Saat ini ada begitu banyak institusi pendidikan, mulai dari bayi berusia 6(enam) bulan hingga masa pasca sarjana dapat ‘bersekolah’, belum lagi pendidikan informal yang menunjang intelektual, ketrampilan dan bakat bagi semua orang tanpa batasan usia.
Jika menilik begitu banyaknya masalah di mana pun saat ini di negara kita (yang bukan terjadi akibat bencana alam) seperti kemacetan lalu lintas, kecelakaan akibat ugal-ugalan di jalan raya, narkoba, seks bebas, korupsi, kriminalitas, pembalakan liar, pengangguran, pengemis, gelandangan, daerah kumuh, perseteruan kaki lima dan bangunan liar yang menjadi korban penggusuran, kesenjangan sosial, sara, tawuran, perebutan kekuasaan, sampai pemberontakan, dan masih banyak berderet permasalahan yang tak ada habisnya, sepertinya ada hal penting yang ‘sedikit’ terlupa oleh masyarakat.
Semua pembenahan yang sudah dilakukan selama ini tampaknya lebih diutamakan untuk penyelesaian secara fisik saja, sehingga titik penting dari inti permasalahannya justru terabaikan.
Inilah sebabnya mengapa masalah yang kita hadapi tak juga kunjung selesai atau membaik. Dan apa pun yang dilakukan petinggi negara yang merasa telah melakukan yang terbaik selalu mendapat kecaman ketidakpuasan dari berbagai lapisan masyarakat.
Menurut saya, inti dari semua masalah ini adalah kebobrokan moral dan mental yang telah mendarah daging dan secara tak sadar sudah menjadi ‘habit’/kebiasaan dari kita semua. Memang sudah ada beberapa yang menulis dan mencetuskan masalah ini, tapi tak pernah ada kejelasan tindak kelanjutannya.
Semestinya, selain pelajaran agama dan budi pekerti yang ada di sekolah-sekolah saat ini, perlu diajarkan sejak sedini mungkin di semua institusi pendidikan, mengenai pendidikan moral dan mental pada anak, yang terus menerus diajarkan dan diterapkan hingga setinggi-tingginya tingkat pendidikan itu, karena jauh lebih banyaknya jam ‘belajar*’ (*baca:waktu dihabiskan anak) di sekolah atau di ‘rumah’ (termasuk jika home schooling dan/atau les tambahan), dari pada waktu anak untuk ‘tinggal/bermain/belajar*’ (*baca:waktu dihabiskan anak) di rumah.
Selama ini semua pelajaran moral lebih banyak hanya di bebankan pada pundak orang tua, agama dan lingkungan saja. Padahal banyak orang tua murid yang memandang pelajaran agama dan budi pekerti tidaklah lebih penting dari eksakta, dan menganggap remeh pelajaran “gampang’ itu dan menganggap itu hanya menjadi beban tambahan pelajaran tak berguna bagi anak mereka.
Sungguh beruntunglah jika anak memiliki orang tua yang penuh kasih, perhatian dan terlibat penuh dalam mengasuh moral anak, tapi semua orang pun tahu bahwa tak semua orang tua sanggup mengajar anaknya menjadi lebih baik.
Sebagai contoh, jika kedua orang tua bekerja sangat sibuk dan hanya menyerahkan pendidikan moral anak pada pembantu atau baby sitter tanpa pengarahan, atau kalau pun ibunya tidak bekerja tapi tetap sibuk arisan, belanja, jalan-jalan setiap waktu dan membebaskan anak menonton televisi dan bermain game tanpa pengawasan.
Atau bahkan bisa jadi orang tuanya justru terlibat tindak kejahatan dan memberi contoh buruk pada anak, misal seandainya orangtuanya bukanlah ‘kriminil’ pun, mereka melakukan banyak tindakan amoral kecil yang setiap hari diserap oleh anaknya, seperti membuang sampah sembarangan, berkata kotor ketika marah, suka berbohong dan sebagainya.
Anak hanya dijejali les yang menunjang kepintaran akademik atau menonjolkan prestasi, tapi tidak ditekankan pentingnya bersopan santun, sehingga seperti bisa kita lihat dan dengar sehari-hari di televisi sekarang, sinetron anak-anak pun bergaya bicara ‘pacaran’ seperti orang dewasa, bahkan mengeluarkan makian dan kata-kata kotor seenaknya. Tanpa menyalahkan pihak televisi, tapi memang seperti itulah gambaran ‘mayoritas’ anak sekarang.
Dalam pelajaran agama ataupun dalam selipan mata pelajaran lain memang telah ada pelajaran moral dan mental. Tapi hanya secara sekilas dan jam pelajarannya pun dianggap hanya sebagai pelajaran gampang dan kurang penting. Semestinya walaupun sebentar tapi minimal setengah jam dalam sehari di sekolah ada pelajaran mengenai hal ini, dengan harapan semua hal baik yang ingin di capai itu benar-benar terpatri dan menggantikan ‘habit’ yang sudah terlanjur ada saat ini.
Tingkat kesulitan dan contoh penerapannya bisa disesuaikan dengan umur dan tingkat pendidikannya.
Salah satu contohnya mengenai pemahaman konsep, bagaimana menentukan pilihan dan bertanggung jawab terhadap pilihan itu.
Dari awal sejak usia dini mesti ditegaskan bahwa kita selalu hidup dalam berbagai pilihan. Pada usia balita mungkin bisa diberikan contoh untuk memilih mainan apa yang akan di mainkan hari ini, dongeng apa yang akan di bacakan hari ini, bagaimana berbagi mainan dan cerita itu dengan teman dan bagaimana mengalah dengan keinginan teman yang lain..
Pada yang lebih besar bisa diberi contoh sesuai usianya, misal remaja yang ingin memilih ‘kekasih’ (setahu saya tidak pernah diajarkan disekolah bagaimana berteman yang baik dan seperti apa kekasih yang baik, semua menganggap orang tua yang mestinya memberitahu anak mereka masing-masing, tak heran jika banyak kisah bunuh diri patah hati dan hamil diluar nikah), atau jurusan dan tugas yang akan dikerjakan.
Pada usia dewasa atau tingkat perguruan tinggi semua pilihan bisa disesuaikan tergantung jurusan apa yang diambil dalam mata kuliah atau pelajarannya.
Dan yang paling penting dari bagaimana cara memilih yang baik tadi, adalah bagaimana kita harus mengerti alasan kuat apa yang membuat kita memilih hal tersebut dan bagaimana kita mempertanggung jawabkan semuanya.
Anak mesti tahu, mengapa ia misal memilih untuk memainkan pistol-pistolan. Untuk menembak temannya? Mengapa? Apa akibatnya? Dan pembimbing wajib menerangkan dan mengarahkan apa guna nya pistol itu.
Jika remaja diberi pilihan untuk menyelesaikan tugas mereka, mereka bisa memilih apakah di rumah atau di sekolah, sendiri atau berkelompok, apa alasan ia memilih mengerjakan sendiri, karena rumahnya jauh dari teman? Semua alasan bisa diterima, apapun itu tak ada yang salah, karena semua alasan pasti subyektif.
Demikian pula pada yang praktek kerja misalnya, mereka mesti memutuskan suatu permasalahan dalam perusahaan dan tindakan apa yang diambil.
Apapun alasan yang mereka ambil, mereka mesti menimbang masak-masak baik buruknya. Harus dipahami bahwa terkadang tidak selalu jalan terbaiklah yang diambil, ada situasi tertentu yang kadang harus membuat kita mengambil keputusan yang berkesan ‘keliru’, tapi dengan alasan yang sangat kuat dan dapat dipertanggungjawabkan maka semuanya bisa terlaksana dan mungkin malah berhasil dengan lebih baik.
Satu hal yang perlu ditekankan dan menjadi dasar dari pengajaran moral dan mental tadi adalah iman pada Tuhan Yang Maha Esa.
Apa pun agamanya, keyakinannya, dengan tidak menyebutkan salah satu dari semua golongan, kita memiliki Tuhan yang sama dan satu, kita meyakini adanya Tuhan (ini juga menghapus komunisme), dan kita harus mempertanggung jawabkan semua kelakuan kita di dunia ini hanya pada-Nya.
Apa pun yang kita lakukan di dunia ini, baik buruknya, selalu berdasarkan pada Tuhan, karena kita ingin menyenangkan Tuhan, karena kita ingin mengikuti ajaran-Nya (apa pun agamanya semua mengajarkan kebaikan), dan karena kita punya rasa takut akan Tuhan.
Contoh Penerapan : hal yang perlu di bahas dalam pelajaran moral dan mental saat ini adalah mengenai kedisiplinan dan tanggung jawab.
Sejak kecil perlu diterapkan pentingnya disiplin diri yang tinggi. Kita bisa berikan dan jelaskan pada anak secara praktek, misal salah satunya yang termasuk dalam kedisiplinan dan tanggung jawab adalah ‘budaya mengantri’. Apa itu artinya mengantri, apa sebabnya mengantri, apa akibatnya jika mengantri atau tidak mengantri dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari dan apa hubungannya dengan menyenangkan Tuhan.
Coba anda bayangkan kalau semua anak sejak dini dulu sudah terbiasa mengantri dengan tertib hingga sekarang dewasa dan paham betul dengan arti peraturan itu dibuat untuk di patuhi dan bukan dibuat untuk di langgar, maka apa pun profesinya sekarang, di jalan raya, baik dia menjadi sopir bis, metromini, kopaja, kendaraan pribadi, mobil, motor, menjadi polisi, pejalan kaki, semua akan tetap tertib, tak lagi memotong jalan sembarangan, semua ada di lajur yang benar, tidak parkir, ‘ngetem’ dan berhenti sembarangan, pasti kemacetan dan kecelakaan di jalan akan berkurang.
Sedini mungkin perlu ada ‘brain wash’ bahwa hidup itu penuh dengan pilihan, dan apa pun yang kita pilih ada konsekuensi dan resikonya, semua sisi yang akan kita pilih mempunyai negative dan positive-nya dan kita harus bertanggung jawab atas semua pilihan yang kita ambil itu.
Jika semua orang, merasa bertanggung jawab atas semua yang dia lakukan untuk mendisiplinkan diri dengan tertib, maka rasa tanggung jawab yang besar, dan sudah tertanam dalam diri itu, akan dilakukan dengan penuh kerelaan, kesadaran dan suka cita.
Dikaitkan dengan masalah kemacetan tadi, dalam hal kecil misalnya, maka semua orang akan benar-benar menjaga kebersihan di jalan, lingkungan dan juga kendaraan. Semua kendaraan umum akan bersih dan nyaman, walau mungkin tanpa ‘ac’ tapi tak ada kaca jendela pecah yang dibiarkan saja tanpa memperhatikan keselamatan penumpang (saya pernah naik bis kopaja 16, dan berdiri sambil menggendong anak saya yang baru berumur 1,5 tahun karena tempat duduknya lebih dari 2/3 nya sudah copot dan tak tahu di mana, kosong, tak ada kaca belakang dan samping belakang sama sekali, juga tak ada pegangan, padahal jalannya ‘ngebut banget’ sehingga rasanya seperti naik wahana di dunia fantasi, satu-satunya hal yang membuat saya tak jatuh dan terlempar keluar hanya karena penumpangnya berjejal dan saya berusaha berdiri di tengah, sehingga kalaupun ada yang akan terlempar dari semua lubang pintu dan jendela tadi, maka sudah pasti orang lain terlebih dahulu yang ‘tamat’ sebelum saya).
Dengan kendaraan umum yang nyaman, bersih dan tertib, dan aman, maka aktivitas kendaraan pribadi pasti berkurang, demikian juga semua penumpang akan tertib menunggu dan berhenti tepat di halte bukannya di sembarang tempat.
Karena kita ingin menyenangkan Tuhan maka kita juga ingin menyenangkan orang lain, misal dengan tidak mencorat coret di dalam kereta, menyobek kursi dan merusak atribut jalan.
Ini baru menyinggung sedikit masalah kemacetan, yang masih bisa dikembangkan pembahasannya lagi.
Hal lain yang ingin saya tekankan adalah masalah narkoba dan teman-temannya. Dengan kesadaran akan disiplin dan tanggung jawab kita akan segala pilihan, maka baik pengguna atau pun pengedarnya akan berpikir berjuta kali untuk melakukan hal tersebut.
Karena masing-masing orang sudah sadar akan apa artinya narkoba, apa gunanya narkoba, apa manfaat sebenarnya dari obat tersebut, dan apa akibatnya jika disalah gunakan, dan karena Tuhan juga, maka kita juga tak ingin mencelakakan orang lain atau diri sendiri, kita bisa memilih yang baik dan benar, dan terlebih lagi, takut akan Tuhan membuat kita menjaga hati dan diri kita dari pengaruh buruk narkoba, minuman keras, perjudian dan seks bebas yang diharamkan Nya.
Sehingga kita akan memandang diskotik dengan kaca mata yang baru, bukan lagi sebagai tempat maksiat atau pusat peredaran hal haram, tapi sebagai tempat penyaluran dan perpaduan segala kebebasan berekspresi, yaitu salah satunya musik.
Di sana semua lagu dari disko, dangdut, lagu anak-anak, lagu daerah, seriosa, latin, keroncong, dari segala bangsa dan budaya, irama, alat musik bahkan bunyi-bunyian dari yang bukan alat musik pun bisa bersatu menjadi hamoni perpaduan musik yang indah.
Dengan pemahaman dan moral kesadaran yang baru seperti di atas, semua paradigma juga akan berubah, mungkin tidak akan bisa 100% menghapus kesenjangan ekonomi, karena memang ada yang sejak semula memang sudah terlahir kaya raya dan ada yang tak punya. Tapi karena kasih antar sesama yang kuat, maka tolong menolong, perhatian pada yang lain akan berjalan dengan lancar dan tulus.
Tak ada lagi dana-dana bantuan yang dikorupsi, semua sampai dengan utuh pada penerimanya, tak ada lagi demo minta kenaikan gaji, karena semua sudah menerima yang sepantasnya dan selayaknya, tak ada lagi tawuran dan kerusuhan berbau sara, karena semua sudah merasa seperti satu keluarga dan ramah satu dengan yang lain, tak ada penggusuran rumah kumuh atau kaki lima karena masing-masing orang dengan sadar tidak akan membangun rumah atau membuka dagangannya sembarang tempat, apalagi di properti milik orang lain, tidak ada pengemis dan gelandangan karena tidak lagi semua orang berduyun-duyun ke Jakarta atau kota besar lainnya dan secara sadar mengembangkan potensi pada daerahnya masing-masing, dan ini sangat berkaitan erat dengan kemajuan daerah.
Dengan kesadaran dan tanggung jawab penuh dari masyarakat, maka tak akan ada daerah tertinggal. Semua daerah saling membantu menguatkan dan menjadi harmoni yang indah dalam satu negara Indonesia.
Tak ada lagi daerah merasa di anak tirikan karena merasa mendapat perlakuan tak adil, karena semua daerah yang memiliki kelebihan dari daerah yang lain akan saling menolong dan mengimbangi daerah itu.
Semua akan sadar, bahwa semua daerah punya kekurangan, tapi juga tak ada yang tak punya kelebihan. Dan itu semua adalah anugerah dari Tuhan yang mesti kita budi dayakan sebaik-baiknya.
Segala permasalahan crusial yang selama ini mendera negara kita’ semuanya berhubungan dari satu kesadaran moral dan mental bangsa, yang beriman pada Tuhan. Sungguh menakutkan bahwa sekarang dengan mudahnya orang-orang yang terjepit dalam suasana tak menyenangkan, akan menangkis tanggung jawabnya dengan dalih ‘Ini nanti akan mejadi urusan saya sendiri dengan Tuhan, saya yang akan menanggungnya, bukan urusan anda jangan ikut campur’.
Anda bisa bayangkan apa saja yang bisa dilakukan orang-orang seperti mereka pada sesamanya. Jika pada Tuhan penciptanya saja sudah tak takut, meremehkan dan ‘gampang lah belakangan’, apa lagi pada lingkungannya dan kita yang bukan apa-apanya.
‘Biar sajalah saya korupsi uang sumbangan untuk korban tsunami Aceh ini, toh cuma sedikit, dibandingkan orang itu yang mengambil lebih banyak. Ini saya anggap sebagai gaji dan jatah saya selama saya kerja sukarela di sini. Saya masukkan pada pengeluaran umum tak ada yang tahu. Nanti sebagian dari hasilnya toh akan saya dermakan lagi, dan saya pakai untuk yayasan juga’. Bolehkah? Mengambil yang bukan hak-nya? Mengambil sedikit atau banyak di mata Tuhan tak ada bedanya. Mencuri adalah mencuri. Di pakai untuk baik buruk, derma, pribadi, apa pun tak ada bedanya. Apakah orang-orang menyadarinya? Apa anak-anak kita menyadarinya jika melihat begitu banyak contoh ‘dosa-dosa’ yang ada di sekitar mereka dan kemudahan yang ada untuk melakukannya tanpa sangsi apa-apa?
‘Biarlah saya menjadi pengemis atau anggota kapak merah saja. Instant, tidak perlu ijasah dan hasilnya dapat langsung dinikmati saat itu juga. Tidak perlu menunggu sampai akhir bulan untuk gajian. Ini kan juga usaha, menjadi pengemis juga lelah, berpanas-panas di jalan, atau menjadi perampok juga perlu memakai otak untuk mengatur strategi, apa bedanya dengan pekerjaan?’
Halal-kah? Tidak takutkah pada dosa kejahatan? Demi membeli ponsel dan mencongkel kaca spion di jalan, atau mencuri motor? Badan masih segar, usia masih muda tapi hanya menengadahkan tangan meminta-minta dengan alasan susah mencari kerja?
Malaskah? Anak-anak menjadi malas sekolah, karena terbiasa hanya dengan mengulurkan tangan saja sehari bisa mendapat Rp.20.000,- berarti sebulan bisa mencapai Rp.600.000,- sedangkan gaji bekerja setelah lulus jangan-jangan hanya Rp. 250.000,-?? Padahal dengan mengemis jam kerjanya bebas, bisa bangun dan tidur kapan saja, jalan-jalan kapan saja, libur kapan saja, sedangkan dengan kerja harus menunggu cuti dan beban tanggung jawab yang berat. Adilkah?
Jika kita bekerja hanya untuk kesenangan duniawi kita sendiri maka semua memang hanya mengejar materi semata yang menghalalkan segala cara. Tapi dengan moral dan mental ke-Tuhanan yang kuat, maka kita tak hanya bekerja untuk kita, tapi juga untuk Tuhan dan karena Tuhan.
Sudahkah kita menanamkan pada anak supaya belajar setinggi mungkin sampai S3, S5, S10, S100 kalau ada, agar kalau bekerja mendapat gaji tinggi, kaya raya dan di hargai banyak orang?
Sehingga ketika anak kita bekerja dan merasa gaji tidak tinggi, tak sesuai dengan gelar dan jabatannya maka keluar lagi, keluar lagi, keluar lagi dan beralasan susah cari kerja? Bagaimana dengan kita sendiri, juga bekerja hanya sekedar mendapat bayaran, mendapat relasi, menjalankan tugas rutinitas?
Atau sudahkah kita menanamkan pada anak bahwa jika kita bersekolah, bekerja atau melaksanakan tugas apa pun, anggaplah bahwa semua itu kita lakukan juga untuk memuliakan Tuhan. Sehingga kita belajar sungguh-sungguh dan setinggi-tingginya untuk Tuhan, menjalankan pekerjaan di pabrik, kantor, rumah atau apa saja juga karena Tuhan dan untuk Tuhan? Bukan hanya karena keuntungan materi semata?
Jika semua orang menyadari dan bertanggung jawab atas pekerjaan dan kewajibannya masing-masing tanpa sibuk menghakimi kewajiban orang lain (gajah di pelupuk mata tak tampak tapi kuman diseberang lautan kelihatan), maka semua akan berjalan sebagaimana mestinya, karena masing-masing secara bertanggung jawab menyelesaikan kewajibannya sehingga tak ada saling lempar tanggung jawab dan bermalas-malasan.
Jika semua orang dalam masing-masing departemen yang berbeda mengerjakan tugasnya sendiri-sendiri yang terbaik dan menghasilkan yang terbaik, sudah pasti maka institusi itu akan benar-benar berjalan dengan sangat baik.
Tidak semua orang menyadari hal ini, tidak semua orang membaca ini, jadi seandainya ada yang bisa mempertimbangkan betapa pentingnya penyadaran diri ini dan kaitannya dalam semua aspek berbangsa dan bernegara, maka tidak ada salahnya di buat mata pelajaran baru.
Tidak perlu rapat panjang yang menghabiskan dana untuk pembahasan bertele-tele, berisi orang mengobrol, mengantuk, lalu tidur di hotel berbintang dan makan makanan mewah, karena semua sudah sadar akan tanggung jawab atas posisinya masing-masing. Jika tadinya beralasan menginap di hotel sebelum rapat dengan alasan takut terlambat, maka dengan budaya kerja untuk Tuhan, maka menjadi sadarlah ‘orang’ itu, sehingga bagi yang rumahnya jauh akan berangkat lebih pagi agar tak kena macet. Jika masih ingin melanjutkan pembahasan diluar rapat, diluar jam kerja, dan di hotel, silahkan dengan biaya sendiri dan tidak membebani APBN.
Karena bukan hanya takut akan menimbulkan protes dan demo yang baru, tapi juga karena sadar dan dengan hati nurani yang bersih tergerak akan kasih, sehingga tulus membantu penyelesaian masalah ini.
Mencari seorang Pemimpin dan menjadi seorang pemimpin sekarang memang tidaklah mudah, karena begitu banyak manusia-manusia berpendidikan dan ketrampilan setinggi langit, dari berbagai universitas terkemuka di dalam dan luar negeri, dan tambahan kursus ketrampilan yang tak bisa dilakukan semua orang.
Tapi apalah gunanya semua itu jika tanpa dilandasi moral dan mental ke-Tuhanan yang kuat. Semuanya akan sia-sia. Mungkin mereka bisa memajukan perusahaan atau negara dengan keahlian yang luar biasa dan mengundang decak kagum, tapi dengan menghalalkan segala cara yang mungkin akan menindas atau menyakiti orang lain.
Alangkah bagusnya jika pemimpin yang baik juga memiliki moral yang baik, tapi setidaknya jika mereka benar-benar memiliki moral yang baik, maka segala kepintaran dan ketrampilan sudah pasti akan mengikuti mereka.
Karena saya sangat yakin, dengan dasar hati yang kuat, maka orang itu tak akan segan-segan membantu orang lain, dan turun tangan jika ada kesulitan, tanpa melihat imbalan apa yang akan didapatkannya. Ini akan menjadi pembelajaran ketrampilan lapangan yang justru tidak gampang di dapat di sekolah manapun.
Mungkin pembahasan saya mengenai kepemimpinan justru lebih sedikit, tapi memang karena bagi saya tidaklah terlalu penting bagaimana mencetak pemimpin yang baik, tapi karena dengan moral anak bangsa yang baik, maka akan lahir sendiri pemimpin yang bisa kita andalkan tanpa kita cari-cari lagi.
Semoga dengan perbaikan moral dan mental anak bangsa, maka generasi penerus kita bisa hidup dalam dunia yang lebih baik, Indonesia yang lebih aman, maju dan hebat. Siapapun pemimpinnya tak lagi penting, karena masing-masing sudah berada di jalurnya, di posisinya, dan dengan sadar dan tulus menjalankan tugasnya tidak hanya untuk diri sendiri, masyarakat, atau negara, tapi juga untuk memuliakan Tuhan.
Maju terus Indonesia Baru!!!
No comments:
Post a Comment