Dalam mimpi Reya:
Reya seakan berlari di lorong panjang gelap dan tak jelas arahnya ,menyesatkan. Ia sangat ketakutan. Suara ketukan aneh semakin lama semakin keras mendekat. Reya tampak sangat panik, air mata mulai bercucuran. Ingin berteriak tapi tak ada suara yang keluar.
Reya terjatuh dan ketika menengadah, tampak sosok bayangan hitam yang selama ini menghantuinya. Reya berteriak histeris ketakutan sementara sosok itu mendekat seperti mau menerkam dan mencelakainya.
Banaran, 1 November 2009
Reya terbaring gelisah di ranjangnya. Mengigau.
“Tolong.. tolong…Jangan-jangan… jangan ganggu saya.. pergi-pergi…”
Bi Sarmi yang baru saja masuk ke kamar Reya sambil membawa baskom berisi air hangat dan handuk tergopoh-gopoh mendekat.
“Non… Non Reya” Bi Sarmi meletakkan baskom di meja sebelah ranjang dan mencoba membangunkan Reya. Reya mengerang dan mengigau. Bi Sarmi terus menggoyang badannya.
“Non.. bangun Non.. astafirullah alazhim.. Non… nyebut Non…”
Reya terlonjak bangun dengan wajah basah keringat dingin. Wajahnya panik dan ketakutan.
“Aduh Non.. mimpi apa sih Non.. kok sampe teriak-teriak gini.. biasanya memang Non sering ngigau.. tapi ngga seperti ini.. sebenernya ada apa Non.. “
Reya menatap Bi Sarmi” Bi… “ lalu memandang sekeliling “Kenapa saya bisa di sini.. tadi malam.. tadi malam… “
“Tuh kan Non.. Bibi bilang juga apa.. Non Reya itu kan sering ngigau.. mimpi buruk.. Makanya pintu kamar Non kalau malam lebih baik di kunci.. “ omel nya cemas.
“Semalam Non ngelindur.. jalan sambil tidur.. sampai hampir saja jatuh dari tangga…”
Bi Sarmi menggeleng dan menghela napas.
“Untung aja Aden baru pulang dan mau masuk ke kamarnya “
Reya menatap tertegun.
“Jadi Non ngga sampai jatuh ke lantai bawah… coba Non kalau bener-bener jatuh sampai ke bawah.. Aduh Non… bisa celaka…”
Reya terdiam bingung.
“Nggak.. nggak Bi… Saya ngga ngelindur, saya ngga ngigau.. saya ngga jalan sambil tidur… saya sadar Bi.. sadar Bi…”
“Sadar bagaimana Non… Masa kalau sadar ngga ngeliat ada tangga sampai jatuh…”
Reya menggeleng tak mengerti.
“Ngga Bi… Bibi ingat kan, selama ini saya sering cerita kalau saya sering mendengar bunyi ketukan seram di tengah malam.. dan tadi malam .. “ Reya mengelus tengkuknya yang merinding tiba-tiba ” tadi malam saya mencoba melihatnya.. tapi..”
“Aduh Non.. itu cuma mimpi.. mimpi…ngga ada bunyi apa-apa Non…”
“Beneran Bi… saya ngga mengada-ada… waktu saya keluar, ternyata bunyi itu muncul bersamaan dengan bayangan hitam besar kaya pake jubah gitu.. dan bayangan itu mencoba menyerang saya.. saya..”
“Astafirullah Non.. masa jaman modern gini Non Reya masih percaya gendruwo… hantu-hantu an… “ Bibi tersenyum menenangkan.
“Rumah ini sejak dibeli, dibangun dan ditinggali sudah di ruwat, bikin selametan.. di doa-in… “ejanya. “Bibi dan pelayan yang lain juga rajin sembahyang… Non jangan khawatir…
Ngga ada apa-apa.. walaupun rumah ini jauh dari pemukiman, tapi ngga ada penunggunya.. penunggunya ya cuma saya.. “ Bibi tersenyum lagi’ “Non.. Non tenang aja… Pasti Non Cuma mimpi…”
“Ngga Bi.. semua itu beneran… saya… “
Bi Sarmi tersenyum dan memeras handuk basah dari baskom dan memberikan ke Reya. Reya menerima dan mengusap wajahnya yang letih.
“Eh.. tadi Bibi bilang Lendra yang ‘nyelametin’ saya?”
“Iya Non “ Bibi tersenyum, “ malahan karena terburu-buru mau menolong Non, Aden sampai ikut jatuh ketimpa Non Reya.. “ Bi Sarmi tertawa kecil.
Reya berpikir sejenak.
Teringat saat Reya bergumul dengan bayangan seram di tangga.
“Hah? Masa itu Lendra?”pikirnya.
Terbayang cerita Beauty and The Beast, “Jangan-jangan aku diculik dan disekap oleh..?”
“Eh.. anu Bi.. memangnya.. Lendra itu seperti apa Bi?” Tanya Reya hati-hati.
Bi Sarmi memandang Reya heran.
“Seperti apa? “ Bibi terlihat bingung, “ Ya seperti Den Lendra.. Masa Non sama suami sendiri lupa? “ Bibi terdiam sejenak memandang Reya yang tampak sungkan.
“Eh maaf Non.. maksud saya…”
Reya menghela napas. “Ya sudah Bi, ngga apa…” Ia diam sejenak lalu mengusap wajahnya dengan handuk lagi.
“Bagaimana kalau Bibi siapin sarapan Non dulu, hari ini Non mau sarapan apa? Roti, Bubur atau..?”
“Oh ya Bi… kalau nanti Lendra pulang “Potong Reya, “saya minta tolong ya Bi.. jam berapa pun itu, tolong bangunkan saya… saya harus ketemu dia hari ini.. Saya kan harus mengucapkan terimakasih karena Lendra sudah menolong saya semalam..” Ia berpikir mencari alasan yang tepat supaya Lendra tak menghindarinya lagi.
“Oh kalau itu.. ngga perlu tunggu sampai nanti malam Non…” Bibi tersenyum penuh arti.
“Kenapa Bi?”
“Hari ini Aden ngga masuk kerja…” Bisiknya sambil tetap tersenyum.
“Oh ya? “ Reya tersenyum lebar serasa mendapat durian runtuh.
“Tumben Bi? Ada apa? Apa saya bisa ketemu dia sekarang?”
Reya tampak bingung dan merapikan rambutnya dengan jari tangan.
“Ya sebenarnya hari ini jadwal Aden agak padat katanya, tapi karena menolong Non semalam, kakinya kesleo, jadi beberapa hari ke depan mungkin Aden tidak bisa ke kantor “ Bibi tersenyum lagi.
“Jadi dia sakit gara-gara saya.. “
Reya segera berdiri.
“Ngga papa Non… sebentar juga sembuh..”
“Kalau gitu saya mau ketemu dia sekarang...”
Reya bergegas berdiri dan berjalan keluar kamar. Bi Sarmi mengikuti.
“Tunggu Non… apa ngga lebih baik Non makan dan mandi-mandi dulu.. nanti biar Bibi sampaikan kalau Non Reya mau ketemu.. bagaimana?”
Reya menatap Bi Sarmi sambil berpikir lalu mengangguk dan secepat kilat berlari ke kamar mandi.
Sesaat kemudian, Reya keluar dari kamarnya sudah dengan keadaan rapi. Bi Sarmi tampak berjalan dari arah kamar Lendra mendekati Reya dengan gundah.
“Gimana Bi? Saya bisa ketemu sekarang?”burunya.
“Ehm.. anu “ Bibi tampak gugup ” Maaf Non.. Aden nya masih… masih istirahat…”
Reya terkejut dan tampak tak senang.
“Apa” Makinya kesal. “ Ngga bisa Bi.. sudah hampir satu bulan sejak saya sadar di sini… dan ngga pernah sekalipun dia mau ketemu saya”
Reya berjalan ke arah kamar Lendra dengan kesal.
“Pokoknya kali ini saya harus ketemu dia…!!”
Bi Sarmi mengikuti dengan gugup.
“Tapi Non… Den Lendra sedang kurang enak badan..” cegahnya.
“Saya kan ngga mau mengganggunya Bi.. Cuma ketemu sebentar… setelah itu saya akan pergi dan dia bisa istirahat…”
Reya dan Bi Sarmi berdiri di depan kamar Lendra. Reya segera mengetuk pintu. Tak ada sahutan. Reya dan Bi Sarmi berpandangan sejenak. Bi Sarmi menghela napas lalu maju ke pintu dan mengetuk pelan. Reya memandang pintu penuh harap.
“Siapa?!” Suara Lendra terdengar dari dalam kamar.
Reya memandang Bi Sarmi sejenak dan menunggu dengan cemas.
“Saya Den….” Suara Bi Sarmi pelan.
“Ada apa lagi Bi.. “suara Lendra terdengar agak ketus.
Reya mengernyitkan kening heran mendengar suara Lendra bernada agak kasar.
“Anu Den.. Non Reya.. Ehm.. Non Reya mau ketemu Aden..” gugup Bi Sarmi menjawab.
Terdengar suara barang seperti buku dibanting ke atas meja dari dalam kamar.
“Saya kan sudah bilang Bi… saya mau istirahat… “ Lendra terdengar menahan kesal, “ Bilang saja saya tidur!! “ Bentaknya keras
Reya mendengus kesal dan memukul-mukul pintu geram.
“Lendra!! Buka pintunya!! “ Reya menghentak gagang pintu yang terkunci dari dalam.
Tak terdengar jawaban. Hening.
“Kenapa sih kamu ngga mau ketemu aku?! Kenapa kamu selalu menghindari aku?! Aku harus bicara sama kamu?!”
Tetap tak ada jawaban. Reya dan Bi Sarmi berpandangan. Reya tampak semakin kesal.
“Lain kali saja Non… kalau..” ucap Bi Sarmi lirih.
Reya kembali menggedor pintu kamar terus menerus sambil tak henti menggerutu. Bi Sarmi tak bisa mencegah.
Beberapa penjaga dari lantai bawah memandang keributan di atas dan mendekati mereka.
Tiba-tiba terdengar suara benda dibanting keras dari dalam kamar. Reya dan Bi Sarmi terkejut mendengar teriakan Lendra dari kamar.
Reya dan Bi Sarmi berdiri mematung di depan pintu.
Terdengar lagi suara Lendra berteriak sambil membanting barang.
“Berisik banget sih kamu!! Aku bilang aku mau istirahat!! Ngerti nggak sih!!”
Suara benda di banting dan pecah kembali terdengar.
“Pergi sana!!”
Reya menghela napas kesal.
“Heh.. kamu kasar banget sih!! Aku kan mau ketemu baik-baik.. “ sahut Reya ketus.
“Sudah Non.. “ Bisik Bi Sarmi mencoba menenangkan Reya.
“Baik-baik? Jadi kamu pikir gedor-gedor kamar orang itu cara ketemu baik-baik heh?”sahut Lendra tanpa membuka pintu.
Bi Sarmi memberi tanda dan menyuruh penjaga pergi. Penjaga pergi meninggalkan Bi Sarmi dan Reya di depan kamar Lendra.
Reya menggeleng kesal. “Kamu ini..bener-bener deh..keterlaluan!! Kamu yang mulai duluan…!! Denger ya.. sebenernya aku ke sini mau berterimakasih dan minta maaf atas peristiwa semalam.. tapi rasanya sekarang… udah ngga perlu lagi !!” bentaknya ketus.
“Ya!! Emang ngga perlu!! Aku ngga butuh di terimakasihin sama kamu!! Tahu nggak, gara-gara ulah kamu, aku terpaksa membatalkan banyak bisnis meeting hari ini… “
Reya tersenyum sinis, “ Heh.. aku juga ngga pernah minta tolong ya sama kamu.. jadi jangan salahin aku dong…”
“Sudah Non.. ayo.. nanti lain kali saja bicaranya…” Bi Sarmi menggamit lengan Reya menjauhi kamar Lendra.
Reya mendengus kesal dan berbalik dengan marah lalu masuk ke kamarnya. Bi Sarmi memandang sambil menggelengkan kepala dan tersenyum simpul.
“Wah.. bakalan rame nih rumah ini…” ujar bi Sarmi dalam hati.
***
Reya duduk di tepi kolam renang. Kolam yang tak terlalu luas tapi berbentuk seperti telaga kecil dengan keramik mozaik kecil berwarna gradasi biru laut dan biru tua sebagai dasarnya. Sebagian sisi kolam melandai seperti pantai buatan dengan bebatuan halus dan jembatan kayu kecil menjorok ke sana, di situlah tempat kesukaan Reya untuk duduk. Kedua kakinya digoyang-goyangkan dalam air. Kalau saja suasananya tidak seperti sekarang, pasti Reya benar-benar merasa di surga dunia, atau seperti liburan di resort termewah, tapi dalam situasi seperti ini, Reya benar-benar tak bisa menikmatinya.
Seorang pelayan datang dan meletakkan jus jeruk di atas meja di tepi kolam, dekat Reya duduk, lalu membungkuk hormat pada Reya dan pergi.
Reya tersenyum mengangguk dan bangkit berdiri.
Reya berjalan menuju deretan kursi santai dari kayu dan duduk di sana sambil meminum jusnya.
“Sebenarnya seperti apa sih Lendra itu.. apa benar dia suami aku? Kenapa dia begitu kasar sama aku? Mana mungkin aku mau nikah sama orang kaya dia?” pikir Reya.
Reya memandang sekeliling dan tampak sudah terbiasa dengan kehadiran beberapa penjaga yang berdiri di kejauhan.
Reya kembali menghela napas sedih.
“Padahal aku pikir Lendra adalah kunci dari semua masalah aku.. hanya dia satu-satunya yang bisa membantu aku.. “gumamnya kecewa’ “tapi.. sekali-kalinya aku bisa bicara sama dia… malah berantem… “
Reya membaringkan badannya di kursi santai dan tatapannya memandang ke arah dalam rumah.
“Orang ini bener-bener keras kepala.. dari tadi sama sekali ngga keluar dari kamarnya.. dan ngga ada suara apapun dari sana.. ngapain aja dia di dalem.. “Reya kembali duduk dengan gelisah.
”Sama sekali ngga sesuai sama bayanganku… aku pikir, seperti yang Bi Sarmi sering cerita, Lendra itu pasti orangnya perhatian, baik, ramah,romantis dan sepertinya dia cinta banget sama aku… “ Raya berpikir sejenak lalu cemberut.
Ia duduk tegak dan memandang ke dalam rumah dengan kesal.
“Mana mungkin dia cinta sama aku.. lihat tadi, ketemu aku aja dia ngga mau, selalu cari-cari alasan.. sifatnya aja kasar banget.. huh.. siapa yang mau sama dia.. “ batinnya kesal.
Seorang pelayan datang mendekat membawakan beberapa potong kue kering di piring kecil dan meletakkan di atas meja dekat Reya.
Reya memandangnya yang sedang membungkuk akan pergi, Reya segera menahannya.
“Tunggu Mbak? Ehm.. Apa kamu bisa temenin saya ngobrol sebentar?”
Pelayan memandang heran sekejap ke Reya lalu mengangguk dan berdiri di dekatnya.
Reya tersenyum misterius tampak memikirkan sesuatu.
“Narti.. “ ejanya, “Sudah berapa lama kamu kerja disini?”
Reya memandang Narti dari atas ke bawah dan menilainya. Masih cukup muda dan dari penampilannya yang canggung seperti pegawai baru.
“Maaf.. baru 2 minggu Non… “ jawabnya takut-takut.
“O.. 2minggu… kamu asalnya dari mana?” ujar Reya ramah.
“Saya? Oh saya dari ponorogo Non.. jawa timur..”
“Wah.. jauh juga ya…”
Narti mengangguk-angguk tersenyum.
“Kamu bisa kerja di sini?” Reya terdiam mengambang, “ Bagaimana kamu bisa kerja di sini? Kamu naik apa kesini? Sama siapa?”
“Saya dari yayasan Non.. Bi Sarmi yang mengambil saya dan beberapa teman dari yayasan untuk bekerja di sini. “ jelasnya.
“Lalu? Kalian kesini sama siapa? Naik apa?”
“Sama Mas Syamsudin Non.. naik kapal..”
“Mas Syamsudin? Siapa itu?”
“Oh Mas Syam tugasnya jadi satpam di belakang Non… yang orangnya kumisan agak gemuk…”
Reya mengangguk-angguk dan berusaha mengingat wajah-wajah security yang sering dilihatnya.
Sementara itu dari arah sebuah jendela di lantai 2, Lendra diam diam memandang ke arah kolam dan tempat Reya berbincang dengan Narti. Sebentar, sebelum akhirnya ia merapatkan kembali tirai jendela di kamarnya.
***
Hari berganti, Reya tampak sedang membantu memetik sayur bersama beberapa pelayan yang sedang menyiapkan memasak. Tak ada Bi Sarmi saat itu.
“Wah sayurnya seger juga ya… “ Reya memandang ke sekeliling mencari jawaban, “Emangnya kalian baru dari pasar ya?” pancing Reya.
Maya yang biasa membantu mengurus makanan Reya mendekat.
“Ngga Non.. ini kami petik dari kebun belakang…”sahut Maya.
“Oh ya? Ternyata di sini ada kebun sayur? Ada apa aja di sana? Saya belum pernah lihat”
“Macam-macam Non… ada Sawi, kol, cabe, kacang, singkong.. tapi paling banyak ya kangkung sama bayam… baby pakchoy juga ada Non..”
“Wah boleh juga.. kapan-kapan ajak saya ke sana ya Mbak.. saya pengen juga memetik sayur sendiri.. boleh kan?” senyum Reya merekah.
“Ya boleh aja Non.. di sana juga ada pohon buah-buah lho…Ada pohon mangga, rambutan, nangka, kelengkeng dan durian.. ” Maya tersenyum menerangkan dengan bangga, “Kalau jeruknya ada di kebun bonsai..sama sawo dan yang lainnya”
Reya mengernyitkan kening.
“Pohon buah? Kebun bonsai? Wah.. pasti bagus banget ya..
Sepertinya saya pernah liat dari balkon atas.. tapi memang belum pernah kepikir ke sana…Yang di belakang air terjun samping sana ya?” tunjuk Reya.
“Iya Non, sekarang juga baru musim mangga .. harum manis, sama gedong gincu… wah semuanya manis-manis Non… kami juga sudah ambil beberapa dan menyimpannya di lemari es.. Non mau?”
“Wah saya paling suka mangga Mbak… boleh juga nanti sekalian untuk makan siang ya… “
“Baik Non.. nanti saya siapkan ya..” Maya tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Reya diam sejenak berpikir.
“Apa semua sayur dan buah yang kita makan kita ambil dari hasil kebun sendiri Mbak?” tanyanya hati-hati.
“Ya nggak Non.. sebagian dikirim dari seberang, sekalian sama daging, ikan, beras dan perlengkapan rumah yang lain.”Maya menoleh sembari terus membersihkan sayur di nampannya.
“Dari seberang?” pancingnya lagi.
“Iya dari seberang.. kan di sini ngga ada pasar Non jadi kalau perlu apa-apa ya mesti ke seberang pake kapal. Kan setiap ..” Maya berpikir sejenak dan melanjutkan, “ Seminggu 2 kali pasti ada kapal yang datang membawa perlengkapan dan keperluan rumah”
“Oh.. “ Reya berlagak sok cuek, “Saya tahu, kapal yang di haluan sana kan.. “ tunjuk Reya ke belakang.
“Saya pernah jalan-jalan ke daerah sana. Pantainya bagus.. “sambungnya.
Maya hanya tersenyum.
“Ehm.. kalau pasarnya jauh ngga Mbak dari sini?”
Maya berpikir, “ Ya lumayan.. jauh juga.. naik kapalnya aja sudah sekitar 20-30 menit… “diam sejenak dan sambungnya lagi, ” lalu harus naik mobil lagi ke sana mungkin sekitar setengah jam juga. Makanya kita harus selalu pergi pagi-pagiiii banget supaya sampai ke pasarnya ngga kesiangan.”
“Oh pagi-pagi… “gumamnya.
” Jam berapaan Mbak biasanya?”
Mendadak pintu belakang dapur terbuka, Bi Sarmi datang. Maya dan Reya terkejut memandang ke pintu. Bi Sarmi tersenyum dan masuk tanpa curiga. Sayang pertanyaan Reya yang terakhir belum sempat terjawab oleh Maya.
Bi Sarmi mendekat meletakkan bawaannya dan ikut berbincang.
Reya tersenyum canggung.
“Oh.. tadi.. itu kebun.. ehm.. kebunnya terawat banget ya..” Reya berusaha mengalihkan pembicaraan.
Maya dan Bi Sarmi memandang Reya heran.
“Maksud saya, siapa yang suka berkebun di sini?” Reya terdiam sejenak bingung mencari bahan pembicaraan, “ Maksud saya.. saya tahu ada tukang kebun tapi…”
“Oh.. maksud Non siapa yang menanam tanaman-tanaman di sana?” jelas Bi Sarmi ramah.
“Nah iya!!” Reya menunjuk dan tersenyum lega.
“Kalau pohon buah dan bonsainya sudah ada sejak tuan besar masih hidup. Dulu Tuan besar dan Den Lendra yang rajin merawat pohon dan bonsai di sana “ Bi Sarmi menunjuk taman samping dan belakang, “kadang juga menanam sayurnya.” Sambungnya lagi.
“Lendra?”
“Iya Non… bahkan ide menanam kebun sayur sehat itu juga dari Aden.. katanya supaya terjamin kebersihan dan keasliannya.. organic Non.. “ bi Sarmi mengacungkan jempolnya.
“Ah masa orang sekasar Lendra bisa rajin berkebun, Bi Sarmi ini suka melebih-lebihkan deh” guman Reya dalam hati.
“Iya Non… kan Aden paling suka sayur..” Maya ikut menimpali.
“Kalau ada waktu senggang biasanya Aden sering merawat sendiri tanaman-tanamannya…” bi Sarmi tersenyum.
“Masa sih Bi? Selama saya di sini saya ngga pernah lihat si Lendra itu berkeliaran, apalagi merawat kebun?” jawab Reya sinis.
“Ya soalnya karena.. “ Maya terdiam dan melirik Bi Sarmi.
Reya memandang menunggu. Maya tertunduk pura-pura sibuk. Bi Sarmi menghela napas tampak berat.
“Kenapa bi?”
“Enggak Non… Cuma sejak kecelakaan itu… kesehatan Aden agak kurang baik, jadi jarang bisa mengurusi kebun lagi…”
“Huh.. paling cuma alasan aja… selalu ‘kesehatan yang kurang baik’ yang di jadi-in alasan.. mana bisa orang sakit.. yang berkebun aja dia ngga mampu, bisa berteriak dan memukul barang sekasar dan sekeras itu… Bi Sarmi ini cuma memuji Lendra terus.. mungkin supaya aku punya kesan baik tentang dia… “ Pikir Reya.
“Non Reya” ucapan Bi Sarmi memutus lamunan Reya, “ Mau jalan-jalan di kebun?Mau Bibi temenin..“
Reya tersenyum lebar, mengangguk dan berdiri dengan sigap.
Bi Sarmi dan Reya berjalan perlahan beriringan keluar dari dapur. Mereka melalui lorong terbuka beratapkan tanaman rambat yang berbunga indah.
Reya mengamati segala lekuk dan belokan yang ia lewati baik-baik. Dari dapur ada jalan pintas menuju kebun, tapi ia harus melalui ruang security. Beberapa penjaga melambai pada Bi Sarmi memberi salam.
Dari sudut yang lain Reya memandang ke arah dinding air terjun yang jatuh dari lantai dua. Gemericik airnya jatuh di kolam yang penuh dengan ikan koi besar, Reya pernah beberapa kali ke kolam itu tapi tidak melalui jalan ini, melainkan melalui perpustakaan. Dari perpustakaan ada balkon kayu yang menjuntai ke atas kolam. Sejuk sekali di sana. Terkadang Reya menghabiskan waktu dengan membaca sambil bersantai dan mengamati ikan-ikan itu. Sayang menjelang malam semua pintu dan jendela kacanya terkunci. Reya sudah mengamati hal itu sejak lama.
Reya dan Bi Sarmi terus berjalan menyusuri kebun. Mereka berbicara serius sambil menunjuk pohon-pohon dan kembang juga berhenti sejenak mengamati sayur.
Bi Sarmi tak henti bicara dengan semangat menunjuk ke sana - ke mari. Reya mengangguk-angguk mendengarkan.
Dari jendela lantai atas rumah yang menghadap ke kebun. Lendra mengamati Reya dan Bi Sarmi. Dan sebelum Reya menyadarinya, Lendra telah pergi kembali ke kamarnya.
***
Banaran, malam harinya
Reya duduk manis di atas ranjang. Bi Sarmi bersiap meninggalkan kamarnya dan berdiri di ambang pintu.
“Saya tinggal kebelakang ya Non.. kalau ada perlu apa-apa panggil saja…” ujarnya.
Reya mengangguk tersenyum manis dan tenang.
“Non yakin, kamarnya tetap ngga mau di kunci?” tatapnya cemas.
“Ngga usah Bi… nanti saya kunci dari dalam saja” sahut Reya hati-hati, “kan Bibi juga sudah lihat satu minggu ini saya nggak mengigau lagi kan..” Reya tersenyum menenangkan.
“Ya sudah.. Bibi ke belakang dulu ya…”
Reya berdiri mengikuti dan mengangguk manis. Bi Sarmi keluar dan menutup pintu. Reya menghela napas dan mengunci pintu kamarnya dari dalam lalu tersenyum lega.
Secepatnya Reya berjingkat ke meja rias dan membongkar laci. Reya mengambil beberapa kertas dan pulpen lalu membawanya ke atas ranjang dan membukanya dengan serius di sana.
Reya membuka beberapa buah gambar seperti peta yang ia gambar sendiri selama ini dan menggabung-gabungkan gambar coretan tangan itu, lalu menggambarkan beberapa tambahan lokasi dan menuliskan beberapa keterangan.
“Sepertinya cukup… ini denah kebun” Reya membuka gambar bagian kebun, “Ini bagian-bagian rumah” ujarnya sambil membuka kertas lain, “Dari sini ke sini…. jalan setapak ke tempat kapal barang… “Reya menarik garis halus.
“Di dekat pohon ini ada tempat agak rimbun yang bisa … tembus ke sini… “
Tangannya sibuk membuka gambar dan tersenyum puas.
“Kalau aku hati-hati… selasa depan… lusa .. ada jadwal mereka ke pasar…” Reya diam sejenak memandang kalender. Tanggal 3 November 2009.
“Disini dan disini biasa ada penjaga “ Reya membuka kertas lain dan memberi tanda pada beberapa bagian.
“Dan disini … yang biasanya jarang di kunci..Dari sini aku bisa ke sini dan langsung ke sini.. tinggal menunggu waktu yang tepat untuk naik ke kapal itu diam-diam. “ Reya tersenyum sendiri.
“Sepertinya di kapal itu banyak barang, seperti tong dan peti-peti” Reya membuka denah kapal yang ia coret beberapa hari lalu, “Aku bisa sembunyi di antara ini..”tunjuknya, ”Sampai kapal berlabuh di seberang…”
Terbayang situasi kapal dan beberapa sudut yang selalu penuh barang dan beberapa gulungan terpal.
“Setelah itu tinggal menunggu waktu yang tepat untuk turun dari kapal saat mereka ke pasar… “ Reya tersenyum lega membayangkan keberhasilannya lalu membaringkan badan telentang.
“Aku harus bisa keluar dari sini… Masih ada 1 hari lagi… aku harus lebih hati-hati dan mengawasi jadwal kegiatan mereka…”
Reya terus berpikir sambil berbaring di ranjangnya. Sulit rasanya memejamkan mata.
Musik piano mengalun sendu. Reya menatap sedih ke langit-langit kamar.
***
Banaran, 2 November 2009
Reya keluar dari kamar dan menutup pintu. Beberapa pelayan sedang merapikan ruang tengah. Reya menuruni tangga dan duduk di sofa lalu memandang sekeliling dengan bosan.
Sebuah lukisan pemandangan besar menempel didinding. Dibawahnya ada meja yang semestinya untuk meletakkan TV dan Stereo Set, tapi kosong.
Wajah Reya menatap meja itu dan cemberut
Reya memalingkan wajah dan memandang ke meja sofa di depannya. Ada beberapa buku novel dan komik rapi tersusun di bawah kaca. Reya mengambil salah satu komik dan membuka dengan sekilas tak konsentrasi.
“Kenapa bisa rumah sebesar dan semewah ini ngga ada te-ve nya?”sugutnya dalam hati. “Bahkan tape, radio atau alat elektronik lain… “ pikirnya sambil mengamati sekeliling.
“Setelah dipikir-pikir.. Ngga cuma alat elektronik yang ngga ada di rumah ini.. tapi semua alat yang berhubungan dengan telekomunikasi… “pikirnya serius.
“Ngga ada telepon atau handphone, te-ve, radio… sebenernya apa yang di sembunyikan di rumah ini, kenapa sepertinya mereka memutuskan diri dari dunia luar… Bahkan koran, majalah juga seperti terlarang di sini… hanya buku cerita yang tak bisa meng-up-date peristiwa yang terjadi di luar… Sebenarnya apa sih maunya si Lendra sialan itu…”
Reya membuka-buka halaman buku tanpa membacanya, pikirannya penuh.
“Satu-satunya yang menghubungkan penghuni rumah ini dengan dunia luar hanya kapal barang dan helikopter Lendra… Jangan-jangan dia bos mafia, yang terlibat kegiatan ilegal? Atau aku saksi mata kasus kejahatan?”
Reya mengacak rambutnya kesal dengan segala kecurigaan yang menghantuinya selama ini. Tak ada kejelasan. Tiba tiba Bi Sarmi muncul mengagetkan.
“Ada apa Non?”sapanya.
Reya menoleh terkejut “Ah Bi Sarmi.. ngagetin aja. “
“Dari tadi Bibi lihat Non Reya serius sekali.. apa ada yang dipikirkan Non?”
“Ah ngga Bi.. “ jawabnya sambil memandangi buku, “Saya cuma bosen aja.. ngga ada kerjaan…”
“Apa buku-bukunya sudah selesai di baca semua?”
“Ngga Cuma selesai Bi, bahkan ada beberapa yang sudah saya baca sampai 2, sampai 3kali.”
“Oh kalau gitu nanti Bibi sampaikan sama Aden, supaya membawakan buku-buku yang baru dari Jakarta.. bagaimana Non?”
“Apa ngga bisa saya minta majalah atau koran atau apa gitu Bi.. rasanya sudah lama banget saya ngga tahu apa yang terjadi di luar… “
Bi Sarmi tampak terdiam sesaat ragu. Reya memandang reaksinya dan berpikir seperti berusaha membaca pikiran Bi Sarmi.
“Kenapa Bi?” Reya menatanya curiga.
“Oh ngga Non.. ngga papa.. nanti Bibi coba sampaikan sama Aden…”
Seorang pelayan mendekat menghampiri Bi Sarmi dan membungkuk hormat pada Reya.
“Maaf Bi.. sarapannya Den Lendra sudah siap.. apa bisa diantar sekarang?”
Reya mengernyitkan kening memandang ke jam besar, hampir jam setengah sebelas siang.
“Oh ya.. ya sekarang …”
Bi Sarmi memandang Reya, “ Maaf Non, Bibi mau melayani Aden sebentar..”
Bi Sarmi dan pelayan berbalik hendak pergi.
“Tunggu-tunggu Bi.. apa hari ini Lendra ngga ke kantor?” Reya menegakkan duduknya.
“Tumben?” ujarnya sambil memandang ke arah pintu kamar Lendra yang tertutup.
“Semalam, Aden hampir subuh baru pulang, jadi hari ini ke kantornya agak siang…”
“Kerja apaan tuh berangkat subuh kok pulang hampir subuh.. “gumamnya kesal.
“Apa Non?” Bi Sarmi seperti mendengar gerutuan Reya.
“Oh nggak?” Pandangan Reya tertumbuk ke meja makan, “Apa Lendra ngga makan di sini aja? “
“Ehm nggak Non.. Aden mau sarapan di kamar saja…” sahut Bi Sarmi ragu.
Pelayan yang tadi pergi sudah kembali dengan membawa nampan berisi roti selai dan jus jeruk. Bi Sarmi menerima nampan dan memandang Reya ragu.
“Kenapa dia ngga mau makan di luar? Bukannya Bibi bilang biasa Lendra selalu makan di sini? Kenapa sekarang dia makan di kamar?” berondong Reya dengan sebal.
“Apa karena ada saya?”
“Oh bukan Non.. bukan begitu.. “ gugup Bi Sarmi menjawab.
Reya berdiri dan mengambil nampan dari tangan Bi Sarmi dengan kesal, dan meletakkan makanan di meja makan. Lalu berjalan menaiki tangga menuju kamar Lendra sambil mengomel.
“Biar di sini aja Bi.. Apa sih maunya tu orang?”
Bi Sarmi mengikuti dengan bingung memandangi makanan dan Reya yang sudah pergi.
Reya menggedor kamar Lendra dengan kesal.
“Heh?! Lendra… sarapan kamu udah siap tuh.. “ Reya diam sejenak menunggu, tak ada jawaban.
“ Keluar…” teriaknya lagi.
Bi Sarmi memandangi Reya dan pintu kamar dengan tegang. Tak ada jawaban.
“Kamu kan selalu makan di ruang makan, kenapa sekarang mesti di kamar?”
Lendra tetap tak menjawab.
“Hei.. Lendra… aku mau bicara.. ayo keluar..”
Tak ada suara. Reya semakin kesal dan mulai menggedor-gedor lagi.
“Lendra!! Hei!! Lendra!!”
“Kamu ini.. “ terdengar suara pelan Lendra menahan marah.”… kamu ini ngga punya sopan santun ya?!”
“Bibi!!!” teriak Lendra dari dalam kamar.
“Oh eh…. ii iya den…” sahut Bi Sarmi.
“Bawa masuk makanannya!” Keras Lendra kembali berteriak.
“Iii iya Den..”
Bi Sarmi tergopoh-gopoh menuruni tangga dan mengambil nampan tadi.
“Kenapa kamu ngga mau keluar? Kenapa mendadak makan di kamar? Kamu sengaja menghindari aku?” desak Reya dari balik pintu.
“Apa urusanmu? Ini rumahku, aku mau makan dimana bukan urusan kamu!!” Lendra tetap tak bergeming.
Reya menahan marah dan geram. Bi Sarmi sudah di sebelahnya membawa nampan.
Bi Sarmi mengetuk pelan.
“Sarapannya Den..”
“Suruh dia pergi baru bawa masuk!!” sahut Lendra.
Reya mengeretak geram dan menendang pintu kesal.
“Kamu pikir aku begitu desperate-nya pengen ketemu kamu!! Nungguin kamu di sini? Sorry ya!!!.. Ngga usah di minta aku juga pergi… “ Reya hendak berbalik.
“Denger ya.. kamu itu cowok paling aneh dan paling kasar sedunia..Kamu itu .. monster!!! Ngga bakalan ada cewek manapun yang mau sama kamu!!” Sentaknya sambil kembali menendang pintu dan berbalik ke kamar nya dengan kesal. Bi Sarmi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menghela napas lalu memasuki kamar Lendra.
Reya masuk ke kamar dan membanting pintu keras. Reya berdiri dan menyandarkan badannya ke pintu sambil menghela napas kesal. Sejenak terdiam lalu memandangi cincin berlian di jari manisnya sambil memainkan cincin itu dan berpikir keras.
“Masa sih.. aku bener-bener sudah menikah sama orang itu.. baru mendengar suaranya aja aku udah naik pitam..Ngga tahu kenapa tapi rasanya sebeeelll banget sama tu orang… “
Reya berjalan pelan dan duduk di depan meja riasnya, lalu memandang kalender meja.
“Ini seharusnya jadi hari terakhir ku di sini… tapi lagi-lagi aku berantem sama makhluk busuk itu…Dasar orang aneh, sifatnya aneh, pasti dia bukan orang baik-baik…
Terlintas di lamunan Reya, membayangkan kepala orang memakai topeng seperti penjahat/pencuri
“Benar.. pasti dia bandar besar narkoba, ata mafia, atau buronan.. makanya semua di rumah ini juga serba aneh…”
Reya berdiri dan berjalan mondar mandir sambil berpikir.
“Tapi.. semestinya aku lebih berhati-hati bersikap hari ini.. jangan sampai gara-gara tadi.. semua rencana yang sudah aku susun sekian lama jadi berantakan…”
Reya kembali membuka tirai dan memandang ke luar jendela.
“Mungkin lebih baik aku minta maaf baik-baik.. jadi aku bisa keluar dari sini dengan tenang dan tidak mencurigakan…Tapi.. huh, minta maaf sama si sombong itu… kenapa juga aku mesti minta maaf.. orang itu memang pantas di maki kok…”
Reya menjentik-jentikkan jarinya mencari akal.
“Tapi kalau ngga… aku bisa seharian terjebak di sini dan … itu ngga boleh terjadi…Bisa gagal rencanaku. Yang penting aku bisa secepatnya pergi dari sini…”
Reya menghela napas dan mengangguk mantap dan pergi ke kamar Lendra.
Reya berdiri ragu di depan pintu, tangannya hendak mengetuk tapi tertahan dan kembali berpikir gelisah.
“Aduh.. aku mesti bilang apa ya? Pasti dia bakal ke ge-er an banget deh.. “ batinnya.
Reya terdiam sejenak di pintu lalu seperti terdengar suara. Reya mendekat dan dengan ragu menempelkan telinganya menguping di pintu.
“Jangan di masukkan ke hati Den.. mungkin Non Reya masih emosi..” suara Bi Sarmi terdengar dari dalam kamar.
Denting suara piring dan gelas beradu, pasti bi Sarmi sedang merapikan peralatan makannya.
Suara Lendra menghela napas berat dan terdengar sedih, “Biarkan saja Bi.. semakin dia benci saya semakin baik”
Reya makin penasaran.
“Aden ngga boleh bilang begitu…” lirih suara Bi Sarmi menghiburnya. Dari nada suara mereka sepertinya memang Bi Sarmi lama kenal dengan Lendra.
“Dia benar.. saya cuma monster aneh yang ngga pantas untuk siapa pun.. “ suara Lendra terdengar pedih, “Ngga akan ada siapa pun yang mau sama saya Bi.. “
“Aden.. jangan dipikirin.. Non Reya ngga bermaksud begitu…”
Reya menegakkan badan dan tampak tertegun heran dengan pembicaraan itu.
Perlahan ia beringsut pergi dan tak jadi mengetuk kamar Lendra.
***
Reya berbaring tak tenang dan membolak balikkan badannya. Sebentar kemudian Reya duduk dan memandang jam dinding. Pukul 3 pagi. Lalu Reya memandang kalender dan menghela napas.
Suara gemericik hujan di depan. Tak terlalu deras.
“Ini saatnya…” tegang Reya berkali-kali menghela napas, “Kenapa juga harus hujan…”
Reya berdiri dan memakai sandalnya lalu merapikan pakaiannya dengan cepat.
“Hem.. tapi bagus juga.. hujan bisa membantu aku bersembunyi… pasti suasana lebih ngga jelas, dan penjaga juga banyak yang berteduh.” Reya tersenyum menenangkan diri.
“Selamat tinggal rumah aneh.. selamat tinggal Bi Sarmi.. selamat tinggal hantu-hantu… selamat tinggal .. Lendra..”
Reya memandang sekeliling dan berjalan pelan mendekati pintu. Sejenak dia mendekatkan telinga ke pintu dan mendengarkan suara di luar kamar. Sepi.
Reya menghela napas lagi dan perlahan membuka kunci kamarnya.
“Maju terus pantang mundur!!” bisiknya sendiri sambil tersenyum bersemangat.
Reya pelan membuka pintu kamarnya, lalu segera menutup pintu pelan-pelan tak bersuara dan memandang sekeliling rumah yang gelap.
“Aduh kenapa gelap banget…Semoga hantu itu ngga muncul lagi dan menggagalkan rencanaku..”
Reya berjingkat pelan dan sambil setengah menunduk berjalan pelan menuruni tangga. Sesekali menoleh ia ke kiri kanan memastikan suasana aman.
Suasana rumah temaram, cahaya lampu taman masuk melalui jendela bertirai.
Reya mendekat ke kamar bawah tempat dia melarikan diri dulu. Lalu berdiri di pintu memandang ke kanan-kiri tegang.
Dari atas sesosok bayangan hitam berdiri di kegelapan dan mengamati Reya yang tak sadar sedang di awasi.
Reya membuka pintu pelan-pelan tanpa suara dan memasuki kamar itu lalu hilang di balik pintu.
Di dalam kamar bawah, Reya berdiri di dekat jendela dan menyibak tirai lalu mengintip ke depan. Masih hujan.
Di depan tampak beberapa penjaga agak jauh. Sepertinya mereka sedang berbincang dan tak memperhatikan ke arah Reya akan keluar.
Reya membuka jendela pelan-pelan. Tiba-tiba penjaga menoleh. Reya terkesiap dan berhenti bergerak.
Penjaga memandang sekeliling lalu kembali melanjutkan berbincang.
Reya menghela napas lega, ia segera melanjutkan membuka jendela dan keluar pelan-pelan. Segera ia menutup jendela kembali dan merunduk ke semak-semak menuju jalanan remang.
Reya terus berlari merunduk di jalanan setapak sambil memandang sekeliling, secepat kilat ia berbelok ke belakang pohon sambil sesekali tergelincir karena licinnya bebatuan yang terguyur hujan ringan yang tak jua berhenti, sekejap ia menghilang di balik pepohonan.
Reya menghela napas lega karena tak ada penjaga melihatnya.
“Ah.. ternyata ngga segampang yang aku kira.. “ terengah Reya mengusap air yang sudah membasahi kepala dan badannya.
Reya mengendap endap dari satu pohon ke pohon lain di dalam kegelapan.
Reya memeluk badannya karena dinginnya hujan.
Langkah kaki Reya berderak menginjak daun kering dan rerumputan juga dahan-dahan,
Reya kembali tergelincir dan berpegangan pada salah satu pohon.
“Aduh licin banget.. “ bisiknya pelan sambil memandangi hujan dan diam sejenak.
“Ngga apa.. yang penting aku harus berhasil…”
Reya berhenti sejenak seperti merasa di ikuti dan memandang sekeliling takut.
Sepi. Tak ada apa-apa.
Secepatnya Reya kembali mengendap menuju daerah yang lebih terang. Pantai.
Tanpa disadarinya, dari balik pohon sosok bayangan hitam dengan rambut terurai mengamati Reya dan membayanginya.
Tampak di kejauhan semua gerak gerik Reya yang merunduk di balik karang mengamati kapal barang yang tertambat. Tak ada siapa-siapa. Reya mendekati kapal dan keluar dari lingkup pepohonan.
Reya sudah berada di dekat kapal dan berjongkok mengamati sekitar dengan tegang.
“Akhirnya.. aku berhasil juga sampai di sini.. “batinnya sambil sesekali terengah kelelahan.
Reya mendekat ke peti-peti dan tong yang ada di sisi kapal dan berjongkok bersembunyi sambil melihat sekitar. Sepi. Basah. Hujan masih turun.
Reya memandang ke belakang kapal, ada beberapa tong dan peti di sana.
“Aku harus lari ke sana secepatnya. Aku bisa sembunyi di sana selama di kapal.. Semoga saja jalannya ngga licin.. soalnya kalau aku jatuh bisa gawat…” pikirnya.
Reya memandang sekeliling dan memandang ke langit dan menutup kepalanya.
“Kukira hujan bisa menolong.. tapi ternyata..” ia mengusap tangannya cemas.
Reya kembali memandang sekitar yang sepi dan mencoba berdiri. Tiba-tiba muncul dua orang penjaga kapal ber jas hujan dan Reya kembali merunduk terkejut.
Reya mengintip, penjaga berdiri di antara tempat persembunyian Reya dan kapal. Reya tampak kesal dan cemas.
Lamat-lamat terdengar mereka berbincang.
“Sepertinya hari ini kita ngga bisa ke sana.. Pasangnya tinggi sekali..”Ujar seorang penjaga.
“Hujannya ngga berhenti dari semalam.. mungkin lebih baik ditunda besok saja…” sahut yang lain.
“Sebenarnya ngga terlalu deras.. “ tangan penjaga itu terangkat menadah hujan.
“Tapi justru hujan yang begini nih yang lama ngga berhenti-berhenti… “gerutunya.
Reya mulai cemas dan panik.
“Apa? Aduh jangan batal dong.. masa kapalnya ngga berangkat sih.. “ pikirnya.
Tanpa sadar Reya menggeretakkan giginya gemas.
Dua penjaga menoleh ke arah Reya bersembunyi merasa mendengar sesuatu. Reya tersadar dan memandang mereka dari tempatnya bersembunyi dengan tegang. Kedua tangannya menutup mulutnya sendiri. Reya merapatkan badannya ke tong takut ketahuan karena penjaga menjulurkan kepala memeriksa, tapi justru tong tersenggol dan jatuh.
Reya terlonjak berdiri panik.
Dua penjaga terkejut melihat ada orang di situ.
“Hei! Siapa tuh!!” teriak mereka.
Reya terlonjak kaget dan reflek berlari menjauh menuju ke pepohonan untuk bersembunyi.
“Panggil security.. biar aku kejar ke sana..”
Suasana mulai gaduh. Seorang penjaga berlari mengejar Reya dan yang seorang lagi berbalik menuju posnya.
Reya berlari terus dengan panik ke dalam pepohonan dan bersembunyi di semak, dari kejauhan penjaga mengejar dengan susah payah karena jalan yang licin.
“Aduh kenapa bisa begini.. bego-bego-bego… “ gerutunya gemas.
“Kalo sampe ketahuan.. aku nggak akan dapet kesempatan seperti ini lagi.. mereka pasti memperketat penjagaan.”
Penjaga semakin dekat. Reya lebih membungkuk. Penjaga memandang sekeliling tetapi tak melihat Reya dan berjalan pelan menjauh lalu berlari ke arah lain.
Reya terus diam dan memandangi penjaga yang semakin menjauh dan mulai tak tampak.
“Nyaris aja.. “ bisiknya sedikit lega.
“Gimana nih.. masa kapalnya ngga jadi berangkat sih… jadi aku mesti gimana dong?!”
Reya merayap gemas dan mencoba berdiri.
Tiba-tiba ketika Reya setengah merangkak, matanya tertumbuk pada sepatu besar hitam di depan matanya. Nafasnya terhenti dan jantungnya berdetak keras. Perlahan ia memandang ke atas, celana hitam, jubah jas hitam, badan tinggi besar.
Reya mendongak dan membelalak melihat sosok yang dulu mengejarnya di dalam rumah kini muncul sangat dekat di hadapannya.
Reya berteriak histeris. Rambut ikal itu berkibar, basah oleh hujan. Reya merayap mundur menjauh dan sosok itu berjalan pelan mendekat. Tiba-tiba kilat menyambar.
Sekilas tampak sosok itu berdiri tegap dengan posisi yang aneh, agak miring, sebelah tangannya membawa bongkahan batang kayu cukup besar dalam genggamannya.
Reya berteriak dan terus mundur. Lalu tangan yang membawa kayu itu terangkat pelan tapi pasti, seakan mengincar untuk menghantam Reya. Reya menutup mata dan berbalik cepat melarikan diri.
Tongkat kayu mengayun lebih cepat dan menghantam pohon disamping Reya. Reya berlari secepat kilat menjauh.
Sosok bayangan hitam itu memandang ke arah Reya yang terseok-seok dan sesekali tergelincir oleh jalanan yang basah terus berlari menuju pantai.
Bayangan itu bergerak mengejar Reya, semakin lama semakin cepat.
Reya terjatuh di pantai berpasir dan menoleh ke belakang sambil terengah kelelahan. Sosok hitam tadi sedikit terlihat lebih jelas karena suasana di sana yang lebih terang dari pada di dalam rimbun pepohonan tadi.
Seperti lelaki tinggi besar berambut panjang dengan kaki bengkok memakai baju serba hitam dan jas panjang hitam. Kayu di tangannya sudah tak ada. Tapi tangannya berlumuran cairan kecoklatan seperti lumpur bercampur darah kemerahan.
Wajahnya tak terlihat jelas karena agak jauh dari Reya.
“Ya Tuhan.. tadi aku sangat berharap bisa bersembunyi dari para penjaga itu dan sendirian saja di sini.. “ isak Reya pelan.
“Tapi sekarang aku sangat berharap mereka menemukan aku di sini… “
Reya kembali berusaha berdiri dan sempoyongan karena kelelahan. Sosok tadi semakin dekat, tapi langkahnya juga terhambat oleh pasir basah sehingga dia tampak kesusahan menyusul Reya. Jalannya aneh miring ke kiri dan ke kanan dan badannya terlihat bongkok.
Reya memandang ke kanan kiri mencari-cari jalan atau tempat sembunyi tapi semuanya hanya pantai gelap dan air. Reya berdiri panik dan mulai menangis ketakutan. Hujan mulai mereda, tapi gerimis masih membasahi mereka.
“Aku harus pergi dari sini.. aku ngga mau kembali ke rumah aneh itu… aku harus menyelamatkan diri.. makhluk itu mau membunuhku…” Pikiran Reya kembali ke saat sosok hitam itu menyerangnya di tangga dan juga hendak menghantamnya dengan kayu tadi.
Reya terus mendekat ke air laut dan semakin lama-semakin dalam. Reya berusaha berenang ke laut lepas.
“Aku akan berenang ke seberang.. atau entah kemana aja… pokoknya aku harus keluar dari sini…” batinnya.
Sosok besar tadi semakin dekat. Reya kembali berteriak histeris dan ketakutan.
“Jangan..sana pergi.. pergi.. toloong.. toloonggg….” Teriak Reya parau.
Reya terus berlari semakin ke tengah perairan yang mulai dalam. Reya mulai kewalahan karena ombak laut yang besar seakan menyeretnya tak berdaya.
Sementara sosok tadi semakin dekat dan berusaha menangkapnya. Tangan besarnya terulur dan terus berusaha meraih Reya.
Ombak besar yang terus menerus datang menerpa dan mengombang ambing kan mereka yang mulai terlibat pergumulan. Tangan itu mencengkeram keras. Sekuat tenaga Reya memberontak, tapi cekalannya juga semakin kuat.
Reya menendang makhluk itu keras-keras.
Dalam air yang pasang, Reya berusaha berenang tapi ombak besar terus mengombang ambingkan nya bahkan menariknya ke dalam dan membuatnya sulit mencapai permukaan.
Sosok hitam tadi kembali meraih dan menyeretnya, Reya terus meronta dan meronta dan meronta.
Napas Reya semakin sesak. Terasa olehnya sedikit demi sedikit asinnya air laut mulai tertelan, paru-parunya serasa meledak dan Reya semakin panik.
***
No comments:
Post a Comment