Eps.4
1. INT: KOST VINARA.MALAM
VINARA, SITTA, QISTY
Wajah Vina tampak bingung dengan ekspresi Sitta dan Qisty. Biasanya kedua temannya ini yang paling semangat kalau ada cerita tentang Arya.
VINARA
Kenapa sih kalian kok ga biasa-biasanya…
SITTA
Ngga papa kok Vin… Sorry tadi soalnya kita lagi ngebahas soal si Jo yang ngeselin banget jadi.. (mengalihkan pembicaraan)
VINARA
Kenapa si Jo?
Qisty hanya diam bingung, mengikuti sandiwara Sitta.
SITTA
Biasa lah …. (bingung mau meneruskan apa, Vina tampak menunggu)
Eh.. selamat dulu dong… (cepat mengalihkan pertanyaan Vina, dan menunjukkan ikut senang), wah ritual jadian harus traktir kita dong… tertawa menggoda..
QISTY
Oh.. bener tuh (tertawa menimpali) asyiikk makan enak dong… (menggoda)
VINARA
Uhh dasar… (tersenyum) kalian ini…
(diam sejenak) Bener ngga ada apa-apa? (meyakinkan)
SITTA
Iya.. ngga ada apa-apa kok.. bener..
VINARA
Ya udah kalo gitu (bangkit berdiri lalu merentangkan tangan pegal)
Capek.. aku masuk dulu ya… masih banyak kerjaan nih
QISTY
Lho.. terus traktirnya…
VINARA
(tertawa) Beres… besok deh, tempat biasa ya..
QISTY & SITTA
Asyiikk ( toss )
Vinara tertawa berjalan masuk ke kamarnya.
Sitta dan Qisty melepas napas lega. Lalu kembali berpandangan.
SITTA
Kamu liat kan tadi ekspresinya…
Aku ngga tega kalo harus ngerusak kebahagiaan Vina hanya karena sesuatu yang belum tentu bener. (merenung)
Bahkan waktu bersama Andy pun aku ngga pernah ngeliat dia sesenang tadi..
Qisty hanya terpekur bingung dan mengangguk membenarkan.
SITTA
Kita lihat saja.(memandang Qisty). Kita tunggu saat yang tepat.(mengambang)
QISTY
Siapa tau, jika nggak terbukti benar, berarti Vina tidak perlu tahu sama sekali soal ini…
Keduanya terdiam.
CUT TO
2. INT: MOBIL ARYA/KAMAR SONYA.MALAM
ARYA, SONYA
Arya tampak sedang menelepon dengan kesal.
ARYA
Kamu ngomong apa si Son? Aku ngga ngerti deh..
Intercut
Sonya berjalan hilir mudik dalam kamarnya yang gelap. Lampu temaram dari cahaya taman melalui jendela.
SONYA
Aku cuma pengen tahu kenapa sekarang kamu jarang banget telepon dan bahkan ga pernah main lagi kemari.. (lemah)
ARYA
Aku sibuk… (ketus)
SONYA
(terpukul) Oh.. sibuk ya… (tak berani bertanya)
ARYA
(melunakkan suaranya) Sorry ya, mungkin habis ini aku akan lebih jarang main ke tempatmu..
SONYA
Kenapa.. (tegang, CU wajah pucat)
ARYA
Ya bentar lagi kan Tugas Akhir ku mesti di kumpulin, setelah itu ada sidang-sidang dan yahh.. pasti tambah sibuk lah… (akrab tak lagi ketus)
SONYA
Oh… (mengambang.. diam)
Oya… tadi katanya ada yang mau di omongin.
ARYA
Iya… (teringat sesuatu) habis kamu, baru juga mau ngomong udah nyemprot duluan..
SONYA
(tertawa senang merasa Arya tidak marah lagi) Sorry… (nada manja merajuk)
Iya deh sekarang ada apa sayang…
ARYA
(Tersenyum senang) Gini lho adek ku yang paling manis, kamu adalah orang pertama yang akan mendengar sebuah kabar gembira (senang)
SONYA
Apaan sih… (tersenyum penasaran)
ARYA
(tertawa) Kamu inget cewek adik kelas kita yang pernah aku ceritain ke kamu? Vinara.
Sonya terkejut. Diam.
ARYA
Akhirnya…. (tertawa senang) setelah sekian lama, tadi dia mau menerima aku tau….. kita udah jadian.. (mengangkat tangannya bersyukur)
Wah.. aku pasti cowok paling beruntung sedunia… (tertawa senang tak menyadari reaksi Sonya)
Sonya tetap diam tak mampu berkata-kata. Pandangan kosong.
Dalam hati Sonya: ternyata perkataan Andy benar.
ARYA
Hallo… hallo…Son??
SONYA
(tersadar) Oh eh iya.. hallo…
ARYA
Ngantuk ya, diem aja…
Sonya tak mampu berkata.
ARYA
Kamu harusnya kasi selamat dong… (nada senang)
SONYA
Oh.. ya ya… pasti (gagap)
ARYA
Ya udah ya aku…(nada masih senang)
SONYA
(memotong)Eh… Hallo Yak.. tunggu.. (gelisah)
ARYA
He? Ada apa?
SONYA
Kamu serius?
ARYA
(mengerutkan kening) Maksudmu? Serius apa? (heran)
SONYA
Ya.. perempuan itu…
ARYA
Perempuan? Maksud kamu? Vina? (Arya memindah posisi telepon genggamnya) Ya iya lah. Sejak pertama lihat dia kan aku udah bilang ke kamu. Vina itu pasti jadi milikku, aku belum pernah punya perasaan seperti ini, tapi waktu itu, nggak tau kenapa, aku udah merasa … ya mantap aja. Feeling ku, dia satu-satunya perempuan yang pasti akan kunikahi dan hidup bersamaku selamanya.
Sonya terpekur. Air mata mengalir tanpa isak. Ia terduduk lemas dilantai bersandar di dinding kamarnya.
ARYA
Ya udah ya, aku udah sampai rumah nih.. (mobil Arya berhenti di depan rumah, Arya melihat ke celah pagar ada mobil Naia) Aku mau ngobrol dulu sama Naia (tertawa) Bye.. Sampai ketemu besok ya, di kampus…
Arya mematikan telepon.
Tangan Sonya lemas. Telepon jatuh dari genggaman. Napas memburu, pandangan kosong.
CUT TO Arya berjalan keluar dari mobil dengan gembira
CUT TO Sonya masih terpekur
CUT TO
Arya dan Naia dalam rumah berbicara (tak terdengar, hanya terlihat dari jendela), ekspresi gembira menyampaikan berita. Naia tampak menggoda Arya, memberi pelukan, dan Arya kelihatan malu tapi sangat senang.
CUT TO
Sonya mengalihkan pandangannya yang kosong ke sekeliling ruangan. Perlahan merangkak, pelan-pelan mendekati ranjangnya, berdiri dengan bertumpu pada ranjang, berjalan gamang ke arah kamar mandi yang ada dalam kamarnya
CUT TO
Dari jendela rumah Arya tampak Naia menelepon seseorang dengan ekspresi senang. Arya menggaruk kepalanya sambil tertawa ikut mendengarkan.
INTERCUT Mama Arya : Ekspresi senang di seberang telepon, Papa Arya di sebelahnya tersenyum-senyum
CUT TO
Sonya dalam kamar mandi bertumpu di depan wastafel, memandang wajahnya yang pucat bersimbah air mata. Sonya tampak limbung sejenak. Lalu ia dengan ekspresi marah memukul kaca berkali-kali, suara ribut, kaca pecah
CUT TO
3. INT: RUMAH SONYA.MALAM
SONYA, PAPA, MAMA, ADIK LAKI-LAKI, PEMBANTU, SATPAM
Orang tua Sonya di ruang makan lantai bawah terkejut mendengar suara ribut. Berpandangan sejenak. Ayah Sonya meletakkan sendok memandang ke atas tangga.
PAPA SONYA
Suara apa tuh? Sepertinya dari kamar Sonya?
MAMA SONYA
Sonya??? (teriak heran)
CUT TO
Sonya tak menyahut. Tangannya penuh darah gemetar. Mata memandang nanar ke arah tangannya. Napas masih memburu.
CUT TO
Ruang makan
PAPA SONYA
Coba kamu lihat. (menunjuk ke atas)
MAMA SONYA
Iya ada apa sih ribut-ribut. Coba Mama lihat dulu.
Mama Sonya menaiki tangga sambil memanggil-manggil. Sampai di depan kamar Sonya, adik laki-lakinya tampak keluar dari kamarnya yang ada di sebelah kamar Sonya.
ADIK SONYA
Apaan sih Mam?
MAMA SONYA
Nggak tahu, kakak kamu..
Mama dan adik Sonya mengetuk-ngetuk kamar sambil memanggil-manggil.
CUT TO
Sonya tetap tak menyahut. Tangannya meraih satu pecahan kaca yang besar.
CU Tangan kanan gemetar, pergelangan tangan kiri gemetar disorongkan. Perlahan Sonya memotong nadinya dengan pecahan kaca.
CUT TO
Pembantu Sonya (dalam halaman) yang sedang ngobrol akrab dengan Satpam (di depan pagar di luar halaman) Ikut mendengar keributan di dalam.
PEMBANTU
Ada apa ya… kok rame banget..
CUT TO
Mama dan Adik Sonya mulai panik. Papa Sonya yang semula melanjutkan makan di bawah ikut naik karena suara ribut dan berusaha membantu membuka pintu yang terkunci. Tak dapat dibuka.
MAMA SONYA
Sonya!!! (terus memanggil) Buka pintu sayang ada apa?
PAPA SONYA
Son?? (mengetuk, berusaha membuka pegangan pintu)
ADIK SONYA
Kita dobrak aja Pa!!!
CUT TO
Sonya dengan bersimbah darah berjalan terhuyung ke kamarnya yang gelap. Keluar dari kamar mandi. Memandang ke arah jendela kamarnya yang besar. Berjalan menghampiri jendela dengan pandangan kosong.
CUT TO
Halaman depan. Pembantu dan Satpam memandang ke arah teras atas dan jendela kamar Sonya.
SATPAM
Sana kamu masuk dulu.. (memandang terus ke atas)
PEMBANTU
(menoleh ke satpam) Iya deh.. ada apaan tumben berisik banget.
Pembantu berbalik hendak masuk sambil memandang ke jendela kamar Sonya.
Tampak bayangan aneh di jendela. Pembantu terngaga menutup mulut tak percaya dan Satpam membuka topinya terpana.
CUT TO
Orang tua Sonya dan Adik Sonya yang kawatir berusaha mendobrak pintu. Tiba-tiba terdengar suara jeritan Sonya dari dalam kamar. Mereka bertambah panik. Disusul suara kaca pecah dan jeritan Pembantu dan Satpam.
Orang tua dan adik Sonya berpandangan dan berlari ke arah teras balkon atas yang ada di sebelah kamar Sonya.
CU Jendela kamar pecah, korden berdarah berkibar
CUT TO Papa Mama Sonya dan adiknya sudah ada di balkon menatap ke jendela.
Mereka lalu menoleh ke bawah
CU Tubuh Sonya telungkup di halaman bersimbah darah.
LS Bangku meja rias yang di pakai Sonya untuk memecah kaca dengan dilempar tadi ada di sebelah tubuh Sonya yang terkapar.
CU Semua berteriak
CUT TO
Commercial break
4. INT: KANTOR IAN.SIANG
IAN, MELLANI, SEKRETARIS, DANI, SECURITY, OFFICE GIRL
Ian sedang membereskan beberapa berkas, merapikan dan siap meninggalkan kantor. Suara berisik di luar seperti orang bertengkar. Tiba-tiba pintu terbuka, Mellani masuk dengan ekspresi marah di ikuti sekretaris yang berusaha menahannya. Ian mengangkat wajahnya, cuek, tak tampak terkejut.
SEKRETARIS
Tunggu Bu, Maaf Anda tidak bisa… (mencoba menghalangi)
Ian memandang ke duanya lalu melipat tangannya di dada dan tersenyum sambil menunggu reaksi mereka.
Mellani membanting sebuah tabloid di meja dengan gusar.
SEKRETARIS
Maaf Pak, tapi.. (gugup takut di marahi) Ibu ini memaksa hendak bertemu Bapak.. saya sudah sampaikan bahwa…
Ian mengangkat tangannya memberi isyarat sang sekertaris untuk diam. Sekretaris terdiam dan memandang menunggu perintah berikutnya.
Ian memberi isyarat lagi supaya sekretaris meninggalkan mereka dengan cara mengibaskan tangan. Sang sekretaris menunduk sopan, keluar ruangan dan menutup pintu.
Ian mengangkat matanya seakan mengisyarat ke Mellani untuk bicara. Tangannya kembali di lipat di dada sambil tersenyum ketus (tampak merendahkan).
MELLANI
Apa maksudnya ini.. (nada keras, tangannya menuding gambar di tabloid yang menunjukkan foto Ian mesra tertawa dengan perempuan lain)
Ian berusaha menahan tawa, tetap tak menjawab. Tangannya mengusap dibibir isyarat untuk tutup mulut.
MELLANI
Kamu… (geram)
Ian cepat memotong perkataannya dengan mengangkat tangannya. Senyum sinisnya berubah menjadi wajah dingin. Dia mengibaskan tangan ke lehernya seakan orang akan menggorok, dengan tatapan mengancam.
MELLANI
Kamu… (gemetar menahan marah), kamu keteraluan. Lihat saja aku akan bongkar kebusukan kamu di pers, dasar playboy ngga tau diri… (memaki dengan marah) Seenaknya aja kamu mempermainkan aku.. (sambil mengambil barang-barang di meja dan melemparkannya ke Ian yang beranjak mundur menghindari)
Ian memencet tombol i-phone
IAN
Security…
Mellani tambah menjadi-jadi mendengar Ian memanggil keamanan. Ia mengamuk dan melemparkan barang apa saja yang bisa diraih ke arah Ian.
MELLANI
Dasar pengecut… (memaki tak karuan)
Dua orang petugas security datang. Ian memberi kode untuk membawa Mel keluar. Mereka menggamit lengan Mel yang meronta marah.
MELLANI
Denger lu yah… gua sumpahin lu… suatu saat kamu akan rasakan sendiri akibatnya. Karma itu ada, brengsek!! Ntar lu akan rasakan jauh lebih sakit dan lebih menderita dari apa yang pernah gua rasain… (sumpah serapah sampai hilang keluar ruangan)
Setelah Mel keluar sekretaris dan beberapa office girl masuk untuk membereskan ruangan, Dani mengintip ke dalam. Ian tersenyum lalu keluar berjalan ke arah lift. Dani mengikuti.
DANI
Pers waiting… (katanya saat menunggu lift, Dani menggeleng-geleng kepala seperti tak habis pikir)
IAN
Plan A… (menoleh sambil tersenyum)
Pintu lift terbuka. Mereka masuk.
CUT TO
5. INT: KANTIN KAMPUS. SIANG
VINARA, SITTA, QISTY, BETTY, GANK BETTY, MAHASISWA LAIN
DALAM TV : IAN, DANI, KRU PERS
Vina, Sitta dan Qisty sedang makan di kantin.
QISTY
Gila ya.. ganjen banget si Mellani itu.. udah tau Ian-nya nggak mau kok maksa banget… pake fitnah segala.. (emosi)
Sitta mengangkat wajah menatap Vina yang tampak mengangkat alis dengan senyum kecut.
VINARA
Yahh siapa tau omongan Mellani juga ada benernya… kita kan ngga pernah tau yang sebenernya terjadi itu bagaimana… ( tersenyum sambil melirik Sitta)
QISTY
Ah kamu ini gimana si Vin.. Ian itu kan orangnya udah terkenal baik di mana-mana. Mana mungkin yang di bilang Mellani itu bener. (ngotot)
Masa sampai mengancam akan ngebunuh dia segala… mana mungkin Ian bisa sekasar gitu…
Qisty mengaduk minuman dengan kesal. Sitta dan Vina tersenyum.
Vinara berkata dalam hati : Mengingat apa yang dulu pernah dilakuin sama aku sih.. aku rasa bisa aja Mellani itu bener.. orang ngga waras kaya gitu..
Beberapa mahasiswa lain yang juga sedang makan di situ tampak memperhatikan TV yang menyala di ruangan itu. Seorang Mahasiswi maju dan mengeraskan volume TV.
Terdengar suara Ian sedang di wawancara di TV.
Qisty berdiri sambil membawa gelas minuman dan menyeruputnya buru-buru.
QISTY
Cepetan sini.. (melambai kepada Vina dan Sitta yang berdiri mengikutinya berkumpul dan duduk di depan TV)
Kemarin kamu belum liat kan Vin.. ini siaran wawancara yang kemaren…
CUT TO
Tampak Ian keluar dari gedung kantor bersama Dani dan beberapa petugas security. Sekumpulan wartawan menghadang dan mencecarnya dengan pertanyaan.
WARTAWAN A
Bagaimana tanggapan Anda dengan berita tentang hubungan anda dan artis pendatang baru Mellani Fitriani
WARTAWAN B
Apa Anda akan mengadakan konferensi pers sebagai jawaban atas konferensi pers yang dibuat Mellani rabu lalu?
Ian dan Dani berhenti di depan pintu, mobil sedan sudah menunggu.
DANI
Seperti teman-teman sekalian tahu… (mengangkat tangan menenangkan) kejadian seperti ini bukan yang pertama kalinya terjadi… (berhenti sejenak memandang sekeliling)
Jadi jawaban saya akan sama seperti sebelumnya… (diam hanya tersenyum dan berusaha mencapai pintu mobil)
Wartawan kembali mendesak. Security membukakan pintu mobil.
IAN
Saya rasa tidak perlu ada konferensi pers dari saya. Semua teman-teman wartawan dan pemirsa bisa menilai saya seperti apa kan… (tersenyum manis).
(Ian berdiri tegak menarik napas dalam) Terimakasih atas dukungan Anda semuanya.. (melemparkan kissbye dan masuk ke mobil)
CUT TO
Mahasiswa yang menonton mengomentari dengan berbagai ekspresi.
QISTY
Tuh kan aku bilang juga apa… udah di sudutin kaya gitu aja dia nggak mau menjelekkan lawannya… (membela Ian)
Betty dan gank nya yang sedari tadi juga ada di sekitar itu maju menghampiri tempat Vina dan teman-temannya duduk.
Dengan tatapan sinis dan mengejek Betty mengelilingi meja Vina dan berdiri di sebelah Vinara. Kedua tangannya diletakkan di atas meja dekat Vina.
Salah satu teman Betty mengecilkan volume suara TV.
BETTY
Buat apa jauh-jauh ngomentarin acara bintang-bintang TV… (nada menyindir)
Kalo di sini aja udah ada yang lebih hangat beritanya… (tersenyum mengejek)
Wajah Vina mengeras tegang. Sitta melirik Vina dengan ekspresi takut.
QISTY
Apaan si maksud lo… (menantang Betty)
Teman-teman Betty tertawa. Mahasiswa yang lain memandang ingin tahu.
BETTY
Apa lo nggak tau kalo temen lo ini sekarang baru jadi sumber berita ..
T E R P A N A S (tertawa mengejek sambil berdiri dan menunjuk Vina)
Qisty hendak berdiri, Vina menendang kakinya dari bawah meja isyarat untuk diam.
QISTY
Jangan sembarangan lo ya.. (menahan diri)
Sitta dan Vina tampak diam gelisah.
BETTY
Oh.. (tertawa mengejek) atau temen lu ini nggak cerita…
Coba deh lu inget-inget kejadian di kampus kita akhir-akhir ini… masa lu ngga merasa ada yang aneh… atau ngga biasa… (memandang Qisty dan Sitta)
SITTA
To the point aja deh Bet.. apa maksud lo kita ga ngerti… kampus kita biasa aja ngga ada banjir, ngga ada demo, ngga ada gempa… (ketus)
TEMAN BETTY
Wah… bener-bener…. (di sambut tawa teman-temannya)
Vinara hendak berdiri pergi. Teman-teman Betty mencegah, memegang bahunya dan mendudukkannya kembali.
BETTY
Lu ngga sadar ya… ada beberapa temen kita yang hampir 3minggu ini menghilang dari peredaran.. (melipat tangan di dada)
QISTY
Siapa maksud lo… (heran)
BETTY
Kenapa lo ngga nanya langsung aja ama bintangnya… (betty & gank tertawa menggoda Vinara)
O Ya Vina?? Kemana aja pangeranmu yang baru… (tergelak)
Qisty dan Sitta menatap Vina tegang, Vinara menunduk menghindari tatapan dan ejekan, wajahnya tampak berusaha menahan emosi.
BETTY
Kok kayanya akhir-akhir ini si Arya jarang kelihatan ya Vin? (nada manis)
Vina menatap Betty tak senang.
BETTY
Apa ada masalah ya…
VINARA
Arya sibuk aja, sebentar lagi kan sidang… (berusaha menahan emosi)
Teman Betty menahan tawa.
BETTY
Tapi aneh ngga ya… (berjalan memutar lagi) Kayanya ada satu lagi teman kita yang malah udah sebulan ini sama sekali ngga pernah keliatan.
Beberapa mahasiswa mulai berkerumun ingin tahu.
Betty memandang ke sekeliling sambil mengangkat tangan seakan berkotbah.
BETTY
Teman-teman… saya ada kabar duka cita (suaranya dibuat seakan-akan sedih)
Salah satu rekan kita, Sonya…. (berhenti sejenak lalu memandang Vina) telah ditimpa musibah…
Karena pengkhianatan kekasihnya… dia telah melakukan usaha bunuh diri…
Kerumunan mulai berbisik-bisik dan menatap Betty dan Vina tak percaya.
Sitta dan Qisty tampak terkejut dan memandang Vinara.
Vinara hanya diam dan menahan diri untuk tak berkomentar.
BETTY
Beruntung sekali nyawanya bisa diselamatkan… (menghela napas)
Tapi sayang dia terluka cukup parah… dan sekarang masih harus di rawat di rumah sakit…
Kalau saja tidak ada orang yang berusaha merebut kekasihnya… mungkin dia sekarang masih bersama kita… (memandang Vina dengan kebencian)
Gank Betty tampak mencibir.
BETTY
(membungkukkan badan ke arah Vina dan merendahkan suaranya)
Sebaiknya kamu lebih berhati-hati… kamu lihat sendiri kan akibat dari perbuatan kamu…
Betty kembali berdiri tegak. Memberi kode teman-temannya untuk berlalu dan mereka pergi sambil mengintimidasi Vina dengan pandangan, celetukan pedas dan dorongan di kepala Vina.
TEMAN BETTY
Rasain lo.. cewek gatel…
Sitta dan Qisty memandang Vina dengan tak percaya. Vina berkaca-kaca menahan tangis. Ia berlari meninggalkan kantin.
SITTA
Tunggu Vin… (mengejar)
Qisty meletakkan minumannya dan ikut meninggalkan kantin. Kerumunan mahasiswa tampak memandang sinis pada Vina dan rekan-rekannya.
MAHASISWA A
Wah.. jahat banget ya.. nggak disangka..
MAHASISWA B
Kasihan ya Sonya..
Vina menyeruak kerumunan yang penuh bisik-bisik menyudutkannya.
CUT TO
Commercial Break
6. INT: KAFE. MALAM
DANI, IAN
Dani dan Ian sedang duduk berdua di bar sambil mengobrol. Beberapa perempuan cantik lewat dan menyapa.
DANI
Udah (menepis pandangan Ian) hati-hati… ga kapok juga lu ya kena masalah si Mel…
Sambil menepuk bahu Ian yang masih mengumbar senyum pada perempuan-perempuan yang menyapa mereka tadi. Dani memutar posisi duduknya sehingga menghadap ke bar. Ian tertawa melambai pada perempuan tadi dan ikut memutar kursinya menghadap bar.
IAN
Ahh.. biarin ajalah… (tertawa kecil meneguk minumannya)
Thanks ya.. you cleaned up my mess… (tertawa memberi toss)
DANI
Sampai kapan Yan… (mukanya berubah serius)
Ian meletakkan gelas dan memandang Dani.
DANI
Kalau lu ga mau peduli ama diri lu ato karir lu sendiri…
IAN
(memotong) Nggak masalah kan.. (meremehkan)
buktinya selama ini bisa kita beresin..
DANI
Tapi masa ga ada sedikit pun rasa bersalah ato nyesel ato… apa aja di hati elu
IAN
Apa maksud lu Dan? (nada mengejek)
Semua itu gua lakuin atas dasar suka ama suka.. gua ngga pernah maksa kok..
DANI
Lalu Mel… emang dia rasanya yang paling lama di sejarah elu deh, hampir 2th?
IAN
Itu kan perasaan dia aja. Dia mana tau selama 2 th ini aku kemana, ketemu siapa… Lagian aku ngga pernah menjanjikan apa-apa sama dia. Bilang suka ama dia pun nggak… enak aja minta keseriusan dari gua .. apa’an..
DANI
Dari sikap lo ke dia kali… terlalu berlebihan..
IAN
Dia nya aja yang ke ge-er an… (sambil mengerling memandang cewek sexy yang lewat)
Elo kan tau sendiri gua penggemar wanita (memutar kursinya mengikuti cewek sexy yang berlalu sambil mencoleknya dan menebar senyum)
DANI
Yan… yan… setau gua waktu kita sama-sama kuliah dulu lu nggak segitu-gitu nya deh ama cewek… (tertawa kecil, meneguk minuman)
Telat mateng lu ya…
Ian dan Dani tertawa bersama.
DANI
Terus… (mukanya berubah serius, gugup) tunangan lu?
Ian menoleh memandang Dani yang serius. Tertawa kecil.
IAN
Kenapa dia?
DANI
Apa lu ngga kasihan kalo dia denger berita-berita tentang lo di sana?(hati-hati)
IAN
Cindy percaya kok kalo gua ngga pernah serius ama mereka. Lagian…
Sebenernya, dengan kelakuan gue selama ini, gue kan bisa membuka jalan buat sohib gue yang satu ini…. (tertawa lalu menepuk-nepuk Dani)
Dani menghindar dengan salah tingkah.
DANI
Apa sih maksud lu Yan.. (pura-pura tidak tahu)
IAN
Udah lah Dan… gua juga tau kok… ngga usah pura-pura lah..
(Ian melepas rangkulannya)
Dari pertama lu ketemu Cindy.. lu suka kan ama dia… (tertawa)
DANI
Jahat lu ya…. (menunjuk sambil tertawa kecil)
Cindy tu kan tunangan elu.. masa lu makanin ke orang lain juga…
IAN
Lu kan tau… dia itu adik sepupu gue. Dari kecil kita udah main bareng, sejak dia masih ngompol dan suka bugil lari-lari keliling rumah ha..ha…
Ian dan Dani tertawa. Ian berubah serius dan bernada getir.
IAN
Selamanya juga gua nggak akan bisa ngerubah perasaan itu…
Dani memandang Ian serius.
DANI
Trus kenapa lu terima aja pertunangan itu…
IAN
Habis gua mesti gimana… (pasrah, kesal) masa gua tolak sih…
Lagian pertunangan itu kan belum resmi, Cuma antar kerabat kita aja…
Ian memandang Dani yang seakan berpikir. Ian tertawa.
IAN
Tenang aja ‘Man’… lagian gua percaya kok kalo Cindy akan dapet orang yang bisa care ama dia… (mengerling) kaya elu…
DANI
Sembarangan lu…
Ian dan Dani tertawa dan menghabiskan minumannya.
IAN
Cabut yuk..
Dani mengiyakan dan keduanya keluar meninggalkan kafe. Sambil menuju pintu Ian sempat bercengkerama dengan beberapa perempuan sepanjang jalan menuju keluar.
CUT TO
7. INT: KAMAR KOST VINARA. MALAM
VINARA, SITTA , QISTY
Vina duduk di tepi jendela. Sitta dan Qisty duduk dihadapannya dengan tatapan menuntut penjelasan.
VINARA
Sorry ya… bukannya aku ngga percaya ama kalian.. (menatap dengan sedih)
Aku udah janji ama Arya, kalo aku ngga akan cerita tentang hal ini kepada siapa pun. Soalnya orang tua Sonya udah berpesan sama dia, bahwa hal ini cukup mereka aja yang tahu.
(menghela napas, berhenti sejenak)
Aku juga ngga tau waktu itu, Betty dan teman-temannya bisa tahu hal ini dari mana…
SITTA
Sebenernya kejadiannya gimana sih Vin.. kok kayanya parah banget gitu…
VINARA
Sebenarnya aku juga ngga terlalu ngerti sih (mengangkat bahu)
Tapi kata Arya, dia memang udah lama deket ama Sonya. Mereka kan kenal sejak SMU. Tapi ya.. kata Arya sih, dia selalu anggep Sonya kaya adiknya aja. Dan kalo ternyata Sonya mengharapkan lebih, dia ngga bisa bilang apa-apa..
QISTY
Pantesan, lama juga si Arya ngga pernah keliatan.
Trus hubungan kalian gimana dong? (bertukar pandang dengan Sitta dengan cemas)
VINARA
Ya hubungan ku ama Arya sih tetep baik-baik aja. Arya Cuma minta waktu selama beberapa saat ini untuk bicara ama Sonya. Orangtua Sonya juga minta tolong Arya untuk menemani Sonya sampai dia sembuh…
Sitta dan Qisty berpandangan ragu, teringat perkataan Andy dulu yang belum disampaikan pada Vina.
VINARA
Ngga papa kok (tersenyum menenangkan) sekarang kondisi Sonya udah jauh lebih baik. Harapannya si dia tetep ikut sidang minggu depan, dan setelah lulus rencananya dia akan pindah ke luar negeri..
Sitta dan Qisty mengangguk-angguk pasrah.
QISTY
Trus kamu percaya begitu aja ama omongannya si Arya…
Sitta mencubit Qisty. Vina menatap dengan jengah.
VINARA
Maksudmu? Ya.. kalo Arya udah bilang begitu… (menerawang)
Lagian sikapnya ke aku ngga berubah kok, dia masih baik, perhatian…
SITTA
Vin..vin… kamu sih kok dapet cowok yang bermasalah terus… (menggoda)
Vinara tersenyum.
VINARA
Yee.. emangnya cowok-cowokmu juga bersih dari masalah…
SITTA
Ya kan tapi ngga separah elu…
Vina, Sitta dan Qisty tertawa bersama.
CUT TO
8. INT: KAMPUS.SIANG
AGNES, BELLA
Beberapa minggu kemudian.
Di kampus beberapa mahasiswa sedang mengantri mengambil tanda kelulusan sementara. Agnes dan Bella tampak duduk di sudut sambil membuka-buka berkas yang sudah mereka ambil. Rambut Agnes yang semula panjang telah dipotong pendek model cowok.
BELLA
Lu datang kan Nes nanti malem?
Agnes mengangkat wajah memandang Bella dan berpikir ragu.
BELLA
Ayolah… ini kan pesta kelulusan gue. Mungkin setelah ini kita lebih jarang ketemu kan… masa lu ga datang sih…
AGNES
Ya, ntar gua usahakan deh.. (tak bersemangat)
BELLA
Jangan Cuma diusahakan dong… harus dateng lho…
Agnes menatap ragu.
BELLA
Kenapa sih, lu takut ketemu mereka ya… (menunjuk ke arah Arya dan Vina yang tampak mesra sambil membaca berkas Arya)
Agnes menatap Arya dan Vina dikejauhan dengan wajah sedih, terluka. Lalu cepat-cepat membuang muka tak tahan.
AGNES
Ngga kok…
BELLA
Ato gua bilang aja supaya Arya ga usah bawa cewek itu… (menatap tak senang pada Vinara)
AGNES
Ngga perlu lah.. ga ada apa-apa kok… ntar gua pasti dateng deh.
BELLA
Jangan lupa, bokap nyokap lu juga diundang…
AGNES
(tersenyum) Beress…
Agnes mencuri pandang ke arah Arya dan Vinara yang berjalan menjauh.
CU wajah sedih Agnes.
CUT TO
Commercial break
9. EXT/INT: RUMAH BELLA.MALAM
AGNES, BELLA, ARYA, VINARA, ORANG TUA BELLA, ORANG TUA AGNES, TAMU UNDANGAN
Establish rumah Bella yang mewah dan indah dengan hiasan lampu-lampu. Tenda dan lilin-lilin sebagai penghias pesta kebun di tepi kolam.
Tamu-tamu berdatangan dan menyalami orang tua Bella dan Bella yang berhilir mudik di tengah undangan.
Agnes datang bersama kedua orang tuanya dan menyalami orangtua Bella. Agnes meninggalkan mereka dan berkumpul dengan teman yang lain. Ayah Bella dan Ayah Agnes berdiri dekat meja mengambil minuman dan terlibat obrolan.
MAMA BELLA
Wah, Jeng.. tambah langsing aja… (memandang kagum dari atas ke bawah)
MAMA AGNES
Ah bukan langsing tapi stress (mengibas tangan dengan wajah gusar)
MAMA BELLA
Stress gimana to Jeng. Si Agnes kan anaknya pinter.
Tapi… (hati-hati) memang saya dengar dari Bella, nilai sidangnya kemarin agak kurang bagus, nggak seperti biasanya
MAMA AGNES
Itu dia Hen, saya sih ngga masalah si Agnes mau dapat nilai berapa aja. Apalagi selama ini prestasinya di kampus kan cukup bagus…
Yang buat saya stress ya… (memandang Agnes yang terpekur sendiri di tengah teman temannya yang tertawa)
Coba Hen kamu liat… lihat tuh..
Mama Agnes menunjuk ke arah Agnes. Mama Bella ikut memperhatikan.
MAMA AGNES
Liat… kerjanya sedih terus… kalo ditanya diam aja… biasanya padahal dia kan paling bawel di rumah.
Keduanya memandang Agnes yang sesekali berusaha tersenyum kaku menanggapi teman-temannya.
MAMA BELLA
Iya… (menatap Mama Agnes dengan prihatin) Bella juga cerita banyak soal perubahan Agnes. Dinasehatin to Jeng… masa cuma gara-gara laki-laki sampai sebegitunya. Agnes kan cantik dan pinter, pasti gampang dapat gantinya..
MAMA AGNES
Yang nyakitin hati itu Hen… (kesal) cewek yang ngerebut si Arya itu… aduhhh (gaya merendahkan)
Dia tu dulu satu kampung ama aku. Aku tahu banget siapa Bapak Ibunya, seperti apa keluarganya.
Bapaknya waktu masih hidup dulu, cuma bakul ikan asin di pasar tau… (nada emosi)
MAMA BELLA
Masa sih Jeng… (tak percaya)
MAMA AGNES
Aku juga ga ngerti kok mau-maunya si Arya sama anak yatim piatu kere kaya gitu.
Pasti di dukunin deh… apa sih lebihnya dia... cantik juga nggak, pinternya juga biasa aja.. mana kelebihannya… (merendahkan)
Dari jauh tampak Vina dan Arya datang bergandengan mesra. Mereka menghampiri Bella dan teman-temannya lalu menyalami Bella dengan akrab.
Agnes yang ada di antara mereka dan semula riang langsung berubah 180 derajat menjadi tampak lemas dan tertekan.
MAMA BELLA
Eh… Jeng… yang itu kan si Arya… (menunjuk ke Arya)
Perempuan yang satu itu ya, yang Jeng ceritain tadi
(nada tak senang menunjuk Vinara)
Mama Agnes memandang dengan kesal.
CU Wajah penuh amarah dan kebencian.
Mama Bella menatap Mama Agnes, tampak berpikir dengan wajah kesal.
CUT TO
Commercial Break
10. INT/EXT: PUB.MALAM
IAN, SECURITY, WARTAWAN, MANAGER PUB
Ian tampak sedang bermabuk-mabukan di sudut bar.
Flash Back
Kejadian kecelakaan orang tua Ian
Cut Back to
Ian menenggak minuman langsung dari botol.
CUT TO Di depan security berusaha menghalangi kerumunan wartawan yang akan masuk.
SECURITY 1
Maaf… mohon pengertiannya, kehadiran Anda-anda di sini bisa mengganggu ketenangan pelanggan kami…
WARTAWAN A
Apa betul Ryandi Laksmana ada di dalam?
WARTAWAN B
Kami dengar dia pelanggan VIP di Pub ini…
SECURITY 1
Maaf, kami kurang tahu tapi… (berusaha menahan)
Seorang kepala Security datang bersama Manager Pub.
Manager Pub memberi kode pada kepala security. Kepala Security masuk ke dalam.
MANAGER
Maaf ya teman-teman… mungkin ada yang bisa dibantu..
WARTAWAN A
Kami mau mewawancara Ian…
WARTAWAN B
Kami dengar Ian sering mabuk di tempat ini.. apa benar?
Wartawan saling berebut bertanya.
MANAGER
Maaf, mungkin teman-teman salah informasi. Di dalam tidak ada Pak Ian. Beliau memang pernah beberapa kali datang berkunjung ke tempat kami bersama rekan-rekannya. Tapi kebetulan malam ini Beliau tidak datang.
Suara wartawan bersahutan tak percaya dan mengajukan pertanyaan.
CUT TO
Kepala Security menghampiri Ian yang meletakkan kepalanya di meja Bar. Ia membisiki Ian sesuatu. Ian bangun dengan kesal.
Kepala security kembali membisiki Ian sesuatu dan menunjuk ke arah belakang Bar.
IAN
Iyaa… udah tauukk… (nada mabuk)
Ian membuka dompet dan membanting setumpuk uang ratusan ribu di atas meja bar.
Kepala Security berusaha memapah ketika Ian limbung.
KEPALA SECURITY
Bapak tidak apa-apa? Atau perlu saya panggilkan taksi…
Ian menegakkan berdirinya. Berusaha mengontrol diri.
IAN
Terimakasih. Tidak perlu. (tersenyum)
Saya bisa sendiri.
Jalan biasa kan? (berjalan menuju belakang bar sambil menuju ke lemari penyimpanan, di situ ada jalan rahasia khusus untuk tamu VIP)
Kepala satpam mengantar kepergian Ian. Suasana Pub tetap ramai. Tak ada yang memperdulikan.
CUT TO
Seorang wartawan pria berlari ke arah warung rokok di pinggir Pub.
WARTAWAN C
Rokok 1 Pak (menunjuk jari 1 kepada penjual rokok)
Sang penjual mengulurkan rokok 1 bungkus. Wartawan membuka dan menyematkan sebatang di mulutnya.
WARTAWAN C
Korek ada Pak? (mengulurkan uang membayar rokok)
Sang penjual menerima uang dan mengambilkan korek. Wartawan menyulut rokok dan menghisap dalam-dalam. Matanya memandang suasana sekeliling Pub.
Tiba-tiba secepat kilat mobil sport Ian melaju keluar dari gedung, melintasi penjual rokok dan keluar halaman Pub. Sang wartawan terkejut, mematikan rokok dan menginjaknya cepat-cepat. Berlari ke arah kerumunan wartawan yang masih menunggu di depan lobby sambil berteriak.
WARTAWAN C
IAN!!! IAN!!! Keluar kesana… ( menunjuk ke arah pintu keluar dengan panik.)
Sekelebat mobil Ian melaju kencang. Wartawan berhamburan ke arah mobil dan motor mereka, para wartawan berusaha mengejar.
CUT TO
11. EXT/INT: RUMAH BELLA.MALAM
AGNES, BELLA, ARYA, VINARA, ORANG TUA BELLA, ORANG TUA AGNES, TAMU UNDANGAN, BETTY
CU Mama Bella dan Mama Agnes yang berwajah tegang dan gusar.
CU Vina dan Arya mesra tertawa bersama teman-teman. Agnes berjalan menjauh, tapi teman-temannya tidak menyadari.
Mama Bella menggamit lengan Mama Agnes berjalan menghampiri Arya dan Vina.
Sampai di dekatnya Mama Bella dan Agnes memandang Vina dari ujung kepala sampai ke ujung kaki dengan tak suka. Semua memperhatikan heran pada Mama Agnes dan Mama Bella yang sedang memperhatikan Vina.
MAMA BELLA
Apa benar kamu yang bernama Vinara? (nada tak senang)
Mama Agnes memandang dengan tatapan menghina.
Vina mengiyakan dengan jengah. Arya juga tampak agak bingung.
ARYA
Eh ya… selamat tante… (mengulurkan tangan pada Mama Bella)
Mama Bella tidak menggubrisnya.
MAMA BELLA
Saya rasa kami tidak mengundang kamu. Seharusnya kamu tahu bahwa perempuan seperti kamu nggak pantas berada di sini.
Beberapa tamu mulai berkerumun. Bella menghampiri Ibunya.
BELLA
Mama… (menahan mamanya).. kok gitu sih…
MAMA BELLA
Bella sayang, kenapa orang seperti ini ada di sini. Kamu tau kan kalau acara ini hanya untuk kalangan terbatas…
BELLA
Mama…?? (memandang ke Arya tak enak hati)
Arya dan Vina terkesiap. Tak menyangka perlakuan Mama Bella.
MAMA AGNES
Jangan begitu dong Hen… kita semestinya kasihan dengan anak seperti dia (nada menghina, menyindir)
Oya… bagaimana kabar papa kamu???
Upss.. (menutup mulut pura-pura salah bicara)
Maaf ya tante lupa kalo papa kamu sudah meninggal.
Mama Agnes memandang Vina dengan pandangan menghina.
MAMA AGNES
Makanya kalau jual ikan asin jangan pakai formalin… lihat saja akibatnya.
Papa Mama kamu mati muda kan. Pasti karena sudah banyak orang yang jadi korban jualan Papa kamu itu! (ketus)
Vinara terhenyak. Semua tamu memandang sambil berkasak kusuk.
MAMA AGNES
HEHH.. Tante kasi tahu ya (membentak) Jangan mentang-mentang kamu yatim piatu, nggak punya orang tua lalu bisa aja berbuat seenaknya. Dasar nggak tau diri. (mendekati Vina memandang Vina lagi dari atas ke bawah, berkeliling)
Kamu tu mestinya ngaca dong. Kere seperti kamu ini, berani-beraninya nge-dukunin anak orang.
Mama Bella mengangguk-angguk. Bella hanya terdiam. Tamu semakin ramai berkerumun.
MAMA BELLA
Nak Arya ( mengelus pundak Arya penuh perhatian) Kamu itu kalau pilih teman hati-hati dong…Seperti Agnes misa..all.. nya (mencari-cari Agnes yang sudah tak kelihatan)
Arya dan Vina berpandangan bingung.
Mama Agnes juga memandang sekeliling mencari anaknya.
MAMA AGNES
Kamu liat kan.. begitu kamu muncul saja Agnes langsung pergi. Tega sekali kamu mengkhianati Agnes seperti itu. Padahal dulu kan Agnes itu temannya Putri, sepupu kamu. Dia juga yang mengenalkan Arya ke kamu kok kamu…
ARYA
Tunggu tante (memotong) jika maksud tante…
MAMA BELLA
Sudah Nak Arya (memotong balik) coba kamu ini dengarkan dan pikirkan dulu baik-baik…
MAMA AGNES
Arya (memandang Arya). Kamu sadar nggak sih apa saja yang sudah kamu lakukan sama Agnes. Sejak kamu kenal sama perempuan ini (menuding Vina) sikap Nak Arya pada Agnes sangat berubah.
Agnes sangat shock, lihat saja, dia sampai memotong rambut kesayangannya itu sampai habis. Tiap hari kerjanya hanya menangis di kamar. Berhari-hari tak mau makan. Badannya jadi sangat kurus. Tidak bisa konsentrasi belajar.
(menggelengkan kepala tak habis pikir)
MAMA AGNES
Nak Arya kan tahu sendiri kalau Agnes anak yang pintar, tapi nilai sidang kemarin ternyata tidak memuaskan.
Sebelumnya bahkan Nak Arya dan Agnes sudah berjanji akan meneruskan S2 bersama di Jakarta aja sambil bekerja. Sekarang ini, Agnes ngotot minta ke Australia gara-gara mau melupakan Nak Arya.
Kenapa si? Begitu cepat Nak Arya berubah pikiran setelah menjalin hubungan dengan Agnes bertahun-tahun hanya karena perempuan seperti ini…
Papa Bella dan Papa Agnes datang mendekat. Bella berlari ke dalam mencari Agnes.
Arya dan Vina tak mampu berkata-kata.
PAPA AGNES
O.. kamu… (memandang Vina) lama nggak ketemu. (memandang tak suka)
Om sangat kecewa. Kenapa sekarang sikap kamu jadi seperti ini. Padahal dulu kamu kan anak baik-baik. Papa kamu pasti sangat menyesal kalau melihat kamu seperti ini.
Vina memandang Arya mengharapkan Arya melakukan sesuatu pembelaan. Tapi Arya hanya diam saja.
MAMA AGNES
Nak Arya… Apa Nak Arya ingat bagaimana hubungan baik Nak Arya sama Agnes. Apa Nak Arya tega ngeliat betapa menderitanya Agnes… (setengah menangis)
Bella dan Agnes datang.
AGNES
Mama… ??!!
Mama Agnes meraih Agnes dan menghunjukkan ke hadapan Arya.
Papa Agnes hanya geleng-geleng kepala.
MAMA AGNES
Lihat… lihat Nak Arya…
Agnes menghindar malu. Airmatanya bercucuran. Arya memandang Agnes terharu. Seakan baru sadar kalau selama ini Agnes menderita.
AGNES
Mama… please… (menangis berlari meninggalkan kerumunan)
PAPA AGNES
Agnes.. (teriak)
Tapi Agnes tak peduli terus berlari menjauh. Semua memandang dengan wajah kasihan. Arya tampak terkejut.
PAPA AGNES
Nak Arya lihat… setidaknya..
Belum selesai Papa Agnes berbicara Arya sudah berlari mengejar Agnes.
ARYA
Nes.. tunggu… (lari menjauhi kerumunan. Hilang di kegelapan bersama Agnes)
Tinggal Vina berdiri tertegun. Semua memandangnya. Ada yang tak suka. Tapi banyak juga yang kasihan.
Mama Agnes memandang tajam ke Vinara.
MAMA AGNES
Kamu lihat Vinara, cinta Arya dan Agnes begitu besar. Dukun seperti apa pun yang sudah kamu pakai nggak akan bisa mengubah cinta mereka.(mengacungkan telunjuknya)
Jadi lebih baik kamu mundur saja.
Bella menggamit lengan Papanya, merasa tak enak hati. Ayah Bella tampak berpikir mencari cara mencairkan suasana.
MAMA BELLA
Lebih baik kamu pulang saja dan cari korban yang baru. Tapi jangan pernah dekati anak-anak kami lagi. (mendekat dan mengancam)
PAPA BELLA
Ma… (Papa Bella melerai) sudahlah…
(memandang Vinara) Mungkin sebaiknya kamu pulang saja… saya tak ingin merusak pesta anak saya… maaf ya…
Kerumunan bubar. Mama Bella dan Mama Agnes mencibir. Beberapa teman Agnes dan Bella yang selama ini memang tak suka pada Vinara juga memandang rendah.
TEMAN A
Rasain lu…
Vinara berjalan pelan meninggalkan pesta. Shock. Semua orang yang dilaluinya menatap dengan wajah mencibir dan ada juga yang kasihan. Mereka berbisik-bisik mengomentari Vina.
Langkah Vinara terhenti oleh Betty yang menghalangi jalannya.
BETTY
(bertepuk tangan) Pertunjukkan yang bagus ya. Kemana pangeranmu?
(tertawa mengejek) Emang enak ditinggalin… (terbahak)
Vinara menghindar dan mempercepat langkahnya. Airmata mulai menetes.
BETTY
Eehh… mau kemana terburu-buru.. (menggamit lengan Vina supaya jangan pergi) masa ngga makan dulu…
Jarang kan orang seperti kamu bisa makan makanan enak seperti di sini. (menunjuk ke masakan yang tersedia)
Vina mengibaskan lengan hendak pergi.
Betty mencegatnya, memegang lengan Vinara. Vinara berhenti dan memandang Betty.
BETTY
Nggak baik pergi dengan perut kosong
Betty tertawa mengejek, tangannya serta merta meraih semangkuk sop lalu menuangnya ke kepala Vina. Vinara terkejut berteriak kecil.
BETTY
Kalo ngga sempet makan, jilatin deh tu kuahnya di kepala lu.. (sambil tertawa diiringi tawa teman-temannya yang lain)
Vinara berbalik hendak berlari. Salah satu teman Betty menjulurkan kaki sehingga Vina tersandung dan terjerembab. Semua tertawa.
BETTY
O Masih kurang kenyang ya… sampe lemes gitu (nada mengejek)
Betty terbahak melihat Vinara jatuh. Betty menatap makanan dan minuman yang terhidang di meja seperti memilih-milih. Vina berusaha berdiri sambil menahan tangis, malu dan sakit.
Betty meraih mangkuk berisi es campur yang ada di dekat Vina jatuh dan menuangkan ke badan Vina yang sedang berusaha berdiri.
BETTY
Gimana Dessert nya? cukup kan…
Semua tertawa. Vinara menangis dan berlari ke jalan.
BETTY
Biar mampus lo… (tertawa senang sambil melipat tangan di dada)
CUT TO
12. EXT/INT: JALANAN/MOBIL IAN.MALAM
IAN, VINARA
Ian menyetir dengan kecepatan tinggi menghindari wartawan.
Sesekali matanya mengerjap karena buram, setengah mabuk.
IAN
Heh… untung lolos…
Ian berucap lega sambil menolehkan kepalanya ke kanan ke kiri memandang jalanan perumahan yang gelap, matanya mencari-cari seandainya masih ada wartawan yang mengikuti.
Ketika Ian kembali memandang ke depan, tiba-tiba sesosok perempuan muncul di depan mobilnya.
CU Wajah Vinara dengan pakaian semrawut tampak terkejut mengangkat tangannya menghindari silau lampu mobil Ian sambil berteriak
CU Ian berteriak, terkejut mengerem mendadak dan membanting setir menghindar
CU Lampu mobil sangat terang menerpa wajah Vina
CU Dari dalam melalui kaca mobil tampak posisi Vina sangat dekat
CU Ian berusaha membanting setir
CUT TO
END EPS.4
Credit Title
THEME SONG 4
No comments:
Post a Comment