dong biar lancar…, lulus…., dan oktober nanti udah bisa wisuda… (tersenyum sambil menangkupkan kedua telapak tangannya memohon)
Arya dan Vinara tertawa. Tiba-tiba tawa mereka terhenti karena suara gaduh.
Intercut
Ruangan Naia
Naia berdiri dari duduknya sambil menggebrak meja.
NAIA
Maksud kamu apa sih!! (membentak keras)
Mau mu apa…. (bertolak pinggang dengan wajah marah)
Hilman tampak berusaha menahan amarah. Duduk memalingkan muka dan bergumam tak jelas.
NAIA
Ngomong yang jelas!!
Hilman berdiri kesal. Ia memandang Naia dengan marah.
HILMAN
Pikir aja sendiri… (membentak balik)
Hilman berbalik, keluar dari ruang Naia dan melewati Vinara dan Arya yang tertegun, lalu membanting pintu.
Naia menatap Vinara dan Arya yang duduk di ruang depan, lalu cepat ia menutup pintu ruangannya kesal.
Arya memberi kode tanpa suara mengajak Vinara keluar ruangan. Vina dan Arya keluar dari kantor. Mereka berjalan menuju salah satu sudut ruang kafe yang kosong. Arya berbisik pada waitres untuk memesan minuman.
VINARA
(tersenyum) Bisa bangkrut tau, kalo tiap kali kamu minum ga bayar terus…
ARYA
(tersenyum) Orang makan di rumah sendiri kok bayar.. gimana sih kamu.. (tertawa)
VINARA
Kenapa sih, akhir-akhir ini kayanya Kak Naia ama Kak Hilman sering banget berantem?
ARYA
Ngga tau pasti ya. Tapi sepertinya karena masalah merit-merit gitu…
VINARA
Mereka pacarannya udah lama juga ya? 11 tahun kata Ibu?
Arya mengangguk. Pelayan mengantarkan dua gelas jus.
VINARA
Terimakasih ya… (menerima gelas jusnya)
Bukan karena aku kan? Apa karena kelamaan nunggu… (kembali menatap Arya)
Jadinya rencana pernikahan mereka tahun ini mesti di undur awal tahun depan.
ARYA
Vin… (memotong) kamu perasa banget sih… (mengelus dan merangkul Vina)
Ga ada hubungan ama kamu lagi. (menatap Vina sayang, menghela napas)
Setau ku, justru kak Hilman yang merasa belum siap atau gimana gitu, jadi minta di tunda lagi. Padahal kamu kan tau, Bapak Ibuku udah ribut aja pengen kita cepet-cepet nikah…. Semuanya udah di pesen, ya gedungnya ya macem-macemnya.. (tersenyum)
Makanya jangan sampe ga lulus lho… (pura-pura galak)
Vinara menyengirkan hidung menggoda Arya lalu meneguk jusnya sambil memandang sekeliling. Lalu wajahnya kembali serius dan menatap Arya.
VINARA
Kira-kira apa yang bisa kita bantu? Kak Nai selama ini baiiikkk banget ama aku…
Rasanya kok sedih aja ngeliat dia berantem gitu…
Coba dong Yak, kamu ngomong sama Kak Nai, siapa tau ada yang bisa kita lakuin buat bantu dia. Ibumu juga kayanya khawatir banget.
ARYA
Ya deh… ntar aku coba omongin ama dia ya…
Vinara mengangguk. Kafe tampak ramai oleh pengunjung. Arya juga memperhatikan sekeliling dan memperhatikan tingkah laku pelayan di sana.
CUT TO Naia
Naia tampak duduk sedih sambil merokok di ruang kerjanya. Matanya tertumbuk pada tumpukan contoh undangan dan brosur pernikahan. Naia menggeleng dan mematikan rokoknya dengan kesal. Tangannya mengambil kelender meja dan menatap tanggal tanggal yang telah diberi tanda untuk pernikahan mereka.
CUT TO
5. EXT. LOKASI SHOOTING IAN.SIANG
IAN, DANI, KRU
Ian tampak sedang duduk-duduk di bangku di bawah pohon. Kru tampak sibuk membenahi posisi setting yang akan diambil.
Di tangan Ian ada sebendel skenario yang masih dibaca-baca.
Dani duduk di dekatnya sambil mengutak atik PDA dan memeriksa jadwal Ian.
Sesekali Ian mengadu pandang dengan salah satu pemeran wanita yang sedang duduk tak jauh dari tempat Ian duduk. Dengan juga, sebendel skenario di tangan, perempuan itu terus melempar senyum manis ke Ian.
Seorang make up artis menghampiri perempuan itu dan membenahi make up nya. Sehingga acara adu pandang terpaksa terhenti sejenak.
Dani mengangkat wajahnya dari PDA dan memandang Ian serta artis perempuan itu sambil mengurut dada.
DANI
Udah udah… (mengibaskan tangan di depan wajah Ian yang masih sesekali memandang menggoda ke arah artis tadi)
Elo tu ya… ngga ada matinya…
Ian hanya tertawa kecil dan merubah posisi duduknya supaya lebih nyaman dan santai.
DANI
Cindy jadi dateng kan bentar lagi? Terakhir, dia bilang wisudanya minggu depan. Dan secepatnya setelah itu dia akan pulang ke indo.
Dani berhenti sejenak memandang Ian yang cuek membaca skenario tak memperhatikan omongannya.
DANI
Kamu beneran ngga dateng ke acara wisudanya?
Ian hanya mengedikkan bahu dengan wajah tanpa ekspresi. Matanya tetap ke skenario seperti tak peduli dengan ucapan Dani.
DANI
Heeh!! (memukul pelan bendelan yang di baca Ian untuk menarik perhatian, dan Ian memandangnya)
Elu ya ditanya… (kesal)
IAN
Iya.. gue dengerin… (cuek kembali memandang bendelan skenario)
DANI
Itu kan hari penting buat dia.. masa lu ngga dateng sih?
IAN
Elu kan manager gue… tau sendiri sinetron ini kejar tayang, mana bisa di tinggal jalan-jalan ke amrik..
DANI
Tapi kan bisa aja di atur-atur jadwalnya, paling Cuma 2-3 hari…
IAN
Yaa… kalo lo pengen pergi, ya pergi aja… (memandang nakal ke arah artis perempuan yang juga sedang melirik Ian sambil senyum-senyum)
Anggep aja lo ngewakilin gua kan…
DANI
Heh…
(memukul Ian lebih kencang sambil memandang Ian dan perempuan itu bergantian)
Kapan sih lo bisa serius? Apa lo mau terus-terusan begini.. (menunjuk ke arah perempuan tadi) gimana kalo Cindy pulang nanti?
IAN
Emang kenapa? (pandangan nakal menantang) Selama ini toh dia sudah tau kok.
Dani tampak kesal. Menggelengkan kepala, wajahnya tampak serius menahan marah.
Dani berdiri menghadap Ian.
DANI
Cindy itu sayang banget sama elo, kalo selama ini dia diem aja… (berhenti sejenak menghela napas)
Kalo sampe lo sakitin dia… (merendahkan suara dan mendekatkan wajahnya ke Ian)
Seorang kru menghampiri memanggil untuk memulai take berikutnya. Ian yang semula hendak menjawab hanya memandang Dani dengan kecut dan bergegas pergi.
LS Suasana shooting.
CUT TO
6. INT. RUMAH NAIA.MALAM
NAIA, ARYA
Naia dan Arya sedang duduk di meja makan. Meja penuh dengan berkas dan pembukuan.
NAIA
Hasilnya bagus juga ya.. gimana kalo dibandingin dengan bulan lalu
Naia mengambil beberapa gambar bagan dan membukanya di meja.
ARYA
Naik sih… (menunjuk beberapa bagian, lalu memandang Naia)
Mungkin kita butuh beberapa orang lagi buat bantu di bagian marketing..
dan lainnya. Gimana menurut lo?
dan lainnya. Gimana menurut lo?
NAIA
(mengangguk angguk)
Boleh juga. Besok coba lo atur aja sama Dayu, apa apa aja yang perlu… (matanya kembai terus menekuni berkas)
Ian menyandarkan duduknya ke kursi sambil memandang Naia mencari saat yang tepat.
ARYA
Ehmm.. (hati-hati)
Hilman lama juga ngga kelihatan ya… sibuk apa dia sekarang
Naia menghentikan kegiatannya, menghela napas sambil bersandar dan memandang Arya.
NAIA
Ga tau Yak… adaaa aja katanya… yang ngurus ini lah itu lah… (kesal)
Kamu tau kan Februari itu tinggal 7 bulan lagi, tapi… masa semua-semua mesti aku yang urus sendiri....
ARYA
Mungkin Mas Hil sibuk kali…
Naia mendenguskan napasnya.
NAIA
Rencana pesta itu kan udah kita rencanain jauh-jauh hari.
Kenapa kok sibuknya mendadak saat sekarang.
Vina aja yang ngurusin sidang dari bikin paper sampai lulus, ga segitu-gitunya.
Justru di saat sebenernya … (berhenti sejenak) seharusnya….(mengibaskan tangan)
Ah sudah lah.. males aku ngomongin dia lagi…
Naia berdiri dan membereskan meja. Arya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
NAIA
Tidur ajalah. Besok ada event di Kafe. Kita mesti dateng pagian ke sana.
Arya mengiyakan. Naia berjalan ke kamarnya. Arya meletakan dan melipat tangannya di atas meja makan sambil berpikir.
CUT TO
Commercial break
7. INT/EXT. BANDARA.PAGI
CINDY, DANI, IAN
Cindy berjalan sambil menarik kopernya. Disekitarnya beberapa pramugari dan penumpang pesawat juga berjalan beriringan. Suara-suara pengumuman di terminal kedatangan luar negeri bandara Sukarno Hatta memenuhi ruangan.
Ponsel Cindy berdering. Cindy berhenti berjalan sejenak mengambil ponsel dan menerima telepon sambil kembali berjalan.
CINDY
Hai Dan?!
Intercut : Dani di kantor menelepon Cindy
DANI
Hai Cin… udah sampe ya? Gimana penerbangannya?
CINDY
Ya baru aja, lumayan capek…
DANI
Udah ketemu Ian?
CINDY
Not yet, but… tadi udah ku telpon sih, katanya udah deket kok.
DANI
Ya baguslah.. (tersenyum lega)
Bawa oleh-oleh apa nih dari sana? (tertawa)
CINDY
Nothing! Ngga ada oleh-oleh… (pura-pura galak)
Dani tertawa menanggapi.
CINDY
Habisnya ya.. you-two..kok bisa-bisanya ngga ada satu pun yang dateng di wisuda ku bulan lalu. Kebangetan tau ngga..
DANI
Sorry banget Cin, bulan lalu jadwal kita padat banget jadi ngga bisa ke sana. Tapi aku janji deh.. pasti nanti aku ganti in…
CINDY
Ganti in gimana? Mana bisa acara wisudaku di ulang. Kamu ini lho Dan bisa aja…
DANI
Ya.. aku gantiin apa aja deh, kamu pengen apa… (tersenyum)
CINDY
Ga ada… (merajuk)
Dani kembali tertawa.
DANI
Ya udah, sana telepon Ian lagi, udah sampai mana dia. Kamu istirahat dulu deh, nanti siangan kalau kamu udah ngga capek, aku maen ke rumah, gimana?
CINDY
Ga bisa Dan. Habis ini aku langsung ke JHCC, ada acara wisuda temen lama ku. Aku udah janji mau dateng, makanya hari ini di pas in banget deh nyampenya pagi.
Cindy melalui petugas pemeriksaan paspor dan surat-surat. Menerima surat yang telah selesai di periksa petugas.
CINDY
Terimakasih Pak.. (menatap petugas)
Cindy kembali berjalan ke arah luar.
DANI
Kok mepet banget datengnya. Kalau emang ada rencana hari ini, mestinya kamu dateng dari beberapa hari yang lalu dong. Apa nggak kecapekan?
CINDY
Ga papa Dan, don’t worry…
Suara bising klakson mobil dan mesin kendaraan mengganggu pembicaraan.
DANI
Kamu udah di luar ya?
CINDY
Iya…
Cindy memandang ke arah jalanan melihat kalau-kalau Ian datang.
DANI
Ya udah deh. Nanti kalau acaranya selesai, kamu telepon aku ya..
Dari kejauhan mobil sport Ian tampak melaju.
CINDY
Okey… bye Dan…
Cindy menutup telepon dan maju ke pinggir jalan. Mobil Ian mendekat dan berhenti di depannya. Ian membuka kaca jendela. Ian melambai sambil tersenyum. Cindy tersenyum melihat Ian datang.
CUT TO
8. ESTABLISH: JHCC. TEMPAT WISUDA.PAGI
Tempat wisuda sdah dihias. Beberapa papan dan rangkaian bunga bertuliskan selamat dan spanduk-spanduk tanda kelulusan terpasang. Wisudawan dan keluarganya berfoto di sekitar lokasi. Saling berbincang dan bercanda. Beberapa mobil silih berganti menurunkan orang-orang yang berdatangan ke tempat wisuda.
9. INT: JHCC. TEMPAT WISUDA.PAGI
SITTA, QISTY, JO, VINARA, ARYA, FIGURAN
Sitta, Qisty dan keluarganya berfoto sambil bercanda.
SITTA
Jo… sebelah sini dong (manja)
Sitta menarik Jo mendekat ke spanduk dengan logo universitas. Mereka mengambil foto di sana.
QISTY
Duilee.. mesranya.. (menggoda)
SITTA
Biarin aja… dasar sirik tanda tak mampu lu..
Semua tertawa. Sitta dan Qisty sudah rapi dengan baju kebaya yang dilapis dengan toga. Sesekali Sitta dan Qisty merapikan sanggul di kepalanya dan memperbaiki make up.
CUT TO
Pintu utama, Vinara dan Arya masuk sambil bercakap mesra.
CUT BACK TO
Sitta dan Qisty melihat kedatangan mereka.
SITTA
Viinn!!! (berteriak)
Vina dan Arya mencari sebentar dan melihat rombongan Sitta di sudut. Sitta dan Qisty melambai memanggil. Vina tersenyum.
VINARA
Tuh mereka!! (memandang Arya senang)
Vina dan Arya menghampiri mereka.
CU Wajah Sitta dan Qisty menatap Vina heran.
CU dari atas ke bawah, Vina, tanpa make up, dengan baju pesta sederhana biasa, dan rambut terurai. Tangan Vina menenteng sebuah tas agak besar.
SITTA
Kamu ini gimana si Vin? Masa wisuda nggak dandan gitu?
Sitta mendorong bahu Vina pelan dan memandang dengan tatapan heran.
QISTY
Iya.. tadi di ajakin ke salon bareng katanya kamu mau dandan sendiri.. mana?
Vina tertawa.
ARYA
Iya tuh, tadi juga udah aku bujukin… (mengusap kepala Vina dan mengacak pelan) Kaya nggak tau aja… anak ini kalo ada maunya…
VINARA
Tenang masih ada waktu kan? (mengetuk arloji)
Semua ada di sini nih (mengangkat dan menunjukkan tas besarnya)
Sitta menggelengkan kepalanya.
SITTA
Kamu darimana aja? Kok ngga dandan dari rumah? Kan bisa foto-foto dulu…
VINARA
Fotonya ntar aja habis acara… (tertawa senang)
Sekarang aku mau ganti dulu bentar ya…
Vina memandang Arya.
VINARA
Kamu masuk duluan deh bareng mereka.
Arya mengangguk.
QISTY
Ya udah sana cepetan… ruang gantinya di ujung sana tu… agak jauh lho masuknya.
Tadi aja aku sempet nyasar. Aku anterin deh…
Vina mengangguk-angguk.
QISTY
Kalian duluan deh, lewat pintu itu kan? Nanti aku nyusul aku Cuma nunjukin jalan aja…
SITTA
Oya udah sana cepetan…
Vina dan Qisty berjalan tergesa menjauh. Sitta, Jo, Arya dan keluarga berjalan ke arah berlawanan menuju ruang wisuda.
CUT TO
10. EXT/INT: JALANAN/MOBIL IAN.PAGI
IAN, CINDY
Ian menjalankan mobilnya dengan cepat. Suara musik menghentak.
Cindy mengecilkan volume musik sambil memandang Ian.
CINDY
Thanks ya… kamu dah jemput aku…
Ian menoleh sebentar memandang Cindy sekilas sambil tersenyum.
IAN
Ga papa kok.
Kebeneran kan, manager gue yang baik hati.. (tersenyum menggoda) Dani, udah mengatur supaya beberapa hari ini gue bisa off. (menghela napas)
So… gue bisa ada waktu untuk nemenin lo…
Cindy terus menatap Ian lekat-lekat sambil tersenyum. Kerinduan terpancar dari ekspresinya.
CINDY
Oh ya (tangannya membuka tas kecil yang ada di pangkuannya)
Aku bawa oleh-oleh buat kamu.
Cindy bicara sambil mengambil dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berhias pita, lalu memberikannya pada Ian.
Ian menoleh sekilas dan menerimanya sambil tetap menyetir. Tidak dibuka, kotak itu dipegang dengan salah satu tangannya sambil diletakkan di atas setir.
IAN
Mestinya lo ngga usah repot-repot bawa in aku oleh-oleh segala Cin… Tiap kali lo pulang ke Indonesia pasti lo beliin gue sesuatu…
CINDY
Ga papa lagi Yan.. aku suka kok beliin kamu barang (berhenti sejenak)
Supaya kamu bisa inget sama aku terus, karena banyak barang dari aku di sekitar kamu (tersenyum kecil)
Ian hanya tersenyum kecut tak berkomentar lagi.
Kotak kecil itu di letakkan di samping tempat duduk. Cindy memandang dengan agak kecewa.
CINDY
Kok ngga di buka? Ngga suka ya? (merajuk)
IAN
Nanti aja di rumah.. kan gue masih nyetir.. (beralasan tetap menatap ke jalan)
Cindy menatap kecewa. Ian pura-pura tak tahu.
CINDY(dalam hati)
Yan… kenapa sih kamu ngga juga berubah, ngga pernah menghargai pemberianku, ngga juga menghargai aku… (mendesah dalam hati)
Aku kan tunangan kamu. Apa kamu ngga tau perasaan ku sama kamu. Aku kangen banget sama kamu. Tapi kamu… (menatap Ian dengan penuh perasaan)
Ian memotong lamunan Cindy.
IAN
Oh ya, jadi ke acara wisuda temen lo itu?(Ian menoleh memandang Cindy)
Cindy terkejut, tergagap karena tertangkap basah sedang memandangi Ian.
CINDY
Oh eh… iya dong. (melihat jam di mobil)
Wah sebentar nih… kalo langsungan aja sekarang kesana?? (hati-hati) Bisa?
Ian tersenyum lagi, matanya tak lepas memandang jalanan.
IAN
Siap tuan putri… (tangan kanannya bergerak ke dahi membentuk gerakan menghormat)
Hari ini.. saya akan mengantarkan ke maanaaa aja tuan putri pergi…
Cindy tertawa senang. Hilang sudah galau hatinya.
IAN(dalam hati)
Duhh anak ini… (melirik Cindy yang tersenyum-senyum senang sambil memandang ke jendela, tampak kekanakan)
Ga juga berubah dari dulu… (menghela napas)
Adek kecil gue… mana mungkin gue bisa cinta dan nikah ama elo…
Kening Cindy berkerut seakan terpikir sesuatu.
CINDY
Tapi Yan… kata Dani, akhir-akhir ini semakin banyak aja wartawan dan fans yang suka gangguin kamu kalo ketemu, sampe-sampe kalian udah ngga bisa lagi nyantai keluar bareng sembarangan.
Yang terakhir kali malah kamu sampe di jaga in bodyguard supaya bisa keluar…
Ian tertawa.
IAN
Ah.. itu kan Dani yang bilang.. nggak segitunya kok Cin.. tenang aja…
CINDY
Kamu yakin ngga akan ada masalah? (memandang Ian ragu)
IAN
Beres gua udah siapin ini…
Tersenyum sambil sebelah tangannya mengambil topi pet yang ada di dashboard dan memakainya. Setelah itu Ian merapikan rambutnya yang diikat dan dimasukkan kedalam topi, serta kacamata hitamnya lalu memandang Cindy sambil tertawa.
CUT TO
Mobil Ian memasuki pelataran parkir JHCC.
LS mobil Ian berhenti dan parkir.
LS suasana tempat wisuda yang cukup ramai
CUT TO
Commercial break
11. INT: KORIDOR RUANG WISUDA.PAGI
VINARA, QISTY, FIGURAN
Vinara dan Qisty berjalan tergesa sepanjang lorong. Sesekali berpapasan dengan wisudawan dan orang-orang yang ada.
Tiba di belokan, ada sebuah pintu bertanda toilet. Mendadak Qisty berhenti dan menarik Vina yang hendak terus berjalan.
QISTY
Aduh Vin… tunggu. (memegang lengan Vina)
Jadi pengen ‘pipis’ nih… (menunjuk toilet)
Vina menatap pintu bergambar tanda toilet wanita.
VINARA
Ya udah sana buruan.. ayo.. (hendak masuk ke toilet)
QISTY
Aduh ntar pasti lama, susah nih bakalan (menatap bajunya yang berlapis-lapis-kebaya dan toga)
Vina tertawa melihat reaksi Qisty.
VINARA
Makanya, mendingan pake kaya aku kan… (menunjuk bajunya) Pake kebaya gitu kan susah ke kamar mandi (tertawa)
Udah buruan, sini aku bantuin…
Qisty melihat arlojinya sebentar.
QISTY
Pipis kok dibantuin, gimana caranya…
VINARA
Ya aku bantuin beresin bajumu…
QISTY
Udah udah ngga usah deh… kamu aja belum beresin baju kamu sendiri. Katanya masih mau dandan.
Vinara melihat arloji.
QISTY
Udah sana, aku ke kamar mandi sendiri aja ga papa. Nanti aku langsung ke ruang wisuda aja. Kamu ga papa kan ga aku temenin ganti baju?
VINARA
Bener ni ga perlu dibantuin?
QISTY
Aku bisa sendiri, paling agak lama-an aja. Takutnya ngga keburu lagi kalo kamu nungguin aku.
Qisty melongok ke arah koridor dan menunjuk arah.
QISTY
Udah deket kok. Kamu lurus ke sana. Nanti ada cabang itu kamu ambil kiri, deket-deket situ ada petunjuknya kok.
Vinara mengangguk sambil memperhatikan.
QISTY
Nanti langsung ketemu di ruang sidang aja ya… cepetan gih…
VINARA
Ya udah, sana ati-ati ya…
Vina dan Qisty berpisah.
CUT TO
12. INT: LOBBY JHCC/TEMPAT WISUDA.PAGI
IAN, CINDY, FIGURAN
Ian berjalan memasuki lobby tempat wisuda. Cindy berjalan di sebelahnya sambil sesekali menoleh ke kanan kiri mencari-cari kawannya. Cindy mencoba menghubungi temannya melalui ponselnya.
CINDY
Bentar ya… (berusaha mendengar suara di telepon sambil memandang Ian)
Ga jelas… (mengangguk ke Ian)
Cindy berjalan menjauh dari Ian sambil berbicara di telepon. Ian berdiri di tengah lobby sambil memandang sekeliling. Beberapa orang yang ada di sana mulai berkasak kusuk sambil menunjuk-nunjuk Ian. Semakin lama semakin banyak yang memperhatikan.
Ian sok cuek, pura-pura membaca-baca spanduk.
FIGURAN1
Eh bukannya itu Ryandi?
FIGURAN2
Artis tuh artis (menunjuk Ian)
FIGURAN3
Ngapain dia kesini, sama siapa ya?
Ian tampak berdiri sendirian saja, karena Cindy tak tampak. Tak ada yang memperhatikan Cindy yang sedang menelepon beberapa meter dari Ian berdiri.
FIGURAN1
Eh ajak foto yuk buat kenang-kenangan..
FIGURAN2
Ayo-ayo minta tanda tangan…
LS: Beberapa orang menghampiri Ian dan mengajak bercakap, berfoto. Ian menanggapi dengan baik. Melihat beberapa orang berfoto bersama Ian, yang lain pun mulai maju mendekat ingin ikutan. Suasana semakin ramai. Cindy tersisih dari kerumunan.
CUT TO
Cindy yang selesai menelepon mulai panik melihat Ian tak tampak diantara orang-orang yang ramai dan berdesak-desakan.
CINDY
Aduh kok jadi gini …
(berdecak kesal) Ian sih… tadi mestinya bilang Dani dulu, gimana nih… (bingung)
Ian yang merasa suasana mulai sulit dikendalikan berusaha menghentikan jumpa fans mendadaknya dan berusaha menyelinap pergi.
IAN
Sorry… sorry… (mengangkat ke dua tangannya menyerah sambil tetap tersenyum)
Maaf ya.. saya mesti.. (tak tahu harus bicara apa)
FIGURAN-FIGURAN
Ryandi ryandi… Ian… (bersahutan memanggil)
Dengan susah payah Ian keluar dari kerumunan. Orang-orang tak mau menyerah terus mengejar Ian.
Ian melihat suasana memanas cepat-cepat lari menghindar. Karena tak bisa menemukan Cindy, dan tak bisa juga menuju pintu ke luar, cepat-cepat Ian berlari sekencangnya tak tahu arah dan tujuan melalui lorong-lorong.
Sempat terpikir untuk masuk ke toilet, tapi berpapasan dengan orang lain dan Ian pergi lari lagi ke tempat lain.
IAN
Aduh celaka… jalan buntu (Ian menoleh kanan kiri bingung)
Tiba-tiba Ian melihat ada beberapa pintu berhadapan dan bersebelahan. Ian ragu hendak masuk ke pintu yang mana.
Sementara itu di ujung lorong lain orang-orang kehilangan jejak Ian, masih terdengar suara memanggil dan suara itu semakin dekat.
Slow motion Ian bingung hendak masuk ke pintu-pintu.
Orang-orang mendekat.
Ketika Ian hendak membuka salah satu pintu dari dalam tiba-tiba ada yang menarik untuk membuka pintu.
Ian terkejut dan secara refleks langsung pindah masuk ke pintu yang terdekat.
Setelah Ian masuk, orang-orang yang mencari Ian tampak di ujung lorong dan mendekat ke pintu-pintu tadi.
CU Wajah Ian di balik pintu tegang.
CU Orang-orang mencari mendekati pintu.
CUT TO
END EPS.5
Credit Title
THEME SONG 4
No comments:
Post a Comment